Selasa, 13 Maret 2018

Duka Tak Bertepi 10



Hidup adalah roda. Tidak selamanya berjalan di atas aspal yang mulus, tetapi juga harus melalui jalanan berupa kerikil tajam. Roda yang hebat sanggup menempuh semua jenis dan kondisi jalan. Roda yang rapuh akan berhenti di jalanan yang rusak. Filosofi hidup yang dianut Miranda. Roda kehidupan tidak boleh terhenti walaupun harus berputar tertatih-tatih. Dunia keartisan mulai menjemukan. Ia ingin mencoba dunia lain yang tidak jauh-jauh dari profesi utama. Ia ingin terjun sebagai produser dan sutradara.
“Kamu serius dengan pilihanmu, Miranda?”
“Begitulah, Mbak Fira, aku ingin mengurangi jadwal dan lebih banyak berperan di belakang layar.

“Kamu masih punya kontrak dengan kami selama setahun. Tapi jika memang kamu berniat begitu, kami membuka kesempatan.
“Terima kasih. Aku sangat senang andai bisa bergabung dengan rumah produksi Mbak Fira.
“Welcome, Miranda, sejak awal kamu adalah bagian dari kami.
“Aku punya cita-cita mengorbitkan artis baru, Mbak. Banyak bakat-bakat di daerah yang tak tersentuh oleh kita.
“Itu hakmu, Miranda. Jangan cuma mengorbitkan artis baru. Carilah kekasih baru. seloroh Fira.
Miranda hanya tertawa kecil. Mencari kekasih baru tidak semudah membalik telapak tangan. Pengalaman adalah guru paling berharga. Bagi Miranda soal cinta sudah tidak penting lagi. Ia punya banyak memori yang bisa dijadikan pelajaran. Diakuinya akhir-akhir ini Bimo semakin sering bergentayangan merasuki pikiran. Tapi terlalu dini untuk memilih Bimo sebagai pengganti Ivan. Dirinya adalah selebriti. Berita apapun tentang dirinya akan terus dicari. Akan sangat menggegerkan jika sampai ada berita Miranda menjalin cinta dengan sopir pribadinya. Lagipula ia tahu Bimo masih dibayangi oleh Ramona.
Baru saja Miranda hendak melangkah namun tertahan oleh dering handphone. “Hallo, selamat siang. dia menyapa.
“Selamat siang, Miranda. Ataukah aku harus memanggil Murti?”
“Siapa ini?”
“Pastinya kamu bisa menebak siapa aku, Mbak Murti,
“Lalu apa maumu?”
“Aku mau lima ratus juta sebagai jaminan aku tidak membuka rahasiamu.
Kurang ajar. Miranda segera mematikan handphone dan menggeram kesal. Giginya gemeretak saling beradu. Mulai ada ancaman. Ada seseorang yang berniat memerasnya. Dan ia tahu siapa orang itu. Belum hilang kekesalannya, tiba-tiba ia melihat Bimo tergesa-gesa mendekat. Padahal tidak pernah Bimo menemuinya di lokasi kerja. Bimo selalu menunggu di mobil. Pasti ada hal penting yang memaksa Bimo melanggar kebiasaan.
“Ada apa, Mas?”
“Miranda, barusan ada yang menelpon diriku.
“Siapa?”
“Dia tidak menyebutkan nama. Tapi dia menawarkan sesuatu padaku,
“Apa yang dia tawarkan, Mas?”
“Dia menawarkan diri untuk mengantarku ke suatu tempat. Dia meminta dua ratus juta untuk mempertemukan aku dengan orang yang mirip denganku.
“Aku tahu siapa yang coba memeras kita, Mas. Jangan turuti keinInan wanita gila itu.
“Miranda, kamu tahu siapa dia?”
“Tentu saja. Ada rahasia yang belum kuceritakan pada siapapun, Mas. Tapi dia tahu rahasiaku. Dia adalah Minah.
“Kamu yakin Minah yang memeras kita?”
“Tentu saja. Dia mencuri semua buku harianku. Dia juga mencuri berkas-berkas milik ibu Mas Bimo. Minah punya senjata untuk menjatuhkan kita.
“Kurang ajar. Harusnya kita tidak menolong dia malam itu, Miranda.
“Intinya, kita harus temukan dia, Mas.
Minah memang harus ditemukan. Tapi bukan perkara mudah menemukan ular betina yang mulai menebarkan bisa. Minah adalah ular yang paling lihai dan licin. Ia tahu harus bagaimana dan mesti di mana menyembunyikan diri. Minah punya seribu satu rencana. Korban-korbannya sudah ditentukan. Bahkan sejak mengalami perkosaan di malam itu, ia tidak takut lagi bertarung di belantara kota. Dianggapnya perkosaan adalah hal biasa. Sama seperti yang dulu kerap dilakoninya di kompleks. Sejak menjanda dirinya butuh uang. Tak ada yang bisa dijual selain tubuhnya sendiri. Ia masih muda, masih segar, masih mampu menarik mata kaum lelaki.
“Mas, bisa numpang mobilnya?”
“Bisa, Mbak. Silahkan masuk.
Minah masuk ke dalam sebuah mobil warna merah yang langsung membawanya pergi. Pengemudi mobil diam-diam mengamati wanita muda yang duduk sembarangan di sampingnya. Minah sengaja duduk sembarangan agar kemolekan tubuhnya bisa dipertontonkan. Lelaki mana yang tahan melihat sesuatu yang begitu menggiurkan.
“Siapa nama, Mbak?”
“Namaku Ina. Mas bisa panggil saya Iin.
“Namaku Angga. Mbak Iin mau ke mana?”
“Tidak tahu, Mas.
Si pengemudi bernama Angga manggut-manggut. Angga tahu kemana harus membawa Ina alias Minah. Ina bukan lagi wanita desa yang lusuh dan dekil. Ina menjelma menjadi wanita kota yang seksi. Rambut panjangnya diikat ekor kuda. Wajah manisnya dibumbui make up tipis. Penampilan yang dulu dekil sudah hilang, berganti dengan kejelitaan yang bisa membuat lelaki manapun tergoda.
“Mbak Ina tidak punya tempat tinggal tetap?”
“Tidak, Mas. Saya selama ini tinggal di kos-kosan.
“Saya ada rumah kosong. Jika Mbak Ina mau, Mbak bisa tinggal di situ. Gratis, Mbak. tawar Angga.
“Waah.. terima kasih ya. Mas Angga baik sekali.
Tidak ada yang gratis di gemerlap kota metropolis. Ina sadar Angga ada maunya. Lelaki yang belum genap setengah jam dikenalnya ini punya niat tersembunyi. Ada udang di balik batu. Sepintas saja Ina bisa membaca dan menilai seperti apa lelaki tampan bernama Angga ini. Tampan, kaya, dan pastinya mapan. Jenis pria incarannya. Sekarang saja dirinya berada di dalam mobil mewah bermerk eropa yang harganya pasti ratusan juta rupiah.
“Nah, ini rumah yang akan Mbak Ina tempati.
“Ya Tuhan, besar dan bagus sekali, Mas. Dengan siapa saya akan tinggal di sini?”
“Sendirian. Tapi Mbak Ina tidak perlu kuatir. Aku akan kemari setiap hari.
“Saya benar-benar berterima kasih, Mas. Saya tidak tahu harus membalas kebaikan Mas Angga dengan apa. Saya tidak punya apa-apa, Mas.
“Mungkin kamu bisa membayarnya dengan ini,”
“Aaakhh…” Ina mendesah pelan ketika merasakan sebuah pelukan dari belakang dengan lembut membekap dirinya. Lalu Angga mulai menciumi pipi dan lehernya.
“Kamu cantik sekali, mbak…” bisik Angga di telinga Ina.
Kecupan demi kecupan lembut mendarat di pipi, telinga dan leher perempuan  cantik tersebut. Sementara itu sebuah remasan pelan bergiliran mulai menyerang kedua payudara Ina. Perempuan cantik itu hanya bisa memejamkan mata dan membiarkan dirinya sepenuhnya larut ke dalam rangsangan yang diberikan Angga. Beberapa kali Ina merasakan sesuatu yang keras di selangkangan laki-laki muda itu menggesek-gesek celah pantatnya.
“Oohh… Mas!!” Ina kembali mendesah lirih. Ia terlihat sudah sepenuhnya menikmati rangsangan yang diberikan oleh Angga.
“Suka?” tanya Angga di sela-sela ciuman dan jilatan lidahnya.
“Iya, Mas! Oooohh…” Ina hanya bisa mendesah dan terus mendesah seiring tangan Angga yang mulai nakal membuka dua kancing baju putih yang ia kenakan.
Kini tangan kanan laki-laki itu dapat menyentuh branya secara langsung. Dengan berlahan Angga mulai melakukan remasan-remasan pelan di payudara kanan Ina. Rasa nikmat pun semakin mendera sekujur tubuh Ina.
Ini bukan yang pertama, kan?” bisik Angga di telinga Ina ketika melihat perempuan itu nampak sedikit kikuk.
Ina hanya mengangguk pelan.
“Dibawa santai saja ya? Kita pelan-pelan saja,
Kembali Ina hanya mengangguk. Dalam hati ia tersenyum gembira karena jeratnya berhasil mendapatkan mangsa.
Tak lama kemudian Angga membalikkan tubuh Ina dan kembali memeluknya erat. Laki-laki itu langsung mendaratkan sebuah ciuman dan melumat lembut bibir tipis Ina. Gadis cantik itu pun terlihat memasrahkan diri dan mencoba untuk mengimbangi. Dibiarkannya lidah Angga menari-nari di dalam mulutnya, dengan sedikit gelapan Ina mencoba mengimbangi dengan ikut menghisap rakus.
Ketika lumatan bibir keduanya mulai nampak memanas, tiba-tiba saja Angga mendorong pelan tubuh Ina sehingga perempuan cantik itu terpaksa berjalan mundur. Ketika Ina merasakan belakang kakinya menyentuh ujung ranjang, Angga mendorong tubuh perempuan cantik itu agak keras sehingga membuat Ina terjerembab jatuh ke atas ranjang.
Laki-laki muda itu kemudian tersenyum. “Boleh kan aku melakukannya?” Angga bertanya.
Ina hanya berdiam diri dan membiarkan Angga memegang kendali permainan. Dengan berlahan Angga membuka dasi, kemeja, berikut dengan sepatu dan kaos kaki yang ia kenakan. Kesemua pakaian itu kini telah teronggok di lantai ketika Angga mulai merangkak naik ke atas ranjang dan menindih tubuh montok Ina.
Angga mengecup bibir Ina lembut, kemudian tersenyum kecil ke arah perempuan cantik tersebut. Seperti layaknya seorang suami kepada istrinya, dengan perlahan dielusnya kaki jenjang Ina sambil menikmati indahnya betis dan paha perempuan cantik di hadapannya. Rupanya Angga ingin menikmati permainan cinta ini dengan perlahan dan penuh kesabaran. Tangannya nakal meremas-remas kedua payudara Ina sehingga mengakibatkan perempuan cantik itu menggelinjang pelan.
“Benar-benar dada yang montok dan padat.
Ina tidak memberikan komentar atas perkataan Angga. Ia hanya tersenyum kecil sambil tetap berbaring pasrah.
“Biar aku tebak ukurannya,” Angga kemudian meremas agak kencang kedua payudara Ina. “Hmm… 34B. Betul?”
Ina menggeleng pelan, kemudian kembali tersenyum.
“Oh, salah ya? 36 kah?”
“Iya, Mas. 36A,” sahut Ina lirih.
“Wow… so sexy! Bolehkah dibuka?” Walaupun sebenarnya ia tidak perlu bertanya lagi, namun Angga seolah-olah merasa perlu untuk meminta persetujuan Ina.
Ina mengangguk. “Boleh kok, Mas.”
Dengan perlahan Angga membuka satu persatu kancing baju putih yang dikenakan Ina. Laki-laki muda itu terlihat menikmati betul perbuatannya, sedangkan Ina tetap hanya terdiam pasrah. Dia kelihatan tenang, seperti sudah sering melakukannya. Bahkan Ina terlihat tidak sabar untuk lekas disetubuhi.
Hanya beberapa menit yang diperlukan untuk Angga untuk membuat tubuh atas Ina sepenuhnya dalam keadaan telanjang. Setelah itu kembali Angga meremas-remas kedua payudara Ina. Kali ini tentunya terasa semakin nikmat, padat dan kenyal karena permukaan kulit tangannya dapat langsung menyentuh permukaan lembut bukit kembar Ina. Demikian pula dengan Ina yang juga terlihat semakin menikmati remasan tersebut.
“Semakin kenyal dan padat, benar-benar buah dada yang indah, Angga berbisik.
Wajah Ina terlihat mulai memerah, tanda kalau sudah menahan nafsu. Tubuhnya menggelinjang hebat ketika Angga memelintir kedua puting payudaranya.
“Geli, mbak?
“Aaah… iya, Mas.
Selesai berkata seperti itu, Angga langsung menundukkan kepala dan puting payudara Ina pun amblas dalam kulumannya. Rasa nikmat pun langsung mendera sekujur tubuh Ina dengan hebat. Perempuan cantik itu sampai harus memejamkan mata ketika kuluman Angga berubah menjadi sedotan dan gigitan lembut. Bercak-bercak merah mulai menghiasi permukaan payudara Ina.
“Aaahh…” Ina hanya bisa melenguh setiap kali merasakan kuluman Angga yang begitu nikmat. Sambil terus menjilat, tangan lelaki muda itu juga bergerilya turun merabai kaki jenjangnya.
Tangan Angga kini mengusap-usap di paha dan perlahan masuk ke balik rok merah yang dikenakan Ina. Tak lama permukaan tangan Angga sudah menemukan permukaan celana dalam Ina yang berbahan katun lembut. Kain tipis itu sudah terasa basah dan lembab. Laki-laki muda itu tersenyum dalam hati karena merasa berhasil memancing gairah si perempuan cantik.
“Aaakhh…” Ina berteriak kecil ketika Angga menghujamkan jari tengah ke dalam lubang vaginanya.
“Kenapa, Mbak? Sakit?”
“Iya, Mas… pelan-pelan… aakh!” Ina sedikit menggigit bibir bawahnya, pura-pura menahan sakit.
Sambil mengangguk, hujaman jari-jari Angga mulai menurun intensitasnya. Gairah Ina jadi kian meningkat akibat double serangan yang ia terima, baik di payudara maupun di lubang vaginanya. Angga terlihat begitu tenang dan begitu telaten dalam memberikan rangsangan, membuat Ina jadi terlena akan perlakuan lembutnya.
Ciuman dan jilatan Angga kini perlahan turun menjalari permukaan perut rata Ina. Sementara kedua tangan laki-laki muda itu mengincar resleting rok merah si perempuan. Begitu kaitan dan resleting tersebut terbuka, rok pendek itu pun melorot turun seiring ciuman bibir Angga yang telah sampai di kedua paha mulus Ina.
“Ughhh... Mas!” rintih Ina begitu Angga menjilati dan menciumi kedua pahanya dengan lembut, sebelum akhirnya mendarat di daerah selangkangan.
Wangi khas cairan kewanitaan seorang perempuan langsung menggoda hidung Angga. Aroma yang begitu menggairahkan itu kian tajam tercium ketika ia sedikit menggeser kain tipis penutup wilayah tersebut. Celana dalam Ina terlihat semakin basah ketika jilatan Angga berhasil merangsang cairan kewanitaannya untuk keluar semakin banyak. Pertemuan lidah Angga dengan vagina Ina menimbulkan suara-suara lirih yang begitu menggoda.
“Ooohh… Mas! G-geli…” teriak Ina lirih. Saking tidak kuatnya menahan rasa nikmat yang ditimbulkan oleh permainan lidah Angga, dia sampai menggelinjang hebat.
Namun di sisi lain, Ina juga ingin lidah Angga lebih lama lagi bermain di selangkangannya, karena itu ia kini mengangkat pantat dan membuka lebih lebar kedua kakinya. Dengan posisi seperti ini, akses lidah Angga menjadi semakin luas.
Menyadari kalau pasangannya sudah sepenuhnya siap menerima penetrasi, laki-laki muda itu segera menghentikan aksinya dan melepaskan pelindung terakhir yang menutupi tubuh Ina.
Kemaluanmu benar-benar wangi, Mbak. Aku suka sekali,” Angga merayap di atas tubuh Ina dan kembali menindih tubuh perempuan cantik itu. “Sekarang aku ingin merasakan pelayanan mulutmu. Mbak mau, kan?
Masih berada di atas tubuh telanjang Ina, Angga lalu melepaskan resleting celana dan menurunkannya sampai sebatas paha, berikut dengan celana dalamnya juga. Sebuah batang penis panjang, besar dan kokoh kini mengacung tegak di depan wajah Ina. Perempuan itu meringis, seakan-akan sudah bisa merasakan nyeri yang sangat hebat di selangkangannya walaupun batang itu belum menghujam ke dalam.
“Kenapa, Mbak? Suka dengan burungku, ya? Hahaha…” Angga memegang batang penis miliknya dan menggoyang-goyangkannya di depan Ina.
Perempuan itu hanya bisa mengangguk dan pura-pura menelan ludah.
Sekarang mbak sepong ya!”
Tanpa bisa menolak, Ina pun pasrah ketika Angga menghujamkan batang penis itu ke dalam mulut mungilnya. Dia berusaha untuk tidak tersedak karena batang Angga ternyata cukup panjang untuk mencapai dasar kerongkongannya. Bahkan ketika lelaki itu mempercepat hujaman, kerap membuat Ina menjadi sulit untuk bernapas.
“Enak kan, Mbak, kontolku?” Angga tertawa puas melihat Ina yang tampak gelagapan menerima kocokan penisnya.
Ina sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena memang saat ini mulutnya sedang sibuk. Tak lama Angga mencabut batang penisnya, lalu menggulingkan tubuh dan berbaring santai di ujung ranjang. Laki-laki itu melepas baju berikut celana panjangnya. Kini Angga pun telah sepenuhnya dalam keadaan telanjang, sama seperti Ina.
“Ayo, Mbak. Mainkan lagi lidahmu di kontolku! Angga meminta.
“Iya, Mas,”
Ina yang sudah bisa menguasai diri segera merangkak mendekat. Sedetik kemudian penis laki-laki itu pun kembali amblas ke dalam mulut mungilnya. Dengan telaten Ina mengulum dan mengocok batang kokoh tersebut, sekali waktu juga ia selingi dengan kuluman dan kocokan lembut di batang penis ketika harus jeda untuk mengambil napas.
“Enak, Mas?”
“Enak banget! Oooh…” ekspresi nikmat begitu terpancar di wajah tampan Angga saat jilatan Ina mulai menjalar di buah zakar miliknya. Dengan penuh perasaan ia  mengelus-elus rambat panjang Ina yang sedikit bergelombang dan berwarna kemerahan. Dia juga merabai pundak, punggung dan payudara perempuan cantik itu yang terlihat menggantung indah. Angga meremasnya, berusaha merasakan kelembutannya yang begitu luar biasa.
“Cukup, Mbak, cukup…” Angga meminta. Ia sepertinya tidak mau mencapai klimaks tanpa merasakan terlebih dahulu jepitan vagina perempuan cantik di hadapannya ini.
Pelan ia gulingkan tubuh sintal Ina hingga berposisi telentang, kemudian ia membuka lebar kedua paha mulus perempuan itu. Terpampanglah kembali di hadapannya sebuah pemandangan indah, sebuah vagina dari seorang perempuan muda dan cantik. Senyum kecil terkembang di bibir Angga saat tangannya mulai menyibak bulu-bulu lembut yang menutupi wilayah kewanitaan Ina.
“Aaah…” Ina mendesah kecil ketika tangan Angga menyentuh klitorisnya.
“Benar-benar memek yang indah! Pasti rasanya pun nikmat sekali…”
Angga kemudian memegang batang penisnya yang sudah menegang hebat dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih nampak sibuk merabai lubang kenikmatan Ina. Dia mengocok-ngocok pelan batang penisnya, terlihat benar-benar tak tahan untuk segera menikmati vagina basah dan merekah milik Ina.
“Sekarang aku mau merasakan jepitan memekmu, Mbak, boleh kan?”
“Boleh, Mas,” sahut Ina singkat.
Laki-laki muda itu pun mengacungkan batang penisnya di depan vagina Ina dan kemudian menggosok-gosokkan ujung kepalanya yang gundul ke permukaan lubang kenikmatan tersebut. Ina sendiri yang sedang dalam posisi bersandar di ujung ranjang sambil mengangkang lebar kini terlihat meremas kencang selimut. Ia melakukan itu karena tahu vaginanya pasti akan terasa nikmat beberapa saat lagi.
“Aaaakkhh…!!” Dan benar saja, ketika penis Angga mulai menghujam kencang ke dalam liang kewanitaannya, Ina pun berteriak hebat menahan nikmat. Dia merasa kalau dinding-dinding vaginanya menjadi terbuka lebar. Apalagi ketika Angga mulai menggenjotkan pinggul, rasa nikmat pun kian hebat menjalar ke sekujur tubuh bugilnya.
“Oooh… oohh… Mbak, nikmat banget memekmu. Aaaah…” Angga meracau. Mulutnya menempel di puting payudara Ina dan menyusu rakus di sana.
“Aaah… aahh…” Ina sendiri terlihat mendongak sambil memejamkan mata. Remasan kedua tangannya terlihat semakin kencang pada sprei ranjang saat lubang vaginanya berusaha menyesuaikan diri dengan besarnya ukuran penis Angga.
“Ooohh… aaah…!!” Sebaliknya, Angga merasakan kenikmatan yang luar biasa dari jepitan vagina Ina yang terasa begitu sempit layaknya milik perawan. “Memekmu sempit sekali, Mbak! Sebelumnya jarang dipakai, ya? Aahh…”
“Aaakkh… i-iya, Mas. Ina berbohong.
“Berapa kontol yang sudah pernah masuk?”
“D-dua, Mas… aakhh!!”
Pantas masih sempit sekali, nikmat sekali… aaah…”
Setelah lubang kenikmatannya mulai bisa menyesuaikan diri dengan besarnya penis Angga yang terus menghujam, perlahan desahan Ina berganti dengan teriakan penuh kenikmatan. Apalagi kini tidak hanya vaginanya yang menerima serangan, karena kedua payudaranya yang bulat dan montok juga secara bersamaan menerima remasan demi remasan dari kedua tangan Angga.
“Oooh… oooh… aaah….” desahan, lenguhan, dan teriakan penuh kenikmatan  semakin kencang terdengar memenuhi ruangan kamar.
Kedua insan berbeda kelamin itu terlihat begitu menikmati persetubuhan yang sedang mereka lakukan. Walau baru saja kenal tetapi sama sekali tidak menghalangi mereka untuk menikmati kehangatan. Ina nampak telentang polos di ranjang, sementara Angga menindih dari atas sambil memeluk dan menciumi bibirnya. Sambil tetap menghujam-hujamkan penis, Angga juga meremas-remas lembut payudara Ina.
Gadis cantik itu merasa semakin terbuai, ia merasa beruntung karena selain mendapatkan harta, ia juga mendapatkan beribu kenikmatan. Angga ternyata memiliki permainan yang sangat luar biasa, dan Ina sangat menikmatinya.
“Kamu suka, Mbak?”
“I-iya, Mas. Aaah…”
Angga kemudian mengangkat kedua kaki Ina sehingga pantatnya jadi sedikit terangkat. Dengan posisi ini semakin memudahkan bagi batang penis Angga untuk menghujam semakin dalam. Apalagi ketika ia menambahkan bantal sebagai penyangga di pantat Ina.
Cukup lama posisi ini mereka pertahankan sebelum akhirnya Angga menarik tubuh bugil Ina hingga bergeser ke tepi ranjang. Laki-laki itu kemudian turun dari ranjang dan mengacungkan kembali batang penisnya sambil berdiri. Kini vagina Ina digenjoti dalam keadaan berdiri. Variasi seks yang sungguh membawa sensasi yang luar biasa bagi sang gadis desa.
“Oooh… oooh… aaah….”
Bulir-bulir keringat mulai membasahi tubuh polos keduanya. Gairah yang begitu membara dari keduanya nampak meningkatkan suhu udara di dalam kamar tersebut. Ranjang tempat mereka bercinta pun kini terlihat acak-acakan dan terus berguncang hebat.
“Oooh, Mbak… nikmat sekali,
Ina tidak menjawab karena dirinya kini sedang dilanda birahi yang luar biasa. Ia merasa sebentar lagi sesuatu yang dasyat akan segera keluar. Mungkin jauh lebih dasyat dari yang pernah ia rasakan sebelumnya ketika bercinta dengan laki-laki lain.
Mas!” teriak Ina yang semakin dekat mencapai puncak.
“Dikit lagi ya, Mbak?”
“I-iya, Mas…”
“Keluarkan, Mbak, jangan ditahan! Melihat Ina yang sudah diambang klimaks, Angga kian mempercepat genjotan penisnya. Hal ini dia lakukan agar memudahkan bagi Ina untuk mencapai puncak.
“Aaakhh… aku keluar, Mas… aaakkkh…” Dengan mata terpejam, Ina mendongakkan kepala dan berteriak kencang. Tubuh sintalnya nampak menegang hebat.
Angga sendiri terlihat masih menggenjot dengan sangat cepat. Wajahnya sudah memerah menahan sesuatu yang juga akan segera meledak keluar. “Oooh… Mbak… oooh… memekmu…”
“Aaakkh…!” Ina sendiri hanya bisa berteriak karena genjotan kasar Angga mulai terasa menyakitkan.
Rintihan dan desahan terus terdengar dari mulut kedua insan tersebut, memenuhi seisi ruangan kamar. Angga berteriak penuh kenikmatan, sedangkan Ina berusaha menahan sakit akibat ganasnya kocokan penis Angga.
“Oooh….” Angga mencabut batang penisnya dan dengan cepat membalikkan tubuh Ina hingga telentang. “Sedot kontolku, Mbak!!
Ina menurut dan dengan segera bangkit dari posisinya. Dia mencaplok penis Angga yang berdiri di atas ranjang. Laki-laki itu memegangi kepala Ina dan merintih saat merasakan kalau klimaksnya akan segera tiba. Dan benar saja, beberapa detik kemudian, batang Angga telah berkedut dan menyemprotkan cairan putih kental ke dalam mulut Ina. Sampai semburannya yang terakhir, Ina menampung semua sperma Angga di dalam mulutnya dan akhirnya menelannya sampai habis. Tak lupa Ina memberikan service terakhir dengan mengulum kembali penis Angga guna membersihkan dari sisa-sisa sperma yang ada.
Angga tersenyum melihat Ina yang masih mengulum penisnya. Setelah selesai, dia berjongkok dan mencium bibir perempuan cantik itu dengan lembut. “Makasih ya, Mbak.
“Sama-sama, Mas.”
Kemudian keduanya berbaring kembali di ranjang mencoba menikmati sisa-sisa kenikmatan yang barusan mereka capai. Napas keduanya mulai teratur setelah tadi sempat terdengar memburu hebat. Mereka hanya berbaring menatap langit-langit kamar tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Beberapa saat dalam kesunyian, tiba-tiba sekilas Ina mendengar suara getaran di dalam saku celana Angga. Masih dalam keadaan telanjang, Angga mengeluarkan hapenya dari dalam sana. Wajahnya menampakkan ekspresi keterkejutan melihat nama yang tertera di layar ponsel.
Halo, Ma…”
Papa dimana, kok jam segini belum pulang juga?”
Papa masih di kantor, Ma. Banyak pekerjaan.
Oo. Ya sudah kalau begitu. Mama hanya khawatir.
“Iya, Ma, sebentar lagi Papa pulang.
Telepon pun terputus. Angga baru menyadari kalau hari sudah beranjak siang. Dengan segera ia mengumpulkan pakaiannya yang berserakan di lantai.
Mas balik sekarang?” Ina nampak duduk di pinggir ranjang.
“Iya, sudah siang. Biasanya aku pulang untuk makan di rumah. Angga mengenakan baju dan celananya.Di rumah ini Mbak Ina bisa punya apapun yang Mbak inginkan. Saya tinggal dulu ya, Mbak.
Ina bersorak dalam hati. Ia tak peduli meski sesaat sebelum pergi Angga sempat meremas bulatan payudaranya sekali lagi. Yang penting mangsa-mangsa sudah mulai terjerat. Setidaknya sudah ada tiga orang yang masuk dalam perangkap mematikan.
Demikian halnya Gatot yang merasa mustahil bisa melepaskan diri dari perangkap Aisyah. Tapi perangkap yang ditebarkan Aisyah tidaklah mematikan. Aisyah memerangkap Gatot dengan cara-cara yang harus dilakukan oleh wanita, demi melanggengkan peranan sebagai istri dan ibu.
Reihan sempat menjadi cobaan tetapi mereka mampu melewati dengan rasa kepercayaan. Aisyah lega Reihan tidak pernah lagi muncul di hadapannya. Tapi Aisyah tidak sepenuhnya lega karena Gatot masih menaruh prasangka. Sepasang suami istri yang tengah menghadapi ujian rumah tangga.
“Aku tidak melarang Mas Gatot menelepon Bu Murti.
“Jangan salah sangka, Aisyah. Aku tidak ingin menelepon siapapun.
“Jujur saja, Mas. Buat apa dari tadi Mas Gatot melototin nomor HP Bu Murti?”
“Aku cuma ingin bertanya apakah Murti ada hubungannya dengan Miranda.
“Mas Gatot masih berprasangka Miranda dan Bu Murti adalah orang yang sama?”
“Aku mengenal Murti melebihi siapapun, Aisyah.
“Besok aku libur panjang, Mas. Ada waktu lima hari yang bisa kita manfaatkan untuk berlibur ke Ibukota.
“Kamu serius, Aisyah?”
“Iya. Sekalian Galang dan Gilang pengen lihat kebun binatang.
“Tapi sebelum berlibur kita harus membesuk ayah. Bagaimana jika hari ini kita ke penjara?”
“Boleh saja, Mas. Anak-anak kita bawa juga. Biar Bapak tahu cucu kembarnya.
“Aisyah, ada yang bilang kembar itu turunan.
“Mungkin. Tapi menurun dari siapa? Lha wong Mas Gatot tidak punya silsilah kembar. Aku juga tidak punya.
Baik Gatot dan Aisyah sama-sama heran kok bisa punya anak kembar. Mereka mempercayai kembar adalah turunan. Meskipun mereka orang yang mengerti agama dan percaya takdir adalah ciptaan Yang Maha Kuasa tapi soal adat dan istiadat mereka juga percaya. Banyak bukti yang meyakinkan. Orang orang yang mempunyai garis keturunan kembar pasti jika punya anak juga kemungkinan besar akan kembar.
Masalahnya tidak ada salah satu dari mereka yang dilahirkan kembar. Gatot hanya tahu dirinya adalah anak tunggal dari ayah bernama Karso dan ibu bernama Sumiah. Pun demikian Aisyah juga satu-satunya anak Asnawi. Melihat Galang dan Gilang begitu identik satu sama lain kadang Gatot dan Aisyah bertanya-tanya. Toh mereka bersyukur dianugerahi anak kembar.
“Gendong Galang, Mas. Aku paling benci menggendong dia.
“Benci bagaimana? Ini kan anakmu. Anak kita, Aisyah.
“Tapi Galang beda dengan Gilang, Mas. Galang jahil dan usil. Kayak Bapaknya.
“Ada-ada saja kamu. Ayo berangkat,
Keluarga kecil itu pun berangkat. Ada masa libur selama lima hari yang akan mereka gunakan untuk mencari hiburan di kota besar. Sebagai PNS kecamatan, jatah libur yang diterima Aisyah tidak sebanyak ketika masih menjadi guru. Jika guru seringkali libur setelah ujian semester, lain dengan Pegawai negeri yang libur mengikuti kalender. Dan libur lima hari berturut-turut sangatlah langka.
Makanya mereka tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk mengajak Galang dan Gilang ke kebun binatang. Walaupun itu bukan tujuan utama. Ada misi lain yang harus mereka pastikan. Sebelum berangkat mereka ingin mengunjungi penjara. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tujuan. Ini adalah kunjungan yang ketiga kalinya. Gatot sudah menghapus semua kemarahan. Sekarang adalah masa untuk menyatukan ikatan yang sempat putus. Ikatan batin antara ayah dan anak.
“Assalamu’alaikum,
“Waalaikum salam. Akhirnya Bapak bisa melihat anak-anak kalian. Karso tersenyum gembira.
“Yang ini Galang, Pak. Kalau yang ini, Gilang. Aisyah memperkenalkan.
“Sangat persis sekali anak-anak ini. Bagaimana cara membedakan?”
“Bapak lihat saja leher mereka. Yang ada tahi lalatnya Galang.
“Begitu ya. Bersyukurlah kalian diberi anak kembar. Ini adalah berkahmu, Tot. Dan ini adalah kemulyaanmu, Aisyah.
“Kami sempat heran juga, Pak. Tidak terpikir sebelumnya kami akan punya anak kembar. Kita tidak punya keturunan kembar kan?”
Karso mengangguk layu. Angannya terbang melintasi masa lalu. Ada rahasia yang selama ini disimpannya rapat-rapat. Hatinya pedih mengingat masa-masa penuh kekerasan dan kebobrokan itu. Jiwanya merintih mengenang setiap detik kehidupannya di masa itu.
“Ada apa, Pak? Kenapa tiba-tiba Bapak murung?”
“Tidak ada apa-apa, Tot. Jadi kalian akan liburan ke Ibukota?” Karso mengalihkan pembicaraan.
“Iya, Pak. Makanya kami datang kemari. Sekalian pamit,
“Sesekali kalian memang harus berlibur. Gatot, apakah rumah kita masih seperti dulu?”
“Masih, Pak. Ada apa?”
“Galilah di sudut kamar almarhum ibumu. Kamu akan menemukan sesuatu di sana.
Apakah itu? Masihkah ada yang Bapak rahasiakan tentang kehidupan kita?”
“Bapak belum bisa mengungkapkan padamu, Tot.
Giliran Gatot yang mulai tidak tenang. Di saat ayah berbincang dengan Aisyah dan bercanda dengan dua cucunya, ia justru sibuk menghanyutkan diri ke dalam gelombang pikiran yang berkecamuk. Tiga puluh lima tahun usianya kini. Sejak lahir dan menghirup udara bumi ia sangat tahu luar dalam dan hitam putih kehidupan keluarganya. Tidak ada rahasia. Tidak nampak keanehan-keanehan.
Kehidupan lalu lebih banyak berisi pertengkaran, kekerasan, tangis kesedihan, pekik kemarahan, dan hal-hal yang buruk. Jika sekarang ayahnya sendiri menyiratkan adanya sebuah rahasia maka wajar jika muncul beragam praduga. Gatot jadi ingin cepat-cepat pulang. Ia ingin segera tahu apa yang terpendam di sudut kamar almarhum ibunya. Tapi Galang dan Gilang masih bermain-main dengan kakeknya. Gatot tidak tega mengajak mereka pulang.
“Sekarang hari jum’at. Kamu mau sholat jum’at di musholla penjara, Tot?”
“Tidak, Pak. Aku sholat di masjid dekat rumah saja.
“Bapakmu ini harus siap-siap, Tot. Bapak diminta menjadi Imam sholat Jum’at.
“Puji syukur, Ya Allah. Aisyah senang mendengar kabar baik itu, Pak.
“Aisyah, Bapak sudah bau tanah. Mungkin sedikit ilmu yang Bapak punya bisa mengurangi dosa.
“Allah Maha mendengar apa yang ada di hati umat-NYA. Kalau begitu kami pulang, Pak.
“Terima kasih, Tot. Terima kasih, Aisyah. Hati-hatilah selama berada di ibukota.
“Kita sama-sama saling mendoakan saja, Pak.
Gatot sedikit lega Aisyah mengajak pulang. Setelah sungkem kepada sang ayah, sesudah berbincang-bincang sebentar dengan sipir penjara, mereka bergegas pergi diiringi lantunan nada-nada suci yang berasal dari berbagai masjid. Hari jum’at. Gatot tidak pernah lagi absen menunaikan kewajibannya sebagai lelaki muslim. Gatot tidak pernah lupa mengajak Galang dan Gilang untuk belajar mengenal Sang Khalik.
“Kira-kira apa yang dimaksud Bapak ya, Mas?”
“Entahlah, Aisyah. Setelah sholat jum’at aku akan menggali kamar almarhum ibu.
“Semoga bukan hal buruk ya, Mas.
“Kita berdoa saja, Aisyah. Kamu mau ikut sholat jum’at?”
“Masa Mas Gatot lupa? Aku lagi merah, Mas.
Gatot menepuk jidat. Aisyah senyum-senyum memikat. Masjid sudah ada di depan mata. Gatot mencium kening Aisyah sebelum keluar mobil. Tangan kanannya menuntun Galang dan Gilang di tangan kiri.
Dalam kesendiriannya di dalam mobil, Aisyah merenungkan banyak hal. Tentang dirinya sendiri. Perihal sakit yang akhir-akhir ini seakan makin menjadi-jadi menggerogoti. Betapa ingin dirinya memberitahu Gatot, akan tetapi rasa takut menghalangi keinInannya. Ia sudah secara diam-diam mendatangi dokter. Hasilnya sesuai dugaan. Benjolan kecil di payudara kirinya adalah bibit kanker. Dokter mendiagnosa kanker stadium awal.
Setelah tengok kanan kiri depan belakang dan memastikan suasana aman, perlahan ia membuka kancing-kancing pakaian, lalu meraba buah dadanya, dan sedikit menekan. Rasanya benjolan itu tumbuh. Ia menggigit bibir dan merapikan lagi pakaian.
Bukan semata kanker itu yang ia pikirkan. Ada hal lain yang kerap mengusik ketenangan. Kali ini tentang Gatot. Sang suami semakin rajin mengigau di malam hari. Seakan-akan ada satu bayang masa lalu yang tidak mampu dilupakan. Ia sering mendapati Gatot tiba-tiba terbangun dengan keringat dingin dan wajah memelas. Setiap kali ditanya, Gatot menjawab cuma mimpi buruk semata. Anehnya Gatot tidak pernah menceritakan apa isi mimpi-mimpi buruk itu.
Sebagai istri, Aisyah merasa kasihan sekaligus penasaran. Ia yakin meskipun Gatot sudah menceritakan semua masa lalunya, tetap ada sebagian yang tidak diceritakan. Tetap ada yang dirahasiakan Gatot.
Miranda juga punya rahasia, tapi sekarang rahasia itu rawan terbongkar. Miranda mulai tidak tenang. Ia menyesali diri. Juga menyumpah dalam hati. Jika tahu akan seperti ini jadinya ia lebih baik membiarkan Minah tetap ada di pinggir jalan dan tidak membawanya pulang ke rumah. Andai ia tahu bahwa wanita korban perkosaan itu adalah Minah. Dirinya heran angin apa yang membawa Minah bisa sampai di kota ini.
Sepengetahuannya Minah adalah anak orang kaya. Keluarga Minah adalah salah satu yang cukup sejahtera di kompleks. Lalu kenapa tiba-tiba Minah seperti menggelandang di ibukota. Ada keinInan untuk mencari tahu informasi. Ada niatan untuk menghubungi salah satu sahabat masa lalu. Setelah berpikir dan menimbang-nimbang akhirnya ia memutuskan. Cukup lama menunggu sampai sambungan telepon terhubung. Suara halus dan kalem yang seketika membangkitkan perasaan.
“Hallo, Assalamu’alaikum.
“Waalaikum salam. Aisyah?
“Ya Allah, Bu Murti?! Bagaimana kabar Bu Murti?”
“Kabarku baik-baik saja, Aisyah. Kudengar dari Gatot hidup kalian sudah bahagia.
“Puji syukur, Bu. Kami juga berharap Bu Murti selalu bahagia.
“Mana Gatot?”
“Mas Gatot masih sholat jum’at. Maaf, Bu, bolehkah Aisyah tahu keberadaan Bu Murti saat ini?”
“Suatu saat jika aku mampu, aku akan memberitahu ada di mana diriku.
“Bu Murti tidak ingin kembali ke kompleks?”
“Siapa yang tidak ingin kembali ke tanah kelahiran? Dalam hati terdalam aku selalu ingin pulang, Aisyah. Aku merindukan semua hal.
“Kompleks sudah berubah, Bu. Margomulyo sudah menjadi kelurahan sendiri. Jujur, aku dan Mas Gatot merindukan Bu Murti.
“Aku senang mendengarnya, Aisyah. Oh ya, sebenarnya aku ingin menanyakan tentang seseorang padamu, Aisyah.
“Siapa, Bu?”
“Si Minah. Anak Pak Hartono yang rumahnya tingkat dua itu, yang di depan rumahku dulu.
“Oooh.. Pak Hartono dan istrinya sudah wafat, Bu.
“Lalu Minah?”
“Itulah, Bu. Kami semua warga kompleks sangat menyesali dan prihatin dengan nasib Minah.
“Ceritakan padaku apa yang terjadi, Aisyah.
Aisyah menceritakan apa yang ia ketahui tentang Minah. Tidak ada yang ditutupi. Tidak ada yang dikurangi atau pun ditambahi. Ia ceritakan apa adanya. Tentang Minah yang diusir oleh orangtuanya karena nekat menikahi kuli bangunan. Minah kehilangan semua hak sebagai anak Pak Hartono, Lurah pertama Margomulyo. Minah meninggalkan kompleks mengikuti suami berkelana. Barulah ketika Pak Hartono dan istrinya meninggal, Minah berani pulang. Rumah peninggalan orangtuanya dijual untuk melunasi hutang. Lalu Minah dan suaminya membeli rumah petak. Hingga sang suami meninggal di lokasi kerja. Minah menjanda. Sejak menjanda hidup Minah susah. Minah lalu bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tapi tak pernah bertahan lama karena para majikan Minah mengeluhkan kelakuannya yang genit. Aisyah juga menceritakan Minah sempat bekerja padanya. Termasuk soal pencurian itu ia ceritakan.
“Begitu ceritanya, Bu. Terakhir kali Minah bekerja di rumah kami sebelum pergi meninggalkan kompleks. Kami tidak tahu di mana sekarang dia sembunyi.
“Aku turut prihatin, Aisyah. Kudengar ada suara anak-anak?”
“Ya, ini anak-anak baru selesai jum’atan bareng Ayahnya. Bu Murti mau bicara dengan Mas Gatot?”
“Tidak usah, Aisyah. Sampaikan saja salamku. Selamat siang, Aisyah. Wassalamu’alaikum.
“Waalaikum salam, Bu Murti.
Aisyah menarik napas lalu menghembuskan perlahan sebelum memandang Gatot. Dua mata yang punya satu makna. Mereka segera pergi meninggalkan masjid.

3 komentar:

  1. wahh tambah mantap kang kanjutannya..paling senang baca cerita ini..ada bagusnya nnti aisyah dibuatkan alur khusus ketemu ma bimo yg disangkanya gatot suaminya dan mereka pun melakukan hubungan seks..

    seru ceritnya kang isamu

    BalasHapus
  2. Bagus dibuatin lebih panas adegan jilbabx min

    BalasHapus