Kamis, 14 Desember 2017

Iblis Dunia Persilatan 1



Hak cipta © Aone

PROLOG

Desember di awal tahun tampaknya adalah masa yang paling mengerikan yang pernah ada di tanah Jawa Dwipa. Langit masih mengandung derita, ia terus mengeluarkan peluh hingga membuat bumi basah kuyup. Suara batuknya menggelegar bersahut-sahutan. Nafasnya begitu ngos-ngosan menimbulkan angin prahara yang memporak-porakan bumi. Cahaya matanya begitu sengit menyambar-nyambar membentuk akar.

Tampaknya sang bumi tak sanggup lagi menjadi pelampiasan sang langit yang sedang sakit. Sang Bumi menggelepar-gelepar mengguncang-guncang tubuhnya, membuat sang samudra ketakutan, yang akhirnya melambai-lambai meminta pertolongan pada gunung dengan mengirimkan sang ombak yang menjulang tinggi dan menjamah sang rimba yang tampaknya pasrah menerima nasib. Tapi jangankan memberi pertolongan, sang gunung pun sedang berjuang melawan lendir bumi yang menggelegak memintanya dikeluarkan. Membuat tubuhnya mengguncang-guncang.
Lalu bagaimana dengan nasib para penghuni jagat raya?
Burung-burung tak lagi berkicau dengan riang, binatang lain pun tak lagi menampakan diri. Manusia ketakutan dan terus berdoa. Mungkinkah ini kiamat, pikir mereka...
Seorang kakek-kakek berdiri diam di depan sebuah kedai yang tak lagi utuh. Ia menatap langit, tubuhnya basah kuyup diguyur hujan. Apakah kakek ini gila? Jelas orang normal akan berpikir seribu kali jika harus melakukan seperti apa yang dilakukan si kakek. Bagaimana tidak? Di tengah amukan langit dan bumi, ia malah berdiri diam menantang dirinya untuk dihajar. Tangan kurus keringnya mengambil cangklong tembakau, menyulut lalu menghisapnya...
Mustahil... Apakah mungkin tembakau akan menyala bila disulut di tengah hujan dan angin menggila? TIDAK, tapi yang satu ini... LUNAR BINASA, itulah nama dari si kakek. Nama aslinya adalah Kyai Ancala, seorang dedengkot ilmu silat di tanah Jawa Dwipa.
“Fyuuuhhhh,” Semburan asap tembakau menambah kepekatan jagat raya. “Jika Langit dan bumi enggan bersatu, serta petir biru menyalak sembilan kali menyambar sebuah tempat di bumi, disanalah akan muncul pewaris sang langit dan bumi,” gumamnya.
Di sebuah bukit yang dikelilingi oleh pohon bambu kuning yang bernama Pasir Awi Koneng, dengan disaksikan angkara langit dan bumi, terdapat sebuah pondok mungil. Yang di dalamnya terdapat seorang perempuan muda sedang mengerang-erang menahan sakit, dengan ditemani seorang nenek yang sedang sibuk menghibur si perempuan muda. Seorang lelaki muda mondar-mandir di ruangan lain dengan sekali-kali menghela nafas.
“Aaaaaakkkkkkhhhhhhhhhhhhhh!!!”
“Eaaaaa... eaaaaa... eeaaa...” suara jerit dan tangis melengking mengalahkan suara amukan langit dan bumi.
“Jelegarrrr.... Jelegaaaarrrrr.... Jelegaaaarrrrr.... Jelegaaaarrrrr... Jelegaaaarrrrr.... Jelegaaaarrrrr... Jelegaaaarrrrr... Jelegaaaarrrrr... Jelegaaaarrrrr...” Petir penyalak sembilan kali merobek tanah di sekeliling rumah itu.
Dalam pada itu, si lelaki muda segera menghampiri perempun muda yang ternyata adalah istrinya. Ia mengambil bayi yang baru dilahirkan dan menggendongnya, sementara istrinya terlihat mencorat-coret sebuah kertas dan memasukkannya ke dalam sebuah kalung berbentuk sebuah kujang lalu menyuruh suaminya untuk memakaikan kepada sang anak.
“Kakang Rangga,”
“Nimas Dewi,”
Hanya saling memanggil nama dan saling memandang sambil saling peluk yang bisa mereka lakukan saat ini. Yah, mereka tak perlu berkata-kata, hakikatnya mereka sudah paham dengan apa yang terjadi, dan apa yang harus dikatakan hanyalah saling pandang.
Daripada itu segera hal yang paling menakutkan terjadi...
“Jdeeeerrrrrrrrrrrrrr....!!” suara raungan petir menyalak dan menyambar tiga sosok manusia yang saling rengkuh.
“Wurrrss....” Air bah dari lautan yang sedang menggapai-gapai gunung bertamu.
Penduduk dengan serabutan berlarian dari tempat persembunyian mereka, tak ada kata angkuh, sombong, ataupun rendah hati saat ini. Alam seakan muak dengan segala kepalsuan manusia, menghapus jiwa-jiwa manusia dengan angkaranya. Jeritan ketakutan maupun jeritan kematian semakin santar terdengar, tapi itu tak membuat alam puas. Ia terus melalap desa-desa sekitarnya. Manusia hanyalah sosok kecil yang tak berdaya, bahkan untuk menghela nafas pun tanpa bantuan yang maha kuasa yakni Allah yang Maha Perkasa.
Tak berselang begitu lama akhirnya Alam berhenti mengamuk, sepertinya sang langit telah sembuh dari sakitnya. Peluh tak lagi mengucur, batuk pun tak lagi terdengar. Sang bumi yang melihat sang langit telah tenang, langsung berhenti merangsek, malah ikut menenangkan sang samudra yang masih bergola, juga gunung yang masih berguncang. Sinar telah kembali memayungi jagat raya, sepertinya sang raja siang telah berani menongolkan kepalanya meski masih malu-malu.
Di lain tempat ketika petir menyalak sembilan kali, seorang kakek tua yang sudah tua renta dengan guci arak di tangan bergumam. “Inilah saatnya... ternyata apa yang dikatakan guru benar adanya.”
Namun tiba-tiba ia berubah pucat. Mengapa?
“Hah, mustahil... SAMBUTAN LANGIT!!!” pekiknya, ketika melihat petir kesepuluh.

***

Di tempat lain...

“SAMBUTAN BUMI... Beruntung dan celakalah bagi orang yang berdekatan dengannya,” desis seorang nenek tua berpakaian kuning di depan sebuah gubuk di lereng gunung Larang ketika merasakan bumi yang dipijaknya bergetar.
“Mekar Ningrum, kita berjumpa di Pasir Asepan.” terdengar sebuah bisikan halus di dalam batin. Perempuan itu ternyata bernama Mekar Ningrum.
“Baik, kakang Brangaspati. Bagaimana dengan kakang Ancala?” jawab Mekar Ningrum dengan menggunakan batinnya.
“Sudah kukabari,” terdengar lagi sebuah bisikan dalam batin.

***

Sinar Matahari bersinar terang menerangi jagad. Tampaklah seorang tua berjenggot putih sedang berdiri dengan gagahnya, darah mengucur dari setiap sudut dalam tubuhnya. Bajunya sudah berwarna merah darah, rambutnya awut-awutan, matanya hijau membara.
Orang Tua berjenggot putih itu pandangi setiap orang yang ada disana seperti berusaha mencatat setiap wajah mereka. Lalu berkata, “Dengarlah wahai para pendekar yang sok suci, dengarlah sumpahku ini si Iblis Bermata Hijau. Pada suatu hari nanti akan terlahir seorang yang lebih keji dariku. Dialah yang akan menguasai dunia persilatan, dan dia pula yang akan menguasai kitab Iblis Dewa dan Dewa Iblis. Hahaha....”
Iblis bermata hijau meloncat pada jurang di belakang tubuhnya. Jurang itu tak terkira dalamnya, itulah yang dinamakan dengan Jurang Mulut Dewa Neraka. Jurang yang dikeramatkan oleh setiap umat persilatan. Siapapun yang berani masuk ke dalamnya maka ia dipastikan tidak akan kembali ke dunia. Selinting kabar, bahwa di  dalam Jurang Mulut Dewa Neraka terdapat Perpustakaan ilmu silat yang sangat dahsyat. Bukan hanya Kitab Silat, Racun dan Obat mujarab di dunia pun terdapat di dalamnya. Puluhan tahun yang lalu, Kaum Persilatan berlomba-lomba untuk menuruninya, dan alhasil sampai sekarang tidak ada yang kembali.
“Sekarang bagaimana, Yang Mulia Maharaja?” tanya seorang pendekar berbaju serba putih, wajahnya terlihat ramah dan baik hati. Dia adalah wakil dari Maharaja Dunia Persilatan yang bernama Gajahsora. Selain itu, dia juga merupakan ketua dari Lima Perguruan Terbesar Di Tanah Jawadwipa. Perguruan Bintang Kemukus adanya.
“Mudah-mudahan Tuhan selalu melindungi kita!” ucap seorang Kakek berjanggut putih sedagu yang dipanggil Maharaja itu. Dia merupakan Pemimpin dari Dunia Persilatan, yang Pertama. Selain itu dia adalah orang tertua dari Pendekar Kelana Lima Pedang Dewa.
Pada awalnya di Persilatan Jawadwipa tidak mengenal apa yang dinamakan Maharaja Dunia Persilatan atau Pemimpin dunia Persilatan. Hingga pada akhirnya Muncul Iblis Bermata Hijau yang mengacaukan setiap pelosok negeri.
Pemerkosaan... Pembunuhan... Penculikan... marak dimana-mana. Sampai pada akhirnya tiba hari ini, hari dimana Iblis Bermata Hijau mati terjunkan diri ke dalam Jurang Mulut Dewa Neraka di bawah kepungan seratus delapan puluh sembilan tokoh dunia persilatan.
Matikah sebenarnya Iblis Bermata Hijau? Tak ada yang tahu...
Satu persatu mereka tinggalkan tempat itu, tempat dimana pertarungan hidup mati berlangsung selama tiga hari tiga malam.

***

Di tempat lain, seorang bocah berusia empat belas tahunan tampak berlari-lari ketakutan. Mengapa Ia begitu ketakutan?
Ternyata tak jauh di belakangnya tampak beberapa pemuda berseragam sama mengejarnya. Dari baju mereka yang berwarna keemasan dengan gambar kepala Rajawali, bisa ditebak jika mereka adalah murid Perguruan Rajawali Emas.
Lalu, jika mereka adalah saudara seperguruan, mengapa anak itu bisa lari ketakutan seperti itu?
“Gardapati, kembalikan kitab itu... maka kau tak akan mendapatkan hukuman!” seorang Pemuda yang berwajah tampan namun terlihat licik berkata seram.
“Huh, selama ini aku berguru pada perguruan ini... tak satupun jurus kalian ajarkan. Jika terus seperti ini, kapankah aku bisa membalas dendam? Hanya jurus melarikan diri apalah gunanya,” sahut anak yang bernama Gardapati itu.
“Ayo kembalikan... atau kami akan menggunakan kekerasan!” bentak salah satu kawannya yang memiliki tubuh sedikit pendek.
Gardapati celingukan, dilihatnya di sisi kanan ada sungai yang cukup deras. Selintas akal muncul dalam benaknya. Gardapati kerahkan ilmu andalan satu-satunya yaitu ilmu peringan tubuh yang ia katakan sebagai ilmu melarikan diri tadi. Dengan akalnya yang cerdik ia lari ke arah kiri. Itu membuat dua orang pengejarnya terkecoh, segera yang satu mencegat di depan sisi kiri. Gardapati yang sudah memiliki akal tentu saja tertawa dingin, segera ia berlari balik ke kanan dengan mengerahkan tenaga dalamnya dan meloncat ke sungai.
“Sial...!” umpat pemuda yang memiliki tubuh paling tinggi seraya melepaskan pukulan udara kosong.
“Dukkk...”
“Byurrr...!”
Tubuh Gardapati terhajar telak lalu tenggelam ke dalam sungai. Tubuhnya yang lemah menerima pukulan itu tampak tak kuat lagi untuk berenang apalagi menerima air yang deras, tanpa ampun ia terbawa arus sungai. Dua murid Perguruan Rajawali Emas segera berlari menyusuri sungai, berusaha mencari bocah itu, lebih tepatnya Kitab yang dicuri bocah itu.
Namun nihil. Setelah sekian lama mencari, jangankan kitabnya, batang hidung Gardapati pun tak kelihatan. Merasa putus asa, keduanya berbalik pulang ke perguruan.

***

Di Padepokan Rajawali Emas, di Gunung Indrakila (Ciremai), tampak murid-muridnya sedang berjejer di sebuah Aula pertemuan luas yang begitu hijau dengan rumput yang terpangkas rapi bak taman dalam surgawi. Sang Ketua perguruan duduk di singgasana yang begitu mewah dan glamor. Singgasana itu begitu rapi dan syarat akan keindahan. Ukiran halus bergambar Rajawali mencari mangsa tergambar rapi dan simetris. Di sisi aula tampak sebuah bangunan indah dari batu yang tersusun megah dan indah.
Tiba-tiba... dari arah gerbang perguruan, muncul dua orang pemuda yang tak lain adalah dua orang yang tadi mengejar Gardapati. Setengah berlari mereka mendekat kepada Ketua perguruan dan langsung berlutut.
Brukk...
“Aryasatya, Aryasuta, dari mana sajakah kalian?” Ketua Perguruan Rajawali Emas yang berjuluk Rajawali Berhati Emas itu bertanya bijak.
“Maafkan kami, ketua, Gardapati kabur membawa Kitab... Kitab...”
“Kitab apa?” bentak Rajawali Berhati Emas dengan tegang.
“Kitab Dewa... Dunia Persilatan,” sahut pemuda bertubuh agak pendek dari kawannya yang tak lain adalah Aryasatya terbata-bata.
“Takdir, takdir...” Rajawali Berhati Emas bergumam lirih.
“Maafkan kami...” Aryasuta ikut menimbrung.
“Tak ada yang perlu dimaafkan. Dia memang calon iblis, seluruh wajahnya menyiratkan pembunuhan dan kekuasaan! Oleh sebab itulah aku melarang mengajarkannya ilmu silat... Aryasuta, Aryasatya, carilah anak berusia belasan tahun untuk dijadikan tameng, sebelum orang yang dipilih Iblis Bermata Hijau muncul nanti. Apalagi bisa dipastikan bocah itu akan kembali kemari untuk membalas dendam.”
“Baik, Ketua...”

***

Rupanya bukan hanya itu saja, di dasar danau Kali Lotus yang jauh dari Padepokan Rajawali Emas juga terdapat sesuatu yang akan menentukan jalannya dunia persilatan, yakni seorang gadis kecil berusia sepuluh tahunan, berbaju kuning langsat serasi dengan kulitnya yang putih, rambutnya dikuncir dua. Tampak dia mengendap-endap di sebuah perpustakaan berukuran empat lima tombak persegi.
Gadis cilik itu celingukan kesana kemari, dan segera mengendap-endap ke salah satu rak kitab di sudut tenggara. Ditariknya salah satu kitab dan menarik kitab lainnya, Crekk...
Tiba-tiba deretan buku itu menggeser ke kiri dan menampakkan sebuah peti berkukuran lima kali sepuluh inci. Gadis itu putarkan tutup peti itu ke kanan sekali dan ke kiri dua kali. Terdengar sebuah benda terbuka, “Crekkk....!”
“Akhirnya kitab ini aku dapatkan!” gumam gadis kecil itu, lalu ia mengambil kitab di dalam peti. Terlihat kitab itu berwarna kuning kehitaman, dan dari sakunya ia mengambil kitab serupa lalu disimpan ke dalam peti.
Gadis itu tempatkan kitab dan peti itu di tempatnya dan kembali mengendap-endap keluar dari perpustakaan. Dilihatnya seorang gadis berusia belasan tahun sedang berdiri diam di dekat pintu, rupanya dia adalah penjaga ruang perpustakaan itu. Si gadis cilik usapkan tangan mungilnya di hidung gadis tersebut dan segera kabur menuju aula tempat latihan. Gadis penjaga perlahan menguap sebentar, lalu celingukan kesana-kemari. Sepertinya ia tak sadar bahwa ia sudah dipecundangi orang.
“Darimana saja kau, Astadewi?!” Seorang gadis cantik sebayanya menegur.
Gadis cilik berbaju kuning langsat itu tampak memasang wajah takut, “Anu... anu, Mbakyu Dewani, saya... saya dari taman belakang...”
“Apa kau lupa bahwa hari ini kita akan berlatih melempar pisau?” Dewani membentak marah.
“Anu... anu...!” Astadewi tergagap.
“Lekas kau pegang ini dan berdiri disana,” Dewani memerintah sambil menyerahkan tameng dari kayu.
Merasa mendapatkan pengampunan, Astadewi segera beranjak mengambil kayu itu dan berdiri dekat pohon.
“Awas...!!” teriak Dewani sambil melemparkan sebilah pisau.
Sungguh kaget tak terkira hati Astadewi melihat kakak seperguruannya malah melemparkan pisau itu ke arah mukanya. Segera Astadewi mengangkat tamengnya, “Crepppp!!!” Dan kekagetannya tak berhenti disana saja, dia melihat kakak seperguruannya juga melemparkan lima sampai enam buah pisau tajam menyambar tubuhnya.
Kebetulan kejadian itu juga dilihat oleh salah satu gadis lainnya yang sudah beranjak dewasa. Melihat kejadian janggal itu, ia segera berlari hendak menghentikan latihan tak beradab tersebut. Gadis itu segera berlari ke dekat Dewani dan melarang melemparkan pisaunya lagi.
“Dewani, hentikan!!” bentaknya.
Namun suatu kejadian yang tak diharapkan terjadi; Astadewi yang gusar, tanpa melihat sekelilingnya segera melemparkan salah satu pisau yang dilemparkan Dewani. Pisau melesat laksana anak panah menuju punggung gadis yang mencegah itu hingga menembus tubuhnya. Terdengar jeritan menyayat dari mulut manis gadis itu bercampur dengan darah merah segar...
“Akhhh...!” Bruk! Tubuhnya ambruk menyentuh bumi.
“Ada apa?”
“Ikhhh...”
“Dewani, apa yang terjadi?” bentak seorang perempuan berusia dua puluh enam tahunan marah. Rupanya jeritan gadis itu telah mengagetkan semua orang hingga berkumpul disana.
Dewani tergagap. Ia melihat Astadewi hilang dari tempatnya. Dalam benaknya munculah sebuah ide. Segera ia berteriak dan berlari dimana tadi Astadewi berdiri. “Astadewi, jangan kabur kau!”
“Deppp...” Perempuan berusia dua puluh enam tahunan yang memakai baju serba merah dan selendang merah itu memegang pundak Dewani.
“Lepaskan! Lekas kejar Astadewi. Dia... dia pelakunya!”
Merah wajah perempuan itu karena gusar, wajahnya yang cantik memperlihatkan sebuah pancaran amarah. Alisnya yang lentik menjungkit seakan memikirkan sesuatu dan tiba-tiba ia berteriak, “Lekas kalian cari bocah cilik itu! Citrani, kau bawa Mayasari ke ruang pengobatan.”
Serempak saja Padepokan Teratai Putih menjadi gempar. Kabar kematian Mayasari dan pembunuhan Astadewi menyebar kemana-mana.

***

BAB 1

Tubuh Gardapati terombang-ambing di antara derasnya air sungai, hingga akhirnya sampai ke sebuah air terjun yang tinggi dan curam. Bisa dipastikan bahwa tubuhnya akan jatuh di antara derasnya air yang sangat tinggi. Tapi untunglah, tubuhnya terbawa oleh pohon kayu besar yang kebetulan hanyut, hingga itu tidaklah terlalu membahayakan nyawanya.
“Wungg...” Tubuh Gardapati melayang jatuh. “Byurrshhh!”
Gardapati tampak berputaran di udara. Ketika hendak tiba di permukaan air, kebetulan posisi Gardapati adalah berdiri. Seandainya yang jatuh adalah kepala dahulu niscaya jika tidak mati, pasti akan hilang ingatan. Tubuhnya tenggelam tertelan air diiringi sebuah pancuran air yang meloncat ke langit. Ketika tenggelam itu secara beruntung tubuhnya masuk ke dalam goa air. Tubuhnya terus terseret arus hingga menggelinding di batu berlumut. Aneh, ternyata di dalam sana air tidak masuk, bahkan udara pun tampak mengalir dengan lancar.
Gardapati tergolek di hadapan seorang tua berjenggot putih berlumuran darah. Bajunya putih dengan bercak-bercak merah, rambutnya awut-awutan, matanya hijau membara. Tak salah lagi, dia adalah Iblis Bermata Hijau. Ternyata lorong gua dalam air itu terhubung dengan Jurang Mulut Dewa Neraka adanya.
“Bwahaha... ternyata Tuhan telah mengabulkan keinginanku. Dalam beberapa tahun ke depan, maka dunia persilatan akan banjir darah. Hhuaahhhaaaa...!!” Kakek itu tertawa terbahak-bahak.
Diperhatikannya tubuh si bocah; susunan tulang, hawa pembunuhan, maupun dendam telah menjadi satu di wajah Gardapati. Rahangnya tampak keras pertanda bahwa ia adalah seorang yang teguh akan pendiriannya. Semakin diperhatikan, semakin kagum kakek itu, seraut wajahnya yang sudah lesu memancarkan gairah yang menggelegak bak lahar yang siap meletus.
Tiba-tiba mata kakek itu menangkap suatu kulit binatang yang terpegang erat oleh tangan si bocah. Merasa penasaran, ia segera mengambil gulungan kulit itu dan membukanya.
“Kitab Dewa Dunia Persilatan,” baca kakek itu, seketika itu juga wajahnya berubah sumringah, lalu tergelak-gelak dan berkata lantang. “Terpujilah kau Anak Iblis... haha!”
Diambilnya tubuh Gardapati dan diberikan saluran tenaga dalam demi mencari kesembuhan. Seperminum kopi kemudian, tampak tubuh Gardapati menggelepar-gelepar. Dari ubun-ubun Iblis bermata hijau mengepul asap hijau keputihan. Kondisi mereka semakin memuncak hingga akhirnya Iblis bermata Hijau merentangkan kedua tangannya dengan telapak terbuka, kemudiaan ditarik ke atas kepala hingga menyatu dan ditarik sejajar dengan dada seperti menyembah, perlahan dilepaskan dan diletakkan di paha.
Sementara itu, Gardapati muntah-muntah. Dari mulutnya menyembur air yang demikian deras, terus berulang-ulang hingga Gardapati telentang tak kuat menahan beban tubuhnya. Iblis bermata hijau biarkan saja Gardapati telentang, malahan ia lebih memilih untuk bersemadi.
Setelah sekian lama, Gardapati mulai sadar pikirannya. Ia celingukan melihat tempat di sekelilingnya, lalu bangkit dan terkejut begitu melihat seorang kakek-kakek di depannya yang berlumuran darah dan mengepulkan asap hijau. Gardapati berpikir sejenak, ia tahu kakek itu yang telah menyelamatkan hidupnya. Dengan tekad yang membaja Gardapati segera bersujud di hadapan kakek itu.
Empat kentongan kemudian, Iblis Bermata Hijau tersadar dari semadinya. Ia sedikit kaget juga melihat ada seseorang yang bersujud di hadapannya, namun wajahnya tetap biasa seolah tak terjadi apa-apa, malahan ia bangkit dan meninggalkan Gardapati yang masih bersujud. Ia masuk ke salah satu ruangan di bawah jurang dan sungguh luar biasa, di dalamnya terdapat ratusan mayat yang menggeletak; namun bukan mayat biasa, melainkan tengkorak-tengkorak yang berserakan. Dan anehnya semua tengkorak itu berubah menjadi berwarna hitam.
Iblis Bermata Hijau langkahkan kakinya menuju sudut ruangan. Ia melangkah ke kanan dua kali dan ke kiri satu kali, lalu maju dua langkah ke depan.
“Drekk... dreekk...!!” Rak yang dipenuhi dengan puluhan kitab yang berjejer bergerak membuka dan menunjukkan sebuah goa lain.
Iblis Bermata Hijau masuk ke dalam goa itu dan memperhatikan kitab-kitab yang berjejer disana, wajahnya tersenyum bangga. Diambilnya dua buah kitab yang terbuat dari kulit kambing. Adapun kitab itu bertuliskan “Iblis Panah Asmara”. Sementara tangannya yang lain mengambil sebuah kitab yang terbuat dari kain, adapun tulisannya adalah. “Lipat Hawa Murni”
Setelah di bolak-balik, kitab itu segera dikembalikan ke tempatnya dan ia pergi ke sudut ruangan, diambilnya kitab lain dan dibacanya judul kitab itu, “Sabda Dewa dan Iblis”
Di halaman pertama terdapat sederetan tulisan. Adapun tulisan itu yakni, “Dilarang mempelajari ilmu ini kecuali jika orang yang mempelajarinya memiliki dua sifat, bila mempelajari tanpa mengindahkan ilmu ini maka ia akan mati gila”
Iblis Bermata Hijau tertawa bangga, lalu ia kembali ke tempat dimana tadi Gardapati bersujud. Kekagumannya bertambah ketika menyaksikan Gardapati tetap bersujud di tempatnya semula.

***

Waktu terus bergulir bagaikan roda, roda kehidupan yang semakin melaju tetap, tanpa seorangpun yang dapat menghentikannya. Sudah Lima hari lima malam Gardapati bersujud, lututnya sudah nyeri, perutnya terasa melilit menahan lapar, tapi ia keraskan hati dan terus berdiam diri.
“Muridku, bangunlah. Sudah lima hari kau bersujud disana...!” Iblis Bermata Hijau menegur.
Mendengar kata ‘murid’, Gardapati sungguh merasa bahagia. Segera ia bangkit dan... dunia berputar... berputar laksana gasing. Lututnya goyah... blukk... dan Gardapati pun pingsan.
“Hahaha...“ Iblis Bermata Hijau bergelak tawa dan membawa tubuh lemas Gardapati ke sebuah pembaringan dari batu.

***

Malam semakin larut, hewan malam bersahut-sahutan menambah kengerian di kesunyian itu. Seorang gadis cilik berlari ngos-ngosan, wajahnya tampak menyiratkan ketakutan yang teramat dalam. Ia terus berlari tanpa menghiraukan keadaannya yang sudah mandi keringat.
Siapakah dia?
Dari bajunya yang kuning langsat, bisa ditebak bahwa dia adalah Astadewi adanya. Rupanya setelah membunuh Mayasari, ia segera kabur melarikan diri. Dari pikirannya saja ia bisa menebak bahwa dirinya bisa celaka, karena itulah tanpa pikir panjang ia kabur terbirit-birit.
Setelah berlari selama tiga hari tiga malam, sampailah ia di hutan yang dikeramatkan oleh segenap umat persilatan, sebab hutan itu tak lain adalah tempat dimana Jurang Mulut Dewa Neraka berada. Tentu saja Astadewi tak mengetahui hal itu, segera ia mencari sebuah goa dimana dirinya akan tinggal. Setelah kutatang-kutiting mencari kemana-mana, akhirnya ia menemukan goa yang cukup nyaman. Goa itu lumayan dalam. Astadewi masuk dan membersihkannya hingga terciptalah sebuah goa istana yang baru.
Malam itu ia tak ingin berbuat apa-apa. Yang ingin dilakukannya hanyalah tidur untuk menebus kelelahannya. Tak menunggu waktu lama, Astadewi telah dibuai oleh sang dewi tidur, mulutnya yang mungil tampak sunggingkan senyum kepolosan sebagaimana wajah yang dimiliki oleh anak seusianya. Wajahnya yang cantik itu begitu lugu ketika cahaya dewi malam menyinari.
Perlu diketahui bahwa Astadewi tidur menjelang kentongan tiga, jadi tak salah bila tak begitu lama fajar telah menyingsing. Matahari pagi bersinar kekuningan, suara burung pagi bersahut-sahutan, mengusik kesadaran seorang gadis cilik berusia sepuluh tahunan itu.
Gadis itu celingukan dan segera bangkit, dilihatnya di sisi goa ada air sungai yang mengalir. Astadewi segera melepaskan bajunya dan mandi disana. Setelah selesai, ia segera memakai bajunya kembali lalu duduk bersila. Perlahan dibukanya kitab yang ia curi dari perguruan Teratai putih.
“Kitab Asmara Teratai Putih... diciptakan oleh Dewi Iblis Perajah Sukma,” desis Astadewi sambil membuka lembaran pertama. Wajahnya merah seketika, ternyata cara mempelajari ilmu itu harus dalam keadaan telanjang. Semakin dibuka semakin Astadewi gelisah, ternyata selain harus telanjang, ilmu itu juga menuntut hubungan badan.
Astadewi yang berumur masih belia tentu saja tak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, tanpa beban ia pelajari ilmu yang menurutnya mudah dan tak memerlukan lelaki. Astadewi terus berlatih hingga waktu terus bergulidanr tak terasa waktu semakin merambat

***

Kuarungi jagat raya yang disaksikan mega bisu
Laut masih biru, Langitpun masih kelabu
Kubernyanyi diantara kesetiaan samudra
Kubersenandung dibawah payung langit
Ombak beriak menggulung keangkara murkaan
Sang raja siang tetap berjalan belenggang kangkung
Pagi di timur sore dibarat,
Ayunan dayungku tetap mantap
Meski raga ini tak lagi kuat...
Hidup ini titipan...
Titipan sang pencipta yang suci...

Terdengar nyanyian merdu yang serak-serak basah dari seorang kakek-kakek yang asyik mendayung sebuah rakit dari bambu. Caping lebar menutupi sebagian wajahnya, hanya jenggot putihnya saja yang menjuntai menyentuh dadanya.
“Srettt...” Seekor anak ikan gajah menghampiri si kakek, membuat si kakek tertegun. Jika seandainya saat itu ada burung yang terbang di depan mulut kakek itu, pasti akan masuk tertelan. Caping lebarnya segera dibuka demi melihat apa yang ada di depannya, wajahnya yang sudah berkeriput menampakan usianya yang sudah uzur tampak terkejut.
“Apakah aku sudah gila dimakan usia?” pikir Kakek itu.
Apa yang kamu lakukan jika melihat seorang bayi sedang tiduran di atas seekor ikan gajah dan mengunyah seekor ikan mentah yang merupakan ikan paling langka di muka bumi? Mimpi pun si kakek belum pernah melihat seorang bayi seperti yang dilihatnya sekarang. Bayi yang belum berumur seminggu menurut taksirannya, tapi kini sedang asyik memakan ikan mentah dan hidup diantara samudera yang ganas tak berujung di atas Ikan gajah?
Setelah sembuh dari rasa terkejutnya, si kakek mengambil bayi itu dari punggung seekor ikan gajah yang diam dalam BELAIAN SAMUDRA. Diperhatikannya bayi itu, ternyata di lehernya menjuntai sebuah kalung berbentuk kujang yang sepertinya bisa dibuka tutup. Nyatalah bayi itu ternyata anak dari pasangan Rangga dan Dewi, seorang warga biasa yang tak mengerti sebuah ilmu silat apapun. Mereka bukanlah orang berdarah biru, juga bukan keturunan pendekar... lalu mengapa anaknya bisa seajaib itu?
Siapa bilang jika ksatria harus berdarah biru? Juga siapa yang mengatakan bahwa seorang pendekar besar harus berasal dari keturunan dari keluarga pendekar kondang?
Pada hakikatnya manusia tetaplah manusia yang tercipta dari saripati tanah, kemudian beregenerasi melalui segumpal darah, lalu menjadi jabang bayi yang hidup di alam kandungan selama sembilan bulan. Kehendak Ilahi memanglah tidak bisa diduga oleh seorang manusia. Jikalau harus mati, matilah ia. Tapi jika Ia berkehendak hidup, maka hiduplah ia.
Seperti halnya yang terjadi dengan bayi itu. Bayi yang mungil dan menggemaskan namun memancarkan hal gaib dari tubuhnya. Kakek itu mengambil dan membuka kalung si bayi, sehelai kertas terlihat terlipat rapi di dalamnya. Ketika dibuka munculah beberapa bait tulisan indah namun sediit kacau, nampaknya surat itu dibuat dengan tergesa-gesa.
“Siapapun yang menemukanmu, jikalau engkau masih hidup anakku, putra dari Rangga dan Dewi, seorang manusia lemah yang tak berdaya ini, anggaplah ia keluargamu. Engkau hidup di antara amukan langit dan bumi, kilat menyambar sembilan kali mengiringi kelahiranmu. Anakku, dalam mimpiku aku melihatmu tertawa diantara belaian samudra, engkau pun dapat hidup diantara amukan ombak ganas yang menerjangmu. Dalam mimpi itu aku juga melihat keluarga kita mati tersambar kilat ke sepuluh, tapi tampaknya engkau adalah sang pilihan, hingga engkau masih tertawa ketika kilat menyambarmu. Mintalah sebuah nama kepada orang yang menemukanmu yang seharusnya kau panggil kakek. Samudra adalah Ibumu, Gunung adalah Ayahmu. Langit adalah atap rumahmu, bumi adalah alasmu, jendelamu adalah cakrawala, gurumu adalah makhluk ciptaan Tuhan dan Tuhanmu adalah Allah yang Maha Esa.”
Si kakek tertegun, diulang-ulangnya surat itu. Ya... ia akhirnya paham mengapa dirinya masih hidup meski menjelang usia uzur. Usianya hampir mencapai tiga ratus tahun, benar-benar usia yang sungguh luar biasa sebagai manusia. Ia jelajahi dunia dan mengarungi samudra, mencari arti sebuah kehidupan. Ia ingin mati, tapi bukan mati bunuh diri layaknya seorang pengecut. Dulu ia adalah ksatria, ksatria yang sangat terkenal dengan kesaktian olah kanuragannya. Mungkin gara-gara mempelajari sebuah ilmu kejayaan, membuatnya jadi susah mati.
Tapi TIDAK.... setangguh apapun manusia, tetaplah terdiri dari darah dan daging, lalu mengapakah ia tidak juga menemui ajalnya sesuai yang ia harapkan? Jawabannya hanya satu; KEHENDAK ILAHI ROBBI.
Seperti halnya seorang yang meminta makhluk mungil yang indah, namun sang Ilahi malah memberinya seekor ulat. Bukannya itu hanya akan membuat yang meminta mendongkol karena merasa tidak adil? Itulah manusia, itulah sebuah pelajaran yang harus kita ambil hikmahnya. Ketahuilah bahwa sang Ilahi adalah sang Maha Adil. dan Penyayang. Seperti halnya ulat yang berubah menjadi kupu-kupu, itulah lambang dari sebuah waktu. Yah, kita sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran hendaklah bersabar dalam melakukan segala usaha.
“Sagara Angkara... Yah, anakku, mulai saat ini engkau bernama Sagara Angkara.”

***

Puncak pasir Asepan masih tetap hijau,. Meski sebelumnya diamuk air laut, dua buah bukit di sebelahnya juga masih tetap seperti semula. Kedua bukit itu bernama Pasir Oban dan Pasir Tai. Tiga sosok manusia duduk di pucuk daun ilalang dengan membentuk posisi segitiga.
“Bagaimana, kakang, apakah engkau mengetahui keberadaan Sang Pewaris?” Sosok yang satu ternyata adalah Mekar Ningrum yang memecah kebisuan setelah mereka membicarakan tentang untung dan bencana karena terlahirnya Sang Pewaris..
“Tidak, tapi aku tahu ia masih hidup.” sahut seorang kakek yang memegang arak yang tak lain adalah Brangaspati adanya.
“Oh tuhan... kita yang sudah tua memang seharusnya beristirahat menikmati sisa-sisa hidup dan menyerahkan kepada yang muda, tetapi ternyata Allah berkata lain,” ucap kakek yang satunya lagi, bukan lain dia adalah Kyai Ancala atau Kyai Lunar Binasa.
Benar-benar luar biasa tiga orang dedengkot silat tanah Jawa Dwipa semuanya berkumpul, padahal mereka sudah mengasingkan diri selama sepuluh tahun. Jikalau saat ini ada orang yang melihat mereka, niscaya tanah Jawa Dwipa akan mengalami kegemparan.
Pada masa mudanya, mereka dipanggil sebagai Tiga Satria Langit; Mekar Ningrum adalah seorang gadis yang cantik jelita keturunan dari salah satu bangsawan kerajaan Demak. Ia dijuluki Bidadari Darah Biru. Ki Brangaspati dulunya adalah seorang pangeran dari kerajaan di tanah Swarnadwipa, dengan nama asli Raden Yuda Brangaspati. Tapi ia menyerahkan tahtanya kepada adik tiri dari selir pertama Raja Tunggadewa. Ia lebih suka berkelana dan membantu rakyat yang sedang kesusahan. Sedangkan, Kyai Ancala adalah seorang santri Kyai Ageng Putra. Ia merupakan seorang pemuda tampan yang lebih suka mendalami Agama daripada berkeliaran di luar.
Sejak kecil mereka dibimbing oleh seorang Kyai dari Gunung Merapi yang bernama Kyai Ageng Putra, dengan kata lain mereka bertiga adalah saudara seperguruan. Pada saat terjadi pergolakan dunia persilatan pada lima puluh tahun yang lalu, mereka bersatu menghapus keangkara-murkaan dari seorang Iblis yang bernama asli Brajaseta atau biasa dipanggil dengan Iblis Pengacau Dunia.
“Kita harus mengajarinya dengan menggunakan ’Batin Murni’.” ujar ki Brangaspati, yang segera diangguki oleh keduanya. Tak perlu ada kata bagi mereka karena pada hakikatnya mereka mengerti apakah itu yang dimaksud.
“Tapi... itu jika ia sudah siap dan matang dalam bertindak. Bukankah hanya akan membunuhnya saja bila kita mengajarinya sekarang?”
“Engkau benar, adik Mekar Ningrum... bila ia sudah cukup tahun berkelana dalam dunia persilatan, kita ajari itu.”
“Baiklah, dua puluh tahun kemudian kita berjumpa disini, adik. Mudah-mudahan ia bisa menghentikan murid dari Iblis Bermata Hijau.”
“Iblis Bermata Hijau?”
“Haha... suatu malam aku bermimpi melihat dunia persilatan terbolak-balik atas ulah seorang murid dari Iblis Bermata Hijau itu,”
“Benarkah?! Ah, dunia persilatan sepertinya tidak akan bisa tenang...!”
“Serahkan saja kepada yang masih muda, adik Ningrum... kita hanya sebagai penopang saja. Sebaiknya kita berpisah dahulu... adalah suatu musibah besar bila kita terus berada disini! Sampai jumpa dan semoga Tuhan selalu mengiringi langkah kalian,” putus Ki Brangaspati.

***

Lima Tahun kemudian......

Di bawah Jurang Mulut dewa Neraka tampak seorang pemuda berusia sembilan belas tahunan berloncatan kian kemari, wajahnya tampan namun menyiratkan hawa kematian yang dalam. Matanya yang hijau bersinar nakal dan dendam, siapapun yang berada setombak di dekatnya pasti akan merasakan suatu hawa yang menyesakkan dada.
“Hiaaattt....! Cakar Dewa!!” teriak Pemuda itu sambil mengayunkan telapak tangannya kepada sebuah batu cadas. Sebuah bayangan telapak tangan raksasa berwarna hijau tampak mencengkeram batu itu.
“Blegaaaarr..!!” tak menunggu lama, batu itu segera hancur berantakan.
Mata pemuda itu menyipit, ia bersalto di udara dan berdiri tegak di atas batu cadas berlumut yang dilingkari akar pohon raksasa. Bila orang itu adalah orang awam atau memiliki tenaga dalam kelas dua, jangan harap dapat berdiri di atas batu itu. Namun Pemuda bertelanjang dada yang tak lain adalah Gardapati seolah tak pernah memikirkan bahwa yang tengah diinjaknya adalah batu berlumut.
Tunggu....!!
Rupanya Gardapati tidak menginjak batu berlumut itu, namun melayang seinci di atas batu tersebut. Jika orang yang tak teliti mustahil akan melihat kejadian aneh itu.
“Bagus... bagus... jurus-jurus dalam Ngambang Angin, Dewa Iblis dan Iblis Dewa, Dewa Dunia Persilatan, Sabda Dewa dan Iblis, dan tenaga dalam Iblis Hijau sudah kau kuasai benar. Mengenai ilmu lainnya aku takkan menilai, silahkan kau nilai sendiri. Namun ada satu hal lagi yang disayangkan...” sebuah suara serak dari bawah terdengar begitu jelas di telinga Gardapati.
Gardapati tahu gurunya Iblis bermata Hijau lah yang berbicara, maka ia diam menyimak setiap patah katanya. Alisnya berkerut ketika mendengar ada hal lain yang patut disayangkan. “Apakah hal itu, Eyang Guru?” tanyanya.
“Kau belum bisa menguasai ilmu yang menuntut peleburan Yin dan Yang...!”
“Maksud guru?” tanya Gardapati heran sambil bersila di atas batu berlumut itu.
“Kau harus mendapatkan kehangatan dari perempuan untuk menguasai seratus kitab lain di tempat ini!”
“Maksud guru aku harus tidur dengan Perempuan untuk menyempurnakan ilmuku?”
“Benar!”
“Berapa perempuan yang aku perlukan, guru?”
“Sesuai dengan kitab yang berada disini, kau membutuhkan seratus perempuan. Namun untuk ilmu yang paling dahsyat dari golongan sesat ini, yaitu iblis Panah Asmara, hanya cukup satu perempuan saja. Tetapi...”
“Tapi apa, guru?” Gardapati sungguh penasaran dibuatnya.
“Perempuan itu harus gadis, dengan kata lain di bawah usia tiga puluh tahun. Itu juga harus rela digilir, tak perlu perawan asal gadis itu rela maka ilmu itu dapat kau kuasai, sebab ilmu itu perlu peran si gadis! Tentunya gadis itu harus orang yang paham akan ilmu silat.”
“Apakah sembilan puluh sembilan perempuuan yang lain harus perawan atau paham ilmu silat juga, guru? Dan apa yang dimaksud dengan digilir?”
“Tidak. Tak perlu paham ilmu silat. Selain itu perempuan yang kumaksud tidak perlu gadis, janda juga bisa asal di bawah tiga puluh tahun. Asal kau menyedot hawa kewanitaannya, itu sudah cukup. Hanya tentunya gadis perawan dan janda berbeda rasanya... hahaha. Sedangkan maksud digilir adalah bahwa gadis itu harus mau melayani aku dan melipatkan tenaga dalamnya, lalu gadis itu bersetubuh denganmu untuk meningkatkan tenaga dalammu.”
Tak kerasa keduanya tertawa, tertawa dalam rencana yang diam-diam diatur rapi.

***

Hari itu juga Gardapati menyusuri sungai dimana dulu ia masuk kesana, dan kebetulan di arah selatan sungai itu terdapat sebuah desa. Girang hati Gardapati bukan kepalang. Tiba-tiba mata Gardapati yang tajam laksana seekor Rajawali menangkap dua orang perempuan sedang mencuci baju di sungai dengan hanya memakai kain yang dibelitkan di atas dada. Kain penutup itu tampak lekat mencetak tubuh mereka yang sempurna, apalagi kain itu basah oleh air.
Mata Gardapati melotot ketika melihat beberapa tetes air menitik di leher mereka yang jenjang. Terdengar perempuan yang satu berkata, “Aryani, aku sudahan... apakah kau sudah selesai?”
“Em... mbakyu, pulanglah duluan. Yani masih hendak mandi!” jawab gadis yang menjadi incaran Gardapati. Gadis itu kira-kira berusia dua puluh tahunan, rambutnya panjang sepunggung, matanya jeli dan hidungnya mancung, tahi lalat di dagunya seakan menjadi rangsangan tersendiri bagi lelaki yang melihatnya.
“Baiklah, hati-hati... mbak duluan ya!”
“Iya, Mbakyu.” Gadis itu segera melepaskan kain penutup satu-satunya di tubuhnya tanpa menyadari bahwa bahaya sedang mengincar dirinya.
Mendengar dan melihat itu, semakin girang bukan kepalang hati Gardapati. Setelah dirasa cukup aman, Gardapati kerahkan Jurus Ngambang anginnya. Bagaikan angin yang berhembus saja, Gardapati segera berada di belakang gadis itu dan menotoknya.
“Uukhggg!” keluh gadis itu ringan.
Gardapati segera memondong tubuh bugil si gadis dan berlari meninggalkan tempat itu, tak lupa ia menghanyutkan semua pakaian gadis itu, berusaha menyembunyikan jejaknya.
Setelah berlarian cukup lama, Gardapati segera menyelinap ke balik air terjun, rupanya disana terdapat goa yang cukup rapi. Gardapati cepat menurunkan tubuh Aryani dari pondongannya dan diletakkannya tubuh gadis yang tertotok itu di atas batu pipih dalam goa.
Meski tertotok, Aryani masih sadar. Kendati ia tak bisa bergerak dan berteriak, namun kesadaran dan penglihatannya masih utuh. Aryani hanya bergidik ngeri tanpa bisa berteriak, apalagi bergerak. Sekujur tubuhnya dibasahi keringat dingin. Ia tahu nasib apa yang akan dialaminya nanti. Semuanya serba menakutkan, serba menegangkan. Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuatnya. Ia hanya bisa menunggu datangnya waktu.
Aryani bergidik ngeri dan memekik dalam hati ketika tangan penculiknya mengelus tubuh telanjang dirinya. Apa yang dialaminya benar-benar membuat nyali gadis itu menciut. Tampak mulut Gardapati berkemik-kemik, sepertinya ia akan memulai pengalaman pertamanya. Setelah itu kedua matanya melotot liar memandang tubuh molek  Aryani. Kalau saja gadis itu tidak dalam keadaan tertotok, sudah pasti akan menjerit ngeri. Wajah Aryani pucat bagai mayat. Bibirnya bergetar-getar membayangkan kengerian luar biasa saat pemuda itu mulai meremas-remas dengan kasar bulatan payudaranya!
Gardapati tak berkedip menatap payudara Aryani yang besar tapi kencang dan kenyal. Kulitnya putih bersih, serta ditumbuhi bulu-bulu halus di sekitar wilayah dadanya. Urat-urat berwarna kehijauan melintang di buah dada itu. Segera Gardapati menjilat dan menghisap-hisapnya rakus, sambil sesekali ia gigit-gigit gumpalan daging mungil di puncaknya yang cerah memerah.
Terasa begitu asyik dan nikmat, sementara tangannya yang satu lagi sibuk memilin-milin puting susu Aryani yang coklat kemerahan dan mulai sedikit mengeras. Mungkin gadis itu mulai terangsang. Gardapati menekan kedua susu itu sampai tergencet sehingga melebar ke samping. Juga ia tampar-tampar kedua gunung kembar itu sampai jadi memerah.
Aryani sudah tentu merasakan panas pada kedua payudaranya, namun sama sekali tidak bisa mengaduh apalagi berteriak. Dia hanya bisa mendelik dan menangis untuk menahan nyeri. Gardapati kini menjepit puting susu sebelah kanannya dengan menggunakan dua jari, kemudian dipelintir-pelintir keras sambil sesekali ditarik-tarik ke atas. Pemuda itu juga menghisapnya kuat-kuat hingga puting susu Aryani jadi tegak tinggi ke muka.
"Hmmph..." erang Aryani saat Gardapati menambah siksaan dengan memasukkan kejantanan ke dalam mulutnya dengan paksa. Sementara menyuruh agar diemut, pemuda itu juga menjepit klitoris Aryani dengan menggunakan dua jari sebelum kemudian menarik dan menggelitiknya keras-keras.
"Hhh..." tubuh Aryani menggeliat, tapi totokan Gardapati terbukti sangat membatasi geraknya. Yang ada malah ia hanya bisa pasrah.
"Jilat punyaku! Kalau tidak, aku tarik putus kedua putingmu sampai lepas!" ancam Gardapati.
Aryani ketakukan, dan dengan terpaksa ia mulai membuka mulutnya. Pelan ia menjilati kejantanan Gardapati, kemudian mulai mengulumnya lembut.
Gardapati menjejalkan batangnya ke mulut Aryani dengan tidak sabar, bahkan sampai masuk ke tenggorokan gadis muda itu. Aryani terlihat kehabisan nafas, tapi sama sekali tidak menolak. Untung Gardapati menarik kejantanannya keluar hingga dia tidak sampai tersedak. Kini pemuda itu membiarkan Aryani mengemut pelan, sementara dia sendiri sibuk mengelus-elus paha Aryani yang putih bersih dan ditumbuhi bulu-bulu halus.
“Hmm... tubuhmu bagus,” Gardapati mengangkat paha Aryani dan melebarkannya. Pelan ia menunduk untuk memperhatikan kewanitaan Aryani yang ditumbuhi bulu-bulu tipis. Kepalanya bergerak dan mulutnya mulai menjilati celah kewanitaan itu yang terlihat gemuk dengan ditutupi oleh lipatan daging yang berwarna coklat kemerahan.
Aryani terengah-engah merasakan kemaluannya ada yang menjilati, namun hanya suara dengus napas gadis itu saja yang terdengar. Dia sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa.
Sementara mulut Gardapati menjilati kewanitaan Aryani, tangannya kini bergerak ke atas untuk memijat-mijat payudara Aryani serta mempermainkan puting susunya yang mungil kemerahan. Aryani mendengus antara rasa sakit, geli dan takut. Apalagi saat dilihatnya Gardapati mulai membuka bibir kewanitaannya kemudian memasukkan jari telunjuk ke dalam sana.
“Hehe... sempit juga punyamu. Masih perawan ya?” Gardapati mengobok-obok liang kemaluan Aryani. Ia korek-korek lubang kewanitaan itu sampai belahannya yang mungil mulai terbuka agak sedikit melebar. Kewanitaan Aryani juga mulai basah akibat rangsangannya, terlapisi oleh cairan kental bening yang sangat lengket.
Ketika melihat bibir kewanitaan gadis itu telah siap, perlahan Gardapati menciumi bibir Aryani dan mulai menaikinya. Tak terasa Aryani mulai meneteskan air mata saking tidak kuatnya melihat bahaya maut yang akan datang menjemput. Kali ini suasana tegang dalam gua benar-benar sudah mencapai puncaknya.
Pelan Gardapati mengarahkan kejantanannya yang sudah menegang dan mendekatkannya ke liang kewanitaan Aryani. Ia tempelkan kepala kejantanannya di depan lobang kewanitaan gadis muda itu. Namun saat dengan sekuat tenaga mencoba untuk mendorongnya masuk, ternyata masih sulit. Maklum, Aryani memang masih perawan, jadinya lubang kewanitaannya masih sangat kecil.
Sambil memegangi pinggul gadis malang itu, Gardapati coba menggerakkan pinggulnya, "Hup... oohh!!" Juga sedikit ia gunakan ilmu tenaga dalamnya untuk terus mendorong. Walaupun dengan susah payah, akhirnya usaha mulai manampakkan hasil. Kejantanannya mulai masuk, amblas ke dalam lubang kemaluan Aryani.
“Hggh!!” Gadis kampung itu memekik kesakitan di dalam hati begitu selaput daranya terbelah. Yang bisa dilakukan hanya menangis tanpa suara, tanpa pernah bisa melawan apalagi memberontak.
Gardapati sendiri merasa keenakan begitu batang kejantanannya serasa ada yang memijat-mijat. Ia mulai mengerakkkannya maju-mundur secara perlahan. Tangannya memegang pundak gadis muda itu, sedangkan mulutnya menciumi puting susu Aryani yang kini tampak kaku dan berwarna semakin kemerahan.
Aryani tersedu-sedu, namun itu malah membuat Gardapati jadi semakin bergairah. Terus ia goyangkan kejantanannya naik turun sambil ia tekuk kedua kaki Aryani ke atas sehingga kedua paha yang putih mulus itu menyentuh bulatan payudaranya. Dengan begitu Gardapati jadi bisa memompa semakin cepat, sampai darah perawan Aryani mengalir keluar membasahi bibir kewanitaannya dan turun ke anus serta ke belahan pantatnya.
"Ooh... aahh!!" Aryani terus menangis kesakitan, namun Gardapati seakan tak peduli. Sepenuh gairah ia menikmati lubang kemaluan gadis itu sambil mengulum dan menghisap mulut Aryani yang mungil kemerahan. Air liur kini mengalir membasahi bibir, hidung, pipi, dan sekitar leher Aryani, yang dijilat serta dihisap Gardapati dengan tegukan-tegukan nikmat.
Tak begitu lama suara dengusan kedua insan itu terdengar susul-menyusul, seperti nyanyian puluhan iblis yang sedang asyik berpesta pora di dalam kegelapan. Sepertinya Gardapati telah melepaskan totokan Aryani. Meski menjerit-jerit, deru air terjun telah menutup suara gadis muda itu.
Lalu siapakah yang akan menolong Aryani? Entahlah....
Malah kini Gardapati membalikkan tubuh Aryani dan memposisikannya seperti Anjing. Dari arah belakang, kembali ia hujamkan batang kejantanannya ke liang kewanitaan gadis malang itu. Gerakan Gardapati kini menjadi semakin cepat, sambil kedua tangannya meremas-remas susu Aryani dengan sedikit kasar.
“Auw... ahh... aghh!!” Aryani semakin mengerang-ngerang kesakitan, tapi Gardapati tak peduli. Terus saja ia maju-mundurkan pinggulnya dengan cepat sambil menepuk-nepuk bongkahan pantat Aryani yang padat dan kenyal sehingga meninggalkan bekas memerah membentuk telapak tangan di kulit pantat Aryani yang putih mulus.
"Aah... ahh... pe-perih... tolong, lepaskan aku!" Aryani berteriak.
"Diam! Kamu memang pantas jadi anjing begini... ooh gila, enaknya!!" desah Gardapati.
"Aakhh... ouhh!!" Aryani terus merintih kesakitan.
Gardapati jadi semakin bersemangat. Sampai akhirnya tubuhnya mengejang begitu cairan pejunya menyembur ke dalam rahim Aryani, memenuhi lobang kewanitaan gadis itu dengan cairan kental putih yang sangat banyak.
"Ohh... nikmat!!" Gardapati mendesah puas. Ia biarkan kejantanannya tetap tertanam di lubang kewanitaan Aryani untuk beberapa saat guna menikmati jepitan otot-otot kewanitaan Aryani yang berdenyut-denyut kencang. Setelah agak melemas, baru Gardapati melepaskannya. Kini ia balik tubuh Aryani serta mengangkat kepala gadis itu untuk memaksanya menjilati batang kejantanannya yang masih basah oleh sperma dan darah.
Wajah Aryani terlihat pucat merasakan sakit pada selangkangannya. Dia melihat ke belakang untuk menyaksikan sperma kental bercampur darah menetes di antara kedua kakinya. Gadis itu pun menjerit dengan tubuh bergetar dan kemudian tersungkur lemas. Ia pingsan karena kecapekan dan merasakan sakit yang luar biasa pada lubang di selangkangannya.
Sementara di depannya, Gardapati tertawa puas karena berhasil melaksanan salah satu perintah gurunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar