Kamis, 01 Maret 2018

Ladang Pembantaian



“Luruskan niat untuk berhijab.” kata Inneke saat minibus silver yang ditumpanginya meluncur lambat begitu tiba di puncak tanjakan. Di kanan-kiri, ia hanya bisa melihat petak-petak sawah hijau milik penduduk. Ratusan ribu hektar luasnya, bergelombang di bawah kaki langit kelabu.
Lalu mereka menurun lagi dan kaki langit menghilang. “Iya. Pada awal mengenakan hijab, kita kerap menemui kendala yang bisa menggoyahkan kemantapan berhijab.” tambah Arzetti yang duduk tepat di belakangnya.
“Itulah maksudku.” Inneke menegaskan. “Namun, bila kita sungguh-sungguh, kendala itu bukanlah penghalang.“ Diliriknya Arzetti yang mengangguk setuju.

“Malah itu merupakan tantangan agar kita menjadi pribadi yang lebih baik dengan berhijab.” dukung perempuan beranak tiga tersebut.
Citra Kirana mengangguk mengerti. “Insya Allah saya sudah mantab, Mbak.”
Inneke memandang ke luar lagi, ke sawah-sawah yang berkelebat lewat. “Tak ada salahnya jika di awal berhijab kita berniat ingin tampil cantik. Seiring waktu, sempurnakan niat hanya karena Allah SWT, untuk beribadah kepada-Nya.”
“Selain berpahala, niat yang tulus akan memancarkan kecantikan kita dari dalam.” kata Zaskia Adya Mecca yang sedari tadi diam.
Citra mengangguk lagi. “Insya Allah, Mbak.”
“Jangan lupa gunakan pakaian yang nyaman.” tambah Puput Melati. “saat tampil dengan penampilan baru, ada saja komentar orang yang tidak mengenakkan. Nyamankan hati dan pikiran dengan menggunakan pakaian yang pantas, baik dari bahan atau modelnya. Dengan begitu, kepercayaan diri kita terbangun.”
“Kalau aku sih sukanya hijab yang warna netral.” celetuk Edies Adelia yang memegang kemudi. “kendala awal berhijab, salah satunya adalah tidak memiliki banyak warna hijab yang sesuai dengan pakaian. Siasati hal ini dengan menyiapkan hijab warna netral, seperti hitam, putih, dan krem, yang cocok diaplikasikan dengan beragam warna pakaian.”
“Alhamdulillah... untuk yang itu, saya tidak ada kendala, Mbak.” kata Citra tersenyum.
“Jelas saja, kamu kan jadi bintang iklan...” Dian Pelangi ikut nimbrung. Perempuan yang baru saja menikah ini kemudian menambahkan. “Menurutku, kamu itu cocok pake warna-warna cerah.”
“Kayak koleksinya Mbak Dian,” potong Zaskia, dan semua orang pun tertawa.
Tatapan Inneke sekali lagi beralih ke pemandangan sawah yang menghijau. Dua bulan lagi daerah ini akan panen raya, sesuatu yang harusnya disyukuri oleh penduduk. Tapi sayang, para tengkulak biasanya akan mempermainkan harga gabah hingga bisa kembali modal saja sudah membuat para petani itu tersenyum. Satu hal yang sangat mengusik hati nurani Inneke.
Saat ini bulan Juli, tapi cuaca dingin dan berangin. Mendung tebal tampak rendah menggelayut di langit, mengancam akan mencurahkan hujannya yang membasahi bumi. Inneke mendesah dalam hati saat melihat para petani yang berjalan beriringan untuk pulang ke rumah masing-masing. Kapan hidup mereka akan menjadi lebih baik?
Inneke berpaling dari jendela dan memeriksa kuku jemarinya. Kuku itu dilapisi kuteks tipis hingga tampak seperti mutiara, begitu serasi menghiasi jemarinya yang lentik. Mobil terus melaju dan hamparan sawah semakin membentang tak ada habisnya. Hujan mulai turun rintik-rintik.
“Ada lagi masukan lain, mungkin soal gaya atau mode hijab?” tanya Citra kemudian, mengagetkan lamunan Inneke.
“Pilih gaya sederhana,” kali ini Arzetti yang berbicara. “biasanya di awal masa berhijab, kita kesulitan memakai hijab. Karenanya, pilih gaya berhijab yang sederhana. Selain memudahkan dalam beraktivitas, waktu kita tak banyak tersita untuk memakai hijab.”
“Jika ingin mencoba gaya hijab yang sedang tren, utamakan tetap syar’i dan tidak berlebihan.” Inneke menambahkan.
“Iya, akan saya ingat-ingat, Mbak.” Citra mengangguk sungguh-sungguh.
Di luar, sekawanan burung pipit melintas cepat untuk menghindari hujan. Inneke menghitungnya, bukan lima atau delapan, tetapi puluhan. Burung-burung itu bergerak secara bergerombol hingga bagaikan menciptakan ombak hitam di langit suram.
“Yang terakhir, bergabunglah dengan komunitas.” kata Zaskia sambil melirik arlojinya. Mereka bahkan belum tiba di jalan propinsi, mungkin tiga jam lagi mereka baru tiba di pintu tol.
“Kalo itu sih telat, Non.” celetuk Edies Adelia mengingatkan. Semua orang kembali tertawa. Memang Citra sekarang satu mobil bersama mereka karena sudah ikut dalam komunitas artis-artis hijabers tersebut. Mereka baru saja pulang dari bakti sosial di sebuah yayasan anak yatim di daerah pinggiran kota.
“Tidak apa-apa, biar dia makin jelas.” Arzetti menenangkan. Sebagai yang tertua, dia juga merupakan yang paling bijak.
“Selain ikut dalam komunitas, untuk semakin menguatkan konsistensi dalam berhijab, kamu juga bisa ikut pengajian rutin di masjid, atau hadir di kajian-kajian keislaman.” kata Inneke saat mobil mereka menurun ke lembah hijau yang lain.
“Dengan sering berkumpul dengan orang-orang shalih dalam komunitas yang baik, insya Allah kita akan makin yakin dan istiqamah berhijab.” tutup Zaskia, karena mobil yang mereka tumpangi tiba-tiba saja melambat.
“Astaghfirullah..” celetuk Edis Adelia yang memegang kemudi. Matanya melotot tak percaya, sementara tubuhnya yang sintal jadi sedikit gemetar karena shock. Inneke yang duduk di sebelahnya ikut beristighfar berkali-kali.
“Ada apa?” tanya Puput Melati yang duduk di bangku tengah bersama Arzetti Bilbina dan Dian Pelangi. Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan sana sampai Inneke membuka kaca jendela. “Astaghfirullah...” ia ikut beristighfar, dan diikuti seluruh penumpang mobil.
Inneke lah yang pertama kali turun. “Kita harus menolong,” katanya pada teman-temannya yang lain. Tak peduli dengan rintik hujan yang mulai membasahi, dihampirinya mobil sedan tua yang menabrak tanggul irigasi tersebut.
Uap mengepul dari bagian depan. Pengemudinya pria tua. Ia terkapar, separo keluar dari mobil, kepalanya di aspal. Banyak darah dimana-mana. 
Citra bergeser maju, tapi tidak berani turun. Begitu juga dengan Puput Melati dan Zaskia Adya Mecca. Hanya Arzetti dan Dian Pelangi yang mengikuti Inneke, sementara Edies tetap di belakang kemudi untuk menjaga mesin mobil tetap hidup.
“A-apakah dia baik-baik saja?” tanya Zaskia dengan suara bergetar, wajahnya jadi lebih pucat daripada biasanya.
“Aku t-tidak tahu,” Jantung Inneke berdebar-debar kencang, lengannya tiba-tiba terasa berat sekali. “C-cepat panggil ambulan.” Ia kesulitan mengutarakan maksudnya.
“Atau polisi,” Arzetti menambahkan, sambil berjalan ke seberang tanggul.
Saat itulah Citra bisa melihat mobil kedua dari tempatnya duduk. Sebuah Jeep kelabu. Tabrakan tampaknya terjadi di persimpangan depan. Mungkin sedan itu akan berbelok, dan ditabrak oleh Jeep dari arah belakang hingga terlempar masuk ke tanggul. Tidak tampak ada orang di dalam Jeep. Kap mesinnya ringsek dan uap mengepul dari radiatornya yang bocor.
“H-hati-hati, Mbak.” Zaskia memperingatkan. Arzetti hanya merespon dengan lambaian tangan. Sementara Dian Pelangi dan Puput Melati sudah turun untuk membantu Inneke yang berusaha mengeluarkan si orang tua.
Edies tampak sibuk menelepon, namun sulit tersambung karena tidak adanya sinyal. Arzetti berjalan memutar mengitari Jeep untuk mencari korban. Jilbab panjangnya menari-nari tertiup angin. Citra dan Zaskia tetap membeku dalam duduknya, sama sekali tidak berani berbuat apa-apa. Mereka takut melihat mayat.
Pengemudi sedan itu terkapar seperti boneka kain, satu kaki terlipat pada sudut yang tidak wajar. Kepalanya terkulai, tangannya kurus dan pucat. Tapi dari gerakan di dada, sepertinya pria itu belum mati. Hanya terluka dan tidak sadarkan diri. 


Ingin membaca kelanjutan cerita ini? silakan klik DISINI

Tidak ada komentar:

Posting Komentar