Selasa, 12 Desember 2017

Ibu Guru Cantik

“Selamat siang, Bu,” sapaku pada Bu Diana, guru matematika yang juga merupakan wali kelasku, saat berpapasan di koridor ruang guru. Kulihat wanita cantik itu sedikit memerah, padahal tadi pagi dia tampak baik-baik saja. ”Ibu baik-baik saja?” aku bertanya.
“Oh, ya... Ibu baik kok.” suaranya terdengar lembut, sedikit menggairahkan. Bu Diana adalah seorang guru yang cantik dan menawan.Umurnya baru 22 tahun dan belum menikah. Di sekolah, dia adalah idola para murid laki-laki sepertiku.

Aku sedikit terangsang menerima jawaban disertai desahannya itu. Tanpa sadar, batang penisku mulai menggeliat. Aku segera menghela nafas untuk mengontrolnya. Sudah beberapa hari ini aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada guru matematikaku ini. Sepertinya dia suka padaku. Terlihat dari cara dia melihat, menatap dan berbicara denganku. Tapi aku tidak berani membalasnya karena sungkan. Bagaimana pun dia adalah guruku yang harus kujunjung dan kuhormati.
“Zam, apakah kamu ada waktu sore ini?” tanya Bu Diana. “Ada yang perlu saya perbincangkan.”
“Emm, jam berapa, Bu?” aku bertanya.
”Sekitar pukul tiga.” jawab Bu Diana.
”Baik, Bu. Bisa kok.” sahutku. ”Kita ketemu dimana?”
”Kamu datang ke ruanganku saja.” jawab wanita cantik itu. ”Semua kertas kerjaku ada disitu.”
”Ini soal rekreasi itu ya, Bu?” aku menebak.
“Sebagian iya,” jawab Bu Diana.
“Baik, Bu, saya akan datang.” jawabku pada akhirnya. Aku segera menelepon rumah memberitahu ibuku kalau tidak bisa pulang tepat waktu karena ada pertemuan dengan wali kelas.
“Ada apa, Zam?” tanya ibuku curiga. “Kamu tidak berbuat yang aneh-aneh kan?”
“Tidak, Bu.” Aku menjawab menenangkan. “Bu Diana cuma mau membicarakan penggunaan uang kas kelas untuk acara rekreasi minggu depan.”
“Oh, begitu.” Ibuku tampak bisa menerimanya. “Ya udah kalo gitu. Jangan pulang sore-sore ya..”
Aku segera mengiyakan dan menutup telepon.

***

Sepulang sekolah, aku menghabiskan waktu di ruang UKS, menunggu waktu pertemuan dengan Bu Diana yang masih 2 jam lagi. Kulihat tidak ada orang lain di sekolah karena kebetulan hari ini tidak ada kegiatan ekskul. Untuk menghabiskan waktu, aku tiduran di ranjang mungil yang ada di ruangan itu. Aku ingin beristirahat sejenak karena badan rasanya letih sekali setelah seharian menerima pelajaran. Sambil berbaring aku membayangkan, apa sebagian lain yang dimaksud Bu Diana tadi? Apakah...? ah, tidak mungkin. Bayanganku terlalu jauh. Tidak mungkin dia mau mengajakku berbuat mesum seperti itu di lingkungan sekolah. Dia kan guru terhormat.
Tapi kalau dia mengajak, mampukah aku menolak? Tidak dapat dipungkiri, dalam hati, aku juga menginginkannya. Jadi kalau begitu... ah, lihat nanti saja. Mungkin juga ini cuma pertemuan biasa. Aku saja yang terlalu berharap lebih.
Tepat pukul tiga, aku pergi ke ruangan Bu Diana yang berada di lantai dua bangunan sekolah. Wanita itu tidak ada, tapi pintu ruangannya tidak ditutup, jadi aku langsung masuk saja dan duduk di kursi yang ada disitu. Cukup lama aku menunggu hingga lima belas menit kemudian, wanita cantik itu datang.
“Hai, Zam, sudah lama menunggu?” sapanya ramah dengan senyum manis tersungging di bibirnya yang tipis.
“Ah, tidak, saya juga baru nyampek kok, Bu.” aku berbohong. Menunggu selama apapun akan kulakukan, bu, asal bisa memandang wajah ibu yang manis itu, batinku dalam hati.
Kulihat Bu Diana berdandan sangat cantik hari ini. Dia membalut tubuhnya yang montok tapi ramping dengan kemeja kerja ketat yang memperlihatkan lekuk-lekuk tubuhnya. Aku memandanginya tanpa berkedip. Dalam pikiranku mulai terbentuk bayangan Bu Diana yang bugil menari-nari tanpa mengenakan pakaian sama sekali. Sungguh fantasi yang sangat kurang ajar. Tapi mau bagaimana lagi, dia memang terlihat begitu menggoda.
Bu Diana mengambil catatan keuangan kelas dari dalam laci dan mulai mendiskusikannya denganku. Dengan cepat, kamipun terlibat dalam perbincangan yang hangat dan akrab.
Dinginnya AC di dalam ruangan itu membuatku menggigil dan lama-lama merasa ingin buang air kecil. Awal-awal aku berusaha untuk menahannya karena sungkan memutus pembicaraan dengan Bu Diana. Masa aku harus bilang karena kebelet pipis, tengsin banget kan? Tapi itu cuma bertahan sebentar. Semakin ditahan, rasa itu malah menjadi semakin menyiksa hingga akhirnya aku benar-benar tak tahan. Dengan sedikit malu, aku pun minta ijin keluar sebentar kepadanya.
“Bu, maaf... saya mau ke belakang sebentar. Sudah nggak tahan.” kataku dengan muka memerah.
Tersenyum mengiyakan, Bu Diana mengangguk. “Cepetan pergi sana, jangan kencing disini!” oloknya.
Aku pun cepat pergi dari ruangan itu. Kulangkahkan kakiku cepat ke WC lelaki di pojokan sekolah. Di tengah-tengah tangga, tiba-tiba aku teringat bahwa sapu tangan yang biasa kupakai tertinggal di atas meja Bu Diana. Tidak ingin mengelap tangan sembarangan, aku segera berbalik dan kembali ke ruangan itu untuk mengambilnya.
Di depan pintu, langkahku terhenti. Kulihat Bu Diana sedang memegang sapu tangan itu dan mengendusnya. Apa yang sedang dia lakukan? Apakah... Ah, penasaran dengan apa yang akan terjadi, aku tidak jadi masuk dan memilih untuk mengintip perbuatannya.
Bi Diana menciumi sapu tangan itu berulang-ulang, lalu... ini yang membuatku sampai berhenti bernafas, dia memasukkan benda itu ke dalam kemaluannya. Bu Diana mengangkat rok pendeknya dan memasukkan sapu tanganku ke balik celana dalamnya. Dia menggunakannya untuk mengelap sesuatu miliknya yang ada disitu.
Batangku langsung tegang saat melihatnya. Benarkah ini? Guruku yang cantik itu sedang menggesek-gesek selangkangannya dengan menggunakan sapu tanganku? Apakah dia cuma mengelap saja atau malah sedang bermasturbasi? Entahlah, aku tidak tahu.
Ingin aku masuk dan mengejutkannya. Siapa tahu dengan begitu aku bisa memeluk dan mencium tubuhnya. Tapi sekali lagi, aku masih sungkan. Lagipula aku juga takut dituduh berbuat mesum kepadanya. Kalau dia berkelit dan memberi alasan yang bagus, bisa-bisa aku yang malu nanti. Akhirnya, sambil tetap memendam gairah, aku meneruskan mengintip. Rasa pengen kencingku tadi sudah hilang, digantikan rasa ngilu dan panas di sekujur kemaluan. Benda itu telah berontak menuntut pelampiasan.
Saat itulah, kulihat Bu Diana menarik tangannya dan meletakkan lagi sapu tanganku. Pura-pura tidak tahu, aku masuk ke dalam ruangan. Kulihat tubuh wanita cantik itu masih sedikit bergetar dan berkeringat. Mukanya masih memerah. Tampak makin menambah kecantikannya. Apakah ini yang dia lakukan setiap hari di saat jam istirahat kedua hingga aku sering memergokinya mengajar dengan muka merah padam?
Tersenyum tanpa dosa, aku mengambil sapu tanganku, ”Maaf, Bu, ini ketinggalan.” kataku. Kain itu terasa sangat basah dan lengket.
Bu Diana menyahut dengan suara bergetar. ”I-iya.” dia tampak salah tingkah. Mungkin menyadari kalau aku telah melihat perbuatannya.
Kucium kain itu, Hmmm... baunya sedap dan nikmat! Apakah begini bau selangkangannya? Kalau memang benar, pasti rasanya akan sangat nikmat sekali. Tanpa sadar, aku jadi mendesah dibuatnya. “Emm..”
Bu Diana tersenyum-senyum melihat apa yang kulakukan. “Kenapa, Zam?” dia bertanya.
“Ah, tidak, Bu. Bau sapu tangan saya kok jadi wangi begini ya?” Aku coba memancingnya dengan kata-kata yang sangat berani. Aku yakin dia tidak akan marah.
Dan benar, Bu Diana menanggapinya dengan tertawa. ”Kamu suka?” tanyanya tanpa pernah kuduga.
”S-suka, Bu. Suka sekali.” aku jadi salah tingkah dibuatnya.
”Ambillah, itu hadiah dari ibu,” sahutnya.
Kutatap wajahnya yang cantik. Dan entah dapat dorongan dari mana, aku pun mengatakannya, ”Bu, sebenarnya... s-saya suka sama ibu!”
Senyum Bu Diana menghilang, ”Maksud kamu apa?” mukanya jadi tambah memerah.
“Sudah lama saya mengagumi ibu. Mulut ibu yang tipis, mata ibu yang bulat, pipi ibu yang putih. Ohh... Selalu hadir dalam batin dan pikiran saya.” sudah kepalang tanggung, aku nyebur aja sekalian. Siapa tahu nanti dapat ikan besar.
Bu Diana terdiam, tapi terlihat tersenyum gembira. Dia menundukkan mukanya, tidak berani menatap mataku. Aku mendekat dan mengangkat dagunya dengan tanganku. Kami bertatapan mata sejenak. Dia tampak malu-malu tapi mau. Bu Diana tidak menolak saat kuusap-usap pipinya yang mulus. Juga bibirnya yang tipis menggiurkan. Ingin aku segera mengecup dan melumatnya. Saat Bu Diana terlihat pasrah, aku pun melakukannya.
Kecupan pertama begitu singkat, hanya sekedar nempel. Tapi sudah cukup untuk membuatku bergetar panas dingin. Siapa juga yang tahan bersentuhan bibir dengan wanita secantik Bu Diana? Aku main-mainkan jariku di mulutnya. Wanita itu menutup matanya dan mulai mendesah. Dia menjilat dan menciumi jemariku.
Sekali lagi aku mendekatkan bibir dan melumatnya. Kali ini sedikit lebih lama. Juga lebih dalam. Bu Diana tidak menolak, dia tidak marah sama sekali, bahkan terasa dia mulai sedikit membalasnya dengan mencucup dan menghisap bibirku pelan. Ughh, membuatku tubuhku jadi makin bergetar tak karuan.
“Emmphh... Emmpphh... Zam, ibu juga suka sama kamu.” bisiknya di sela-sela ciuman. Suaranya terdengar merdu dan mengasyikkan.
Mendengarnya membuatku jadi tak sungkan-sungkan lagi untuk memeluknya.  Kutarik tubuh sintal Bu Diana ke dalam dekapanku sambil terus kuciumi bibir, pipi dan lehernya. Wanita itu mendesah kegelian.
”Ahh, Zam!” rintihnya.
“Bu, boleh kupegang payudara ibu?” tanyaku penuh harap. Kupandangi bulatan daging di dadanya yang terlihat besar dan begitu menggiurkan.
“Emm.. Peganglah, Zam. Lakukan sesukamu!” jawab Bu Diana.
Aku segera mengulurkan tangan dan meremas-remas payudaranya wanita cantik itu. Meski masih tertutup baju dan BH, tapi aku sudah bisa merasakan kekenyalan dan keempukannya. Kuremas-remas kedua payudara Bu Diana dengan kedua tanganku. Wanita itu makin merintih. Roknya yang tersingkap memperlihatkan sepasang pahanya yang putih mulus. Saat melihatnya, aku jadi punya ide lain.
Segera kuturunkan salah satu tanganku dan mengusap-usapnya. Kuraba paha yang licin dan sedikit berbulu itu dari bawah ke atas. Saat tanganku sampai di selangkangan Bu Diana, aku berhenti. Kubiarkan tanganku parkir di sela selangkangan wanita cantik itu.
”Oughhhh...” Bu Diana mendesah saat tanganku bermain-main di atas kain di luar kemaluannya. Sambil menggosok-gosok alur vaginanya, kucoba menyelipkan jariku ke celah kemaluannya. Bisa kurasakan benda itu sudah begitu basah dan hangat.
“Aahh.. Aahh.. Emmpphh.. Zam!” Bu Diana merintih keenakan.
“Bu, tutup pintunya dulu. Nanti ada yang melihat.” aku memberitahu, soalnya gara-gara pintu itulah aku tadi bisa memergoki perbuatan Bu Diana.
Wanita itu mengangguk, ”Emm... iya, cepat tutup, Zam.” bisiknya cepat, terlihat sudah tidak sabar.
Aku segera mengunci pintu itu dari dalam. Setelah itu kembali kudekati Bu Diana yang sudah menungguku di atas meja. Dengan mesra, kubelai rambutnya yang panjang, kemudian perlahan, kutanggalkan bajunya satu per satu hingga wanita cantik itu duduk di depanku dengan bertelanjang dada. Payudaranya yang besar terlihat begitu bulat dan menggiurkan. Benda itu tampak begitu memukau meski masih tertutup bra hitam tipis. Permukaanya sangat halus dan mulus. Serasi dengan badan Bu Diana yang ramping dan seksi.
”Apakah kau cuma akan melihat saja?” tanyanya dengan suara sedikit mendesah.
Tersadar, aku pun tersenyum dan segera memeluknya. Bisa kurasakan payudaranya yang kenyal menekan-nekan dadaku. Aku kembali mencium bibir mungilnya yang sedikit terbuka. Juga lehernya yang jenjang dan pipinya yang putih mulus. Tak lupa juga kujilati kedua telinganya yang beranting-anting bulat.
“Zam.. Mmpphh... Mmpphh...” terdengar desahan Bu Diana saat mulutku melumat mesra bibirnya.
Kupegang kepalanya agar ciumanku tidak terlepas. Sambil terus mencium, kucoba untuk melepas BH-nya. Kutarik kain mungil itu dan kucampakkan begitu saja ke lantai. Selanjutnya, dengan penuh nafsu, kuremas-remas payudara Bu Diana yang kini sudah tidak tertutup lagi. Rasanya begitu empuk dan kenyal, juga hangat. Putingnya yang mungil terasa sudah sangat mengeras. Kujepit benda itu dengan dua jari dan kupilin-pilin ringan.
”Oughhhhh,” Bu Diana langsung mendesah keenakan. Dia melumat bibirku semakin erat. Kubalas ciumannya dengan memasukkan lidahku ke dalam mulutnya dan menghisap lidahnya kuat-kuat. air liur kami yang saling bercampur dan menetes-netes makin menambah kenikmatan ciuman itu.
”Bu?” Kupandangi mata bulat Bu Diana yang kini sudah terlihat sayu setengah terpejam. Nafas kami sudah sama-sama berat dan terputus-putus. Di bawah, penisku terasa ngilu karena sudah sangat menegang.
”Lakukan, Zam.” Wanita itu mengangguk, memberiku ijin untuk berbuat lebih jauh lagi.
Aku segera meneruskan ciumanku, kali ini sasaranku adalah telinga dan belakang lehernya. Keras aku memagut disana hingga beberapa bercak merah tercetak di leher Bu Diana yang putih. Sementara telinganya, kugelitik dengan lidahku. Terutama lubang dan cupingnya hingga membuat Bu Diana makin mendesah kegelian.
”Zam,” dia merintih sambil semakin erat memeluk tubuhku.
Kuraba payudaranya yang montok dan sekali lagi kuremas-remas dengan kedua tanganku. Ciumanku ikut turun hingga tiba di tanjakan buah dadanya. Terasa benda itu begitu halus dan padat. Kulitnya tampak putih dengan urat-urat hijau kecil menjalar di seluruh permukaanya. Dagingnya terasa hangat saat aku mengendusnya. Sementara putingnya, sudah seperti batu mungil, terasa sangat keras!
Penisku jadi semakin menegang. Kuraih tangan Bu Diana dan kubimbing kesana agar dia memegangnya.
”Zam,” tatapnya penuh rindu saat sudah memegang penisku. Tangannya terasa sedikit bergetar.
”Ibu tidak pernah memegang batang lelaki sebelumnya?” tanyaku sambil mengusap-usap puncak payudaranya.
Bu Diana menggeleng. ”Tidak untuk yang sebesar ini,” bisiknya malu-malu.
Aku tersenyum. Kugerakkan tangannya naik-turun agar dia mengusap-usapnya. Meski masih berbalut celana, tapi rasanya sungguh-sungguh nikmat.
Aku kembali menyerbu payudaranya. Kuciumi benda bulat milik wanita cantik itu sambil sesekali kujilati permukaannya. Terasa sangat halus dan empuk. Saat kugelitik putingnya, Bu Diana langsung melenting kegelian. Tubuh sintalnya terlonjak hingga aku harus memeganginya agar dia tidak jatuh. Selanjutnya, saat dia sudah terbiasa, Bu Diana cuma mendesah dan merintih-rintih menerima hisapan dan jilatanku yang semakin bernafsu.
”Oughhh... Zam.” Suara desahannya terdengar manja dan menggairahkan.
Habis kedua payudaranya kukenyot dan kuhisap-hisap. Sambil melakukannya, kutanggalkan baju seragamku satu persatu. Kini aku cuma memakai celana dalam saja. Begitu juga dengan Bu Diana, karena roknya juga sudah kulepaskan.
Sekali lagi kami berpandangan. Bu Diana menatap penisku yang tampak menegang dahsyat di balik celana. Dia mengulurkan tangan dan segera mengusap-usapnya. Sementara aku, tak berkedip menikmati tubuh kemilaunya yang begitu mulus dan indah. Selangkangannya tampak bersih, seperti tidak ada satu pun bulu yang tumbuh disitu. Apakah dia mencukurnya?
Untuk mendapatkan jawaban, aku pun merabanya. Kuselipkan tanganku ke balik celana dalam Bu Diana hingga bisa kusentuh vaginanya secara langsung. Benar, memang tidak berbulu sama sekali. Benda itu terasa basah dan panas. Lekuk-lekuk di permukaannya terasa licin dan sedikit lengket. Saat aku menggeseknya, Bu Diana langsung merintih kegelian.
”Aghhhhh... Zam.” Dia mendesah sambil memejamkan mata.
Sementara itu, tanganku yang lain kembali menjalar di atas payudaranya. Entahlah, aku suka sekali benda itu. Seperti tak bosan-bosannya aku memegang dan memijitnya. Terutama putingnya yang mungil, yang berwarna merah kecoklatan, aku terus memilin dan memencet-mencetnya.
”Aahhhhhh...” diserang atas bawah seperti itu membuat Bu Diana makin menggelinjang.
Apalagi sekarang aku sudah menemukan belahan vaginanya dan jariku menusuk disitu. Kumasukkan jari telunjukku dan kujelajahi lubang kemaluannya yang terasa sangat mungil dan sempit. Punggung Bu Diana terangkat-angkat saat aku mulai mengocoknya maju mundur.
”Aghhhh... Zam! Sshhhh... geli, Zam. Oghhhhh... enak!” rintihnya penuh manja.
Karena menghalangi, kubetot celana dalam Bu Diana yang tipis hingga putus. Lalu kuciumi vaginanya sambil kuusap-usap pahanya yang putih mulus. Saat lidahku mulai menjilat, wanita cantik itu menjerit.
”Kenapa, Bu?” tanyaku kuatir, takut kalau aku sudah menyakitinya.
”Ahh.. tidak apa-apa, Zam. Teruskan saja.” Dia menarik kepalaku kembali ke depan kemaluannya.
Kujulurkaan lidahku dan kembali kunikmati benda sempit itu. Rasanya aneh tapi sangat nikmat. Cairan yang keluar dari dalamnya terasa gurih. Kujilat cairan itu dan kutelan banyak-banyak. Dan bukannya habis, cairan itu malah keluar semakin banyak hingga lubang Bu Diana menjadi sangat lembab dan basah. Bahkan sedikit membanjir.
Meliuk-liuk tubuhnya menerima kelakuanku. Punggungnya beberapa kali terangkat karena menahan nikmat. Sementara dari bibirnya, terus keluar desahan dan rintihan yang semakin menambah panas suasana. Semakin dalam kutusukkan lidahku, semakin dia merintih dan menggelinjang.
“Emmhhpphh... Aahh...!!” kali ini Bu Diana menjerit agak kuat karena kelentitnya kumainkan. Kuhisap-hisap benda mungil itu sambil jariku terus menusuk-nusuk vaginanya.
Terasa ada sesuatu yang menyembur dari dalamnya dan menyiram tangan dan mukaku. Tubuh montok Bu Diana terlihat mengejang dan berkedut-kedut keras seiring moncrotnya cairan itu. Wajahnya yang cantik jadi makin memerah seperti kepiting rebus. Rupanya dia telah mencapai orgasme akibat dari perbuatanku. Padahal ini cuma dengan jari, belum memakai batangku. Bersiaplah, Bu, aku akan membuaatmu capek hari ini! Batinku dalam hati.
“Enak, Bu?” Aku bertanya.
“Emm... Enak sekali, Zam. Kamu memang pintar. Ibu jadi tak tahan. Emmphh...” balasnya sambil merangkul dan mencium bibirku.
“Ermm... Bu, bolehkah saya...” kutunjukkan penisku yang maĆ­z menegang di balik celana dalam. Ujungnya kini sudah nampak keluar.
“Lakukan, Zam.” Bu Diana mengangguk. ”Tapi pelan-pelan, ya. Ibu jarang melakukannya.”
Ehm, pantas saja lubangnya masih sangat sempit seperti itu. Aku jadi bersemangat. Pasti rasanya bakal nikmat sekali merasakan memek sempitnya yang seperti perawan itu.
“Nanti kalau sakit bilang ya, Bu.” bisikku mesra sambil melepas celana dalam.
”Wow... besarnya!” jerit Bu Diana saat melihat penisku meloncat keluar.
Kuberikan benda itu dan kuminta dia untuk mengulumnya sebentar. Bu Diana dengan senang hati melakukannya. Saat sudah basah seluruhnya, kusuruh dia untuk berhenti. Kucium dahi Bu Diana sebagai tanda sayang. Dia hanya tersenyum sambil berbaring di meja dan membuka kakinya lebar-lebar, memperlihatkan lubang kemaluannya yang sudah basah dan menganga lebar, siap untuk kumasuki.
Aku naik ke atas tubuh sintalnya dan menempatkan penisku tepat di depan lubangnya. Kugesek-gesekkan sebentar sebelum kudorong masuk. Terasa sangat sulit. Entah karena punyaku yang terlalu besar atau karena lubang Bu Diana yang terlalu sempit. Usahaku seperti terhalang tembok tebal. Berkali-kali kudorong, berkali-kali pula penisku mental.
”Ah, tidak bisa, Bu!” aku mengeluh.
Bu Diana membuka kakinya makin lebar. ”Coba lagi, Zam.”
Aku mendorong lagi. Lumayan, ujungnya sudah mulai masuk. Itu saja sudah membuat Bu Diana mengernyit tanda kesakitan.
”Mau diteruskan, Bu?” pertanyaan basa-basi, karena tentu saja aku tidak akan mau kalau harus dihentikan sekarang. Sudah terlanjur enak sih..
Bu Diana mengangguk. ”Masukkan terus, Zam. Ibu kuat kok.” bisiknya dengan suara tak yakin.
Aku meneruskan doronganku. Slepp... masuk semakin banyak, hampir separo. Bu Diana mengejan dan menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit. Terasa vaginanya sedikit bergetar dan berkedut-kedut. Aku jadi merasa nikmat. Baru separo aja sudah begini, apalagi kalau masuk seluruhnya? Bisa tahan nggak ya aku nanti? Vagina Bu Diana terasa begitu nikmat. Seperti menyedot dan menghisap-hisap penisku.
Dorongan selanjutnya terasa lebih mudah. Rupanya lubang wanita cantik itu sudah bisa menerima kehadiran penisku. Kini batangku sudah masuk seluruhnya. Aku menahannya sebentar sebelum menariknya maju mundur untuk menggoyang tubuh sintal Bu Diana.
”Ahhhh... Zam.” wanita itu menggeliat menahan nikmat. Vaginanya terasa sangat ketat sekali. Sambil bergerak, kupegangi payudaranya yang berombak saling berbenturan.
“Arrghh.. Mmmmm..” Kutusukkan batangku semakin cepat, juga semakin dalam hingga Bu Diana makin merintih keenakan. Rasa sakit di selangkanganya perlahan hilang, digantikan rasa geli-geli nikmat yang makin menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Sambil terus menggoyang, kuperhatikan kemaluan Bu Diana yang terkempot-kempot keluar masuk mengikuti arah tusukan penisku. Dari benda itu juga terdengar bunyi kecipak akibat benturan pahaku dengan bokongnya. Bu Diana terus mendesah dan merintih, sementara tubuhnya makin meliuk-liuk tak karuan berusaha mengimbangi irama goyanganku. Sesekali dia juga menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kekanan untuk membantu genjotanku hingga penisku bisa menjelajahi seluruh lorong dinding kemaluannya dnegan lancar.
Seiring goyanganku yang semakin cepat, Bu Diana juga mengerang dan menjerit semakin kuat hingga akhirnya... dari dalam lubang kemaluannya, mengalir cairan kental seperti tadi. Dia klimaks kembali untuk yang kedua kalinya. Tubuh sintalnya terkejang-kejang sebentar untuk kemudian ambruk kelelahan di atas meja.
Aku yang merasa juga hampir keluar, segera mencabut penisku. Aku tidak mau keluar di dalam. Aku masih belum siap kalau Bu Diana sampai hamil dan mengandung anakku.
“Terima kasih, Zam. Kamu memang penuh pengertian.” kata Bu Diana sambil mengambil batangku dan mengocoknya.
“Emm.. saya tidak mau ibu hamil.” kataku. Lalu kuminta dia untuk mengulum penis itu.
Mengangguk mengiyakan, Bu Diana segera memasukkan batangku ke dalam mulutnya dan mengulumnya. Aku yang memang sudah tak tahan, langsung moncrot tak lama kemudian. Air maniku menyembur memenuhi mulut Bu Diana. Begitu banyaknya hingga meski sudah berusaha ditelan, beberapa masih menetes keluar. Bu Diana mengambilnya dan dioleskan ke permukaan payudaranya. Putingnya sekarang jadi tampak mengkilap karena air maniku.
Aku yang lelah keenakan, ambruk terduduk di kursi. Sementara Bu Diana terus menjilati penisku hingga benda itu bersih sama sekali dari lelehan sperma. Untuk beberapa saat kami diam membisu hingga Bu Diana mengembalikan penisku dan mengajak untuk memakai pakaian.
”Sudah sore, Zam. Nanti ada yang curiga.” katanya.
Aku mengangguk mengiyakan. Segera kupakai bajuku dan celanaku kembali. ”Emm, Bu, apakah ini yang pertama sekaligus yang terakhir?” aku bertanya.
”Ah, ibu juga tak tahu, Zam.” jawab Bu Diana sambil mengenakan BH-nya. ”Lihat nanti saja.” lanjutnya.
Tapi aku sudah cukup puas dengan jawabannya, itu menyiratkan kalau dia juga masih menginginkan ini berlanjut. “Bu, boleh saya ambil BH dan celana dalam ibu sebagai kenangan?” tanyaku sambil mengelus pelan payudaranya.
Bu Diana tersenyum dan mengangguk. Dia melepas kembali BH-nya dan menyerahkannya kepadaku. ”Kalau celananya jangan sekarang ya, nanti aja di pertemuan selanjutnya.” bisiknya.
Aku bisa mengerti. Dia tidak mau pulang naik bis tanpa memakai celana dalam. Kalau BH kan masih bisa ditutupi pakai tas. Setelah kucium sebentar, segera kumasukkan daleman itu ke dalam tas dan kusimpan dengan baik.
Kami berpisah di halte depan sekolah. Sebelum pergi, sempat kuraba lagi kemaluan Bu Diana yang masih terasa basah. ”Terimakasih, Bu. Kenangan ini tidak akan pernah kulupakan.” kataku.
Bu Diana mengangguk dan tersenyum, ”Sst... sudah, Zam. Nanti dilihat orang.” dia menarik tanganku kembali.

1 komentar: