Rabu, 17 Januari 2018

Tak Ada Jalan Kembali



Masa sekolah dan kuliah adalah masa yang paling menyenangkan. Setelah lulus SMP kelas 3, Marina masuk di salah satu SMU Negeri Banyuwangi. Marina, yang lebih sering dipanggil dengan sebutan Rina, berasal dari Medan, mempunyai darah Jawa dan Riau, dengan nama keluarga Saelan.
Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa Rina dimanjakan oleh Tuhan yang mengaruniainya kecantikan. Dan ibarat kembang yang mulai mekar, kumbang-kumbang di sekitar Rina setiap saat mengincar, siap mencicipi madu manis nan berlimpah. Dengan tinggi badan 168 cm, Rina diterima sebagai anggota club volley di sekolahnya. Setiap ada kompetisi, entah kalah atau menang, Rina selalu menjadi primadona.

Para jejaka SMU memberikan julukan ‘macan’ kepada Rina, yang berarti 'manis dan cantik'. Tentu saja hal itu amat membanggakan diri Rina dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis iri hati kepadanha, tapi Rina tak menjadi sombong, ia tetap ramah dan mudah bergaul dengan siapa pun.
Beberapa pria memang cukup berkenan di selera Rina. Rina berpikir tidak ada salahnya kalau ia memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Dono, seorang anak dokter. Pemuda itu sangat simpatik. Wajahnya yang tampan telah membuat Rina kesengsem. Rina merasakan ciuman pertamanya dari Dono, dan sebagaimana umumnya, ciuman ini tak terlupakan.
Namun setelah beberapa minggu, di mata Rina, Dono terlalu alim, terlalu ambisi mengejar ilmu, kurang hangat dalam pergaulan dengan wanita, sehingga hubungan mereka tetap sebagai teman biasa, tidak berlanjut menjadi pacaran serius.
Setelah itu Rina akrab dengan Reza. Dia termasuk cukup cerdas di sekolahnya. Reza bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaran sering Rina tanyakan padanya. Reza-lah yang menjadi pria pertama yang berani menyentuh, menjamah dan bahkan mencium buah dada Rina.
Saat itu, Reza yang memang banyak membaca buku biologi, menceritakan tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan, ikan paus lahir sebagaimana hewan menyusui lainnya. Bayi ikan paus langsung dapat menyesuaikan lingkungannya di tengah samudra. Bayi ikan paus langsung bisa berenang dan mencari puting susu induknya. Rina amat terkesan mendengarkan hal itu dan sangat menikmati saat Reza memperagakan diri sebagai bayi ikan paus dan menyusu di toketnya ibarat induk.
Lain lagi dengan Isman. Tubuhnya yang jangkung membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota yang tak terlalu besar ini, dan memang dengan tubuh jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis di sekolah sering cekikikan kalau membicarakan Isman. Mereka berbisik mengenai penis lelaki jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Rina yang memang bukan gadis alim shalihah tergugah, ingin menjadi siswi pertama yang membuktikan benar tidaknya gosip teman sekolahnya. Rina semakin lama menjadi blingsatan serta penasaran mencari kesempatan untuk dapat jalan berdua dengan Isman.
Sampai pada satu hari Isman dengan sepeda motor kakaknya mengajak Rina menyaksikan pantai Cemara yang terletak di pinggir Selatan kota Banyuwangi, dan tidak terlalu jauh dari daerah cagar alam. Setelah menelusuri pantainya yang indah, mereka beristirahat di tempat sunyi, terpencil dan terpisah dari kebanyakan pengunjung pantai. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya, Isman membiarkan saat tangan Rina meraba tonjolan di selangkangan celananya.
Rina juga tidak tahu mengapa birahinya memuncak saat itu, nafasnya memburu. Tangan Rina melepas ritsluiting dan menarik ke bawah celana Isman. Birahi Rina semakin tak tertahankan di saat ia melihat tonjolan besar melengkung melintang dari balik celana dalam Isman. Tangan Rina membelai, kemudian menyusup lewat tepian celana dalam Isman dan meraih penisnya.
"Uuuuuuh....  memang besar!" bisik hati Rina.
Telapak tangannya merasakan batang sebesar pisang tanduk yang keras kenyal dan hangat itu. Batang itu berdenyut-denyut menggoyahkan syaraf birahi Rina. Dia menggerakkan jari-jari lentiknya untuk mengelus-elus kejantanan itu. Rina semakin bingar mendengar suara jantan yang terasa sangat memacu gairah kewanitaan di telinganya. Suara debur gelombang dan derai angin laut menderu bersamaan erangan nikmat dari mulut Isman.
Agaknya Isman pun ingin membalas ulah Rina dengan menyelipkan tangannya ke dalam blouse gadis itu. Dengan nakal menyelusup ke dalam BH dan memilin-milin puting Rina yang tegak. Keduanya mabuk birahi, Rina telah mengeluarkan penis Isman dari celana dalamnya, sedangkan Isman telah memindahkan kegiatan tangannya dari toket sekal, kini merogoh ke dalam CD Rina, dan menarik-narik bulu kemaluan Rina yang mulai lembab akibat rangsangan birahi.
Itulah untuk pertama kalinya Rina melihat dan menyentuh penis lelaki. Rupanya Isman masih belum banyak pengalaman bergaul dengan wanita, sehingga dari liang kencingnya terlihat beberapa tetes air mazi. Kelakuan Isman berubah menjadi agak kasar, karena agaknya ia hampir ejakulasi. Kepala Rina diraih dan dipaksanya untuk mengulum penisnya, sehingga Rina tersedak karena belum ada pengalaman dan juga ukuran kemaluan itu terlalu panjang. Setelah berdenyut-denyut dengan dahsyat, air mani Isman yang kental keluar dari penisnya.
Entah karena dorongan birahi, Rina menelan semuanya , bahkan menjilati yang tercecer di paha Isman dan juga di tempat duduk sepeda motornya. Setelah itu Isman membalas menjilati memek Rina, sehingga Rina mengalami orgasme pertama kalinya.
Namun setelah itu, Isman tak pernah lagi mengajak Rina pergi! Mungkin ia menganggap Rina murahan, dan Isman pun pergi ke pulau Kalimantan karena orang tuanya dipindahkan tempat tugas.
Setelah itu Rina masih sempat pacaran dengan dua teman lainnya, sebelum ia berkenalan dengan Bogas dari SMU negeri lain. Ayah Bogas berasal dari tanah Batak Karo, termasuk marga Hutagalung, sedangkan ibu Bogas berdarah Jawa dan Madura.
Rina memperhatikan sifat para teman pria di sekolahnya, dan mendapat kesan bahwa teman-teman pria itu besar cemburuannya. Mereka selalu ingin memonopoli Rina. Dia menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Sedangkan Bogas agaknya tak terlalu besar egonya, ia tidak melarang Rina bergaul biasa terhadap teman pria lain.
Pergaulan Rina dengan Bogas semakin akrab, mereka telah sering pergi menonton film berdua dan juga ke pelbagai pesta. Hubungan keduanya terlihat semakin akrab dan intim, apalagi setelah masuk perguruan tinggi, menempuh kuliah bersama sehingga tingkat sarjana muda.
Orang tua Bogas memutuskan untuk melamar Rina, sebelum terjadi hal tak terduga dan tak diinginkan. Mereka menikah setelah keduanya ujian sarjana bidang akuntansi. Masih terbayang dalam ingatan Bogas perasaan bahagia dan lega saat selesai mengucapkan ijab kabul di muka penghulu tadi pagi. Bahagia karena berhasil menyunting gadis yang dicintainya, lega karena telah berhasil melewati percobaan cukup berat selama hampir tiga tahun hubungan mereka.
Wangi melati harum semerbak sampai ke setiap sudut kamar pengantin yang dihias berwarna dominan merah jambu. Dan, di sisi Bogas terbaring gadis yang amat sangat dicintainya, berbalut daster tipis yang juga berwarna merah jambu. Matanya yang indah dan bening menatap Bogas penuh rasa cinta, sementara jemarinya yang halus membelai lembut tangan Bogas yang sedang memeluknya.
Kulit Rina tidak terlalu putih, tetapi halus dan mulus. Rina, yang Bogas kenal sejak sama-sama duduk di bangku kuliah, yang menjadi incaran para pemuda di kampus, sekarang telah resmi menjadi istrinya. Malam ini adalah malam pertama mereka sah untuk sekamar dan seranjang. Tidak ada lagi rasa takut atau khawatir dipergoki orang, tidak ada lagi rasa terburu-buru, dan juga tidak ada lagi rasa berdosa seperti yang mereka rasakan dan alami selama berpacaran. Masa pacaran mereka memang tidak terlalu bersih, saling cium, saling raba bahkan sampai ke tingkat heavy petting sering mereka lakukan.
Tapi, dengan penuh rasa sayang dan tanggung jawab berdua, Rina berhasil mempertahankan kesuciannya sampai saat ini. Mereka bangga akan hal itu. Suasana yang romantis ditambah dengan sejuknya hembusan AC sungguh membangkitkan nafsu. Bogas memeluk istrinya, mengecup kening Rina. Dari kening, ciuman Bogas turun ke alis mata istrinya yang hitam lebat teratur, lalu ke hidung dan mencapai ke bibirnya.
Ciuman mereka semakin lama semakin bergelora, dua lidah saling berkait diikuti dengan desahan nafas yang semakin memburu. Tangan Bogas yang semula memeluk punggung Rina, mulai menjalar ke depan, perlahan menuju ke payudara gadis itu yang lumayan besar. Sungguh pintar Rina memilih gaun tidur yang berkancing di depan dan itu pun hanya 4 buah, mudah bagi tangan Bogas untuk membukanya tanpa harus melihat.
Tidak lama kemudian kaitan BH Rina berhasil dilepaskan oleh tangan Bogas yang sudah cukup terlatih. Kedua bukit kembar dengan puncaknya berwarna coklat kemerahan itu kini tersembul sangat indah. Daster dan BH Rina pun segera terlempar ke lantai. Sementara itu, Rina pun telah berhasil membuka kancing piyama sang suami, melepas singlet dan juga celana panjang piyama Bogas. Hanya tinggal celana dalam masing-masing yang masih memisahkan tubuh telanjang mereka berdua, nafas keduanya mendesah penuh nafsu.
Bogas melepaskan ciumannya dari bibir Rina, bibirnya menjalar ke arah liang telinga sang istri, dan membisikkan kata-kata cinta pada Rina. Rina tersenyum dan menatap Bogas sambil berkata bahwa dia juga amat mencintai laki-laki itu. Bogas melanjutkan ciuman ke leher jenjang istrinya, turun ke dada, lalu dengan amat perlahan lidahnya mendaki bukit indah itu hingga ke puncak.
Ia menjilati dan mengulum puting susu kiri Rina yang mulai mengacung keras. Rina mendesah dan meracau pelbagai kata tidak jelas. Bogas melihat mata Rina terpejam dan bibirnya yang merah indah itu sedikit merekah. Sungguh sangat merangsang birahi, membuat kemaluannya mengeras dan berontak di dalam CD.
Tangan Bogas mengelus, meremas dan memilin puting di puncak bukit daging kanan Rina. Bogas tak ingin buru-buru, ia ingin menikmati detik demi detik indah ini secara perlahan. Berpindah dari satu sisi ke sisi satunya secara bergonta ganti, diselingi dengan ciuman ke bibir Rina lagi, membuat wanita utu mulai berkeringat. Jari lentiknya semakin liar mengacak-acak rambut Bogas, bahkan kadang-kadang menarik dan menjambak, membuat nafsu Bogas semakin bergelora.
Dengan berbaring menyamping berhadapan, Bogas melepaskan celana dalam Rina, satu-satunya kain penutup aurat yang masih tersisa. Perlakuan sama dilakukan oleh Rina, membuat kemaluan Bogas semakin mengeras dan mengacung gagah. Bogas membelai kaki istrinya sejauh tangannya bisa menjangkau, perlahan naik ke paha. Berputar-putar, berpindah dari kiri ke kanan, sambil sekali-sekali seakan tidak sengaja menyentuh gundukan berbulu halus yang tak terlalu lebat tapi terawat teratur.
Sementara itu Rina pun agaknya semakin tak sabar, dibelai dan digenggamnya kemaluan Bogas, digerakkan tangannya maju mundur perlahan. Nikmat sekali. Walaupun hal itu sudah sering Bogas rasakan dalam kencan-kencan liar selama pacaran, tetapi kali ini bernuansa lain. Pikiran dan konsentrasi mereka tidak lagi terpecah.
Melalui paha sebelah dalam, perlahan tangan Bogas naik ke atas, menuju ke selangkangan Rina. Di saat bukit Venus Rina tersentuh, terdengar desahan nafasnya semakin keras dan semakin memburu. Perlahan Bogas membelai rambut kemaluan Rina, lalu jari tengahnya mulai menyelinap ke tengah. Dibelai dan diputar-putar tonjolan daging sebesar kacang tanah yang kini sangat basah dan licin.
Tubuh Rina mulai menggelinjang, pinggulnya bergerak ke kiri-ke kanan, juga ke atas dan ke bawah. Keringat Rina semakin deras keluar dari tubuhnya yang wangi. Ciuman Rina pun semakin liar dan ganas, mulai menggigit lidah Bogas yang masih berada di dalam mulutnya. Sementara tangannya semakin nakal bermain di kemaluan sang suami, maju-mundur semakin cepat.
Bogas tak mau kalah dan menjepit kelentit istrinya diantara telunjuk dan ibu jari, lalu dicubit lembut dan dipilin-pilin. Rangsangan itu terlalu banyak untuk dapat ditahan oleh Rina yang memang mulai mabuk birahi. Tubuhnya mengejang dan melengkung, kemudian terhempas ke tempat tidur disertai erangan panjang.
Orgasme yang pertama telah berhasil dipersembahkan sang suami untuk Rina. Dipeluknya sang suami erat dan mesra sambil berbisik, "Ooooohhh, geliiiii, ngiluuuu... abang nakal ah!"
Bogas tidak ingin memberikan waktu istirahat kepada istrinya terlalu lama. Segera Bogas menindih tubuh semok Rina, lalu dengan perlahan diciuminya : dari kening, ke bawah lekuk leher, ke bawah diantara bukit daging, dan terus ke bawah ke arah pusar, mendekati segitiga rambut halus penutup celah surgawi. Deru nafas Rina kembali terdengar disertai rintihan panjang begitu lidah Bogas mulai menyentuh liang kewanitaannya.
Cairan dinding vagina ditambah dengan air liur Bogas membuat lubang mungil hangat itu semakin basah. Bogas menyentuh klitoris Rina dengan ujung lidahnya, sambil kedua tangannya meremas-remas pantat Rina yang padat berisi. Tangan Rina kembali mengacak-acak rambut Bogas, dan kukunya yang tidak terlalu panjang menancap di kepala laki-laki itu. Ngilu tapi nikmat rasanya.
Kepalanya terangkat lalu terbanting kembali ke atas bantal menahan kenikmatan yang sedang melanda. Perut Rina yang datar terlihat naik turun dengan cepat, sementara kedua kakinya nan jenjang langsing menjepit kepala Bogas dengan kuat. Beberapa saat kemudian, ditariknya kepala Bogas karena tak tahan kegelian yang dirasakannya, kemudian diciumnya Bogas dengan gemas. Namun Bogas masih belum ingin langsung merenggut kegadisan istrinya, ia masih ingin lebih menikmati lebih lama wajah yang begitu manis menoleh ke kiri kanan dan mata yang kuyu redup mulai berlinang ; menyerah, meminta, memohon untuk dijarah. 
Selain itu Bogas masih ingin menikmati pula bagaimana wajah Rina pada saat memanjakan rudal dagingnya, ingin menyaksikan bibir manis merekah itu merangkum batang kejantanannya, mengecup dan mengulum kepala jamurnya. Ya, bahkan ingin merasakan ujung lidah Rina menyentuh serta mengecup liang kencingnya yang sangat peka itu. Bogas yakin bahwa istrinya yang berdarah panas pasti tak menolak untuk diajak berposisi 69. Tapi apakah Rina bersedia meneguk sari kejantanannya di malam pengantin nan syahdu ini?
Agaknya untuk mencapai tujuan itu, Bogas harus mengawali dengan merangsang sang istri secara oral sedemikian lama, sehingga Rina ketagihan dan kasmaran untuk membalas. Bogas kembali memerosotkan tubuh, menghujani tubuh telanjang Rina dengan ciuman ganas, mencupangi menggigiti setiap milimeter kulit halus istrinya, sehingga terlihat berkas memerah.
Kini lipatan paha selangkangan Rina dijadikannya sasaran, diciumi dan dikecupi sehingga sang istri menggeliat kegelian. Rina berusaha mengatupkan kedua pahanya, namun ditahan oleh tangan Bogas. Paha mulus licin itu dikuakkan lebar, bibir Bogas bermain di sekeliling bukit Venus dengan bulu halus, lidahnya menjulur menjelajahi selipan bibir kemaluan Rina yang berwarna merah muda kecoklatan.
Kecup dan ciuman bertubi-tubi mengawali rangsangan di situ, kemudian lidah kasap Bogas semakin nakal menyelinap diantara bibir kemaluan pelindung lembah yang masih perawan. Jilatan gencar menyertai gerakan turun naik di celah yang tercampur bau kewanitaan dan keringat Rina yang harum akibat parfum upacara kemanten. Tanpa dapat dikendalikan, Rina merintih dan mengelus, mendesah menceracau tak menentu, ketika kelentitnya dibelai lidah Bogas.
"Oooooooh, geliiiiiiiii... sssssssshhh, geliiiiii... udaaaahan dong! Mau diapain lagi? Sssshhhhhhh, abang nakaaaal... ooohhhhhhh, pengen pipiiiiiiiissss... aaaaaaaah, oooooooh, abaaaaang!!“ jerit Rina menyertai orgasmenya yang kedua, pahanya menjepit kepala Bogas sekuat tenaga.
Bogas merasakan sangat bangga dapat merangsang sang istri, memaksanya lagi untuk mendaki puncak kenikmatan, dan semua dengusan birahi Rina semakin memacu pula nafsunya sendiri. Ia memutuskan untuk kembali memaksa Rina orgasme, sebelum ia akan mengubah posisi badannya sebagai pasangan sendok 69. Dirasakannya denyut orgasme dinding vagina Rina mulai menurun, dan dengan sengaja Bogas mulai kembali menyapu kelentit Rina dengan dagunya yang terhias jenggot pendek, sehingga bagi Rina ibarat klitorisnya digesek sikat ijuk.
"Aaaaaaaaaah, aaaaaiiiiiih, abaaaaaaaang... udaaaaaaaaah, geliiiiiiiiiiii... ngeeeciiiiiiiiiissss, bang! Udaaaaaah, engggggggaaa sanggggup... ssssshhh, ooooooooh, aaaaaaaah, sssssssh...“ tubuh Rina semakin melengkung bagaikan busur, sehingga Bogas pun terpaksa ikut setengah bangun dan membantu menunjang pinggul istrinya yang bahenol dengan kedua tangannya.
"Aaaaaooooooooooouuuuuuuwwwwww, baaaaaaannng!! Ina pipppiiiiiiiiiiiiisss lagiiiiiiiiiiiiii...“ tangan Rina meraih ke kiri ke kanan, menjambak sprei dan menarik menggenggam sekuat tenaga seolah ingin mengimbangi rasa nikmat yang melanda bagian intimnya, sebelum tubuh telanjangnya yang telah mandi keringat terhempas kembali ke atas ranjang.
Puaslah kini Bogas melihat istrinya bagaikan histeris menggeliat menggesekkan paha mulus putihnya satu sama lain, bagaikan ingin mengatasi rasa gatal yang tak terhingga. Bogas kembali merebahkan diri dalam posisi menyamping berhadapan dengan Rina. Wajahnya kembali melekat di selangkangan sang istri, sedangkan pinggulnya sendiri dimajukan disodorkan ke hadapan wajah Rina, dengan penisnya langsung berhadapan dengan mulut Rina yang setengah terbuka.
Ketika Bogas kembali melekatkan bibir dowernya ke bukit Venus istrinya, maka Rina yang telah mabuk birahi langsung menangkap kemaluan Bogas yang mengangguk dan berdenyut di hadapan wajahnya. Dengan naluri kewanitaan penuh syahwat, Rina menyadari apa yang dikehendaki oleh Bogas : tak hanya suami yang wajib merangsang istri, sebaliknya juga seorang istri tak boleh lalai untuk membalas dengan ulah yang sama.
Karena itu, Rina yang memang pernah pacaran dengan beberapa pria sebelumnya, dan juga heavy petting dengan Bogas, dengan tanpa ragu mulai mengocok penis di hadapannya. Selain mengocok, menurun-naikkan genggaman jari lentik tangan kirinya di batang daging itu, Rina pun dengan mahir menjilati tepi jamur yang semakin membesar, dan ujung telunjuk tangan kanannya ikut menyentuh ujung rudal Bogas. Bergantian ujung lidah yang basah dan ujung jari telunjuknya dengan kuku lancip menyentuh serta menggaruk nakal liang kencing di puncak kemaluan yang menyerupai topi baja serdadu itu. Di saat bersamaan, Bogas pun sedang mengecup serta menggigit mesra itil Rina. Rangsangan keduanya makin menggila ketika jari tengah Bogas menggelitik dinding anus istrinya, sedangkan Rina meremas-remas biji pelir suaminya.
"Uuuummmhhh, slluuurrrrp, sluuuuurrrp, ssshhhhhh, oooooohhh, aaaaaahhhh...“ demikianlah desahan pasangan suami istri pengantin baru yang sedang menikmati malam pertama mereka.
Kini Rina telah mengulum dan menyepong suaminya tanpa rasa malu sedikit pun, sebaliknya Bogas pun dengan asyiknya membasahi liang kegadisan Rina yang tak lama lagi akan dicobanya untuk dibelah dan dijarah. Rina terus berusaha melicinkan kemaluan yang segera akan mengubah statusnya dari seorang gadis menjadi wanita dewasa. Selain dijilati dan dibasahi dengan ludah, Rina juga mengocok penis itu sehingga beberapa tetes air mazi sebagai pelopor telah muncul keluar di tepi liang kencing suaminya.
Setelah merasa cukup lama mempersiapkan sang istri untuk menerima kejantanannya, Bogas kembali ke posisi menindih tubuh Rina. Ditindihnya Rina yang telah tak sabar pula dan menguakkan pahanya sejauh mungkin. Penis Bogas yang begitu kaku keras itu direngkuhnya, dituntun dan diarahkan ke celah kegadisannya.
Begitu kepala jamur menyentuh dan membelah bibir kemaluan Rina, kini Bogas mengambil inisiatif : ia menggesek-gesek kejantanannya naik turun di lembah licin berlendir, menyentuh beberapa kali kelentit yang peka, sebelum menancap dan mulai menerobos di vagina Rina. Bogas menciumi kembali bibir sang istri dengan mesra, kedua tangannya mencekal dan jari-jari tangannya merengkuh jari-jari lentik Rina.
Beberapa kali tusukan penisnya meleset, sebelum akhirnya masuk dan perlahan meretas kewanitaan yang masih tertutup oleh selaput tipis itu. Beberapa kali Rina melenguh dan menjerit kecil, tapi Bogas tetap menjalankan tugasnya, maju... maju... menekan... tertahan... maju... namun agaknya selaput dara Rina belum sedia memberikan akses sepenuhnya. 
Di suatu saat Rina merasa sedemikian perih dan sakit sehingga ia menjerit kecil, sementara air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Pinggul Rina secara tak sadar bergeser ke kiri ke kanan seolah ingin menghindarkan tusukan yang sedemikian menyakitkan dan sedang menyiksanya.
Bogas kembali mendorong penisnya ke depan dengan amat perlahan dan hati-hati, ia menekan dan mencoba mendorong masuk. Lagi-lagi Rina merintih dan menjerit keras, mungkin karena begitu kesakitan. Tangannya mendorong bahu sang suami sekuatnya sehingga tubuh Bogas terdorong ke bawah, bahkan hampir keluar ranjang. Bogas melihat air mata meleleh dari sudut mata Rina. Bogas memeluk dan menciumi mesra sang istri. Menurun sudah nafsu Bogas pada saat itu, tak diduganya bahwa sesukar itu merenggut kegadisan Rina.
Setelah beristirahat beberapa lama, Bogas coba memulainya lagi, dan kembali gagal. Agaknya Rina pun masih terlalu tegang, belum bisa rileks untuk menerima suaminya di malam itu. Karena Bogas sangat mencintainya sehingga ia akhirnya tidak tega untuk menyakiti Rina lebih lanjut di malam pengantin pertama.
Malam itu akhirnya mereka tidur berpelukan dengan tubuh masih telanjang bulat. Rina meminta pengertian Bogas untuk tak memaksa meneruskan persetubuhan mereka. Dengan tulus penuh kerelaan Bogas bersedia menerima keinginan istrinya itu, Bogas tidak bersikeras ingin melanjutkan dan menagih haknya sebagai suami.
Setelah suasana lebih mereda, Bogas menerangkan kepada Rina bahwa memang sebetulnya di malam pengantin pertama, seorang istri mengalami 'perkosaan' oleh suaminya. Namun perkosaan itu dalam pernikahan suka sama suka, tak didasarkan paksaan dan kekerasan, namun atas suka rela.
Selanjutnya mereka berdiskusi mengenai persetubuhan, sambil terus sambil bercumbu dengan mesra, dan berjanji untuk mencoba lagi di malam berikutnya. Jika telah resmi menjadi suami istri, bukankah mereka tak perlu tergesa-gesa dan bersembunyi melakukan hubungan badan seperti di saat mereka masih pacaran.
Akhirnya dengan mesra keduanya tidur lelap dalam pelukan erat bagaikan Adam dan Hawa di taman Firdaus.

***
                  
Malam  di hari kedua

Jam sepuluh malam di hari kedua, Bogas dan Rina masuk kamar tidur bergandengan mesra, setelah seharian mereka bersenda gurau mengenang masa lalu ketika masih berpacaran.
Siang tadi, mereka berdua membeli buku mengenai Seks dan Perkawinan, yang di dalamnya disertai pelbagai gambar anatomi tubuh pria dan wanita. Sambil berpelukan bersandar di tempat tidur, mereka menelaah buku itu halaman demi halaman, terutama yang berkaitan dengan hubungan seks. Sampai pada halaman mengenai anatomi pria dan wanita, mereka sepakat untuk membuka baju masing-masing sehingga kembali bugil seperti Adam dan Hawa.
Giliran pertama, Rina membandingkan kemaluan suaminya  dengan gambar yang ada di buku. Walaupun belum disentuh, batang kemaluan Bogas telah mulai menegang, besar dan keras. Rina mengelus dan membolak-balik benda itu sambil memperhatikannya dengan seksama. Jari-jemari lentiknya mulai merengkuh batang kemaluan itu dan mengocok lembut turun naik, sehingga di satu saat terlihat liang kencing di tengah mulai basah dengan tetes air mazi Bogas.
Kali ini Bogas menahan keinginannya untuk disepong, karena tujuannya adalah menembus kegadisan sang istri yang masih bertahan di malam pertama. Untuk itu Bogas bertekad untuk merangsang Rina sejauh mungkin, mengajaknya memasuki orgasme sesering mungkin sehingga akan ketagihan dan kegatalan, bahkan setengah histeris memohon diperawani.
Bogas mencium Rina penuh kemesraan, tangannya meraba dan mengelus tubuh telanjang yang sedemikian lembut, menyebabkan Rina merinding. Kemudian, Bogas meminta Rina berbaring telentang di tempat tidur, menarik lututnya sambil membuka sedikit mengangkang. Mulanya Rina malu dan tersipu-sipu dengan wajah merona merah, karena kali ini lampu menyala terang, sehingga semua bagian intimnya dipamerkan di hadapan sang suami. Tapi setelah diciumi mesra, akhirnya Rina mengalah, perlahan-lahan mulai membuka lebar kedua pahanya.
Bogas menelusur ke bawah, mengambil posisi telungkup di bawah pinggul sang istri, muka dan mata Bogas kini berada persis di tengah selangkangan Rina. Terlihatlah bagian dalamnya yang merah muda, sungguh merangsang setiap lelaki, apalagi Bogas, sang suami. Dengan dua jarinya Bogas membuka dan memperhatikan kelamin istrinya nan mungil terbuka. Seumur hidupnya, baru kali ini Bogas sempat melihat kemaluan seorang wanita dengan begitu jelas. Walaupun telah beberapa kali mengoral Rina, namun Bogas selalu melakukannya dengan mata tertutup, biasanya lampu telah dimatikan atau diredupkan sehingga semuanya kurang jelas. 
Bogas baru menyadari bahwa klitoris bentuknya tidak terlalu bulat, tetapi agak memanjang. Bogas kini dapat mengidentifikasi bagian mana yang disebut bibir besar, bibir kecil, lubang kandung kemih, liang senggama, dan yang membuatnya merasa sangat beruntung adalah karena ia dapat melihat apa yang dinamakan selaput dara, benda yang memisahkan status kegadisan murni dan wanita dewasa.
Beda dengan bayangan Bogas selama ini, ternyata selaput dara Rina tidak bening seluruhnya, tetapi berwarna hampir sama dengan dinding vagina, merah muda dengan dihiasi begitu banyak pembuluh darah sehalus rambut. Di tengahnya ada lubang kecil berbentuk oval, di bagian dalamnya pasti tersembunyi gerbang rahim yang cukup peka menurut keterangan di buku seks itu.
Tidak tahan berlama-lama, Bogas mulai menciumi kemaluan istrinya, mula-mula halus dan lembut, kemudian berubah menjadu penuh nafsu. Klitoris Rina kembali dijadikan sasaran utama : dengan lidah yang basah, hangat dan kasap, disapu-sapunya permukaan kelentit itu hingga menyebabkan Rina kembali mengejang, merintih dan mendesah.
Kedua kaki Rina yang jenjang langsing namun kuat menjepit kepala Bogas dengan erat, seakan tidak rela untuk melepaskannya lagi. Bogas mengecup, menghisap, dan mengulum benda kecil itu dengan bibir dan lidahnya, dilanjutkan gigitan gemas dan mesra. Rina semakin liar, bahkan sampai berusaha duduk akibat menahan kenikmatan yang menerpanya.
Rina lalu meronta berontak, menarik pinggul Bogas, sehingga posisi mereka berubah menjadi berbaring menyamping berhadapan, tetapi terbalik. Kepala Bogas tetap berada di depan kemaluan Rina, sementara mulut mungil Rina berusaha dengan rakus melahap dan mengulum kemaluan sang suami yang sudah sangat keras dan besar.
Bogas merasakan nikmat tiada tara. Namun agaknya Bogas agak kesulitan untuk melakukan rangsangan oral terhadap istrinya dalam posisi seperti ini, sehingga Bogas meminta Rina agar telentang di tempat tidur, sedangkan ia naik ke atas, namun tetap dalam posisi terbalik.
Beberapa menit mereka saling merangsang secara oral dalam posisi ini, dan hampir saja bobol pertahanan Bogas menerima jilatan dan elusan lidah Rina yang hangat dan semakin nakal. Apalagi di saat Rina memasukkan kepala kemaluan ke mulutnya, menghisap, mengulum mengunyah seperti akan menelannya, disertai dengusan dan desahan betina jantan yang sedang dilanda nafsu birahi. Ujung lidah Rina semakin sering menggelitik liang kencing di ujung kepala kemaluan Bogas.
Karena hampir tak sanggup menahan orgasmenya, Bogas kembali mengubah posisi tubuh bugil mereka. Muka mereka kembali berhadapan, kembali Bogas menatap mata Rina yang sangat indah, namun pada saat ini mulai kuyu terpejam mencerminkan nafsu tak tertahan. Bogas membisikkan rayuan, bahwa dia sangat mencintai Rina, dan ia bertanya apakah Rina kiranya telah rela  dan bersedia menyerahkan milik satu-satunya yang paling berharga itu.
Setelah mencium bibir Bogas dengan mesra dan gemas, Rina berbisik bahwa ia bersedia, namun sekaligus meminta Bogas untuk melakukannnya secara perlahan dan tidak akan kasar.
Rina melanjutkan bisikannya, "Bang, kali ini saya yang di atas dan coba masukkan sendiri ya?“
Hal ini sangat di luar dugaan Bogas. Ia sadar bahwa di balik wajah manis alim shalihah istrinya tersembunyi kegairahan wanita sensual. Namun di dalam buku penuntun pernikahan yang baru mereka pelajari bersama memang tak disebutkan apa dan bagaimana posisi terbaik pada saat pasangan pengantin baru menikmati malam syahdu mereka. Mengingat kegagalan di malam sebelumnya maka Bogas setuju dengan keinginan sang istri, ia kini merebahkan diri dalam posisi telentang, dan karena memang telah terangsang, maka penisnya mengacung terlihat tegak ke atas, bagaikan sebuah tugu atau rudal yang siap meluncur ke angkasa luar.  
Namun agaknya Rina masih ingin memastikan bahwa rudal daging itu cukup licin, sehingga memudahkan penetrasi pertama. Karena itu jari Rina kembali merangkuh dan menggenggam kemaluan yang akan memasuki liang kewanitaannya itu. Dijilat dan dikulum serta dibasahinya dengan ludah sehingga kepala rudal itu bagaikan topi baja yang sangat mengkilat.
Setelah itu Rina dengan perlahan mengambil posisi setengah jongkok atau setengah duduk di atas paha pinggul sang suami. Hati-hati ia menurunkan pinggulnya dalam posisi mengangkang maksimal dan menuntun puncak batang kemaluan menuju lorong vaginanya. Berdasarkan gambar dan apa yang telah diperhatikannya tadi, juga dengan naluri kewanitaannya, Rina tahu di mana ia harus mengarahkan liang vaginanya ke penis yang tegak mengacung.
Sambil menahan nafas, Rina menurunkan pinggulnya perlahan dan sangat hati-hati.... bleeeesss, bleeeeezzzz!! Setelah merasakan kepala kejantanan suaminya telah terjepit diantara bibir dalam vaginanya, dia melepaskan kedua tangannya dari rengkuhan batang kemaluan Bogas. Diraihnya kedua tangan sang suami, dan dengan jari-jemari saling berkait, saling bergenggam, saling melibat, Rina menggigit bibir bawahnya seerat mungkin, mempersiapkan saat yang menentukan.
Rina mendesah tertahan, mengeluh dan merintih ketika rasa ngilu mulai menerpa kembali, tapi kali ini tangannya telah sempurna dalam genggaman suaminya. Bogas mengangkat lagi pinggulnya sedikit, sambil bertanya kepada Rina apakah terasa sangat sakit. Kali ini Rina hanya terlihat menggigit bibir bawahnya disertai isyarat gelengan kepala, meskipun air matanya mulai mengalir di pipi.
Bogas sadari bahwa Rina juga sangat menginginkan ketegasan sang suami. Setelah Bogas meminta Rina untuk menahan sakit sedikit beberapa detik, dengan perlahan tapi pasti, Bogas melepaskan jari-jari tangannya dari rengkuhan Rina, memegang erat pinggul istrinya, lalu ditekannya ke bawah, dinaikkan sedikit, ditekan lagi sekuat tenaganya !!!
"Aaauuuuuuwww, Baang! Ooooooohhh... aduuuuuh, Baaang! Aaaaauuuuww...“ jerit Rina sambil menengadahkan kepalanya ke atas menahan rasa sakit.
Bogas berhenti sebentar setelah merasakan penisnya menembus sesuatu di dalam vagina Rina, namun sejenak kemudian ia melanjutkan gerakan pinggulnya sambil menatap wajah cantik sang istri. Ada titik air mata di sudut mata Rina, tapi sambil tersenyum manis dia mengangguk dan mancium suaminya.
Bogas memeluk istrinya bagaikan tak pernah ingin dilepaskan lagi, dan dalam posisi saling berangkulan itu, Rina bahkan menggulingkan diri dan menarik Bogas untuk kini berada di atas tubuhnya. Bogas mengerti keinginan sang istri, dalam posisi baru ini ia mengangkat pinggulnya kembali, kemudian dengan sedikit tekanan, Bogas mendorong dengan kuat. Rina mengerang sambil menggigit kuat bahu Bogas, seolah memberi tanda atas berhasilnya sang suami menunaikan tugas utama setelah mereka memasuki jenjang pernikahan resmi.
"Oooooohhh, Abaaang! Aaaaaauuuuwwww, iiyyyaaaaa... teruuuuuuus, Sayaaaang!!“ jeritan sakit nikmat Rina memberikan keberanian kepada Bogas untuk lebih menekan jauh, dan akhirnya, seluruh batang kemaluan Bogas berhasil masuk ke dalam lubang vagina istrinya.
Kini terbukalah pintu surgawi bagi Bogas dan Rina untuk menikmati sepuasnya kehidupan pengantin baru. Bogas sangat bangga dan bahagia sekali telah berhasil melakukan tugasnya sebagai suami. Tiada hentinya ia menciumi Rina dengan mesra, berulang ulang dihapusnya butir air mata yang mengalir dari pelupuk menurun ke pipi. Rina membuka mata, terlihat bahwa di balik kesakitannya, ia pun sangat lega dan bahagia karena telah mempersembahkan mahkotanya.
Perlahan Bogas menarik kemaluannya keluar sehingga hanya ujung penisnya yang masih berada di dalam jepitan vagina sang istri, kemudian ia menekan lagi, ditariknya lagi, begitulah terus berulang-ulang. Setiap Bogas menekan masuk, Rina mendesah, namun kini telah berangsur berubah : tidak lagi suara dari rasa sakit. Bogas yakin, istrinya sudah mulai dapat menikmati sepenuhnya persetubuhan mereka.
Permukaan lembut dan hangat dalam liang itu seperti membelai dan mengurut dan bahkan memijit-mijit kemaluan Bogas. Bogas memang belum pernah bersenggama dengan wanita dalam arti sesungguhnya sebelum ini. Butir-butir keringat mulai membasahi tubuh telanjang mereka berdua.
Nafsu birahi yang telah lama tertahan terpuaskan lepas saat ini. Kepala Rina dengan rambut tergerai mulai membanting ke kiri dan ke kanan, diiringi lenguhan dan desahan yang membuat nafsu Bogas semakin bergelora. Tangan Rina memeluk erat tubuh Bogas, sambil sesekali kukunya menancap di punggung sang suami.
Gelora yang semakin menekan di dalam biji pelir Bogas terasa tidak tertahankan lagi, dan sambil menancapkan batang kemaluannya dalam-dalam sehingga menyentuh mulut rahim Rina, tersemburlah sperma sebanyak-banyaknya ke dalam rahim perempuan cantik itu. Siraman air pejuh Bogas disertai dengan lengkingan histeris Rina yang merasakan ngilu, perih, namun nikmat tak terkira karena rahimnya yang sangat peka digempur dan dihunjam oleh benih-benih kental.
"Iiiyaaaaaah, oooooooohhhh... teruuuuuuuuusss, Bang, teruuuuuuuusss! Aaaaaauuuuww...“ Rina menceracau bagaikan kesurupan, tangannya meremas sprei dan kakinya menghentak liar ke sana-sini.
Setelah lima menit mereka menikmati bersama orgasme yang begitu harmonis, keduanya akhirnya lemas terkulai. Sprei warna putih kini telah terhiasi bercak darah. Mungkin karena selaput dara Rina cukup tebal, maka noda darah cukup banyak, sehingga sedikit menembus ke kasur. Hal ini akan menjadi kenang-kenangan mereka selamanya.
Malam itu mereka hampir tidak tidur. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka mengulang persenggamaan lagi, lagi dan lagi. Entah berapa kali, tapi yang pasti, pada hubungan yang ke dua setelah tertembusnya selaput dara itu, Bogas berhasil membawa istrinya menikmati multi orgasme, lebih dari satu kali. Walaupun Bogas telah kehilangan banyak sperma, namun ia cukup kuat dan bertahan lama, sehingga akhirnya Rina menyerah kalah dan tergeletak dalam kenikmatan dan kelelahan yang amat sangat.
Akhirnya menjelang subuh, mereka lelap dan baru bangun ketika matahari telah naik tinggi, dan mereka dengan penuh gairah mandi bersama.

2 komentar:

  1. Skedar sarang kang, mungkin bagus cerita2 yg lalu dibuatin lanjutanx aja supaya berurut

    BalasHapus