Jumat, 22 Desember 2017

Misteri Ratu Mantera 6



Sudah setahun lebih mak Jumi menjadi pelayan Fran, namun baru sekarang ia mengalami keheranan yang begitu luar biasa. Setelah membersihkan dapur dan membuang sampah-sampah kecil ke bak di depan rumah, mak Jumi bermaksud meletakkan tempat sampah plastik ke balik pintu garasi. Saat itulah ia kaget dan terheran-heran bukan main melihat mobil tuannya sudah ada di dalam, terparkir dengan agak miring ke kiri.
“Sejak kapan Tuan sudah kembali? Rasa-rasanya dari tadi belum ada suara mobil yang masuk ke mari. Pintu pagar depan juga masih tertutup. Bukankah biasanya kalau Tuan datang, dia akan membunyikan klakson dan aku harus segera membukakan pintu pagar. Tapi, kayaknya dari tadi aku belum mendengar suara klakson. Terus, kenapa sekarang mobil ini sudah ada di dalam garasi?”

Bulu kuduk mak Jumi merinding sendiri. Ia cemas. Apalagi saat itu belum ada motor di garasi, artinya Febbi belum pulang. Praktis ia akan merasa sendirian dan was-was sekali menghadapi keanehan itu. Untuk meyakinkan apakah Tuannya memang sudah pulang atau belum, mak Jumi memeriksa kamar tidur Fran. Ia bermaksud mengetuk pintunya, namun langkahnya terhenti di tengah ruang santai keluarga.
Tiba-tiba pintu kamar Quida terbuka. Gadis cantik itu muncul membawa kertas-kertas bekas pembungkus barang, membuangnya di tempat sampah plastik yang ada di luar kamar tersebut.
“Hmm, ehh... s-sudah pulang ya, mbak?” tegur mak Jumi.
“Sudah,” Quida tersenyum ramah. “O ya, mak. Tolong beberapa makanan ini bawa ke belakang. Sama sekalian buahnya masukkan ke kulkas ya,”
“B-baik, mbak.” mak Jumi patuh, tapi hatinya masih berdebar-debar penuh keheranan. “Mas Fran mana, mbak?”
“Ada di kamarnya.” jawab Quida. “Mungkin kecapekan sekali dia, makanya langsung tidur. Jangan diganggu ya, Mak, biarkan dia istirahat.”
“I-i-iya, mbak. Saya ngerti,” mak Jumi pergi membawa belanjaan yang jumlahnya bejibun, ia taruh di dapur dan ruang makan. Ia sedikit lega mendengar tuannya sudah ada di kamar, tapi masih bertanya-tanya mengenai kendaraan di garasi itu.
Wajar kalau mak Jumi berperasaan aneh seperti itu karena Fran sendiri juga berprasaan sama. Ia terkejut mendapatkan dirinya sudah berada di atas ranjang, seperti baru bangun dari tidur. Padahal ia masih ingat tentang apa yang terjadi dan dialaminya di depan restoran.
Keheranan Fran bertambah besar setelah melihat sekujur tubuhnya bersih tanpa luka sedikit pun. Sehat tanpa rasa sakit di mana pun. Tapi ia masih mengenakan pakaian yang tadi dan sepatu. Keduanya nampak kering dan bersih, padahal mestinya kotor dan basah karena ia tadi terkapar dan berguling-guling di atas genangan air.
“Kurasa ini bukan mimpi,” katanya dalam hati setelah melirik jam dinding, ternyata sudah pukul delapan malam kurang sedikit. Kejadian di depan restoran diperkirakan sekitar pukul enam.
“Jadi, lebih kurang sudah satu jam lebih aku tertidur di sini,” gumam hatinya seraya melepas sepatu. Kemudian ia segera pergi meninggalkan kamarnya karena ingat akan Quida. Fran ingin meyakinkan apakah Quida masih ada di kamarnya, atau hilang dibawa kabur oleh keempat orang berpakaian serba hitam tadi.
Dengan hati-hati sekali ia ketuk pintu kamar itu. “Qui, Quida?!”
“Ya, sebentar,” sahut Quida dari dalam.
Napas Fran dihempaskan panjang, senang dan lega mendengar Quida masih ada. Pintu kamar segera dibuka. Quida tampil dengan senyum indahnya, ia memncoba gaun yang bari dibeli. Dengan gaun ketat berpotongan mini seperti itu, Quida menjadi tampak lebih cantik dan seksi dari hari-hari sebelumnya. Fran terkesima kagum memandanginya.
“Bagaimana, pastaskah gaun ini untukku, Fran?”
“Pantas sekali. Kamu lebih cantik jika mengenakan gaun itu, Qui.”
“Kamu suka?”
Belum sempat Fran menjawab, hapenya di meja tengah berbunyi. Terpaksa jawaban Fran hanya berupa anggukan kepala dengan senyum penuh ceria. Kemudian ia segera menghampiri ponsel tersebut dan menerimanya. Ternyata dari Handre.
“Oh, kamu... ada apa?” Fran menyambut agak kaku.
Sejak peristiwa kemarin, Fran memang menyimpan kedongkolan pada Handre. Ia tahu Handre tak menyukai kehadiran Quida, bahkan sampai nekat mencari bantuan kepada Nyi Danti. Tetapi hal itu sengaja disimpan saja dalam hati, belum diungkapkan dalam bentuk kemarahan apapun. Kebetulan setengah hari di kantor tadi, ia belum bertemu Handre. Fran belum sempat menegur sikap sahabatnya itu yang telah mengecewakannya.
“Fran, kamu baik-baik saja?” tanya Handre.
“Apa maksudmu bertanya begitu, Han?” Fran jadi curiga.
“Aku mencemaskan dirimu, Han.”
“Atas dasar apa kamu mencemaskan diriku, hah?”
“Fran, kamu marah padaku ya?”
“Aku kecewa sama kamu, tahu?!”
“Tentang Quida kah, maksudmu?”
“Ya,”
“Justru itu aku meneleponmu karena ingin membicarakan masalah dirinya. Aku punya informasi sangat penting tentang dia, Fran,”
“Aku nggak butuh info apa-apa dari kamu!”
Telepon ditutup, ditinggalkan dengan geram kemarahan yang segera dipendam kembali dalam hati. Fran bermaksud menghampiri Quida ke dalam kamar, namun ternyata hapenya kembali berdering.
“Fran, dengar dulu kataku!” sentak Handre begitu telepon disambut dengan suara ketus Fran.
“Kamu bukan sahabatku lagi, Han.”
“Oke, boleh saja kamu bilang begitu. Tapi dengarkan dulu apa yang ingin kusampaikan padamu. Ini menyangkut masalah dirimu dan keselamatan Quida juga.”
“Keselamatan Quida?” gumam hati Fran. Akhirnya ia merasa memang harus mendengarkan apa yang ingin disampaikan oleh Handre.
“Sekelompok orang akan mendatangi rumahmu malam ini juga, Fran.” Handre berteriak. “Mereka ingin membunuh Quida! Mungkin sebentar lagi mereka akan datang. Jadi, sebaiknya sekarang juga kau pergi. Tinggalkan rumahmu, bawalah Quida, dan selamatkan dia dari ancaman mereka!”
“Kami baru saja lolos dari ancaman mereka,” terang Fran. “Infomu terlambat, Han.”
“Belum, informasiku belum terlambat. Mereka baru sepuluh menit yang lalu bergerak menuju rumahmu setelah mendapat kabar bahwa empat orang utusan mereka dihancurkan oleh Quida di awal petang tadi.”
Fran tertegun sesaat. “Handre tahu apa yang terjadi di depan restoran.” pikirnya. “Jangan-jangan dia bersekongkol dengan orang-orang aneh tadi.”
“Fran!” suara Handre terdengar lagi, tegang.
“Darimana kau tahu kalau kami tadi diserang oleh empat orang berpakaian serba hitam?”
“Tadi aku berada di rumah Nyi Danti, dan mendengar percakapan mereka. Baru saja aku kabur dari rumah itu dan sekarang sedang menuju ke rumah mang Pa’at,”
“Mang Pa’at?” Fran ingat, mang Pa’at adalah pamannya Handre yang punya peternakan ikan gurami di daerah perbatasan Bogor. Dulu setiap liburan tanggal merah, ia dan Handre pergi ke sana untuk memancing di kolam milik mang Pa’at.
“Kenapa kamu menuju ke sana, Han?”
“Aku takut dikejar mereka. Aku yakin, mereka pasti tahu kalau aku memihakmu, Fran!”
“Siapa mereka itu sebenarnya?”
“Cepatlah pergi!” sentak Handre. “Bawa Quida dan kosongkan rumah. Susul aku di rumah mang Pa’at, nanti akan kujelaskan semuanya tentang mereka.”
“Han! Hallo... Handre?!”
Telepon sudah diputus. Handre tak bisa dihubungi lagi, hapenya sudah tidak diaktifkan. Mungkin Handre sengaja mematikan hape itu supaya Fran tidak banyak tanya dan segera pergi meninggalkan rumah dengan membawa Quida. Sementara itu di dalam hati Fran sendiri terjadi pertentangan batin, antara percaya dan tidak menerima informasi tadi. Maka, ia segera masuk ke kamar Quida untuk menyampaikan kabar tersebut.
Namun, “Qui! Quida?!”
Seruan itu tak dijawab. Kamar nampak kosong tanpa danya Quida. Fran kembali mengalami ketegangan yang cukup menggelisahkan perasaan hatinya. Kemana gerangan gadis itu?
“Aneh... kalau dia pergi, pasti aku melihatnya keluar dari kamar. Jendela pun tertutup rapat dan terkunci. Kenapa dia tak ada di dalam kamar ini?”
Fran masih penasaran, mencari di sekitar kamar tersebut. Memeriksa almari dan kolong ranjang, namun tidak ada Quida di mana-mana. Barang-barang belanjaan yang tadi dibelinya dari mall masih berserakan di ranjang dan meja rias. Pakaian yang tadi dikenakan Quida masih terpuruk di bawah gantungan baju. Quida pergi, pasti masih mengenakan gaun yang tadi baru dicobanya itu. Fran segera memeriksa seluruh rumahnya, ternyata memang Quida tak ada di sana-sini. Mak Jumi membantu memeriksa setiap sudut, tetap tak berhasil.
“Jangan-jangan ia diculik oleh orang-orang yang tadi dikatakan Handre, celaka!” geram Fran semakin mendekati puncak ketegangan.
“Mak, sekarang juga kuperintahkan padamu untuk pergi ke rumah Pak Burman. Bilang padanya, agar menghubungi keamanan setempat karena rumah ini akan didatangi beberapa penjahat! Setelah itu, Mak tetaplah di sana dulu. Jangan kembali ke sini sebelum kususul pulang. Paham, Mak?”
“Ya, ya... saya mengerti, mas Fran.”
“Ingat, jangan pergi ke mana-mana sebelum aku datang menjemput.”
“Ya, ya... tapi, apa benar rumah kita akan kedatangan perampok? Terus, bagaimana keadaan mbak Quida? Kemana dia?”
“Aku akan mencarinya.” tegas Fran. “Ayo, Mak. Cepat pergi ke rumah pak Burman.”
Mak Jumi setengah berlari kecil menuju rumah pak Burman, yang terletak sekitar enam rumah dari kediaman majikannya. Pak Burman adalah ketua RT di lingkungan tersebut, dan cukup akrab dengan Fran. Termasuk teman bermain tenis setiap sebulan dua kali. Sementara itu, Fran segera menghubungi Febbi melalui hapenya.
“Feb, jangan pulang dulu! Kamu pergi ke rumah Salza aja, atau nginap dulu di hotel juga nggak apa-apa.”
“Lho, memangnya ada apa, Kak?”
“Sudah, lakukan saja.”
“Nada suara kakak terdengar tegang. Katakan, kak, ada apa?!”
“Ada sesuatu yang tak baik. Aku akan bereskan dulu masalah ini. Ingat, jangan pulang ke rumah sebelum kusuruh. Kamu ngerti?”
“Aku akan ke rumah tante Maya aja, Kak.”
“Yah, ke situ juga boleh. Tetap aktifkan hapemu, ya!”
“Ya, ya. Tapi sebenarnya ada apa sih, Kak?”
“Nanti kujelaskan.” Fran memutus pembicaraan. Ia segera memadamkan semua lampu dan dengan tergesa-gesa keluar dari rumah. Mobil ia nyalakan dan pintu pagar ia kunci rapat, lalu melaju pergi.
“Quida... di mana dia? Mengapa dia pergi begitu saja tanpa pamit padaku? Lewat mana ia pergi? Mengapa aku tak melihat kepergiannya?”
Gundah sekali hati Fran memikirkan hilangnya Quida. Ia tak tahu harus ke mana mencari, bahkan ke arah mana harus menuju, ia juga tidak tahu. Mencoba menenangkan kegundahan hatinya, Fran berpikir untuk meminta keterangan pada Handre. Tapi karena Handre sengaja mematikan hapenya, maka mau tak mau Fran harus menyusul sahabatnya itu ke rumah mang Pa’at. Ia membutuhkan waktu setengah jam untuk tiba di sana, jika ia dapat tancap gas setelah memasuki jalan tol. Tetapi jika perjalannya terhambat oleh kemacetan, maka tiba di rumah mang Pa’at bisa memakan waktu satu jam lebih.
Beruntung sekali saat itu lalu-lintas di jalan tol cukup lancar. Fran bisa segera tancap gas agar lekas sampai di rumah mang Pa’at.
Tetapi tiba-tiba ia harus mengurangi kecepatan mobilnya karena dilihatnya Katana merah yang biasa dipakai Handre ke kantor, nampak ada di pinggir jalan. Mobil itu berhenti di sana, sendirian.
Penasaran, Fran segera turun dari mobil dan memeriksa Katana merah itu. “Nggak salah lagi, ini memang mobil Handre. Tuh, bener kan!”
Tapi, di dalamnya ternyata tidak ada Handre. “Lho, kemana orangnya? Kenapa Handre nggak ada di sini?”
Fran mencari di sekitar mobil tersebut, namun tak berhasil menemukannya. Ia curiga melihat keadaan pintu mobil sebelah kiri yang terbuka sedikit, pertanda pintu itu habis dipakai keluar seseorang lalu tidak ditutup kembali serapat mungkin. Ia mempunyai dugaan, Handre keluar dari pintu sebelah kiri dan entah pergi ke mana setelah itu.
Fran bergegas meninggalkan Katana merah. Tapi baru saja mobilnya maju sekitar 50 meter, ia melihat sesosok tubuh terkapar di rerumputan, di luar pagar pembatas jalan. Fran buru-buru menghentikan mobilnya dan memeriksa orang yang terkapar itu.
“Astaga! Han...?!”
“Ugghrr...” Handre mengerang dengan suara berat dan pelan.
Fran segera menolongnya dengan keadaan tegang. Dilihatnya keadaan Handre cukup mengkhawatirkan. Wajahnya memar, seperti habis dihajar massa. Pakaiannya robek, ada bekas bilur-bilur merah seperti habis dicambuk berkali-kali. Menyedihkan sekali.
“B-bawa... a-aku pergi... cepat!”
“Apa yang terjadi, Han?”
“Cepat, bawa aku pergi dulu. Nanti... kujelaskan di jalan!”
Tak ada pilihan yang lebih baik selain mengikuti saran Handre. Fran menghubungi kantor polisi menggunakan hapenya, melaporkan kejadian itu. Juga, mengenai mobil Katana merah yang masih dibiarkan berada di pinggir jalan tol. Ia segera membawa Handre ke rumah sakit terdekat. Di perjalanan, Handre berusaha menjelaskan apa yang terjadi dengan suara berat, pertanda sambil menahan rasa sakit yang menyiksa sekujur tubuhnya.
“Pelarianku dari rumah Nyi Danti agaknya gagal, mereka mengetahuinya. Dua orang dari mereka mengejarku. Aku tertangkap di situ tadi. Mereka segera menghajar habis-habisan, sepertinya berusaha ingin membunuhku.”
“Lalu, bagaimana kau bisa ditinggalkan begitu saja oleh mereka, sementara mereka pasti tahu bahwa kau masih hidup?”
“Quida menyelamatkan nyawaku.”
“Quida?” sentak suara Fran. “Quida hilang dari kamarnya begitu kau selesai meneleponku tadi.”
“Dia datang ke sini, Fran. Aku melihatnya muncul secara tiba-tiba dan membuat kedua orang berkacamata itu hilang lenyap seperti ditelan bumi. Aku juga melihat dengan mata kepalaku sendiri, Fran. Quida seperti membaca sebaris mantera yang membuat mobil mereka pun ikut lenyap tanpa bekas apa pun.”
“Dengan mantera, dia melenyapkan mereka?” gumam Fran sambil mengenang kejadian di depan restoran. “Lalu, ke mana dia sekarang?”
“Entahlah. Aku tak melihatnya lagi. Kusangka dia menuju ke mobilku, tapi... sampai kau muncul, dia belum datang kembali.”
“Tak kulihat ia sepanjang perjalananku tadi.”
“Fran, ia bukan gadis sembarangan, seperti kataku dulu. Dia adalah penyihir kuno!”
“Bicaramu jangan ngaco, Han!” gertak Fran sangat penasaran.
“Nyi Danti hampir mati ketika mencoba memasuki alam pribadi Quida. Peristiwa itu telah membuat beberapa rekannya datang dan menyelamatkannya. Tapi sejak itu mereka jadi mengetahui jati diri Quida dan sangat bernafsu untuk menghabisi nyawanya!”
“Karena dendam?”
“Bukan dendam semata yang ada,”
“Lalu?”
“Nyi Danti ternyata anggota sebuah sekte. Dia termasuk anggota senior yang memiliki kekuatan supranatural dari kesetiaannya sebagai anggota sekte tersebut.”
“Sekte apa?” tanya Fran.
“Aku nggak tahu.” Handre menggeleng. “Yang jelas, dia ingin membawaku ke dalamnya, bergabung dengan sekte tersebut. Aku menerimanya dalam keraguan. Dari situlah aku mengetahui bahwa energi gaib yang dimiliki Quida merupakan energi yang diburu oleh mereka. Mereka mengatakan bahwa Quida adalah gadis yang memiliki energi berbahaya, bakal mencelakakan semua umat manusia di bumi ini.”
“Benarkah begitu?”
“Imam Agung yang menjadi ketua atau guru besar sekte itu mengenali betul jenis energi gaib yang dimiliki Quida. Menurutnya, Quida adalah titisan penyihir kuat di zaman Mesir kuno. Kalau nggak salah ia punya nama lengkap... Azzera Quida. Yang kalau diterjemahkan berarti Ratu Mantera Gaib.
“Ratu Mantera?” gumam Fran sambil mencoba mengingat-ingat tentang beberapa ucapan Quida yang tidak dimengerti maksudnya.
Rupanya kata-kata itu adalah mantera-mantera sakti dari zaman Mesir kuno. Pantas waktu di restoran ia memesan ‘Flifion’, yang secara kelakar dijawab oleh Quida sebagai hidangan ala Mesir kuno. Rupanya saat itu Quida keceplosan menggunakan istilah Mesir kuno, dan mantera yang diucapkannya di restoran juga telah mengungkapkan masakan yang disajikan terlihat kepalsuannya.
Tapi, apakah keterangan Handre dapat dipercaya sepenuhnya?

***

Febbi mematikan mesin sepeda motornya, dia menuntun kendaraan itu memasuki halaman rumah tante Maya. Mengetuk pintu sesaat, terlihat tante Maya beranjak keluar dari kamar. Pakaiannya kedodoran, memperlihatkan dengan jelas bentuk tubuhnya yang masih nampak sempurna.
“Lho, Feb? Tumben datang malam-malam?” tanya perempuan cantik berusia tiga puluh tahun itu.
Iya nih, Tante. Habis dari rumah teman, trus kemalaman. Daripada pulang kupikir lebih baik kalau menginap di sini saja.” Febbi menjawab.
“Memang mesti begitu, daripada ada apa-apa jalan,” Tante Maya mengajak Febbi masuk.
“Siapa, Mah?” tanya seorang lelaki. Dia adalah Oom Shandi, suami tante Maya. Lelaki itu tersenyum saat melihat kemunculan Febbi. “Oh, kamu rupanya, Feb.”
Febbi menyalaminya. “Maaf kalau kedatanganku mengganggu Oom dan Tante,” Febbi tersenyum penuh arti, menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Oom dan Tantenya saat dia datang tadi.
“Ah, nggak apa-apa. Masih bisa dilanjut nanti kok,” tante Maya menyahut.
“Biasa tantemu ini, minta rapelan sebelum kutinggal selama tiga hari.“ canda Oom Shandi.
Memangnya aku yang minta?” Tante Maya membela diri.
“Kuakui aku yang minta, tapi Mama kan yang minta tambah dan tambah lagi.” kata Oom Shandi tersenyum.
“Sudah ah, bikin iri aja.” Febbi menyela. “Tante, aku pinjam baju ya. Tadi nggak sempat bawa.”
Tante Maya mengangguk. Kamu sudah makan?tanyanya.
“Tadi sudah sama temanku.
“Kamu mandi aja dulu, kusiapkan bajunya.”
“Iya. Panas banget hari ini, Febbi beranjak pergi ke dalam.
Dia langsung mandi dan sengaja keluar hanya memakai handuk yang tidak mampu menutupi seluruh tubuh sintalnya, payudaranya hanya terbungkus setengah dan pahanya terekspos dengan begitu jelas. Handuk itu sangat kecil, hanya mampu menutup di bawah pantat saja. Terlihat Oom Shandi kaget tapi tetap memperhatikan tubuh keponakannya yang bahenol itu. Menyadari itu, Febbi merasa risih sekaligus juga bangga.
“Mana bajunya, Tante?Febbi bertanya.
Tuh di kamar.”
Selama itu, oom Shandi masih terus menatap. Terlihat penisnya mulai bereaksi. Febbi jadi kepikiran untuk mengerjainya. Tanpa menutup pintu kamar, ia menunduk untuk mengambil baju tidur yang sudah disediakan oleh sang tante. Sengaja ia berlama-lama dan sedikit mengangkangkan kaki. Oom Shandi tidak berkedip melihat bongkahan pantat keponakannya yang cantik itu.
Ternyata tante Maya memberi Febbi sebuah daster tali berwarna putih. Ketika membalikkan badan mau menutup pintu, terlihat Oom Shandi kaget dan berusaha menutupi perbuatan mesumnya dengan melihat ke arah TV. Febbi hanya cekikikan saja melihatnya.
“Nggak sekalian pinjam baju dalam, Feb?tanya tante Maya, tidak terlihat curiga sedikit pun.
Enggak usah, Tante. Terima kasih. Mending nggak pakai aja, nggak enak kalau kekecilan,”
“Ya sudah,” Tante Maya berlalu.
Di dalam kamar, Febbi langsung telanjang. Dia memakai daster sambil bercermin, terlihat separuh payudaranya yang sangat montok seperti mau meloncat keluar. Febbi mengakui memang posturnya lebih kurus dari tante Maya, tapi soal dada, dia lebih besar sedikit, dan pantatnya juga lebih menungging.
 Karena kepayahan, Febbi langsung pamit tidur di kamar tamu yang menghadap ke ruang tengah. Tante Maya masih melihat TV bersama sang suami. Namun Febbi tidak bisa tidur pulas karena memikirkan kata-kata Fran. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tengah malam dia terbangun karena merasa haus dan ingin minum. Tapi baru membuka pintu sedikit, dia sangat kaget melihat pergumulan yang terjadi di ruang tengah antara Tante Maya dan Oom Shandi. Febbi langsung menutup pintu sebelum mereka memergokinya. Rasa hausnya langsung hilang, berganti jadi perasaan tidak menentu. Febbi berusaha untuk kembali tidur, tetapi tidak bisa, telinganya samar-samar menangkap suara desahan Tante Maya dan Oom Shandi yang berbarengan. Rupanya mereka sudah klimaks.
Karena penasaran, akhirnya Febbi mengintip lewat lubang kunci. Dengan mudah ia bisa melihat ke ruang tengah karena lampunya masih dinyalakan. Terlihat Tante Maya dan Oom Shandi terkapar di sofa depan TV, menikmati sisa-sisa orgasme bersama. Tante Maya mengangkang, dari memeknya mengalir lelehan sperma yang belum dibersihkan. Di sebelahnya terlihat tubuh hitam tapi kekar milik Oom Shandi, dengan penis sudah terkulai lemas.
Febbi jadi terangsang melihatnya. Sudah lemas saja masih panjang seperti itu, apalagi kalau kaku. Ia coba membandingkan dengan milik pacarnya yang berukuran lebih kecil. Ahh, dia bergidik... jadi penasaran ingin merasakan sodokan penis yang super besar itu.
Sambil mengatur nafas, terlihat tangan Oom Shandi memainkan payudara Tante Maya yang lumayan besar. Tante Maya nampak menikmatinya, dengan senyum ia mengangguk, dan langsung menjilati penis Oom Shandi. Dalam waktu singkat, penis yang meringkuk itu sudah kembali berdiri tegak. Febbi jadi tambah bergairah, ia cuma bisa menelan ludah dan membayangkan merasakan penis Oom Shandi mengaduk-aduk liang memeknya yang tiba-tiba terasa gatal.
Entah kapan Febbi tanpa sadar ikut telanjang dan tangannya memainkan payudaranya yang lebih besar dari punya Tante Maya, bersamaan dengan itu tangan satunya memainkan liang vagina. Sementara di sofa, penis Oom Shandi kembali amblas di memek Tante Maya dan mengoyangnya dengan binal seperti kesetanan. Oom Shandi melakukannya sambil memainkan payudara Tante Maya.
Tak puas dengan satu posisi, Oom Shandi membalik tubuh Tante Maya dan kembali menindihnya. Hentak dan tusuk silih berganti, sampai akhirnya terlihat tubuh mereka mengejang secara berbarengan. Oom Shandi menumpahkan lagi cairan kenikmatannya, kali ini di mulut Tante Maya. Perempuan itu menelan semuanya, tak membiarkan setetes pun ada yang tertumpah keluar. Beberapa saat penis Oom Shandi masih ditelan oleh Tante Maya.
Bersamaan, Febbi pun ikut klimaks. Cairan kewanitaannya menetes deras ke lantai. Sungguh kasihan, hanya lewat tangan saja ia dapat memuaskan diri.
Tante Maya yang kecapekan beranjak pergi ke kamar, sedangkan Oom Shandi terkapar di sofa depan TV dengan masih telanjang. Febbi menimbang-nimbang, haruskah ia kembali tidur? Atau malah beranjak keluar untuk menghampiri Oom-nya?
Dia kembali ke kasur, mencoba untuk tidur. Tapi pikirannya masih belum tenang, malah yang ada dia sekali lagi melakukan masturbasi sambil membayangkan disetubuhi oleh Oom Shandi. Merasa bingung karena nafsu tak kesampaian, Febbi akhirnya beranjak keluar dari kamar. Dia memutuskan untuk berlaku nekat.
Oom Shandi sempat kaget melihat daster putih yang dipakai Febbi. Puting keponakannya yang kemerahan terlihat tercetak jelas di depan dada, juga samar-samar rambut hitam di bawah selangkangan Febbi yang lumayan lebat. Oom Shandi hanya tersenyum, tapi penisnya sudah berontak keras, dia hanya menutupi sekedarnya dengan lipatan celana. Menyadari itu, Febbi melemparkan senyum manisnya.
“Sendirian, Oom? Tante mana?” tanyanya basa-basi. Dadanya agak sedikit dibusungkan, sengaja supaya payudaranya yang besar terlihat oleh Oom Shandi.
Kamu nggak sesak pakai baju kayak gitu?” tanya Oom Shandi memancing.
“Ini dasternya kekecilan,” sahut Febbi sambil menggoyang payudaranya.
Dadamu mungkin yang kegedean,“ balas Oom Shandi semakin berani. “Tuh kasihan mau tumpah.”
“Ihh, Oom ngomong apa sih?” Febbi pura-pura malu.
“Kamu nggak takut kalau aku perkosa?” kata Oom Shandi. “Kamu cantik dan montok banget, Feb.” rayunya yang mulai tidak tahan.
"Oom, aku mau minta tolong," tanya Febbi penuh nafsu.
"Ada apa, Feb?" tanya Oom Shandi.
"Oom, aku pengin seperti Tante Maya." kata Febbi lirih.
"Pengin? Pengin apaan?" tanya Oom Shandi, mulai tersenyum mesum.
Febbi tidak menjawab, tetapi malah melangkahkan kakinya yang mulus hingga berdiri persis di depan Oom Shandi. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuan laki-laki itu.
"Feb, apa-apaan kamu ini?! Aku ini Oom kamu lho." kata Oom Shandi pura-pura kaget.
Tanpa menunggu selesai bicara, Febbi sudah menyambarkan bibirnya ke bibir laki-laki itu dan menghisapnya kuat-kuat. Kulumannya penuh nafsu, dan napas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulut Oom Shandi. Febbi mencari lidah Oom Shandi dan menyedotnya kuat-kuat. Oom Shandi yang tidak tahan langsung mengimbangi karena nafsunya juga sudah di atas ubun-ubun, tidak perduli kalau Febbi adalah keponakannya sendiri.
"Feb, kuakui... aku pun ingin tubuhmu," kata Oom Shandi berusaha berdiri.
"Jadikan aku seperti Tante Maya, Oom. Ayo perkosa aku!" kata Febbi, tidak lagi malu.
Dia memeluk Oom Shandi kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dada laki-laki itu. Terasa pula penis Oom Shandi yang telah mengeras berbenturan dengan bagian bawah pusarnya yang lembut. Febbi merapatkan perutnya ke arah kemaluan Oom-nya yang masih terlapis celana. Dia kembali menyambar leher Oom Shandi dengan kuluman bibirnya.
Oom Shandi semula ragu menyambut keliaran Febbi. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya, menjadi mubazir belaka melepas kesempatan ini. "Kamu amat bergairah, Feb." bisiknya lirih di telinga Febbi.
"Hmm... iya, Oom. Aku kurang puas dengan pacarku." balas Febbi lirih sembari mendesah. "Penisnya kecil, nggak seperti kepunyaan Oom... Ughh!!" serunya tertahan menelan ludah.
“Kok kamu bisa tahu?”
"Aku tadi nggak sengaja ngintip. Oom kuat sekali meniduri Tante." kata Febbi sembari tangannya mulai menjelajah dan mengelus batang kemaluan Oom Shandi. “Aku jadi pingin, Oom. Aku nggak pernah seperti itu. Pacarku nggak pernah bikin aku puas.”
Oom Shandi terdiam sejenak, lalu kemudian tersenyum. “Ok, kalau itu maumu. Jangan salahkan aku kalau nanti kamu ketagihan!” katanya mengingatkan.
Justru itu yang aku cari, Oom. Aku pengin kepuasan!balas Febbi lugas, bibirnya menyapu permukaan kulit Oom Shandi mulai dari leher, dada dan tengkuk.
Perlahan Oom Shandi menyingkap daster yang dikenakan Febbi, dia menarik perlahan ke atas. Serta merta tangan Febbi terangkat tanda meminta daster langsung dibuka saja. Kain tipis itu dilempar Oom Shandi entah kemana. Kedua jemari Oom Shandi langsung memeluk Febbi kuat-kuat hingga badan gadis itu lekat ke tubuhnya. Kedua bukit payudara Febbi menempel ketat, terasa hangat dan lembut di tubuh Oom Shandi.
Tanpa membuang waktu, Oom Shandi segera melorot perlahan ke arah dada sekal membusung itu dan mulai menjilatinya dengan penuh gairah. Permukaan dan tepian puting Febbi terasa lebih besar dibanding milik istrinya.
Tangan Febbi mengusap-usap rambut Oom Shandi dan menggiring kepala laki-laki itu agar mulut Oom Shandi segera menyedot putingnya. "Hisap kuat-kuat, Oom! Telan semuanya!" bisik Febbi.
Oom Shandi memenuhi permintaan itu. Ia hisap puting Febbi penuh nafsu. Dijilatnya keras, diempotnya kuat-kuat kiri dan kanan, membuat Febbi tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai merasakan serangan brutal itu.
"Oom, lepas... remas payudaraku! Ughh... sodok kemaluanku!" kata Febbi  sambil telentang di lantai. Dia melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu.
Segera Oom Shandi menyusul, tiduran di lantai. Dia mendekap tubuh Febbi dari arah samping sembari menggosokkan telapak tangannya ke arah puting keponakannya itu. Febbi melenguh sedikit sambil agak memiringkan tubuhnya ke arah badan Oom Shandi. Sengaja ia arahkan putingnya ke mulut laki-laki itu.
"Oom... sedot! Teruskan! Enak sekali, Oom... ough! Enak..." pinta Febbi penuh nafsu.
Oom Shandi memenuhi permintaan itu sembari tangannya memijat-pijat pantat Febbi. Tangan Oom Shandi mulai nakal mencari selangkangan Febbi. Terasa bulu jembut Febbi tidak terlalu tebal namun tembemnya minta ampun. Oom Shandi memainkan jemarinya di sana, membuat Febbi tampak sedikit tersentak dibuatnya.
"Ukh... mhm... hss... terus, Oom... terus!" lenguhnya tak jelas.
Sementara sedotan Oom Shandi di puting Febbi semakin gencar saja. Terasa jemari tengah Oom Shandi telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vagina Febbi. Oom Shandi meraba-raba lembut berirama. Lidahnya terus memainkan puting Febbi sembari sesekali menyedot dan menghembusnya lembut. Jemari Oom Shandi memilin klitoris Febbi dengan teknik petik melodi.
Febbi menggelinjang keenakan, ia melenguh-lenguh penuh kenikmatan. "Oom... oughhh... ampun! Uhhh... terus, Oom... terus! Uhh..." Sebentar kemudian Febbi lemas, kelihatan sudah klimaks. Terasa tangan Oom Shandi basah oleh cairan gadis cantik itu.
Namun itu tidak berlangsung lama karena Febbi dengan cepat bernafsu kembali dan berbalik mengambil inisiatif serangan. Tangannya mencari-cari kejantanan Oom Shandi. Laki-laki itu segera mendekatkannya agar Febbi gampang dalam menjangkau. Dengan serta merta melesatlah pusaka kesayangannya, memukul ke arah wajah Febbi kuat-kuat.
"Uh... Oom, apa ini?" seru Febbi kaget. Tanpa menunggu jawaban, tangannya langsung meraih benda panjang itu. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penis Oom Shandi penuh nafsu.
"Oom, ini asli?" tanya Febbi, kagum.
"Asli, 100 persen," jawab Oom Shandi.
Febbi geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penis itu. "Oom, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini." katanya.
"Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya." sambung Oom Shandi.
"Alangkah bahagianya Tante Maya, Oom." kata Febbi.
"Makanya kamu pengin seperti dia, kan?" sahut Oom Shandi.
Febbi langsung melumat penis itu seperti anak kecil yang dapat mainan baru. Oom Shandi memperhatikan sang keponakan yang sedang mengoral penisnya, terlihat kasar, mungkin belum terbiasa. Sesekali Febbi melihat muka Oom Shandi sambil tersenyum. Oom Shandi memegang rambut Febbi sambil sesekali meremas payudaranya yang bulat besar. Setelah beberapa saat, dia menarik tubuh Febbi.
“Sebentar, Feb, gantian aku jilati memekmu.” kata Oom Shandi sambil menyuruh Febbi bersandar di kursi. “Hmm, memekmu tembem banget, Feb. Sudah pernah dijilati belum?” katanya memancing nafsu Febbi.
“Tembem mana sama punya Tante Maya, Oom?” kata Febbi sambil menyorongkan selangkangannya.
Tembem ini. Enak ini,” kata Oom Shandi sambil mulai memainkan memek Febbi. Ia mulai dengan menjilati paha, terus ke sekitar memek.
”Ughhh...” Febbi sudah mulai mendesah keenakan.
Melihat itu, Oom Shandi langsung menjilat klitoris dan belahan memek Febbi. Febbi hanya bisa menahan nafas saat lorong vaginanya disedot-sedot. Dia yang tidak kuat segera menjambak rambut Oom Shandi dan mengejang keras.
Oom, aku keluar!” kata Febbi ketika terasa air kenikmatannya membasahi bibir Oom Shandi.
Laki-laki itu tersenyum, membiarkan Febbi menikmati orgasmenya dengan rasa penuh kemenangan. Setelah Febbi mengatur nafas, barulah dia berbicara, ”Gimana, Ri, enak?” tanyanya.
Oom hebat banget! Maaf aku kelepasan... Oom nggak jijik?” tanya Febbi.
“Tidak ada yang jorok kalau lagi bercinta. Gimana, mau lagi?” tantang Oom Shandi.
“Aku malu, Oom, sudah dua kali keluar. Tapi aku harus bisa mengimbangi Oom.” kata Febbi. Dia memang cepat nafsu lagi, ia langsung menarik penis Oom Shandi. "Oom, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan!"
Febbi menelentangkan tubuh, pahanya direntangkan lebar-lebar. Terlihat betapa mulus dan bersih kaki jenjang itu. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang memeknya yang tembem, lebih tembem dari punya Tante Maya, dan juga sedikit lebih merah. Oom Shandi telah berada di antara pahanya. Penis Oom Shandi telah siap diluncurkan. Febbi memandanginya penuh harap.
"Cepat, Oom, cepat!" pinta Febbi.
"Sabar, Feb. Kamu harus benar-benar terangsang dulu." kata Oom Shandi.
Namun tampaknya Febbi sudah tidak sabar. Belum pernah Oom Shandi melihat perempuan sekasar Febbi. "Cepat, Oom!" ajak Febbi lagi.
Oom Shandi pun memenuhi permintaan itu, ia tempelkan ujung penisnya di permukaan lubang memek Febbi. Ia tekan perlahan, tapi sungguh amat sulit masuk. Oom Shandi kembali mengangkatnya, namun Febbi justru mendorong pantat Oom Shandi dengan kedua belah tangan. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penis Oom Shandi bagai terjepit. Namun Febbi tampaknya ingin main kasar. Meski belum terangsang benar, ia masukkan penis Oom Shandi sekuat dan sekencang mungkin. Perlahan, penis itu dapat memasuki rongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Namun Febbi tidak gentar, malah menyongsongnya dengan penuh gairah.
"Jangan paksakan, Sayang." bisik Oom Shandi.
"Terus. Paksa. Siksa aku, Oom. Siksa aku dengan kontolmu! Tusuk aku. Keras. Keras. Jangan takut, Oom, terus..." pinta Febbi.
Dan Oom Shandi tak bisa menghindar, ia lesakkan penisnya keras-keras hingga separuh penisnya meluncur masuk.
Febbi menjerit, "Aouwww... sedikit lagi, Oom!"
Dan Oom Shandi menekannya kuat-kuat.
Febbi langsung diam. Napasnya terengah-engah. Matanya terpejam. Oom Shandi menahan penisnya tetap menancap, tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangan, dicarinya ujung puting Febbi dengan mulutnya. Meski agak membungkuk, Oom Shandi dapat mencapainya. Dia segera mengulum dan menyedotnya penuh nafsu. Febbi jadi sedikit berkurang ketegangannya.
Feb, punya kamu peret.” puji Oom Shandi.
“Penis Oom aja yang kegedean, punyaku jadi penuh ini.“ kata Febbi. Beberapa saat kemudian, ia meminta Oom Shandi memulai aktivitasnya.
Oom Shandi segera menggerakkan penisnya yang hanya separuh jalan, turun naik di memek sempit Febbi. Dan Febbi mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu dipertahankan cukup lama. Makin lama tusukan Oom Shandi semakin dalam. Febbi pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk penis Oom Shandi di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Febbi mulai bangkit gairahnya, tanpa sungkan ia menggelinjang dan melenguh. Kocokan Oom Shandi terasa semakin cepat, kelihatannya laki-laki itu sudah mau keluar.
"Uuuhh... Oom... uhh... enaakk... enaakk! Terus... aduh... ya ampun, enaknya!" rintih Febbi.
“Tahan, Feb! Oom sudah mau keluar! Di dalam apa di luar?” tanya Oom Shandi.
“Kita barengan, Oom. Di dalem aja nggak apa-apa.” kata Febbi.
Gerakan Oom Shandi semakin cepat dan Febbi mengimbanginya dengan baik. Akhirnya keluarlah sperma Oom Shandi bersamaan dengan cairan Febbi. Mereka membiarkannya di dalam dulu. Setelah beberapa saat, setelah penis Oom Shandi mulai mengendor, barulah mereka memisahkan alat kelamin masing-masing. Oom Shandi langsung berbaring di samping tubuh Febbi yang lunglai lemas.
"Feb, kamu nggak apa-apa?" tanya Oom Shandi sambil tangannya meraba-raba payudara.
"Lemes, Oom. Oom amat perkasa." kata Febbi terengah.
"Kamu juga liar." sahut Oom Shandi.
“Makasih ya, Oom. Kekhawatiran Oom mungkin jadi kenyataan, aku akan ketagihan.” kata Febbi.
“Aku juga akan ketagihan payudara dan memekmu, Feb, terasa beda dengan punya Tantemu.” kata Oom Shandi.
“Tapi aku kan lebih kurus, Oom, sementara Tante Maya semok dan bahenol.” kata Febbi.
Ah, siapa bilang? Payudaramu lebih montok kok, dan memekmu juga lebih tembem.” puji Oom Shandi.
“Ini akan jadi rahasia kita, Oom.” kata Febbi.
Mereka beristirahat sebentar dan kembali bercinta dengan berbagai gaya dan variasi. Febbi bisa mengimbangi Oom Shandi dengan baik. Malam itu mereka melakukannya sampai tengah malam dan akhirnya terkapar tidur di situ sampai pagi. Febbi tidak pernah tahu kalau selama dia mereguk kenikmatan, Fran tengah pergi menantang bahaya bersama Handre.

***

“Menurut kepercayaan sekte itu, apabila kemunculan Ratu Mantera Gaib tidak segera dibantai habis, maka kehidupan di muka bumi tidak dapat diselamatkan. Quida adalah jelmaan Azzera, yang pada masanya dulu belum sempat mati, melainkan musnah ke dalam gumpalan kabut dan angin.”
“Dan, berubah menjadi bintang!” ujar sebuah suara menimpali kata-kata Handre.
Fran langsung kaget, segera menatap ke belakang. Ternyata di jok belakang sudah ada Quida yang duduk santai, tenang sekali. Fran sempat grogi dalam mengemudikan mobilnya. Mobil itu oleng ke kiri, hampir menabrak pagar pembatas tol. Untung rem buru-buru diinjak dengan kuat.
“Qui?”
Handre yang duduk di samping Fran memaksakan diri untuk bangkit dan menjauh dari jangkauan Quida., padahal gadis itu tidak bermaksud buruk. Kedua pemuda itu berwajah tegang, semobil dengan penyihir sakti berusia ribuan tahun yang bisa mengubah mereka menjadi debu hanya dengan satu kata. Sementara wajah Quida menatap mereka cenderung sedih.
“Kalian tak perlu takut padaku. Aku memang Azzera Quida, penguasa segala macam mantera. Penyihir sakti di masa lalu. Tetapi tugasku adalah menyelamatkan seluruh umat manusia, bukan malah memusnahkan mereka. Aku harus menyelamatkan kalian dari ancaman keganasan Labrosha.”
“Siapa itu Labrosha?” tanya Fran.
“Dia Iblis Penguasa Kehancuran.” jawab Quida dengan suara menggeram, seperti memendam dendam lama. Gadis itu mempertegak duduknya, kemudian tangan kanannya berkelebat seperti memercikkan air ke arah Handre sambil mulutnya mengucapkan kata-kata yang tak dimengerti. Sebuah mantera.
“Haskhana pueze, hashkhana masyga...”
Tubuh Handre tiba-tiba diliputi percikan cahaya seperti aliran listrik, warna cahaya itu hijau bening. Cahaya itu berlompatan, berlarian dengan cepat, menyentuh setiap jengkal tubuh Handre. Namun dalam sekejap sudah padam. Dan, Handre terperangah kaget mengetahui pakaiannya yang koyak telah kembali utuh seperti semula, bahkan rapi seperti habis disetrika. Bagian tubuhnya yang terluka juga telah hilang. Bilur-bilur di lengan dan dadanya kini tiada. Rasa sakit yang dideritanya sejak tadi pun ikut sirna.
Fran memandang dengan tertegun. Ia melihat wajah Handre yang tadi bonyok, sekarang sudah utuh seperti sedia kala. Seperti tidak pernah mengalami luka babak belur sedikit pun.
“Kau telah sehat, Han.” kata Quida. “Itulah salah satu mantera yang kumiliki. Gunanya memang untuk menolong orang yang menderita seperti dirimu.” kata Quida dengan nada sangat wibawa.
“Te-terima... terima kasih, Quida.”
“Sekarang aku harus pergi, bikin perhitungan baru dengan Labrosha.”
“Jangan, Qui.” cegah Fran. “Lebih baik tinggalkan saja mereka.”
Quida menggeleng. “Selama Labrosha masih hidup dengan wujud apapun, maka kedamaian di bumi tidak akan ada. Iblis itu berusaha menghancurkan kehidupan manusia dengan menjadikan mereka sebagai abdi. Ia punya banyak cara. Ia punya kekuatan gaib yang berbahaya. Hanya aku yang dapat menghancurkannya, seperti masa 5000 tahun yang lalu.”
“Tapi...” Fran masih nampak berat. “Tapi, bagaimana kalau ternyata dia berhasil mengalahkan dirimu, Qui?”
“Dia hancur, atau kami berdua hancur bersama seperti dulu lagi. Cuma itu pilihan yang ada, Fran.” 
“Aku tahu di mana mereka berada, Qui.” Kata Handre. “Kemarin siang aku sempat mengantarkan Nyi Danti ke sebuah tempat yang menjadi pusat kegiatan sekte tersebut. Tapi aku takut masuk ke dalamnya, hanya menunggu di luar bangunan yang menyerupai gereja tanpa salib itu.”
“Gereja?” sahut Fran.
“Bukan,” Handre menggeleng. “Hanya bentuknya seperti gereja, tapi bangunan itu bukan gereja. Di sana hanya tempat pemujaan atau sejenisnya, dan rata-rata mereka yang datang ke situ mengenakan kacamata hitam.”
“Itu bagi yang telah dinobatkan sebagai pelayan setia Labrosha.” ujar Quida. “Mereka menggunakan kacamata hitam untuk menyembunyikan ciri-ciri khusus.”
“Apakah itu?” tanya Fran.
“Siapa pun yang telah dinobatkan menjadi pelayan setia Labrosha, maka seluruh hidupnya sudah menjadi milik Iblis itu. Mereka sudah bukan manusia lagi, oleh karenanya kedua bola mata mereka akan berwarna kuning seperti lahar membara. Tapi ketajamannya sangat luar biasa, bisa menembus dinding baja setebal apa pun.”
Mereka diam sesaat, lalu Quida berkata lebih lembut kepada Fran. “Tolong, bantu aku melenyapkan aliran sesat itu. Percayalah, aku dapat menjaga diri untuk menghindar dari keganasan Labrosha. Selama lima ribu tahun aku terkurung menjadi gugusan bintang di langit, aku telah menemukan kekuatan lain yang dapat melebur kekuatan Labrosha selamanya. Dan sesuai ketentuan yang berlaku di masa lalu, setelah melenyapkan dia, aku akan kehilangan seluruh kesaktian manteraku. Jadi, kau tak perlu khawatir, Fran. Antarkan aku ke pusat kegiatan sekte itu, dan aku akan menghancurkan Labrosaha dengan kekuatanku yang baru.”
Keterangan tersebut memang sesuatu yang sangat fantastik, dan sulit diterima oleh akal sehat. Tapi kali ini Fran harus mempercayai adanya kekuatan gaib di sekitarnya. Kekuatan gaib itulah yang tadi dilihat dengan mata kepala sendiri telah menyembuhkan luka-luka di sekujur tubuh Handre. Rasa-rasanya sangat tidak bijaksana dan terlalu naif dirinya kalau tidak bersedia membantu Quida dalam misi tersebut. Maka, dengan semangat dan keberanian yang tumbuh kembali, Fran dan Handre segera meluncur ke pusat kegiatan sekte sesat itu.
Blazer hitam bergerak menuju ke pusat kota. Menurut Handre, bangunan yang menjadi pusat kegiatan sekte Nyi Danti terletak di kawasan pantai. Untuk menuju ke sana mereka harus melintasi pusat kota. Tetapi ketika mereka baru saja berhasil memutar arah dan memasuki jalur tol kembali, sesuatu telah terjadi di hadapan mereka. Membuat Fran dan Handre menjadi tegang, juga diliputi kecemasan yang mendebarkan.
Lampu-lampu jalanan padam mendadak. Anehnya lagi, semua lampu mobil pun ikut padam. Bukan hanya lampu mobil Fran saja, tapi mobil lain juga padam. Rumah atau bangunan yang letaknya tak jauh dari jalan tol ikut kehilangan cahaya. Sepertinya hampir seluruh kawasan Jabodetabek kehilangan cahaya malam. Gelap gulita yang terjadi cukup membuat masyarakat menjadi panik. Derit roda dan jeritan rem mobil terdengar saling bersahutan.
“Quida, ada apa ini?” pekik Fran.
“Labrosha sudah ada di sekitar sini. Kegelapan adalah ciri-cirinya!” kata Quida sambil buru-buru membuka kaca samping, kemudian dengan suara nyaring ia berteriak, “Hyanasse fratanabuuu...”
Byaaaar! Semua lampu menyala kembali, baik lampu jalanan maupun lampu mobil. Semua menerangi malam seperti biasanya. Mantera sakti yang diucapkan Quida terbukti mampu mengungguli kekuatan gaib Iblis Labrosha.
Tetapi rupanya gangguan tidak berhenti sampai di situ saja. Mesin mobil Fran tiba-tiba mati secara mendadak saat mereka sudah kembali melaju. Fran buru-buru membawa Blazer hitamnya ke tepi jalan dan berhenti di situ. Keadaan sangat sepi. Fran mencoba menstarter berkali-kali tapi mobil tetap tidak mau hidup kembali.
“Aku akan turun,” kata Quida.
“Jangan! Berbahaya!” cegah Fran yang sepertinya punya firasat buruk. Ini jalan tol, seharusnya banyak kendaraan yang lewat. Tapi kenapa sekarang menjadi sunyi, tanpa ada satu pun mobil yang melintas? Bahka di jalur seberang yang berlawanan arah, keadaan juga sama.
“Kita bukan berada di jalur tol yang sebenarnya,” kata Quida. “Dia berhasil menyesatkan mobil ini, Fran. Aku harus turun.”
Melihat Quida tahu-tahu sudah di luar mobil tanpa membuka pintu lebih dulu, Fran dan Handre segera ikut turun. Mereka berdua berjalan ke depan mobil, menyusul Quida yang sudah melangkah terlebih dahulu.
“Qui, kau mau ke mana?” Fran berteriak. Handre membuntuti di belakangnya, takut tertinggal. Suasana memang tampak lain, menyeramkan. Lengang dan berhawa pengap.
“Jauhi aku, Fran! Jauhi...!!” Quida berlari.
Fran ingin mengejarnya, tapi ditahan oleh Handre. “Biarkan dia. Mungkin ada sesuatu yang ingin dia lakukan, dan berbahaya bagi kita jika berada di dekatnya.”
“Tapi aku harus melindunginya, Han!” Fran bersikeras.
“Bukan kamu, tapi dia yang melindungi kita! Sadarlah kau siapa dia dan siapa lawannya?!” tegas Handre, yang akhirnya membuat Fran mengikuti sarannya.
Quida berhenti di jarak 30 meter dari mereka. Awan putih muncul bergulung-gulung seperti ombak di lautan luas, suaranya bergemuruh menyeramkan. Awan itu juga memancarkan cahaya perak yang tidak terlalu menyilaukan. Gemuruh suaranya membuat mobil Fran bergetar, tanah di sekitar mereka juga ikut terguncang.
“Ozequ Almehfu!” seru Quida.
Saat itu juga angin besar datang dari arah berlawanan. Hembusannya begitu kuat hingga Fran dan Handre sampai harus berpegangan ke pintu mobil. Jika tidak, mereka dapat terhempas ke arah depan. Celakanya, awan putih tidak hilang melainkan justru bertambah banyak dan bergumpal-gumpal. Agaknya kekuatan mantera Quida masih belum cukup untuk mengusir awan tersebut. Gerakan awan semakin dekat, seakan ombak ganas ingin menelan Quida bulat-bulat.
Bersamaan terdengar suara menggema besar, serak dan menyeramkan. “Quida... babazam dhalva!”
Gemuruh semakin kuat, begitu pula dengan getaran alam sekitarnya. Gumpalan awan berubah menjadi sesosok makhluk menyeramkan. Tinggi, besar, berkepala seperti monyet, tapi memiliki telinga tinggi dan bertanduk. Makhluk itu juga memiliki sepasang sayap seperti kelelawar, ukurannya sangat lebar.
“Astaga! Aku pernah melihat patung seperti itu di rumah Nyi Danti,” kata Handre sambil menggigil ketakutan. Mereka berdua bersembunyi di belakang mobil.
“Sesembahan para pengikut sekte itu juga,” timpal Fran dengan napas terengah-engah menahan rasa takut.
Quida terkurung sayap lebar yang tak lain adalah iblis Labrosha. Sayap tersebut menyemburkan api yang segera berkobar membakar sekujur tubuh Quida. Labrosha mengucapkan mantera tak jelas, suaranya bergemuruh tiada henti. Tetapi tiba-tiba terdengar suara Quida melengking tinggi, mengalahkan suara gemuruh dari mulut lawannya.
“Zamonna, zammafu...  zamonna zammarubba!!”
Claaaap... terpancar cahaya biru terang dari tubuh Quida. Makin lama makin terang, mengalahkan terangnya kobaran api. Bahkan api itu segera surut seperti kehabisan minyak. Lalu, terdengar suara ledakan yang begitu kerasnya hingga memekakkan telinga, mengguncangkan alam sekitar mereka.
Bleggaaaarrrr...!!
“Aaaahhhhkkkrrrrr!” Labrosha memekik keras dan panjang. Sekujur sosoknya dikelilingi cahaya biru terang. Makin lama makin menyusut dan akhirnya menjadi kecil, berbentuk seperti telur merah berserabut.
Wuuuussh...! Benda itu melesat ke langit dan lenyap di kegelapan malam. Quida terpuruk, jatuh bersimpuh. Lemas sekali.
Kehidupan alam menjadi normal kembali. Fran dan Handre sempat dikejutkan oleh deru mesin mobil yang tiba-tiba saja hilir mudik di dua jalur tol. Ternyata mereka sudah berada di alam sebenarnya. Tapi keadaan Quida tampak sangat mencemaskan. Gadis itu terkapar di pinggiran jalan.
“Cepat bawa ke rumah sakit!” kata Handre kepada Fran yang segera memandang Quida dan memasukkannya ke dalam mobil.
Mesin dihidupkan dan mereka ngebut menuju ke rumah sakit terdekat. Mencemaskan sekali, dokter mangatakan kalau Quida bukan hanya kurang darah, tapi juga kekurangan banyak cairan.
“Lakukan apa saja, dok. Tolong dia!” Fran memohon.
“I-iya, pasti.”
Tim medis bertindak cepat, dan beruntung Quida masih sempat diselamatkan. Febbi ikut datang ke rumah sakit, bergantian menunggu bersama Fran. Setelah dua hari melalui masa koma, akhirnya Quida sadarkan diri. Kondisi kesehatannya berangsur-angsur pulih. Hal itu membuat Fran mulai tampak ceria kembali. Dia langsung memeluk dan mencium gadis itu, tanpa mempedulikan larangan dari dokter yang merawat.
“Syukurlah kau telah sadar kembali, Qui. Aku bahagia sekali.”
“Aku juga bahagia, Fran. Walau sekarang aku sudah kehilangan semuanya.”
“Kehilangan apa?”   
“Kekuatan manteraku sudah tidak ada. Hilang bersama hancurnya Labrosha. Aku sudah kembali menjadi manusia biasa. Untung saja tempo hari aku sudah menyerap pengetahuan abad ini lewat jalan pikiranmu.”
“Kapan?” Fran tak pernah merasa.
“Saat aku memegang kepalamu ketika pertama kali kita bertemu.” terang Quida. “Itulah saat aku menyerap pengetahuan peradaban ini. Dan meski sekarang aku masih bisa mengingat masa laluku, tapi aku sudah tak takut mengalami pendarahan jantung lagi, seperti dulu.”
“Seperti kapan sih?”
“Seperti waktu kau memaksaku mengingat darimana asalku, saat itu aku terlalu memaksakan diri hingga akhirnya memuntahkan darah segar. Pada saat itu aku belum kuat betul, tapi sudah kupaksakan. Baru beberapa hari yang lalu aku mulai bisa mengingat masa gaibku. Dan sekarang semakin kuat walau sudah tanpa mantera gaib lagi.”
“Syukurlah kalau begitu,” Fran tersenyum senang.
“Semua mantera hilang dari ingatanku. Hanya kehidupan masa laluku yang masih membekas dalam ingatan.”
“Kau menyesal?”
Quida tersenyum cantik dan menggeleng dengan lembut. “Aku nggak pernah merasa menyesal kehilangan kekuatan mantera gaib itu. Aku juga tidak sedih kehilangan gelar Ratu Mantera. Aku hanya akan menyesal dan sedih kalau harus kehilangan kamu, Fran.”
Fran memeluknya sambil berbisik, “Aku tak akan hilang dari pelukanmu selamanya, Quida. Aku milikmu dan kau milikku.”
Handre datang, ikut menikmati kegembiraan itu. Ketika Quida menanyakan kabar Nyi Danti, Handre segera angkat pundak dengan mulut mencibir. “Perempuan itu ikut menjadi korban.”
“Korban apa?”
“Pusat aktifitas sekte ternyata ikut meledak bertepatan dengan kehancuran Labrosha. Banyak pengikut Labrosha yang saat itu berada dalam gedung pemujaan. Mereka hancur bersama bangunan tersebut, termasuk Nyi Danti. Dia ditemukan tak bernyawa di bawah reruntuhan, separoh badannya hangus. Tempat itu sekarang dijaga oleh pihak kepolisian untuk penyelidikan lebih lanjut.
“Lalu...” Quida melirik Fran. “Bagaimana dengan Salza?”
Fran tersenyum kalem. “Sampai sekarang dia masih membenciku, dan hubungannya dengan Febbi menjadi agak renggang. Tapi Febbi sendiri tak menyayangkan hal itu. Ia mendukung hubungan kita setelah mendengar ceritaku tentang peristiwa itu.
“Kau sendiri tak menyesal dibenci Salza?”
Fran menggeleng. “Aku hanya akan menyesal kalau kau yang membenciku.”
Quida menyandarkan kepalanya di dada Fran, minta dipeluk erat dalam kelembutan penuh kasih. Handre mendehem dua kali, kemudian buang muka sambil menahan senyum sedikit mencibir.
Ratu Mantera telah hilang, tapi Ratu Cinta tumbuh dengan membara di hati Quida, juga di relung kalbu Fran.

TAMAT


2 komentar:

  1. Critanya seruuu...
    Update alyabrohali 2 dong hu..

    BalasHapus
  2. Sepertinya mantap di buatan session 2 nya om seperti vanquish..
    Bisa di esploitasi lebih dalam si quida ,bisa ada affair dengan handre atau si om shandi :):)

    BalasHapus