Kamis, 28 Desember 2017

Pendekar Tanpa Tanding 15



Desa Bangsal letaknya di tepi kali Brantas. Waktu itu pertengahan musim hujan. Sejak pagi, desa kecil itu tak hentinya diguyur hujan gerimis. Siang hari gerimis berhenti. Mentari mulai terik.
Dari arah Timur desa datang serombongan orang, sebagian menunggang kuda, lainnya di atas kereta kuda. Seluruhnya lima belas orang. Sebelas di antaranya para pendatang dari Cina. Empat penunjuk jalan adalah murid-murid perguruan Brantas yang menguasai daerah di sepanjang kali Brantas. Di kawasan itu semua pedagang akan terpelihara keamanannya jika menyewa murid Brantas sebagai pengawal dan penunjuk jalan.
Seorang di antara penunjuk jalan memasuki warung makan yang tidak banyak pengunjung. Tak lama kemudian, dia keluar dan mengundang makan seluruh rombongan. Salah seorang yang usianya paling tua berkata dalam bahasa Cina.

"Kita harus hati-hati di sini. Kita sudah mendengar cerita kehebatan Wisang Geni, tak perlu ragu tentang Wisang Geni tetapi aku yakin masih banyak lagi pendekar berilmu tinggi di daerah ini."
Pemimpin rombongan itu, Ciu Tan, kakak perguruan dari Sam Hong, ketua Wuthan yang mati dalam tarung lawan Wisang Geni di bukit Penanggungan dua tahun silam. Usianya 60 tahun, tubuhnya yang jangkung masih tampak segar dan gempal. Tujuannya ke tanah Jawa ini untuk membalas dendam kematian Sam Hong. Dia mendengar berita kematian Sam Hong dari mulut Sin Thong, Pak Beng dan Liong Kam, waktu itu darahnya bergolak karena marah. Ia kemudian merencanakan berangkat ke tanah Jawa. Dua tahun ia melakukan persiapan. Mencari teman, memperdalam ilmu silat serta mencari ongkos perjalanan.
Tiga pendekar yang pernah terlibat pertarungan lawan Wisang Geni di hutan Penanggungan, yaitu Sin Thong, Pak Beng dan Liong Kam serta merta mendaftar diri. Sin Thong terkenal dengan sepasang golok, Pak Beng dengan jurus tangan salju, keduanya babak belur dihajar Wisang Geni dua tahun lalu dalam pertarungan bergengsi di bukit Penanggungan. Liong Kam bersenjata pedang.
Bersamanya ikut dua pendekar kembar Mok Tang dan Mok Kong yang berusia lima puluh tahun dan terkenal dengan ilmu golok bersatupadu. Karuan saja hadirnya dua saudara kembar ini menambah rasa percaya diri Ciu Tan karena selama ini di Tiongkck dua pendekar yang dijuluki si Kembar Aneh ini belum menemukan tandingan setimpal.
Pria yang satunya lagi, Siauw Tong, sastrawan muda berusia tiga puluh tahun, senjatanya sepasang pit panjang. Mungkin tidak sehebat enam lelaki lainnya, namun Siauw Tong tak bisa dianggap remeh karena otaknya yang cerdas. Dia juga mahir berbahasa Jawa dan paham budaya Jawa, salah satu sebab mengapa ia diajak ikut serta.
Ciu Tan mengajak empat pendekar wanita, seorang di antaranya Sio Lan berusia 20 tahun, putrinya sendiri, senjatanya pedang tipis. Kim Mei, berusia 30 tahun, janda cantik yang patah hati, julukan Pendekar Wanita Baju Merah, senjatanya golok dan ilmu tangan kosong Cakar Elang. Li Moy berusia empat puluhan, terkenal sebagai Belalang Beracun, mahir ilmu ringan tubuh dan dua puluh Jurus Belalang serta senjata jarum beracun. Sian Hwa, usia lima puluh tahun, dijuluki Dewi Pedang Gurun Gobi, jurus pedang Topan Gurun Gobi-nya sulit dicari tandingan.
Sebelas pendekar Cina ini tidak sama tujuan. Siauw Tong dan Kim Mei menyukai petualangan. Kedua saudara kembar Mok Tang, Mok Kong dan Li Moy tujuannya mencari keris sakti Gandring yang konon bisa membelah batu besar selain mencari harta kekayaan yang bisa dibawa pulang ke Cina. Sian Hwa, sudah lama menyembunyikan diri, turun gunung untuk mencari putrinya yang hilang di tanah Jawa. Pak Beng, Sin Thong, Liong Kam dan Ciu Tan ingin membalas dendam kepada Wisang Geni.
Tetapi sebenarnya mereka semua diam-diam memendam niat merebut keris sakti itu. Apa pun resikonya, bahkan jika harus membentur kawan sendiri. Karena keris itu terlampau bernilai. Kesaktian keris Gandring sudah sampai ke daratan Cina, diberitakan para pedagang.
Setelah selesai makan dan menerima bayaran, empat murid Brantas itu pamit. Tinggallah sebelas pendekar Cina itu dengan pikiran masing-masing. Ciu Tan memecah kesunyian, "Dari sini ke Lemah Tulis, arahnya ke Timur, perjalanan normal memakan waktu sekitar satu hari perjalanan."
Si Kembar Aneh Mok Tang menggeleng kepala. "Aku pikir kita tidak perlu cepat-cepat menuju Lemah Tulis. Itu perguruan besar dengan murid yang ratusan jumlahnya, di sana juga banyak orang pandai, aku rasa itu bukan rencana yang bagus."
Pak Beng yang pernah dihantam sampai muntah darah oleh Geni, tidak senang dengan penolakan Mok Tang. "Hei, kenapa kamu berubah pikiran, dari Kuangchou kita semua sepakat dan satu tujuan mendatangi Lemah Tulis menantang Wisang Geni dan menaklukkan semua jagoan di negeri ini. Kenapa sekarang kau menolak, apa kau takut?"
Mok Kong naik darah mendengar saudaranya dimaki penakut. "Kurang ajar, kalau kamu si kura-kura saja tidak takut, tentu saja kami lebih tidak takut lagi."
Ciu Tan menengahi. Selain berilmu tinggi, mungkin paling lihai di antara mereka, Ciu Tan juga disegani karena usianya yang tua. Dia juga kakak seperguruan dari ketua partai Wuthang yang kesohor di daratan Cina.
"Coba kita dengar apa kata adik Siauw," katanya sambil menunjuk Siauw Tong.
"Aku pikir lebih baik kita bersabar dulu. Jika kita ke Lemah Tulis sekarang, maka kita berada di tempat terang. Wisang Geni dan semua orang Lemah Tulis akan tahu maksud kita. Padahal sekarang ini kita berada di tempat gelap, tidak ada yang tahu siapa kita dan apa maksud kedatangan kita. Jadi aku pikir lebih bagus jika kita tetap mempertahankan posisi di tempat gelap saja."
Ciu Tan menghela napas. "Aku setuju. Baiklah, sementara kita menunggu kesempatan dan mencari berita, kita sepakat untuk menetap di desa ini, pura-pura sebagai pedagang. Kita sewa rumah yang besar, mulai berjualan pakaian dan alat rumah-tangga. Kita bergaul dengan masyarakat setempat, bagi kalian yang hendak bepergian, boleh-boleh saja, tapi harap diingat markas tempat kumpul kita adalah di desa ini."

***

Siang itu hujan deras membasahi hutan di batas desa Bangsal. Tiga penunggang kuda melewati hutan. Mereka murid Lemah Tulis, Gajah Lengar disertai suami isteri Prastawana dan Dyah Mekar. Tampak mereka bergegas ingin cepat sampai di desa.
Tetapi setiba di batas desa, mereka dihadang tiga perempuan. Tiga perempuan itu berdiri di bawah siraman hujan, pakaian mereka basah kuyup menempel ketat di tubuhnya. Mereka murid lembah Bunga yaitu Kemara, Dumilah dan Manohara.
"Kalian pasti orang orang Lemah Tulis!" Suara Kemara ketus.
Prastawana sebagai yang paling tua menjawab sopan tetapi tak memperlihatkan rasa takut. "Benar, kami dari Lemah Tulis, apa sebab kalian menghadang perjalanan kami, dan siapa kalian?"
Kemara dan dua temannya langsung menerjang. "Kalau begitu kalian harus mati."
Prastawana dan dua rekannya melompat dari kuda. Dyah Mekar mencabut kerisnya. Sejak awal dia sudah curiga. Sekarang melihat tiga perempuan binal itu menerjang dengan ganas, ia yakin tiga perempuan inilah orang yang mereka cari.
"Apakah kalian bertiga yang kemarin membunuh empat murid Lemah Tulis?"
"Benar. Kami yang membunuh mereka. Dan kami akan membunuh kalian bertiga dan juga semua murid Lemah Tulis. Bersiaplah untuk pergi ke neraka." Dumilah menerjang maju yang langsung disambut Gajah Lengar.
Prastawana menyambut serangan Kemara. Dia yakin Kemara adalah pemimpin dari tiga perempuan itu. Dyah Mekar dengan keris terhunus menyambut serangan Manohara. Dalam sekejap terjadi pertarungan sengit, tiga lawan tiga. Jurus Garudamukha adu kebolehan lawan jurus dari Lembah Bunga.
Prastawana, murid mendiang Ki Branjangan yang kini dilatih langsung oleh Wisang Geni sudah menguasai Garudamukha Prasidha. Dalam tiga gebrakan tenaga dalam, dia mendesak Kemara.
"Kalian siapa, mengapa memusuhi Lemah Tulis?"
"Jangan banyak omong, rasakan jurus Lembah Bunga ini," teriak Kemara sambil menggelontorkan serangan jurus mautnya Grahaprawesa (Buaya menyerang), Pangrahata (Cara mendapat jasa) dari ilmu Ghandarwapati.
Serangan ini mendatangkan angin keras. Namun yang lebih mengagetkan Prastawana, angin itu berbau busuk. Prastawana melihat dua temannya juga diserang dengan jurus serupa dari Ghandarwapati. Dia berseru kepada dua temannya, "Awas, bau busuk itu beracun, gunakan Sanakanilamatra dan Prasadha Atishasha."
Meskipun belum menguasai seratus persen, namun dua jurus Sanakanilamatra (Sebesar angin terkecil) dan Prasadha Atishasha (Menara sangat tinggi) sangat ampuh. Dua jurus dari Prasidha itu membelah angin berbau busuk dan mengembalikan hawa beracun itu kepada pemiliknya.
Pertarungan berlanjut. Prastawana di atas angin. Gajah Lengar dan Dyah Mekar juga bisa mengatasi dua lawannya meskipun tidak terlalu unggul. Setelah berlangsung hampir lima puluh jurus, Prastawana berhasil melukai Kemara di bagian pundak dan lengan. Dyah Mekar menusuk lengan Manohara dan tendangan Gajah Lengar melukai paha Dumila. Perlahan tetapi pasti tiga murid Lembah Bunga itu makin terdesak dan terancam.
Mendadak saja terdengar tertawa nyaring dan bergelombang. Suara perempuan. Situasi segera berubah. Dumila yang kakinya terluka, Manohara yang sebelah tangan terluka dan Kemara yang luka dalam, mendadak menjadi bersemangat, berseru, "Guru!"
Yang datang memang guru ketiga perempuan itu, Kalandara, ketua Lembah Bunga. Tertawa yang disertai pengerahan tenaga dalam dahsyat. Tawa Sembilan Bunga sangat ampuh, langsung membuat Prastawana dan dua adiknya terdesak hebat.
Saat itu pertarungan sudah masuk ke batas desa, banyak orang datang menonton. Di antaranya adalah Ciu Tan, Pak Beng dan si kembar aneh Mok bersaudara. Hebatnya tawa Kalandara tidak mempengaruhi penonton, karena memang hanya ditujukan kepada tiga murid Lemah Tulis.
Sesaat setelah terdengarnya tawa khas, Kalandara muncul di belakang tiga muridnya. Suara tawa berhenti, pendekar wanita itu mengenakan pakaian merah, kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Gaya dan lagaknya yang genit membuat penampilannya tampak semakin seronok.
"Kamu tiga bekicot Lemah Tulis, main curang. Itu sebab tiga muridku terdesak. Sekarang kalian harus menerima hukuman dari aku si Penguasa Kegelapan Lembah Bunga. Bersiaplah."
Prastawana bersikap jantan, dia berada di depan. Istri dan adiknya berjajar setengah meter di belakangnya. Ketiganya merobek ujung baju, membasahi dengan ludah dan menyumpal telinga.
Prastawana menjawab tegas. Tidak ada rasa takut dalam getar suaranya. "Ilmu Lemah Tulis datang dari aliran bersih, tidak ada yang main curang. Jika kamu tidak datang, aku pastikan tiga muridmu ini bakal mati."
"Kalian yang akan mati," berkata demikian Kalandara menyerang sengit. Gerakannya lincah bagai pegas. Serangannya ganas. Cengkraman dan cakarnya menebarkan bau busuk. Lebih busuk ketimbang yang dimainkan tiga muridnya.
Keadaan sekarang berubah. Tiga muridnya mengundurkan diri, ganti Kalandara yang menghadapi tiga murid Lemah Tulis. Sepak terjang ketua Lembah Bunga lincah dan ganas. Semua jurusnya mengandung hawa kematian. Setelah dua puluh jurus tampak Prastawana dan dua adiknya terdesak hebat. Kalandara sendiri tak menyangka ketangguhan Prastawana. Dia belum juga bisa melukai tiga lawannya itu. Saking marahnya perempuan ini mengeluarkan Tawa Sembilan Bunga dengan kekuatan tenaga penuh. Dia ingin secepatnya membunuh tiga lawannya.
Pertarungan semakin sengit. Tawa khas Sembilan Bunga semakin keras, membuat Gajah Lengar dan Dyah Mekar yang tenaga dalamnya tidak setangguh Prastawana, menjadi limbung. Meski sudah menyumpal telinga, tetap saja daya magis Tawa Sembilan Bunga Kalandara merasuk ke dalam pikiran dan mengguncang tenaga batin Gajah Lengar dan Dyah Mekar.
Tawa itu disalurkan dengan tenaga dalam tingkat tinggi, mendayu dan merangsang birahi lawan. Sampai saat di mana lawan sudah terpengaruh, tahap berikutnya darah merangsang otak, kemudian darah merembes keluar dari tujuh lubang di tubuh manusia, tubuh kejang dan akhirnya mati.
Melihat istri dan adiknya limbung dan kacau, Prastawana berlaku nekad. Dia bertekad menjadi tumbal, biar dia mati asalkan istri dan adiknya bisa lolos. Dia memusatkan pikiran dan tenaga batin lalu menggelar jurus Agniwisa (Bisa api) dan Sikhwiriya (Cintaku adanya) dari Prasidha digabung dengan Shuhdrawa (Hancur luluh) dari Garudamukha. Bentrokan itu akan makan korban. Kalandara bisa terluka, sebaliknya Prastawana bisa mati
Pada saat kritis bagi murid Lemah Tulis itu, terdengar suara lengking seperti teriakan seekor kera yang marah. Lengking itu begitu keras dan berbobot sehingga menggentarkan semua orang yang mendengarnya. Suara lengking itu belum juga reda, terasa angin topan melanda arena pertarungan.
Kalandara berteriak marah, "Binatang dari mana berani ikut campur, sampean mau cari mati!"
Tiga murid Lemah Tulis bangkit semangatnya. Pengaruh Tawa Sembilan Bunga lenyap begitu saja. Terusir oleh tawa kera marah. Prastawana terdesak angin keras dan mundur lima langkah. Gajah Lengar dan Dyah Mekar berlindung di balik tubuh Prastawana.
"Ketua datang, syukurlah."
Tiga murid Lembah Bunga tadinya berniat menyerang Prastawana, tetapi menjadi batal. Mereka melihat Kalandara diserang bayangan seseorang yang bergerak pesat, sangat pesat. Bayangan itu, tak lain Wisang Geni.
"Ya, akulah binatang itu, tapi binatang raksasa yang akan memangsa kamu, nenek tua genit." Wisang Geni melanjutkan lengking kera dan merangsek Kalandara dengan jurus-jurus dahsyat dari Penakluk Raja. Perempuan itu terdesak hebat.
Melihat gurunya terdesak, tiga muridnya turun tangan membantu. Geni dikeroyok empat, malah timbul rasa gembira. Berurutan dia memainkan jurus Harta (Gembira), Syura (Berani), Prabhawa (Kekuasaan) dan Raga (Nafsu berahi).
Kalandara kelabakan menangkis, dia seperti menangkis angin. Tenaganya seperti lenyap begitu saja ditelan Geni. Dia terkesiap, "Ilmu apa ini?" bisiknya dalam hati. Dia lebih heran lagi, ketika tiga muridnya saling serang, bahkan pukulan Kemara nyaris menghantam dirinya.
Kalandara berteriak, "Ilmu iblis!"
Ciu Tian bergumam kepada Mok Bersaudara dan Pak Beng, "Itu jurus memindahkan tenaga lawan, mirip-mirip Si-nio-pocian-kin (Empat tail menghantam seribu kati) tetapi tenaga dalam yang digunakan sangat lihai. Siapa orang ini, jelas dia pendekar kosen."
Geni menghentikan lengking kera, namun tetap menyerang dan mengacaukan pikiran lawan dengan Jurus Penakluk Raja yang digelar dengan tenaga dahsyat Wiwaha. Empat lawan itu seperti terkurung dalam lingkaran tenaga yang tak berwujud.
Tetapi Kalandara dan tiga muridnya tak mudah ditaklukkan. Pertarungan sudah berlangsung lima puluh jurus. Geni tetap berada di atas angin. Namun belum juga bisa merobohkan lawan.
Suatu ketika Geni melihat kesempatan, serangan Kemara dia alihkan ke Dumilah dan serangan Kalandara diteruskan ke Manohara. Keempat perempuan itu berseru kaget. Tenaga pukulan Kemara dan Dumilah saling benturan. Pukulan Kalandara yang disertai hawa amarah dan tenaga berlipat ganda tertuju ke Manohara. Kalandara kaget, muridnya bisa luka parah bahkan bisa mati. Ketua Lembah Bunga mengubah jurusnya, melakukan putaran dan memukul selangkangan Geni. Jurus Mahhairawa (Mengerikan) ini indah tapi sangat ganas apalagi dikerahkan dengan pengaruh sihir dan hawa beracun.
Geni dengan berani dan gembira melancarkan jurus Sumujugtundagatha (Menukik ke bawah) dari Prasidha. Tangan kiri menarik Manohara, memutar tubuh lawannya, tangan kanan memegang bokong lawan, merobek pakaian di bagian itu sambil mendorong ke arah Kalandara.
Sang guru kaget, tak mau mencelakai muridnya, Kalandara merunduk dan merangkul tubuh Manohara. Luar biasa. Pertarungan terhenti. Muka Manohara yang cantik merah padam saking malu dan marah. Pakaiannya robek, bokongnya dielus dan diremas Geni, ini hinaan luar biasa.
Tidak seperti saudara perguruannya yang tampak genit, Manohara kelihatan masih lugu. Ia menangis, namun melotot menatap Geni. Kemara dan Dumilah terseok-seok menghampiri gurunya, keduanya luka dalam. Kalandara terdiam. Dia kalah total. Belum pernah seumur hidup dia mengalami hari naas seperti ini.
"Kamu siapa, apa hubunganmu dengan Lemah Tulis?"
Geni tertawa, dia puas mempermainkan empat lawannya ini. Dari ilmu silatnya dia tahu nenek genit itu adik perguruan Kalayawana. "Ya, aku Wisang Geni, ketua Lemah Tulis, kenapa kamu mau mencelakai murid perguruanku?"
Manohara terkesiap, “Diakah Wisang Geni? Tampan, jantan dan lihai." Tiba-tiba wajahnya memerah saking malu, dia takut pikirannya dibaca orang, tangannya tetap di belakang menutupi bokongnya.
Kalandara, Kemara dan Dumilah pun tak pernah menyangka Wisang Geni begitu lihai. Tadinya mereka pikir sanggup menandingi bahkan menaklukkan ketua Lemah Tulis. Tetapi kenyataan yang ditemuinya hari ini, sangat di luar dugaan.
Dyah Mekar menyela, "Ketua, mereka sudah membunuh empat murid perguruan kita."
Geni memandang Mekar kemudian beralih ke Kalandara. "Seharusnya aku bertindak lebih kejam."
Kalandara bersiap. "Hutang nyawa kakakku harus dibalas, akan kutagih dan membunuh setiap murid Lemah Tulis."
"Kematian Kalayawana di tanganku terjadi dalam pertarungan kependekaran yang resmi. Tapi kalau kau mau perang, aku bersedia, mulai sekarang untuk setiap murid Lemah Tulis yang kau bunuh, aku akan menagihnya langsung kepada kalian berempat." Geni menuding Manohara. "Kalau tadi aku hanya meremas bokongmu, lain kali aku akan menelanjangi kamu dan saudaramu, aku akan mempermalukan kalian di depan umum!"
Kalandara diam Tiga muridnya pucat. Mereka yakin lelaki ini sanggup dan tega berbuat apa yang dia katakan. Jikalau kejadian seperti itu maka lebih baik bunuh diri daripada menanggung malu.
Mereka berempat bingung, tak tahu harus berbuat apa. Mau melanjutkan tarung, jelas ilmu Geni lebih unggul. Kabur, akan menjadi cemooh orang. Kalandara akhirnya memutuskan pergi, kembali ke Lembah Bunga.
"Suatu saat aku akan tebus kekalahan ini, tunggulah." Tetapi dalam hati dia tidak yakin bisa mengalahkan Geni meskipun berlatih lima tahun lagi.
Wisang Geni menoleh dan menggamit Prastawana dan dua adiknya. "Kalian kembali ke perdikan, katakan kepada kakek Padeksa dan Gajah Watu agar selalu bersiap-siap, musuh sudah semakin mendekat."
Prastawana dan dua adiknya masih takjub dan terpesona menyaksikan sepak terjang sang ketua. Mereka takjub bercampur geli. Takjub akan ilmu silat ketuanya yang dahsyat tak terukur tingginya. Tadi ketuanya bisa saja membunuh Manohara, namun hanya meremas bokong dan merobek pakaian di bagian bokong.
Mekar, istri Prastawana tertawa geli. "Ketua, aku jamin, empat perempuan itu tak akan berani membunuh saudara-saudara kita lagi, iya kalau cuma diremas bokongnya, tetapi kalau ditelanjangi, wuah bisa bunuh diri saking malunya."
Prastawana dan Gajah Lengar menahan tertawa. Cara ketuanya mengalahkan empat perempuan itu menimbulkan rasa geli. Prastawana memberi hormat. "Ketua, terimakasih telah datang menyelamatkan kami, tetapi bagaimana ketua bisa sampai di sini?"
"Aku kebetulan sedang keluar jalan-jalan." Geni membalik tubuh, Kalandara dan tiga muridnya sudah pergi tanpa pamit.
Prastawana dan dua adiknya langsung menuju Lemah Tulis. Geni berjalan menjauhi desa. Tadi dia secara kebetulan melewati desa Bangsal dalam perjalanan rahasia menuju istana Tumapel menjumpai permaisuri Waning Hyun. Di tengah kerumunan penonton, Pak Beng dan saudara kembar Mok memandang Wisang Geni. Mereka segera pergi melapor kepada Ciu Tan yang saat itu sedang di kamar berdua dengan Kim Mei. 
"Dia Wisang Geni," kata Pak Beng. "Tapi heran, ilmunya maju pesat, dia makin lihai."
Ciu Tan menerima keterangan itu dengan anggukan kepala, lalu lekas menyuruh mereka pergi. Ada hal yang lebih penting yang harus ia lakukan daripada memusingkan Wisang Geni sekarang. Dia kembali masuk. Nampak Kim Mei duduk di ranjang dengan kaki diangkat. Tangannya melambai ke arah Ciu Tan, menyuruh duduk di sebelahnya.
Perempuan itu nampak cantik... seksi... nakal!
Ciu Tan duduk di kursi seberang. Senyum Kim Mei berubah menjadi genit. Tangannya memegang lutut yang naik di atas ranjang, lalu pelan-pelan membukanya. Gerakan yang sangat pelan.
Terlihat bayangan celana dalam hitam di balik rok merah panjang. Kaki Kim Mei semakin mengangkang, tanpa membuka celana, tangannya berpindah dari lutut naik ke perut. Kepalanya mendongak ke atas, membuat rambut indahnya jatuh ke belakang.
Jemari itu masih menari di perut, dengan tangan kiri sedikit naik menuju bukit payudara yang tampak dibusungkan, sementara tangan kanannya turun menuju pangkal paha. Mungkin Kim Mei melihat mata Ciu Tan melotot, yang jelas sesuatu  di selangkangan laki-laki itu bereaksi.
Tak mau berhenti di situ, tangan kiri dan kanan Kim Mei mulai menyelusup ke dalam baju, sehingga sedikit tertarik naik memperlihatkan kulit perut dan pusarnya yang putih. Kembali, tangan kiri naik meremas bukit dada dari balik pakaian, sementara tangan kanannya mencoba merogoh ke dalam celana dalam.
Ciu Tan segera beringsut, namun Kim Mei memberikan tanda dengan jarinya supaya dia tetap diam. Kim Mei berdiri, lalu perlahan tangannya turun memegangi ujung baju. Ditariknya ke atas pelan-pelan, ditambah dengan goyangan pinggul yang sangat menggoda.
“Ahh...” Ciu Tan menggumam.
Baju merah kini sudah berada di atas kepala, menyembulkan dada Kim Mei yang bulat besar dan sangat menggoda. Putingnya mungil kemerahan dan sudah mencuat. Mungkin karena dingin, bisa juga karena terangsang. Sreg! Kain itu dilemparkan ke arah Ciu Tan. Segera Ciu Tan singkirkan supaya tidak menghalangi pandangannya.
Seperti penari, Kim Mei menggoyangkan pinggulnya. Bukit ranum di dada ikut bergoyang. Ingin rasanya Ciu Tan menghentikan goyangan puting itu dengan lidah dan giginya.
Sedetik kemudian, Kim Mei berbalik, memberi Ciu Tan sebentuk punggung yang sangat mulus. Wajahnya menengok ke arah laki-laki itu, dengan pandangan mata sayu menggoda. Namun tiada kata terucap dari bibir seksi Kim Mei. Hanya tangannya yang turun ke pinggang, menyentuh ujung atas rok panjangnya.
“Hmm...” Ciu Tan lagi-lagi bergumam tak jelas sambil tak pernah berhenti menelan ludah. Goyangan pinggul Kim Mei jelas menggodanya. Ditambah jari-jari lentik perempuan itu yang perlahan-lahan mulai menurunkan roknya ke bawah. Semakin lama semakin menungging.
Terlepaslah kain itu dari pangkal kenikmatan Kim Mei. Pantatnya yang menungging tampak bulat menggoda. Mulus sekali. Ciu Tan mulai memajukan badan. Ia pegang kedua bongkahan pantat itu dengan masih diiringi goyangan pinggul seksi Kim Mei. Ciu Tan mendekatkan kepala, mencium satu per satu bulatan pantat Kim Mei.
Perempuan itu berbalik, lalu mengangkat kepalanya. “Mmmh... aku milikmu saat ini!” Kim Mei mencium bibir Ciu Tan pelan, yang langsung dibalas dengan ganas. Ciu Tan mengulum bibir Kim Mei dalam-dalam, lama sekali. Sampai membuat mereka sama-sama terengah-engah.
“Aghhh...” Kim Mei mendesah saat pagutan Ciu Tan turun ke lehernya yang jenjang, lalu berkeliling rakus di sana.
Ciu Tan memegangi kedua tangan Kim Mei, ditariknya ke belakang punggung. Ciumannya juga semakin turun, menuju ke bukit kembar. Punggung Kim Mei maju, berusaha membusungkan dadanya, mengharapkan desiran-desiran kenikmatan dari bibir Ciu Tan.
“Hss...” Ciuman Ciu Tan berhenti di tengah-tengah lembah dua bukit nikmat itu.
Kim Mei berusaha menggoyangkan badan, putingnya terasa gatal. Ciuman Ciu Tan berubah menjadi jilatan, dilingkarkan pada batas puting yang merah merona tersebut. Ciu Tan mengelilinginya beberapa kali. Kim Mei semakin mendesah, tangannya berontak, bahunya bergetar, bergoyang menginginkan puncak bukitnya segera dijamah.
Hingga dalam satu gerakan, haapp... Ciu Tan mengulum habis puting merah itu.
“Ahh... jangan digigit!” Kim Mei mendesah semakin liar. Segera kepala Ciu Tan ia tekan mendesak ke dada ranum miliknya. Dinikmatinya lidah Ciu Tan yang memilin-milin putingnya secara bergantian, disambut dengan getaran-getaran kaget dari badannya.
“Ohh... ouh... ahh...Punggung Kim Mei melengkung. Hampir saja ia jatuh. Untung Ciu Tan sempat menyangga dengan lengan kanannya, lalu diturunkannya Kim Mei hingga setengah terbaring di ranjang.
Laki-laki itu kemudian berjongkok, persis di hadapan Kim Mei yang mengangkang lebar memamerkan sebuah bukit mungil indah. Ciu Tan memagut-magut di sekelilingnya, memberi Kim Mei sentuhan awal yang sudah sanggup membikin tubuhnya menggerinjal. Tangan Kim Mei terlalu lemas untuk begerak saat Ciu Tan mulai menjilat perlahan dari atas ke bawah.
“Ouhh... apa yang kamu lakukan? ssh... ahh...Badan Kim Mei terlonjak-lonjak seperti tersengat. Geli dan lemas, sensasi rangsangan bibir Ciu Tan membuat matanya membeliak.
Ciu Tan menjilat lagi, pelan mengorek-ngorek celah sempit itu. Bau khas kewanitaan begitu terasa, basah. Ia masukkan lidah semakin ke dalam, membuat punggung Kim Mei kian melengkung ke atas. Tangannya memegang kepala Ciu Tan. Goyangan pinggul yang tadi begitu aktif, sekarang tak lagi mampu dilakukan, hanya tergolek pasrah.
Ciu Tan mendorong jari telunjuknya masuk perlahan, menggantikan lidahnya yang sedikit capek. Ia mencium dan mengulum area ujung bibir kemaluan janda cantik itu. Jarinya semakin lama semakin aktif.
Ehh... ahh... j-jangan... jangan berhenti... ssh!” rintih Kim Mei keenakan.
Jari Ciu Tan menyenggol gumpalan-gumpalan saraf di dalam kemaluan sempit itu. Tiba-tiba, “Aaauugghhh... oouugghh...
Ciu Tan kaget saat Kim Mei menyemprotkan cairan bening dari dalam lubang kemaluannya. Matanya membalik, punggungnya melengkung naik, kejang-kejang, dan perutnya tampak bergetar-getar.
Meski tak sampai bergelas-gelas, namun cairan itu cukup banyak hingga membasahi ranjang. Tangan Ciu Tan masih di dalam, dia masih menciumi kelentit Kim Mei yang terus terkejang-kejang.
“Ahh, cabut jarimu! Aku lemas!”
Takut kalau menyakiti, Ciu Tan melakukannya. Kim Mei masih tergolek di atas ranjang, kelelahan dan keenakan. Ciu Tan mendekat, mencium wajah cantiknya perlahan.
“Hmm, peluk aku!” Kim Mei mengerang. "Hhh... masih terasa. Enak sekali!”
Ciu Tan mencium lembut bibir wanita itu, yang dibalas oleh Kim Mei dengan pagutan yang lebih dalam. Bibir bawah Ciu Tan ditarik-tariknya gemas dengan giginya.
"Mei, kamu menggairahkan sekali." kata Ciu Tan jujur.
Hanya menjawab dengan senyuman, Kim Mei menduduki perut laki-laki itu. Staminanya sudah kembali. Terpampang jelas buah dada miliknya di depan mata Ciu Tan. Dia kemudian turun, melorot dari perut menuju ke lantai. Bersamaan dengan itu, tangannya meraih celana Ciu Tan untuk ikut turun. Gerakan cepat itu membuat Ciu Tan kaget, namun tangan Kim Mei segera mendorong dada laki-laki itu kembali merebah di ranjang. Nampak kejantanan Ciu Tan yang mencuat menjulang. Tegang sekali.
"Hmm... ini yang sejak kemarin kurindukan!" kata Kim Mei gemas sambil mengerling nakal. Dia memegang batang itu ke atas, menyelidiki dan mengamati bentuknya.
"Ohh, Mei..." desah Ciu Tan ketika tiba-tiba bibir seksi Kim Mei membuka dan mengulum kantung batangnya.
Mata sipit Kim Mei memandang dari bawah. Masih dengan mulut mengulum telur, tangannya mulai mengocok batang Ciu Tan secara cepat.
“Ehhs... pelan-pelan!” protes Ciu Tan.
“Begini?” Kim Mei mengemut ujungnya yang tumpul.
“Oughhh...desis Ciu Tan keenakan. Tak bisa ia tahan lagi desahannya saat Kim Mei memasukkan batang itu semakin dalam. Permainan bibir Kim Mei memang termasuk hebat. Lidah mungilnya menjilat-jilat di bagian bawah batang, sementara kepalanya semakin turun. Kim Mei memang liar.
Buru-buru Ciu Tan menarik kepala perempuan itu agar ia tak selesai di dalam mulut. Kim Mei segera berdiri. Ciu Tan juga ikut beringsut, namun lagi-lagi tangan Kim Mei menahan dadanya supaya tetap diam. Dikocoknya batang laki-laki itu pelan, sambil pelan-pelan kakinya melangkah, mengangkangi paha Ciu Tan.
“Eehsss...Kim Mei ikut mendesah ketika ujung kejantanan Ciu Tan menyentuh kelentitnya. Pinggulnya mulai diturunkan, seraya mengarahkan ujung batang itu ke bibir kemaluannya.
“Augh...Kim Mei mendesah, membuang nafas panjang ketika ujung kejantanan Ciu Tan yang tumpul mulai memasuki mahkota kenikmatannya. Semakin diturunkan lagi. Dan semakin turun lagi. Sampai akhirnya mentok ke dalam.
Kim Mei mendiamkan sejenak gerakan pinggulnya. Beberapa saat kemudian, baru dia mulai menggoyang. Naik turun. Tangan Ciu Tan dipegangnya, lalu diarahkan ke dua gunung kembar miliknya. Ciu Tan meremas-remas agak kencang. Di sisi lain, gerakan naik-turun Kim Mei semakin bertambah kencang. Ciu Tan mengimbangi dengan mendorong pinggulnya naik.
Punggung Kim Mei sedikit melengkung, tangan Ciu Tan yang dipegangnya di dada kemudian menjadi tumpuan badannya. Hantaman kejantanan laki-laki itu semakin keras ke atas, bahkan sampai mentok. Suara pinggul mereka yang bersentuhan terdengar keras.
Kim Mei mendelik, mengerang kuat, “Uuaahhh... aarrggh...
Terasa ada dorongan dari dalam kemaluannya, lalu diangkatlah pinggulnya hingga kejantanan Ciu Tan terlepas. Bersamaan dengan itu, mengucurlah dengan deras cairan kenikmatan si janda cantik itu. Mata Kim Mei terpejam, mengernyit menahan kenikmatan. Kakinya bergetar hingga hampir terjatuh. Ciu Tan memegang pinggang rampingnya, ditarik hingga ia berbaring bersama. Ciu Tan mengangkat kaki kirinya naik ke atas, badan Kim Mei dimiringkan ke kanan.
“Slepp...” Ia tusukkan kembali kejantanannya ke dalam kemaluan wanita cantik itu, lalu dipompanya dengan cepat dan dalam. Mata Kim Mei membeliak, mulutnya megap-megap. Tak lama Ciu Tan merasa puncaknya akan segera datang.
Ia putar Kim Mei hingga menghadap dirinya. Diciumnya bibir Kim Mei yang sedikit menganga. “Aahh... Mei... sssh...Tusukan Ciu Tan menjadi semakin kuat ke dalam, berbarengan dengan keluarnya cairan kenikmatan di dalam kemaluan perempuan berusia tiga puluhan itu.
“Oouuhh... terus! Jangan berhenti!” teriak Kim Mei keenakan. Belum sampai semprotan Ciu Tan berhenti, dia sudah ikut mengejang hebat.Aohh... ahh... ssshh... hhh...” Punggung Ciu Tan dipeluknya erat sekali, kukunya yang tajam tertanam di kulit laki-laki itu. Bola mata hitamnya tinggal terlihat separuh.
“Nikmatnya! Enak sekali!” desis Kim Mei sambil membuang nafas.

***

Dari desa Bangsal menuju keraton Tumapel bisa enam hari perjalanan biasa. Pada hari keempat, Geni tiba di hutan di batas desa Dayu. Hari mulai senja. Geni melihat sebuah rumah tua. Mendadak saja telinganya yang sangat peka mendengar suara perempuan memaki-maki. Datangnya dari rumah reyot itu.
Geni mendekat. Terdengar suara lelaki. "Dimas, aku sudah nggak sabar, aku milih si baju hitam, kulitnya putih singkong, tubuhnya montok. Kamu yang lain saja!"
Temannya menjawab dengan tertawa kecil. "Kangmas, aku juga mau yang baju hitam. Sebaiknya kita undi saja, pemenangnya boleh menikmati si baju hitam, setuju atau tidak?"
Geni mengintip dari sela-sela dinding bambu. Dua lelaki berewokan dan berambut gondrong. Di lantai tergeletak dua perempuan berbaju hijau, di kursi reyot perempuan baju hitam terduduk lemas. Tiga perempuan itu seperti tak bertenaga, Geni yakin dua lelaki itu bekerja menggunakan obat bius. Mereka jelas akan memerkosanya. Geni tak bisa membiarkan hal ini terjadi.
Dia menerobos masuk. Dua lelaki itu terkejut. "Siapa kamu? Kurangajar, berani mengganggu, aku hajar kamu!"
Si berewok yang bertubuh gemuk, menampar kepala Geni. Melihat gerakan yang pelan dan tak bertenaga, Geni tak berani memandang enteng. Dia menyambut dengan Bahni Anempuh Toya (Api menyerang air) salah satu jurus Bang Bang Alum Alum. Terdengar suara tulang patah. Tangan si berewok patah di dua tempat, tulang dadanya patah, nyawanya melayang.
Kawannya terkejut, dia menjatuhkan diri berlutut. "Ampun tuan pendekar, aku menyerah kalah, ampun, ampun, kau boleh ambil tiga perempuan ini, tetapi tolong ampuni aku!"
Sesaat kemudian Geni sadar, dua lelaki itu tak punya kepandaian. Serangan tadi bukan ilmu yang aneh, tetapi benar-benar tamparan orang biasa yang hanya belajar sedikit jurus berkelahi. Geni kesal dan menghantam lelaki itu hingga pingsan. Dia menoleh ke dua perempuan baju hijau. Keduanya masih muda dan cantik. Tampak dari wajahnya mereka bukan orang Jawa. Orang asing. Pakaian dua gadis itu robek di beberapa tempat memperlihatkan kulit tubuh yang kuning sawo.
Ketika menoleh ke perempuan baju hitam, Geni terkesiap. Dua gadis berbaju hijau itu cantik, tetapi yang baju hitam ini jauh lebih cantik. Perempuan itu sangat cantik, rambutnya panjang riap-riapan. Tubuh bagian atas telanjang, ditelanjangi penjahat itu, tampak buah dadanya yang montok. Kulit tubuhnya putih macam singkong yang dikupas. Geni sangat terpesona. Belum pernah ia bertemu perempuan secantik gadis itu. Geni menatap sepasang mata indah yang melotot memandangnya.
"Hei, kurangajar, kamu lihat apa?"
Geni terkejut dengan teguran itu, lalu menjawab sekenanya. "Aku memandang kecantikan seorang dewi, kamu sungguh cantik."
"Kurangajar, jangan memandang aku, cepat tutupi tubuhku."
"Loh, kamu kau orang asing, tapi kenapa bisa bahasa Jawa?"
"Hei, aku bilang cepat tutupi tubuhku, jangan kamu pandang terus. Kamu kurangajar, lelaki tak punya malu."
Geni mendekati wanita itu. Dia menatap. Kecantikan itu lebih jelas lagi. Wajah cantik dan tubuh yang montok. Benar-benar sangat cantik. Saking terpesonanya, Geni lupa segalanya, ia memandang wajah dan dada wanita asing itu. "Bagaimana mungkin ada perempuan secantik kamu di bumi ini?" Ia menatap mata gadis itu.
Sepasang mata gadis itu melotot, marah namun ada rasa takut. Suaranya gemetar ketakutan, "Kamu mau apa?"
Geni tak bisa menyembunyikan rasa kagumnya. "Kamu cantik, sangat cantik."
Tangan Geni menjulur ke wajahnya, gadis itu menutup mata. Bibirnya bergerak, "Jangan lakukan itu, jangan sentuh aku, jangan lakukan perbuatan terkutuk itu, lebih baik kau bunuh aku."
Geni memegang rambutnya yang panjang, menggerainya menutup dada si gadis. Wanita itu membuka mata. Sepasang mata saling menatap. "Apa yang kau lakukan?"
"Aku menutup dadamu, supaya tidak dilihat orang, eh supaya aku tidak memandang terus-terusan."
Gadis itu berusaha berkata ramah. "Di pojokan itu ada bungkusan, ambil selembar kain dan tutupi tubuhku. Cepat ambilkan, kalau kau main-main, kubunuh kamu."
Geni mengikuti isyarat lemah si wanita. Dia melangkah ke sudut, membuka bungkusan dan menarik selembar kain lebar semacam selendang panjang. Geni menutup tubuh wanita itu. Dia kemudian melangkah keluar. Terdengar suara wanita itu.
"Hei, kamu jangan pergi, tolong bebaskan aku."
Geni berhenti. "Kamu harus belajar sopan, nona cantik. Kamu beruntung aku kebetulan lewat di sini dan menolong kamu. Jika tidak, pasti mereka sudah memerkosamu. Kamu juga beruntung, lelaki itu adalah aku, jika orang lain malah dia akan memerkosa kamu. Kamu cantik dan menggairahkan, kamu juga tak berdaya, tentu saja dia akan memerkosamu. Jadi kamu beruntung dua kali, aku datang menolong mencegah dua perampok memerkosa kamu, dan yang kedua, aku tidak akan memerkosa kamu. Lalu bukannya berterimakasih, malahan kamu memaki-maki aku?"
Perempuan berbaju hijau berusaha bangkit namun sia-sia. "Tuan pendekar, maafkan nona majikanku. Dia panik, maafkan dia. Maukah tuan pendekar menolong kami?" kata baju hijau.
"Baik, aku akan menolong majikanmu." Ketika Geni memegang lengan baju hitam, selendangnya melorot. Mau tak mau mata Geni menatap payudara indah perempuan cantik itu.
"Hei, kau sengaja ya? Jangan lihat saja, tutupi tubuhku."
Geni memperbaki letak selendang. Ia memegang lagi lengan itu, meraba nadinya, terasa kulit si baju hitam halus dan kenyal. Geni tersenyum, hanya obat bius kelas rendah. Korban hanya kehilangan tenaga untuk sementara waktu. Setelah satu hari, bius itu akan lenyap dan tenaga korban pulih dengan sendirinya. Tapi Geni bersandiwara. Wajahnya serius.
Gadis cantik itu bertanya, "Racun apa itu?"
"Kalian semua mahir berbahasa Jawa, belajar di mana?"
Gadis baju hitam tak sabar. "Aku belajar di negeriku, di daerah Himalaya, aku mau tahu racun apa itu? Apakah kau bisa menyembuhkan aku?"
"Aku bisa menyembuhkan, tapi sulit."
"Sulit? Bagaimana sulitnya?"
Geni berbisik, mulutnya hampir menempel di telinga si gadis. Harum rambut menggelitik hidungnya. Timbul humor nakalnya. "Aku akan menolongmu dengan tenaga dalam, tetapi satu-satunya jalan harus melalui mulut, artinya dari mulut ke mulut."
"Gila! Mana ada pengobatan macam itu? Kau main-main, kubunuh kau nanti, kucincang kamu!"
Geni melangkah menjauh. "Sudah kukatakan sulit, ya itu sulitnya. Kalau kamu marah-marah bahkan mau membunuhku, ya lebih baik aku pergi saja. Nanti kalau ada lelaki jahat masuk kemari dan dia memerkosamu, aku tidak tanggungjawab."
Ia sudah hampir sampai di pintu, terdengar suara gadis baju hitam, "Hei, kemari kamu, tolong sembuhkan aku."
Geni mendekat. Dalam hati dia tertawa. Tetapi dia tampak serius ketika menatap mata si baju hitam. Mata itu indah, warnanya kecoklatan. "Namamu siapa?"
Dua pasang mata saling tatap. Mata si baju hitam berkedip, dia tampak gugup dan malu. "Namaku Gayatri. Dua gadis itu, Urmila dan Shamita."
"Jadi kamu bersedia kutolong, dengan cara lewat mulut?"
Gadis itu diam membisu. Matanya melotot.
"Tidak bisa pakai cara lain, cuma itu caranya. Jika kamu tidak mau, ya aku pergi saja."
Gadis itu berkata perlahan, "Ya, aku bersedia. Cepat tolong aku." Dalam hati ia berpikir, ”begitu sembuh akan kubunuh lelaki kurang ajar ini, enak saja mempermainkan aku."
Geni memegang kepala Gayatri dan menciumnya. Mulut itu terkatup erat. Geni merenggang. Dia menepuk pipi si gadis. "Kalau kau tidak membuka mulutmu, aku tak bisa menolongmu."
Gayatri berbisik, "Awas jika kau main-main."
Geni tak menjawab, tangannya memegang dagu si gadis, lalu mencium mulutnya. Geni memeluk, tubuh gadis itu terangkat dari kursi. Tangannya melingkar di punggung telanjang si gadis. Tanpa diminta lagi Gayatri membuka mulut. Mulutnya wangi. Geni merasakan bibir yang hangat dan basah. Lama. Sebuah ciuman yang panjang.
Gayatri mulai bereaksi, tubuhnya gemetar. Geni memeluk makin erat, dadanya menghimpit buah dada si gadis, sebelah tangan melingkar menahan bobot tubuh, sebelah lain menempel punggungnya. Sambil terus mencium, Geni menyalurkan tenaga Wiwaha. Gayatri merasa hawa panas dan dingin menerobos punggung, berputar di perut dan dadanya. Ia tahu laki-laki itu memiliki tenaga dalam tinggi. Ia tahu lelaki itu membohonginya, ciuman itu hanya akal-akalan belaka.
"Kurangajar, ia kan bisa menolong dengan tangan menempel di punggungku." katanya dalam hati, namun tak dipungkiri adanya kenikmatan yang ia rasakan saat berciuman. Tanpa sadar ia membalas, ia mulai dirangsang birahi.
Geni merasakan hal yang sama, sebuah kenikmatan tersendiri. Ia merasa rangsangan birahi merambah ke seluruh tubuh. Tapi ia berhasil mengendalikan diri. Ia melepas rangkulan dan ciumannya. Gayatri menolak tubuh Geni. Lelaki itu mundur, menjauh. Dua pasang mata saling tatap. Wajah Gayatri memerah, malu. Ia duduk semedi. Tenaga dalam yang disalurkan Geni tadi telah membangkitkan tenaga dalamnya sendiri. Dalam seminuman teh, tenaga dalam Gayatri telah pulih sebagaimana sediakala. Dia melompat berdiri. Sambil membenahi pakaiannya, sepasang matanya yang coklat melotot menatap Geni.
"Sebutkan namamu, sebelum kurampas nyawamu!"
Geni tersenyum nakal. "Kau mau membunuhku? Aku tak bersalah, malah aku sudah menolongmu, kenapa mau membunuhku?"
Dua nona baju hijau berseru dalam bahasa India. Geni, meski tidak mengerti namun bisa menebak. Urmila dan Shamita mohon Gayatri menolong mereka lebih dahulu. Tetapi si majikan menolak.
"Kenapa aku mau membunuhmu? Kau telah membuat dua dosa, memandangi tubuhku yang paling rahasia, belum pernah ada lelaki yang melihat dadaku. Dosa nomor dua, kamu menciumku. Aku belum pernah dicum orang, kamu sudah kelewat batas." Pipinya merah karena malu. Ia berhenti, matanya yang indah itu berkedip gugup menatap Geni. "Sebenarnya aku harus berterimakasih kau telah menolongku, tetapi kamu telah menodai kehormatanku, mempermalukan aku."
"Baik, kamu benar, aku salah, silahkan ambil nyawaku, Gayatri."
Gayatri melancarkan pukulan ke dada Geni, ia menggunakan separuh tenaga. Entah mengapa rasanya ia enggan melukai lelaki itu. Sesungguhnya ia hanya ingin memberi pelajaran pahit kepada Geni. Pukulan itu menerpa dada Geni yang terlempar beberapa langkah. Geni tahu persis pukulan itu tidak membahayakan dan melihat dari wajahnya dia yakin Gayatri tidak berniat membunuh. Lagipula dia percaya tenaga Wiwaha bisa mengatasinya. Itu sebab dia menerima pukulan si gadis tanpa mengelak atau membalas.
Gayatri terkejut. Ia heran mengapa pukulannya bisa mengena, mengapa Geni tidak mengelak. Gayatri melihat Geni bangkit, berdiri dengan senyum menggoda. "Rupanya kamu tidak sungguh-sungguh hendak mencabut nyawaku. Terima kasih, Gayatri."
Sesaat kemudian Gayatri sadar lelaki itu sedang mempermainkannya. Gayatri marah. "Kau kurangajar, kamu mempermainkan aku."
Kali ini Gayatri menyerang dengan jurus ganas. Dia tahu, Geni pendekar berilmu tinggi. Tahu bahwa gadis itu marah, Geni kini tak berani main-main, dia tak mau celaka. Pertarungan tangan kosong di dalam rumah tua makin lama makin seru. Dinding dan tiang rumah tua itu patah kena hantaman tenaga dua pendekar itu. Rumah akan roboh.
Gayatri berteriak, "Tunggu dulu, kamu jangan lari, awas kalau kamu lari."
Sambil berteriak ke arah Geni, Gayatri melepas ikat pinggangnya, menyabet ke arah dua anak buahnya. Dia memegang bagian tengah tali, dua ujung tali itu melilit tubuh kedua gadis baju hijau, menarik mereka keluar dari reruntuhan rumah. Saat yang sama rumah itu roboh. Gayatri kemudian menotok punggung dua anak buahnya itu. Dia mulai menolong, menyalurkan sebagian tenaga dalam.
Seminuman teh dia menolong anak buahnya. Masing-masing tangannya menempel di punggung anak buahnya. Setelah merasa cukup, ia berdiri, matanya mencari-cari Geni. Tetapi lelaki itu tak kelihatan.
"Hei, kemana kamu pengecut? Jangan lari kalau memang jantan." Gayatri membanting kakinya, kesal.
"Aku di sini, kau melarang aku lari, jadi aku tidak lari. Aku menunggumu disini, aku tidak akan lari meninggalkan perempuan yang cantik macam kamu."
Gayatri menoleh ke arah suara. Dia melihat Geni duduk di atas dahan pohon.
Geni menggapai dengan tangan. "Hai, sudah kau sembuhkan mereka?"
Gayatri marah. Dia menyerang dengan senjata tali tipis. Ujung tali itu terikat sebuah bor dari logam baja. Bor berbentuk kerucut itu kecil, tapi tampaknya tajam sekali, mengkilap ditimpa cahaya senja. Bor itu berputar mengeluarkan suara desis. Tali bergerak seperti ular. Tali juga bersifat pegas, bisa ditarik dan diulur. Geni hampir tidak bisa melihat tali itu saking tipisnya. Dia hanya merasa getaran udara mendekati tubuhnya. Kali ini tak berani main-main. Ancaman senjata itu sangat serius.
Geni bergerak dengan ringan tubuh Waringin Sungsang melompat dari pohon. Gerakannya cukup cepat, tetapi bor itu mengikutinya seperti bayangan. Geni teringat perempuan India bernama Malini yang pernah dia kalahkan dua tahun lalu. Malini juga bersenjatakan bor yang disebutnya bor maut karena setiap menyerang selalu mengambil nyawa korban. Tapi ukuran bor Malini lebih besar. Ia menebak pasti Gayatri ada hubungan dengan Malini dan Kumara. Geni mengelak, berlari mengelilingi arena.
Gayatri tertawa, suaranya merdu. "Kamu lari macam anak kijang dikejar harimau. Lebih baik menyerah dan mencium kakiku, baru boleh kuampuni."
Geni berhenti bergerak, berdiri diam. Dia telah menyalurkan tenaga Wiwaha ke seluruh tubuhnya. Lalu memainkan Jurus Penakluk Raja. Tangan kiri terentang seperti menerima senjata lawan sementara tangan kanannya bergerak dalam putaran kecil. Daya pegas dan tenaga bor yang mengancam tubuhnya dipindah ke arah pohon. Bor itu melesat kencang ke arah pohon.
Gayatri terkejut, senjata bornya seperti membentur udara kosong. Lalu mendadak bor itu mengarah ke pohon. Dia menarik talinya dengan kedutan, lalu menggerakkan ujung tali yang lain. Kini Gayatri mengendalikan tali dari bagian tengah dan menyerang Geni dengan dua ujung tali. Dua bor itu bagaikan bayangan hidup yang mengincar seluruh tubuh Geni.
Luar biasa. Geni kagum ilmu gadis ini cukup tinggi. Jurus bor itu sangat langka, dan tenaga dalam si gadis juga cukup ungkulan. Geni timbul kegembiraan menguji lebih lanjut Jurus Penakluk Raja. Dia mengerahkan tenaga Wiwaha sepenuhnya, mengisap dan menolak, mendorong dan menarik. Gerakan itu mendatangkan angin keras yang mengombang-ambingkan dua bor maut itu.
Dua puluh jurus berlalu. Dua gadis berbaju hijau berdiri di luar arena, tenaga mereka sudah pulih. Mereka terkesima menyaksikan dua muda mudi itu adu kebolehan. Salah seorang berseru dalam bahasa India. Gayatri menjawab dengan suara bernada tinggi, tampaknya dia marah. Geni menebak bahwa Urmila dan Shamita ingin membantu mengeroyok, Gayatri menolak dengan marah.
"Gayatri, jangan malu, biarkan mereka maju membantumu, biar kita menjadi imbang." Geni menggoda.
"Huh, kau pikir kau sudah menang, dasar lelaki tak tahu diri, lihat ini," sambil berkata Gayatri mengubah jurusnya.
Kini dua bor tak lagi berputar-putar, tetapi menusuk macam tombak panjang. Tali itu bisa lemas, bisa tegang, lunak dan keras bergantian. Kini Geni terancam. Pada jurus ke dua puluh sembilan salah satu bor melukai lengan Geni. Kulit dan daging terkelupas. Gadis itu tak pernah tahu Geni sengaja mengalah.
Geni sendiri merasa aneh, dia tak tahu mengapa timbul kenakalan dan kegembiraannya menggoda gadis cantik ini. Luka di lengan itu tak akan membuat ia mati atau luka parah. Begitu lengannya terluka, Geni teriak kesakitan. Darah menetes dari lukanya. Gayatri berhenti menyerang.
"Bagaimana jurusku, hebat tidak? Itu namanya jurus Memukul Buaya Mata Keranjang." Gadis itu tertawa.
Geni memegang lengannya. Darah. "Aku menyerah kalah, kamu hebat Gayatri. Kamu tampak gembira bisa mengalahkan aku, tetapi tolong ampuni kesalahanku, jangan kau cincang aku, silahkan bunuh saja aku karena kebetulan aku sudah bosan hidup."
Geni lalu menyentuh lukanya, membawa jarinya ke lidah. Mendadak dia merasa lidahnya gatal. "Ada racun, kamu memakai racun," Kaki Geni gemetar, berdirinya limbung. Geni lemas, pelan-pelan ia jatuh terlentang. "Racun apa ini?"
"Sekarang kau kena batunya. Racun laba-laba hitam ini akan membuat kau mati dalam waktu dua hari. Hanya aku yang punya pemunahnya, aku akan menolongmu tetapi ada syaratnya." Gayatri tertawa dan bertingkah seperti seorang ibu memarahi putranya yang nakal.
Geni mengeluh. "Aku lemas, tenagaku hilang. Apa syaratnya, sebutkan, jika terlalu sulit ya aku terima mati saja, mati bagiku juga enak karena kebetulan aku memang sudah bosan hidup."
Gayatri berdiri di dekat Geni. Dua pembantunya bergerak mendekat. Gayatri membentak. Pembantu itu mundur agak jauh dari tempat kejadian. Geni mengerti bahwa Gayatri tak mau pembicaraan didengar dua pembantunya. Gayatri meniru gaya bicara Geni sewaktu hendak menolongnya tadi.
"Sulit, sangat sulit."
"Apanya yang sulit, sebut saja."
Gayatri tersenyum, memandang Geni yang terbaring di dekat kakinya. "Pertama, kau harus mencium kakiku, mohon ampun atas dua dosamu itu."
"Aku pasti mau, tadi sudah mencium mulutmu sekarang kakimu. Mencium kaki perempuan cantik macam kau, aku mau saja, malah senang."
Gayatri heran. Apakah di tanah Jawa para pendekar tidak merasa malu mencium kaki lawan mohon ampun. Gayatri tak mau menyerah begitu saja. "Tidak semudah itu, masih ada syarat lain, tetapi sekarang belum terpikir, hitung-hitung kau berhutang padaku, kamu bersedia?"
"Aku tak mau. Bagaimana kalau nantinya kau minta nyawaku, aku tak mau mati konyol."
"Sekarang sebenarnya kamu sudah mati, racun itu tak ada obatnya. Jadi seandainya nanti aku menagih nyawamu, kan sama saja. Lagipula tadi kau katakan kau sudah bosan hidup."
Geni tertawa. "Kau pintar bicara. Baiklah, hitung-hitung kau meminjamkan hidup padaku, begitu kan? Suatu waktu nanti kau akan mengambilnya lagi, baik aku bersedia."
"Belum tentu aku menagih nyawamu, bisa saja permintaan lain, pekerjaan yang mudah kau lakukan atau yang sulit. Nah, sekarang lakukan syarat pertama dulu, mencium kakiku dan mengemis mohon ampun.”
Wisang Geni membalik tubuh, bergerak seperti hendak jongkok. Mendadak dia melenting. Gayatri kaget. Terlambat, Geni sudah mencolek pipinya. Gadis itu menampar kepala, Geni merunduk dan mendorong pundak. Gayatri menangkis. Dalam sesaat keduanya sudah saling menyerang. Sepuluh jurus berlalu, Geni memainkan Jurus Penakluk Raja dengan tenaga Wiwaha yang utuh. Gayatri mengerahkan segenap ilmu dan tenaga dalamnya.
Memasuki jurus dua puluh, Gayatri mulai terdesak. Geni masih ingat ketika bertarung lawan Malini dua tahun lalu. Sama seperti Malini, Gayatri juga memainkan jurus tenaga bumi, yang intinya mengalihkan tenaga lawan dan memunahkannya ke bumi. Geni menggunakan jurus Prabhawadan Raga, menerima tenaga lawan dan mengirim kembali ke lawan.
Geni menambah sedikit tenaga sehingga jika terkena telak Gayatri tidak akan terluka parah. Gadis itu terkejut, tenaga pukulannya lenyap ke tempat kosong, saat berikutnya pukulan Geni datang bagai air bah. Gayatri tak sempat menghindar, hanya bisa menutup diri dengan tangan di depan dada.
Melihat majikannya terancam, dua gadis baju hijau menyerang Geni dengan pukulan jarak jauh. Geni mengubah jurus, tetap memukul Gayatri dengan kanan, tangan kirinya dengan gerak memutar mengisap pukulan dua gadis berbaju hijau. Gayatri kritis. Tetapi Geni tak berniat melukai, saat terpaut beberapa jengkal dari tubuh Gayatri, Geni mengalihkan serangannya ke pohon di samping gadis itu. Saat bersamaan tangan kiri mengalihkan pukulan dua baju hijau ke pohon lain. Dua pohon yang besarnya sepelukan manusia itu patah dan tumbang.
Geni tak berhenti, ia menerjang dan sekali cengkeram berhasil menawan Gayatri yang lemas tak berdaya. Ia memeluk gadis cantik itu. Keduanya saling tatap. Gadis itu merunduk.
Gayatri berkata lirih, "Kenapa kamu tidak meneruskan memukul? Huh, belum tentu aku akan terluka." Gadis ini tetap belum mau mengaku kalah. Ia tetap membiarkan tubuhnya dipeluk Geni.
"Ya, ilmu silatmu tinggi, aku yakin kau tidak akan terluka, cuma aku memang tidak suka memukul perempuan cantik."
Gayatri mengalihkan pembicaraan. "Siapa nama kamu? Apakah kau orang yang bernama Wisang Geni?"
Wisang Geni tidak terkejut. Dia sudah menduga sejak awal, begitu mengetahui ilmu silat Gayatri satu aliran dengan yang dimiliki Malini. "Dia pasti datang mencari aku, pasti urusan balas dendam kekalahan Lahagawe oleh Eyang Sepuh Suryajagad. Dulu Malini dan Kumara yang diutus membalas dendam, gagal karena kukalahkan. Kini Gayatri yang diutus bersama dua pembantu dan mungkin beberapa orang lain yang tak tahu seberapa tinggi ilmu silatnya."
"Aku orang tidak dikenal, panggil saja aku orang tak punya nama, eh tadi kau menanyakan Wisang Geni? Apa sih hebatnya orang bernama Wisang Geni itu, mau apa kau mencarinya, kau mengenalnya di mana?"
Gayatri meronta melepaskan diri dari pelukan. Ia menyentuh lengan Geni. "Lukamu masih berdarah. Biar kubalut," sambil gadis ini merobek sebagian selendang yang melilit tubuhnya. Dia membalut lengan Geni. Dia melakukan itu dengan lembut dan cekatan. "Aku baru datang dari Hirnalaya, belum punya teman, dan baru kamu orang pertama yang kukenal si pendekar tanpa nama. Aku belum kenal Wisang Geni, aku lihat kepandaianmu sangat tinggi, bagaimana kalau kamu dibandingkan Wisang Geni, apa benar dia pendekar berilmu tinggi? Apakah kau pernah tarung dengannya?"
"Aku tidak bisa mengalahkan dia, dan dia juga tidak bisa mengalahkan aku."
Gayatri terdiam Pikirannya menerawang. Dari pertarungan tadi, dia bisa mengukur kepandaian lelaki itu. Dia tidak yakin bisa mengalahkan lelaki penolongnya, sehingga kata-kata si lelaki tadi ibarat penjelasan tingginya ilmu silat Wisang Geni.
"Dia tidak bisa mengalahkan Wisang Geni dan Wisang Geni juga tak bisa mengalahkannya, berarti mereka berdua sama imbang. Jika demikian masih ada peluang aku mengalahkan Wisang Geni, apalagi jika aku maju bertiga dengan jurus Hirnalaya." Berpikir demikian Gayatri merasa lega.
Geni ingin tahu lebih banyak tentang Gayatri. "Ada urusan apa kau mencari Wisang Geni, apakah kalian bermusuhan? Kalau perlu aku akan membantumu!"
Gayatri menghela nafas. "Urusan balas dendam. Tetapi aku sebenarnya pergi diam-diam, pasti ayah ibuku akan mencariku. Aku tinggalkan pesan, aku ke tanah Jawa mau balas dendamnya kakek."
Geni semakin yakin Gayatri ini ada hubungannya dengan Malini dan Kumara. "Aku pernah tahu ada sepasang pendekar dari negerimu, kalau tidak salah mereka suami isteri. Perempuannya bernama Malini, dia cantik tetapi tidak secantik kamu, ilmunya tinggi, ia juga jahat dan kejam, banyak pendekar negeri ini mati dibunuhnya."
"Suami Malini bernama Kumara, mereka murid adiknya kakek. Beberapa bulan lalu Kumara pulang ke Himalaya, sendirian, isterinya masih di tanah Jawa. Dia menceritakan kekalahannya dari Wisang Geni, yang konon murid kesayangan pendekar tua Suryajagad. Aku penasaran mendengar ceritanya. Ketika dia kembali ke Jawa, diam-diam aku mengikutinya. Dia sekarang ini pasti sudah berada di negeri ini, katanya Malini sudah melahirkan seorang putra."
"Dia pasti tahu kau mengikutinya, tak mungkin kau bersembunyi di perahu tanpa dia mengenalmu."
"Tidak. Dia berangkat dengan perahu lain, aku berangkat belakangan. Sekarang aku menyesal tidak bersama-sama dengannya, aku ingin mencarinya, jika bersama Malini dan Kumara, pasti aku lebih aman."
"Kau ingin membunuh Wisang Geni?"
"Aku bukan pembunuh, aku tak punya niat membunuh. Kakek juga tiak pernah menyuruh aku membalas dendam, lagipula kakek sudah mati. Aku hanya ingin menjajal kepandaiannya, tetapi kalau dalam pertarungan dia mati terbunuh, ya itu kan resiko kita yang mempelajari ilmu silat,"
Geni penasaran. "Tadi katamu, kakekmu itu pernah dikalahkan oleh guru Wisang Geni, begitu?"
"Itu dua puluh lima tahun silam, mungkin aku belum dilahirkan. Kakek menjadi penasehat seorang raja di tanah Jawa, dan Ki Suryajagad berada di pihak lawan. Kakek kalah dalam tarung, menurut cerita, kakek mengakui Suryajagad seorang pendekar sejati. Itu sebab kakek tak pernah dendam."
"Lantas mengapa Malini dan Kumara datang ke negeri ini, katanya mau membalas dendam kakekmu?"
"Ceritanya lain, sebenarnya yang paling penasaran terhadap Ki Suryajagad adalah adik seperguruan kakek. Dia bertekad menebus kekalahan, mungkin beliau yang mengutus Malini dan Kumara. Tapi aku heran, mengapa kau bertanya terus, sepertinya kau tertarik cerita ini."
Geni tersenyum. "Aku suka melihat gayamu bicara, lagipula aku ingin tahu semua tentang dirimu, hanya itu."
Gadis itu merasa jantungnya berdebar keras. Ia suka pujian itu, "Mengapa?"
Geni tertawa. Dia membawa telunjuk jari ke mulutnya.
Gayatri mengerti isyarat itu. "Kau kurangajar, kau berulangkali menghina aku." Saking kesalnya, gadis itu membanting kaki. Dua pembantu berbaju hijau bergerak maju, Urmila berkata dalam bahasa India. Tetapi sekali lagi Gayatri membentak.
Geni ingin tahu. "Apa kata anak buahmu itu?"
Gayatri tersenyum sinis. "Mereka mau maju serentak, mengeroyok kamu menggunakan jurus tiga bersatu padu, tetapi aku bilang, kurcaci macam kamu belum pantas dikeroyok."
"Mengapa kau tak mau membunuh aku?"
"Terus terang, aku tidak yakin bisa mengalahkan kamu. Kedua, kamu tak boleh mati sebelum membayar hutang dua dosamu itu."
"Bayar hutang? Bagaimana caranya?"
"Hutang pertama, kamu antar aku ketemu Wisang Geni, aku akan menantang tarung. Katakan kepadanya jangan main keroyok memanfaatkan banyaknya murid Lemah Tulis. Hutang dosa kedua, belum bisa kukatakan sekarang, lain waktu saja."
"Baik, aku akan antar kamu menemui Wisang Geni, nanti beberapa hari lagi kita ketemu di sini."
"Hei, tidak bisa begitu, aku mau sekarang juga kamu antar kami."
"Sekarang tidak bisa, aku sudah ada janji. Janji ini lebih dahulu dari janjiku padamu, jadi kamu harus menunggu giliran."
"Kamu janji dengan siapa, dengan perempuan?"
Geni tertawa, dia heran gadis ini bisa menebak jitu. "Iya, memang janji dengan perempuan, bagaimana kamu bisa menebak jitu?"
"Apa dia cantik, lebih cantik dari aku?"
"Dia memang cantik, perempuan paling utama di negeri ini. Tetapi kalau cantik, aku pikir kamu lebih cantik, lagipula dia belum pernah kucium." Geni tertawa.
Gayatri merasa jengah dan malu. "Kamu harus datang menemuiku, jangan ingkar janji, awas kamu kalau ingkar janji."
"Aku pasti akan mencari kamu. Tetapi sebaiknya kamu jangan menunggu aku di hutan ini, lebih baik di desa Gondang, jaraknya dua hari perjalanan dari sini."
"Baik, kita ketemu di desa Gondang, berapa hari lagi?"
"Desa Gondang arah ke Barat, dua hari perjalanan dari hutan ini. Kamu istirahat tiga hari, pada hari kelima atau keenam, kita sudah akan jumpa lagi. Aku pergi." Geni melesat pergi.
Gayatri berteriak, "Hei, kamu jangan bohong."
Terdengar sahutan, "Lima hari dari sekarang aku akan menjumpai kamu"
Gayatri menghela nafas. Dia merasa lelaki itu telah merebut hatinya. Dia membayangkan tubuh Geni, tegap, kulit sawo matang dan wajah tak begitu tampan, rambut putih ubanan, aroma tubuhnya yang keras. Ia jantan dengan ilmu silat yang tinggi. Gayatri tak pernah bayangkan ada orang memiliki tenaga dalam setinggi itu yang bisa mengusir racun laba-laba dengan pengerahan tenaga hanya dalam waktu yang begitu singkat.
"Aku sudah berjanji pada orangtua, hanya lelaki yang bisa mengalahkan aku saja yang akan kupilih menjadi suamiku, apakah dia yang menjadi jodohku?" Gayatri tersenyum sendiri membayangkan kenakalan Wisang Geni.
Dan ciuman itu, begitu menggelitik dan menggugah birahinya. Tanpa terasa jari Gayatri meraba bibirnya, seakan-akan bibir Wisang Geni yang hangat itu masih menempel. Urmila dan Shamita saling pandang dan tersenyum geli melihat tingkah laku Gayatri.
Tak tahan merasa geli, Urmila berbisik, "Putri, aku lihat dia sudah menaklukkan hatimu. Putri, sehebat apa sih ciumannya?"
Shamita tertawa. "Putri, kulihat kamu diam saja dipeluk lelaki itu, bahkan tubuhmu gemetar. Putri, kupikir kamu sudah jatuh cinta."
Pipi Gayatri memerah saking malu. "Siapa bilang aku jatuh cinta? Aku hanya teringat ayah dan ibu." Ia memburu dua pembantunya. "Berhenti menggoda atau aku hajar kalian," kalanya sambil tertawa. Ia menambahkan, "Jika lelaki itu mempermainkan aku, akan kubunuh dia."
Urmila menjawab, "Aku yakin dia tak main-main, percayalah. Aku melihat dia begitu terpesona akan kecantikanmu, Putri."

2 komentar:

  1. Horeeeeee.....akhirnya apdet juga pendekar tanpa tandingnya. Makasiii gan isamu takeoo...ditunggu yaa sequel berikutnyaa :* :*

    BalasHapus
  2. Seperti anak kecil yang baru mendapatkan mainan impiannya seperti itu pula saat lanjutan cerita ini hadir.
    Mantab..!!!

    BalasHapus