Selasa, 27 Februari 2018

Duka Tak Bertepi 9



Jadwal padat memaksa Miranda berangkat saat pagi masih gelap gulita. Rasanya baru sebentar ia terlelap namun dering jam beker membangunkannya. Hari minggu selalu menjadi hari paling sibuk. Banyak permintaan tampil di berbagai acara. Ia hanya mandi ala kadarnya. Setelah itu dengan sedikit ragu diketuknya kamar Bimo lalu membuka perlahan. Dilihatnya Bimo malah duduk bertopang dagu.
“Kupikir Mas Bimo masih tidur,
“Aku tahu jadwalmu, Miranda. Sudah siap?”
“Maafkan aku ya, Mas. Harusnya hari ini Mas Bimo libur.
“Buat apa libur jika aku masih sanggup lembur?”

Miranda tersenyum. Jam empat dinihari mereka meninggalkan rumah. Kabut masih tebal memburamkan kaca mobil. Jalanan sunyi lengang. Bimo membiarkan Miranda melompat ke jok belakang. Ia tahu apa saja yang akan dilakukan Miranda. Jika mau ia bisa leluasa menyaksikan setiap gerak-gerik Miranda membongkar pasang pakaian. Tapi dirinya bukan lelaki seperti itu. Cukuplah mendengarkan saja suara suara berisik kain beradu dengan kulit. Ia sudah terbiasa menemani Miranda berganti pakaian di dalam mobil. Toh bukan maksud Miranda untuk menggoda. Miranda melakukan itu semua semata dipaksa oleh keadaan.
“Bagaimana, Mas?”
“Sudah rapi. Miranda, apa yang akan kita lakukan terhadap wanita semalam?”
“Belum kupikirkan, Mas. Untuk sementara biarlah wanita itu tinggal bersama kita.
“Kasihan sekali dia. Pasti semalam dia diperkosa beramai-ramai sebelum dibuang di pinggir jalan.
“Dugaanku juga begitu, Mas. Dia pasti datang dari kampung jauh.
“Jujur saja, semalam aku juga ngiler melihat tubuhnya.
“Mas Bimo ini. Lihat gadis desa bugil ngiler. Tapi lihat selebriti tiap hari tidak ngiler.
Sebenarnya Miranda memendam sesuatu. Semalam dalam perjalanan pulang, ia dan Bimo menemukan sesosok wanita tergeletak pingsan tanpa busana di pinggir jalan. Besar kemungkinan wanita itu diperkosa beramai-ramai dan dirampok habis-habisan. Tapi bukan itu yang ia pikirkan. Wanita itu seperti tak asing baginya. Gambaran wanita itu sangat jelas tercetak di memori otaknya. Ia tahu siapa dan berasal dari mana wanita muda tersebut. Sayang sekali sampai ia meninggalkan rumah, wanita itu belum sadar dari pingsannya.
“Semoga Ibu bisa mengatasi wanita itu ya, Mas. Miranda berkata.
“Ibu adalah bekas perawat. Beliau pasti tahu apa yang harus dilakukan.
“Aku sedih jika mendengar kisah Bu Marina. Jadi hotel Royal itu dulunya punya kalian?”
“Benar, Miranda. Sebelum diambil alih keluarga Ivan, hotel mewah itu milik kami. Satu-satunya kebanggaan kami,
“Mas Bimo bisa kembali merebut hotel itu.
“Dengan menerima kesempatan kedua yang diberikan Ramona?”
“Benar, Mas. Ramona bisa menjadi jalan pintas bagi Mas Bimo. Bukankah cinta itu buta, Mas?”
“Cinta memang buta, Miranda. Tetapi dalam kebutaannya cinta juga punya mata yang tajam.
“Mas Bimo pandai sekali bermetafora. Aku hanya memberi saran saja, Mas.
Diam-diam Miranda memikirkan ucapan Bimo. Cinta memang buta. Cinta mampu menembus batas-batas yang mustahil ditembus. Cinta sanggup menyatukan banyak perbedaan yang dipertentangkan. Banyak kebahagiaan yang terjadi karena cinta. Tidak sedikit kehancuran juga terjadi karena cinta. Kira-kira itulah yang dimaksudkan Bimo. Dalam kebutaannya cinta memiliki mata yang sangat tajam.
Cuaca mulai sedikit terang. Beberapa kendaraan satu demi satu terlihat. Tapi jalanan didominasi oleh pejalan kaki dan orang-orang bersepeda. Miranda merapikan pakaian karena sebentar lagi akan tiba di salah satu acara musik. Ia akan tampil jam enam pagi menghibur masyarakat kota.

***

Pagi cerah. Sudah semestinya disambut dengan jiwa penuh gairah. Segala resah gelisah harus enyah. Seperti cara Aisyah menyambut pagi. Dengan perlahan dan sangat hati-hati ia menggeliat berusaha meloloskan tubuhnya dari dekapan Gatot. Ia tidak ingin mengusik sang suami yang tidur pulas. Berhasil. Tubuhnya sukses lepas. Satu ciuman ia sisakan sebelum meninggalkan kamar. Agak kaget melihat Galang dan Gilang sudah berlarian di ruang tengah. Sekali sergap ia sanggup menangkap dua bocah yang sedang nakal-nakalnya itu. Lalu bersama-sama pergi ke kamar mandi.
“Ayo Galang, Gilang, tidak boleh mimik susu Ummi lagi ya.
Galang dan Gilang patuh. Aisyah jadi bebas meraba dan meremas susunya sendiri. Ia perhatikan dan wajah sumringahnya sedikit mendung. Telapak tangannya seperti meraba-raba satu tonjolan kecil di bawah puting payudara sebelah kiri. Sesungguhnya sudah beberapa bulan lalu ia menyadari keanehan itu. Sering pada malam hari ia merasakan nyeri di daerah itu. Seakan-akan ada duri yang tertanam di balik bongkahan payudara yang masih membusung bulat kencang.
“Apakah ini kanker?” batinnya bertanya-tanya. “Haruskah aku memberitahu Mas Gatot?” pertanyaan demi pertanyaan menghantui sampai selesai mandi. Ia gendong Galang dan Gilang lalu membawa ke kamar.
“Sudah bangun rupanya Mas Gatot.
“Istriku juga sudah wangi. Aisyah, semalam kudengar kamu merintih. Ada apa?”
“Tidak ada apa-apa. Mas Gatot terlalu kuat menghimpit dadaku. Napasku jadi sesak.
“Habisnya dadamu empuk dan kenyal sekali, Aisyah.” Gatot tersenyum. Oh ya, kamu berani belanja sendiri kan?”
“Memangnya Mas Gatot mau ke mana?”
“Tidak kemana-mana. Kepalaku masih terasa pusing, Aisyah. Badanku rasanya rontok.
“Baiklah, Mas. Aku bisa belanja sendiri. Mas Gatot mau titip apa?”
“Aku titip rasa percaya saja, Aisyah.
“Mas Gatot ini. Makanya ayo belanja bareng biar Mas tidak curiga.
“Tidak, Aisyah. Pergilah. Aku cuma bercanda kok.
“Baiklah, Mas. Jaga anak-anak ya. Assalamu’alaikum,” Aisyah memeluk dan mencium Gatot sebelum melangkahkan kaki.
Untuk belanja kebutuhan sehari-hari memang cukup membeli di tempat Mak Odah. Tetapi untuk belanja kebutuhan lainnya harus ke toko yang lebih besar. Aisyah tidak pernah mau belanja di minimarketnya sendiri. Di atas becak yang membawanya ia melanjutkan lamunan yang tadi tertunda. Semalam sesaat setelah menyelesaikan hubungan intim, ia mendengar Gatot mengigau dalam tidurnya.
“Aku bukan pembunuh! Aku tidak membunuhnya! Aku tidak bersalah!” itu bunyi igauan Gatot semalam. “Aisyah! Jangan pergi, Aisyah! Jangan pergi, istriku!” itu juga bunyi igauan Gatot yang terdengar meratap-ratap ketakutan.
Mimpi apa yang semalam mendatangi suamiku? Ya Allah, lepaskanlah suamiku dari seluruh bayang dosa masa lalunya, harap Aisyah dalam doa. Tadi sebelum terbilas air mandi ia masih melihat bekas-bekas keringat Gatot yang pastinya semalam membanjiri dada dan perutnya. Suaminya mimpi buruk.
“Sudah sampai, Mbak Aisyah.
“Eh, ya Pak. Ambil saja kembaliannya.
“Biar saya tunggu Mbak Aisyah sampai selesai belanja.
“Boleh jika Pak Mardi tidak keberatan.
Becak berhenti. Pak Mardi langsung ongkang-ongkang kaki di atas becaknya. Pak Mardi tahu jika yang naik adalah Aisyah maka ia tidak perlu lagi peras keringat mencari penumpang. Semua tukang becak sudah tahu siapa Aisyah. Ibarat durian runtuh jika becaknya dinaiki Aisyah. Ongkos yang diberikan sama dengan ongkos jika mengangkut dua puluh orang. Pak Mardi sudah bisa membayangkan dan yakin berapa uang yang akan diterimanya dari istri Gatot itu. Sementara Aisyah sudah berkeliling di dalam supermarket.
“Aisyah!”
Aisyah kaget namanya dipanggil. Sangat dekat suara itu membuatnya refleks menggerakkan leher membalikkan wajah menoleh ke belakang. Semakin terkejut tapi tidak sampai membuatnya kalang kabut. Ya Tuhan, kenapa makhluk ini masih saja hadir di hadapanku, pikirnya.
“Reihan, lirih Aisyah.
“Akhirnya kita bisa bertemu lagi, Ai. kata pemuda itu sambil tersenyum. "Sendirian saja?" tanyanya.
“Aku diantar tukang becak langganan," sahut Aisyah pendek, masih belum tahu harus bersikap bagaimana ter¬hadap pemuda ini,
"Mau ikut mobilku?" Reihan berkata lagi.
"Terima kasih," sahut Aisyah. "Aku naik becak saja."
"Ikut aku sajalah," Gatot menawarkan. "Nanti kau kuturunkan di tempat yang terdekat dengan rumahmu. Setelah itu kau bisa melanjutkan dengan kendaraan lain. Mau naik taksi atau becak, terserah."
"Aku tak mau merepotkan orang."
"Aku tidak merasa direpotkan." Untuk kesekian kalinya Reihan membujuk. "Jangan sungkan-sungkan kepadaku, Ai."
Aisyah menarik napas panjang. Mulai bimbang. “Harusnya kita tidak lagi saling bertemu, Han.
“Kenapa? Alasan apa yang membuatmu terus terusan menghindariku?”
“Karena aku tidak seperti dulu. Aku punya suami. Aku punya anak. Aku punya kehidupan rumah tangga.
"Ya, memang," sahut Reihan mengambang. Dia tidak ingin mengomentari lebih panjang, takut terlibat pembicaraan yang akan menghilangkan keakraban yang tak ia inginkan, apa pun warna keakraban itu.
"Bagaimana kabar suamimu?" Reihan mulai mengalihkan pembicaraan. Suaranya terdengar empuk dan menyenangkan.
Tanpa sadar Aisyah melirik. Matanya yang agak menyipit dan sebelah dahinya yang dikerutkan sungguh terlihat sangat menarik. Dia tak bisa berkata-kata, pertemuan ini sungguh tak disangka-sangka. Entahlah, apa yang sedang terjadi pada diri Aisyah? Kenapa dia jadi begini? Sungguh, tidak biasanya dia bersikap seperti ini.
“Baik," jawab Aisyah singkat.
“Kalau anak-anakmu?"
“Baik juga." Lagi-lagi dia menjawab pendek.
Jadi, kamu bahagia?" Reihan melirik sejenak ke arah Aisyah.
"Ya," Aisyah masih menjawab singkat dan sekenanya.
"Hm... rupanya kamu memang tidak menghendaki kehadiranku, Reihan mengomentari.
Komentar yang sangat keliru. Tetapi Aisyah tak ingin menanggapi. Biar saja lelaki itu berpikir keliru tentang dirinya. Aisyah tak peduli. Tetapi rupanya Reihan tidak puas. Ia ingin mengetahui pendapat Aisyah.
"Betulkah ucapanku tadi?" Laki-laki itu berkata lagi dengan nada memancing.
"Yah, mungkin saja," sahut Aisyah sambil melemparkan pandangan ke rak-rak yang penuh berisi bahan makanan dengan sikap acuh tak acuh. Dia merasa Reihan meliriknya begitu mendengar jawaban itu, tetapi Aisyah berhasil menyembunyikan apa pun perasaan yang sedang melintas di hatinya. Bahkan sekarang ia mengangkat dagu dan matanya lurus menatap ke depan, ke lorong supermarket yang mulai kosong.
Selama beberapa saat tidak ada yang membuka suara. Yang terdengar hanyalah suara musik instrumentalia yang menyajikan lagu-lagu manis. Tetapi kira-kira lima menit kemudian, lampu tiba-tiba padam. Suasana gelap gulita, bahkan untuk melihat tangannya sendiri Aisyah tak mampu.
“Ah, a-ada apa ini?” Aisyah bersuara lagi, terdengar ketakutan.
“Sepertinya listrik padam.” Reihan berkata dengan senyum lebarnya. “Tidak apa-apa, sebentar lagi pasti lampu emergency-nya menyala.” Langsung digandengnya tangan Aisyah. Perlahan ia sentuh jari-jari lentik Aisyah yang selama ini ia rindukan.
“Han, j-jangan!” Aisyah berusaha memprotes. Tapi karena didorong oleh rasa takut berada di tempat gelap sendirian, ia akhirnya mendiamkan saja.
Merasa tidak ada penolakan, Reihan semakin bertindak berani. Pelan ditariknya tubuh Aisyah hingga kini mereka berdiri berdekatan. Tidak ada lagi sekat yang memisahkan, bahkan Reihan bisa mencium wangi tubuh Aisyah yang begitu memabukkan.
“Aku hanya ingin mengenang masa lalu, Ai.” Reihan berbisik sambil tangannya mulai bergerilya meraba-raba paha Aisyah yang terbungkus rok longgar dengan potongan panjang.
“Jangan!” Aisyah memekik dan ingin menjauh, tapi cekalan Reihan pada tubuhnya ternyata begitu kuat. Dia jadi tak bisa berkutik.
Reihan langsung memojokkan Aisyah ke sudut rak terdekat. Apalagi saat lampu emergency menyala, sinarnya ternyata tidak sampai menerangi lorong di mana mereka berada, membuat segalanya jadi kelabu dan remang-remang. Benar-benar tempat yang strategis dan aman untuk berbuat apa saja. Juga tidak ada pembeli lain yang melintas di sana, jadi bisa dipastikan tidak ada yang melihat gerakan jemari Reihan yang kini mulai naik ke arah pinggul.
“Aku merindukanmu, Ai.” bisik Reihan sambil melumat sedikit bibir tipis Aisyah.
Bulu kuduk Aisyah langsung meremang menerima serangan seperti itu. Ini adalah pengalaman pertamanya diraba-raba di tempat umum seperti ini, apalagi dilakukan oleh seorang lelaki yang pernah dekat di hatinya. Kejadian ini benar-benar membuat Aisyah mematung, tak tahu harus berbuat apa.
Perasaan aneh menyelimuti dirinya. Takut… tapi juga nikmat saat Reihan mulai meremas-remas pinggulnya, hingga akhirnya rok panjang Aisyah benar-benar tersingkap sampai ke atas. Dan celana dalamnya pun terpampang dengan jelas, sementara lampu supermarket masih menyala redup dan remang-remang.
Sejenak ada terbersit rasa takut ketahuan. Tapi rasa nikmat mengalahkan pikiran sehat Aisyah. Maka ia biarkan saja jemari kasar itu terus bermain-main di atas pahanya, bahkan kemudian Aisyah merasakan jemari Reihan mulai menyentuh belahan kemaluannya dari luar celana dalam.
“Aghh... Han!” Aisyah tersentak kaget. Rasa nikmat yang belum pernah ia rasakan kini mengalir begitu Reihan menggesekkan jemarinya di sana.
Aisyah tidak peduli lagi dengan keadaan sekitar. Bahkan kepada Gatot pun, ia lupa untuk sesaat. Langsung direngkuhnya wajah tampan Reihan dan diciumnya bibir laki-laki itu dengan penuh nafsu.  Lidahnya bermain-main di rongga mulut Reihan. Saling membelit, melilit, menjilat-jilat dengan liar. Padahal ini adalah ciuman terlarang yang seharusnya tidak boleh dilakukan. Aisyah hanya mengikuti naluri nafsunya saja.
Menerima perlakuan yang begitu menggairahkan itu membuat Reihan jadi bertambah semangat. Jemarinya langsung menerobos celana dalam Aisyah. Dan Aisyah pun terpekik pelan saat ia rasakan jemari Reihan menyentuh lubang kemaluannya secara langsung.
“Han... aghhh!!” Aisyah menggelinjang begitu Reihan membuka belahan memeknya sambil berusaha mencari-cari klitorisnya. Dan saat benda kecil itu tersentuh, sungguh rasanya seperti melayang ke langit ke tujuh. Luar biasa nikmatnya. Jika saja sedang tidak di dalam supermarket, Aisyah pasti sudah berteriak histeris penuh nikmat.
“Copot, Ai,” bisik Reihan saat merasa agak terhambat oleh celana dalam Aisyah.
Tanpa menunggu jawaban, dia segera memelorotkan celana dalam itu hingga ke lutut. Lalu dibentangkannya kaki Aisyah lebar-lebar agar memeknya bisa bebas terhidang penuh kelezatan. Dengan demikian jemari Reihan jadi semakin mudah mengobok-obok lubangnya yang sudah banjir bandang.
“Aaaaah… a-aku kamu apakan, Han?!” Aisyah mengerang perlahan, takut terdengar pembeli lain. Ia goyang-goyangkan pinggulnya agar jemari Reihan dapat menyentuh klitorisnya. Setiap kali benda mungil itu tersentuh, rasanya seperti ada ribuan jemari yang menggelitik sekujur tubuhnya.
Nikmat kan, Ai?!” Reihan terus mengusap, dan tak cukup sampai disitu, segera ia membuka kancing-kancing baju kemeja Aisyah. Ia buka semuanya sampai tubuh bagian depan Aisyah terbuka bebas. Lalu disingkapnya beha Aisyah ke atas hingga tak ayal kedua payudara Aisyah yang berukuran ekstra langsung melompat mencari udara segar.
“Aghhh... Han!” Dengan dada terpampang indah, Aisyah memekik malu. Apalagi saat ia rasakan Reihan mulai meremas serta memijit-mijitnya seirama dengan gerak jemari yang masih asyik bermain-main di daerah bawah.
“Susumu gede, Ai. Empuk lagi,” Reihan menunduk untuk mencucupi putingnya satu demi satu.
Perbuatan itu membuat sesuatu yang sedari tadi mengalir dalam diri Aisyah, kini mendesak seakan hendak meledak keluar. Seluruh otot di tubuh Aisyah mengejang. Terutama otot kemaluan. Beberapa kedutan ia rasakan dengan rasa nikmat yang tak terkira.
“Aaaaaaaah... Reihaaan!!” Aisyah memekik. Masih tersisa beberapa kedutan lagi sampai akhirnya tubuhnya lemas tak berdaya. Rasanya bagaikan tulang-tulang di seluruh tubuhnya dilepasi satu demi satu.
Aisyah masih terbuai oleh rasa nikmat yang tiada tara saat dirasakan puting dadanya ada yang mencium. Oooh… dan nikmat itu datang lagi. Didengarnya Reihan berbisik lembut di telinga. “Ai, gantian pegang kontolku donk…”
Aisyah hanya mengangguk sambil menjawab, “Iya…” dengan perlahan. Dalam hatinya muncul rasa penasaran seperti apa bentuk kontol Reihan yang sebenarnya. Apakah sama dengan milik Gatot? Apakah lebih besar? Atau malah lebih kecil?
Dengan agak terburu-buru Reihan menurunkan celana berikut celana dalamnya sampai sebatas lutut. Dan terlihatlah benda kaku panjang yang mengacung dengan gagahnya. Tapi masih lebih gagah milik Gatot. Tanpa sadar Aisyah mendesah kecewa. Agak ragu ia menyentuh benda yang bisa bikin enak memek itu.
Melihat Aisyah ragu-ragu, Reihan langsung menyambar tangannya dan membimbing Aisyah untuk menggenggam batang penisnya. Karena sudah terlanjur kecewa, Aisyah hanya mengelus-elus perlahan sambil ia bolak-balik daging panjang itu.
“Buat apa perbuatan maksiat ini diteruskan kalau di rumah aku sudah memiliki yang lebih besar?” begitu Aisyah membatin. Tapi dia sungkan juga untuk menolak secara langsung karena tadi sudah dipuaskan.
Maka Aisyah terus meremas-remas sambil menunggu saat yang tepat. Untunglah, tiba-tiba lampu menyala terang benderang. Listrik sudah mengalir kembali. Reihan panik bukan main, buru-buru ia tepis tangan Aisyah dan lekas membenahi celananya. Begitu juga dengan Aisyah, ia kancingkan kembali bajunya tanpa sempat memakai bh. Bahkan celana dalam pun belum sempat ia kenakan.
“Ikut aku, Ai,” Reihan menatap wajah cantik Aisyah. “Kita lanjutkan di rumahku.”
Tapi Aisyah menggeleng. “Tidak, Han. Cukup sampai di sini saja.” Dia tentu saja tidak sampai hati mengutarakan kekecewaannya. “Penismu kecil, lebih gede punya mas Gatot.” kata-kata itu hanya terngiang di hati kecil Aisyah.
“Kenapa, Ai? Tidak bisakah kita sekedar berbincang seperti di masa lalu?” Reihan mencoba menggunakan cara lain.
“Tidak bisa, Han. Kuharap kamu tidak berusaha dan tidak mencari-cari kesempatan untuk bertemu aku lagi.
“Kamu takut? Kamu tak punya nyali bicara dengan lelaki selain suamimu yang mantan begal itu?”
Lengan kanan Aisyah sudah separuh melayang di udara tetapi tertahan oleh lengan lain yang lebih kuat dan kokoh. Aisyah langsung tahu dan serta merta berlindung di balik tubuh kekar seorang lelaki yang tak lain adalah Gatot. Giliran Reihan yang gemetar dan berwajah pucat.
“Aku suami Aisyah memang mantan begal. Lalu kenapa Mas Reihan coba mengusik ketenangan istriku?” pelan suara Gatot tapi getarannya serasa mencopot setiap sendi tulang siapapun yang mendengarnya.
“Maaf, Mas. Maaf. Permisi.
Reihan bermaksud pergi tetapi tidak bisa. Lengan kirinya keburu dicekal lengan Gatot. Kini dua lelaki itu berhadap-hadapan. Yang satu mengangkat kepala dengan gagah, sedangkan satunya menundukkan kepala dalam-dalam seperti pecundang yang kalah. Para pengunjung supermarket mulai berkerumun membentuk lingkaran. Mereka semua tahu besar kemungkinan akan tersaji pertunjukan gratis. Mereka semua yakin Gatot sedang dalam amarah. Mereka malah berharap amarah itu meledak.
Tetapi Gatot tidak ingin keributan. Ia segera melepaskan cekalannya dan mengibaskan lengan yang langsung ditanggapi oleh Reihan dengan berjalan sangat cepat bahkan sampai terjatuh-jatuh.
“Mas Gatot! Terima kasih, Mas,” bisik Aisyah lirih.
“Ya, Aisyah. Aku bangga dengan ketegasanmu. Gatot datang terlambat, dia sama sekali tidak tahu dengan perbuatan istrinya saat lampu padam.
“Mas Gatot sengaja menyusulku kan?”
“Iya. Aku takut dan khawatir membiarkanmu pergi sendiri.
Gatot merangkul pinggang istrinya dan berjalan sopan melewati orang-orang yang sedianya siap menonton. Tak ada yang perlu ditonton. Sekarang Gatot menemani Aisyah berbelanja keliling supermarket seperti sedia kala, tidak menyadari kalau saat itu Aisyah berjalan dengan tanpa mengenakan bh dan celana dalam.
Sementara itu di toilet supermarket, nampak Reihan sembunyi sambil meringis-ringis kesakitan. Pergelangan tangannya yang tadi dicekal Gatot terasa sangat sakit. Semakin digerakkan malah bertambah sakit. Akhirnya Reihan sadar pergelangan lengan kirinya benar-benar patah. Padahal tadi ia merasakan sendiri cekalan Gatot tidak begitu bertenaga.
Diam-diam dalam hati Reihan bersumpah tidak akan mengganggu Aisyah lagi. Jika cekalan tanpa tenaga saja sudah bisa membuatnya menderita, bagaimana jika amarah Gatot benar-benar meledak. Reihan jadi ngeri membayangkan tubuhnya bakal hancur. Sempat terbersit di benak Reihan untuk menyewa beberapa warok guna membalaskan dendam. Lagi-lagi Reihan sadar warok mana yang mau dibayar untuk melawan Gatot. Biar sudah tobat tapi nama Gatot masih diakui di dunia keras sebagai dedengkot.
“Aisyah oh Aisyah, semoga kamu secepatnya menjanda,” harap Reihan dalam hati.
Mustahil Aisyah menjanda selama Gatot masih segar bugar, gagah perkasa melindungi dan mengayomi istrinya. Aisyah pun tidak ingin kehilangan kehidupan hakiki bersama suami yang mantan begal. Aisyah mempercayai jika seseorang yang di masa lalu sangat liar maka ketika tobat maka orang itu benar-benar sesungguhnya tobat. Gatot suaminya adalah bukti paling nyata. Sebatang rokok pun ia tak pernah melihat dihisap Gatot.
“Dia tidak akan mengganggumu lagi, Aisyah.
“Kuharap begitu, Mas. Lho, mana anak-anak?”
“Tenang, Galang dan Gilang ada di mobil. Pak Mardi kusuruh menjaga mereka.
“Mas Gatot hampir mematahkan lenganku.
“Tapi, jangan sampai kamu mematahkan hatiku ya, Aisyah?”
Aisyah mencubit pinggang Gatot. Kemesraan yang membuat kasir supermarket iri. Ada diskon yang menurut kasir sengaja diberikan oleh pemilik supermarket. Gatot menolak tapi diskon terlanjur dicetak. Si kasir senyum-senyum memandang sepasang suami istri yang tampak serasi. Dua orang security menyalami Gatot sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih. Wajar jika sekuriti itu berterima kasih karena mereka tidak perlu repot-repot menangani keributan yang bisa saja terjadi. Bayangkan jika Gatot yang membuat keributan, siapa yang mampu menghentikan?
Begitu pula di kediaman Miranda. Ada keributan kecil sedang terjadi. Marina kalang kabut berusaha menenangkan seorang wanita muda yang semalam dibawa Miranda. Wanita muda itu mengamuk meraung-raung sambil bergulingan. Marina bingung harus diapakan wanita desa yang makin liar. Telinganya sampai berdenging mendengar teriakan histeris.
“Jahaaanaaammm!!! Setan biadaaabbb!!!!”
Marina geleng-geleng kepala. Akhirnya dibiarkannya wanita itu menangis, meratap, meraung-raung menumpahkan sumpah serapah dan caci maki. Minah masih histeris. Tangisannya miris. Ratapannya mengiris. Seiring menit demi menit semuanya melambat. Yang tersisa hanya isakan-isakan lirih dari sosok yang bersujud. Marina iba. Trenyuh. Wanita itu ia rengkuh dan peluk. Belaian jemarinya bagaikan belai seorang ibu yang coba menenangkan sang anak.
“Sabar, Nak. Tenangkan jiwamu. Kuatkan hatimu.
“Mereka biadab. Mereka dilaknat.” Minah masih sesenggukan di dekapan Marina.
“Tenanglah. Kamu aman di sini. Pakai baju ini, Nak.
“Di mana aku, Bu? Siapa Ibu? Siapa orang yang membawaku kemari?”
“Jangan banyak bertanya, Nak. Namamu Ruminah kan?”
“Minah, Bu. Namaku Minah.
Minah berangsur-angsur tenang. Ingatannya pulih. Dengan tangan gemetar ia mengenakan daster untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Sempat ia mencari-cari sesuatu namun segera sadar tak ada sesuatu pun yang tersisa. Bahkan tubuhnya sendiri juga tak bersisa. Nyeri masih menyerang selangkangan.
Inikah karma akibat kejahatanku terhadap keluarga Mas Gatot? bisik hatinya menyesali segala perbuatan.
Bola matanya berpendar ke penjuru ruangan tempatnya berada. Kamar yang bersih. Ruangan yang luas. Dan sebuah poster besar memenuhi salah satu sisi dinding. Poster artis yang seringkali ia tonton. Selebriti yang ia puja.
“Bu, apakah itu poster Miranda?”
“Benar, Nak. Kamu ada di rumah Miranda.
“Astaga! Benarkah, Bu?”
Hilang kesedihan Minah. Wajahnya ganti berbinar. Matanya bersinar. Marina sampai heran dengan tingkah laku Minah. Di hati terdalam Marina bisa menduga jenis apa wanita di hadapannya. Dilihat dari tatapannya saja Marina sudah punya penilaian alangkah berbahaya wanita dengan obsesi besar ini.
“Di mana Mbak Miranda itu, Bu? Apakah anda ibunya?”
“Miranda sibuk dengan jadwal. Nak Minah, aku bukan ibu Miranda. Aku sama sepertimu. Tinggal di rumah ini sebagai tamu.
“Lalu siapa lagi yang tinggal di sini, Bu?”
“Ada Bimo, putraku. Dia sopir pribadi Miranda. Nah, itu sepertinya Bimo datang.
Marina segera meninggalkan Minah. Memang Bimo yang datang tapi tidak bersama Miranda. Bimo pulang seorang diri. Miranda masih terlibat dalam banyak acara sehingga memberi ijin kepada sopirnya untuk menyempatkan diri pulang. Kesempatan yang dimanfaatkan Bimo dengan sebaik-baiknya. Marina dan putranya beriringan masuk rumah, bergegas menemui Minah.
“Nak Minah, ini Putraku. Namanya Bimo.
“Mmmm… Massss… tidak mungkin Mas Gatot…
Minah berubah ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan mulutnya menganga tak percaya. Tentu saja hal itu membuat Marina serta Bimo terheran-heran. Uluran lengan Bimo yang berniat berjabat tangan berkenalan jadi tertahan. Bahkan Minah malah berniat kabur tapi Marina mencegah.
“Ada apa, Nak Minah? Kok kamu jadi ketakutan?”
“Tidak… tidak, Bu… lepaskan aku… biarkan aku pergi,
“Jadi namamu Minah? Lalu siapa Mas Gatot yang kamu maksud?”
“Anu… anu... Mas Gatot itu…
“Sudahlah, Bimo. Kalian sudah saling tahu,
“Tidak, Bu. Aku butuh penjelasan dari wanita desa ini. Minah, apakah kamu mengenal seseorang yang mirip sekali denganku?”
“Bimo, jangan memaksa Minah. Dia masih dalam suasana trauma.
Bimo menatap tajam Minah yang masih menunduk ketakutan. Marina harap-harap cemas. Minah punya sesuatu yang mulai mengkhawatirkannya selama ini. Beruntung Bimo tidak memaksa lebih jauh dan segera meninggalkan kamar. Marina menghela napas dan memandang Minah. Sejurus kemudian terdengar deru mobil menjauh meninggalkan rumah. Bimo berangkat lagi. Marina berdua lagi dengan Minah.
“Istirahatlah, Minah. Jangan pikirkan apa-apa dulu.
“Baik, Bu.
Marina tidak ingin Minah terlalu banyak bicara. Sejak melihat identitas di dompet Minah, ia sudah menduga akan terjadi hal-hal semacam tadi. Minah berasal dari kompleks Margomulyo. Puluhan tahun silam ia juga membeli Bimo di sana. Minah tahu dan kenal seseorang yang punya kemiripan dengan Bimo.
Sementara di dalam kamar, Minah tidak tidur. Ia malah senyum-senyum sendiri. Perlahan ia berdiri dan berjalan mendekati satu-satunya almari yang ada. Sangat hati-hati nyaris tanpa suara dibukanya almari itu. Senyumnya makin lebar. Ternyata almari itu berisi tumpukan baju dan buku-buku bekas. Diambilnya satu buku yang mirip diary. Tanpa ragu ia baca halaman demi halaman. Tabiat aslinya keluar. Ia tidak membaca diary itu sampai selesai, melainkan justru memasukkan ke balik pakaian. Lalu keluar kamar.
“Lho, Nak Minah, Ibu pikir kamu istirahat.
“Tidak, Bu. Bisakah saya memohon bantuan ibu?”
“Tentu saja. Apa yang harus kubantu?”
“Sudilah Ibu ikut saya ke kamar sebentar,
Marina sama sekali tidak menaruh curiga. Diikutinya langkah kaki Minah sampai kamar. Mendadak Minah menutup dan mengunci pintu. Marina kaget. Di luar dugaan tiba-tiba Minah memukul kepalanya dengan vas bunga. Sontak Marina tersungkur jatuh. Tak selesai di situ, sekali lagi Minah memukul kepalanya. Kali ini Marina benar-benar tidak mampu bertahan. Tubuhnya terasa ringan sampai tak ada rasa sama sekali. Marina pingsan.
Minah tertawa sinis. Diambilnya seutas tali lalu mengikat kedua tangan dan kaki Marina. Mulut wanita tua itu dilakban. Selanjutnya Minah melakukan apa yang telah dilakukannya di rumah Gatot. Dan semuanya tidak butuh waktu lama. Dengan tatapan licik ia meninggalkan rumah Miranda dan menyetop taxi yang kebetulan melintas. Satu tas ransel dan satu tas jinjing ia bawa serta. Minah tak ada kapoknya.
Sementara itu Bimo masih bertanya-tanya dalam hati. Siapa Mas Gatot yang dimaksudkan Minah. Tadi begitu melihat dirinya, Minah langsung membelalakkan mata seolah kaget dan tak percaya. Minah seakan-akan mengenal dirinya. Mungkinkah Minah tahu seseorang yang sangat identik dengan dirinya? Apakah Minah mengenal orang yang mempunyai kemiripan dengannya? Apakah Minah bisa menjadi kunci untuk membuka rahasia? Bimo ditumbuhi harapan. Ia ingin kembali lagi ke rumah tapi jelas tak mungkin. Ia masih harus mengantar Miranda.
“Mas Bimo kok diam saja?”
“Maaf, Miranda. Ada yang kupikirkan.
“Apa itu?”
“Tentang wanita yang kita tolong semalam. Tadi dia menyebut-nyebut nama seseorang saat berkenalan denganku.
“Mungkin saja dia pernah melihat seseorang yang mirip dengan Mas Bimo.
“Itulah yang kupikirkan. Wanita itu mungkin bisa menjadi kunci bagiku untuk mengetahui siapa orangtua kandungku.
“Memangnya wanita itu mengira Mas Bimo siapa?”
“Dia menyebut-nyebut nama Mas Gatot.
“Hmmm, aku jadi penasaran. Kita pulang saja, Mas. Toh jadwalku masih jam empat sore.
“Baik, Miranda. Aku juga ingin mengorek lebih jauh si Minah itu.
Sesuai dengan perkiraan Miranda. Dirinya tidak salah menduga wanita itu ia kenal. Nama-nama yang disebutkan Bimo tidak asing di telinga. Nyata-nyata wanita yang ia tolong semalam adalah wanita yang pernah bermain dengannya di masa lalu. Miranda jadi sedikit cemas. Dan begitu sampai di rumah kecemasannya terbukti. Bimo juga terkaget-kaget mengetahui pintu rumah tidak terkunci.
“Miranda, tidakkah kamu merasa aneh?”
“Iya, Mas, jangan-jangan rumah ini…
Miranda dan Bimo saling pandang sejenak sebelum berlari-lari memasuki rumah. Berantakan. Bimo memanggil-manggil ibunya namun tak ada sahutan. Begitu juga saat memanggil nama Minah tidak ada tanggapan. Miranda berusaha membuka kamar yang ditempati Minah tapi terkunci. Kepanikan terjadi.
“Minggir, Miranda. Bimo berniat mendobrak.
“Hati-hati, Mas.
Bimo mundur jauh ke belakang. Ia kumpulkan tenaga. Berikutnya ia berlari cepat, melompat, dan menerjang pintu kamar dengan tendangan. Seketika pintu jebol.
“Bu Marina!
“Ibu! Ibu!”
Bimo tergopoh-gopoh mendekati ibunya sementara Miranda melepas tali-tali pengikat. Marina sudah sadar tapi tidak bisa bicara ataupun bergerak. Barulah ketika semua belenggu terlepas Marina megap-megap mencari udara.
“Bu Marina, apa yang terjadi?”
“Miranda, kamu tidak lihat ibuku masih kesakitan?” sentak Bimo tanpa tedeng aling-aling, tanpa melihat bahwa yang baru ia gertak adalah majikannya.
“Miranda, Bimo, maafkan Ibu ya.
“Bu Marina tidak bersalah. Jadi wanita itu yang melakukannya, Bu?”
Marina mengangguk. Miranda dan Bimo saling beradu mata. Tak disangka tapi sudah diduga. Rumah mereka kerampokan. Miranda melihat almari yang terbuka dan tahu ada beberapa buku hariannya yang raib. Miranda langsung bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.
“Dasar maling,” gumamnya pelan. Dibantunya Bimo memapah Marina. Mereka tahu ada beberapa barang yang hilang.
“Aku mau ke kantor polisi,” ujar Bimo.
“Tidak usah, Mas. Biarlah wanita itu melakukan kesenangannya,” sahut Miranda melarang Bimo melaporkan perihal perampokan itu ke polisi.

3 komentar:

  1. UPSSS..TANGGUNG MINN..
    SETIDAKNYA BUATLAH AISYAH DI EXE FULL...SUPAYA LEBIH SERU INI DUKA TAK BERTEPI..DARI AWAL AISYAH MASIH BLUM TERSENTUH..COBA DIBUAT LEBIH PANASS MIN

    BalasHapus
  2. masih slow min..coba aisyah nya di buat lebih binal pasti seru..bisa ma pak karta tukang becaknya..kalau kayak gitu pasti lebih menarik di episod2 berikutnya

    BalasHapus
  3. Mantap ada sesinya ternyata aisyah bia di expose..coba buat lebih hot lagi min aisyah dng pria lain spy alurnya semangat jng monoton trus dong..kalo ada cheating wife nya pastin seru

    BalasHapus