Senin, 26 Maret 2018

Hukum Karma



Chandra terbangun, merasa tak mengingat apapun selain marasa dirinya kebingungan. Mengingat apa yang terjadi sebelumnya dalam hidupnya. Ia hanya ada di dalam sebuah rumah sakit. Tubuhnya berbayang. Dan saat itulah ia sadar, ia melihat orang lain yang mirip dengannya terbaring di ranjang yang sama. Terkejut dan bingung, ketakutan. Tak ada seorang pun di dalam ruangan selain tubuhnya sendiri. Nenek nelayan datang menjaganya. Ia berteriak tapi tak didengar. Sampai akhirnya ia sadar ia dan tubuhnya telah terpisah.
Nenek melihat ada yang aneh dengan tubuh Chandra, tangannya bergerak saat ia menyentuhnya. Lalu memanggil suster dan dokter. Dokter pun memeriksa. Chandra melihat apa yang terjadi. Tapi ia sadar, suster yang ikut memeriksa tubuhnya memperhatikannya walau mencoba mengabaikannya. Suster itu berusaha untuk mengabaikan Chandra dan berharap Chandra tidak menyadari bahwa suster itu dapat melihatnya.

“Suster, suster, kamu melihat saya? Suster!”
Suster yang umurnya sekitar 40 tahunan itu, kemudian bergegas pergi setelah meminta izin kepada dokter. Dokter memberikan izin setelah memastikan bahwa reaksi tubuh Chandra menandakan indikasi kesadaran sesaat seperti seseorang bermimpi dan mengigau.  Nenek nelayan gembira, artinya mungkin dalam waktu dekat Chandra akan terbangun, walau entah kapan itu terjadi. Chandra mengikuti suster yang ia yakini melihatnya.
Suster itu duduk di ruang santai sambil meminum segelas teh di jam istirahatnya. Chandra terus memanggil namanya tanpa menyerah dan suster yang sadar tetap mencoba tenang dan tak merespon Chandra.  Chandra yang awalnya yakin, kini mulai rapuh. Ia menyerah, meninggalkan suster itu, tak mengerti dengan apa yang harus ia lakukan. Sesekali ia mencoba cara yang menurutnya bisa membuat roh dan tubuhnya menyatu. Ia mencoba tidur disamping jasadnya agar menyatu, tetapi tak pernah bisa. Ia pun terdiam merenung dan berpikir bahwa kini ia telah menjadi ilahi yang nestapa.

***

Suster yang sama sedang bersalin pakaian untuk pulang dan tiba-tiba ia menyadari Chandra sedang melihatnya lalu ia berteriak, “Kamu jangan ngintip, keluar!”
“Saya tahu suster bisa melihat saya. Kenapa suster berpura-pura tidak sadar?”
“Jangan ganggu saya, dunia kita berbeda. Pergi!”
“Apa maksudnya dunia kita berbeda? Suster masih bisa melihat saya, hanya yang lain tidak bisa. Dunia kita sama...”
“Kamu mau apa sih? Jangan ganggu saya!“
“Saya cuma mau tahu, kenapa cuma suster yang bisa melihat saya dan kenapa yang lain tidak bisa? Dan kenapa dengan diri saya... kenapa bisa jadi seperti ini? Apakah saya sudah mati, atau bagaimana, tolong jelaskan...”
“Baiklah, saya akan jelaskan. Tapi keluar lah, biarkan saya berganti pakaian dulu.”
Chandra pun menuruti perintah suster itu dan menunggu di luar. Tubuhnya yang tak kasat mata, bisa menembus setiap dinding tanpa batas. Beberapa saat kemudian, suster itu sudah berganti pakaian. Ia hanya meminta Chandra untuk mengikutinya. Mereka duduk di sebuah kursi panjang di rumah sakit.
“Sebelum itu, berjanjilah pada saya... bahwa setelah ini, kamu nggak akan kembali mencari saya.”
“Kenapa harus seperti itu?”
“Berjanjilah atau saya tidak akan pernah mau bercerita.”
“Baiklah.”
Suster itu menghela nafas dan akhirnya ia bercerita dari awal bagaimana Chandra bisa berada disini. Semua dimulai dari hal yang sama ketika sepasang nelayan baik hati yang membawa tubuhnya yang penuh luka ke rumah sakit.  Chandra sudah berada disini sekitar 10 hari sejak kejadian itu. Ia mengalami yang disebut arwah gentayangan, jadi diantara batas kematian dan kehidupan. Tubuhnya masih hidup, tapi rohnya pergi meninggalkan tubuh karena adanya hal yang sulit dimengerti secara kedokteran.
“Lalu kenapa cuma suster yang bisa melihat saya?”
“Karena... dulu, saya mengalami hal yang sama. Sebuah kecelakaan mobil sekeluarga yang membuat saya saja yang masih hidup…”
“Lalu suster bisa kembali ke tubuh suster? Apakah saya bisa melakukan itu?”
“Saya tidak tahu.”
“Suster, tolong bantu saya. Kalau suster bisa, seharusnya saya pun bisa.”
“Apakah kamu pernah menyakiti orang lain?”
“Menyakiti...” Chandra merenung.
Suster menghela nafas. “Dalam sebuah kehidupan, menyakiti orang lain adalah benih dosa yang  ditanam  di masa lalu dan akan tumbuh di masa depan sebagai sebuah karma.”
Chandra terdiam, dia mungkin tahu apa penyebabnya.

***

Memiliki ketampanan dan sempurna sebagai pria. Karunia yang tak ada habisnya dari Tuhan untuk dikatakan. Tapi, ia tidak selalu menggunakan karunia itu dengan benar. Ia hanyalah seorang playboy. Melompat dari satu wanita ke wanita lain. Ia mungkin hanya memiliki satu kekasih yang begitu lama ia cintai, namanya Angel. Akan tetapi, seorang playboy tetaplah playboy, ia selalu memiliki waktu dan kesempatan untuk berselingkuh. Ia mungkin tidak kaya, tapi ia cukup. Secukup hidupnya untuk bergaya dan pergi clubbing walaupun ia tidak pernah mengajak kekasihnya.
Dalam sebuah perbicangan dengan wanita yang sedang ia dekati, di sebuah club malam...
“Jangan deketin gua, gua tau banget loe siapa, playboy kabel.” kata Agnes.
“Opss... gossip aja.”
“Kalau begitu, coba sini kasih liat dompet loe.”
“Waduh, Nes, gua nggak kaya. Duit di dompet nggak akan sebanyak cowok-cowok lain yang deketin loe.”
“Lalu modal loe apa?”
“Hati aja, boleh?”
“Enggak. Gua butuh dompet, coba sini kasih gua liat.”
Chandra tak berdaya, ia begitu terpesona oleh Agnes. Lalu memberikan dompetnya. “Ambil aja isinya, tapi jangan lupa hati ini sekalian.”
Agnes membuka dompet dan mengeluarkan sebuah foto. Chandra bingung. “Gua nggak butuh duit kok, gua cuma nggak butuh ada foto cewek ini di dompet loe. Duit bisa gua dapat dengan mudah, tapi kesetiaan itu sulit. So, jangan menduakan gua, playboy.” Agnes melempar dompet ke Chandra.
Chandra menghela nafas. “Kalau gua melepas foto di dompet ini, apa loe bakal terima hati gua?”
“Kita lihat saja, nggak ada yang nggak mungkin di dunia ini. Loe emang cakep dan tipe gua, tapi akan lebih menarik kalau gua tau loe... single.”
Chandra pun merenung sesaat. Ia baru saja lulus sekolah dan selalu ingat, tanpa Angel, wanita yang ada di foto itu, ia tidak akan pernah lulus sekolah. Atas segala kebaikan dan ketulusan Angel, akhirnya ia menjadikan Angel kekasihnya. Dua tahun mereka menjalani sebuah hubungan. Sisi buruk Chandra hanyalah ia yang tau, tapi disamping Angel, ia mencoba menjadi sempurna.  Mempertahankan apa yang ia sebut cinta putih dan menambahkan cinta hitam di tempat-tempat ia bisa bermain dengan kegelapan.
“Gua akan coba mencari alasan untuk mengakhiri hubungan... tapi sebelumnya, gua pengen ngerasain tubuh loe dulu. Bagaimana?”
Agnes tersenyum. ”Boleh, siapa takut?”
Dan mereka pun meluncur ke hotel terdekat. Di dalam kamar, Chandra yang sudah tak tahan segera memeluk tubuh Agnes erat-erat. Ia cium pipi gadis itu, lalu hidungnya, kemudian bibirnya ia kulum dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Agnes balas memeluknya, wajahnya disusupkan ke dada laki-laki itu.
"Gue pengen memek loe, Nes." bisik Chandra.
"Gue juga pengen kontol loe, playboy." kata Agnes sambil memeluk Chandra erat-erat.
Mereka melepaskan pelukan dan beranjak ke ranjang. Lalu berpelukan lagi, berciuman lagi, dan saling meraba satu sama lain dengan lebih bernafsu. "Loe cantik, Nes. Gua suka," bisik Chandra sambil terus menciumi dan membelai punggung gadis itu. Nafsu mereka semakin menggelora.
Agnes membaringkan dirinya saat tangan Chandra menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk. ”Aduh, nikmat sekali,” rintih Agnes dalam hati saat Chandra mengelus buah dadanya dengan lembut, dan meremasnya pelan-pelan. Ia menyingkapkan kaosnya ke atas, dia tidak memakai BH. Buah dadanya kelihatan putih dan menggunung.
Tak tahan lagi, Chandra segera menciumi dan mengulum putingnya. Ia benamkan wajahnya dalam-dalam di kedua buah dada Agnes yang mengkal dan empuk, sampai ia tidak bisa bernapas. Sementara tangannya merogoh kemaluan gadis itu yang berbulu lebat. Dengan cekatan Chandra melepas celana yang dipakai Agnes, juga celana dalam gadis itu. Ia memelorotkannya ke bawah sampai terlepas dari kaki Agnes yang jenjang. Dengan sigap Chandra juga melepas bajunya sendiri.
Penisnya yang tegang langsung meloncat keluar, tegak menantang. Agnes memandangnya dengan takjub, sebelum akhirnya menggenggamnya dengan begitu erat, untuk kemudian dikocok-kocok pelan mulai dari ujung hingga pangkalnya. Chandra bergidik, geli sekali rasanya, tapi sangat nikmat, membuatnya jadi tak sabar lagi untuk segera menyetubuhi gadis itu.
Chandra pun menaiki tubuh bugil Agnes, bertelekan pada siku dan dengkulku. Kaki Agnes ia kangkangkan lebar-lebar, lalu dibimbingnya penisnya masuk ke liang vagina gadis itu yang sudah basah merona. Chandra menggesek-gesekannya sejenak di bibir kemaluan Agnes, makin lama terasa semakin basah. Saat ia mendorong, dengan mudah kepala penisnya masuk. Didorong terus, semakin dalam, semakin hangat... dan semakin basah. Hingga akhirnya, blees! Masuk semuanya.
”Auw!” Agnes menjerit nikmat, diselingi rintihan Chandra yang menggeram puas.
Laki-laki itu mulai menaik-turunkan pinggulnya dengan teratur, menggesekkan batang kejantanannya ke dinding vagina Agnes yang membungkusnya ketat. Terasa nikmat sekali. Penisnya bagai dijepit kemaluan Agnes yang sempit dan licin. Makin cepat Chandra mencoblos, makin keras pula teriakan yang disuarakan oleh bibir mungil gadisnya.
"Aduh, nDra...  enak sekali, yang cepat... terus!" bisik Agnes sambil mendesis-desis.
Chandra makin mempercepat genjotannya. Suara kecepak-kecepok vagina basah Agnes makin menambah semangatnya. Sambil menggoyang, tak lupa ia remas dan ciumi payudara montok gadis itu.
"Chandra, gua mau sampai... terus... terus!" rintih Agnes kesetanan.
Chandra yang juga merasa sudah mau keluar, makin mempercepat ayunan tubuhnya. Pangkal penisnya terasa berdenyut-denyut, siap untuk memuntahkan semua isinya. Saat itu terjadi, Chandra membenamkannya dalam-dalam ke lorong vagina Agnes yang sempit, sampai penisnya amblas seluruhnya, lalu ia hamburkan seluruh spermanya hingga muncrat-muncrat di dalam vagina gadis itu.
Agnes menyusul tak lama kemudian, cairan mereka berbaur dan bercampur menjadi satu. Keenakan, mereka berangkulan kuat-kuat penuh kepuasan, napas mereka seakan berhenti. Saking nikmatnya, dalam beberapa detik, nyawa Chandra serasa melayang entah kemana.
Selesailah sudah. Nafsu birahinya tercurah sudah. Chandra melemas. Ia merasa lelah sekali tetapi sangat puas. Ia cabut penisnya dan berbaring di sisi Agnes. Mereka berpelukan, berusaha untuk mengatur nafas masing-masing. Tiada kata yang terucapkan, hanya ciuman dan belaian mereka yang berbicara.
”Tubuh loe nikmat sekali, Nes. Lebih nikmat daripada...” mengingatnya, membuat Chandra merencanakan sebuah perpisahan, perpisahan dengan Angel, wanita yang tak pernah berhenti berpikir dan mencintainya dengan tulus. Dua tahun mereka saling mencintai, tapi hanya dua kata meruntuhkan segalanya.
“Kita putus!” kata Chandra pada Angel yang dipenuhi dengan air mata, lalu meninggalkan wanita itu di tengah jalan pada keesokan harinya.

***

Angel, ia hanyalah mantan kekasih Chandra, mantan kekasih yang telah menghapus kenangannya dengan air mata. Angel selalu ingat, bagaimana Chandra menyakitinya. Ketika Angel benar-benar mencintainya, Chandra menghancurkan segalanya dengan memutuskan hubungan mereka begitu saja.
“Kenapa kita harus putus?”
“Gua nggak punya alasan, Ngel... mungkin kita nggak cocok. Udah dua tahun kan kita jadian dan saatnya selesai.”
“Loe tega ya? Loe nggak tahu betapa gua sayang sama loe. Tanpa alasan... cuma bilang nggak cocok? Kenapa harus sampai dua tahun... kenapa nggak disaat dari dulu.”
“Gua tuh nggak pernah cinta sama loe. Gua cuma jadian sama loe karena kasihan dan mau terima kasih karena loe udah bantuin gua lulus sekolah  dengan kasih jawaban ujian.”
“Tega ya loe?”
“Maaf, gua pergi ya...” kata Chandra meninggalkan Angel dengan air mata berlinang. Bahkan ia begitu kejam mencampakkan Angel begitu saja di jalan sendirian. Yang bisa Angel lakukan saat itu adalah hanya menangis dan menangis. Angel selalu mencari alasan untuk kembali padanya dan setiap ia mencoba sms atau telepon, Chandra tidak pernah menjawab.
Sampai akhirnya, suatu ketika saat Angel sedang berjalan di mal bersama teman-temannya yang rela membantu melewati kesedihan. Tanpa sengaja Angel melihat Chandra bersama wanita lain, bermesraan. Saat mereka saling berhadapan, dengan jelas Angel mendengar. “Siapa dia, kok liatin kayak gitu, say?” kata kekasih baru Chandra, si Agnes.
“Bukan siapa-siapa. Gua juga nggak kenal. Cuekin aja, yuk jalan.” Kata kata yang menyakitkan dari bibir Chandra.
Entah betapa bodohnya Angel, melihat pria yang begitu menghinanya, tetapi di hatinya, masih ada kata yang sulit terhapus. Bahwa  ia masih berharap... Chandra  akan kembali.

***

Mencintai dan dicintai. Itulah yang kini dirasakan Agnes bersama Chandra, pria yang lebih muda tiga tahun daripadanya. Sama halnya dengan Chandra, ia juga meninggalkan orang yang telah menjalin hubungan dengannya sekian lama. Bahkan membatalkan pertunangan di depan mata dengan Martin. Martin begitu marah, ia tak pernah mengerti alasan mengapa Agnes tega melakukan itu padanya. Sampai akhirnya, sama halnya dengan Angel, melihat sendiri bagaimana Agnes kini memiliki seorang kekasih. Martin begitu murka, ia bersumpah tidak akan pernah memaafkan pria yang telah merebut kekasihnya itu.
Dalam sebuah percakapan dengan seseorang di telepon...
“Habisin aja, kasih pelajaran dia.” perintah Martin. Dia begitu dendam pada Chandra hingga menyewa beberapa preman untuk membuat Chandra merasakan kemurkaannya.
Dan apa yang ia inginkan akhirnya benar-benar terjadi. Saat Chandra pulang dari rumah Agnes. Mobilnya dihentikan di tengah jalan, lalu ia diculik oleh orang-orang suruhan Martin. Dibawa ke sebuah tempat yang sepi bagaikan hutan. Dengan senjata api yang ada di tangan, Chandra pun tak berdaya menerima segala penderitaan dan siksaan. Ketika ia sudah seperti tak bernafas, orang-orang yang menculiknya lalu membuangnya ke sebuah sungai. Setelah mengambil semua harta bendanya.

***

Martin merasa penisnya meluncur dengan lancar memasuki kemaluan gadis itu. Terus masuk dan membenam sambil ke celah yang paling dalam. Liana  mengetatkan pahanya sementara pantatnya mulai bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tubuhnya terasa semakin memanas. Pelukannya begitu erat hingga buah dadanya yang besar menempel erat di dada Martin, menekan lembut disana. Liana tampak begitu bernafsu, nafsu yang dipendam lama dan ingin dilepaskan dalam pelukan laki-lakinya malam ini juga.
Hujan di luar terdengar semakin deras. Tapi gemuruh yang dahsyat itu tidak sedahsyat gemuruh nafsu mereka berdua. Entah sudah berapa kali batang kemaluan Martin keluar masuk di liang senggama Liana yang sempit. Entah sudah berapa kali pula Liana mengepit dan memeluknya dengan erat, dan terengah serta menggelinjang penuh nikmat.
”Hhh... ehh... geli, Sayang!” erang Liana tiap kali Martin memainkan putingnya. Tubuh gadis itu juga makin bergetar manakala Martin menekan dan menggenjot pantatnya semakin keras ke celah kemaluannya yang luar biasa nikmat. Setiap kali Martin menekan ke bawah, dibalas Liana dengan tekanan penuh ke atas.
Martin merasa kemaluan Liana menjadi semakin rapat dan licin, benda itu mencengkram kuat batang kemaluannya yang menegang kencang tak karuan. Diperhatikannya buah dada besar milik Liana yang terlihat putih menggiurkan, menyeruak di antara pelukan mereka. Buah dada itu begitu besar dan kenyal, hampir sama dengan milik Agnes yang selama ini dirindukannya. Martin pun menyergap dua gumpalan mulus itu dengan mulutnya, melahapnya, dan mengunyahnya sepuas hati. Puting susu Liana yang coklat kemerahan ia kulum dan hisap-hisap sambil digigit sedikit-sedikit.
Hanya sebentar saja, gadis itu menjerit tertahan. ”Ohh... geli, Bang!?” tubuh Liana makin menggelinjang kencang.
Martin terus mengulum. Berganti-ganti ke kiri dan ke kanan. Kemudian tangannya pun meremas-remas pangkal payudara Liana dengan gemas. Terasa begitu kenyal dan padat, juga hangat dan enak sekali rasanya.
”Ahh... aku udah nggak tahan lagi, Bang,” rintih Liana lirih, tubuhnya semakin panas dan berkeringat.
Puas dengan buah dada kenyal Liana, Martin memeluk punggung gadis itu. Sambil saling berpagut erat, ia mengayunkan lagi pantatnya di atas rekahan paha Liana yang montok. Sekarang Martin berkonsentrasi ke setiap gesekan, lipatan, dan lorong basah dari liang kemaluan gadis itu. Malam ini sungguh indah. Dengan kehadiran Liana, ia bisa melupakan Agnes sepenuhnya.
Gesekan kemaluan mereka semakin lama semakin berirama, juga semakin cepat dan dalam. Begitu nikmatnya hingga Martin tak sadar kalau hujan sudah berhenti dari tadi. Malam di luar terasa hening. Tapi di atas ranjang besar miliknya, dua tubuh saling memompa ramai sekali, berpacu dalam birahi untuk memuaskan nafsu masing-masing.
Martin makin mempercepat ayunannya. Kejantanannya naik turun menggesek lipatan-lipatan dinding kemaluan Liana yang semakin berlimpah oleh cairan. Bunyi gesekan alat kelamin mereka terdengar jelas. Semakin Martin menekan, semakin kuat pula Liana menggeolkan pantatnya agar kelentitnya lebih tersentuh pangkal kemaluan sang kekasih.
”Tekan terus, Bang... aihh!” rintihnya berkali-kali. ”Ohhh... ohhh...” lolong Liana penuh kepuasan saat melepas nikmatnya. Seluruh liang senggamanya berkedut-kedut dan sembari mengepit kuat batang penis Martin. Tubuh montoknya menggelinjang dan menegang menahan rasa enak ketika ia mengeluarkan cairan kewanitaannya.
Martin tidak menghentikan gerakan pantatnya, ia terus menekan ke kiri dan ke kanan. Dia juga mulai merasa gatal dan ingin rasa gatal itu segera tuntas. Caranya adalah dengan menekan penisnya dalam-dalam ke celah kemaluan Liana yang sudah membanjir. ”Eughh... hhh... hhh... ahh...” rintih Martin sambil menyurupkan wajahnya ke leher Liana yang jenjang. Nafasnya menderu liar disana.
Kurang dari semenit sebelum Martin menyemburkan cairan kenikmatannya, tiba-tiba hp-nya berbunyi. Masih dalam keadaan bersetubuh dengan Liana, ia pun mengangkatnya, ”Ya, halo?”
“Dia udah mati bos.” lapor suara pria di seberang sana.
“Mati? Ngapain loe matiin dia?” Martin menghentikan gerakan pinggulnya, tubuhnya spontan menegang. ”Gua cuma suruh loe kasih pelajaran dia!” bentaknya.
“Tapi, bos... katanya habisin...”
“Loe gila! Yah, gua nggak mau tanggung jawab kalau dia sampai kenapa-kenapa. Awas loe kalau sampai libatin gua!”
Martin kini bermasalah, ia tak menyangka amarahnya menjadi sebuah petaka dalam hidupnya. Ia tak bermaksud membuat Chandra mati. Tapi kini, waktu akan membuatnya terlibat dalam kasus pembunuhan dan penjara menantinya. Ketakutan, ia pun lekas mengakhiri persetubuhannya dan cepat mengepak semua barang-barangnya. Segera ia melarikan diri keluar negeri, berharap hukum tidak bisa menjangkaunya.
Satu-satunya rencana yang berhasil dilakukan Martin sebelum pergi adalah membuat seolah-olah kematian Chandra akibat kecelakaan. Mobil Chandra sengaja ia jatuhkan ke jurang tebing yang tinggi dan terbakar tanpa jejak, hancur berkeping-keping dengan meninggalkan ktp dan dompet Chandra beserta pakaiannya. Martin menggunakan jasad palsu yang ia dapatkan dari rumah sakit untuk mengganti tubuh Chandra yang sudah telanjur dibuang ke sungai.
Rencananya berhasil, mereka yang menemukan mobil Chandra memastikan kalau Chandra telah mati seketika dengan tubuh terbakar. Keluarga Chandra yang penganut agama percaya bahwa tubuh Chandra harus segera dimakamkan agar arwah Chandra tenang. Mereka tidak mengizinkan polisi untuk menindaklanjutin kasus itu dan menganggap kematian Chandra sebagai musibah keluarga. Martin pun lolos bersama teman-temannya.
Yang mengetahui kematian Chandra hanya keluarga terdekat dan Agnes. Agnes hanya menangis sesaat dan menerima kejadian itu, ia tidak begitu berat melupakan Chandra karena tidak begitu cinta dengan pria itu. Ia hanya menganggap Chandra sebagai penyenang hatinya. Setelah memberikan penghormatan terakhir, ia pun pergi meninggalkan pemakaman Chandra dengan air mata terhapus.
Angel, ia tidak pernah tahu kematian Chandra. Karena sudah sejak perpisahan itu, ia berusaha tidak ingin tahu apa yang terjadi pada Chandra. Karena pemakaman bersifat pribadi dan tidak banyak yang tahu tentang kematian Chandra, maka dengan begitu Chandra dinyatakan telah meninggal dengan akta kematian sah. Foto wajahnya dengan bingkat hitam serta garis miring di sudut foto menandakan kematiannya telah menjadi sejarah dan kesedihan keluarga yang terdalam.  Ibu yang mencintainya tidak pernah menghapus setiap kenangan yang ditinggalkan Chandra. Bahwa ia membiarkan kamar anaknya tetap seperti semula. Menjadikan segalanya sebagai kenangan tanpa harus menghapus bahwa Chandra adalah anak yang ia cintai.
Semua berpikir Chandra telah mati, padahal ia berhasil diselamatkan oleh  nelayan yang tak sengaja menemukannya. Lalu dibawa ke rumah sakit, koma, dan tampak seperti mayat hidup.
“Mungkin hidupnya saat ini seperti mati suri, luka-lukanya mulai sembuh tapi rohnya tidak ada. Aneh sekali, semua organ berfungsi tapi tidak bangun.” kata dokter yang menangani.
Sepasang kakek-nenek nelayan yang baik hati itu pun berkata, “Biarkan kami menjaganya, ia membuat kami mengenang anak saya yang telah pergi selamanya. Saya akan menunggunya sampai sadar dan mencari tahu siapa dia.”
Begitulah, Chandra akhirnya dirawat oleh kakek-nenek itu. Bersama suster, ia tengah duduk memperhatikan tubuhnya sendiri, bahkan Chandra sulit mengenang apa yang terjadi sampai mengapa ia bisa jadi seperti ini. Nenek dan kakek nelayan masuk ke dalam ruangan dimana tubuhnya yang kaku terdiam, dan mulai memijiti setiap sudut inci tubuhnya.
“Kakek, anak ini begitu tampan. Semoga ia terbangun, nenek ingin tahu sekali namanya... karena selama ini kita selalu memanggil dia dengan nama Hendra.”
“Kakek juga ingin tau, Nek. Tapi kita hanya bisa menunggu sampai saatnya tiba...”
Chandra tersentuh dengan kebaikan kakek dan nenek itu sampai menitikkan air mata. Andai saja ia bisa mengucapkan terima kasih, dalam lubuk hatinya yang terdalam, ia akan bersujud dan memuja kebaikan dua orang yang baik hati itu.
“Apakah kamu pernah menyakiti orang lain?” tanya suster, mengulangi pertanyaannya.
“Saya tidak tahu, betapa banyak orang yang telah saya sakiti. Bahkan saya lupa.“ jawab Chandra.
“Sekarang kamu mengerti mengapa kamu bisa seperti ini... ini adalah karma yang telah kamu lakukan… apakah kamu bisa menerima keadaan kamu saat ini?”
Chandra terdiam... “Kalau begitu, saya harus ikhlas. Tapi apakah akan selamanya saya begini, menjadi roh penasaran?” tanyanya kemudian.
“Tidak, nak. Tubuh kamu akan menghilang dalam 30 hari dari hari ini. Rohmu akan perlahan menghilang dan saat itulah tubuh kamu akan mati mengikuti rohmu yang telah lenyap.”
“Ternyata begitu menakutkan ya... kematian itu?”
Suster bangkit dari kursi. “Terimalah takdirmu. Sekarang, berusahalah untuk menerima segalanya dengan ikhlas dan berdoalah agar mereka yang pernah kamu sakitin memaafkanmu... dengan begitu kamu akan menjadi tenang.”
“Terima kasih, Suster, atas pencerahannya.“
“Sama-sama. Ingat janji kamu, jangan pernah mengganggu saya lagi. Kita sudah sepakat.“ kata suster itu lalu beranjak pergi.
“Suster!” teriak Chandra.
“Apa lagi? Saya harus pulang karena mengantuk.”
“Apakah... saya masih bisa hidup kembali walau sepertinya mustahil?”
Suster melempar senyum. “Tidak ada yang mustahil di dunia ini, semua sudah ditentukan... hidup atau matinya seseorang, kamu sedang menjalaninya.”
Chandra pun harus merelakan suster itu pergi. Ia kembali merenung, merenung apa yang terjadi dalam kehidupannya. Ia mengingat ayah dan ibunya. Adik laki-lakinya yang sering ribut dengannya, walau sesungguhnya ia sangat sayang pada adiknya. Kini ia seorang diri dalam kehidupan yang tak nyata ini, memperhatikan setiap bagian sudut tubuhnya, merindukan kehidupan yang pernah ia jalanin. Tak pernah ia menyangka bahwa kini ia hanya seorang diri dalam dunia ini, sunyi dan  hampa.
Kini ia hanya bisa merenung dan merenung setiap saat. Tanpa kepastian dan menunggu sampai setiap bayangan dalam tubuhnya menghilang meninggalkan dunia, pergi menuju nirwana.
Tapi Chandra masih memiliki 29 hari lagi sebelum ia benar-benar hilang dalam kehidupan ini. sebelum itu, ia pun berpikir untuk mengunjungi dan melihat keluarganya untuk terakhir kali. Karena ia hanyalah sesosok roh yang tak memiliki berat massa di bumi, ia bisa mengikuti apa saja yang berjalan, entah itu mobil dan kereta sampai pesawat terbang. Ia sadar, ia ada di Sukabumi dan harus kembali ke kota untuk melihat keluarganya. Dan ia pun berlari mengejar suster itu.
“Katanya nggak mau ganggu saya lagi, udah janji loh.”
“Suster, saya cuma mau titip tubuh saya. Kenapa begitu jahat...”
“Baiklah, kamu nggak usah khawatir. Tubuh kamu akan terjaga dengan baik. Lagipula, sudah ada sepasang nenek dan kakek itu yang merawat dan memandikan kamu setiap harinya.”
“Baiklah kalau begitu, saya pergi dulu  ya…”
Suster yang tadinya begitu galak, akhirnya menjadi iba kepada Chandra. “Nama kamu siapa kalau boleh tahu?”
“Chandra. Tolong beritahu nenek dan kakek itu, mereka selalu bertanya-tanya.”
”Tidak mungkin saya memberi tahu, itu sama saja saya melawan takdir kehidupan. Apa yang terjadi saat ini hanya saya dan kamu yang tahu, karena dunia kita berbeda.”
“Baiklah, Suster... saya tidak mengerti aturan yang suster buat, saya pamit dulu.”
Saat suster melihat Chandra pergi, ia kemudian berkata, “Pergilah untuk melihat mereka yang benar-benar mencintai kamu dalam kehidupan, siapa tahu itu bisa membantumu kembali ke dunia ini.”
“Semoga saja,” Chandra pun melangkah pergi meninggalkan rumah sakit.
Suster menghela nafas sambil berkata dalam hatinya, “Anak yang malang, semoga saja ada kehidupan yang bisa kamu pertahankan seperti ketika saya bisa kembali dan melewatkan kegelapan saya.”

Disadur dari Mantan Kekasih karya Agnes Danovar.

1 komentar:

  1. ini bukannya cerpen mantan kekasih ya???

    BalasHapus