Selasa, 26 Desember 2017

Senggol Sana Senggol Sini 5



"Mbak Berta ada di rumah, Mas?" Nadia bertanya sambil melangkah mendekati tempatku duduk. Kemudian setelah menarik salah satu kursi teras di dekatku, dia langsung duduk dengan sikap santai yang tampak manis dan menyenangkan.
"Dia lagi pergi, mengantar temannya beli baju." sahutku. Ini adalah sore keesokan harinya—setelah peristiwa mesumku bersama Maya di depan TV. Sekarang Maya sedang diantar oleh Berta untuk belanja baju, meninggalkanku sendirian di rumah.
"Jadi, Mbak Berta pergi, ya?" kudengar Nadia berkata lagi. "Padahal aku membawakan tanaman hias yang telah kujanjikan kepadanya kemarin."

Mendengar perkataannya itu, mataku melayang ke arah pot bunga yang dibawanya. Memang itu tanaman yang unik, daunnya berbintik-bintik dan bergerombol lebat dengan kombinasi warna hijau dan putih yang indah. Aku yang juga menyukai jenis-jenis tanaman hias, tak tahan untuk tidak mengomentarinya. Baik sekali Nadia membawakan tanaman seindah itu untuk istriku.
"Dari mana tanaman hias yang indah itu?" tanyaku kemudian.
"Kubeli di pameran tanaman."
"Berapa kami harus mengganti harga tanaman itu?" aku bertanya seenaknya.
"Nggak usah." Seperti yang kuduga, Nadia memang tidak mau uangnya kuganti. "Ini oleh-oleh dariku untuk Mbak Berta. Dia pernah berkata bahwa kalau kebetulan aku melihat tanaman hias yang unik, tolong belikan dulu. Tetapi untuk kali ini, uangnya tak usah diganti."
"Wah, terima kasih. Nanti akan kukatakan kepada istriku.”
“Ya, mudah-mudahan Mbak Berta suka.”
Nadia beranjak dari tempat duduknya, berniat untuk pulang. Padahal aku masih ingin mengobrol dengannya. Tak bosan rasanya menatap wajah cantik yang memiliki daya tarik luar biasa ini. Tetapi demi aturan sopan santun bertetangga, aku tidak ingin memaksanya tinggal. Maka kubiarkan dia pergi.
Aku melanjutkan membaca buku, menunggu istriku dan Maya pulang. Kira-kira setengah jam kemudian tatkala aku sudah tenggelam dalam bacaanku, mereka pun muncul. Istriku mengenakan blus longgar dan celana panjang hitam, sedangkan Maya memakai celana jeans dan kemeja berpotongan feminin. Jahitan di bagian pinggang menyebabkan lekuk tubuhnya yang indah jadi sangat kentara.
Apa dia sengaja pamer kepadaku ya? batinku dalam hati. Mereka sama-sama cantik, jadi terlihat sama-sama menarik di mataku. Jadi bingung seandainya disuruh memilih mau mengentoti yang mana duluan!
Kuikuti mereka masuk ke dalam. Istriku segera menyiapkan makan malam. Maya duduk bersamaku, membuka-buka belanjaannya di ruang tengah. Dia bercerita macam-macam, tapi aku lebih sibuk memperhatikan gerak bibirnya. Sungguh, cantik sekali dia. Meskipun banyak orang mengatakan Berta berwajah jelita, tetapi rasanya dia tidaklah secantik Maya.
Melihatku diam, Maya segera berkata. “Heh, kok malah bengong?”
“I-iya, aku suka bengong kalau di depan wanita cantik.” jawabku jujur.
“Huh, gombal!” dia melemparkan belanjaannya kepadaku. Sebuah beha dan celana dalam.
“Ah, sayang cuma bungkusnya. Seandainya isinya ikut dilempar...”
"Ihh, dasar mesum!” Maya mengambil buku yang masih ada di tanganku, lalu dengan bercanda dipukulkan ke jidatku.
“Aduh! Sakit, May!” aku meringis.
Dia tersenyum, memandangku lekat. Maya memberiku tatapan yang kukenal secara pasti. Tatapan yang sama dengan wanita-wanita yang berhasil kupecundangi dengan rayuanku, tatapan seorang wanita yang tertaklukkan. Tatapan seorang wanita yang… haus akan sentuhan. Dan itu sangat menyenangkan!
“Eh, mandi yuk. Sudah sore. Kamu dulu apa aku dulu?” aku bertanya.
“Kamu duluan juga tidak apa-apa,” jawabnya.
“Atau kita mandi bareng aja?” candaku.
Dia hanya terkikik lalu mencubit pinggangku. “Jangan nakal ah, ada istrimu tuh di dapur!”
“Memangnya kenapa, mumpung dia nggak tahu.”
“Kamu nekat sekali, Gun!
“Anggap saja menyambung yang kemarin,”
Dia terdiam. Senyum di wajahnya menghilang. Aku jadi menyesal telah menyudutkannya.
“Eh, anu… emm... maksudkuaku minta maaf kalau telah bertindak sangat kurang ajar kepadamu, May.” kataku terus terang mengungkapkan apa yang masih mengganjal di pikiranku.
Maya kembali tersenyum, sebuah reaksi yang kurang bisa kuterka. Tidak apa-apa, Gun. Kamu nggak perlu minta maaf untuk itu.” jawabnya sambil tertunduk.
“Sakit sekali ya? Aku lihat kamu menangis kemarin. Maaf kalau aku sampai melukai. Bukan maksudku...”
“Sst... sudah, jangan dipikirkan. Aku tak apa-apa. Toh aku juga bukan perawan, malah aku sudah punya dua orang anak. Aku paham betul kebutuhan laki-laki!” dia nyengir, lucu.
“I-iya. Hehe,”
“Sebenarnya aku tak keberatan membantu kamu melampiaskan hasrat. Maksudku… kalau kamu masih mau… aku… ehm, anu...”
“Iya, May. Aku mengerti. Makasih ya!” Kugenggam tangannya.
“Tapi, ehhmemang ngilu sekali sih! Habis, punya kamu...” jawabnya terbata-bata sambil tetap menunduk malu. Bikin jadi tambah gemes.
“Terlalu besar ya?”
Dia mengangguk. “Besar, dan panjang!”
Tapi masa begitu sakitnya sampai membuatmu menangis?”
Ooo, masalah nangis itu… akuah, hanya agak kaget dan kacau. Maaf kalau tangisan itu membuatmu merasa bersalah. Maksudku, kamu tak usah memikirkannya, karenaaku... eem… akujuga menikmatinya kok!
Bener kamu menikmatinya?”
Maya tidak menjawab, hanya kulihat mukanya jadi tambah memerah. Aku sih yakin dia menikmatinya. Dari lenguhan, rintihan, juga orgasmenya yang berkali-kali itusudah jelas kelihatan. Dan sebelum kusodokkan kontolku ke lubang memeknya, dia pun sudah sangat basah. Tapi, aku cuma ingin mendengar langsung dari mulutnya. Menjajaki sejauh mana wanita cantik ini mampu berbicara vulgar.
“Iya, aku menikmati. Malah, aku sampai… anu… itu... berkali-kali!
“Orgasme, ya?” kuucapkan kata yang tak mampu ia utarakan.
Maya tersenyum geli, dan kembali melempar behanya kepadaku. “Jujur kuakui, lebih enak yang kemarin daripada yang pertama dulu.”
“Dan bagaimana sekarang, mau lagi?”
Maya ingin menjawab, tapi, “Duh, akrabnya yang lagi bercanda!” Istriku tiba-tiba muncul sambil membawa minuman, membuat kami langsung bergeser menjaga jarak. Aku tak ingin Berta mencurigai keintiman kami.
Setelah memberi Berta ciuman sekilas, lekas aku masuk ke kamar mandi. Agak lama aku berada di sana. Kutunggu hingga Berta memanggil dan ganti dia yang masuk ke dalam. Melihat tubuh sintalnya yang hanya berbalut handuk, aku agak On juga. Kupeluk dan kuciumi dia sebelum Berta melepas pelukanku.
“Sudah, aku mau mandi dulu. Ntar keburu malam,” serunya sambil mendorong tubuhku, lalu menutup pintu.
Begitu guyuran shower mulai terdengar, lekas aku mengendap pergi menemui seseorang yang sudah menunggu di dalam kamar.
“May?” aku memanggil.
Tanpa menjawab, Maya segera membuka pintu kamarnya. “Cepat masuk!” serunya berbisik, takut terdengar oleh istriku.
Di dalam, aku buru-buru melepaskan celana yang menempel di tubuhku hingga aku telanjang bulat. Lalu kudekati dia perlahan-lahan. Maya hanya menunduk, bahkan dari jarak ini, dapat kurasakan detak jantungnya yang berdetak kencang. Kusandarkan punggungnya ke tembok kamar, tepat di samping meja rias, lalu aku mundur selangkah.
Dalam jarak ini, aku tahu dia dapat melihat setiap sudut dari lekuk tubuhku yang memang sangat kujaga dengan rajin nge-gym.
“Kamu nekat amat, Gun. Bagaimana jika Berta sampai tahu?” dia bertanya.
“Aku nggak minta banyak kok, May. Cuma sebentar, yang penting bisa masukin kontol ke dalam memek kamu.
Maya diam. Sementara aku mulai beraksi. Pelan-pelan aku mengocok kontolku sambil pandanganku menjelajahi tubuh sintalnya. Kubuat pandanganku setajam mungkin hingga dia pasti merasa tertelanjangi dengan tatapanku itu. Aku masih terus mengocok kontolku yang sekarang sudah hampir seratus persen tegang, dengan ritme pelan.
Tak lama, Maya mulai bereaksi. Dia mulai mengangkat tangannya ke arah kontolku. Aku menghentikan kocokan dan memberikan kesempatan bagi jari kecilnya yang mulai mendekati kontolku. Dia memegangnya, mengelusnya lembut, lalu mulai meremasnya. Dan aku melenguh.
“Ahhh... May!”
“Besar sekali, Gun!” gumamnya sambil terus mempermainkan kontolku.
“Kamu suka?” tanyaku menguji.
Hehe… geli,” dia menjawab. “Membayangkannya saja sudah bikin punyaku ngilu!
“Memangnya, apa yang kamu bayangkan?” desakku.
“Ehm, yah… membayangkan melakukan hubungan suami istri seperti kemarin.” jawabnya.
Hubungan suami istri? Walah, kata-kata itu… membuatku penasaran ingin membikin dia bicara kotor.
Mungkin linu karena lorong vagina kamu pendek, jadi langsung mentok ke dinding rahim. Tapi dengan begitu malah semua relung kewanitaan kamu jadi terjamah semua. Benar kan?” pancingku.
Eh, iya. Kira-kira begitu. Mentok di punyaku!
May…”
Iya,”
Aku boleh cium bibir kamu?
Ehh,” Dia berpikir sejenak. “Boleh,Dia menyorongkan bibirnya ke bibirku, sambil matanya setengah terpejam. Aku menahan kepalanya dengan kedua tangan, menghentikan kecupannya sebelum sampai ke bibirku.
“Lho, kenapa?” tanyanya, dengan nafas sudah semakin berat. Aku tahu dia sudah luar biasa terangsang sekarang, hanya sisa-sisa keanggunannya yang masih bisa membuatnya sedikit dapat menahan diri.
Bukan bibir yang itu,” kataku sambil mengambil posisi jongkok. “Tapi bibir yang ini,” lanjutku sambil mengelus pelan memeknya dari luar daster yang ia kenakan.
Eh! Tapi, itu kan…”
“Iya, ini kan juga bibir. Tapi bibir bawah. Bibir vagina. Boleh ya? Aku ingin menciumnya.
Dia terdiam sesaat, lalu berkata pelan, “Gimana ya, Gun... aku belum pernah dicium di situ. Tapi, kalau kamu memang pengin, ya sudah. Silahkan saja!”
Aku tersenyum senang. Terima kasih, May.”
Dengan ragu-ragu, Maya memelorotkan celana dalamnya. Seiring turunnya kain tipis itu, vagina polosnya terpampang di depan mataku. Jembutnya lebat tapi tertata rapi. Di bagian tengahnya ada lubang mungil yang kemarin kubelah dengan kontolku. Celahnya berwarna kemerahan, dan terlihat berkilat karena lendir yang mulai membasahi. Memek yang sudah pernah mengeluarkan dua buah orok itu berwarna coklat tua, indah sekali.
Kupuaskan mataku memandangi sorga dunia itu. Tak berapa lama, ada cairan yang menetes. Ohh, ternyata Maya jenis perempuan yang berlibido tinggi. Dengan terangsang saja, cairan vaginanya sudah menetes-netes tidak karuan.
“Gun!” desahnya memelas.
Aku tahu apa yang mau dia katakan. Maka, sebelum dia berubah pikiran, bibirku sudah mendarat di atas lubang memeknya. Dia pun melenguh dan secara reflek mencoba melengkungkan badannya ke belakang, menghindari sapuan bibirku di mulut memeknya.
Uuuuuggghhhh…”
Tapi aku tidak kalah cepat, kutahan pantatnya. Tubuh Maya pun terjajar ke belakang, sampai punggungnya membentur tembok kamar, tepat di posisi di mana aku menyandarkannya tadi. Gerakan mundur sudah tidak bisa dilakukannya lagi. Aku membuka dan menyelempangkan paha kanannya ke pundakku. Dengan begitu akses mulutku ke lubang memeknya menjadi lebih luas. Memek itu terbentang pasrah beberapa centi dari hidungku.
Tak kusangka memek Maya beraroma lain, seakan aku bisa mencium hormon kewanitaannya yang ikut mengalir bersama dengan cairan memeknya.
Tanpa menunggu waktu lagi, aku mulai melumat memek yang menurut pengakuannya; baru sekali dicium oleh bibir pria. Aku mengulum, menjilat, menyedot, menyenggol-nyenggol klirotisnya dan menyodok-nyodok dengan lidahku. Memek itu benar-benar kunikmati. Dari ujung pusar di perut Maya sampai lubang anusnya tidak luput dari garapanku.
“Ughhh... Gun! Ituku kamu apakan?” Dia mendesah, tersengal, lalu menjerit dan meliuk-liukkan tubuhnya, menikmati setiap sensasi permainan lidahku.
Berkali-kali cairan vaginanya membanjir, berkali-kali pula aku tahu kalau dia orgasme. Tapi aku tak memberinya ruang untuk bernapas. Permainan lidahku terus menghajarnya sampai di satu titik, dia menjerit. Tubuh montoknya meliuk ke belakang, lalu ambruk ke samping. Maya mengalami orgasme yang begitu dahsyat, untuk yang ke sekian kalinya.
Dia rubuh, kakinya sudah terlalu lemas untuk menopang badannya yang sintal.
Lekas aku merengkuhnya, meletakkannya di dalam pelukan. Kami duduk menjeplok berdua di lantai. Badan lemasnya berlawanan seratus delapan puluh derajat dengan kontol tegakku. Masih di pelukan, walau tersengal-sengal, Maya nampak sudah mulai tenang. Aku dengan sabar menunggu sambil membelai-belai rambutnya yang panjang.
“Kamu tidak apa-apa?” tanyaku.
Hh, hh… kamu gila, Gun! Hh… badanku jadi lemas. Tulangku seperti dilolosi semua!” jawabnya dengan tersengal-sengal.
“Kamu menikmati yang tadi?” godaku sambil tersenyum.
Hh, eh... aku nggak bisa… mengungkapkan dengan... kata-kata! Baru sekali ini punyaku dijilat! Aku... hh, hh, hh…”
Tapi, May. Aku masih belum. Lihat, kontolku masih berdiri tegak!
Maya, masih dengan gerakan lemas, berusaha mengusap kontolku. “Waduh, aku bisa pingsan kalau kamu sodok sekarang! Tadi aja, entah berapa kali aku…”
Hehehe… ya sudah, kalau begitu kamu istirahat saja dulu!
“Gun, tadi itu...” dia bingung mau berkata. “Maksudku… cairanku... kamu telan yah?”
Aku cuma tersenyum nakal, sambil tanganku membelai bulatan payudaranya yang montok. Kuraba bergantian kiri dan kanan.
Makasih banget ya, Gun!” lanjutnya.
“Hah?
Sumpah, pernyataan ini aku tidak mengerti apa maksudnya. Aku hanya tersenyum, mencium sekilas bibirnya, lalu mengangkatnya berdiri. Kurapikan kembali kain dasternya yang awut-awutan. Kurasakan tubuhnya masih gemetaran. Aku tersenyum, merasa lucu, mengingat dia ini bukan perawan yang baru saja mengenal seks. Maya sudah beranak dua, tapi reaksinya tadi sungguh luar biasa.
Aku jadi bertanya-tanya; apa sih yang dilakukan Krisna selama empat tahun pernikahan mereka? Masa jilat memek saja tidak pernah? Atau malah, jangan-jangan dia juga tak pernah menyuruh Maya buat ngemut kontol.
Nantilah akan kutanyakan—dan kupraktekkan tentu saja. Betapa beruntungnya aku, mendapat wanita ‘perawan’ seperti Maya.
Bicara tentang perawan, aku jadi teringat waktu memerawani Kania, anak tetangga yang tinggal di sebelah, rumah yang kini ditempati oleh Nadia. Persis sama, Kania juga gemetaran setelah kugarap. Dan setelah beristirahat sebentar, dia malah yang mancing-mancing meminta tambah. Waktu itu, keperawanan anak kelas dua SMA itu dijual tujuh juta oleh ibunya, walau akhirnya aku kasih delapan—dengan bonus ibunya juga bisa kusodok sekalian. Kapanpun dan dimanapun, sampai mereka pindah dua bulan yang lalu.
Kembali ke Maya. Meski penisku masih ngaceng keras, sekarang kami harus berpisah dulu karena hari sudah beranjak senja. Sebentar lagi Berta akan selesai mandi. Terlalu riskan dan bahaya kalau aku memaksakan terus. Maya sepertinya juga mengerti, karena dia tidak menolak ketika kutinggalkan sendirian di dalam kamar.
Bagaimana mau menolak kalau kukabari besok aku berencana mengambil cuti untuk menemaninya seharian di rumah. Lemes, lemes deh!
Tapi rencana tinggallah rencana, karena esoknya istriku ternyata libur juga. Seharian dia di rumah, tidak syuting sama sekali. Sial, kontolku ngaceng, tapi tak bisa kusalurkan. Aku sange berat, begitu pula dengan Maya. Kulihat dia gemetar dan berkeringat dingin tiap berdekatan denganku. Mukanya memerah, tanda menahan sesuatu.
“Gimana ini, May?” aku bertanya saat kami hanya berdua di teras.
“Aku tak tahu, Gun.” lemas dia menjawab.
“Kita cari tempat lain saja. Menyewa hotel misalnya,”
“Mana bisa, istrimu nanti curiga!”
Ah, benar juga. Lalu, apa yang harus kulakukan? Berta bergabung dengan kami tak lama kemudian, hingga tak dapat kulanjutkan lagi pembicaraan itu.
Menjelang siang, istriku mengajak pergi ke rumah Nadia. Dia mau berterima kasih karena sudah diberi tanaman kemarin, dan berniat untuk menukarnya dengan kolak pisang yang ia bikin pagi ini.
“Kok repot-repot sih, Mbak!” Nadia menyambut kami dengan ramah.
“Ah, kolak ini tidak ada apa-apanya dibanding tanaman langka darimu.” Berta berkata. Dan selanjutnya, mereka pun terlibat obrolan soal tanaman. Seru sekali, hingga kehadiranku terabaikan. Di saat itulah, mumpung istriku lagi asyik ngerumpi, sebuah rencana tersusun dalam kepalaku. Lekas aku pun pamit kepada Berta.
“Sayang, aku pulang duluan ya. Ngantuk nih, mau tidur sebentar.”
“Ah, Mas Gun,” Nadia berkata, “Masak siang-siang sudah mau tidur!”
Aku hanya tersenyum. Sedangkan Berta memberi anggukan samar, mengijinkan. Aku langsung melangkah ke rumah dengan cepat, bahkan kalau bisa berlari agar cepat sampai—padahal rumahku tepat di sebelah. Aku sudah tak sabar ingin menjumpai Maya.
“Eh, Gun!” Maya melompat saat kuserbu pintu kamarnya.
“Ayo, May!” Kulepas celana, juga baju atasku.
“Berta kemana?” tanyanya begitu tubuh sintalnya kupeluk.
“Dia masih di sebelah!” Dengan kata-kata itu, kudesak dia ke ranjang.
Maya yang mengerti kalau kami tidak memiliki banyak waktu, lekas mengangkang, kemudian menyibak kain dasternya, dan mengarahkan kontol tegangku ke lubang memeknya yang sudah basah.
“Lho, mana celana dalam kamu?” aku bertanya, kaget.
“Sudah dari pagi aku nggak pakai.” Senyumnya. “Masak kamu nggak tahu?”
“Ugh, kamu memang nakal, May!” kataku suka.
Eeghhh… ayo, Gun! Kalau tidak dituntaskan, bisa-bisa aku gemetaran terus sampai sore! bisiknya.
Aku memandang matanya sambil tersenyum. Pantat Maya mulai turun sedikit demi sedikit pada saat mencoba melesakkan kontolku ke relung vaginanya. Dan seperti kemarin, mentok di titik setengah dari panjang kontolku. Maya menatap mataku. Aku tersenyum penuh arti.
Ehh... t-tunggu, Gun! Jang… AHHHKKKG!!!”
Dia tidak sempat menyelesaikan kalimatnya karena aku sudah mendahului dengan satu sodokan kuat. Tubuh mungilnya terlempar ke atas, lalu terjatuh lagi dengan kontolku masih bersarang di memeknya. Kubiarkan dia mengambil napas.
Ooogghh… besar sekali, Gun!
Apanya yang besar, May?” tanyaku berbisik.
Punyamu…”
Apaku?”
Punyamu, Gun!
Namanya apa?
Ooo… pe-penis!
Aku lebih suka bahasa Jawanya, May… namanya apa?”
Eeh… ko-kontolmu, Gun! B-besar sekali! Aku… heh… aku suka… enak!
Aku mengubah posisi, menelentangkannya. Kedua kakinya kini mencuat ke atas, dengan lembut kutaruh di kedua pundakku. Lalu sambil menatap kedua matanya, aku bertanya lagi.
“Namanya apa tadi, May, yang bahasa Jawa?”
Eehh… ko-kont... OUGHHHHHHH…!!”
Sekali lagi, sebelum dia menyelesaikan kata itu, aku sudah menderanya. Kali ini posisiku dominan sekali; Man On Top. Kedua kakinya yang aku selempangkan ke pundak, membuka akses seluas dan sedalam-dalamnya terhadap lubang memeknya. Sodokanku pun langsung kumulai dengan rpm tinggi. Kali ini bukan hanya merintih, Maya benar-benar menjerit.
Puas menghentak dinding rahimnya, aku memutar pantat. Diameter kontolku yang memang sudah menyesaki lorong memeknya, serasa memilin, menggesek setiap inci dari relung vagina sempit itu. Jeritan Maya pun berubah menjadi lolongan panjang. Mudah-mudahan istriku tidak sampai mendengarnya.
Penuh semangat aku terus mengayunkan pantat untuk mendorong dan menarik batang kontolku, tanpa sadar aku menggenjot memek Maya lebih kuat dan lebih cepat. Maya yang tidak sadar akan kejadian itu, malah terlihat tambah menikmati. Sambil mengerang, dia meremas-remas susunya kuat-kuat.
Perasaanku tambah tidak karuan. Di antara selangkanganku, Maya kelojotan mencapai orgasmenya entah yang ke berapa, sedangkan kontolku bagai piston panas, masih terus menggenjot dengan ganas relung memek dia.
Hampir sepuluh menit aku menggoncang dunia sempit sahabat istriku dalam posisi seperti itu ketika gelenyar kenikmatanku mulai terasa mendekat. Aku sudah hampir sampai, maka lekas kupercepat sodokan penisku. Maya pun sudah tidak nampak sebagai wanita anggun lagi; dia mengerang, melolong, dan menjeritkan banyak kalimat-kalimat kotor.
Argghh... sialan! Enaak... ooughh... dalam sekali k-kontolmu... aarrgghhh! Ahhhhhhhh... memekkuuaghhh! Entot terus memekku, Gun! Aduh... aduduh! A-aku keluar! Memekku moncrot teruuss!”
Sprei sudah basah tak karuan, cairan memek Maya seakan tidak berhenti mengalir dari orgasme ke orgasme yang ia dapatkan. Gencotanku kupercepat, Maya melengking, dan sesaat sebelum aku menyemprotkan sperma ke liang memeknya...
“Arrgghhhh!Dia tersentak ke belakang dengan keras, lalu tiba-tiba terdiam.
Apa boleh buat, aku terlanjur sampai di ujung. Dengan membenamkan kontolku sedalam-dalamnya, aku memuntahkan sperma ke rahim perempuan cantik itu. “Arrggggghhh!!” aku mengerang keras.
Maya buru-buru mencabut kontolku dari jepitan memeknya dan memasukkan benda itu ke dalam mulut. “Mmm, kontol kamu nikmat sekali hari ini, Gun!”
Aku dengan sisa-sisa tenaga mengangkat tangan dan memeluk punggungnya. Sesaat Maya menarik kepalaku untuk diajak berciuman. Aku menuruti. “Kamu luar biasa, May. Aku sampai lemas sekali!” kataku tersengal-sengal.
“Vaginaku rasanya juga mau jebol,” jawabnya. Ternyata sopannya sudah balik.
“Sakit?”
“Enaaakk!!
Kami berciuman lagi. Setelah puas, Maya beringsut bangun dan menuju kamar mandi. Lekas aku menyusul untuk mengentotinya sekali lagi, mumpung istriku belum pulang.


1 komentar:

  1. Mantapppppp kang.......
    Ehh..buatin najwa shihab dong yg hotsss...
    Yg digarap ma aki2 kayaknya bagus kang....

    BalasHapus