Senin, 19 Februari 2018

Another Love Story



Imran meletakkan pensilnya ke dalam tas. Pemuda itu menghela nafas, menyunggingkan senyuman tipis dan lalu membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser dari hidung akibat terlalu cepat melompat.
"Imran!" teriak satu suara dari belakang.
Sejenak Imran menahan nafas. Suara lembut gadis itu selalu membuatnya menahan nafas karena degup jantungnya yang mendadak tak beraturan. Gadis itu, teman sekelasnya… Lita. Gadis yang mampu membuatnya merasakan melayang tak tentu arah.
Imran berbalik dan mendapati Lita berlari ke arahnya. Gadis berambut panjang itu mengerjapkan matanya yang basah berkali-kali. Air mukanya menunjukkan kecemasan.

"Kamu nggak apa-apa, Lit?"
Gadis itu tertunduk seakan menahan tangis, "Ini semua karenaku. Hampir saja kamu celaka demi menolongku."
Hati Imran mencelos melihat airmata yang menitik di pipi Lita. Enggak, Lit. Demi dirimu, aku bahkan rela mengorbankan hidupku sendiri,” ujarnya di dalam hati.
Semua pernyataan itu hanya mampu disimpannya dalam hati, karena Imran tahu cinta Lita hanya diperuntukkan untuk Teguh. Hati pemuda berkacamata itu mendadak perih. Ia menggigit bibir bawahnya untuk mengurangi rasa pedih di hatinya demi mengingat hal tersebut.
"Lit, jangan bilang begitu. Aku nggak apa-apa kok," katanya perlahan.
Mata Lita menatap Imran dengan seksama. Baju seragamnya yang putih kotor karena debu di sana-sini, ada beberapa lebam di wajah tampan Imran.  Gadis itu terbelalak saat melihat bercak darah di bahu kiri Imran.
"Imran, kau terluka!"
Imran tidak sadar bahwa ia terluka akibat terjatuh tadi. "Nggak apa-apa, Lit. Ini hanya luka kecil. Sebentar saja juga sembuh," Imran buru-buru menenangkan Lita yang lagi-lagi terlihat cemas.
"Enggak, kamu terluka. Biar aku obati…" Lita merangsek maju mencoba menyentuh bahu Imran.
Imran dengan cepat mundur, "Aku nggak apa-apa."
"Enggak, lukamu cukup besar."
"Gak apa-apa, Lit. Aku baik-baik saja."
Namun Lita tidak mau mendengar perkataan Imran. Ia tetap berusaha mendekati Imran yang sibuk melangkah mundur menjauh. Akan tetapi, malang kaki Imran tersandung sebuah batu bekas puing bangunan yang dibongkar. Imran tak ayal jatuh terjerembab. Sialnya lagi, Lita yang berjalan mendekati, tersandung kaki Imran dan juga jatuh terjerembab ke depan.
Lebih tepatnya, tubuh Lita menimpa tubuh Imran. Wajah Lita mendarat di wajah Imran, dan bibir merah muda gadis itu menyapu lembut bibir tipis Imran. Mereka berciuman!
Untuk beberapa saat keduanya sama sekali tak bergerak, masih dalam posisi menempelkan bibir satu sama lain. Mata keduanya sama-sama terbelalak lebar. Terkejut. Lita belum pernah berciuman sebelumnya. Ia pernah mencium pipi Teguh saat pacarnya itu berulang tahun. Akan tetapi, itu hanya di pipi saja. Tapi sekarang, ini benar-benar sebuah ciuman.
Imran lebih parah lagi, ia bahkan belum pernah menyentuh tangan seorang gadis, baik itu pacar ataupun hanya membantu menyeberangkan jalan seseorang. Imran sangat polos dan saat ini wajahnya memerah. Amat sangat merah. Ini bisa disebut ciuman pertamanya.
Keduanya belum juga bergerak dari posisi masing-masing. Seharusnya Lita yang bangkit lebih dahulu dari posisinya yang menindih Imran, akan tetapi saat ini Lita merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Pun saat ia berdua dengan Teguh. Tidak pernah seperti ini. Tubuh Imran yang berada di bawahnya terasa amat sangat hangat. Ia merasa ada getaran aneh yang merambat dari tubuh Imran ke seluruh tubuhnya. Dan bibir Imran…rasanya lembut sekali.
Lita sungguh tak mampu mengangkat tubuh dan bibirnya dari kenyamanan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Imran jelas tidak sanggup bergerak sama sekali. Tubuh sintal Lita menekan tubuhnya dengan sempurna, terutama bagian dada gadis itu yang terasa sangat empuk. Ini persis seperti mimpi-mimpi yang kerap kali mengganggu tidurnya di malam hari. Bersentuhan dengan bagian yang paling menggoda dari diri Lita.
Imran benar-benar menyukai payudara gadis itu, begitu bulat, besar dan padat. Buah dada itu sering jadi bahan perbincangan teman-teman sekelasnya yang kagum akan pesona Lita, akan tetapi Imran tak pernah ikut-ikutan membicarakan. Cintanya pada Lita suci, oleh sebab itu Imran berusaha untuk tak memandang Lita dari segi fisik saja. Ia selalu memandang gadis itu sebagai satu kesatuan yang utuh: gadis cantik dan berhati baik yang selalu ingin menolong orang lain.
Akan tetapi Imran pemuda yang normal. Terkadang tanpa sadar ia memimpikan Lita sebagai wanita yang menggairahkan. Wanita yang kerap menggoda kelaki-lakiannya.
Dan posisi mereka berdua saat ini persis seakan-akan mewakili mimpi-mimpi tersebut.
Wajah Imran masih memerah. Matanya masih menatap tepat ke mata Lita. Pemuda berambut hitam itu tak tahu harus bagaimana. Ia sebenarnya ingin mengatakan pada gadis yang menindihnya itu agar ia segera berdiri!
Imran takut.
Takut sekali.
Ia takut… penisnya akan bereaksi jika Lita tidak segera bangkit dari tubuhnya!
Jika hal itu sampai terjadi, Lita pasti akan sangat terkejut dan mungkin akan segera menamparnya. Gadis itu pasti akan langsung membencinya. Dan jika hal itu terjadi, Imran akan bunuh diri di tempat, saat ini juga!
Imran masih melotot saat ia menyadari satu hal pada Lita. Gadis itu menutup matanya dengan perlahan dan lalu tanpa disangka-sangka mengulum bibir bawah Imran dengan lembut!
Tubuh Imran bergetar saat itu juga dan apa yang ia takutkan benar-benar terjadi.
Ada yang bereaksi di bagian bawah tubuhnya!
Penisnya mulai bangun!
Gawat!
Tubuh Imran panas dingin berusaha menahan diri. Dengan semua kekuatan yang ia punya, ia berusaha menekan reaksi penisnya yang secara pelan  mulai menggeliat di bagian bawah tubuhnya.
Tuhan, tolong aku. Tenangkan diriku, jangan sampai Lita tahu,” bisiknya memohon-mohon dalam hati.
Ia terlalu mencintai Lita, dan membiarkan Lita tahu bahwa ia juga punya nafsu hanya akan menghancurkan kepercayaan Lita kepadanya. Lita yang selalu menganggap dirinya sahabat, pasti akan merasa jijik padanya.
Jangan sampai itu terjadi!
Imran sungguh sangat sayang pada Lita dan tak sanggup bila gadis itu menjauhinya karena instingnya sebagai laki-laki normal.
Hati Imran mulai menangis. Hati dan tubuhnya sudah tidak sejalan. Hatinya menginginkan Lita segera bangkit dan cepat menjauh dari dirinya, akan tetapi tubuhnya memohon agar Lita tetap berada pada posisi sekarang sehingga ia bisa melepaskan semua kerinduan yang sudah membelit hatinya sedari dulu.
Bagaimana dengan Lita?
Lita tanpa sadar mengulum bibir Imran dengan lembut. Bibir pemuda itu terasa seperti es krim dan Lita tak rela melepaskannya. Ia ingin menjilat es krim yang nikmat itu, menikmati setiap tetesnya dan menyeruput habis isi es krim itu.
Mengapa bibir Imran terasa manis seperti ini? Mengapa baru sekarang aku tahu manisnya bibir itu?” Lita bertanya-tanya dalam hati.
Lita tak berniat melepaskan ciumannya. Ia terus menyentuh bibir bawah Imran dengan bibirnya sendiri, ketika ia merasa sesuatu ada yang keras merangsek bagian bawah tubuhnya, dengan kaget, Lita melepaskan ciumannya dan membuka matanya dengan perlahan.
Ia melihat wajah Imran merah membara.
"Lit…" bisik Imran.
"Imran… kau…"
"Maafkan aku, Lit. Aku tak bermaksud… aku sungguh tak sengaja…"
Lita mengerti apa yang dimaksud Imran. Ia bukanlah gadis usia 17 tahun yang bodoh dan naif. Ditatapnya wajah Imran yang terlihat seperti anak kecil yang sudah hampir menangis. Lita tahu, Imran adalah pemuda yang baik dan polos. Pemuda ini selalu berusaha menolongnya setiap ia membutuhkan bantuan.
Imran memang bukan Teguh. Imran memang tidak sekuat Teguh. Akan tetapi ada satu hal yang selalu Lita sadari, Imran selalu memandanginya takjub. Tidak pernah sekali pun ia melihat mata Imran memandang ke arah gadis lain. Hanya kepadanya.
Lita mendadak membelalakkan mata. “Kenapa aku baru sadar sekarang? Jika Imran menatapku seperti itu, itu artinya… dia mencintaiku!
Lita masih membelalakkan mata menatap tajam ke mata Imran. Imran sudah benar-benar ketakutan. Mata Lita seakan ingin menelan dirinya bulat-bulat. Ia tak mau Lita membencinya. Akan tetapi, tubuh laki-lakinya tetap bereaksi sesuai dengan kondisi Lita yang masih menindihnya. Kemaluannya malah bereaksi lebih keras lagi!
Imran ingin mati saja saat ini.
Lita tentu saja merasakan sesuatu yang mengganjal tubuhnya di bawah sana. Sesuatu yang tadinya tidak ada, namun tiba-tiba mulai mengeras dan membesar dengan sendirinya. Dan herannya… ia tidak marah sama sekali pada Imran. Ia tahu Imran pemuda baik. Apapun yang terjadi, itu pastilah karena ciumannya tadi. Ini murni kesalahannya sendiri. Oleh sebab itu dengan perlahan ia tersenyum malu.
"Imran, kau… kau… kau menginginkanku?" tanyanya sangat lirih. Lita merasa malu menanyakan itu, akan tetapi Imran adalah pemuda yang polos dan sangat menjunjung tinggi kesopanan, sampai-sampai ia terkesan sangat pemalu. Jadi mengharapkan Imran mengatakan apa yang ia rasakan sama saja meminta bulan turun dari langit ke pangkuannya. Mustahil.
Wajah Imran yang sudah merah, semakin memerah lagi. Ia tak menyangka pertanyaan seperti itu akan keluar dari bibir Lita yang indah nan merekah itu.
"Lit, aku.. aku.. aku…" Imran berkata terbata-bata.
Lita terkikik dalam hati. Penilaiannya terhadap Imran tak salah. Imran memang pemuda polos dan baik, ia tidak akan memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk melakukan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Buktinya wajah pemuda itu memerah malu.
"Im, kau tidak menyukaiku?" tanya Lita. Ia memutuskan ingin memancing keluar perasaan Imran kepadanya.
Imran terpana. Mana mungkin ia tidak menyukai Lita? Ia benar-benar menyukai Lita. Bagaimana mungkin Lita berpikir sebaliknya? Apa wajahnya saat ini menyiratkan kalau ia tidak menyukai Lita?
"Lit, bukan begitu. Hanya saja aku…" tak sanggup Imran melanjutkan perkataannya. Ia terlalu malu untuk mengakui bagaimana perasaan terdalamnya pada Lita.
Lita merasa agak sedikit kecewa dengan jawaban Imran yang tidak menjelaskan apa-apa. Dengan enggan ia bangkit dari posisinya yang menindih. Gadis berambut panjang itu berdiri dengan limbung, membuat payudaranya yang besar sedikit bergoyang indah. Ia mendadak merasa malu bahwa ia telah kehilangan kendali atas dirinya sendiri dan telah mencium Imran.
Imran terpaku di tempatnya setengah berbaring. Ia melihat semburat kekecewaan di wajah Lita. Ia mengutuk kebodohannya di dalam hati. Lita barusan telah memberi jalan padanya untuk mengatakan apakah ia menyukai Lita atau tidak, akan tetapi ia dengan bodohnya sudah menyia-nyiakan kesempatan itu. Bodohnya…
"Lit…"
Lita berbalik memunggungi Imran. Entah kenapa ia merasa hatinya kecewa karena sikap Imran yang cenderung menampik dirinya. Ia ingin Imran mengatakan kalau ia menyukai dirinya, ingin sekali mendengar pemuda itu mengatakan hal tersebut. Ia mungkin menyukai Imran.
Apa? Menyukai Imran? Apa tidak salah? ”Bukankah kau menyukai Teguh?” bisiknya dalam hati. Lalu kenapa sekarang kau bilang, kau mungkin menyukai Imran kun?”
Lita tersentak. Ia tak pernah menyadari betapa perhatian Imran padanya begitu besar, begitu tulus. Ia terlalu sibuk merenda harapan kosong akan cinta Teguh kepadanya. Ia terlalu sibuk dengan khayalan-khayalannya akan cinta Teguh. Terlalu sibuknya sampai ia tak sadar bahwa ada seseorang yang selalu mendampinginya tanpa kenal lelah.
Imran.
Imran bangkit dari tanah. Ia melihat bahwa Lita terpaku dalam diam di tempatnya berdiri. Gadis itu membelakanginya. Seakan tak mau melihat dirinya. Seakan membenci dirinya yang bodoh.
Ia memang bodoh.
Tak peduli betapa ia selalu mendapat Ranking 1 di kelasnya.
Tak peduli betapa ia selalu menempati peringkat tertinggi dalam tes matematika.
Tak peduli betapa cepatnya ia dalam menyerap pengetahuan.
Saat ini ia adalah pemuda bodoh yang tak mampu memanfaatkan kesempatan yang berada di depan matanya dalam soal percintaan.
Imran menarik nafas dalam-dalam. Ia berusaha mengumpulkan semua keberanian di dalam dada. Ia adalah seorang laki-laki dan laki-laki harus mampu menterjemahkan keinginan di dalam hatinya menjadi suatu aksi yang bisa ia pertanggungjawabkan.
Ia harus dapat mengatakan perasaannya terhadap Lita.
Pemuda berkacamata itu pun melangkah perlahan mendekati Lita. Ia merasa tubuhnya bergetar karena rasa cemas akan penolakan Lita. Akankah gadis itu menolaknya? Sanggupkah ia ditolak? Bukankah penolakan Lita akan membuatnya malah tak mampu menatap wajah gadis itu lagi?
Jangan banyak berpikir, nyatakan saja!
"Lit…"
Tak ada jawaban dari gadis yang masih membelakanginya itu.
"Lita…"
Gadis berambut panjang itu tak juga bereaksi.
"Aku menyukaimu, Lit. Amat sangat menyukaimu!"
Punggung Lita terlihat bergetar, lalu dengan sangat perlahan gadis itu membalikkan punggungnya. Wajahnya yang manis terpana seraya menatap mata Imran lekat-lekat. Ia seakan tak percaya akan apa yang ia dengar.
"Im…"
"Aku sangat menyukaimu Lit, meski aku tahu kau hanya menyukai Teguh. mungkin aku salah karena aku menyukaimu dan aku tahu, aku tak punya harapan sama sekali akan balasan perasaanmu… tapi tidak apa-apa, Lit, aku tak mengharapkan kau membalas cintaku. Aku cukup tahu diri," tukas Imran panjang lebar.
"Imran..." Lita tertunduk.
"Aku minta maaf akan hal yang terjadi barusan. Betapapun aku menyukaimu, aku tak bermaksud melakukan itu… menciummu. Itu kecelakaan. Kau bisa lupakan apa pun yang terjadi di antara kita. Ciuman kita. Yang terpenting adalah kau jangan membenciku. Izinkanlah aku tetap berada di sisimu, meski kau hanya menganggapku seorang teman. Itu saja sudah cukup bagiku."
Air mata mengalir di pipi ranum Lita. Ia sudah mendengar perasaan Imran yang terdalam terhadap dirinya, meski ia tahu Imran sesungguhnya tak pernah ingin mengatakan. Pemuda itu terlalu baik dan tak berani sedikit pun mengharapkan cintanya akan dibalas. Imran sudah meyakinkan dirinya sendiri bahwa cinta Lita hanya untuk Teguh.
Akan tetapi, ada berapa banyak pemuda sebaik dan setulus Imran di dunia ini? Akankah ia menemukan lagi pemuda sebaik Imran? Akankah dirinya mendapat kesempatan kejatuhan cinta setulus cinta Imran lagi?
Lita sungguh tak yakin.
Imran merasa hatinya teriris sembilu menyaksikan airmata yang mengalir dari kedua mata Lita. Ia tahu akan begini jadinya. Ia tahu gadis itu tak akan pernah membalas cintanya. Ia tahu gadis itu hanya mencintai Teguh. Ia tahu semua itu.
Imran menghela nafas dalam-dalam. Lita masih juga terpaku di tempatnya berdiri dengan mata yang basah oleh airmata. Hati Imran masih terasa pedih, akan tetapi hidup harus terus berlanjut. Masih ada banyak rintangan yang menghalang di depan mereka.
Imran menengadah ke atas langit yang berwarna biru. Dia menoleh sesaat ke arah gadis berambut panjang yang sekarang tertunduk menekuri tanah yang berpasir.
Lita mengerjap-kerjapkan matanya berkali-kali, seakan tak percaya sikap Imran yang tenang setelah ia menyatakan perasaannya. ”Tidakkah ia ingin tahu jawaban dariku,” tanya Lita pada dirinya sendiri. ”Tidakkah ia ingin tahu bagaimana perasaanku padanya?”
Imran sudah akan berjalan meninggalkan tempat itu ketika Lita mendekatinya. Gadis itu berusaha mensejajari langkahnya.
"Im, tunggu sebentar..."
Imran menghentikan langkahnya. "Ada apa, Lit?"
Lita terlihat menghela nafas perlahan, "Tentang perasaanmu padaku, aku… aku…"
Imran cepat-cepat menggeleng. Ia tak sanggup mendengar penolakan apapun. Saat ini ia butuh semua semangat dan kekuatannya untuk meninggalkan tempat ini.
"Nggak usah katakan apapun, Lit. Aku sudah bilang, aku memahami cintamu hanya untuk Teguh."
"Tapi, Im, aku…"
"Sudahlah, Lit, nggak apa-apa. Ayo kita pergi."
"Imran, dengarkan aku sebentar…"
"Tak perlu katakan apapun, Lit. Aku mengerti."
"Imran, aku… aku… aku…"
Imran lagi-lagi menggeleng, "Enggak apa-apa, Lit. Aku nggak apa-apa."
Pemuda berkacamata itu lalu segera berbalik dan berjalan dengan cepat di depan. Ia berusaha menjauhi Lita. Bukan apa-apa, ia tak ingin Lita melihat awan yang menggantung di balik kacamata tipisnya. Ia tak ingin Lita menyaksikan bahwa ia menitikkan airmata karena patah hati.
Lita yang merasa tak diberi kesempatan, segera berlari mengejar Imran. Lalu saat punggung tegap pemuda itu sudah berada dalam jangkauan tangannya, ia melompat dan dengan mengejutkan, memeluk punggung pemuda itu. Imran menghentikan langkahnya. Ia mendengar isakan gadis itu pecah di punggungnya.
"Imran, jangan pergi."
Imran tersentak. Lita memeluknya? "Lit?" dia bisa merasakan payudara besar gadis itu yang menempel di punggungnya.
"Dengarkan aku sebentar saja."
"Lita? Apa? Baiklah…"
"Aku buta selama ini. Aku terlalu berharap pada cinta Teguh, sehingga aku tak sadar kau yang selalu menemaniku dan mendampingiku, ternyata menyayangiku. Maafkan aku, Im."
"Lit, tak perlu minta maaf. Kamu nggak salah."
Isakan Lita masih terdengar dari balik punggung Imran. "Tentu saja aku salah, Im. Aku salah karena aku tak membuka mataku lebar-lebar. Sekian lama kau bersamaku, yang kau dengar hanya keluh-kesahku tentang Teguh. Aku telah menyakiti perasaanmu."
"Enggak, Lit, kamu tidak pernah menyakitiku. Kamu selalu baik padaku."
Lita makin mengeratkan pelukannya pada punggung Imran. Gadis itu menyesap aroma tubuh Imran yang sewangi cendana. Campuranan aroma tubuh yang manis. Kenapa ia tak pernah menyadari aroma tubuh Imran yang menyenangkan ini sebelumnya?
"Beri aku kesempatan, Im. Beri aku kesempatan untuk jatuh cinta padamu," bisik Lita.
Imran terpana. Beri aku kesempatan untuk jatuh cinta padamu? Apa gadis ini tak salah bicara? Apa ia tak salah dengar?
"Aku menyukaimu, Im. Tinggal beberapa langkah lagi agar aku bisa benar-benar jatuh cinta padamu. Mohon tunggu aku dan jangan tinggalkan aku…"
Perlahan tapi pasti Imran memutar tubuhnya dan dengan perlahan menyentuh bahu Lita yang masih terguncang karena isakan yang sudah mulai mereda. Ia lalu mengangkat dagu gadis itu untuk menghadap wajahnya. Mata Lita langsung tertuju pada mata hitam di balik kacamata Imran.
"Terus Teguh? Bukankah kamu selalu mencintainya, Lit?" tanya Imran lembut.
Lita menatap Imran dengan cemas, "Iya, tetapi... yang kuharapkan sekarang hanya kamu, Im."
Imran tersenyum dan menyentuh pipi Lita yang basah. Ia lalu mengeluarkan saputangan putih dari kantong celananya dan dengan perlahan menyeka pipi yang basah itu dengan saputangan.
"Tak perlu mengharapkan cintaku, Lit," tukasnya lirih.
Mata Lita membulat tak percaya, "K-kenapa?"
"Untuk apa mengharapkan cintaku? Sejak awal cinta itu sudah menjadi milikmu…"
Senyuman terulas di bibir pemuda tampan itu, lalu dengan lembut ia mencium dahi Lita. Lembut sekali. Ciuman yang mengesankan kasih sayang dan kesetiaan Imran pada Lita.
Lita tersenyum lalu dengan cepat melingkarkan kedua tangannya di leher Imran. Dengan berjinjit, ia menempelkan bibir merah mudanya ke bibir Imran. Kedua tangannya menekan kepala Imran untuk lebih mendekat lagi padanya. Gadis itu mencium Imran. Lagi.
Imran sedikit kaget dengan gairah yang terpancar dari Lita, namun dengan cepat ia menutupi kekagetannya dengan membalas ciuman Lita. Bibirnya menyapu bibir Lita dengan lembut.
"Lit…"
Seluruh bulu di tubuh Lita meremang saat tangan Imran mulai membelai pundaknya. Hilang sudah pikiran dan akal sehatnya, dia akan membiarkan pemuda itu melakukan apapun pada dirinya. Lita ingin menikmati semuanya.
”Ahhh,” Lita merintih saat tangan Imran perlahan meremas lembut payudaranya yang sebelah kiri. Dia meremas lengan pemuda itu dengan gemas sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
Gumaman tak jelas meluncur dari bibirnya saat Imran melanjutkan dengan menyingkap kaos putih yang dikenakannya ke atas. Pemuda itu tampak berusaha melepaskannya sambil terus memagut bibirnya yang tipis. Lita menerimanya dengan mata terpejam. Dia cuma memberi anggukan kecil sebagai tanda menyetujui tindakan pemuda itu.
Imran menariknya dengan cepat dan membuang kaos itu begitu saja ke lantai. Sejenak matanya yang berkaca mata terpaku pada kedua bukit bulat di dada Lita. Payudara itu tampak begitu indah meski masih tertutup BH merah tipis, terlihat sangat kontras dengan kulit Lita yang putih mulus. Dengan jari bergetar, Imran menurunkan kedua tali BH itu ke samping.
”Ahh,” pemuda itu meneguk liurnya dengan susah payah saat dua bukit yang bulat dan besar milik Lita terpampang dengan jelas di depannya, lengkap dengan putingnya yang mungil kemerahan.
Kembali Imran menyambar bibir Lita dengan pagutan yang lembut dan mesra. Sambil mencium, dia membaringkan tubuh mulus gadis itu ke lantai. Imran menggunakan bajunya sebagai alas.
Lita langsung memeluk leher Imran, seakan tak ingin berpisah dengan pemuda itu. Sebagian tubuh Imran telah berada di atas tubuh telanjangnya, menindih ringan. Paha pemuda itu  menyelip di antara kedua pahanya.
Imran melepas pagutan bibirnya, diperhatikannya Lita yang telentang pasrah di depannya. Kepalanya kembali turun untuk mencium pipi dan leher gadis itu, tak lupa dia juga memagut bagian belakang telinganya. Lita mengerang saat ciuman Imran terus merambat turun menuju ke arah dua bukit payudaranya.
”Oohhhhhssss,” gadis itu bergetar dan mendesah panjang ketika mulut Imran  mulai menghisap-hisap ujung putingnya.
Bagaikan bayi yang kehausan, Imran menyusu di situ. Pemuda itu mencucupnya kuat-kuat dan menghisapnya dengan penuh nafsu. Lidah Imran yang basah bermain-main di atas permukaan payudaranya yang bulat menantang dengan liar.
”Ahhsss,” Lita merintih sambil membelai kepala Imran dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan, berharap Imran akan menghisap kedua bukit payudaranya bergantian.
Senyum manis langsung tersungging di bibir Imran, hatinya terasa penuh dengan luapan rasa bahagia melihat penerimaan Lita yang begitu ikhlas. Menyusup lebih dalam, dia kembali mempermainkan buah dada gadis itu dengan lebih ganas.
”Ooughhhh...” Lita kembali mengejang dan merintih lirih. Ia dapat merasakan tangan kanan Imran mulai turun ke arah perutnya, dan terus bergerak makin ke bawah. Lita sadar, inilah saat baginya untuk memutuskan, berhenti atau lanjut?
Saat tangan itu hinggap di atas lembah kenikmatannya, Lita memejamkan mata.  Dia mengangguk, memberi  ijin bagi Imran untuk meneruskan perbuatannya. Tersenyum, Imran memberikan sentuhan-sentuhan lembut di belahan lembah itu dengan jari telunjuk. Dia dapat merasakan celana dalam Lita telah basah di bagian itu. Gadis itu rupanya telah mulai terbakar oleh nafsu, sama seperti dirinya.
“Imran,” desah Lita, lirih.
Imran tidak menjawab, dia terlalu asyik dengan kegiatannya.  Mulut dan lidahnya terus bermain di kedua puncak buah dada gadis itu, sementara jemarinya terus menjelajahi vagina Lita yang sudah basah.
”Uhhhh,” Lita menggigit bibirnya ketika merasakan jemari Imran mulai menarik pinggiran celana dalamnya dan berusaha untuk menarik benda itu ke bawah.
Lita pasrah, dia sudah tidak memiliki niat untuk menghentikan ulah pemuda itu. Bahkan, dia mengangkat sedikit pinggulnya dan menekuk kakinya ke atas untuk memberikan keleluasaan bagi Imran melakukannya. Dengan cepat, celana dalamnya pun melorot, lepas terbuang ke samping.
Telapak tangan Imran merambat, mengelus ringan kaki jenjang Lita. Mulai dari ujung kaki gadis itu, terus bergerak ke atas ke arah betis, lalu merambat ke paha bagian dalam, dan kemudian terdiam saat hinggap di atas selangkangan Lita yang sudah lembab dan basah. Imran mengelusnya pelan, seperti ingin merasakan permukaannya yang lembut, dan  bibirnya yang hangat kemerahan.
”Oughhssss,” Lita kontan mengejang dengan kedua paha menjepit erat tangan Imran. ”Jangan, geli!” rintihnya.
Imran tidak menyerah, jilatannya kini merambat turun. Terlihat sekali kalau dia mengincar belahan daging yang basah itu. Bau khas selangkangan wanita langsung menusuk hidungnya begitu dia mulai mencium.
”Aahhhssss,” Lita merengek saat lidah nakal Imran mulai menari di dalam celah kemaluannya. Merintih keenakan, kepala gadis itu terdongak ke atas dengan mulut terkatup rapat berusaha menahan lenguhannya agar tidak lebih keras lagi. Sebagai pelampiasan, dia meremas-remas rambut Imran hingga terlihat awut-awutan.
Di bawah, Imran menjilat dan melumat vagina Lita lebih keras lagi. Rasanya yang gurih dan renyah membuat pemuda jadi ketagihan. Bulatan klitorisnya yang tampak menonjol jadi sasaran utamanya, membuat Lita jadi makin merintih. Tubuh montok gadis itu mengejang-ngejang sambil terus menyebut-nyebut nama Imran. Nafasnya juga makin terlihat memburu dengan butiran keringat membanjiri tubuhnya yang sudah setengah telanjang. Saat sudah tidak tertahankan lagi, Lita pun tersentak keras. Tubuhnya bergetar-getar dengan kedua tangannya berusaha menutupi jeritan dari mulutnya. Kedua pahanya menjepit erat kepala Imran saat cairan kewanitaan menyemprot keras dari dalam kemaluannya, mengguyur muka dan mulut Imran yang masih menempel di sana.
”Uugghhhhh... ahhhhhhh... ahhhhhhh...” Lita merintih menikmati puncak kenikmatannya.
Nafasnya masih tersengal-sengal saat dia merasakan Imran bergerak di atas tubuh sintalnya. Pemuda itu merayap dan menindih, menempatkan pinggul tepat di antara kedua pahanya. Wajah mereka kembali berhadapan dengan jarak yang begitu dekat. Lita langsung berkeringat dingin. Di bawah sana, tepat di depan lembah basah miliknya, sesuatu yang hangat terasa menyentuh dan sedikit menekan belahan bibir kemaluannya, membuat Lita jadi bergidik ngeri. Dia sudah cukup besar untuk mengetahui apa yang diinginkan oleh Imran dengan menempatkan batang miliknya di situ.
Pemuda itu menatapnya lekat dan berbisik, “Lit, boleh aku merasakan tubuhmu seutuhnya?” suaranya terdengar parau.
Lita tidak langsung menjawab. Dia cuma membalas tatapan Imran dengan sendu, ada sedikit genangan air mata di sudut matanya.
Kau boleh menolak kalau keberatan, aku nggak akan memaksa.” bisik Imran sekali lagi sambil mendekatkan mulutnya ke bibir tipis Lita.
”Ehmm, aku...” Lita menahannya, membuat kedua bibir itu hanya bersentuhan sedikit. Dia menatap lekat-lekat mata Imran, seperti mencari kebenaran di sana.
”Aku bisa menunggu sampai kamu siap.” Imran berbisik. Dia sudah akan menarik tubuh saat Lita menahan pinggulnya.
Enggak.” Gadis itu menggeleng. ”Jangan pergi. Lakukan saja sekarang. Aku siap.”
”Ah, benarkah?” Imran menatapnya tak percaya.
Lita mengangguk, ”Nikmatilah tubuhku, Im. Aku milikmu sekarang.” bisiknya dengan suara bergetar. Dia memeluk bahu Imran dan menyembunyikan mukanya ke leher pemuda itu.
Imran mengecup mesra Lita sebagai rasa terima kasih. ”Aku akan melakukannya dengan pelan.” bisiknya sambil mulai menciumi leher gadis itu.
Jemarinya dengan gemas meremas-remas payudara Lita yang mengganjal ketat di dadanya. Sementara di bawah, pinggulnya mulai bergerak memainkan penis, berusaha mencari celah diantara bibir vagina Lita yang sedikit terbuka. Gesekan antara kepala penisnya dan bibir kemaluan gadis itu membuat celah itu menganga lebih lebar lagi.
”Augghhhhhssssss,” kenikmatan yang ditimbulkan membuat Lita ikut menggerakkan pinggul, membantu mempercepat kepala penis itu untuk menemukan dan memasuki lubang vagina miliknya. Tetapi kurangnya pengalaman membuat upayanya masih belum membuahkan hasil.
“Sini, aku bantu.” terengah-engah, Lita mengulurkan tangan kanannya ke bawah dan meraih penis itu.
Sejenak dia terkejut dan berpikir, apakah benda sebesar itu dapat masuk ke dalam lubang vaginanya yang sempit. Lita pernah meraba-raba kemaluannya sendiri dan rasanya celah diantara bibir vaginanya tidak sebesar batang penis Imran. Dia jadi bergidik karenanya. Tapi Lita tidak mau banyak berpikir lagi, bisa-bisa permainan ini jadi batal. Dengan menggenggam erat, dia membimbing batang besar itu dan diarahkannya menuju lubang kewanitaannya.
Merasakan tarikan Lita pada batang penisnya, Imran sedikit mengangkat tubuhnya sambil bertumpu pada kedua tangan. Dia mendorong dan... terasa kepala penisnya membelah bibir vagina Lita meski hanya sedikit.
“Tekan terus, Im.” gadis itu mendesis. ”Tekan sekarang!” teriaknya parau sambil membuka pahanya lebih lebar lagi.
Imran terus mendorong, pinggulnya semakin maju meski agak tertahan. Perlahan-lahan, terasa kepala penisnya menguak bibir vagina Lita yang sempit. Saat dia mendorong makin keras, kepala itu pun amblas seluruhnya.
”Ugghhhh,” rintih Imran merasakan batang penisnya yang mulai masuk sedikit demi sedikit. Terasa kepala penisnya bagai diremas-remas oleh vagina Lita. Rasanya begitu nikmat hingga membuat pemuda itu mendongakkan kepala sambil melenguh pelan.
Tapi kondisi berbeda dialami oleh Lita, dahi gadis itu berkerut-kerut dengan mata dan mulut terkatup rapat menahan perih. Air matanya tampak mengalir pelan akibat rasa sakit yang tak tertahankan lagi.
Imran jadi tak tega. Dia sudah akan bergerak mencabut penisnya saat...
“Jangan dicabut!” bisik Lita lemah. ”Biarkan saja di dalam. Aku kuat kok menahannya.”
“Tapi...” Imran tetap tak tega. Dia tak mau menyakiti gadis yang sangat dicintainya.
”Sudahlah, teruskan saja.” Lita menahan pinggul Imran.
”Emm, maafkan aku ya, aku nggak bermaksud menyakitimu.” Imran menahan kedudukan penisnya, membiarkannya tetap tertancap di vagina Lita yang sempit. Dia memeluk tubuh mulus gadis itu, mengecupnya mesra. Sambil kembali mendorong, Imran melumat bibir Lita yang tipis dengan rakus. Ciumannya juga terus turun hingga mencapai buah dada Lita yang besar dan  bulat. Imran  melumat habis daging kembar itu, terutama putingnya.
”Oughhh,” perbuatan Imran membuat Lita perlahan-lahan mulai bisa melupakan rasa sakitnya. Bahkan dia meminta agar Imran menusuk lebih dalam lagi. “Masukkan semuanya, Im. Masukkan semuanya sekarang!” jeritnya saat merasakan perih di vaginanya telah jauh berkurang.
Imran menatap gadis cantik itu sejenak, disambarnya bibir Lita sambil secara bersamaan dia mendorong maju pinggulnya. ”Uhhhh,” tapi gerakan penisnya spontan terhenti saat ada sesuatu yang menghalangi.
”Auw!” di depannya, mata Lita tampak mendelik sebentar, kepalanya sampai terdongak.
Imran terus mendorong. Dia tidak mau gadis yang dikasihinya itu menderita lebih lama lagi. Sambil membungkam mulut Lita dengan ciuman, dia menusuk lebih dalam. Lebih kuat. Hingga seluruh batang penisnya masuk seluruhnya.
”AARRGGHHHHHHHHHSSSSSSSSS...” jeritan Lita pun pecah merasakan ada sesuatu dalam liang vaginannya yang terobek perih. Tubuh sintalnya mengejang hebat .
”Ugghhhhhh,” Imran menggeram merasakan nikmat bercampur ngilu yang melanda batang penisnya. Saat Lita mengejang-ngejang, kemaluan gadis itu jadi mencengkeram penisnya begitu kuat-kuat.
Lita menangis di dalam pelukan Imran. Pemuda itu menciumi pipinya dengan lembut, “Maafkan aku, Lit. Aku nggak bermaksud menyakitimu. Maafkan aku.” bisiknya berulang kali.
Diantara kedutan vaginanya, terasa  ada cairan hangat yang mengalir keluar. Lita tahu, itu adalah darah keperawanannya yang telah dipetik oleh Imran.
“Jangan bicara begitu. Aku nggak menyesal sedikit pun. Ikhlas kuberikan kesucianku untukmu, orang yang tulus mencintaiku.” bisik gadis itu sambil memeluk makin erat.
“Lit,” cuma itu jawaban dari Imran. Dia tidak boleh mengecewakan gadis itu yang telah berkorban begitu besar bagi dirinya. Imran bertekad, akan memberikan kenikmatan yang sempurna pada Lita.
Dia pun mulai menciumi gadis itu dengan penuh nafsu. Di bawah, pinggulnya mulai bergerak perlahan, menarik dan mendorong penisnya. Masih terasa liang vagina gadis itu yang mencengkeram kuat batang penisnya. Meski agak nyeri, tapi rasanya sudah sedikit lebih nikmat. Dia sudah mulai bisa menikmatinya. Begitu pula dengan Lita. Perlahan namun pasti, gadis itu pun larut dalam permainan. Semakin lama, vaginanya menjadi semakin basah, hingga membuat Imran makin mudah mengocok penisnya.
”Aahhhhhhh... ahhhhhhhh... ugghhhhhhhh....” jerit kesakitan Lita sudah berubah menjadi desis penuh kenikmatan. Pinggulnya yang bulat bergerak memutar-mutar, berusaha mengimbangi genjotan Imran yang terus menusuk vaginanya.
”Enak, Im?” dia bertanya.
”Enak banget,” Imran mengangguk. ”Kamu?”
“Aku juga enak.” bisik Lita.
Jawabannya membuat Imran menjadi semakin bersemangat. Dia memeluk tubuh montok Lita dan mempercepat gerakan pinggulnya. Lita jadi menggeliat-geliat keenakan dibuatnya. Erangan demi erangan gadis itu meluncur deras, membuat Imran makin bernafsu untuk memuaskannya.
”Aaiihhhhhhh...” Lita merintih merasakan liang vaginanya yang terasa begitu penuh disesaki oleh batang penis Imran yang besar dan panjang. Setiap benda itu bergerak, baik ditarik ataupun didorong, gesekan yang tercipta di dinding kemaluannya terasa begitu nikmat. Sukar untuk dilukiskan dengan kata-kata.
Sementara Imran, sambil terus menggoyang, kepalanya menempel di dada Lita yang membukit. Dia memegangi benda bulat itu dengan mulutnya. Seperti kehausan, Imran menetek di sana.
Nafas keduanya terdengar semakin memburu. Lita menjerit lirih merasakan batang penis Imran yang semakin lama terasa semakin dalam menusuk vaginanya. Benda itu juga terasa semakin kaku dan membesar. Ditambah gerakannya yang semakin cepat tak beraturan, lengkaplah sudah kenikmatan yang dirasakan gadis cantik itu.
Imran sendiri juga semakin tak terkendali, dia terus menggerakkan pinggulnya dengan cepat, semakin tak beraturan, kadang cepat kadang juga lambat. Pemuda itu merasakan liang vagina Lita semakin berdenyut-denyut kencang. Nikmatnya bukan kepalang. Membuat sesuatu yang ada di pangkal penisnya juga berdenyut-denyut kencang, minta untuk dikeluarkan.
Tubuh Lita bergetar, “Im, aku nggak kuat lagi. Ouggghhhhhh... aku nggak kuat.” ceracaunya sambil mencengkeram bulatan payudaranya.
“Lepaskan saja. Jangan ditahan!” geram Imran. ”Aku juga mau keluar!”
Dan hampir bersamaan, keduanya orgasme. Berpelukan, Imran menekan pinggulnya kuat-kuat dan meledak di dalam vagina Lita yang hangat. Dia bergidik saat merasakan ada sesuatu yang menyembur dari batang penisnya. Dihisapnya puting susu Lita yang mungil kemerahan sebagai pelampiasan rasa nikmatnya.
Di saat bersamaan, Lita menjepit pinggul Imran kuat-kuat dan menjerit, ”Aaarrgghhhhhhhhhh...” Dari dalam kemaluannya menyemprot cairan hangat yang langsung bercampur dengan sperma Imran. Penuh mengisi vaginanya.
Keduanya saling bertatapan mesra, meresapi nikmatnya orgasme yang baru saja melanda. Imran membelai-belai rambut Lita sambil menciumi bibir gadis itu berulang kali. Sisa-sisa denyutan di kemaluan mereka masih tetap menimbulkan sensasi kenikmatan tersendiri.
”Terima kasih, Lit.” bisik Imran sambil tersenyum.
Gadis itu mengangguk. “Tak kukira, rasanya akan begitu nikmat.” sahutnya dengan deru nafas yang masih memburu.
Kembali mereka berciuman dengan mesra. Tangan Imran kembali merayap di atas payudara bulat Lita dan meremas-remasnya pelan.
“Ihh,” jerit gadis itu kegelian. “Kamu nggak capek?”
Kenapa?”
”Enaknya selangit, aku mau lagi.
”Hahahahah...” Imran tertawa senang.
Langit masih sebiru sebelumnya. Awan-awannya pun masih seputih sebelumnya. Tanah-tanah masih berpasir sebelumnya. Anginnya masih sedingin sebelumnya. Semuanya sama sekali tidak berubah.
Hanya ada satu hal yang berubah hari itu.
Bibit cinta yang baru mulai berkembang di dalam hati Imran dan Lita. Pelan tapi pasti cinta mereka pasti akan mengakar kuat di dalam hati masing-masing. Kisah cinta mereka akan dikenang sebagai salah satu kisah cinta yang indah dalam kehidupan.

2 komentar:

  1. Asik kk sering apdet sekarang,,,terus seperti ini y kk aku kakasih banget atas cerita2nya


    dari pengagum blogmu

    BalasHapus
  2. Gelaarr tikar hu...
    Ceritanya mantap

    BalasHapus