Jumat, 23 Maret 2018

Cassanova



Aku tidak akan pernah mengenal betul siapa dia, sebelum aku tahu siapa saja orang yang sudah disakiti olehnya.
Perkenalkan, namanya Runako, biasa dipanggil Runa. Pemuda yang punya kelebihan di sekitar wajah itu memiliki daya tarik yang sangat kuat. Saking kuatnya, sampai-sampai satu sampai dua saudara sepupu perempuannya sendiri ngantri dipacari olehnya. Benar-benar kuat sekali magnetnya. Dan untungnya dia adalah seorang laki-laki yang sangat beruntung. Dengan track record-nya, orangtuanya nyaris percaya kalau dia adalah seorang anak laki-laki yang baik. Bedanya, bagi mereka, dia adalah anak yang baik-baik. Bukan hanya sekedar tampan, seperti arti namanya.

Perkenalkan lagi. Namanya Callista. Sesuai dengan namanya, dia sangat cantik. Gadis yang punya banyak sifat baik ini punya banyak peluang untuk berteman dengan siapa saja yang dia mau. Apalagi dia punya banyak kebaikan di wajahnya. Belum lagi perangainya yang selalu tersenyum. Perangai yang terkenal tidak pernah mau terlihat sedih atau kesal oleh teman-teman di sekitarnya.
Perangai yang menyenangkan, bukan? Selain itu Callista adalah seorang artist. Ehem... maksudku adalah, seorang artist dalam artian bule. Yaitu seorang seniman. Dia adalah seorang perempuan yang gigih melakukan apapun dan rajin melakukan riset kecil-kecilan untuk bahan pamerannya sendiri. Kebetulan dia memang ingin menjadi seorang seniwati muda yang punya pameran tunggal di kotanya. Aku akui, atau iri lebih tepatnya, dia memang hebat.
Bagaimana tidak? Callista sama sekali tidak punya latar belakang kesenian apa-apa. Benar-benar melatih bakatnya lewat media bernama otodidak. Iya. O-T-O-D-I-D-A-K. Hehehe... aku ingin menekankan kata itu agar dia terkesan istimewa.
Selain Callista, aku juga ingin memperkenalkan seseorang bernama Nuria yang artinya adalah Cahaya Tuhan. Nama yang bagus dan dahsyat bukan? Percaya sajalah. Dia memang seseorang yang dahsyat. Dia adalah seorang perempuan yang berani menunjukkan pada dunia siapa dirinya. Bagaimana ambisiusnya dia. Bagaimana cantiknya dia. Dahsyat! Sampai-sampai ketika dia tahu ada seseorang yang meng-'gali'-nya agar bisa kenal dan lebih dekat dengannya dengan harapan menjadi seorang pacar, dia berani datang langsung ke rumah si secret admirer tadi untuk menanyakan secara langsung tentang kebenarannya. Hehehe... Dahsyat, ya?

***

Suatu kala Runa berkata padaku, "Hei... aku punya cerita bagus tentang seseorang. Namanya Callista. Mau aku kenalkan?"
"Mau. Anak mana? Kamu mau bawa dia ke hamparanku? Terima kasih... aku akan sangat senang sekali, Runa..." kataku.
"Seseorang yang sudah lama aku kenal. Seseorang yang aku tahu dia akan selalu ada untukku sampai kapan pun. Seseorang yang... Sudah, ah! Nanti juga kamu tahu sendiri!" jawabnya penuh tanda tanya. Seolah-olah akan memberiku sebuah kejutan.
"Oke, aku akan menunggu!" kataku, lalu kutinggalkan dia dengan wajah tersenyum.
Aku tahu benar dia sedang jatuh cinta. Aku cukup kenal banyak sikap laki-laki yang sedang jatuh cinta. Aku tidak mengatakan yang sebenarnya kepadanya bahwa aku cemburu. Melihat teman laki-lakiku jatuh cinta secara tiba-tiba. Bagaimana tidak? Dia satu-satunya teman dekat yang aku punya saat itu.

***

"Iya, aku tahu kamu sedang buru-buru, Runa. Tapi tidak cukup butakah kamu memperkenalkanku yang sedang berpakaian compang-camping bau bantal ini ke hadapan permaisurimu, heh?" tanyaku pada Runa, yang pagi-pagi benar mendadak menjemputku tanpa pemberitahuan di hari sebelumnya.
"Sudah ah... buat apa tanya-tanya begitu kalau kamu sendiri yang pamit sama Mama-Papa kamu untuk pergi main sama aku?" jawabnya cepat dan lagi-lagi tersenyum.
Aku diam sebentar. Memikirkan apakah jawabannya cukup masuk akal buatku. Ternyata memang masuk akal. Tapi tidak kujawab pertanyaannya itu. Aku hanya manggut-manggut saja. Jujur, semakin cemburu aku kepadanya.
"Perkenalkan... wahai kalian berdua..." kata Runa membuka perkenalan di pagi buta itu.
"Hei, aku teman Runa," ujarku, menyodorkan telapak tangan kanan.
"Iya, aku Callista. Sudah sarapan?" tanyanya aneh, tapi manis untuk seorang yang baru berkenalan.
"Terima kasih sudah menanyakan. Tapi sayang sekali belum. Runa memaksaku ikut dengannya saat aku masih terlelap di tidur. Kamu benar-benar spesial buatnya," ulasku cepat, dan membalas tersenyum.
Tidak ada jawaban atas pertanyaan yang bermisi tertentu itu padanya. Namun satu hal yang tidak bisa aku lupakan darinya. Callista selalu tersenyum. Ceria.

***

Beberapa tahun kemudian, aku berangkat ke Jakarta untuk bekerja di sana. Aku tidak terlalu mengingatnya dengan betul. Maksudku Runa. Seorang teman dekat yang sedikit banyak, astaga! Kucintai diam-diam dan cidaha (cinta dalam hati).
Oya, aku lupa dan belum cerita. Aku dan Runa sebelumnya tidak hanya sekedar menjalani hubungan pertemanan biasa saja. Tepat saat lima tahun hari jadinya dengan si Callista, diam-diam dia lupa. Walaupun sebenarnya aku tahu, aku hanya diam saja. Sengaja untuk tidak mengingatkan.
Aku ingat, hari itu dia sedang kesal-kesalnya bercerita tentang seseorang bernama Nuria kepadaku. Dia bilang hari itu, dia hanya ingin berdua saja denganku, karena dia memergoki dengan mata kepalanya sendiri: seseorang bernama Nuria, telah menyakiti hatinya!
Nuria menggandeng laki-laki lain di hadapan Runa. Ternyata diam-diam, Runa sudah resmi pacaran dengan seseorang bernama Nuria yang konon belum aku kenal sebelumnya. Dasar bego! Dia muntahkan semua cerita itu di hadapanku yang sudah terlalu dekat dengan si Callista.
Aku langsung tegang. Dan sontak kaget. Padahal aku tahu betul bagaimana Callista. Gadis itu sudah menyerahkan segala-galanya untuk Runa, Callista juga merupakan orang yang benar-benar setia. Bahkan tetap mengabdi pada seorang pemuda bernama Runa. Seorang laki-laki yang aku tahu betul bahwa dia tidaklah setampan dan sebaik namanya.
Hari itu aku sedikit marah dan kesal pada Runa. Tapi aku pendam. Aku biarkan saja. Aku pikir, selama dia tidak menyakiti hatiku, aku akan biarkan dia menjelajah dan bergerilya menjadi seorang Cassanova muda.
"Sudah, ah. Aku bosan sama cerita kamu yang itu-itu saja, Runa!" seruku, memotong kalimat tidak pentingnya tentang seseorang bernama Nuria. Jujur saja, sekalipun aku sayang dan jatuh cinta padanya, pada saat aku mengenal betul siapa dan bagaimana Callista yang sebenarnya... aku juga mulai jatuh cinta; pada kepribadiannya yang menawan itu.
Bagaimana tidak? Callista rela menerima kembali cinta Runa ketika banyak perempuan yang membenci tingkah dan kelakuan Runa setelah tiga tahun berturut-turut. Menyaksikan kisah ini, aku... seperti hamba sahaja yang dimabuk asmara.
Dan memang aku dimabuk asmara oleh Runa. Setelah Runa memberikan kado terindah untukku di hari ulang tahun Nuria. Aku tidak tahu kenapa aku tega melakukannya. Tapi pada suatu hari, Nuria diperkenalkan padaku oleh Runa dalam sebuah acara ulang tahun. Namun sebagai seorang mantan kekasih.
Aku melihat mereka berpelukan sambil menangis. Dan kemudian, aku yang tidak tahu apa-apa, digandeng dan kemudian diajak pergi oleh Runa yang usai melepaskan pelukannya dengan Nuria dengan sedikit terpaksa. Aku juga sedikit menangis. Aku merasakan bagaimana perasaan Runa. Dan kemudian, Runa memandangku. Ia menengokkan wajahku ke hadapannya dengan sepasang tangannya yang kekar, dan mengatakan padaku tegas.
"Hapus airmatamu yang meleleh itu. Aku tahu perasaan yang menunggumu. Aku tahu ini, Sonya," bisiknya, kemudian mencium bibirku yang bergetar oleh tangis.
Aku ingin menolak, tapi dorongan dari dalam tidak dapat berbohong. Aku balas melumat bibirnya dan tanganku meraih pundaknya, sedang tangan Runa sendiri mulai meraba-raba pahaku dari dalam rokku yang makin terangkat hingga terlihat jelas celana dalam dan selangkanganku.
"Sonya sayang, aku ingin membuat kamu jadi milikku seutuhnya. Kamu mau kan?" bisiknya lagi, memandang mataku.
"Tentu saja, Runa... aku mau." jawabku mesra dengan nafas mulai memburu.
"Sayang... aku akan membuat kamu untuk tidak melupakan hubungan kita dan aku mau kamu menjadi wanita pertama yang merasakan kenikmatan dariku, mau kan?" katanya lagi dengan suara lembut setengah berbisik.
Aku mengangguk manja.
Sambil berbaring bersisian, ia mengecup bibirku yang sensual sambil membuka habis bajuku. Tangannya yang cukup berpengalaman segera melepas BH-ku yang berwarna pink, hingga terlihatlah dua bukit susuku yang besar dan halus. Hal ini membuat kejantanan Runa cepat menjadi tegang.
"Wow... bagaimana kamu bisa punya yang seperti ini?" tanyanya sambil mengagumi bulatan payudaraku yang putih, besar, dan montok; sekaligus juga memandangi putingnya yang mungil lancip berwarna merah. Sejenak Runa memandanginya sambil perlahan-lahan tangannya menjamah untuk membelai serta mengusap-usap putingku yang kecil menggemaskan.
Kususupkan kepalaku di dadanya yang juga sudah telanjang. "Honey.. jangan dilihat terus... aku kan malu!" kataku perlahan dengan nada manja.
Ia tertawa perlahan sambil memelukku dengan mesra. "Malu sama siapa? Sama aku ya?" jawabnya tersenyum geli melihat kelakuanku.
"Iya, kamu laki-laki pertama yang melihat aku tanpa BH." kataku lagi.
Runa mengecup lagi keningku, lalu turun ke mataku yang indah, hidungku yang bangir, dan terus turun hingga ke sudut bibirku yang sensual, merah merekah indah disertai desahan-desahan kecilku yang terdengar olehnya. Di sana Runa mempermainkan lidahnya dengan disertai sedikit gigitan-gigitan lembut.
”Ahhh...” aku menggelinjang, dan dengan tidak sabar balas mengecup bibirnya buas, sementara tanganku mulai mengusap kepalanya.
Runa pun tak tinggal diam. Dengan segera tangannya turun ke arah susuku yang menjadi kegemarannya bermain, ia meraba dan memutar-mutar putingnya yang mungil. Membuatku jadi mengerang nikmat karenanya.
Tangannya terus turun, menyibak rok miniku, dan terus berlanjut ke arah belakang tempat resletingku berada. Disana ia membukanya secara  perlahan-lahan. Aku diam saja hingga Runa bisa merasakan bahwa aku sudah pasrah dengan apa yang akan ia lakukan.Runa segera menarik rokku ke bawah dan aku membantu dengan mengangkat pinggulku untuk melepaskannya.
"Runa, peluk aku..." kataku dengan suara sendu membuyarkan segala lamunannya saat memandangi tubuh telanjangku. Kembali ia memelukku. Di balik celananya, bisa kurasakan penis panjang Runa melakukan pemberontakan dengan gila-gilaan.
Sambil menciumi bibir, leher, dan terus turun ke arah gundukan payudaraku, Runa melepas celana jeansnya. Ia mengecup kedua putingku yang merah muda berulang-ulang dengan lembut sampai benda mungil itu basah oleh air liurnya. Ia kemudian menurunkan kecupan ke arah pusarku, sebelum akhirnya bibirnya berhenti di atas lubang vaginaku yang sudah basah memerah, namun masih tertutup oleh CD.
"Sayang... aku buka ya?” kata Runa sambil mulai menarik CD-ku ke bawah melewati paha hingga lepas dari tubuhku.
Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan merintih kecil merasakan segala sentuhannya. Runa memandangiku, kini dihadapannya tergolek gadis perawan, telanjang, dengan lubang kewanitaan yang ditumbuhi bulu-bulu halus teratur rapi nan cantik. Vaginaku masih tampak sangat sempit karena memang belum pernah disentuh oleh laki-laki manapun.
Runa mengecup bibir atas benda indah itu, yang dengan serta merta mengeluarkan aroma yang khas. Aku langsung menggelinjang, keluhan panjang keluar dari mulutku yang manis begitu ia melakukan itu.
"Oohh... Honneeeyyy...!" aku sudah kehilangan kata-kata untuk menyatakan kenikmatan yang baru pertama kali ini kurasakan karena umurku memang baru 17 tahun.
Runa terus menjilati belahan vaginaku sambil perlahan-lahan membuka pahaku yang sebelumnya menutup untuk menahan gejolak kenikmatan pada saat ia pertama kali mengecup pucuknya. Pahaku yang putih mulus mulai terbuka sedikit demi sedikit saat lidah Runa bermain-main dengan lembut. Klitorisku yang mungil tampak merekah merah muda saat dikecup dan digigit-gigit kecil olehnya.
Hal ini membuatku mulai menggoyangkan pantatku yang padat dan kenyal dengan lebih gila. Kedua tanganku mencekal rambut Runa, menekankannya ke arah vaginaku sambil berteriak kecil menahan kenikmatan. Bibir, hidung, serta lidah Runa jadi basah semua oleh cairan vaginaku. Aku baru mengendurkan cengkeraman saat telah mencapai orgasme. Runa tampak menjilat dan menelan habis semua cairanku yang menetes keluar.
"Honey… sini, peluk aku." rintihku sendu.
Runa bangun dan memelukku dengan lembut. Kulihat di mulut dan hidungnya masih tercecer cairan bening milikku. "Cup.. cup.. cup.." segera aku mengecupnya, kujilati  sisa-sisa cairan yang masih ada di wajah Runa dengan penuh nafsu. Ia membalas dengan menyentuh dan mengusap-usap susuku yang putih montok, putingnya yang kecil merah ia pilin-pilin ringan.
"Honey..." desahku lembut.
"Apa, Sonya sayang?" jawabnya berbisik.
"Kamu sayang sama aku kan?" kataku lagi sambil memandang serta membelai pipinya, menyentuh bibir Runa dengan jari-jariku.
"Tentu saja... ada apa? Kok nanyanya gitu, masih ragu sama cintaku?" balasnya lembut dengan tangan tetap nakal bermain-main di atas puting susuku yang menggairahkan.
"Bukan... soalnya aku belum pernah begini," kataku lagi sambil melirik ke arah matanya.
Runa balas memandang sambil tersenyum.
"Jangan dilihatin begitu dong... aku kan malu," aku merajuk dan lekas menyusupkan wajah ke lehernya, kakiku yang indah kubelitkan ke pinggangnya seperti memeluk guling.
Saat itulah aku tersentak saat perutku menyentuh sesuatu yang menegang di antara celah pahanya. Secara refleks aku mencoba untuk merenggangkan tubuh, tapi dengan sigap Runa menahan dengan melingkarkan tangan di pinggangku sambil berbisik, "Jangan dilepas, Sayang... biarkan nempel. Aku ingin kamu merasakan milik laki-laki yang menyayangimu, menyentuh kulitmu." katanya dengan nada pasti.
Aku terhenyak dan tegang untuk sesaat, tapi dengan sabar Runa mencium keningku dan berkata menenangkan, "Kamu belum pernah melihat yang namanya penis laki-laki dewasa dalam keadaan tegang kan?" tanyanya sambil menatap pasti ke arah mataku yang indah.
Aku jadi bingung harus menjawab apa. Selain rasa takut, juga ada rasa penasaran dalam diriku. Sesaat aku terdiam, sebelum Runa dengan lembut menatapku, berusaha membujukku dengan segala cintanya. Akhirnya dengan sikap pasrah aku mengangguk pelan. Kami pun melepaskan pelukan, dan dengan perlahan-lahan kutundukkan kepala untuk melihat ke arah bawah, menatap tanpa berkedip pada benda coklat panjang di pangkal paha Runa.
"Ooohhh..." teriakku kecil, begitu kaget. Serta merta aku memeluk leher Runa untuk menyembunyikan mukaku.
Runa tampak ingin tertawa melihat sikapku yang lugu itu. "Kenapa, Sayang? Lihat saja, indah kan?" katanya menggoda.
"Nggak mau... aku malu!" jawabku tanpa melepaskan pelukan, namun perlahan tapi pasti nafasku mulai agak sedikit memburu membayangkan kejantanan Runa.
Dengan sigap ia memeluk pinggangku, kembali mendekatkan tubuh telanjang kami berdua. Akibatnya, batang penis Runa yang masih tegang itu kembali menempel di antara vaginaku yang licin dan basah. Aku tentu kaget dan berusaha melepaskan, tetapi Runa menahan pinggangku. Merasa percuma untuk melawan, akupun diam. Bahkan perlahan-lahan ketegangan tubuhku mengendur, hanya nafasku yang terdengar semakin terengah-engah.
"Honey... aahh... geli..." desahku lirih.
Pelukan Runa di pinggangku mengendur. Sambil menatap mataku yang agak redup, ia berbisik, "Sonya sayang... ini bagian dari perasaan cinta dan kasih sayang. Ayo lihatlah..." Ia mengambil tangan kiriku dan mengarahkan menuju ke batang kemaluannya yang masih tegang.
Aku mengikuti gerakan tangan itu sambil pelan-pelan menundukkan kepala. Runa mengusapkan tanganku ke arah batang penisnya, yang segera kugenggam dengan lembut dan mesra. Bisa kurasakan nafas Runa jadi sedikit  memburu akibat perbuatanku, rupanya ia mulai merasa nikmat.
Dengan sabar Runa mengajariku bagaimana cara memainkan penis. Sesuai instruksinya, mulai kuurut benda itu dengan sangat lembut. Kukocok penis Runa secara pelan dan berirama. Sementara tangan Runa sendiri kembali menyentuh vaginaku dan mulai mengelus bibir hangatnya dengan penuh rasa cinta.
Untuk beberapa saat kami terus saling merangsang seperti itu, sampai akhirnya Runa memelukku dan berbisik lirih, "Sonya sayang, aku ingin kamu merasakan kenikmatan cinta yang sesungguhnya... kamu mau kan?" ia berkata sambil menatap wajahku yang terlihat pasrah dan cantik.
"Tentu, Honey... semua akan aku berikan untukmu," jawabku lembut setengah tersenyum.
Dengan sabar dan lembut, tanpa melepaskan pandangan ke arah mataku yang mulai setengah terpejam, Runa mulai merenggangkan kedua pahaku. Ia kemudian mengarahkan penisnya yang sudah menegang dari tadi ke atas vaginaku. Lalu dengan lembut mengusap-usapkan ujungnya yang tumpul ke rekahan vaginaku sambil mengecup bibirku lembut.
”Tahan ya, aku masukkan sekarang.” bisik Runa mesra. Tangannya yang menganggur kembali menjamah bulatan payudaraku dan meremas-remasnya lembut. Di bawah, kurasakan ia mulai mendorong batang penisnya secara perlahan-lahan.
"Ahhh... pelan-pelan... perih..." jeritku kecil saat kemaluan Runa masuk kira-kira setengahnya ke dalam liang vaginaku.
Runa yang tersentak kaget, langsung berhenti bergerak. "Maaf, Sayang.. sedikit lagi... atau dicabut saja?" tanyanya sabar penuh rasa cinta.
Aku menggeleng. "Jangan... pelan-pelan saja," jawabku lirih.
Runa mengangguk. ”Tahan sebentar ya,” bisiknya mesra sambil meneruskan penetrasi.
Aku kembali mengeluh lirih, "Honey... aaah... sakit!" Nafasku memburu, terasa liang vaginaku menahan batang penis Runa. Seperti ada batas yang menghalangiku. Aku tahu, itu adalah selaput daraku.
Runa terlihat bingung untuk sejenak, antara meneruskan aksinya atau menghentikannya. Ia nampak tidak tega melihatku yang merintih kesakitan. Sambil berusaha mengatur nafas, ia diam beberapa saat sambil memandang tubuhku.
"Gimana, Sayang... diteruskan?" Runa berbisik lirih.
Aku mengangguk. Dengan menahan nafas kubiarkan ia melanjutkan tusukannya. Kugigit bibirku sambil menutup mata saat batang penis Runa melesak masuk merobek selaput daraku. Rasanya sungguh sakit tak terkira. Tapi aku mencoba untuk terus bertahan. Penis Runa terus meluncur masuk menggesek kuat dinding-dinding vaginaku yang sangat sensitif, dan baru berhenti saat menabrak mulut rahimku.
”Ahhh...” kami melenguh secara bersamaan.
Runa tersenyum, sementara aku meringis menahan nyeri. ”Kamu sudah nggak perawan,” kata Runa mencoba bercanda.
”Nggak apa kalau kamu yang mengambilnya,” balasku mencoba untuk ikut tersenyum.
Runa selanjutnya mulai bergerak menghentakkan pinggulnya, menyetubuhiku. Rasanya sungguh sakit, namun itu hanya awal-awal saja. Setelah aku mulai terbiasa, dan lubang vaginaku mulai bisa menerima kehadiran batang penis Runa, kamipun mulai saling melenguh dan merintih mencari kenikmatan. Tetesan darahku mengalir pelan membasahi sprei, bercampur dengan cairan vaginaku yang semakin banyak keluar seiring batang penis Runa yang bergerak keluar masuk semakin cepat.
Dalam waktu yang tidak begitu lama, Runa tampak mulai tak tahan. Jepitan dan kedutan lorong vaginaku yang masih sempit dan legit, membuat nafas Runa jadi tidak karuan lagi iramanya. "Honey... oohh... terus... sssh..." erangannya juga terdengar semakin keras.
Ia memeluk tubuhku dengan erat saat penisnya berdenyut-denyut semakin cepat. Gerakan otot vaginaku yang menghisap batang penisnya membuat Runa mengalami orgasme hebat.  Spermanya yang kental menyemprot keras di dalam liang vaginaku. Kuterima segala sentuhannya itu dengan memagut dan mengecup bibirnya lembut.
Beberapa saat, kami berpelukan seolah-olah tidak akan melepaskan satu sama lain. Peluh kami berdua mengalir membasahi hampir di seluruh tubuh; mulai dari punggung, leher, dada, hingga perut.
"Sayang, buka dong matanya." kata Runa lembut sambil mengelus pipiku.
Kubuka mata bulatku yang masih berkaca-kaca, campuran antara rasa sakit dan nikmat setelah bersetubuh dengannya. Dua butir air mata tampak mengalir dari sudutnya yang tipis. "Honey, kamu sayang sama aku kan?" kataku dengan suara teredam.
"Tentu saja... aku sayang sama kamu, Sonya." jawabnya dengan memeluk dan mengecup keningku.
Maka begitulah, hari-hari setelahnya merupakan sebuah happy ending untukku. Yang sama sekali tidak aku rencanakan. Kami makin mesra dan lengket, dan aku bahagia. Sangat bahagia.
Tapi saat ini, itu semua hanya masa lalu. Sekarang aku punya seseorang yang nyata untukku. Dengan berbekal pengalaman masa lalu, maka aku tahu siapa yang layak berdampingan denganku sampai menutup mata! Hm, kukira kamu pun mendamba pendamping yang baik dengan segunung cinta sejati, bukan?
Aku putus dengan Runa. Kabarnya setelah itu, ia mencoba mendekati lagi Callista dan Nuria. Tapi ditampik oleh keduanya.
Callista akhirnya berhasil berhubungan baik denganku, setelah tahu bagaimana Runa yang sebenarnya. Dia juga sudah bekerja di sebuah perusahaan ternama di kota kami, dan menikah dengan sahabat masa kecilnya yang rajin menghiburnya di saat Runa meninggalkannya.
Sedangkan Nuria menikah dengan calon pilihan Ibunya. Pengusaha real estate ternama di Bali. Dan kemarin berhasil ngobrol panjang lebar denganku melalui telepon, sekedar menyapa dan memberitahukan kabar gembira bahwa saat ini dia sudah dikaruniai dua orang anak yang cantik-cantik dan lucu-lucu.
Aku sadar. Aku bukan siapa-siapa. Kalau saja aku tahu dengan benar siapa Runa yang sebenarnya, tentu aku tidak akan mudah melepaskan perawanku. Satu hal yang aku sesali sampai saat ini. Tapi darinya, aku belajar dengan baik tentang semua hal. Tentang seseorang yang sama sekali tidak peduli terhadap perasaan seseorang yang tulus mencintai. Tentang bagaimana seharusnya menghargai seseorang yang tulus. Adalah sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dilakukan, tetapi tidak dilakukan olehnya. Hingga akhirnya merugikan dirinya sendiri.
Runa meninggal di sebuah rumah sakit setelah didiagnosis terjangkit virus HIV. Dan hari ini adalah tepat seratus hari kematiannya.
Goodbye, Dearest. My Cassanova...?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar