Minggu, 10 Desember 2017

Ekspedisi Borneo



Fajar menyingsing di rimba belantara Kalimantan. Berangsur-angsur matahari mengusir hawa pagi yang dingin serta kabut yang lembap. Berangsur-angsur pula sebuah dunia raksasa yang sunyi tampak di depan mata. Pohon-pohon besar dengan batang berdiameter dua belas meter menjulang setinggi enam puluh meter. Atap dedaunan yang lebat menutupi langit. Air menetes tanpa henti. Tirai-tirai lumut berwarna kelabu, serta tumbuhan rambat dan rotan bergelantungan dari pohon-pohon yang juga menjadi induk semang bagi anggrek-anggrek parasit.
Di bawah, pakis-pakis yang berkilau karena lembap tumbuh lebih tinggi daripada dada pria dewasa dan mengungkung kabut tanah. Di sana-sini terlihat setitik warna cerah. Tapi secara keseluruhan, tempat itu memberi kesan sebagai dunia raksasa berwarna hijau-kelabu-tempat yang asing dan tidak ramah bagi manusia.

Erick meletakkan senapannya, lalu meregangkan otot-ototnya yang kaku. Fajar datang dengan cepat di daerah khatulistiwa; tak lama lagi hari sudah cukup terang, meskipun kabut tipis masih bertahan. Ia mengamati perkemahan ekspedisi yang dijaganya: Tiga tenda nilon berwarna jingga menyala, tenda mes berwarna biru, serta peti-peti perlengkapan yang ditutupi terpal - usaha sia-sia untuk menjaga perlengkapan tersebut dari kelembapan.
Erick melihat temannya, Prayoga, sedang duduk di atas batu. Tubuh Prayoga tampak berayun-ayun karena serangan kantuk. Mereka disewa untuk membawa ekspedisi itu ke Kalimantan - pekerjaan yang sudah sering ditanganinya. Di antara klien-kliennya terdapat perusahaan-perusahaan minyak, rombongan-rombongan survei pemetaan, tim-tim perkayuan dan pertambangan, serta rombongan-rombongan geologi seperti yang ini.
Di masa silam, penjelajahan ke Kalimantan memang sarat akan bahaya. Ekspedisi-ekspedisi yang diselenggarakan secara hati-hati pun sering kali kehilangan lebih dari setengah anggota rombongan. Mereka harus menghadapi sungai-sungai penuh buaya dan ular, serta hutan rimba yang dihuni oleh binatang buas, serta suku-suku kanibal yang tidak bersahabat. Dan meski tumbuh subur, hutan rimba ternyata hanya menyediakan sedikit bahan makanan bagi manusia. Sejumlah ekspedisi bernasib naas dan mati karena kelaparan.
Ah, dingin,” Erick mendesah.
Justru menurutku malah hangat,” seorang wanita menyangkal.
Erick segera menoleh dan melihat bahwa bukan Sarah, pemimpin rombongan, yang mengatakannya. Tetapi seorang wanita muda berusia awal tiga puluhan yang jangkung dan langsing. Ia sangat cantik. Wanita itu mengenakan setelan baju lapangan berwarna coklat pudar.
“Aku Dr. Miranda,” ia memperkenalkan diri, “dari Kementerian ESDM. ”
Erick menyambutnya dengan siulan dan desahan saat wanita itu menghampirinya. “Semuanya beres?” tanyanya basa-basi.
“Ya. Aku hanya ingin melihat berkeliling.” Ia mengajak Erick melangkah menjauhi tenda.
“Sebenarnya, apa yang kalian cari?” tanya Erick sambil berjalan pelan di sampingnya.
“Intan,” ujar Miranda.
“Ah, intan.” Erick berpaling pada perempuan itu. “cukup menarik.” Ia bersikap seolah-olah mereka sekadar mengobrol untuk mengisi waktu.
Miranda berkata, “Tugasmu adalah mengantar kami ke sana,”
Kenapa harus jauh-jauh ke sini?” balas Erick. “Intan ada banyak di sembarang tempat.”
Miranda menangkap pertanyaan yang tersirat dalam ucapan pemuda itu. “Kami mencari intan biru yang berlapis uranium,” ia menjelaskan. “Intan jenis itu hanya ada di tempat ini.”
Erick mengusap-usap kumisnya yang tipis. “Intan biru,” ia berkata sambil mengangguk-angguk. “Pantas Anda begitu ngotot.”
Miranda diam saja.
“Jadi, Anda ingin menemukan sumbernya?
“Betul. Dan aku ingin secepat mungkin sampai di sana,” Miranda berkata dengan nada datar sambil menatap Erick.
“Tentu,” sahut pemuda itu. “Bisnis di atas segala-galanya, bukan begitu, Dr. Miranda?” Ia melintasi hamparan rumput, lalu bersandar pada sebuah lengkungan pohon dan. memandang ke kegelapan hutan.
“Jadi, bagaimana? Kamu sanggup?” tantang Miranda.
“Saya tidak akan berangkat kalau tidak yakin. Tetapi tentunya dengan asumsi bahwa anda sudah benar-benar menemukan tempat itu,” Erick berkata kepada Miranda. Dan saya tinggal mengantarkan ke sana saja,”
“Intan dapat ditemukan di daerah pegunungan. Kita fokuskan pencarian di sepanjang patahan raksasa selebar empat kilometer yang membelah bagian timur pulau.” jawab Miranda.
“Itu terlalu luas,” Erick menggeleng tak setuju.
“Pada peta, cekungan itu ditandai oleh dua ciri: serangkaian danau mungil yang sempit, dan beberapa bukit kecil yang berbaris rapi. Akan mudah kita temukan. Daerah itu sangat cocok sebagai tempat mencari intan.
“Hanya itu?”
“Kami juga memiliki data perut bumi, yaitu data yang dikumpulkan langsung di lapangan.” Miranda menekan beberapa tombol di hapenya, dan gambar pada layar segera berubah. Erick melihat lusinan titik cahaya di layar. “Titik-titik ini memperlihatkan lokasi endapan yang diperkirakan adalah intan.” jelas Miranda.
Erick bersiul mencemooh, “Jangan keburu senang dulu. Sebagian besar wilayah itu belum pernah didatangi oleh manusia. Medannya berat. Jarak pandangnya ke segala arah hanya beberapa meter. Ekspedisi terakhir yang menyelidiki daerah tersebut terjadi 10 tahun yang lalu, dan mereka tidak pernah kembali.”
“Karena itulah aku perlu bantuanmu,” sela Miranda. “Bukankah kau yang terbaik?”
“Menjelajah hutan, iya. Tetapi untuk menemukan sebuah lembah, aku tidak yakin.”
Bagaimana jika kupersempit lagi tujuan kita?” Miranda memperlihatkan gambar lain: citra komputer yang memperlihatkan hutan sekunder sangat tua yang membentuk pola geometris menyerupai kisi-kisi. Pola tersebut ditemukan pada posisi dua derajat lintang utara dan tiga puluh derajat bujur timur, pada lereng barat deretan pegunungan.
“Jadi, kita akan ke sana?” ujar Erick, muram.
Miranda mengangguk.
Itu jauh sekali, kita bakal memerlukan banyak perbekalan.” Erick berkata.
Aku yakin tidak.” ujar Miranda sambil menunjukkan ransel berukuran kecil yang ia bawa sedari tadi. “Di Lapan, kami telah mengembangkan unit mini untuk bertahan hidup di medan berat: perlengkapan seberat sepuluh kilo yang dapat memenuhi segala kebutuhan selama dua minggu: makanan, air, pakaian, semuanya.”
“Air juga?” tanya Erick takjub.
Air merupakan zat berat: tujuh persepuluh tubuh manusia adalah air, dan sebagian besar berat makanan adalah air; karena itulah makanan yang didehidrasi begitu ringan. Namun air jauh lebih penting bagi manusia daripada makanan. Manusia bisa bertahan selama berminggu-minggu tanpa makanan, tapi tanpa air, dia akan tewas dalam beberapa jam. Dan air berat.
Miranda tersenyum. “Manusia rata-rata memakai empat sampai enam liter per hari, yang merupakan beban seberat empat sampai enam setengah kilo. Pada ekspedisi dua minggu, kita seharusnya menyediakan seratus kilo air untuk setiap orang. Tapi dengan unit daur ulang air produksi Lapan, yang memurnikan semua cairan tubuh, termasuk air seni. Beratnya hanya enam ons. Itulah cara yang akan kita pakai.”
Melihat ekspresi Erick, Miranda segera menambahkan, “Jangan kuatir. Air ini akan lebih bersih dan higienis dari air botol di kantongmu.”
“Baiklah, kalau Anda bilang begitu.” Erick tersenyum dan meraih kacamata hitam berbentuk janggal. Kacamata itu gelap sekali dan tebal, pada bingkainya terdapat lensa yang aneh.

Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI
 

1 komentar: