Rabu, 07 Februari 2018

Akibat Kurang Terpuaskan



Sore itu, alam tampak begitu mempesona. Cahaya matahari menyepuh atap-atap rumah dengan sinarnya yang kuning keemasan. Semburat cahaya itu memantul menciptakan aura ketenangan dan kedamaian. Di jalanan, anak-anak masih asyik bermain kejar-kejaran. Ada juga yang bermain layang-layang, mainan mereka berkilauan diterpa sinar matahari senja.
Dari halaman belakang sebuah rumah, Andi menyaksikan semua itu sambil tersenyum. Sesungguhnya bukan semata-mata cuaca dan suasana menjelang malam yang membuatnya senang, akan tetapi, lebih dari itu. Yang membuat segala yang dipandangnya tampak menakjubkan adalah karena nafsu sedang bertandang di otaknya.

Dan penyebabnya, tak lain dan tak bukan adalah sosok seorang gadis pualam, yang sekarang sedang bersantai di tepi kolam renang. Gadis yang memiliki kecantikan bak bunga mawar putih yang sedang merekah. Gadis yang di matanya seumpama permata safir yang paling indah. Gadis itu adalah kilau matahari di musim semi. Sosok yang selalu menjadi buah bibir di kalangan mahasiswa laki-laki. Gadis yang pesonanya dikagumi banyak orang, bahkan oleh para dosen sekalipun.
Dialah Silvia Pramesthi Anjani, gadis bersuara jernih yang belum lama menjadi pacarnya. Wajah Silvia yang tak kalah mempesona dari diva pop remaja, Sherina Munaf, langsung memikat hati Andi di waktu pertama kali mereka bertemu. Dan sekarang, dengan hanya mengenakan bikini tipis berwarna emas, gadis itu tampak semakin berkilauan.
Mereka berada di rumah hanya berdua. Kedua orang tua Silvia sedang keluar kota menghadiri undangan, sedangkan Silvia adalah anak satu-satunya, sehingga bebaslah bagi mereka untuk berbuat apa saja. Para pembantu tidak akan berani mendekat selama Silvia tidak memanggil, begitu juga dengan sopir dan tukang kebun. Itu artinya, hanya ada Andi dan Silvia di kolam belakang yang dikelilingi oleh pagar cukup tinggi hingga sukar bagi orang luar maupun tetangga sekitar untuk memantau aktifitas keduanya.
"Gadis yang begitu cantik, beruntung sekali aku bisa mendapatkannya," lirih Andi pada dirinya sendiri. "Selain cantik, tubuhnya juga sangat menarik." Ia berkata begitu karena sudah beberapa kali berhasil meniduri Silvia.
Yang pertama di tempat kosnya, saat mereka kehujanan sehabis makan malam bareng. Disitulah Andi mengetahui kalau Silvia ternyata sudah tidak perawan lagi, sudah ada yang memetiknya terlebih dulu sebelum dirinya. Namun ia tidak kecewa karena dia sendiri juga tidak perjaka. Tubuh molek Silvia yang meski tidak begitu tinggi, terbukti mampu memuaskan segala hasratnya.
Berikutnya berturut-turut mereka melakukannya di lapangan parkis kampus, taman tengah kota, rumah Silvia yang sering kosong, hingga di kolam renang belakang seperti sekarang. Semuanya membuat Andi melenguh puas, namun akankah Silvia juga merasakan hal yang sama?
Matahari terus berjalan mendekati peraduan. Sinarnya yang kuning keemasan kini mulai bersulam kemerahan ketika kontol Andi mulai berdenyut-denyut pelan, tergoda untuk bergabung dengan sang pujaan hati dan kembali menembakkan air maninya ke wajah dan payudara gadis itu seperti siang tadi, saat mereka bercinta di kamar.
Kembali dipandanginya Silvia yang berbaring di kursi panjang tepi kolam, berjemur dengan kacamata hitamnya, mengenakan bikini yang nyaris tidak layak digunakan karena hanya merupakan dua carik kain yang menutupi puting, sementara bulatan payudaranya yang meski tidak begitu besar namun tampak sangat padat, kelihatan terburai kemana-mana. Begitu juga dengan G-string mungil yang hanya mampu menutupi celah vagina, membuat selangkangan Silvia yang tercukur rapi, tidak memiliki kesempatan untuk bersembunyi. Semuanya tampak nyata dan jelas, tersaji indah di hadapan Andi.
Maka, jika sampai tidak tergoda, jelas orientasi seksual Andi perlu dipertanyakan. Untunglah, tidak lama kemudian pemuda itu melangkah mendekat, membuat Silvia melirik sambil tersenyum. Dia menatap melalui lensa kacamatanya yang gelap, menjilati bibirnya saat melihat fisik Andi yang tampan dan rupawan, dengan tubuh kekar kencang, dan di balik celana renang yang ia kenakan, nampak tonjolan kemaluan yang cukup mengesankan.
"Cuacanya sejuk ya," Andi berkata santai, duduk di depan Silvia. Tatapannya langsung berjalan di atas tubuh gadis itu tanpa malu-malu sama sekali. "Kamu nampak begitu menggoda, sayang. Sangat menggairahkan," katanya melanjutkan.
"Ah, kamu aja yang kegatelan. Mikirnya mesum melulu," kata Silvia, berusaha terdengar manja.
"Serius! Kamu selalu bisa bikin aku ngaceng." Andi berkata meyakinkan.
"Ah, benarkah? Kebetulan kalau begitu, aku juga pengen lagi." kata Silvia sambil tersenyum.
"Kamu tadi belum nyampe ya?" Andi menebak.
"Kamu sih, sukanya nyemprot duluan. Nggak pernah nungguin aku," kata Silvia pura-pura marah.
"Maaf, Sayang. Habis tubuhmu enak banget sih, aku jadi nggak tahan.” Andi tersenyum malu.
"Kali ini aku ingin bercinta sepuasnya. Lama dan puas. Sampai tubuhku benar-benar lemas." Silvia menantang.
Andi tersentak, seakan pikiran itu tidak pernah terlintas di dalam benaknya. “B-baik, Sayang. Akan kuusahakan.”
Silvia tersenyum dan melepas kacamatanya. "Awas kalau sampai ini kembali muncrat duluan!" katanya sambil meluncurkan tangan di sepanjang tonjolan kemaluan Andi dan membelainya perlahan hingga membuat benda itu mengeras dengan sangat cepat.
“Ah, sayang... sudah, nanti aku nggak tahan. Ayo cepat masukkan.” Andi mendesah kegelian dan cepat melepas celana renangnya.
Silvia menatap batang coklat yang kini mengangguk-angguk di hadapannya. "Sebenarnya, punyamu ini cukup besar," katanya, setengah pada dirinya sendiri. "Terasa sesak banget pas masuk ke dalam memekku. Kalau saja bisa tahan lama, aku pasti akan sangat puas."
"Akan kucoba. Kali ini akan kutahan spermaku untukmu," kata Andi, mengacu pada pertempuran terakhir mereka yang berlangsung tak lebih dari dua menit.
"Yah, yang itu sudah lumayan. Usahakan agar lebih dari dari sepuluh menit biar aku juga ikutan enak." bisik Silvia.
"Baik, jika memang itu yang kamu inginkan," Andi berkata menyanggupi sambil mengangguk ke arah selangkangannya. "Tolong jilati sebentar, biar nanti masuknya lancar," katanya pelan.
Silvia segera menggapai ke depan dan kembali mengambil batang penis Andi. Dengan kedua tangannya ia membawa benda panjang yang sangat tebal itu ke dalam mulutnya. Menjulurkan lidah dan bersandar ke depan, Silvia mulai menjilati daging coklat itu secara perlahan-lahan; berawal dari ujungnya yang tumpul hingga ke kedua telurnya yang menggantung indah.
"Ah... benar begitu, sayang!" rintih Andi. "Enak! Kamu memang benar-benar pintar ngemut kontol,"
Tidak menjawab, Silvia terus meluncurkan lidahnya. Dia membuka mulut lebar-lebar dan menghisap kepala penis Andi kuat-kuat sampai menjadi basah. Pemuda itu mengerang dalam kenikmatan dan balas meremas-remas bulatan payudara Silvia yang kini juga sudah terbuka lebar, menampakkan gundukannya yang pas setangkupan tangan, dengan puting mungil berwarna coklat muda kemerahan. Andi memilin-milinnya sebentar sebelum kemudian menarik-nariknya dengan dua jari, membuat Silvia hampir tersedak ketika mencoba memasukkan batang keras pemuda itu ke belakang tenggorokannya.
"Uh, s-sudah!" Andi mengerang, sambil lembut menarik lepas penisnya ke belakang. Dia berdiri dengan terengah-engah, terlihat begitu susah mengontrol gairahnya yang meledak-ledak. Hidungnya kembang-kempis saat berusaha untuk menarik napas.
“Ah, baru begitu juga,” Silvia berkata mencemooh, nampak sedikit kecewa.
"Habis rasanya benar-benar nikmat, sayang. Aku jadi tak tahan," kata Andi membela diri.
Silvia kembali duduk di kursi panjang, membiarkan Andi melangkah di antara kedua kaki telanjangnya yang terulur ke depan. "Coba kamu bisa sedikit kuat... aku kan paling suka ngemut kontol," gumamnya pelan.
Tersenyum kecut, Andi menarik lembut tali bikini mungil yang dikenakan oleh Silvia. 


 Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

4 komentar: