Senin, 15 Januari 2018

Pesona Tetangga

”Siapa, Bun?” sambil terus merapikan barang-barang, aku bertanya pada istriku.
”Bu Amin, tetangga sebelah.” jelas istriku. ”Rumahnya pas di kiri rumah kita, dempet tembok.” tambahnya
Kuperhatikan ibu muda yang baru saja berlalu dari rumahku itu. Cukup cantik juga. Kulitnya putih bersih, dengan tubuh langsing tinggi semampai. Bokong dan payudaranya kelihatan bulat dan berisi meski dia memakai baju panjang yang agak longgar. Umurnya sudah 32 tahun, kata istriku. Anaknya dua, yang masih kecil baru berusia 6 bulan. Pantas saja susunya kelihatan montok, dia lagi menyusui rupanya. Pak Amin, suaminya, bekerja sebagai penghulu di luar kota. Pulang cuma seminggu sekali. Untuk sementara, itulah info yang bisa aku dapatkan.

”Kenapa, ayah tertarik ya?” tanya istriku tanpa menoleh. Tangannya masih asyik memindahkan piring dan gelas ke dalam rak.
”Ah, enggak.” aku berbohong. Siapa sih yang bisa menolak wanita secantik dia?
”Nama aslinya Arissa,” kata istriku lagi. ”Sama seperti dia, sebentar lagi, aku juga bakal tenar dengan nama Bu Handoko,”
Handoko adalah namaku. Sedangkan istriku sendiri bernama Fenti Rahma. Nama yang cantik, secantik orangnya. Itulah kenapa aku dulu ngebet menikahinya. Fenti adalah mahasiswi tercantik di kelasku. Bahkan dibanding bu Amin–atau Rissa, begitu aku memanggilnya–dia lebih cantik. Tapi entah kenapa, aku malah terus terbayang-bayang wajah ibu muda itu. Ada sesuatu yang menarik pada dirinya yang membangkitkan rasa penasaranku. 
”Ayo, Yah. Jangan ngelamun aja.” tegur istriku. ”kapan selesainya pekerjaan kita kalau ayah ngelamun terus.” tambahnya. Kami memang baru pindah rumah. Barang-barang masih banyak yang berserakan menunggu ditata.
”I-iya, Bun.” segera kutepis bayangan tubuh Rissa yang menggoda dan melanjutkan lagi pekerjaanku.
Esok paginya, aku terbangun oleh suara riang ibu-ibu yang sedang berbelanja. Rupanya pos gardu depan rumahku adalah tempat mangkal Pak Yus, si tukang sayur langganan. Terdengar suara merdu istriku dan Rissa yang sedang menawar ikan bandeng.
issa?
Teringat kemarin, aku langsung berdiri dan mengintip dari celah jendela. Hari ini, ibu muda itu memakai rok hitam panjang dan kaos oblong tipis. Wajah cantiknya terlihat polos tanpa bedak apalagi make up. Tapi entah kenapa, aku tetap terpesona dibuatnya. Di mataku, dia tetap terlihat menarik dengan jilbab warna ungu yang ia kenakan.
Aku segera cuci muka dan berganti pakaian yang pantas. Aku ingin berkenalan dengannya. Menunjukkan kalau di sebelah rumahnya ada laki-laki ganteng yang siap memuaskan hasratnya kapan saja kalau dia membutuhkan.
”Sudah bangun, Yah?” tanya istriku saat melihatku keluar dari rumah.
”Belikan kue dong, laper nih.” aku beralasan. Kuperhatikan semua ibu muda yang berkumpul di situ. Rata-rata cukup cantik dan seksi. Maklum orang kota, jadi pada pintar dandan dan merawat diri semua. Tapi yang menang tetaplah Rissa, dia kelihatan paling mencolok dan bersinar. Bahkan Pak Yus yang sudah tua aja tahu, beberapa kali matanya mencuri-curi pandang ke arahnya, lalu ke istriku, seperti membandingkan.
Segera kusalami semua yang ada disitu. Tak terkecuali Rissa. Aku berusaha berlama-lama saat bersalaman dengannya. Kurasakan betapa halus dan lentik jari-jarinya. Tapi dia buru-buru menarik tangan dan melepaskan. Mungkin sungkan pada istriku. Bahkan wanita itu segera pergi begitu belanjaannya sudah terbayar, seperti berusaha menghindar dariku. Mungkin dia merasa kalau aku berhasrat pada tubuh sintalnya.
Selanjutnya, hari-hari berlalu tanpa ada peristiwa penting yang terjadi. Aku sering sendirian di rumah karena istriku kerja kantoran, sedangkan aku sendiri adalah penulis lepas yang kadang-kadang juga menerima jasa desain website. Aku terus memperhatikan Rissa dan tetap curi-curi pandang kepadanya. Dia mengetahuinya, tapi kini sudah tidak berusaha menghindar lagi. Bahkan dia sudah mau tersenyum bila kusapa. Suatu kemajuan yang cukup berarti.
Hari ini hari minggu. Rumah sepi, istriku tadi pamit pergi ke pasar untuk berbelanja sayur dan ikan. Aku yang bangun agak siang segera bangkit dari tempat tidur dan berniat untuk cuci muka.
Saat itulah, sayup-sayup kudengar suara gemericik air dari samping rumah. Tepatnya dari rumah Rissa. Sepertinya ibu muda itu sedang mencuci pakaian. Aku segera naik ke loteng dan mengintipnya. Karena halaman belakang Rissa tidak tertutup, aku jadi bisa melihatnya dengan jelas. Ini adalah untuk yang ketiga kalinya aku melakukannya. Yang pertama dan kedua cukup berkesan, aku bisa melihat sedikit pahanya dan juga lekuk tubuhnya yang menggitar saat pakaiannya basah. Untuk kali ini, aku berharap dapat melihat lebih.
Seperti biasa, wanita cantik itu cuma memakai daster, yang sekarang sudah nampak basah dan tersingkap hingga memperlihatkan separuh kulit pahanya yang halus dan putih mulus. Saat dia mengucek, payudaranya yang besar juga kelihatan bergoyang-goyang pelan. Inilah yang kusukai, benda itu jadi terlihat sangat indah dan menggiurkan. Tak terasa, penisku mulai menegang dan mengeras di balik celana. Aku segera mengeluarkan dan mengocoknya. Sambil terus mengintip, aku melakukan onani.
Saat lagi enak-enaknya, tiba-tiba kulihat Rissa berdiri. Dia mengangkat dasternya dan serta merta mencopot celana dalam yang ia pakai dan langsung mencucinya sekalian. Aku tercekat. Nafasku bagai berhenti. Bagaimana tidak, meski cuma sekilas, aku bisa melihat seluruh pahanya yang putih mulus dan juga vaginanya yang mungil kemerahan dengan sedikit rambut-rambut halus tumbuh di atasnya. Ohhh… sungguh sangat menggairahkan sekali. Aku jadi tak tahan. Ingin rasanya aku loncat ke bawah dan memperkosanya saat itu juga. Tapi tentu saja itu tidak mungkin. Yang bisa kulakukan cuma terus mengintip sambil mengocok penisku semakin cepat.
Aku sudah hampir orgasme saat kudengar suara motor istriku meraung memasuki halaman. Segera kusudahi kegiatanku dan turun menyambutnya. Daripada sperma di buang percuma, kan mending ditaruh di lubang yang tepat.
Istriku baru saja membuka pintu saat aku menarik tangannya dan menyeretnya ke tempat tidur. ”Yah, apa-apaan sih?” dia protes, tapi tidak menolak.
Tanpa basa-basi lagi, aku segera mencium bibirnya yang tipis dan indah itu. Kujilat lipstiknya yang berbau strawberry. Meski masih bingung, karena baru pulang dari pasar langsung kuserang, dia tetap membalas dengan penuh gairah. Saat tanganku bergerak merambahi buah dadanya, dia juga ikutan dengan meraih penisku yang sudah tegak di balik celana dan membetot-betotnya keras.
”Ehmm... Yah, kok tumben sih?” tanyanya saat tanganku mencari kaitan BH kuningnya dan menariknya lepas. Aku juga menyingkap kaos hitamnya ke atas hingga tampaklah buah dada Fenti yang bulat dan putih mulus. Dengan gemas, kuremas-remas benda bulat empuk itu dan kucucupi putingnya berkali-kali.
”Oughh,” istriku langsung mendesah sambil menggelinjang. ”Ohhh.. Ayah!” tubuh sintalnya melenting ke depan, membuatku makin leluasa menjilati putingnya yang terasa mulai sedikit mengeras. ”Yah, geli!” rintihnya lagi saat tanganku menjalar meraba paha mulusnya, dan terus naik hingga masuk ke balik celana dalamnya.
”Ayah pengen, Bun!” aku berkata singkat. Untuk alasan kenapa aku sampai bergairah seperti ini, tentu saja tidak bisa kukatakan.
Istriku sepertinya juga bergairah karena kulihat celananya sudah mulai basah oleh cairan kewanitaannya. Dia juga dengan tak sabar membuka kancing piyamaku. Saat aku sudah telanjang dada, dia langsung mencium dan menjilati putingku. Lalu terus ke bawah ke perutku. Kemudian dia berlutut dan dengan tangannya yang lentik berbulu halus, dia merogoh ke dalam celana kolorku dan mengeluarkan kemaluanku yang sudah menegang dahsyat.
"Ohh.. sudah ngaceng rupanya. Besar sekali, Yah. Bunda suka." katanya sambil mengagumi kemaluanku dari dekat. Meski sudah sering melihat dan menikmatinya, dia masih tetap terpesona dibuatnya. Fenti tidak melanjutkan lagi kata-katanya karena mulutnya yang mungil itu kini sudah melahap dan mengulum penisku.
”Hmph.. Hmph..” matanya melirik nakal kepadaku, sementara tangannya sibuk meremas-remas buah zakarku.
"Hmm, hisap terus, Bun. Ya begitu! Ough, enak!" rintihku sambil menahan rasa nikmat yang kembali menjalar hebat. 


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar