Kamis, 15 Februari 2018

Balada Rif’ah 1

Pagi itu wajah Rif’ah, seorang aktivis salah satu parpol terlihat tegang mendengar penuturan beberapa aktivis juniornya mengenai maraknya website dan blog cabul di internet yang mengeksploitasi para akhwat. Terutama, gadis-gadis yang berasal dari parpolnya. Sebagai aktivis yang cukup senior, Rif’ah sudah lama mendengar mengenai hal ini namun saat itu dia diberitahu bahwa semua foto dalam website tersebut merupakan foto-foto rekayasa, Rif’ah tidak tertarik untuk melihatnya.
Berbeda dengan berita yang disampaikan para aktivis juniornya yang mengatakan bahwa website-website cabul itu sekarang berisi foto-foto asli dan bukan rekayasa, bahkan yang membuat Rif’ah sangat terkejut ketika mereka menyebutkan bahwa di antara foto-foto cabul akhwat dalam website itu terdapat beberapa foto cabul wanita yang berwajah mirip dirinya. Tentu saja ia menyanggah keras foto-foto cabul tersebut sebagai foto-foto dirinya, hanya saja berita tersebut membuat Rif’ah penasaran dengan website-website cabul tersebut.
Terdorong ingin meng-cross check kebenaran berita tersebut, Rif’ah kemudian meminta alamat website-website cabul yang disebutkan aktivis juniornya.


***

Jam di HP milik Rif’ah menunjukkan pukul 13.00 lewat ketika gadis ini berjalan keluar dari gerbang kampus. Sebagaimana niatnya tadi pagi, gadis yang masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir di sebuah PTN di sebuah kota di Jawa Tengah ini bermaksud singgah ke sebuah warnet. Gadis berwajah ayu dan lembut ini memang bermaksud membuktikan berita yang dibawa oleh para juniornya tadi pagi. Rif’ah sengaja memilih warnet yang mempunyai box tertutup untuk menghindari prasangka buruk orang lain terhadapnya.
Sebagai seorang gadis alim tentunya Rif’ah berusaha menjaga citra dirinya saat dia membuka website dan blog cabul yang dikatakan para juniornya tersebut. Boleh jadi orang lain akan mencemooh jika seorang gadis seperti dirinya terlihat membuka website cabul dan porno.
“Ada yang kosong, mas?” tanya Rif’ah kepada operator warnet.
“Mmm… nomor 10, mbak.” jawab operator warnet tersebut yang kebetulan cowok keturunan Chinese sedikit terkejut melihat gadis cantik ini.
Keberadaan Rif’ah di warnet tersebut memang cukup menarik perhatian. Bukan saja karena kecantikan yang dimiliki Rif’ah, namun juga karena penampilan Rif’ah dengan jilbab putih lebar dan gamis panjang warna coklat susu yang membungkus sekujur tubuhnya, serta kaus kaki krem yang menutup kedua kakinya. Jarang sekali ada gadis berpakaian seperti Rif’ah masuk ke warnet seperti ini, biasanya gadis-gadis berpenampilan alim seperti Rif’ah lebih memilih warnet yang mempunyai box terbuka seperti warnet-warnet di kampus.
Cowok Chinese si operator warnet sempat terpesona melihat kecantikan Rif’ah, namun penampilan gadis yang alim ini membuatnya segan untuk berbuat lebih jauh. Walaupun ada rasa segan pada diri cowok operator warnet kepada Rif’ah, namun mata cowok itu nyaris tak berkedip melihat goyangan pantat Rif’ah ketika berjalan menuju box warnet nomor 10. Gamis panjang longgar yang dikenakan Rif’ah ternyata tak mampu secara sempurna menyembunyikan pantatnya yang besar sehingga membuat cowok Chinese itu menelan ludah membayangkan tubuh di balik gamis yang dipakai gadis jelita ini.
Dalam box warnet no. 10 yang tertutup, Rif’ah mulai membuka beberapa alamat website cabul yang diberikan aktivis juniornya tadi pagi. Tak sampai lima menit kemudian, mata Rif’ah yang lebar membelalak melihat website-website cabul tersebut. Wajahnya yang putih juga berubah merah padam menahan kemarahan dan rasa jijik melihat website serta weblog yang melecehkan wanita secara seksual, terutama akhwat yang berasal dari partainya. Beberapa cerita porno tentang para akhwat serta foto-foto yang mempertontonkan kemulusan tubuh wanita seperti dirinya membuat Rif’ah merasa terhina dan terlecehkan.
Gadis ini juga merasa geram dan nyaris tidak percaya ketika kemudian dia mendapati beberapa foto cabul seorang akhwat memakai jilbab putih lebar dengan wajah mirip dirinya sebagaimana laporan aktivis juniornya. Tubuh Rif’ah gemetar menahan kemarahan dan rasa tak percaya melihat pose-pose gadis berjilbab putih yang berwajah mirip dirinya. Tanpa sadar gadis yang dalam kesehariannya bertabiat lembut ini mengumpat karena kemarahannya melihat foto-foto tersebut.
Melihat betapa wanita seperti dirinya dilecehkan dalam website tersebut, Rif’ah terdorong untuk membuat laporan khusus mengenai hal ini. Rif’ah berniat mengajukan semuanya ke Bagian Keakhwatan DPP partainya di Jakarta untuk dibahas, kebetulan dia mengenal baik beberapa aktivis senior yang duduk dalam struktur kepengurusan DPP Bagian Keakhwatan. Tak cukup sampai di situ, gadis ini juga berniat untuk melaporkan keberadaan website ini kepada pihak kepolisian agar pembuat situs ini ditangkap polisi.
Dengan flashdisk miliknya, Rif’ah kemudian menyimpan puluhan cerita porno mengenai akhwat serta gambar-gambar cabul yang terpampang, terutama foto-foto akhwat berjilbab yang mirip dengan dirinya. Satu persatu beberapa foto cabul dan cerita-cerita erotis mengenai akhwat berpindah ke flashdisknya yang berkapasitas 1 GB tersebut.
Rif’ah adalah seorang gadis berusia 23 tahun yang alim serta tumbuh dalam lingkungan keluarga yang alim pula. Gadis alim yang berasal dari Solo ini mulai memakai jilbab ketika dia duduk di kelas 2 SMP dan jilbab tersebut melekat pada dirinya hingga dia hampir menyelesaikan kuliahnya saat ini. Selama kuliah di sebuah PTN tersebut, Rif’ah aktif sebagai kader salah satu partai bahkan gadis ini juga duduk dalam kepengurusan DPD setempat.
Berkecimpung dalam partai berlambang bulan sabit kembar itu membuat Rif’ah terlihat semakin alim. Dalam hal pergaulannya dengan laki-laki, Rif’ah juga selalu menjaga jarak. Selama ini, Rif’ah memang didoktrin untuk menjaga jarak dengan lawan jenisnya, sehingga tidak pernah sekalipun terlihat gadis alim berwajah cantik ini berakrab-akrab dengan teman laki-laki.
Sebagai seorang gadis, boleh dikatakan Rif’ah nyaris sempurna. Selain memiliki wajah cantik dan tabiat yang lembut, Rif’ah juga jauh dari hal-hal porno atau cabul sejak kecil, bahkan bagi dirinya hal-hal tersebut merupakan hal-hal yang tabu.
Namun siang ini, gadis yang alim ini terpaksa melihat hal-hal tabu tersebut untuk pertama kalinya sepanjang hidup. Awal mula, Rif’ah memang sempat shock, bukan saja karena kemarahan yang dirasakannya, namun juga karena dia tidak pernah melihat gambar-gambar cabul dan porno sebelumnya. Pada mulanya memang Rif’ah merasa jijik dan marah melihat website tersebut, namun semakin lama dia menjelajahi berbagai website dan blog cabul itu, rasa marah dan jijik yang dirasakannya di menit-menit pertama berubah menjadi rasa malu.
Wajah Rif’ah yang ayu dan lembut bersemu merah melihat foto-foto dalam website dan blog cabul tersebut, apalagi ketika dia melihat foto-foto gadis berjilbab putih lebar yang berwajah mirip dirinya tengah mengulum batang kontol laki-laki yang telah menegang.
Mata Rif’ah yang lebar membelalak nyaris tak berkedip melihat foto-foto gadis berjilbab yang tengah mengulum batang kontol laki-laki. Mata Rif’ah tak lagi memperhatikan gadis berjilbab putih yang berwajah mirip dirinya, namun matanya kini lekat melihat batang kontol laki-laki yang tengah dikulum dan ada juga yang diremas oleh gadis berjilbab itu.
Rif’ah menggigit bibirnya kuat-kuat menahan debaran jantungnya yang berdegup kian kencang melihat urat-urat kontol laki-laki yang menonjol dalam foto tersebut. Tubuhnya gemetar ketika tanpa disadari ia mengkhayalkan dirinya yang mengulum kontol laki-laki yang menggiurkan itu. Seumur hidupnya, baru kali ini Rif’ah melihat batang kontol laki-laki walaupun hanya dalam foto, terlebih kontol berukuran istimewa itu dalam keadaan tegang. Nafas gadis yang alim ini mulai memburu dan dia mulai merasakan denyutan-denyutan di bagian dalam memeknya yang terasa gatal sebagaimana layaknya perempuan yang mulai terangsang birahi.
Rif’ah memang seorang gadis yang alim dan selama ini jauh dari berbagai hal yang porno dan mesum, bahkan dia selalu menjaga jarak dalam hubungan dengan laki-laki, namun Rif’ah tetap seorang wanita normal yang mempunyai gairah terhadap lawan jenisnya. Rif’ah yang telah berusia 23 tahun seringkali timbul gairah birahinya kepada lawan jenisnya secara alamiah. Rif’ah sering terangsang terhadap lawan jenisnya, namun apabila birahinya mulai terangsang, gadis cantik ini segera menekannya dengan berbagai aktivitas.
Wajah Rif’ah yang cantik seringkali menjadi masalah tersendiri karena membuatnya sering digoda oleh laki-laki, walaupun dia telah memakai pakaian tertutup rapat. Godaan-godaan para laki-laki yang berbentuk ucapan-ucapan mesum, sentuhan atau kadang menempelkan tubuh mereka ke tubuhnya saat di bis kota juga dapat membuatnya terangsang, namun semua rangsangan birahi yang dirasakannya dapat diredamnya dengan baik.
Rif’ah merasa dirinya mampu menjaga diri dan mengendalikan birahinya, tidak seperti beberapa gadis yang diketahuinya melampiaskan birahinya dengan bermasturbasi. Saat Rif’ah menanyakan alasan mereka melakukan masturbasi, beberapa gadis yang beberapa di antaranya adalah teman kostnya itu menjawab bahwa masturabsi lebih baik daripada berzina sementara mereka masih belum mau menikah dengan berbagai sebab. Rif’ah merasa maklum dengan alasan gadis tersebut karena keadaan kampus-kampus sekarang yang penuh dengan godaan zina di mana-mana, akan tetapi gadis ini tidak mau mengikuti jejak gadis tersebut ikut bermasturbasi.
Kali ini birahi Rif’ah juga merasa terangsang, namun rangsangan itu bukan datang secara alamiah atau gangguan dari orang lain. Birahi gadis alim ini terusik karena perbuatan dirinya sendiri, sehingga kali ini Rif’ah merasa kesulitan untuk mengendalikan seperti biasanya. Kian lama birahi Rif’ah semakin kuat, membuatnya melupakan doktrin moral yang selama ini dipegang dan keberadaannya sebagai salah seorang aktivis di partainya.
Box warnet yang tertutup membuat Rif’ah leluasa menjelajahi berbagai website erotis dan porno yang didapatinya dengan search engine Google, terutama yang menampilkan foto-foto laki-laki telanjang bulat dan mempertontonkan kontol mereka yang tegang. Nafsu birahi Rif’ah yang mendorong gadis ini tak lupa untuk menyimpan foto-foto tersebut ke dalam flash disk miliknya.
Hampir satu jam kemudian wajah Rif’ah yang tengah dilanda birahi sudah sangat memerah dan terlihat kontras dengan jilbab putih lebar yang dipakainya. Gamis coklat susu yang dipakai Rif’ah juga terlihat kusut pada bagian selangkangan, karena sebelumnya gadis ini tak mampu menahan tangannya untuk menggosok-gosok bagian selangkangan setelah rasa gatal dalam memeknya tak tertahankan lagi. Nafas Rif’ah juga memburu dengan jantung yang berdegup kencang dan gadis ini merasakan tetek dalam gamisnya yang terbungkus BH berukuran 34C itu menjadi sangat kencang dan mengeras.
Satu jam lebih lamanya Rif’ah dilanda birahi dalam box warnet bernomor 10 yang tertutup itu. Dalam keasyikan menjelajahi website-website porno, tiba-tiba Rif’ah dikejutkan bunyi pertanda sebuah pesan masuk di HP nya.
“Hmm, dari Faizah.” gumam Rif’ah ketika melihat sms yang dikirim oleh salah seorang gadis di tempat kostnya yang seluruh penghuninya adalah aktivis separtai.
Isi sms itu mengabarkan bahwa salah seorang gadis di tempat kost mereka terpergok menyimpan berbagai bacaan dan gambar porno di kamarnya. Rif’ah sebagai aktivis yang dituakan di tempat kost tersebut diharapkan bisa menyelesaikan kasus ini, apalagi ini adalah kasus keenam yang terjadi di tempat kost mereka.
Mendapat sms dari Faizah seperti itu, tubuh Rif’ah gemetar. Gadis yang alim ini segera tersadar dari apa yang sedang dilakukannya di box warnet. Akhirnya dengan perasaan kalut, Rif’ah menutup seluruh website porno yang telah dikunjunginya dalam waktu satu jam lebih ini dan bermaksud segera angkat kaki dari warnet. Ketika seluruh windows website-website porno itu telah tertutup hingga tinggal tampilan dekstop yang terlihat di layar monitor, mata Rif’ah melihat sebuah icon yang berjudul Koleksi Movie di layar monitor. Tiba-tiba timbul keinginan Rif’ah untuk mengkliknya sehingga dia menunda untuk segera keluar dari box warnet.
Setelah gadis ini mengklik dua kali icon tersebut, terpampanglah puluhan folder judul film yang tengah menjadi box office di layar monitor. Namun mata gadis berwajah cantik ini melihat salah satu folder berjudul Surga yang membuat dahinya berkerenyit heran. Dengan diliputi rasa heran, Rif’ah mengklik folder berjudul Surga itu yang sekejap kemudian terpampang 2 file film berukuran besar yang membuat gadis ini semakin penasaran. Niatnya untuk keluar dari box warnet tertunda ketika rasa penasaran itu mendorongnya mengklik file film berjudul Surga yang berukuran lumayan besar.
“Ahh!” Rif’ah terpekik kaget ketika file film itu terbuka, ternyata merupakan file film porno.
Tubuh Rif’ah seketika menjadi gemetar dan dadanya berdegup kencang. Setelah satu jam yang lalu gadis ini browsing menjelajahi website-website porno yang menampilkan gambar-gambar porno yang tak bergerak, ternyata kini dia menemukan film yang menyuguhkan gambar cabul yang bergerak. Kembali Rif’ah terombang-ambing antara keinginan melihat dan rasa bersalah, akan tetapi nafsu birahi ternyata masih menguasai gadis ini, membuat Rif’ah kembali duduk dalam box warnet seperti semula.
Mata gadis ini berbinar lebar menyaksikan film yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan akan ia lihat. Film yang agaknya berasal dari Jepang itu diawali dengan adegan sebuah keluarga muda dengan dua orang anak yang masih kecil, namun adegan itu cuma sebentar dan cerita itu dimulai ketika adik kandung sang suami yang berwajah tampan ikut menumpang di rumah mereka.
Rif’ah kian tenggelam mengikuti jalan cerita film tersebut yang kemudian sang istri dalam film tersebut tertarik dengan adik suaminya yang masih belia. Sang istri dalam film tersebut digambarkan sebagai ibu rumah tangga yang selalu berkimono tertutup, akhirnya terjadilah perselingkuhan antara adik sang suami dengan sang istri. Birahi Rif’ah kian menguat ketika adegan percintaan pasangan selingkuh ini dieksplor dengan detail.
Gadis yang tengah dilanda birahi ini terengah-engah menyaksikan adegan-adegan persetubuhan yang dimulai hanya 10 menit setelah film dimulai. Puluhan menit berikutnya boleh dikatakan film itu dipenuhi adegan-adegan persetubuhan pria dan gadis degan detail dan close up, membuat Rif’ah yang menonton film tersebut hanya terengah-engah dalam birahi yang kian menggelegak.
Gadis ini kembali tenggelam dalam libidonya di depan monitor yang menayangkan film porno. Kali ini Rif’ah tidak hanya sekedar menggosok-gosok bagian selangkangannya, namun dia juga mengangkat gamis panjang warna coklat susu yang dikenakannya hingga ke pinggang sampai terlihat sepasang pahanya yang bulat padat dan mulus. Tak sekedar menyingkap gamis yang dipakainya, namun gadis ini juga menelusupkan tangannya ke balik celana dalam krem yang dikenakannya, lantas dengan bernafsu jemari tangannya menggosok belahan memek yang kemerahan.
Gadis berwajah menawan ini ternyata mempunyai memek yang sangat indah, membukit putih mulus tanpa sehelai rambut memek yang menghiasinya karena rajin dibersihkan. Bibir memek Rif’ah yang kemerahan kian terlihat memerah ketika tangan gadis jelita ini menggosok-gosoknya penuh nafsu birahi.
Di saat tangan kiri Rif’ah menggosok-gosok belahan memek, tangan kanannya menyusup ke balik jilbab putihnya yang lebar, lantas dibukanya 3 kancing yang ada di muka gamis tersebut dan tangannya segera menyusup ke balik BH berukuran 34C yang dipakainya. Rif’ah mempunyai sepasang tetek montok membukit indah yang kini terasa kian mengeras. Birahi gadis cantik ini telah demikian menggelegak ketika tangannya meremas-remas teteknya sendiri sambil memelintir puting susunya.
Entah darimana Rif’ah belajar bermasturbasi padahal sebelumnya tidak pernah satu detik pun dia melakukan perbuatan mesum tersebut sebagaimana beberapa gadis lainnya. Mata Rif’ah melotot melihat adegan-adegan syahwat yang terpampang di layar monitor, sementara kedua tangannya merangsang memek dan teteknya sendiri.
Puluhan menit berlalu ketika tiba-tiba HP Rif’ah berbunyi nyaring, membuat Rif’ah yang tengah asyik dalam birahinya terlonjak kaget. Kali ini nada HPnya adalah nada panggil, bukan nada SMS. Ketika melihat nama Faizah yang terpampang di layar HP, Rif’ah segera menghentikan meremas teteknya, lalu dengan wajah kesal ia mengangkat telepon.
“Ada apa, Faizah?” tanya Rif’ah dengan sedikit kesal.
“Maaf, mbak, gimana sms saya tadi. Apa Rikhanah perlu dikeluarkan juga dari tempat kost kita sebagaimana beberapa akhwat yang lain?” tanya Faizah.
Rif’ah terdiam. Rikhanah adalah akhwat yang dimaksud dalam sms dari Faizah sebagai akhwat yang mengkoleksi gambar dan cerita porno di tempat kost mereka yang seluruhnya dihuni akhwat aktivis.
“Tunggu dulu, biar saya datang dulu. Rikhanahnya ke mana?”
“Sudah pergi, Mbak, mungkin malu dia. Tapi barang-barangnya masih di kamar dan barang-barang cabul itu sudah saya amankan.”
Rif’ah kembali terdiam.
“Ya nanti kita bicarakan, tunggu aku datang saja.”
Ketika kembali pandangan Rif’ah ke layar monitor, film tersebut sudah mendekati akhir, berarti satu jam lebih akhwat jelita ini tenggelam dalam birahi ketika menonton film tersebut. Telepon dari Faizah tersebut ternyata mampu membangkitkan kembali kesadaran akan perbuatan yang sedang dilakukannya. Dengan gontai Rif’ah membenahi gamis dan jilbab yang awut-awutan dan membuatnya setengah telanjang. Untunglah box warnet itu tertutup rapat, tak seorang pun melihat keadaan akhwat cantik dengan aurat yang tersingkap lebar.
Rif’ah keluar dari box warnet nomor 10 setelah hampir empat jam dia berada di dalam. Gamis coklat susu yang dipakainya terlihat kusut masai, terutama pada bagian selangkangan, sementara jilbab putih lebar yang dipakainya juga terlihat kusut di bagian dada. Rif’ah berjalan gontai dengan pikiran yang kalut berniat menuju kasir warnet, namun akhwat ini merasakan celana dalam yang dipakainya terasa basah dan membuatnya risih.
Rif’ah menghentikan langkahnya ke meja kasir, akhwat cantik ini segera menuju toilet warnet. Dalam toilet yang cukup bersih itu, Rif’ah melepas celana dalam krem yang dipakainya di balik gamis. Rif’ah memperhatikan celana dalam yang terasa basah oleh lendir cukup banyak. Sekian jam Rif’ah tenggelam dalam birahi, membuatnya berulangkali menyemprotkan cairan kenikmatan yang membuat celana dalamnya menjadi basah.
Rif’ah segera membungkus celana dalam yang semula membungkus memeknya itu dengan tissu, kemudian disimpannya dalam tas. Sebelum keluar toilet, Rif’ah sempat mencuci memeknya yang terlihat putih kemerah-merahan tanpa sehelai rambut pun yang dibiarkan tumbuh. Bukit montok memek Rif’ah yang mulus dengan bibir memek yang merekah merah itu dicucinya berulangkali sebelum dilap dengan tissue. Akhwat yang cantik ini merasa yakin tak seorangpun mengetahui dirinya saat ini tidak memakai celana dalam. Jilbab putih lebar serta gamis panjang yang dipakainya terasa cukup untuk menyembunyikan.
Rif’ah membuka pintu toilet, lantas dengan sedikit canggung dia berjalan menuju kasir warnet yang masih dijaga oleh cowok Chinese. Cowok itu memandang Rif’ah dengan pandangan penuh arti sembari tersenyum.
“Sudah, mbak?” tanyanya sembari tetap memandang akhwat yang cantik ini.
“Ya,” jawab Rif’ah pendek sambil menyodorkan lembaran uang pecahan 20 ribu.
Akhwat ini menyadari pandangan cowok Chinese yang seakan ingin menelanjanginya sehingga membuatnya tidak menyukai pandangan cowok Chinese tersebut.
“Mbak jadi member aja, koleksi film kita nambah terus lho. Dijamin asyik,” ujar cowok itu sambil menghitung uang kembalian.
Rif’ah terperanjat kaget mendengarnya, wajah ayu akhwat berkulit putih ini seketika menjadi merah padam. Rif’ah tidak menyangka kalau operator warnet bisa mengetahui dia melihat film porno dalam box warnet.
“Mmm, makasih. Nggak usah.” ujar Rif’ah tergagap, lantas tiba-tiba saja akhwat ini setengah berlari menuju pintu keluar warnet. Wajahnya yang merah padam tertunduk dalam-dalam menahan rasa malu yang dirasakannya.
“Kembaliannya, mbak!!” teriak cowok operator warnet, namun Rif’ah tidak lagi mendengar.
Begitu keluar dari warnet, akhwat ini juga tidak menunggu bus kota seperti biasanya, namun tangannya segera melambai menghentikan taksi yang lewat.
Sopir taksi yang dihampiri Rif’ah tengah berada di warung dan dia belum sempat menghabiskan teh botol yang ada di tanganya ketika dia melihat seorang gadis berjilbab lebar terlihat tergesa-gesa keluar dari warnet. Sopir taksi sempat terpesona oleh kecantikan wajah gadis berjilbab lebar yang kemerah-merahan tersebut, namun dia segera meninggalkan teh botolnya ketika melihat gadis itu menuju ke arah taksinya
“Taksi, mbak?” tanyanya mengejutkan Rif’ah.
“Ya, pak… buruan!” jawab Rif’ah gugup.
“Silahkan, mbak.” ujar sopir taksi sembari membuka pintu belakang taksinya, mempersilahkan Rif’ah masuk ke dalam.
Rif’ah bergegas masuk dengan membungkuk diiringi tatapan sopir taksi. Akhwat PKS ini tidak sempat menyadari ketika mata si sopir berbinar melihat dirinya masuk ke dalam taksinya..
“Pantat yang bahenol!” desis sopir taksi sambil menyeringai melihat pantat Rif’ah yang terlihat menggiurkan ketika akhwat ini membungkuk masuk ke dalam.
Jubah coklat susu yang dipakai Rif’ah bukan tergolong jubah yang tebal sehingga belahan pantat Rif’ah yang bundar dan bahenol cukup jelas tercetak saat dia membungkuk masuk ke dalam taksi. Darah sopir taksi mendadak berdesir kencang ketika kemudian dia melihat cetakan celana dalam yang biasanya tampak, saat ini tidak terlihat pada jubah yang dipakai akhwat ini.
“Apa nggak pakai celana dalam yah?” tanya sopir taksi dalam hati. Dan sopir taksi ini tak dapat menahan tangannya untuk meraba dan mengelus pantat montok Rif’ah dan bundar tersebut, ketika akhwat ini masuk ke dalam taksinya. Bahkan jarinya sempat menyusuri belahan pantat Rif’ah selama beberapa detik yang membuatnya yakin kalau gadis berpakaian rapat tertutup yang menjadi penumpangnya sore ini memang tidak memakai celana dalam.
Rif’ah yang masih kalut oleh kejadian di warnet tidak menyadari tangan sopir taksi yang meraba dan mengelus pantatnya, bahkan menyusuri belahannya ketika dia masuk ke dalam taksi. Benaknya hanya berpikir untuk segera meninggalkan warnet yang telah membuatnya sangat malu tersebut.
“Ke mana, mbak?” tanya sopir taksi yang sekarang telah berada di belakang kemudi.
Rif’ah menyebut sebuah tempat dan sesaat kemudian taksi itu pun meninggalkan warnet yang telah membuat akhwat ini malu.
Dalam taksi ber AC tersebut, Rif’ah menarik nafas dalam-dalam. Matanya terpejam sambil mengatur jantungnya yang berdebaran tidak karuan. Akhwat ini tidak menyangka hari ini semuanya menjadi jelek dan semuanya berawal dari keinginannya untuk membuktikan website-website cabul yang melecehkan justru berakhir dengan sesuatu yang memalukan bagi akhwat seperti dirinya.
Terbayang kembali kejadian-kejadian yang dilakukannya beberapa saat yang lalu di warnet. Ada penyesalan yang menyelinap di hati akhwat berwajah lembut dan cantik ini atas segala yang dia lakukan dalam box warnet. Rif’ah tersadar kembali dengan segala doktrin moral yang selama ini didapat serta statusnya sebagai seorang akhwat. Memang tidak semua akhwat mempunyai moral yang bagus, bahkan beberapa akhwat yang dikenalnya mengaku sering bermasturbasi. Akan tetapi sejelek apapun moral seorang akhwat mestinya harus terlihat lebih baik daripada wanita lainnya.
“Mbak dari PKS yah?” tanya sopir taksi tiba-tiba, yang membuat Rif’ah kaget.
“Iya, Pak.” jawab Rif’ah pendek. ”Kenapa, pak?”
“Nggak. Nggak apa-apa. Saya suka PKS, banyak perempuannya dan perempuannya cantik-cantik. Hehehe...” jawab supir taksi sambil terkekeh.
Rif’ah terdiam sambil mengerutkan kening mendengar ucapan sopir taksi ini yang terasa mesum dan cabul, tanpa sadar bulu kuduknya merinding. Mendadak Rif’ah merasa tidak suka kepada sopir taksi ini dan merasa malas melayani obrolannya. Firasatnya mengatakan bahwa dia harus berhati-hati dengan sopir taksi ini. Dia teringat beberapa kejahatan yang dilakukan oleh sopir taksi di Jakarta seperti beberapa berita yang dibacanya, namun dia ragu kalau di kota ini akan terjadi kejahatan seperti itu, apalagi saat ini masih sore yang terang dan di tengah keramaian kota.
Untuk mengurangi kegelisahannya, Rif’ah mengambil MP4 player miliknya dan melalui headset yang dihubungkan dengan MP4 Player tersebut, akhwat dia  mendengarkan nasyid dari kelompok Snada yang sangat disukainya. Dengan posisi duduk setengah rebah dan memejamkan mata, Rif’ah menikmati alunan nasyid yang merdu tersebut sehingga membuat gejolak birahi dan kegelisahannya perlahan mereda. Beberapa kali kepala akhwat ini bergoyang mengikuti irama nasyid yang didengarnya, terlena oleh kelompok nasyid bersuara emas tersebut.
Berbeda dengan Rif’ah, birahi sopir taksi yang mulai merasa akhwat ini tidak menyukainya justru perlahan bergejolak setelah dia meraba pantat montok Rif’ah ketika masuk ke dalam taksi. Bukan saja karena dia merasakan kenyalnya pantat montok gadis berjilbab lebar ini atau terpesona kecantikan wajahnya, namun yang lebih membuatnya birahi adalah dia yakin bahwa gadis berjilbab lebar ini tidak memakai celana dalam di balik jubah panjang coklat susu yang dipakainya.
Tubuh sopir taksi ini menjadi gelisah menahan birahi yang membuat kontolnya perlahan mulai tegak mengeras teringat ketika tangannya menyusuri belahan pantat montok akhwat ini yang tercetak cukup jelas di jubah panjangnya.
Melalui spion dalam kabin taksi, sopir taksi ini melirik ke arah Rif’ah dan dia melihat gadis berjilbab lebar ini tampak duduk setengah rebah sembari mendengarkan sesuatu. Kedua matanya tertutup dan kadangkala kepala gadis berjilbab lebar ini bergoyang mengikuti alunan yang didengarnya. Sopir taksi ini menelan ludah melihat kecantikan paras penumpangnya. Selama ini dia memang tertarik dengan PKS dan kerap kali ikut kegiatan PKS terutama demo-demo yang dilakukan mereka.
Sopir taksi ini tertarik kepada PKS bukan karena partainya, tapi karena banyaknya perempuan di partai tersebut dan kebanyakan para perempuan PKS berparas menawan. Paras cantik menawan namun sekujur tubuhnya tersembunyi dalam pakaian yang rapat tertutup, hanya menyisakan bagian-bagian tubuh yang menonjol dan membukit, sungguh membuat penasaran. Baginya sebuah keberuntungan yang besar memperoleh penumpang salah seorang akhwat  berwajah cantik yang sintal.
Sampai di sebuah perempatan besar, lampu lalu lintas menyala merah sehingga membuat taksi yang dinaiki Rif’ah berhenti, namun Rif’ah yang masih asyik dalam alunan nasyid tidak menyadari. Sopir taksi kembali melirik Rif’ah melalui spion dalam kabin, dan dia melihat penumpangnya masih terpejam. Sopir taksi ini akhirnya terdorong untuk melihat akhwat PKS ini secara langsung tanpa melalui kaca spion, perlahan dia membalikkan tubuhnya ke arah tempat duduk Rif’ah. Mata sopir taksi membesar melihat kecantikan wajah akhwat yang menawan ini, namun sekian detik kemudian detak jantungnya seakan berhenti ketika matanya menyusuri sekujur tubuh Rif’ah, terutama di bagian bawah.
“Ohhh…” desah sopir taksi dengan mata melotot.
Rif’ah yang duduk setengah rebah dalam taksi membuat posisi pinggulnya lebih rendah daripada kedua lututnya, membuat ujung jubah yang dipakainya tertarik ke atas hingga setengah betisnya terlihat.
Sopir taksi yang tengah dilanda birahi menelan ludah melihat sepasang betis Rif’ah yang indah walaupun kedua betis yang terlihat separuh tersebut masih memakai kaus kaki panjang warna krem. Akan tetapi yang membuat birahi sopir taksi ini menggelegak adalah ketika dilihatnya kedua kaki Rif’ah membuka dan dengan posisi duduk yang posisi pinggulnya lebih rendah daripada kedua lututnya, membuat sebagian paha mulus akhwat berkulit putih ini terpampang di depan mata sang sopir taksi.
Rif’ah dengan mata masih terpejam terlihat asyik dengan nasyid yang sedang dinikmatinya. Pada saat itu pula Rif’ah ingin duduk lebih rileks sehingga dia yang belum menyadari perbuatan si sopir taksi, beberapa saat kemudian justru membuka kedua pahanya di depan mata sang sopir taksi yang tengah birahi.
“Ohhhh...” desah sopir taksi yang kini tidak sekedar melihat sebagian paha Rif’ah yang putih mulus, namun dengan posisi duduk yang seperti itu, selangkangan akhwat ini dapat terlihat dari tempat duduk sopir taksi, terlebih sorot matahari yang tepat ke arah Rif’ah, membuat selangkangan akhwat ini terlihat sangat jelas.
Laki-laki berusia 30an yang belum lama menikmati kemulusan sebagian paha Rif’ah, menjadi gemetar melihat pemandangan di depan matanya yang sangat merangsang libido. Bukan hanya sekedar kemulusan paha Rif’ah yang berkulit putih yang terlihat, namun kemaluan gadis berjilbab lebar yang cantik ini terpampang sangat menggiurkan. Keyakinannya ternyata terbukti bahwa gadis berjilbab lebar dengan pakaian rapat tertutup ini memang tidak memakai celana dalam.
Walaupun sang sopir taksi belum beristri, namun dia sudah puluhan kali bermain dengan wanita nakal sehingga melihat kemaluan seoarang wanita bukanlah sesuatu yang istimewa baginya. Akan tetapi kemaluan Rif’ah yang kali ini terpampang di depannya adalah kemaluan terindah yang pernah dilihatnya. Kemaluan akhwat berkulit putih ini terlihat terawat dan tampak mulus membukit dengan bibir kemaluan yang merekah kemerahan serta bersih dari bulu-bulu, berbeda 180 derajat dengan kemaluan para wanita nakal yang sering dikencaninya.
Sopir taksi ini seakan masih belum dipercaya, bahwa sore ini dia dapat melihat bagian tubuh paling rahasia dari seorang akhwat yang selama ini hanya dapat dikhayalkannya saja. Birahi sopir taksi ini semakin menggelegak dan karena dorongan libido, tangan yang sebelumnya sempat mengelus belahan pantat Rif’ah dari luar jubah, secara spontan terulur mengelus paha putih mulus akhwat ini. Pelan diremasnya bukit kemaluan Rif’ah yang sangat menggiurkan.
Sopir taksi ini merasakan paha Rif’ah yang putih mulus terasa kencang dan begitu halus. Ketika tangannya sampai di selangkangan, kemaluan gadis berjilbab lebar ini segera diremas-remasnya penuh nafsu dengan jemari yang mengorek bibir kemaluan yang kemerahan tersebut. Birahi yang menggelegak rupanya telah membuat sopir taksi ini kehilangan akal sehatnya.
Perbuatan cabul sopir taksi ini sedetik kemudian membuat Rif’ah terperanjat sehingga keasyikannya menikmati alunan nasyid buyar dan secara refleks akhwat PKS ini membuka kedua matanya.
“Aiihhhhhh!!” pekik Rif’ah terkejut ketika melihat tangan sopir taksi telah menyusup ke balik jubahnya dan akhwat ini merasakan tangan sopir taksi tersebut kini telah meremas bagian tubuhnya yang paling sangat dijaga selama ini, bahkan dia juga merasakan jemari sopir taksi itu mulai mengorek bibir kemaluannya.
Seketika itu pula Rif’ah meronta, membuat sopir taksi terkejut dan segera menarik tangannya dari sela-sela paha mulus yang tengah diraba-rabanya. Bersama itu pula lampu lalu lintas menyala hijau sehingga si sopir taksi segera kembali ke belakang kemudi seperti semula dengan nafas yang masih memburu oleh birahi dan wajah yang merah padam.
Rif’ah yang tersadar dengan keadaannya, mulai diliputi rasa takut yang luar biasa terhadap sopir taksi tersebut. Wajah cantik akhwat ini menjadi pucat pasi dan tanpa berpikir panjang lagi, Rif’ah segera membuka pintu taksi yang mulai melaju dan segera meloncat keluar. Dia yang tiba-tiba berada di tengah jalan yang ramai,  segera disambut klakson bersahut-sahutan bahkan umpatan dari beberapa pengguna kendaraan lainnya.
Tubuh Rif’ah terasa lemah lunglai ketika akhirnya dia berhasil sampai ke tepi jalan, untuk beberapa saat dia hanya mampu duduk di trotoar. Mata akhwat ini nanar menatap taksi yang semula membawanya, kini meluncur dengan cepat ke arah utara meninggalkan perempatan tersebut.
“Ada apa, mbak?” tanya seseorang dengan ramah, namun mengejutkan Rif’ah.
Rif’ah segera berdiri ketika dia melihat yang bertanya kepadanya adalah seorang laki-laki berseragam polisi lalu lintas. Polisi ini memang tertarik dengan bunyi klaskson bersahut-sahutan ketika dia melihat seorang gadis berjilbab lebar berwajah pucat pasi keluar dari taksi dan bergegas berlari ke pinggir di tengah keramaian lalu lintas.
“Eh... nggak ada apa-apa, pak.” jawab Rif’ah.
Sempat terlintas keinginan untuk melaporkan pelecehan seksual yang dialaminya dalam taksi kepada polisi tersebut, namun niat itu kemudian diurungkan karena dia sendiri merasa malu. Untuk beberapa saat Rif’ah berbasa-basi kepada polisi tersebut sebelum akhirnya dia berjalan ke arah selatan perempatan dengan langkah gontai. Tas miliknya masih berada dalam taksi dan karena dia turun dengan  tergesa-gesa sehingga tas yang berisi diktat-diktat skripsi serta beberapa eksemplar majalah Ummi terbaru yang dipesan akhwat di tempat kost, tak sempat dibawa. Untunglah beberapa benda penting seperti dompet, flashdisk, MP4 Player dan HP berada dalam saku jubahnya sehingga kemudian melalui HP tersebut, Rif’ah mengontak Faizah untuk menjemputnya.
Kebetulan perempatan tempat akhwat ini turun dari taksi letaknya tidak terlalu jauh dari tempat kost, sehingga tak sampai 15 menit Rif’ah menunggu, Faizah telah muncul dengan mengendarai sepeda motor.
“Sudah lama nunggunya, mbak?” sapa Faizah yang sore ini memakai baju panjang warna hijau tua dan jilbab lebar warna hijau muda dengan kaus kaki yang sewarna dengan kaus kaki yang dipakai Rif’ah.
“Belum kok… ayo cepetan!” jawab Rif’ah sambil meloncat ke boncengan Faizah.
Faizah tersenyum, entah kenapa dia selalu berdebar-debar bila memboncengkan Rif’ah, akhwat seniornya yang paling cantik, apalagi bila tangan Rif’ah melingkar di pinggangnya.
Faizah adalah seorang akhwat yang baru berusia 21 tahun, asal Jakarta. Di kota ini dia kuliah di salah satu PTS yang cukup punya nama. Baru di kota ini dia mengenal PKS dan kemudian menjadi kader partai tersebut, padahal semasa SMA, Faizah adalah seorang gadis tomboy dan luar biasa badung. Nama Faizah yang sebenarnya adalah Femmy, namun setelah dia menjadi akhwat, dia merubah namanya. Berbeda dengan Rif’ah yang nama tersebut memang nama lahirnya.
Salah satu kelebihan gadis hitam manis yang bertubuh kekar untuk ukuran perempuan ini adalah kemampuan beladirinya yang cukup tinggi sehingga tak heran dia direkurt sebagai anggota Santika (Barisan Putri Keadilan), semacam satgas wanita di kalangan PKS. Rif’ah selama ini merasa aman bila berjalan bersama Faizah. Beberapa kali Faizah melindunginya dari berbagai gangguan, bahkan suatu saat Rif’ah pernah kecopetan, namun dengan sigap Faizah membekuk pencopet tersebut.
Hanya ada satu hal yang mengganjal di benak Rif’ah dengan tingkah akhwat juniornya ini. Dia merasakan Faizah sangat perhatian kepada dirinya dan seringkali memuji kecantikan wajah dan keindahan tubuhnya walaupun seingatnya dia belum pernah sekalipun telanjang di depan gadis itu. Sebenarnya Faizah juga berwajah cantik, akan tetapi jika dibandingkan Rif’ah masih kalah jauh, apalagi kulit akhwat asal Jakarta ini berwarna cokelat. Namun beberapa lama setelah bergaul dengan Faizah, Rif’ah menganggapnya biasa karena memang banyak akhwat yang memuji kecantikan alamiah yang dimilikinya, bahkan justru membuat Rif’ah tersanjung dan kian dekat dengan akhwat yang satu ini, terlebih setelah Faizah menjadi salah satu penghuni kostnya sejak 4 bulan yang lalu.
Tak lama kemudian kedua akhwat ini sampai di tempat kost mereka yang terletak di tengah pemukiman penduduk. Rif’ah yang masih shock dengan rentetan kejadian yang dialaminya, setelah membersihkan diri, segera masuk ke kamar dan tidak bercanda dengan akhwat-akhwat lainnya sebagaimana biasa. Faizah dan beberapa akhwat penghuni kost tersebut, yang sedianya hendak membahas masalah Rikhanah, menjadi segan. Mereka melihat Rif’ah begitu letih dan wajahnya yang cantik itu terlihat pucat pasi.
Ketika mereka menanyakan keadaannya, Rif’ah hanya menjawab bahwa dirinya sangat letih dan ingin banyak istirahat. Akhwat ini juga menceritakan kalau tas miliknya diambil orang sehingga majalah Ummi titipan dari mereka ikut hilang dan dia berjanji untuk menggantinya esok hari. Tentu saja semua akhwat tidak mau diganti, justru mereka bersimpati dengan Rif’ah, bahkan Faizah sempat menggeram kesal mendengarnya.

2 komentar:

  1. Woww..jilbab seru...
    Jilbab2 yg selingkuh dilNjutin atau diperbanyak min

    BalasHapus
  2. Wah seru nih kang

    BalasHapus