Sabtu, 30 Desember 2017

Duka Tak Bertepi 7



Duka masih membayangi aktivitas Miranda. Berita berita dan gosip di berbagai media cetak maupun elektronik semakin mempersulit dirinya untuk lepas dari cengkeraman sedih. Padahal tujuh hari telah berlalu tapi berita masih diburu. Macam-macam isinya. Ada yang berpihak tapi ada juga yang menghakimi dirinya. Ingin sekali ia membanting televisi dan merobek-robek semua tabloid. Tapi itu tak ada gunanya.
Pasca kematian Ivan, Miranda memutuskan menjual apartemen dan beralih membeli rumah di kawasan elit. Ia juga tidak lagi tinggal seorang diri. Bimo beserta ibunya ia ajak menetap bersama-sama. Meskipun awalnya bersikeras menolak namun akhirnya Ibu Bimo luluh dan bersedia. Ada kerinduan tersendiri menyelinap di relung-relung kalbu Miranda tiap kali menatap dan berbicara dengan Marina, ibu Bimo. Wanita tua yang sebaya almarhum ibu kandungnya sendiri. Bersama Marina, Miranda seakan-akan menemukan kembali sosok seorang ibu.

“Bu Marina, taplak meja rajutan Ibu bagus sekali.
“Ibu cuma mengisi waktu senggang, Nak Miranda.
“Maaf, Bu, benarkah Mas Bimo anak angkat Ibu?”
“Benar, Nak Miranda.
Di pagi yang mendung mengalir sebuah rahasia yang keluar dari suara renta Marina. Miranda mendengarkan dengan seksama cerita itu. Tentang Bimo.
Tiga puluh lima tahun silam ketika Marina dan suaminya berlibur ke suatu kota kecil. Suatu hari ada seorang pria datang ke penginapan mereka. Pria itu membawa dua bayi yang masih berusia sebulan. Pria itu bermaksud menjual kedua bayi kembar pada mereka dengan alasan untuk mengobati sakit kanker istrinya. Tawar menawar terjadi dan kesepakatan terpenuhi. Satu bayi mereka beli. Satu bayi sisanya dibawa kembali oleh pria itu. Begitu selesai berlibur. mereka kembali ke kota asal dan memelihara bayi itu layaknya anak sendiri. Bayi itu adalah Bimo.
“Jadi Mas Bimo mempunyai kembaran ya, Bu?”
“Benar. Sebenarnya ketika itu kami berniat membeli dua-duanya. Tapi harga yang diminta pria itu terlalu mahal.
“Bu Marina ingat nama desa tempat pria itu menjual bayinya pada Ibu?”
“Ibu sudah lupa, Nak. Tapi kata orang-orang, tempat itu adalah kompleks remang-remang. Kalau tidak salah namanya kompleks Margomulyo,
Hati Miranda teriris mendengar nama kompleks itu. Lebih teriris lagi saat ia meyakini bahwa siapa yang menjual Bimo adalah seseorang yang sangat ia kenal. Ia mempercayai bahwa kembaran Bimo adalah seseorang yang sangat lekat dalam setiap sendi kehidupannya. Orang-orang yang tak mungkin bisa terlupakan. Jika mendengar dan menyimak setiap detil cerita Marina, ia sungguh-sungguh berani memastikan bahwa Bimo juga lahir di waktu dan tempat yang sama dengan dirinya. Jika cerita Marina benar, maka Bimo lahir lewat tangan seorang dukun bayi, sama seperti dirinya. Kebenaran itu mendekati seratus persen.
“Saya ikut prihatin dengan kejadian yang menimpa Bu Marina dan Bimo.
“Tidak selamanya manusia terus terusan jaya, Nak Miranda. Kami pernah jaya di masa lalu. Jika sekarang kami menderita, inilah takdir yang harus kami terima.
“Sangat bijaksana sekali perkataan Bu Marina. Tinggallah bersama saya di rumah ini, Bu.
“Terima kasih, Nak Miranda. Semoga keberadaan kami tidak mencemari nama besar Nak Miranda sebagai artis.
Miranda menepuk bahu Marina sebelum melangkah ke kamar. Apalah arti kejayaan bila diiringi kehampaan. Apalah guna ketenaran jika dibarengi ketiadaan. Apalah makna kehidupan yang diselubungi kepalsuan. Miranda ingin bebas dari bayang-bayang semua itu, namun untuk saat ini ia belum mampu melakukannya. Ia ingin kembali kepada jati diri yang hakiki, tetapi jati diri itu terlalu berat untuk disandang. Tidak ada guna menyesal berkepanjangan. Hidup adalah kebangkitan. Dirinya sudah bangkit dan tak mau lagi terjerembab. Dengan langkah pasti ia mesti menjalani rutinitas.
“Mas Bimo, ayo berangkat!
“Tunggu sebentar ya. Aku ke kamar mandi dulu.
“Jangan lama-lama, Mas. Aku dikejar jadwal,
“Baiklah. Kita berangkat saja sekarang.
Nyaris tak ada lagi batas antara Miranda dan Bimo. Siapa yang majikan dan siapa yang bawahan sudah tak penting lagi. Tak jarang meskipun bersama Bimo, Miranda memilih mengemudi sendiri. Miranda sadar Bimo juga butuh istirahat. Walau belum genap sebulan bekerja, tetapi Bimo sudah sering ikut dengannya dari pagi sampai malam. Dari malam sampai pagi. Boleh dibilang jam kerja Bimo mengikuti jam kerjanya. Ia tidak merasa rugi menggaji Bimo dua setengah juta perbulan. Bimo mampu berperan ganda. Bimo punya kemampuan beladiri yang mumpuni. Postur Bimo yang tinggi kekar adalah tameng hidup baginya. Bersama Bimo serasa aman dan nyaman.
“Wajahmu ada di mana-mana, Miranda.
“Biar saja, Mas. Wartawan kan dapat uang dari berita.
“Ibu sudah menceritakan semuanya padamu kan?”
“Sudah, Mas. Jadi bagaimana dengan kesempatan kedua yang diberikan Ramona kepada Mas Bimo?”
“Belum sempat kupikirkan. Mereka masih dalam suasana duka. Ramona masih sedih atas kematian adiknya.
“Mas Bimo jangan sia-siakan kesempatan itu. Aku tahu mantan calon kakak iparku itu wanita baik-baik. Kita sama-sama tahu siapa Ramona, Mas.
“Bagaimana denganmu sendiri, Miranda?”
“Baru tujuh hari Ivan meninggal. Kuburannya masih merah. Aku akan semakin dicaci maki banyak orang jika secepat ini mencari penggantinya.
Miranda belum dan tidak akan mau memikirkan mencari pengganti Ivan dalam waktu dekat. Dirinya bukan wanita yang terobsesi pada cinta. Ia sudah pernah merasakan segala macam dan segala jenis cinta. Tidak hanya cinta kepada Farhan dan Ivan sebagaimana yang diketahui banyak orang. Ia pernah punya cinta kepada pria-pria di kehidupan lampau. Cintanya dahulu adalah sebenar-benarnya cinta. Tapi cintanya yang kini tak lebih dari sisa-sisa serpihan yang menghampar di halaman rasa putus asa. Pria pria di masa lalu itulah yang sungguh membuatnya kehilangan sebagian besar harapan. Dan sekarang di saat harapan demi harapan baru coba ditata, lagi-lagi duka tragis meruntuhkannya. Cintanya telah memakan dua nyawa.
“Sudah sampai salon. Miranda, boleh aku tinggalkan kamu sampai selesai nyalon?”
“Memangnya Mas Bimo mau ke mana?”
“Aku… aku mau…
“Pergilah, Mas. Tapi ingat, jangan lupa kewajiban. Mas Bimo sopirku.
“Aku tidak akan lama.
Miranda tahu ke mana Bimo pergi. Mudah menebak apa yang tersirat di mata laki-laki. Setelah mobil menjauh, ia melangkah tergesa memasuki Salon yang selama ini menjadi langganannya. Salon yang mentranformasi jati dirinya. Tangan-tangan para ahli di salon inilah yang mengubah hampir semua detil tubuhnya. Wujud dengan satu nyawa tapi punya dua nama. Ada harga mahal demi identitas ganda.
“Silahkan, Miranda.
“Baik, Mbak. Aku ingin mengencangkan kulit.
“Berbaringlah. Kami turut berduka cita, Miranda.
“Terima kasih.
“Sudah siap? Kami akan mulai dalam sepuluh detik.
“Mbak, bisakah tahi lalat di punggungku dihilangkan?”
“Itu bukan tahi lalat biasa Miranda. Tahi lalat di punggungmu tertanam sangat dalam.
“Kalau begitu tidak usah, Mbak. Fokuskan saja di bagian wajah, lengan, dan kaki.
Bukan tanpa alasan Miranda ingin menghilangkan tahi lalat di punggungnya. Ada kekhawatiran segelintir orang masih bisa mengenali dirinya jika melihat tahi lalat itu. Tidak banyak yang tahu. Tapi masih ada satu orang yang tahu dan orang itu masih hidup. Teringat pada orang tersebut, Miranda dihinggapi rasa gelisah. Dibukanya daftar kontak yang tersimpan di handphone. Dua nama ia tatap bergantian. Ada keinginan yang dibalut keraguan untuk menghubungi dua nama tersebut.

***

Gatot baru saja pulang dari mengantar Aisyah. Berkat koneksi yang luas, Gatot bisa memuluskan jalan istrinya untuk pindah pekerjaan. Aisyah tidak lagi mengajar. Aisyah angkat kaki dari dunia pendidikan. Tapi Aisyah masih tetap pegawai negeri. Gatot rela menggelontorkan sejumlah uang yang cukup besar demi menjauhkan Aisyah dari pria masa lalunya. Terlalu riskan jika tetap membiarkan Aisyah berada dalam satu lingkungan dengan Reihan.
Bukannya ia menyangsikan Aisyah. Ia tidak pernah ragu secuil pun akan kemurnian hati dan kesucian jiwa Aisyah. Aisyah tidak akan mungkin mendua. Tetapi Reihan bisa merongrong dan menggoyahkan pendirian teguh Aisyah. Meskipun harus memberikan uang puluhan juta kepada pihak pihak tertentu, ia ikhlas demi keinginan Aisyah.
Kini sang istri menjadi pegawai kecamatan. Konsekuensinya adalah jam kerja Aisyah jadi bertambah. Jika biasanya jam dua siang sudah ada di rumah, sekarang jam setengah lima sore Aisyah pulang. Yang membanggakan Gatot adalah Aisyah tidak pernah merubah cara-cara membahagiakan suami. Justru ia sendiri yang kadang kewalahan menghadapi semangat muda Aisyah.
Dengan Aisyah, Gatot jadi menikmati arti persetubuhan yang sebenarnya. Bila dulu dengan Murti dia hanya mengandalkan nafsu dan naluri, segalanya berubah semenjak Aisyah menjadi istrinya.
Di malam pertama, sehabis dia berhasil menjebol keperawanan Aisyah, Gatot baru mengetahui kalau dia selalu melakukan hal yang keliru di dalam melakukan antisipasi ketika melihat pasangannya mulai mencapai klimaks. Dengan Murti dulu, Gatot selalu mempercepat goyangan dengan begitu bernafsunya sehingga momen orgasme Murti yang indah jadi tidak berbekas.
Aisyah mengajarinya tentang apa yang harus dilakukan lelaki apabila wanita mulai mencapai klimaks, yaitu dengan memperlambat goyangan pada sikap gerakan yang hampir diam, dan kemudian mulai menggerakkan penisnya lagi secara perlahan-lahan sehingga gesekan penis di dalam vagina akan terasa begitu menggelitik berbaur dengan rasa klimaks yang baru saja tercapai sehingga kenikmatan yang diperoleh, karena saking nikmatnya, akan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata.
Itulah yang dialami Aisyah di malam-malam berikutnya. Dengan Gatot yang makin pintar dan pengertian, kehidupan ranjang mereka jadi kian hangat dan membahagiakan. Orgasme yang diperoleh Aisyah kini jauh lebih nikmat, Gatot akan langsung mengurangi sentuhan atau gerakan penisnya begitu sudah merasakan kontraksi di dalam vagina Aisyah.
Selain itu, Gatot juga baru tahu kalau payudara merupakan daerah yang rawan menerima rasa sakit. Kebetulan payudara Aisyah ukurannya termasuk besar, dan Gatot sangat senang memainkannya baik sebelum maupun selama permainan. Saat menghisap puting payudara Aisyah, dia lakukan lama sekali dan kalau dilihatnya sang istri sudah akan mencapai orgasme, remasan-remasannya pada payudara Aisyah akan berubah menjadi liar.
Gatot tak tahu kalau perbuatannya itu malah menghilangkan rasa nikmat Aisyah dan malah merubahnya menjadi rasa sakit, yang akibatnya Aisyah selalu ingin segera mengakhiri acara persetubuhan itu.
Setelah ngobrol mengenai hal ini dengan temannya yang kebetulan juga memiliki ukuran payudara yang cukup besar, Aisyah baru mengetahui bahwa wanita yang memiliki payudara besar akan lebih sering menderita dibandingkan dengan kenikmatan yang diperoleh oleh wanita yang hanya memiliki payudara berukuran sedang.
Beruntung teman itu memiliki solusi. Maka, di persetubuhan mereka berikutnya Aisyah meminta pada Gatot agar tidak meremas-remas terlampau keras. “Kalau tidak, aku hanya akan merasakan rasa sakit bukan rasa nikmat.” terangnya.
 “Tapi, hal itu pasti akan selalu terjadi, Aisyah, karena payudaramu begitu besar dan sangat merangsang untuk diremas dengan keras.” Gatot menjawab. “Ditambah ekspresi wajahmu yang kelihatan menyukainya, bikin aku jadi lupa diri.
Padahal, mas, kalau putingku dihisap atau dikulum terlampau lama, maka akan menjadi keras dan sensitivitasnya menjadi berkurang. Aku tidak bisa menikmati.” Aisyah berkata.
Gatot terdiam. Selama ini dalam dalam benaknya tersimpan pikiran bahwa wanita dengan payudara yang berukuran besar itu menyenangi perlakuan yang lebih untuk payudaranya sehingga dia selalu dengan rakus dan kasar mempermainkannya. Nyatanya pikiran semacam itu salah sama sekali!
Terlepas dari besar kecilnya ukuran payudara wanita, perlakuan yang lembut dan liarbukan kasarakan memberikan rangsangan yang luar biasa sekali, dan jauh dari rasa sakit. Sejak itulah Gatot menyentuh payudara Aisyah dengan lebih lembut. Dia juga berusaha mempermainkan putingnya sedikit lebih halus.
Aisyah menyukainya, dan dia mencapai orgasmenya dengan lebih nikmat lagi. Apalagi Gatot juga pintar; bila selesai duluan, lelaki itu akan mencabut penisnya dari vagina Aisyah dan ganti memasukkan dua jari tangan, yaitu jari telunjuk dan jari manis ke dalam liang vagina Aisyah. Gatot menggosok dengan gerakan memutar secara perlahan klit sang istri dengan jempolnya, kemudian dia menggantikan peran jempol tersebut dengan lidahnya untuk berputar-putar di atas klitoris Aisyah  sambil jari-jarinya digerakkan keluar masuk menggesek bagian dalam vagina.
Dengan apa yang Gatot lakukan, Aisyah tak pernah dapat bertahan lama, dia klimaks dengan kenikmatan yang begitu sensasional. Tubuh sintalnya melengkung, sementara dari liang vaginanya memancar cairan bening yang amat banyak. Dia bagai kencing, tapi rasanya bikin tubuh menjadi lemas.
Di setiap foreplay-nya, Gatot juga banyak memberi Aisyah kejutan. Bila dia mulai ngomong ngelantur, “Adduuh... aku hampir keluar,” atau “Ohh... aku nggak tahan lagi,” dan yang semacamnya. Mendengar erangan semacam itu, dulu Gatot pasti akan langsung menancapkan penisnya sekaligus dengan tekanan yang keras sekali ke dalam vagina Aisyah.
Tapi sekarang Gatot tahu kalau cara seperti itu hanya menimbulkan rasa sakit dan langsung menurunkan gairah Aisyah yang tadinya sudah begitu tinggi. Maka Gatot merubahnya dengan memasukkan penisnya secara ‘gentle’, dia menekan perlahan tapi dilakukan sedalam mungkin. Disetubuhinya Aisyah dengan gerakan yang teratur tetapi tidak terlalu cepat.
Bila sudah melakukan hal seperti itu, Aisyah akan benar-benar merintih. Dia bisa merasakan bagaimana kepala penis Gatot membuka bibir vaginanya untuk berusaha masuk dan otomatis lubang vaginanya akan membesar dan menjadi bertambah basah. Itu memudahkan dan melipatgandakan rasa nikmat, hingga tak lama kemudian Aisyah sudah terlonjak orgasme.
Kenikmatan yang bertubi-tubi membuat Aisyah jadi ketagihan. Pernah dia meminta pada Gatot untuk mencoba menyetubuhi anusnya. Gatot yang melihat gelagat bahwa sebenarnya Aisyah masih ragu-ragu untuk melakukannya, mencoba untuk menolak.
“Aku tidak ingin membuatmu kesakitan,” Gatot beralasan.
Tapi Aisyah terus mendesak. Dia penasaran rasanya setelah Dewi bercerita di kantor kalau pernah ditusuk di pantat. “Rasanya luar biasa!” kata Dewi waktu itu.
Diam-diam Aisyah menyimaknya dan kini meminta pada Gatot untuk melakukannya. Dia memamerkan pantatnya yang bulat besar pada Gatot agar laki-laki itu tertarik.
“Aku akan berhenti kalau kamu kesakitan,” kata Gatot pada akhirnya.
Aisyah mengangguk dan buru-buru mengambil vaseline yang sudah ia siapkan, cairan pelicin itu ia usapkan ke penis Gatot dan juga di sekitar lubang anusnya. Setelah penis Gatot berada di posisi bibir anus, Gatot sama sekali tidak melakukan tekanan, tapi justru Aisyah yang mendorong pantatnya ke belakang. Dengan begini kontrol untuk mengatasi rasa sakit sepenuhnya berada pada dirinya.
Aisyah terus mendorong, berusaha memasukkan batang penis Gatot dengan perlahan-lahan ke liang anusnya. Kadang-kadang berhenti dulu kalau terasa sedikit pedih, hingga setelah beberapa kali usaha, penis Gatot akhirnya masuk semua.
Tidak ada rasa pedih atau sakit yang berlebihan ketika seluruh batang itu tertanam seluruhnya di dalam anus, malah yang ada hanya rasa nikmat. Gatot tetap diam tidak melakukan gerakan apapun, hanya tangannya yang dibenamkan ke liang vagina Aisyah dan menggelitik lembut di sana. Gelinya gelitikan jari-jari Gatot mulai membuat Aisyah bergerak, setiap gerakannya menimbulkan efek balik terhadap pantat Aisyah dan otomatis anusnya jadi bergerak naik turun menggesek penis sang suami.
Adegan ini tidak bertahan lama karena Aisyah tidak mampu untuk menahan rasa nikmat yang ia alami. Dia mencapai orgasme yang menurutnya belum pernah ia rasakan sebelumnya. Ternyata kalau laki-laki itu mengerti soal persetubuhan, banyak cara yang dapat diberikan untuk memuaskan seorang wanita.
Yang perlu dipelajari oleh para lelaki adalah bagaimana caranya agar selalu dapat memberikan suasana dan variasi baru pada setiap kesempatan bersetubuh, dimana variasi-variasi tersebut juga dapat diterima oleh pasangannya sehingga acara bersetubuh tersebut tetap diliputi rasa gairah, tidak monoton dan membosankan untuk dilakukan. Dengan pengalaman itu, Aisyah makin sayang sama Gatot dan tidak pernah punya pikiran untuk mencoba penis yang lain selain penis Gatot.
Pengakuan itu membuat Gatot jadi senyum-senyum sendiri. Di saat sedang membayangkan seluruh jiwa raga Aisyah itulah tiba-tiba handphonenya berdering. Buyar lamunan Gatot. Dengan agak jengkel ia mengeluarkan HP dari saku celana.
“Hallo, selamat siang.
“Tot! Gatot!”.
“Ya Tuhan! Murti?!” hampir saja HP di genggaman Gatot terlepas. Tidak ada angin. Tidak ada pertanda. Sekonyong konyong suara yang terlalu lama tak didengarnya itu berkumandang. Tapi ia masih mengenali setiap desah dan nada dalam suara yang seketika melambungkan asa.
“Murti!”
“Iya, Tot. Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabar orang orang kompleks?”
“Murti, di mana keberadaanmu? Ada di mana kamu sekarang?”
“Kamu belum jawab pertanyaanku, Tot. Aisyah ada bersamamu?”
“Aisyah masih kerja. Kami baik-baik saja, Murti. Aisyah memberiku dua anak kembar.
“Aku ikut bersyukur, Tot. Jangan tanyakan aku ada di mana. Yang pasti aku baik baik saja.
“Murti, bisakah kamu jujur padaku? Aku tahu setiap detil dirimu, Mur.
“Sejak dulu aku selalu jujur padamu. Tot. Ingatlah, kejujuran itu yang membuat kita tercerai berai. Jangan lupa kamu mematahkan hidupku, Tot.
“Maafkan aku, Murti. Haruskah aku memanggilmu Miranda?”
“Murti tetap Murti, Tot. Aku senang bisa menghubungimu. Aisyah belum mengganti nomor kan?”
“Belum. Kami juga masih menyimpan nomormu yang dulu,
“Baiklah. Waktuku tidak banyak, Tot. Jika sempat aku akan telpon Aisyah. Jika tidak sempat sampaikan salamku padanya ya,
“Murti, jujurlah tentang keberadaanmu,
“Selamat siang, Tot.
Gatot tercenung. Masih terngiang-ngiang lantunan suara Murti yang lekat di telinga. Sudah ada kepastian Murti masih hidup. Aisyah harus diberitahu. Ia mengirim beberapa pesan singkat ke Aisyah. Yang tidak pasti dan masih menjadi tanda tanya adalah di mana Murti berada. Gatot memelototi nomor yang baru saja dipakai Murti. Ia menduga-duga berasal dari wilayah mana nomor itu. Tidak mungkin Murti pergi jauh sampai menyeberangi lautan. Murti masih ada di pulau padat penduduk ini. Tapi di kota mana Murti berada ia belum tahu. Iseng-iseng Gatot ke ruang tengah untuk menonton TV. Kebetulan Minah juga nonton sambil mengawasi Galang dan Gilang.
“Ada gosip apa, Minah?”
“Ini, Mas, gosip calon suaminya artis yang bunuh diri.
“Ada-ada saja berita selebriti ya, Minah. Memangnya calon suaminya artis siapa yang bunuh diri?”
“Itu lho, Mas, calon suaminya Miranda, bintang film dan model iklan cantik itu.
Langsung saja Gatot mulai diserang berbagai praduga. Minah juga langsung pasang aksi menggoda. Tapi Gatot pantang tergoda meski sedikit demi sedikit Minah mulai menggila. Ada-ada saja, pikir Gatot sambil meninggalkan Minah yang bergulingan bersama Galang dan Gilang. Tiap kali berguling daster Minah tersingkap kemana-mana. Galang dan Gilang juga nakal menarik-narik daster Minah sampai nyaris lepas. Tapi Minah tidak coba menahan. Minah sengaja dan Gatot tahu sang pembantu memasang jerat dosa.
“Jaga anak-anak ya, Minah. Aku mau jemput istriku.
“Baik, Mas.” ujar Minah agak kecewa.
Di kantor kecamatan, Aisyah tidak terlalu disibukkan dengan pekerjaan. Aisyah punya banyak waktu untuk berinteraksi dan saling mendekatkan diri dengan PNS lain. Inilah enaknya kerja di kantor kecamatan. Rata-rata pegawai sudah berumah tangga. Hanya segelintir yang masih lajang. Biar pun masih baru tapi ia sudah dipercaya menjadi Bendahara Koperasi pegawai kecamatan. Kata Pak Camat, biar baru tapi stok lama. Aisyah cuma senyum-senyum saja waktu Pak Camat berkelakar begitu.
“Kamu pasti betah kerja di sini, Aisyah.
“Iya, Mbak Dewi. Suasananya nyaman. Orang-orangnya juga nyaman.
“Apa yang membuatmu ceria sekali? Gatot tiap malam menghajarmu?”
“Ah, Mbak Dewi ini,” Aisyah tersipu malu. “Ini lho, Mbak, Mas Gatot sms memberitahu kalau Bu Murti baru saja telepon.
“Haaahh?!! Benar Mbak Murti telpon Gatot. Berapa nomornya?”
“Mbak Dewi minta saja ke Mas Gatot.
“Aisyah, kamu tidak takut suamimu kugoda?”
“Tidak kok. Aku percaya Mbak Dewi bukan perusak rumah tangga.
“Ada-ada saja kamu. Hati-hatilah, Aisyah. Justru kalian mengundang bahaya.
“Maksud Mbak Dewi?”
“Si janda ganjen itu. Minah. Jujur aku tidak setuju saat kalian ambil dia sebagai pembantu. Aku punya pengalaman buruk dengan Minah. Tapi aku juga percaya kok Gatot sudah beneran tobat.
“Mbak Dewi bisa saja. Mentang-mentang bulan depan jadi camat.
Dewi terbahak-bahak. Para pegawai yang ada di koperasi cuma geleng-geleng kepala mengelus dada. Pikir mereka, kok ada calon camat urakan. Dalam hati Aisyah juga mengamini setiap perkataan Dewi yang bertujuan baik. Minah memang harus diwaspadai. Ada gelagat. Ada pertanda Minah tak melulu niat bekerja.
“Aku harus kembali ke ruangan. Pak Camat sudah datang. kata Dewi.
“Silahkan, Mbak.
Dalam diam Aisyah resah. Murti telah kembali meski masih sebatas suara tanpa rupa. Bukannya ia tidak mempercayai Gatot. Tapi ia sangat tahu seberapa dekat hubungan suaminya dengan Murti. Kisah Gatot bersama Murti jauh lebih banyak dibanding kisah rumah tangganya bersama Gatot. Baru tiga tahun ia membangun rumah tangga dan mengayuh biduknya nyaris tanpa kendala. Sementara kisah perjalanan Gatot dan Murti terbentang sepanjang sejarah hidup keduanya.
Aisyah tidak memungkiri jika dirinya masih belum bisa mengalahkan Murti di hati Gatot. Ruang hati Gatot terbagi dua. Cepat atau lambat Murti pasti benar-benar kembali dalam wujud dan rupa yang nyata. Jika itu terjadi, besar kemungkinan kehidupan Gatot akan terbagi. Rumah tangganya akan diuji. Aisyah mengusap wajah mencoba menepis segala bentuk prasangka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar