Kamis, 25 Januari 2018

Pendekar Tanpa Tanding 16



Siang itu Wisang Geni tiba di desa Karangploso, dekat pusat kerajaan Tumapel. Desa ini merupakan jalan masuk yang paling dekat menuju pusat kerajaan. Tidak heran jika desa ini ramai, banyak warung dan rumah penginapan. Penduduknya padat, jumlah para pendatang yang umumnya pedagang pun cukup banyak.
Di antara penduduk terdapat para punggawa kerajaan yang menyusup dalam penyamaran. Perang dingin antara kerajaan Tumapel dengan Kediri sudah bukan rahasia, itu sebab mata-mata kerajaan Tumapel disebar di desa ini, untuk menangkap siapa saja orang yang mencurigakan. Tangkap dulu baru diperiksa.

Ketika memasuki desa, Wisang Geni mengetahui ada orang yang mengikuti langkahnya. Geni pura-pura tak tahu, dia masuk warung dan memesan makanan. Ada tiga orang yang mengikutinya. Satu di antaranya pergi, dipastikan melapor ke atasannya. Dua rekannya tetap tinggal. Sampai saat itu Geni belum menemukan cara yang tepat untuk menemui permaisuri Waning Hyun. Mungkin dua mata-mata itu bisa dimanfaatkan.
Berpikir demikian, selesai makan Geni menghampiri pemilik warung. "Pak, saya ingin masuk ke keraton, bagaimana caranya, bapak bisa membantu saya?"
Pemilik warung memandang curiga, dia belum pernah melihat wajah Geni. Dia bergumam dalam hati, "Pasti dia orang asing, jangan-jangan orang Kediri, wah bisa celaka aku." Matanya memberi isyarat kepada dua mata-mata kerajaan itu, lalu berkata kepada Wisang Geni. "Orang muda, sampean punya keperluan penting di keraton?"
Terlintas bayangan Trini dan Ekadasa, pendekar ketiga dan kesebelas dari delapan belas pengawal keraton Tumapel. "Ah Bapak, jangan curiga. Aku mau menjenguk kekasihku, dia salah seorang dari pendekar pengawal keraton Tumapel."
Dua orang mata-mata itu sudah berada di dekat Geni. "Tuan, jika memang mau ketemu pendekar Tumapel, mari ikut kami."
Geni mengikuti dua lelaki itu. Keduanya bertubuh tegap, langkahnya ringan. Pandangan mata dingin, wajah serius yang sulit diajak senyum. Tiba di perbatasan desa, mereka menempuh jalan setapak. Samar-samar tampak pagar tinggi. Di balik pagar itulah keraton dan pusat pemerintahan kerajaan Tumapel.
Dari arah pintu gerbang, beberapa orang berlari ke arah Geni. Mereka berhenti di depan Geni. Jumlahnya tujuh orang. Ternyata mereka kawan dari kedua mata-mata itu. Kepala rombongan, seorang lelaki tinggi kekar bercambang dan rambut gondrong maju ke depan.
"Siapa sampean, maksud dan tujuan apa mau ketemu dengan punggawa Tumapel?"
"Maaf, aku cuma mau ketemu pendekar Tumapel yang bernama Trini dan Ekadasa, bawa dua orang itu kemari, maka semuanya akan jelas, dan sampean tak perlu terlalu sibuk."
"Tuturkan dulu maksud tujuan sampean."
Geni bergumam lirih tetapi bisa didengar semua orang. "Kalian cerewet macam nenek-nenek tua, maaf aku tidak punya banyak waktu, dan waktuku sudah terbuang percuma di sini." Berkata demikian Geni melangkah ke depan. Tentu saja sembilan orang itu marah.
"Lancang sekali, berani berlagak di depan keraton Tumapel, kamu pasti orang Kediri!"
Geni tetap melangkah. Tiga lelaki yang berada di depan langsung menyerang. Sekali bergerak Geni langsung menggunakan ringan tubuh yang paling hebat dari Waringin Sungsang. Tubuhnya bagaikan lenyap dari pandangan mata. Geni berkelebat ke pintu gerbang. Sembilan orang itu mengejar.
Di depan gerbang para pengawal menanti, semua menggenggam senjata di tangan. Pagar dan pintu gerbang sangat tinggi, tak mungkin bisa diterobos apalagi dihadang puluhan orang bersenjata. Geni merasa serba sulit. Tadinya dia berpikir, mudah menerobos keraton dan keputren. Ternyata tidak mudah. Jika menggunakan kekerasan pasti akan jatuh banyak korban. Tetapi tampaknya tidak ada jalan lain.
Geni mempersiapkan tenaga Wiwaha dan berkata lantang, "Mana pemimpin kalian?"
Seorang berkumis lebat maju. "Siapa kamu, nyalimu besar berani meluruk keraton Tumapel. Kamu punya nyawa rangkap berapa? Hayo ladeni aku, Nanggolo."
Lelaki itu menyerang dengan keris terhunus. Ada hawa panas menyembur dari tusukan kerisnya. Jurus yang digunakan juga ganas, menebar hawa kematian. Tetapi ilmu silat Geni sudah mencapai tingkat tinggi. Serangan itu tak ada artinya. Geni membiarkan keris menusuk dadanya. Nanggolo ragu-ragu, ia heran mengapa Geni tidak mengelak.
Geni memang tidak mengelak. Begitu ujung keris terpaut satu jengkal dari dadanya, Geni menggerakkan tubuh, tenaga Wiwaha menyedot tenaga lawan. Nanggolo terkejut merasa menusuk ruang hampa, ia hendak menarik serangan, tetapi terlambat. Tangannya tergetar hebat, rasa dingin menerobos lewat tangannya merasuk dadanya. Geni menggerakkan tangan, merebut keris dan mendorong. Nanggolo terhuyung mundur empat langkah. Dia hanya limbung. Geni memang tidak berniat melukai punggawa itu.
Pada saat itu bayangan gesit menerobos menyerang Geni. "Siapa kamu berani jual lagak di Tumapel?" Lelaki itu menyerang dengan pukulan beruntun.
Geni santai menangkis serangan lawan dengan tamparan. Terjadi bentrokan tangan. Tiga kali bentrok, lelaki itu mundur. Dia kesakitan, kedua tangannya merah bengkak. Lelaki itu kecil kurus dengan rambut gondrong. Dia menatap Geni dengan marah. Dia hendak mencabut keris ketika muncul dua punggawa mencegahnya.
"Hentikan, dimas." Dua lelaki yang baru datang, menatap Geni dengan pandangan menyelidik. "Siapa Tuan ? Apakah sampean sadar bahwa telah berbuat makar, memberontak terhadap kerajaan Tumapel?"
"Wah, sampean semua sudah melampaui batas. Aku ini datang ke Tumapel ingin ketemu Trini dan Ekadasa, bukannya dipermudah oleh anak buahmu, malah aku dikeroyok. Setelah aku dikeroyok, kini kamu menuduh aku makar, memberontak. Rupanya kalian memaksa aku untuk berlaku kasar. Tadi aku tidak mau melukai orang, tetapi jangan menyesal jika sekarang ada yang terluka atau mari."
"Sampean terlalu menganggap rendah Tumapel, aku ingin lihat sampai di mana kepandaian sampean sehingga begitu sombong." Dia menghunus pedang di tangan kanan, tangan kiri memegang sarungnya. Tanpa basa basi, dia menyerang. Sekali gebrak pedangnya menusuk tujuh titik, sarung pedang ikut menghantam kepala.
Geni kesal namun masih mengendalikan diri untuk tidak membunuh. Tetapi untuk mempersingkat tarung, ia memainkan jurus Prabhawa dari Penakluk Raja. Hanya satu gebrakan saja ia sudah nerampas pedang dan sarung lawan.
Semua orang terkejut. Lelaki itu, Patwelas, seorang dari delapan belas punggawa Tumapel, terkesima. Dia tak mengerti cara yang digunakan Geni merebut pedangnya. "Ilmu sihir," gumamnya.
Geni tertawa. "Ya, ini memang ilmu sihir. Awas, aku sihir pedang ini menjadi elang raksasa." Sambil Geni melempar pedang dan sarung ke atas. Semua orang terpancing memandang ke atas.
Pada saat itu Geni melesat dengan Waringin Sungsang, tangannya bergerak cepat, menyentil pelipis para serdadu dan punggawa. Geni tidak menggunakan tenaga besar, cukup membuat mereka pingsan. Pedang dan sarung jatuh ke tanah. Tidak terjadi apa-apa. Sesaat kemudian orang-orang itu sadar sebagian kawan mereka tergeletak. Mereka geger, memeriksa rekannya. Ternyata hanya pingsan.
Punggawa yang tadi datang bersama Patwelas, adalah Panca, pendekar nomor lima dari delapan belas punggawa Tumapel. Dia menggamit rekannya Patwelas. Keduanya tahu persis bahwa ilmu silat Wisang Geni sangat tinggi, tak mungkin bisa dilawan. Keduanya bingung, tak tahu harus berbuat apa.
Geni mengirim suara keras sampai menggema ke dalam keraton, "Hei, bawa keluar Trini dan Ekadasa, sebelum lebih banyak orang yang terluka."
Belum juga gema suaranya hilang, lima bayangan berkelebat masuk arena. Seorang di antaranya, Ekadasa, punggawa Tumapel nomor sebelas. Geni mengenal gadis cantik itu.
"Nah, ini dia, Ekadasa, kekasihku. Hei, kenapa kamu tidak cepat datang?"
Wajah Ekadasa merah saking malu. "Aku bukan kekasihmu! Eh, kenapa kau berbuat onar dan melukai banyak orang?"
"Kalau kamu cepat keluar mungkin urusan tidak sampai rumit begini. Tetapi tak usah khawatir, tak ada yang terluka, tak ada yang mati," Geni menunjuk punggawa yang tergeletak di tanah. "Mereka ini hanya pingsan untuk beberapa saat saja, tidak lama lagi mereka akan sadar. Hayo sekarang antar aku ke dalam."
Ketika Geni hendak bergerak maju, empat punggawa melapis di depan Ekadasa, menghadang gerak maju Geni. Ekadasa berbisik kepada salah seorang rekannya. "Dia adalah Wisang Geni, paduka permaisuri dan paduka raja sengaja mengundangnya. Dan ini rahasia, tak boleh diketahui banyak orang."
Ekadasa memberi hormat. "Silahkan masuk, tetapi perkataanmu tadi bahwa aku ini kekasihmu, tolong kamu ralat, soalnya itu menyangkut kehormatan diriku."
"Baik, aku minta maaf," Geni tertawa. Kepada orang-orang di sekitar, dia berkata, "Nona Ekadasa ini tak ada hubungannya dengan aku. Tadi aku cuma main-main, ia bukan kekasihku." Sambil mendekati Ekadasa, Geni bergumam, pelan dan hanya bisa didengar gadis itu sendiri. "Apa perlu aku remas bokongmu lagi?"
Secara naluriah, tangan Ekadasa bergerak melindungi bokongnya. Geni melangkah terus, tak peduli. "Kau kurang ajar," gerutu si gadis. Tetapi dalam benaknya, Ekadasa bertanya-tanya, apakah Geni punya perhatian khusus kepadanya atau hanya iseng.
Wisang Geni dikawal Ekadasa, Panca, Patwelas dan Nanggolo memasuki balairung. Beberapa orang tampak sedang menanti. Antaranya beberapa dari delapan belas pengawal kerajaan. Seorang lelaki separuh baya tampil ke depan.
"Ki Wisang Geni, ketua Lemah Tulis, selamat datang di Tumapel. Sudah lama kita tidak bertemu, aku prihatin dan belasungkawa atas kematian isterimu."
Geni membalas hormat. "Terimakasih atas perhatianmu, Ki Pamegat. Aku datang karena dipanggil permaisuri. Eh iya, aku harus memanggil apa kepada permaisuri?"
Belum sempat Pamegat menjawab, datang seorang utusan dari keputren. Gadis pelayan itu memberi hormat kepada Pamegat. "Mohon maaf paduka tuan, hamba diutus yang dipertuan gusti permaisuri, menjemput tamu yang bernama Ki Wisang Geni bersama paduka tuan Ki Pamegat."
Pamegat dan Wisang Geni berjalan di belakang gadis pelayan itu menuju keputren. Begitu masuk ke keputren, Geni mencium wewangian yang harum. Ruangan besar dipenuhi warna-warni tirai dan selendang. Beberapa dayang yang terdiri dari gadis-gadis remaja, cantik dan bersih, menyiapkan makanan di meja besar. Gadis-gadis tampak sibuk, meski sekali-sekali berhenti memberi hormat kepada Geni dan Pamegat.
Dua gadis pelayan mempersilahkan dua tetamu itu duduk di kursi besar. "Silahkan duduk paduka tuan, tak lama lagi gusti permaisuri dan baginda raja akan masuk ruangan."
Tak lama kemudian, para dayang memberi hormat sambil jongkok sembah sungkem Sepasang pria dan wanita muncul dari ruangan dalam Pamegat dan Geni berdiri. Geni mengenali, Waning Hyun dan Ranggawuni. Pamegat jongkok sembah sungkem. Geni serba salah. Selama ini ia belum pernah berjongkok sembah sungkem kepada seseorang. Secara naluri ia membungkuk memberi hormat dengan merangkap dua tangannya Geni merasa sudah melakukan sesuatu yang benar. Dia tidak berjongkok sungkem tapi telah memberi penghormatan yang layak kepada raja dan permaisuri.
Waning Hyun tersenyum. Perempuan ini cantik luar biasa, aura kecantikan dan wibawa menyatu dalam tubuh mungil yang dibungkus busana kerajaan warna warni. Di sampingnya Ranggawuni, kini Raja Tumapel bergelar Wisnuwardhana. Suara Ranggawuni terdengar wibawa meskipun Raja ini berusaha ramah semampunya.
"Kangmas Wisang Geni, tak perlu basa basi, duduklah. Kamu datang saja sudah merupakan tanda kamu tidak melupakan persahabatan kita yang tak pernah hilang. Paman Pamegat, duduklah, ada yang perlu kita bicarakan."
Geni tetap saja merasa rikuh. "Aku tidak biasa basa-basi apalagi pakai tata krama keraton," gumamnya pelan.
Permaisuri tersenyum. "Kangmas Geni, kami mengerti kamu tidak terbiasa dengan tata-krama keraton, maka silahkan kita bercakap dalam bahasa pendekar seperti pergaulan kita di masa lalu."
Ranggawuni menyela, "Kangmas Geni, aku dan Hyun berdukacita mendengar tragedi kematian mbakyu Wulan." Meski terdengar wibawanya, namun suara itu mengandung duka.
Geni menghela nafas, teringat akan isterinya. Selama ini dia telah berusaha mengatasi rasa duka dan kehilangannya, namun kerap kali rasa duka datang seperti tusukan pedang ke jantungnya. "Aku akan membalas hutang nyawa ini, Lembu Agra si pengkhianat dan Lembu Ampai si punggawa Kediri, aku akan memburu mereka sampai ke neraka pun." Suara Geni terdengar parau. Orang yang mendengarnya merasa seram.
Suasana hening. Geni memecah kesunyian, "Hamba sungguh merasa rikuh, hamba tidak terbiasa tinggal di istana, bahkan memanggil paduka tuan berdua pun hamba tidak tahu. Paduka Raja dan Permaisuri, maafkan hamba yang tak punya tatakrama ini."
"Kangmas, jangan berkata begitu. Dulu kau panggil aku Hyun, sekarang ini boleh saja kau panggil aku dengan panggilan itu. Aku bersama kakang prabu sangat senang kau bersedia datang ke sini, ternyata kau masih ingat janjimu dulu."
"Memang benar, hamba datang karena janji, hamba tak boleh ingkar janji. Mohon maaf, apa gerangan yang raja dan permaisuri inginkan dari hamba?"
Waning Hyun menghela nafas. "Kangmas, sekarang ini aku sebagai adik perguruanmu minta tolong kepadamu sebagai kakak perguruanku, aku bukan menagih janji, tetapi lebih tepat adalah aku minta tolong padamu."
"Katakan permaisuri, jika aku sanggup pasti akan kubantu."
"Ini urusan keraton Kediri yang berniat menyerang Tumapel. Sekarang ini menurut mata-mata yang bisa dipercaya, Kediri sudah menghimpun orang-orang hebat dari dunia persilatan. Mereka pasti menyerang Tumapel tetapi menurut kabar mereka akan menghabisi Mahameru dan Lemah Tulis terlebih dahulu."
Wisang Geni mengerut kening. "Aku tak pernah tahu bahwa Keraton Kediri memusuhi Lemah Tulis dan Mahameru."
Pamegat yang dari tadi berdiam diri, bicara. "Bisa ditebak, Lembu Agra tak hanya dendam terhadap Lemah Tulis, juga berkeinginan partainya, Turangga menguasai dunia ilmu silat. Itu bisa dicapai jika Mahameru dan Lemah Tulis hancur. Maka ia dibantu Lembu Ampai yang punya kekuasaan, menghimpun tokoh silat yang mendendam Mahameru dan Lemah Tulis."
Geni tersenyum pahit. "Oh, jadi Lembu Agra sudah bergabung ke pihak Kediri. Baru sekarang aku tahu di mana dia sembunyi."
Pamegat menyebut nama tokoh persilatan yang bergabung dengan Keraton Kediri. Kalandara dan tiga muridnya, Si Gila dari Ujung Kulon bersama dua saudaranya Parma dan Sakerah, Pendekar Belut Putih, Nenek Kembar dari Segoro Kidul: Prameswari dan Kameswari, Pendekar Bayangan Hantu, Lembu Ampai, Lembu Agra bahkan penasehat Raja Tohjaya yang jarang tampil, Pranaraja yang sakti ikut membantu. Kabar terakhir, penyerangan ke Lemah Tulis dan Mahameru akan dilancarkan dalam waktu satu purnama ke depan. Hanya belum jelas, perguruan mana yang akan diserang duluan.
Geni terkejut. Tak disangka marabahaya sudah di depan hidung sementara Lemah Tulis belum mengetahuinya. Tetapi ia tak begitu khawatir, sistem pertahanan Lemah Tulis sudah ditata rapi. Ia ingat ketika Trini dan Ekadasa berkunjung ke Lemah Tulis yang menimbulkan keributan, hampir semua murid sudah berada pada posisi yang sudah direncanakan.
Geni yakin adanya Padeksa dan Gajah Watu serta murid lapis atas yang sudah terlatih, Lemah Tulis tidak mudah diporak-poranda. Namun banyak kejadian di luar perkiraan. Maka tak boleh lengah. Pengalaman mengajarkan, dua puluh lima tahun lalu Lemah Tulis dihancurkan gerombolan yang meminjam kekuasaan Ken Arok
Geni teringat percakapannya dengan Gajah Watu dan Padeksa. Persengketaan antara Kediri dan Tumapel, perselisihan antar keluarga sendiri, tidak jelas siapa salah siapa benar. Yang jelas, keduanya memperebutkan kekuasaan. Itu sebab Geni sepakat tidak mau ikut campur apalagi menyeret Lemah Tulis masuk dalam kancah pertarungan kekuasaan itu. Geni hanya akan menghadapi tokoh silat di kubu Kediri lantaran mereka berniat menghancurkan Lemah Tulis.
Waning Hyun gembira ketika Wisang Geni berjanji membantu keraton Tumapel. Hanya saja Geni menyatakan tidak mau terlibat dalam perang, jika memang terjadi perang antara dua kerajaan itu.
"Hamba akan menghadapi orang-orang Kediri, terutama tokoh silat yang memusuhi Lemah Tulis. Khususnya dua orang itu, Lembu Agra dan Lembu Ampai akan mendapat bagiannya."
Ranggawuni, Waning Hyun dan Pamegat gembira mendengar janji Geni, namun ada keraguan. Mungkinkah Geni sanggup menghadapi banyak musuh yang memiliki kepandaian silat mumpuni. Pamegat lantas menawarkan bantuan tenaga.
Tetapi sebelum Geni menjawab, seorang lelaki muda memasuki ruangan. Tanpa memberi hormat layaknya seorang hamba atau bawahan, pertanda ia memiliki kedudukan tinggi. Dia Mahisa Campaka, saudara seayah Waning Hyun dan ipar sang raja.
Ranggawuni berdiri dan merangkul iparnya. "Dimas, kamu baru datang dari perjalanan jauh, kakang Wisang Geni sudah berjanji akan menghadapi para pendekar yang membela keraton Kediri."
Mahisa Campaka tertawa, menyalami Geni. "Sudah lama kita tidak berjumpa, kangmas Geni. Aku lihat kepandaianmu makin dahsyat. Beberapa hari lalu aku menyaksikan pertarunganmu di desa Bangsal, kau tidak cuma mengalahkan Kalandara dan tiga muridnya tetapi juga telah mempermalukan mereka."
Usai makan malam permaisuri memerintah seorang punggawa mengantar Geni ke kamar tamu. Di tengah jalan menuju kamar tamu yang letaknya di kebun bunga, Geni melihat Ekadasa mendatanginya.
Pendekar ini sudah ganti busana, tidak lagi mengenakan seragam pengawal, melainkan pakaian biasa. Ia tampak cantik. Ekadasa memerintah punggawa itu pergi. "Biar aku yang mengantar pendekar tamu ini melihat-lihat pemandangan kebun," katanya sambil melirik Geni.
Geni tersenyum. "Kamu tidak takut ketemu dengan aku, Ekadasa? Tidak takut kuremas bokongmu lagi" Geni tertawa kecil.
Gadis itu menantang mata Geni. "Kalau memang kamu gemas dengan bokongku, jangan di depan umum. Aku malu, Geni."
Dari gelagat dan tingkah laku gadis itu yang agak genit, Geni tahu bahwa Ekadasa membuka peluang yang mengarah ke hubungan intim. "Kamu tampak cantik. Sebenarnya aku masih mau ngobrol denganmu, tetapi aku sudah ngantuk. Eh, katamu, kamu mau antar aku ke kamarku. Di mana?"
Kamar tamu itu letaknya di pojokan kebun bunga. Tidak ada obor, tetapi cahaya bulan purnama sedikit menerangi kebun. Sampai di depan pintu, Geni masuk sambil menarik tangan Ekadasa yang terlempar ke pelukannya. Di belakang pintu, Geni memeluk perempuan cantik itu. Tangan Geni meremas bokong, satu lainnya menyusup dalam kebaya, meraba buah dada yang montok dan kenyal. Geni mencium dengan liar.
Ekadasa terengah-engah. Ia bicara dengan nafas memburu, "Geni, kamu menyukai aku? Jangan di sini, tidak boleh. Tengah malam nanti kamu kutunggu di kamarku. Kamarku di seberang sana, di depannya ada pohon mangga, satu-satunya pohon mangga di keputren ini."
Geni masih memeluk, menciumi leher dan mulutnya. Ekadasa susah payah melepaskan diri, kabur ke kamarnya dengan hati berbunga-bunga.
Tengah malam itu Geni nyelinap ke kamar Ekadasa. Perempuan itu sudah menantinya dengan hanya sepotong kain melilit di tubuhnya yang sintal. Ekadasa memburu dan melompat ke dalam pelukan Geni.
"Kamu datang juga, kekasihku. Jika kamu memang gemas dan menyukai aku, mengapa tak mengejar aku ketika di Lemah Tulis waktu itu?" Dengan posisinya yang membungkuk ke arah depan, tampak jelas bulatan sekal pantat Ekadasa yang sengaja dibiarkan terbuka.
“Aku sengaja menundanya untuk sekarang,” Geni meraih pantat itu dan meremasnya pelan. Ekadasa pura-pura menghindar, yang malah membuat Geni semakin penasaran. “Hmm, mau main-main ya?”
Dengan berdiri di belakang Ekadasa, tangan Geni meraba pelan, dari perut turun ke paha, lalu naik lagi. Setiap kali tangannya naik, kain di tubuh Ekadasa seakan tak tersengaja ikut tertarik ke atas, menampakkan pahanya yang sekal dan putih mulus.
“Ah... kamu nakal, Geni.” Ekadasa merintih.
Tangan Geni terus naik, hingga mencapai pangkal bawah payudara. Ekadasa meringis, kepalanya mendongak hingga ke bahu Geni yang posturnya lebih tinggi. Kedua tangannya bergerak ke belakang, berusaha meremas kemaluan laki-laki itu. Bibir Geni mendekat. Lidahnya keluar, meraba mulut Ekadasa berputar-putar. Telapak tangannya sudah mulai meremas dada gadis itu pelan.
“Kita... ke ranjang, Geni!” Ekadasa berbisik. Ia rasakan pangkal pahanya begitu gatal.
Geni membuka kain tipis yang melilit di tubuh Ekadasa. Segera tersembullah belahan dada gadis itu persis di depan wajahnya. Ciuman Geni yang langsung mengarah ke puting membuat Ekadasa menggelinjang. Dia semakin merintih dan mendesis pelan.
“Sshh... oohh...Jemari nakal Geni mulai menggerayangi bongkahan pantatnya. Dan tak cuma meremas, Geni juga menekan kelentitnya dengan kencang. “Ooohh...” Ekadasa menghela nafas kaget.
Permainan tangan itu merangsang kewanitaan Ekadasa dengan sangat cepat. Ditarik dan dilepas, membuat kelentitnya seakan dielus-elus. Sensasi ini membuatnya benar-benar terangsang. Kewanitaannya gatal, Ekadasa mulai menggoyang pinggulnya turun.
“Ohh,” Tonjolan itu begitu besar. Ekadasa merasakan sesuatu di balik celana Geni lebih besar dari yang pernah ia hadapi sebelumnya. Digesekkannya pelan pinggulnya ke bawah. Wajah Geni masih datar saja meski selangkangannya semakin membesar. Dan Ekadasa yakin, batang itu panjang sekali.
Ketiaknya diangkat dengan kedua tangan, membuat Ekadasa sedikit berdiri.
Ia rasakan dorongan pelan dari tangan Geni yang mengarahkannya untuk berbalik membelakangi. Ekadasa segera memutar badan. Geni memegangi pinggulnya, lalu  punggungnya didorong lagi hingga hampir membungkuk.
Ekadasa berpegangan pada meja, dengan pinggul menungging indah persis di depan wajah Geni. Telapak tangan Geni yang cukup besar menepuk halus pantat sekal itu, sesekali juga meremas-remasnya perlahan.
“Bokongmu memang sungguh indah, Ekadasa!” Geni berbisik. Diulangnya remasan itu beberapa kali, sebelum kemudian tangannya menyentuh kewanitaan Ekadasa yang sudah basah. Jemarinya meraba dari batas pantat, turun ke bawah hingga ujung kelentit. Pelan, namun sangat terasa. Ekadasa jadi sedikit menggigil geli dibuatnya. Desahannya semakin keras terdengar.
“Oouuhh...pekiknya tertahan ketika ia rasakan jari Geni menusuk ke dalam lorong kewanitaannya dengan sangat cepat. Jari itu bergerak-gerak di dalam, seakan mencoba mengorek keluar semua cairannya yang membanjir deras.
Bukan lagi desahan, Ekadasa jadi sedikit berteriak ketika mau tak mau klimaksnya dipaksa datang dengan begitu cepat. “Aaahhh... sssshh...” Kakinya melemas, namun pinggulnya masih dipegangi oleh Geni agar tidak ambruk. Ekadasa menggeleng-geleng, menikmati setiap gesekan jari Geni yang masih menari-nari di dalam lubang kenikmatannya.
Jari Geni terus meluncur maju mundur, keluar masuk. Ekadasa terdongak ke depan keenakan. “Aah... hss... ahh...
Tiba-tiba dalam dua atau tiga detik, gerakan itu berhenti. Belum sampai Ekadasa ambruk, tangan kekar Geni menahan pinggulnya. Lalu sesuatu yang besar menusuknya dari arah belakang.
“Auwghhh...” Ekadasa memekik kaget, tapi juga suka saat dirasakannya Geni mulai memasukkan batang ke dalam lorong kewanitaannya. Besar dan keras, juga sangat panjang. Belum sempat dia mengambil napas, Geni sudah mulai mendorong dan menarik pinggulnya. Pompaannya begitu keras. Ekadasa sampai terdongak, mencoba mengambil napas yang sempat tertahan beberapa kali.
“Oouuhh...” Rambutnya ditarik ke belakang, dan dengan cepat Geni memompa batang kejantanannya begitu dalam. Bagian bawah perut Ekadasa terasa ngilu tiap kali tusukan itu menghujam.
“Aghhh...” Dia mengeratkan jepitan dinding-dinding kewanitaannya, menandakan klimaksnya kembali datang.
Tak diberi kesempatan lama untuk menikmatinya, Geni terus memompa pinggulnya dengan sangat cepat. Suara beradunya kulit pantat dan pinggul bersahutan dengan desahan atau kebih tepatnya disebut pekikan kenikmatan dari Ekadasa.
Posisi berdiri ini susah, kaki Ekadasa sudah lemas, namun Geni seakan tak peduli. Pinggul gadis itu ia tahan kuat-kuat, dengan tangan kiri memegangi bulatan payudara Ekadasa yang terpantul-pantul indah. Pompaan Geni tak berkurang sedikit pun, keras-cepat-dalam. Ekadasa sampai terlonjak-lonjak dibuatnya.
“Oouhhh... a-ampuunn!” dia menyerah, hampir tak bisa mengambil nafas. Sengatan kenikmatan lagi-lagi melanda. Tubuh Ekadasa ambruk di lantai. Barulah saat itu Geni melepaskan pelukannya.
“Aauuhhh...” Ekadasa merasakan sensasi ngilu saat batang besar Geni terlepas dari jepitan kewanitaannya.
“Maaf, tubuhmu terlalu menggairahkan. Aku sampai lupa diri!” hanya itu yang Geni ucapkan.
Diliriknya keadaan pria itu. Batang kejantanan Geni yang besar terlihat masih tegak mengacung. Ekadasa pasrah saat Geni kembali menarik tubuhnya, didekatkan ke selangkangan. Ia yang paham maksudnya, segera membuka mulut lebar-lebar. Ekadasa tak tahu, cukupkah mulutnya ini menerima batang panjang itu?
“Pluk... pluk...” Geni memukulkan batang hitam besar miliknya ke pipi Ekadasa, lalu sedikit dipaksanya masuk ke celah bibir. Batang itu ia lesakkan ke mulut Ekadasa, menyentuh pipi bagian dalam. Baru setengahnya. Didorong dan ditarik beberapa kali.
"Emut punyaku!" Geni akhirnya berkata.
Ekadasa meleletkan lidah di kepala kejantanan itu. Dalam satu gerakan, benda panjang itu dikulumnya. Ekadasa tak menyangka mulutnya mampu menerima. Namun, batang itu melesak dalam saat pinggul Geni mendorong ke depan.
“Uhuuk-uhuuk...” Ekadasa tersedak.
Ia lihat Geni tersenyum puas, dan mengulanginya lagi. Namun kali ini dia sudah siap, Ekadasa melonggarkan tenggorokan sebisa mungkin. Batang keras Geni kembali melesak-lesak, memenuhi seluruh mulutnya. Beberapa detik, Ekadasa sudah tak kuat. Ia dorong pinggul laki-laki itu agar diberi kesempatan untuk bernafas.
Geni yang belum selesai, segera mengangkat tubuh Ekadasa dan direbahkan di ranjang. Lututnya ia pegang dari arah dalam, hingga pantat Ekadasa terangkat naik. Gadis itu tak bisa bergerak saat Geni melesakkan batang ke dalam lorong kewanitaannya dengan sangat cepat.
“Aah... ahh... hsss...” Ekadasa hanya bisa mengerang dan mendesah keras. Batang keras Geni begitu dalam melesak ke dalam tubuhnya. Telurnya terasa menampar-nampar di belahan pantat.
Tak berapa lama, pegangan tangan Geni melonggar, membuat kaki Ekadasa bisa turun. Belum sempat ia menengok apa yang terjadi, Geni sudah keburu menggerakkan tubuhnya. Ekadasa merintih merasakan lorongnya yang gatal digaruk-garuk.
“Ahh... ahh... ahh...” Dia terlonjak-lonjak, getaran-getaran klimaks mulai melanda tubuh sintalnya. “Auuhhh...” Ekadasa segera ambruk ke ranjang ketika rasa itu datang dengan sangat tiba-tiba. Lemas sekali rasanya.
Geni tampak sedikit mengurangi pompaannya, lalu melepas kejantanannya dari kewanitaan Ekadasa. Namun dengan cepat, pendekar tampan itu kembali mengangkat kepala Ekadasa dan menariknya hingga gadis itu terduduk, lalu dengan cepat pula kejantanan Geni sudah berada di dalam mulutnya.
“Arghh... sssh...” Geni mengerang keras. Kejantanannya yang panjang tampak membengkak di dalam mulut Ekadasa. Gadis cantik itu menjilat ke sekeliling batang, lalu turun ke kantung telur, kemudian naik lagi. Semua hanya menggunakan lidah dan bibir.
Setelah tenaganya sedikit terkumpul, Ekadasa kemudian duduk. Ia ingin segera menuntaskan permainan itu. Pelan ia arahkan kejantanan Geni ke lorong kemaluannya, dilesakkannya sedalam mungkin. Bisa dilihatnya Geni yang mendelik keenakan. Ekadasa menggoyangkan pinggulnya perlahan, namun ia cengkeram kuat kejantanan Geni di dalam lorong kewanitaannya.
Maju mundur, pinggul Ekadasa seakan terpatri ke paha Geni. Batang yang tadi tampak perkasa, sekarang teggelam dalam bibir kewanitaannya. Rasa penuh dan sesak memenuhi liang mungil itu, membuat Ekadasa agak susah untuk bergerak.
“Ouhh... benar-benar enak!” Geni menggumam.
Goyangan Ekadasa semakin cepat, semakin cepat. Tangannya meremas-remas sendiri puting buah dadanya. Dia nampak tak kuat. “Ahh... ahh... hhhs...” Ekadasa mengejang lagi, kali ini rasanya nikmat sekali. Tubuh sintalnya bergetar-getar indah.
Geni menambahkan sensasi dengan mendorong pinggulnya naik-turun. Klimaks kali ini terasa lama sekali bagi Ekadasa, tubuhnya sampai menggigil. Geni tentu saja semakin terangsang melihatnya. Ia angkat badan Ekadasa setelah yakin gadis itu kuat berdiri.
“Emut punyaku! Aku juga hampir...” Geni mengerang.
Ekadasa segera mengambil kendali. Mulutnya naik-turun memaksakan diri menelan batang panjang Geni. Pejuh Geni yang kental keluar di dalam mulutnya. Sangat banyak, hingga tak cukup ditampung di kerongkongan. Mau tak mau Ekadasa harus menelannya sebelum ia tersedak kehabisan nafas.
Ekadasa hampir muntah. Sementara Geni beristirahat di sebelahnya sambil mengurut-urut pelan batang kejantanannya. Ekadasa melirik. Besar betul batang itu, dan meski sedikit menurun ketegangannya, namun terlihat kalau kejantanan Geni masih sangat perkasa. Ekadasa tak yakin, mampukah ia melayani Geni semalam suntuk?
Namun nyatanya, semalaman sampai pagi, sepasang anak manusia itu bercinta dan bercinta terus. Geni menikmati tubuh molek Ekadasa sepuas-puasnya. Namun ia merasa aneh, wajah Gayatri yang malah membayang. Ia melihat wajah Gayatri yang marah, cemberut dan tertawa. Semalaman ia meniduri Ekadasa namun wajah Gayatri membayang terus. Keduanya lelap, berpelukan dalam keadaan bugil, sampai fajar menyingsing.
Esok pagi hari saat Geni hendak berangkat, gadis itu memeluknya. Ekadasa masih setengah bugil, payudaranya yang tidak tertutup terlihat montok dan besar sekali. "Geni kamu mau pergi? Aku masih belum puas. Lagipula kau bisa istirahat di kamar ini beberapa hari, tak ada orang yang tahu. Aku akan melayani kamu sepuasnya."
Lagi, Geni terangsang melihat tubuh molek wanita itu. Montok dan segar meski agak gemuk. Geni menggumuli Ekadasa. Keduanya bercinta lagi. Seharian itu Ekadasa melayani Geni, makan, minum dan bercinta. Perempuan itu mengerahkan seluruh pesona dirinya untuk memikat cinta Geni. Ia menggumam betapa lelaki itu kuat dan liar.
"Aku tak mau kehilangan kamu, Geni, apa pun yang terjadi," desisnya di antara deru nafsu birahi.
Esok paginya Geni melakukan perjalanan cepat menuju desa Gondang, memenuhi janji bertemu Gayatri. Dua malam kemarin ia puas menikmati tubuh Ekadasa. Tetapi sekarang, mengingat akan segera bertemu Gayatri, ia merasa bersemangat dan gairahnya bangkit.
Di tengah jalan ketika memasuki hutan di batas desa Prigen, Geni merasa ada sesuatu yang aneh di sekitarnya, ada seseorang membuntutinya. Namun setiap dia menoleh ke belakang, tak ada siapa pun. Dia memasang telinga, tak ada suara. Tak ada siapa pun, tetapi ia merasa ada orang di dekatnya. Tanpa sadar bulu kuduknya berdiri. Saat itu matahari masih di atas kepala, cukup menerangi kepadatan hutan. Namun hutan itu senyap.
Tiba-tiba ia merasa desir angin, seseorang menyerang dari belakang. Geni menoleh ke belakang. Terlambat, serangan itu datang sangat cepat. Dia berkelit, menangkis. Sia-sia, tamparan lawan menerpa kepalanya. Anehnya tamparan itu bagai usapan, lembut, lunak dan tak bertenaga. Geni melihat bayangan itu bergerak sangat pesat. Dia mengejar, sia-sia. Geni mengerahkan Waringin Sungsang tingkat paling tinggi, tetap saja sia-sia. Orang itu tak terkejar, dari jauh hanya tampak bayangan seseorang berjubah putih.
Geni berteriak, "Hei, siapa kamu? Berhenti, hadapi aku secara jantan."
Dia tak pernah membayangkan ada kejadian seperti itu. Ilmu silatnya sudah tergolong kelas utama di tanah Jawa, mustahil ada orang bisa mempermainkan dirinya. Tetapi nyatanya, kepalanya sempat dielus lawan. Bagaimana seandainya orang itu bermaksud jahat, kepalanya bisa pecah.
Dia tetap mengejar, tetapi orang itu tak bisa dikejar, jelas ilmu ringan tubuh lawan sangat luar biasa. Orang itu sengaja main-main. Sesekali bayangan itu bergerak pesat dan hilang dari pandangan mata. Saat berikutnya dia muncul lagi di kejauhan. Dia membelakangi Geni, wajahnya tak terlihat.
Geni berteriak, "Tuan pendekar, aku mohon petunjuk."
Bayangan itu, dalam keadaan berlari, tanpa menghentikan langkah, memutar tubuh, lalu berbalik arah berlari kencang menuju Geni. Gerakan itu mustahil bisa dilakukan di tengah udara. Jelas orang itu memiliki kepandaian silat yang tidak terukur tingginya. Kini lawan itu menuju ke arahnya, menyerang! Wisang Geni terkesiap. Ia segera pasang kuda-kuda, mengerahkan segenap tenaga Wiwaha.
Bayangan itu berlari mendatangi Geni, gerakannya membawa serta angin kencang. Semakin mendekat, semakin besar angin yang dibawanya. Debu, daun-daun kering bahkan ranting patah pun ikut terbawa. Geni tak bisa melihat lawannya karena tertutup kepulan debu Tetapi dia tahu persis di balik kepulan debu bercampur daun dan ranting, orang itu melancarkan serangan dahsyat.
Geni mengerahkan tenaga Wiwaha, siap dengan jurus Prasidha paling handal dengan sikap jiwa Hayu (Selamat). Angin keras itu menghantam Geni, bermuatan debu, daundaun dan ranting kering. Geni menghantam sekeras mungkin, adu tenaga. Tetapi tak ada reaksi, pukulan Geni bablas ke ruang kosong.
Ketika angin reda dan debu lenyap. Tak ada siapa pun di depan Geni. Ke mana orang itu? Geni menoleh ke belakang. Ia terperanjat. Orang itu ada di depannya, hanya terpaut satu langkah.
"Dia tak bermaksud buruk, jika mau dia bisa saja menghantam aku. Tak mungkin aku bisa selamat," Berpikir demikian, Geni tidak bereaksi, diam.
Orang itu, kakek berjubah putih, rambut, jenggot dan kumisnya putih seperti kapas. Matanya bening, lembut dan damai. Mendadak Geni ingat seseorang. Tidak mungkin keliru.
"Eyang Sepuh!" Geni menjatuhkan diri, duduk di tanah, sungkem.
Kakek itu ikut duduk. Keduanya duduk berhadap-hadapan. "Kamu sudah lama kepingin ketemu Eyangmu ini?" Lalu kakek itu tertawa geli. Geni teringat mimik dan gaya tertawa kekasihnya Sekar, jika tertawa menggoda.
Geni manggut. "Aku sudah lama kangen dan rindu bertemu Eyang, hari ini Eyang sudah mau memperlihatkan diri, cucumu sangat berbahagia, mati pun cucumu ini rela."
"Wisang Geni, putra Gajah Kuning, cucu murid Bergawa, murid Padeksa, kamu bocah nakal. Buat apa kamu mati, kalau kamu mati banyak perempuan yang menangis," katanya sambil tersenyum. Kakek itu melanjutkan, "Prawesti cucu Gubar Baleman itu dan gadis dari Hirnalaya itu, juga si cantik Sekar, semua perempuan itu akan menangis. Kamu memang bocah nakal! Aku muncul di depanmu ini tidak untuk menghukum kamu, apalagi hanya soal-soal sepele itu."
Geni terkesiap. Ia heran Eyang Sepuh bisa mengetahui semua kisahnya. "Ampun Eyang, aku memang bersalah, ampuni aku."
"Lho, salah apa? Eyangmu ini waktu masih muda dulu lebih nakal, jumlah istri dan selirku tidak bisa kuhitung, sangat banyak," katanya dengan mimik jenaka, menggoda.
Ada keramahan dan keakraban dalam suara Eyang Suryajagad, membuat Geni berani menatap mata orangtua itu. Dia melihat sepasang mata keriput yang hampir tertutup alis putihnya yang panjang dan lembut bagai kapas. Tetapi mata itu seperti matahari senja, bercahaya terang tetapi tidak panas melainkan sejuk. Kakek itu tersenyum.
"Tetapi semua perempuan itu tak boleh menjadi penghalang bagimu dalam pencapaian ilmu silat. Maka kamu harus bisa menguasai Raga (Birahi), mengatur Kamuka (Cinta) dan menahan Matirta (Hawa nafsu). Harus bisa, karena jalan utama menuju tahapan tertinggi adalah pengaturan Nenggah (Menahan nafas). Cucuku, kamu masih menyinta istrimu, Wulan, yang mati itu?"
Geni diam, ragu-ragu. Ia tak tahu ke mana tujuan pertanyaan Eyang Sepuh. Namun ia menjawab jujur. "Tadinya sangat menyintai, sekarang semakin lama semakin aku mulai bisa melupakan."
"Bagus, cucuku. Semua itu, cinta, dendam adalah bagian dari hidup. Berlatih silat juga bagian dari hidup. Semua itu bisa mempermudah hidup tetapi bisa juga mempersulit hidup kita. Hidup ini perbudakan. Kita menjadi budak, diperbudak berbagai macam keinginan. Kamu lihat awan, dia bergerak mengikuti angin. Lihat angin yang begitu merdeka, bergerak semaunya. Dan hebatnya lagi dia berganti-ganti arah sesuka dia. Di dunia tak ada suatu kekuatan pun yang bisa menghentikan pergerakan angin. Coba pikirkan seandainya kamu bisa menaklukkan angin, atau paling tidak meniru persis sifat dan kelakuan si angin itu, pasti hebat ya?"
Geni merenung, pikiran menerawang mengikuti ajaran Eyang.
"Cucuku, jadilah seperti angin Bajra, dia bisa semilir Sirir membuat orang ngantuk dan nyaman, tetapi pada saat yang sama dia bisa hamuk macam Lesyus, Nilapraconda dan Bajrapati menghancurkan apa saja yang dilewati. Jadilah seperti angin yang merdeka, maka kamu bisa bergerak mengikuti angin, bahkan bisa lebih cepat dan lebih ringan dari angin. Sekarang ikuti, Eyangmu. Kosongkan pikiranmu, rasakan angin di sekelilingmu. Angin itu ada, kamu juga ada."
Geni memandang Eyang Sepuh. Kakek itu duduk bersila, perlahan sedikit demi sedikit tubuhnya terangkat dari tanah. Dia berdiri. Gerakan dari duduk ke berdiri dilakukan tanpa kakinya menginjak tanah. Dia bersilat, juga tanpa berpijak di bumi. Geni mencoba tapi gagal. Eyang Sepuh membimbing tangan Geni.
"Jangan rasakan bumi, lupakan bumi, tengadah memandang langit, rasakan angin, bebaskan diri macam awan. Rasakan angin di bawah kakimu. Pusatkan pikiran, tenaga dan hasratmu"
Ketika kakek itu melepas tangannya, Geni tak lagi berpikir sesuatu pun, pikiran bebas, kaki tak berpijak di bumi. Geni melayang, tetapi begitu dia merasa gembira karena berhasil, saat itu juga kakinya menginjak tanah. Eyang Suryajagad melatihnya berulang kali.
"Pikiran harus kuat, sinambungan tidak boleh putus."
Malam hari kakek itu tidur dalam semedi, sementara Geni berlatih tanpa henti. Semalaman Geni berlatih menguasai angin. Esok paginya Geni sudah mampu duduk, sila dan berjalan tanpa kakinya memijak tanah. Tahapan berikut, bersilat dan bertarung tanpa kaki memijak bumi.
"Cucuku, lupakan semua jurusmu, lupakan Garudamukha, lupakan Prasidha, lupakan Wiwaha, lupakan semua, karena semuanya itu sudah ada dalam tubuhmu, sudah ada dalam gerakmu. Kau hanya perlu bergerak terus seperti angin, merunduk, berdiri, menyamping, memukul, menangkis, menghentak, ikuti apa saja yang diperintah pikiranmu, pusatkan pikiranmu terus, jangan putus, inilah inti dari dari merdeka, bebas dan tidak terikat. Nikmatilah kebebasan, maka kamu akan menguasai angin."
Pagi berganti malam. Semalaman Geni berlatih. Esok paginya, ia berlatih tarung lawan si kakek. Kaki mereka tak memijak bumi.
"Lupakan semua jurus, tidak ada lagi jurus. Kamu menyerang jika ingin menyerang. Dan seranganmu tergantung pikiran, keinginan dan pandanganmu saat melihat gerak lawan. Jika dia mengelak ke kiri, ke situ kamu menyerang. Jika ia menyerang, kamu mengelak atau menangkis sesuai yang kamu pikir. Semua sudah ada dalam dirimu, kamu hanya perlu bersikap seperti angin, bergerak ke mana saja. Bagaikan awan yang bergerak ketika ditabrak angin. Seperti halilintar menyambar apa saja tanpa hambatan. Bergerak bebas tanpa dibuat-buat. Bebas, merdeka. Bumi pun tak lagi mengikat, kaki tak perlu memijak bumi. Bebas, tak ada lagi perbudakan."
Siang itu Eyang Sepuh duduk bersila, Geni duduk di hadapannya.
"Pelajaran sudah usai. Kau hanya perlu melatih pikiranmu saja. Pikiran harus cepat, sangat cepat, karena hanya pikiran saja yang lusa mendahului kecepatan angin. Semua sudah ada dalam dirimu, jurus, lenaga dalam, semua ada padamu. Tugasku sudah rampung, semuanya sudah kuajarkan padamu, kamu akan menjadi pendekar yang tak ada tandingannya, tetapi jangan sombong, jangan takabur, jangan pernah memandang rendah apa pun meski sekecil apa pun. Kamu harus ingat, seringkali yang kecil-kecil itu bisa menjadi raksasa dan yang akan menghancurkan kita. Cucuku, Wisang Geni, setelah hari ini kamu tak perrnah lagi bertemu dengan aku, ajalku sudah dekat, tidak lama lagi aku akan moksa. Sudah saatnya, karena tugasku sudah selesai."
Eyang Sepuh melanjutkan wejangan, "Selama ini aku hanya menanti munculnya seorang murid Lemah Tulis yang mumpuni dan bisa dipercaya. Sekarang aku sudah wariskan semua ilmuku padamu." Dia menghirup udara. "Sekarang tanggungjawab ada di pundakmu, Lemah Tulis harus tetap jaya, agar bisa sinambungan mengajar amal kebajikan dan menolong manusia. Jadilah angin, cucuku, memberi kesejukan dan kenyamanan pada umat manusia, jadilah angin topan, guruh dan halilintar jika diperlukan untuk membasmi angkara murka."
Geni memeluk kaki Eyang Sepuh, mencium lututnya, mencium dua tangannya. "Empat hari bersama Eyang serasa bertahun-tahun hidup di swargaloka, aku bahagia, Eyang. Apa nama ilmu ini?"
"Cucuku, para pendiri Lemah Tulis hanya mewariskan jurus Garudamukha dan Garudamukha Prasidha. Tak ada yang lain. Apa yang kudapat ini adalah pengembangan dari dua ilmu dahsyat itu. Terus terang, tidak ada jurus yang namanya Jurus Penakluk Raja, kau sendiri sudah tahu, kau sudah menemukan intinya. Apa nama jurus ini, Jurus Angin atau Jurus Langit atau Jurus Awan, terserah padamu namanya. Jurus itu kosong, jadi namanya pun kosong. Eh, aku hampir lupa sesuatu yang penting, apa pendapatmu tentang Sekar, apa kau sungguh-sungguh mencintainya?"
Pertanyaan itu mendadak dan tak pernah disangka. Wisang Geni terkejut tetapi hanya sesaat. Ia menjawab mantap, "Eyang, aku mencintai Sekar. Ia paling cantik, tubuhnya molek, ia perlihatkan bahwa ia mencintai aku, tergila-gila padaku, selalu mendahulukan kepentinganku, membuat aku puas dan bahagia. Dia perempuan nomor satu dalam hidupku."
Geni heran akan jawabannya yang begitu mantap dan pasti. "Eyang, aku memang mencintai Sekar, meski banyak perempuan lain di sampingku, tetapi hanya gadis itu yang aku cintai. Tetapi di mana dia sekarang? Eyang pasti tahu dia berada di mana?" sambungnya lagi.
"Kamu pasti akan bertemu dengannya, tidak lama lagi. Camkan ini, Geni, jangan kamu sia-siakan dia!"
"Kenapa, Eyang? Ada apa dengan Sekar?"
"Dia itu cucuku, putri dari anakku! Aku titip cucuku itu padamu, Geni. Aku tak minta apa pun dari kamu, hanya tolong kamu jangan sia-siakan dia, kasihani dan cintailah Sekar. Dan sekarang, Geni, selamat tinggal!"
Wisang Geni menatap bayangan Eyang Sepuh sampai menghilang di kerimbunan hutan. Tanpa terasa air mata menitik. Geni menangisi Eyang Sepuh. "Jadi Sekar adalah cucu Eyang. Itu artinya nenek Tongkat Sapu Lidi adalah isteri Eyang. Apa yang terjadi pada diri Eyang? Mengapa Eyang memilih hidup sendiri, mengapa tidak berdiam di Lemah Tulis berkumpul bersama murid dan teman. Atau hidup bersama isterinya itu?"
Akhirnya Geni mengetahui, justru dalam kesendirian itu Eyang Sepuh menemukan dan mendalami ilmu silat bebas merdeka bagaikan angin dan awan. Tanpa merasa kesendirian, seseorang tidak akan menemukan kebebasan dan kemerdekaan.
"Aku rasa, aku tak mungkin bisa hidup sendiri, aku tak perlu mengasingkan diri. Cukup jika aku bebas dan merdeka dalam setiap langkah. Tidak terikat, tidak terkekang oleh siapa pun. Mungkin lebih baik jika aku tinggal di suatu tempat sunyi berdua isteriku Sekar."

3 komentar:

  1. Tak sia-sia menunggu cerita ini.
    Sampai seribu episode pun tetap kutunggu.

    BalasHapus
  2. Horeee akhirnya setelah sekian lama wisanggeni jadi pang jagonaa heheheheh makasii kk isamuu ditunggu apdet selanjutnya yaa

    BalasHapus
  3. Ane suka genre ini, mengingatkan ane akan zaman kids ane doeloe taon 90an dimana ganesh th, tatang S dll berjaya lewat komik dan cerita silat..

    Lancrotkaaan mimiin.... :D

    BalasHapus