Selasa, 13 Februari 2018

Dia Ngajak Duluan



"Eh, Ta-ta-tante.." Didu tergagap. Entah ini tadi apa yang ada di kepalanya, tapi kakinya tahu-tahu mengantarkannya ke rumah Bella. Bellanya nggak ada, semua nggak ada, yang ada cuma tantenya.
Sejenak mereka bertatapan. Dengan kemeja kuning bunga-bunga dan jins legging yang pas badan itu, raga indah si tante beneran bikin Didu nggak bisa memikirkan negara dan rakyatnya. Cuma galaksi-galaksi dan luar angkasa yang bisa dipikir oleh dia.
"Nggak usah takut! Bella nggak ada kok, cuma kita berdua, ayo senang-senang." Tantenya Bella malah merayu Didu. Dia pun digandeng masuk ke kamar tidur Bella.

"Tante nih gila", desis Didu, tapi mantan pramugari berumur tiga puluhan itu tahu persis titik lemahnya. Tangan dan jemarinya mulai menari-nari mengelus batang penis Didu dari luar celana, membuatnya jadi beranjak tegang.
"Ya udah. Yuk kita gila bersama. Biar gila tapi dijamin enak, kok. Yuk!" tawar perempuan cantik itu.
Dan Didu pun ketularan gilanya.
Semula mereka mengobrol di sofa saja, walau si tante bolak-balik melirik ke ranjang yang sepreinya merah muda. "Bella nggak ada lho.. Apa gordennya perlu ditutup?"
"Gorden ditutup deh iya, boleh. Tapi ada bagian lain yang dibuka ya, Tante?" tanya Didu sambil nyengir.
"Bagian lain? Genteng ya maksud kamu?" si tante menggoda.
"Iya, genteng, sama bawah-bawahnya..." sahut Didu riang.
"Oh, lubang angin..." si tante kembali menggoda, kali ini dengan kerlingan mata nakal.
"Iya bener. Lubang angin. Ama lubang-lubang yang lain." desak Didu.
"Lubang idung dong berarti! Hihihi..." tante itu tertawa, membuat buah dadanya yang hampir tumpah jadi sedikit terguncang-guncang.
"Ssst, Tante. Bukan cuma idung lho yang ada lubangnya." Mata Didu tertancap kesana, sambil tangannya merangkul pinggang ramping si tante dan mengelusnya perlahan.
"Idih, idih, idih! Geli Didu. Jangan gelitikin dooong!!!" teriaknya begitu Didu menggerayangi pusarnya.
"Hahaha... eh, ngomong-ngomong, si oom kemana?" tanya Didu, tangannya perlahan-lahan naik ke atas.
"Luar negeri." jawab si tante pendek, matanya melirik jemari Didu yang beranjak naik menuju pangkal buah dadanya.
"Kalo Bella?" Dan segera mengusap-usapnya ringan begitu sudah menemukannya.
"Luar kota." Perempuan itu mendesah, terlihat sekali menikmati apa yang Didu lakukan.
"Oooh.. berarti kalo pembantu sedang ke luar angkasa, ya?" goda Didu dengan tangan terus meremas-remas semakin keras. Meski masih terbungkus bh dan baju ketat, tapi buah dada itu terasa begitu empuk dan kenyal sekali. Ukurannya juga pas segenggaman tangannya.
"Pembantu sih ada di belakang. Makanya kamu jangan berisik." Si tante memajukan tubuhnya, berharap Didu akan semakin leluasa lagi dalam beraksi.
"Tante, aku suka sama tante. Ingin ngerasain apa-apa yang selama ini eksklusif, dimana cuma si oom yang sering ngerasain." desah Didu di telinga perempuan itu.
"Ih, apaan. Dia tuh loyo kok. Jarang on..." Si tante malah curhat.
Tapi Didu tak peduli. Justru ia merasa sangat beruntung. Sepanjang pacaran dengan Bella, Didu bahkan belum pernah ngerasain yang seperti ini. Bahkan... setengah jalan juga belum pernah. Paling banter cuma ciuman, atau pegang-pegang pipi dan tangan. Yang lain, no way!
"Eh, jangan direkam! Edan kamu! Entar kalo nyebar di internet gimana?!!!" jerit si tante ketika kamera digital Didu beraksi. Walau siap main gila, dia tidak mau direkam.
“Buat kenang-kenangan, tante...” kilah Didu sambil susah payah mencari sudut yang tepat. “sama buat bahan coli di rumah.” dia nyengir.
Dan si tante ikut nyengir, lalu menyerah tidak sewot lagi. Ia pasrah dengan ulah pemuda itu, yang penting malam ini mereka mendapat kenikmatan. "Ya udahlah... tapi yang seksi-seksi jangan nyebar kemana-mana, ya. Itu buat kamu aja," ujarnya pasrah.
"Iyalah, Tante. Eh, tapi... kalo buat saya pribadi.. masak nanggung begini, sekarang kan era transparansi... kasih lihat semuanya dong, Tante. Jangan ada yang disisain..." Didu menatap tubuh molek perempuan itu dengan pandangan lapar.
"Tapi bener, ya... Janji, nggak akan disebar kemana-mana?" tanya si tante lagi sebelum melepas seluruh bajunya.
"Iyalah, Janji." sahut Didu tidak sabar, bahkan kembali diremas-remasnya payudara perempuan itu dengan gemas.
"Kalo ingkar janji diapain?" tanya si tante menggoda. Senyumnya yang manis tersungging di bibirnya yang tipis.
"Diapain ya?” Didu tampak berpikir, tapi tangannya tetap bergerilya nakal di atas tubuh molek perempuan itu, kali ini meremas dan mengelus-elus belahan paha yang sudah sedikit terbuka. “Dikerem sekamar aja ama Tante, tujuh hari tujuh malem juga siap, kok!" jawabnya usil.
"Wuuu! Itu sih maunya kamu." Si tante mencolek hidung pesek Didu.
"Tante, saya udah nggak bisa nahan lagi nih. Ingin disuguhin hidangan yang paling lezat..." Didu menjilat bibirnya, ditatapnya mata perempuan itu lekat-lekat.
"Ooo... kamu laper, ingin makan rawon. Bentar ya, Tante siapin!" si tante pura-pura akan beranjak.
"Idih, bukan rawon, Tante.” Didu segera memeluk tubuh perempuan itu. “Tapi timlo solo yang seger bergizi! Milik si putri solo, tanteku tersayang. Hehehe..." dia nyengir.
"Pake pelindung, ya?" si tante meminta, tangannya masuk ke dalam saku.
"Tentu. Sedia pelindung, sebelum hujan!" kelakar Didu. Diterimanya sebungkus kondom berwarna merah yang bergambar hati.
"Peribahasa apaan tuh? Ngaco..." si tante tertawa.
"Ayolah, Tante. Jangan buang waktu, ah." Didu segera melepas celananya, tak sabar ingin segera memasang kondom itu ke batang penisnya, lalu lekas mencoblos kue apem milik si tante yang pastinya sudah siap sedia.
"Hehehe... penasaran, ya? Makin diulur, sensasinya makin dahsyat, ta'uk!" Bret! Saat Didu lengah, si tante merebut kamera yang ada di meja, lalu dia lari ngumpet di toilet.
"Yah..." Didu mendesah kecewa, mengira permainan berakhir. Apalagi setelah ditunggu lima menit, si tante tidak kunjung keluar. Dipanggil-panggil juga tidak menyahut. Makin lemaslah dia. Dasar tante, habis menggoda malah ditinggal begini!
Pelan-pelan Didu menaikkan kembali celana jins-nya yang tadi sudah sempat melorot sampai ke lutut. Dia sudah ingin pamit saat dilihatnya pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka. Si tante keluar sambil cengar-cengir.
“Maaf, sudah membuat kamu nunggu. Tante hanya ingin mastiin semua datanya terhapus,” katanya sambil memberikan kembali kamera Didu.
Didu menerimanya, sekaligus juga menarik tubuh montok si tante ke dalam pelukannya. “Dan sekarang...?”
Perempuan itu tersenyum dan melingkarkan tangannya di pundak Didu. “Terserah kamu,” jawabnya serak dengan tubuh semakin merapat. Payudara dan pinggulnya yang besar terasa lembut mengganjal di dada Didu.
“Kamu suka aku peluk gini?” tanya si tante.
“Iya, tante.” sahut Didu pendek. Reflek tangannya ikut memeluk, ia usap-usap bulatan bokong si tante yang bulat padat dengan jari-jarinya. Sebentar saja sudah didengarnya nafas perempuan itu mulai menjadi berat dan tidak teratur.
“Duh, jadi pengen nih.” katanya setengah mendesah.
“Apalagi saya, tante.” balas Didu dengan wajah merapat ke bulatan dada si tante dan mulai mengendus-endus ringan disana.
Dan si tante membalas dengan meremas selangkangan Didu. Jari-jarinya yang lentik dengan lincah bermain, mengusap-usap burung Didu yang kembali terbangun.
“Ahh... tante!” Didu merintih keenakan.
“Belum pernah diginiin sama Bella ya?” tanyanya menggoda.
Didu mengangguk. Bahkan tubuhnya menjadi semakin bergetar saat kakinya bersentuhan dengan kaki jenjang si tante. Celana dalamnya yang tipis makin memperjelas bentuk penisnya yang semakin menegang. Tak berkedip mata tante menatap kesana.
“Boleh tante pegang?” tanya perempuan cantik itu.
“Kan sudah dari tadi tante pegang,” sahut Didu bingung.
Si tante tersenyum, kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam celana Didu. “Maksudnya begini...” ia menggenggam dan meremas batang penis Didu secara langsung. “Ih, keras amat!” katanya, campuran antara kaget dan gemas.
Didu hanya tersenyum.
“Sini, lebih rapat.” katanya lagi.
Didu mengangguk, kemudian perlahan, ia merapatkan tubuh hingga penisnya menempel di perut tante yang masih nampak langsing karena belum pernah hamil. Sesaat mereka terdiam, tante masih terus mengusap dan mengelus-elus penis Didu dari dalam celana.
“Ehm...” Didu mendesah merasakan jari-jari tante yang begitu lembut dan hangat membungkus batang penisnya. Ia hanya bisa menikmatinya dengan meremas-remas dada perempuan cantik itu sebagai balasan.
Masih duduk di kursi sofa, si tante membimbing Didu. “Aku yakin kamu belum pernah ngelakuin ini, jadi kamu nurut aja. Biar tante yang bekerja.” katanya.
”I-iya, tante.” Didu menjawab bingung. Memang siapa juga yang mau nolak?
Perlahan tante menurunkan celana dalam Didu, sampai penisnya yang sudah total menegang meloncat keluar. “Tante?” Didu gemetar saat merasakan ujung penisnya yang tumpul menyundul tepat di depan kemaluan si tante yang masih terbalut celana dalam. Tapi ia tahu pasti, bagian itu sudah sangat basah dan hangat.
”Kenapa? Takut?” tanya si tante tanpa rasa bersalah.
”Nggak kok, tante. Nggak apa-apa. Terusin aja,” jawab Didu cepat, takut si tante tiba-tiba berhenti.
”Kalau gitu sini, rapetin ke badan tante.” kata perempuan itu melegakan Didu.
Remaja tanggung itu hanya mengangguk.
Tangan si tante kemudian bergerak, membimbing Didu agar membantu melepas celana dalamnya. Saat benda itu sudah turun hingga ke dengkul, kembali Didu merasakan kehalusan kulit paha dan bokong tante saat perempuan itu menyuruhnya untuk mengusap-usap lagi.
Tante sendiri memegang kemaluan Didu dan merapatkan ke tubuh sintalnya. Digesekkannya batang Didu ke bulu-bulu halus yang sungguh licin dan hangat di belahan selangkangannya, sebelum kemudian mulai menindihnya hingga kemaluan Didu bagai meluncur melalui sesuatu yang makin lama semakin terasa hangat dan basah.
“Ahh... tante!” Tubuh Didu bergetar, ia sadar apa yang tengah ia lakukan, tapi ia sama sekali tak kuasa untuk menolaknya. Karena jujur Didu juga menikmatinya, bahkan menginginkan yang lebih gila lagi.
Akhirnya, seluruh penisnya telah masuk ke lubang tante yang sangat sempit dan lengket itu. Hangat, geli, dan nikmat ia rasakan, apalagi saat tangan tante mulai menekan pantatnya, membuat batang Didu semakin melesak dan menusuk lebih dalam lagi.
“Eghmm...” mereka merintih secara bersama-sama.
Sesekali tante menggerakkan pinggulnya perlahan agar penis Didu bisa lancar menerobos liang vaginanya. Ia menggoyangnya maju mundur, sedangkan Didu cuma diam, tak tahu apa yang harus dilakukan. Jepitan vagina tante terasa begitu nikmat, juga gesekan payudaranya yang menghimpit ketat di dada Didu.
Remaja tanggung itu meraih dan meremas-remasnya perlahan sambil ia nikmati goyangan tante yang semakin lama menjadi semakin cepat, sampai akhirnya Didu merasakan sesuatu yang hendak mendesak keluar dari batang penisnya.
“Tante,” katanya perlahan dengan mulut menempel di puting si tante, ia menghisap dan menjilatinya rakus secara bergantian.
“Kenapa?” tanya tante, ia masih terus menggenjot dan menggoyangkan tubuh sintalnya.
“Nggak tahu, kayak ada yang mau keluar,” jawab Didu polos.
“Nggak apa-apa, keluarin aja.” kata tante sambil mengecup pipi Didu penuh rasa sayang.
Didu mendekap erat-erat tubuh perempuan cantik itu, dan tanpa bisa ditahan lagi, penisnya pun berdenyut hebat. Rasanya sungguh luar biasa. Berkali-kali semprotannya memancar deras di kemaluan si tante. Perempuan itu berhenti menggoyang sejenak, dia menekan penis Didu dalam-dalam hingga tidak ada sedikit pun cairan yang tertumpah keluar.
Lima menit mereka berpelukan erat. Tante sudah akan mengajak lagi, saat tiba-tiba hape di meja berdering. Dari Bella. Kontan mereka segera terdiam.
"Be-be-bella? Ada apa, Bella?!!" si Tante menajamkan pendengarannya, sedang Didu tetap terbaring telentang di bawah tubuh montoknya.
"Si oom, tante. Dia kecelakaan!" kata Bella dari seberang, terdengar sangat panik.
"Hah? Maksud kamu?" tanya tante tak percaya.
“Ya, kecelakaan, Tante. Cepat Tante ke sini!! Gawat." suara Bella meninggi.
"Mmm... Bella, ini beneran, kamu?" tanya tante untuk meyakinkan.
"Ya iyalah, Tante." Bella terdengar tersinggung.
"Bukan penipuan?" tanya tante lagi.
"Idih, Tante. Udah gawat begini kok masih aja... jangan bercanda, Tante!!" semprot Bella.
Sambil memegang telepon, si tante terpaku sejenak. Lalu setelah itu, segera memberesi segalanya. Yah, batal deh dapet enak kedua. Tapi Didu maklum juga, situasi memang sangat tidak memungkinkan.
Dia sudah akan ikut beranjak saat tahu-tahu kakinya terpeleset dan... “Gubrak!” Didu jatuh dari tempat tidur.
Sejenak dia menggosok-gosok mata. Astaghfirullah. Dia pun istighfar berkali-kali. Betapa anehnya mimpi barusan. Masya Allah. Hahaha... masak sih, tantenya Bella, yang selama ini selalu tampil sebagai orang tua yang penuh wibawa... malah celamitan kayak begitu? Hahaha... mimpi.
Ya, ya. Tentu saja itu semua mimpi.
Didu mengingat lagi segalanya tadi. Dia nekat mampir ke rumah Bella, dan bertemu dengan si tante. Seksi sih, tantenya Bella, tapi tentu saja... di dunia nyata, Didu nggak berani macem-macem. Bahkan, melotot melihat kaki atau belahannya saja, Didu mesti memastikan segalanya aman terkendali. Karena diberitahu Bella tidak ada, ia pun pulang.
Inginnya sih, selagi rumah sepi begitu... Didu mengisi waktu dengan mengobrol bersama si tante cantik. Kalo bisa sambil pegang-pegangan tangan... kalo lanjut seperti di mimpi tadi, itu mah lain urusan. Hahaha... Tapi yah, mana mungkin?
Didu pun langsung pulang. Dan mungkin hasrat terpendamnya itu mengendap di alam bawah sadarnya, hingga jadilah berbuah mimpi nggak jelas kayak itu. Ah, benar-benar parah!
Dia Lapar. Tapi hari sudah malam. Didu meraba perutnya, lalu melangkah keluar dari kos-kosan menuju ke tukang nasi goreng di pinggir jalan besar. Enak sih nasi goreng di situ,  tapi ternyata malam ini antriannya nggak kira-kira. Pas giliran Didu, telornya dah abis!
"Ya udahlah, Mas. Nggak pake telor nggak apa-apa. Keburu laper nih..." kata Didu pasrah.
Tapi ternyata... kompornya mati. Gasnya abis. Didu merutuk panjang pendek dalam hati.
“Maaf ya, Mas. Bentar,” kata si tukang goreng menenangkan.
Lima menit ganti gas, barulah nasi goreng pesenan Didu dimasak. Lima menit kemudian, selesai, dan nasi goreng pun dihidangkan. Namun baru sesendok Didu makan, tiba-tiba ada yang mencolek dari belakang.
"Hai, Didu! Makan apa laper, nih?"
"Hah?" Ternyata Bella dengan tantenya.
"Hai, Bella. Hai, Tante. Wah, abis kondangan, ya? Kok pada cantik-cantik." sapa Didu sok ramah. Matanya tak berkedip menatap dua bidadari di depannya, nasi gorengnya terlupakan sudah.
"Iiih, kalo cantik itu udah dari sononya! Iya kan, Tante." sahut Bella.
"Hehehe..." Didu tertawa, dan kembali pada nasi gorengnya. Mau lahap makan, sungkan sama tantenya Bella, mau nggak makan... laper juga.
Ups, tiba-tiba hape si tante berbunyi. Deg, bergetar hati Didu. Bunyinya unik. Okelah. Hape dengan ringtone unik, itu sekarang banyak dimana-mana. Tapi ini? Bunyi uniknya persis sama yang ada di mimpi Didu barusan.
"Apa?!! Suami saya kecelakaan?!!!" si tante menjerit.
Walah! Kok sama dengan di mimpi juga nih? Jantung Didu tiba-tiba saja berdebar kencang.
"Mmm... ini beneran? Bukan penipuan?" si Tante mengkonfirmasi.
Didu makin merinding. Segalanya jadi semakin persis dengan mimpi tadi, kecuali kehadiran Bella tentunya. Dan si tukang nasi goreng.
"Ya iyalah... kalo nggak percaya, silakan aja langsung nengok di UGD rumah sakit... bla, bla, bla..." lalu di seberang sana, si pembawa berita memberikan penjelasan panjang lebar.
Setelahnya, si Tante terdiam. "Nasi gorengnya nggak jadi aja, Mas!" dia lalu bilang pada si penjual. Detik berikutnya dia gandeng Bella pergi.
Waduh! Didu jadi nggak tega juga. "Tante, Tante... Bella... mari ayo, aku ikut ke rumah sakit. Siapa tahu bisa bantu-bantu," ia segera membayar nasi gorengnya dan mengikuti mereka.
Walah. Padahal baru habis dua suapan aja. Laper, laper deh urusannya. Tapi menolong orang lebih penting daripada ngisi perut, kan? Dia ingat nasehat Kiai Mustofa.
Dengan mobil si tante, mereka pun bergegas ke rumah sakit. Dan ternyata memang benar. Si oom kecelakaan! Edannya lagi, di rumah sakit itu ketahuan ternyata si oom itu celaka saat sedang asyik endehoi sama si Murti, pembokat mereka. Alamak!
Bella syok. Dan si tante apalagi.
"Jangan buruk sangka dulu. Siapa tahu informasinya dari polisi nggak bener." kata Didu mencoba menenangkan.
"Nggak bener gimana, Mas? Orang si Murti sendiri yang bilang kok. Aku juga lihat daleman Murti yang putih terang dekil, ada di saku jaket si oom!" Bella meradang.
Didu jadi nggak bisa ngomong lagi. Ini kayak sinetron. Kok bisa ya? Istrinya cantik seksi kayak si tante, penurut dan baik hati... kok suaminya malah main gila sama pembokat yang yah... kalo main film horor, mungkin pantes jadi hantunya.
Selang sebentar, si tante pulang, sementara Didu menemani Bella di situ mengurusi administrasi rumah sakit.
"Duitnya kurang nih. Minta tolong boleh nggak?" Bella bingung.
"Ya udah. Biar aku susul tante kamu bentar di rumah, nanti ke sini lagi. Tunggu, ya!" kata Didu. Lalu dia pun ngebut naik ojek ke rumah si tante. Karena terburu-buru, tanpa mengetuk habis turun ojek, Didu langsung blus masuk ke ruang tamu.
"Aiih!!! Kok main slonong aja!!!" si tante menjerit-jerit.
Didu pun tak kalah histerisnya. "Waduh, Tante!! Oom-nya lagi sekarat kok tantenya malah main ama brondong SMA?!!!"
Ia syok kuadrat. Beneran Didu nggak habis pikir. Dia kira, selama ini si tante itu setia dan pengertian, baik hati. Eh, nggak tahunya sebelas dua belas sama suaminya. Didu meradang, tapi tak urung tetap berpikir juga. Ini kesempatan langka, tak boleh disia-siakan. Kapan lagi bisa merasakan tubuh mulus si tante kalau nggak sekarang.
“Pergi sana,” cepat diusirnya si brondong yang tampak pucat, sementara kepada tante ia berkata, “Sepertinya mimpi saya akan jadi kenyataan, tante.”
Perempuan itu tak bisa menjawab apa-apa, dan hanya bisa pasrah saat perlahan Didu mulai naik untuk menunggangi tubuh sintalnya.

2 komentar: