Rabu, 01 November 2017

Para Pencari Kenikmatan



Musholla itu tepat berada di tengah-tengah kampung, terbuat dari bata yang diplester sederhana dan beratap rendah. Kebanyakan rumah-rumah warga berdiri sana, mengitarinya bagai musholla itu adalah pusat segalanya. Sikap kekeluargaan antara warga masih kuat. Jika salah seorang warga ditanya, apakah mengenal si A, artinya sama saja menanyakan saudara atau kerabat dekat, atau teman akrab. Semua orang saling mengenal dan hidup berdampingan dalam damai.
Bang Jack bangun dengan badan segar bugar. Ia bangkit dari peraduannya, dari sebuah karpet tipis milik musholla yang tidak terpakai. Dipandanginya jam dinding yang terpaku di pintu kayu. Sudah saatnya ia menjalankan tugasnya. Dengan mengenakan celana panjang dan kain sarung yang dililitkan di pinggang, Bang Jack berjalan keluar untuk mengambil air wudlu. Selanjutnya ia mulai menyapu musholla sembari menunggu waktu shubuh tiba.

Pagi itu udara sangat sejuk. Satu-dua lampu di rumah warga mulai menyala, tanda denyut nadi kehidupan segera dimulai. Bang Jack menatap jalanan yang agak terhalang oleh deretan bunga yang tumbuh di kiri dan kanan musholla. Pandangan matanya menembus hingga ke arah perempatan di ujung jalan. Di atas kabel listrik yang membentang di antara tiang-tiang, langit di atasnya terlihat kelabu. Jauh di depan, terlihat jembatan kayu yang membentang kaku.
Bang Jack menguak jendela musholla perlahan. Ia menatap burung-burung kecil yang lincah. Sayap-sayap mereka begitu ringan berkepakan di udara pagi. Cakar-cakar mungil itu tak lelah berlompatan dari satu dahan ke dahan lain. Sesaat bertengger di pohon waru, lalu pindah ke dahan kopi, ke cabang-cabang cengkih, ke pelepah-pelepah kelapa. Suara burung-burung itu berdengung di telinga Bang Jack, membuat hatinya jadi semakin tenang.
Suara beduk menandai waktu subuh telah datang. Bang Jack bergegas mengumandangkan adzan dengan suaranya yang cempreng-cempreng serak. Setelah itu ia bergegas berganti baju dan menunggu para jamaah sembari mengalunkan puji-pujian untuk mengagungkan kekuasaan yang Maha Kuasa. Ustad Ferry adalah yang pertama datang, disusul kemudian oleh orang-orang yang lainnya. Seperti biasa, hanya ada segelintir orang. Kebanyakan malas menerobos kegelapan serta dinginnya pagi untuk menuju ke musholla.
Setelah melaksanakan sholat yang dipimpin oleh Ustad Ferry, Bang Jack berganti pakaian kembali dan kemudian tanpa sempat sarapan pagi, ia melangkah pergi meninggalkan musholla. Bang Jack harus sudah berangkat ke ladang Pak Jalal sebelum pukul setengah enam sebab ia sudah janji kepada laki-laki paling kaya di desa itu untuk membantunya memanen jagung. 
Dari arah berlawanan, Bang Jack berpapasan dengan banyak orang. Perempuan-perempuan yang berjalan terbungkuk-bungkuk karena punggungnya diberati beban, para lelaki terengah menahan pikulan di pundak, tetapi ada juga beberapa orang yang berjalan melenggang saja atau hanya dengan menenteng keranjang belanjaan, mengepit dompet di ketiak, dan kain gendongan berkibar di bahu.
Sementara itu, di jalan setapak tampak beberapa orang memanggul cangkul dan menenteng sabit, menyusuri pematang-pematang sawah, turun di antara pangkal-pangkal rumpun padi yang terpotong, melewati gundukan-gundukan jerami sisa panen. Angin sepoi-sepoi basah bertiup dari timur menuju barat menyisakan hawa semalam. Di sisi lain ada yang masih berkerudung sarung, berjalan sambil mendekap kedua siku, sesekali tampak menguap. Satu dua masih berpakaian tebal, melangkah pelan-pelan dengan menuntun atau menggendong anak kecil.
“Berjualan, Mbok?” tanya Bang Jack menyapa seseorang. “Ke pasar, Kang?” tanyanya lagi ke orang yang lain. Semua menyahutinya dengan ramah dan supel.
“Kalian mau sekolah ya?” seru Bang Jack ke segerombolan bocah. “Yang bener ya. Sekolah yang tekun, supaya pintar dan jadi orang kaya, nggak susah seperti kita-kita ini, orang-orang tua yang sudah telanjur bodoh.”
Bang Jack tertawa, dan anak-anak itu hanya menanggapinya dengan cengiran. Jalan menurun. Gedebuk kaki makin gaduh. Lalu, jalan menanjak. Langkah-langkah melambat. Mendatar, turun, naik lagi. Sekali waktu Bang Jack tersandung batu, melompati lubang atau jalan yang rusak, serta menepi karena berpapasan dengan sekawanan kerbau. Lalu, sampailah ia di jalan berumput, kelokan yang tepat menuju ke ladang Pak Jalal.
Bang Jack menyusuri jalan setapak itu, yang kiri-kanannya ditumbuhi semak-semak rendah. Sisa embun di atas rerumputan tampak seperti kristal-kristal kecil yang menguraikan sinar matahari. Di ujung jalan, ia berhenti sesaat, menatap ke bawah. Kilatan jernih serta gemercik air seolah menantang kesungguhannya. Jalan menurun dan bersap-sap. Tangan Bang Jack kadang-kadang berpegangan pada rumput-rumput atau akar-akar pohon waru. Ladang Pak Jalal sudah tidak jauh lagi.
Bang Jack melambatkan laju langkah kakinya. Angin berembus menerpa punggungnya yang basah. Burung-burung kecil masih berlompatan di dahan. Tapi, mereka tak berani menyapa. Suara gesekan sendal memantul ke dinding batu, berpendar ke sisi yang lain, meleleh pada lumut-lumut setengah basah. Sesekali Bang Jack mengusap keringat di kening dengan punggung tangannya, terkadang menarik napas dalam-dalam sambil meluruskan betisnya yang mulai terasa pegal. Hanya sebentar. Setelah itu ia pun kembali berjuang melangkahkan kaki.
Namun kali ini Bang Jack kembali berhenti ketika ekor matanya tanpa sengaja menatap sebuah bungkusan yang tergeletak di tepi pematang. Sebuah tas cangklong tua, tapi sepertinya penuh oleh sesuatu. Penasaran, ia pun mendekat untuk memeriksa benda tersebut.
Tutup tas tersebut terhempas ke samping ketika Bang Jack memungutnya, menampakkan dua buah kantong plastik yang teronggok mencurigakan. Bang Jack mengambil salah satu kantong untuk diteliti lebih seksama sebelum kemudian mulai membukanya, dan ia langsung tercekat.
”Astaghfirullah!” teriaknya. ”I-ini punya siapa?” Bang Jack mengambil kantong kedua dan ternyata isinya juga sama. Di sana terlihat beberapa ikat benda yang seperti... uang kertas pecahan 100 ribuan!!
”Masya Allah,” kata Bang Jack menelan ludah. ”Mimpi apa aku semalam!”
Segera ia memasukkan kembali dua kantong itu ke dalam tas dan menutupnya rapat-rapat. Lalu cepat-cepat balik lagi ke musholla. Pikiran untuk membantu Pak Jalal sirnalah sudah, berganti dengan kebingungan dan juga rasa terkejut yang amat sangat. Bang Jack merasa tekanan darahnya mengalir deras memenuhi nadinya. Di dalam musholla, ia terpaku menatap tumpukan uang dalam tas kain itu sambil menggeleng-gelengkan kepala, sama sekali tak percaya dengan apa yang tengah dilihatnya.
Lalu kemudian Bang Jack mulai tertawa, dan tertawa, dan terus tertawa tiada henti-hentinya. Ia tertawa berlebihan hingga perutnya yang gendut jadi terguncang-guncang dan membuatnya sakit, namun ia sama sekali tak peduli karena terlalu senang memegang bundelan uang sebanyak itu. Bang Jack menyobek ikatan pengamannya, lalu meraba dan menciumi wangi bau uang kertas baru dan hangatnya lembaran tersebut. Sungguh jumlah uang yang sangat banyak dan terbanyak yang pernah dilihat oleh Bang Jack selama ini.
Marbot musholla itu histeria dalam kegembiraan. Ia memekik, melompat-lompat, dan tertawa terbahak-bahak. Ia terus menerus merangkul dan menciumi tumpukan uang itu karena saking bahagianya. Bang Jack terus menerus berkata, ”Ini seperti cerita film... seperti kisah sinetron!”
Setiap kali ia menatap tumpukan uang di depannya, Bang Jack seperti tidak percaya dengan pandangan matanya sendiri, mimpikah atau kenyataan? Tentu saja, seseorang akan segera mencari keberadaan uang tersebut.
Bayangan itu mulai muncul mengganggu pikiran Bang Jack. Segera ia berdiri tertegun di tepian bedug besar yang bergaya betawi dan mencoba untuk memikirkan langkah berikutnya. Menurutnya, uang itu pastilah milik seseorang, yang entah kenapa bisa jatuh di sawah. Bang Jack bertanya-tanya, sebesar apa gerangan hadiah yang akan diberikan jika ia mengembalikan uang tersebut.
Namun pikiran itu segera ia tepis jauh-jauh sebelum sempat menemukan jawabannya. ”Uang ini milikku, aku yang menemukannya!” kata Bang Jack pada dirinya sendiri.

Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI
 

1 komentar: