Sabtu, 31 Maret 2018

Pembunuh Bayaran



Harry tersenyum senang. 1,5 tahun penantiannya agar membuat Tiffany jatuh cinta padanya ternyata tidak sia sia. Ia dan Tiffany sekarang berada di atas ranjang, dengan posisi tubuh Harry menindih Tiffany. Sesuatu yang wajar dilakukan oleh suami istri seperti mereka.
“Akhirnya aku bisa melakukan ini denganmu, Fany sayang.” kata Harry seraya menempelkan bibirnya di leher jenjang gadis itu, lalu menjilatinya, membuat sang empunya leher mendesah penug nikmat. “Kau sudah berpisah dari Jerry kan?”
“I-iya, ahhh... ahh…” Tiffany sulit berbicara. Suara desahannya lebih dominan daripada suara aslinya.

“Baguslah kalau begitu.” Harry kembali memainkan leher Tiffany, sementara tangannya bergerilya kemana mana, memenceti payudara montok gadis itu, juga bokong Tiffany yang bulat dan licin. Sambil terus menyerang, pikiran Harry menerawang menuju kejadian setengah tahun lalu, ketika ia melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana istrinya dan temannya bersetubuh di sofa di rumah mereka.
“Jerry, ahhh… ahhh... Stop! Hentikan! Nanti Harry... oughhh... ahhh... lihat! Ouhh...” desahan Tiffany menggema di seluruh sudut ruangan. Tubuhnya yang telanjang menempel ketat dengan tubuh Jerry, affairnya.
“B-biarkan saja, s-sayang... ouhhhh... l-lagi e-enak nih!” ucap Jerry terputus putus. Setelah menggenjot beberapa lama, mereka berdua pun sama-sama ambruk. Tidak menyadari kehadiran Harry yang mencengkeram pecahan gelas yang tadi dipegangnya, matanya berkilat merah, penuh kemarahan.
Harry terbakar api cemburu bila mengingat semua itu. Ia mulai memainkan tubuh montok Tiffany dengan kasar. Menjilati semua bagian, terutama payudara Tiffany yang bulat dan padat. Ia menggigiti putingnya yang mencuat merah berulang kali.
Tangan Tiffany turun ke bawah, menyusuri tubuh telanjang Harry. Meraih penis sang suami yang sudah menegang kaku, dan meremasnya penuh nafsu. Seketika Harry menjelinjang geli, dan mendesah.
Selagi Tiffany melakukan hal itu, Harry mengingat kejadian lainnya. Saat Ia dan istrinya tercinta membunuh satu keluarga, keluarga Lambert. Itu adalah suruhan dari seorang psikopat bernama Zarius Zack. Bodohnya, mereka berdua mau, karena tergiur oleh uang yang banyak. Setelah kejadian pembunuhan mengerikan itu, Harry dan Tiffany berubah menjadi psikopat yang lebih sadis dari Zack.
“Tuan, jangan bunuh kami. Aku akan memberikan apa saja yang kalian minta asalkan jangan bunuh kami.” ujar sang kepala keluarga, Adam Lambert,  dengan mata berkaca-kaca.
“Sudah terlambat.” ucap Tiffany sambil menancapkan pisau yang ia bawa ke jantung Adam. Seketika itu juga, Adam ambruk ke lantai dengan darah memancar deras dari jantungnya yang tersayat, mengenai kaki jenjang Tiffany. ”Hahaha, mati kau!” Tiffany tertawa menyeramkan.
“Dad!” kedua anaknya, Kevin dan Derrick, menjerit histeris. Sementara Jane, sang ibu, hanya bisa menangis pilu melihat suami tercintanya yang sudah tak bernyawa.
“Good job, honey.” kata Harry sambil tersenyum pada Tiffany. Lalu dia menghampiri Jane dan mengangkat wajah wanita itu yang pucat ketakutan. “Kau tahu, kau cantik sekali dengan wajahmu yang seperti itu.” kata Harry seraya menorehkan pisau kesayangannya ke lengan sebelah kanan Jane.
“Aauwh! Tidak!” wanita itu menjerit. Semakin lama, jeritannya menjadi semakin keras sebelum akhirnya terdiam setelah Harry memindahkan sayatan ke lehernya yang jenjang.
“MOM! Jangan tinggalkan Kevin! Jangan tinggalkan Derrick! Mommyy!!!” kedua anak kembarnya berteriak dan menangis semakin keras. Harry menatap tajam mereka berdua. Sedetik kemudian tangisan dari kedua anak kembar itu berhenti.
“Bagus, diamlah seperti itu, anak manis.” Tiffany datang dengan membawa penutup mata dan sebuah pistol. “Aku tidak mau menyiksa kalian, jadi sebaiknya kalian pakai penutup mata ini dan menurutiku.”
“PERGI!!” Derrick berteriak keras. Ia menendang muka Tiffany dengan kaki mungilnya, membuat Tiffany terjengkang dan mengaduh kesakitan.
Harry yang melihatnya, langsung kalap. “Bangsat!” serunya menahan marah. Ia lemparkan tubuh Jane yang sudah tak bernyawa ke lantai dan menghampiri Tiffany yang tengah kesakitan. Matanya bengkak gara-gara tendangan anak kecil itu. “Sayang, kamu tak apa-apa?” tanya Harry khawatir.
Tiffany mengangguk. “A-aku tak apa-apa, lebih baik kau cepat habisi mereka berdua, apalagi setan kecil ini.” ujarnya gusar sambil menunjuk wajah pucat Derrick dengan jarinya yang lentik. Dan Derrick menggigitnya. Disakiti untuk kedua kali membuat Tiffany murka. Ia pun berdiri, mengambil pistolnya dan…
DUARRRR! Terdengar suara tembakan yang cukup keras. Kepala Derrick hancur, terkena tembakan jarak dekat yang menyakitkan dari pistol Tiffany. Kevin tidak bisa berkata-kata. Tidak mau membuang waktu, Harry pun menembak juga kepala bocah itu. Satu keluarga Lambert sudah tewas mengenaskan.
“Ayo pergi dari sini, sayang.” kata Harry lembut.
Tiffany menggeleng. “Sebentar, aku mau mengambil souvenir dari badan bocah menjijikkan ini dulu.”
“Silahkan, tapi lakukan dengan cepat.” Harry menyingkir.
Tiffany menghampiri tubuh Derrick yang sudah menjadi mayat. Memotong kedua pergelangan tangannya, dan membawa keduanya. “Akan kubawa ini pada Zack, satunya akan kujadikan pajangan di apartemen kita.”
Dan mereka berdua tertawa, membiarkan tubuh kaku keluarga Lambert membusuk disana, di gudang yang jarang didatangi orang.
Harry kini sudah turun ke bawah. Tepatnya ke harta paling berharga milik sang istri. Dia tidak peduli istrinya sudah bercinta dengan puluhan laki-laki, yang penting Tiffany bersamanya sekarang.
Lidah Harry masuk ke dalam vagina Tiffany yang sempit dan licin. Menjilat liar disana, membelai dinding dan bibir vagina Tiffany yang kemerahan, dan menghisap-hisap bulatan klitorisnya yang terasa semakin mengeras seiring waktu berlalu. Sekarang mereka sedang melakukan posisi 69. Tiffany dengan penuh nafsu juga melahap kemaluan Harry yang sudah mengeras tajam, menghisapnya dalam mulut, dan membelai batangnya yang licin kecoklatan dengan lidahnya yang basah.
Setelah tidak kuat lagi menahan geli, Harry kemudian berdiri dan duduk diatas kursi berputarnya. Tidak perduli bahwa nanti spermanya akan sulit dibersihkan, dia menarik tubuh mulus Tiffany dan ia dudukkan di atas pangkuannya.
“Aahhh...” mereka berdua melenguh bersama saat alat kelamin mereka yang sudah saling merindukan, menyatu dengan cepat. Mereka berpelukan dan saling mencium mesra. Sambil menjilati payudara Tiffany yang tepat berada di depan mukanya, Harry mulai menggoyang pinggulnya, menyetubuhi tubuh molek sang istri yang kini menjadi miliknya seutuhnya.
“Sayang, aku mau bilang satu hal. Kalau ada orang yang jahat kepadamu, kau harus membunuhnya, tapi... bukan membunuhnya dengan sekali tebas. Menyiksa. Ya. Siksa dia sampai kehabisan darah. Sampai ia memohon kepadamu untuk hidup.” kata Tiffany sambil mencium lembut bibir Harry.
Harry mengangguk. Tidak terlalu ambil pusing dengan ucapan istrinya barusan. Dia sedang berkonsentrasi menggerakkan tubuhnya. Gesekan kelamin mereka terasa begitu nikmat. Vagina Tiffany bagai menjepit ketat penisnya, membuat desahan mereka mulai bersahut-sahutan semakin keras. Begitu nikmatnya hingga tak menunggu lama, Tiffany pun menjerit dan mengejang. Dia orgasme. Tubuh mulusnya ambruk ke dada Harry saat cairan kental miliknya menyembur keluar, meluber kemana mana.
Tanpa melepas kelamin mereka, Harry segera membopong tubuh mulus Tiffany ke tempat tidur. Ia membaringkan wanita cantik berambut hitam itu ke atas ranjang mereka yang besar. Selanjutnya, dengan posisi doggy style,  kembali Harry melanjutkan kegiatannya. Dia tusuk Tiffany dari belakang dan menggoyangnya penuh nafsu.
Tiffany yang masih lemas hanya bisa pasrah menuruti permintaan sang suami. Bahkan saat Harry mulai mencium dan menjilati lubang anusnya, dan kemudian memasukkan satu jarinya untuk melonggarkan lubang itu, dia tidak menolak. “Ahhh... sayang!” desahnya sambil meringis.
“Hanya pemanasan, sayang.” Setelah mengatakan itu, langsung saja Harry mencabut penisnya dan ganti memasukannya ke lubang dubur Tiffany yang telah siap. Begitu batangnya sudah terbenam sempurna, ia pun kembali menggerakkannya dengan cepat dan kasar.
Harry lebih menyukai anus Tiffany daripada vaginanya. Lubang belakang istrinya itu masih terasa sangat menggigit, membuat Harry bagai menyetubuhi seorang perawan. Beda dengan vaginanya yang sudah lemes dan melar karena keseringan dipakai. Harry terus menggenjot dengan kalap, membuat ranjang mereka berdecit dan bergoyang dengan cepat. Dia sudah merasa akan sampai sebentar lagi.
”Oh, sayang. Aku mencintaimu!” bisik Harry sambil meremas-remas payudara Tiffany yang menggantung indah. Tak lama, cairan spermanya meledak dan menyembur keluar.
“Ahhh... sudah kan, sayang? Aku sudah… hhhh... lelah…” kata Tiffany ngos-ngosan. Saat Harry mencabut penisnya, terasa ada cairan lengket mengalir turun dari dalam vaginanya, membasahi pahanya yang bulat dan putih mulus.
“Iya, ahh... terima kasih, sayang. Sekarang tidurlah.” Harry mengecup mesra pipi Tiffany sebelum wanita itu ambruk dan terpejam.
Malamnya, Tiffany pergi ke kamar mandi. Ia mengambil surat dari laci meja riasnya dan membacanya. “Positif HIV.” ujarnya lirih. “Hah! Aku memang Tak pantas hidup.” Ia melihat bayangannya di kaca. Paras cantik membingkai wajah ovalnya. Eye smile yang indah, bibir mungil dan rambut panjangnya.
Tiffany mengambil pisau kesayangannya. “Pisau... terima kasih telah menemani aku dan Harry membunuh orang banyak, hahaha.” dia tertawa seperti orang gila. “Sekarang giliranmu membunuhku. Selamat tinggal pisau.” ucapannya terputus seiring dengan tusukan pisau itu tepat di urat nadinya.
Esok harinya, Harry menemukan Tiffany sudah terbujur kaku di kamar mandi dengan darah yang sudah mengering.
Semenjak saat itu, Harry yang dulu telah hilang. Harry yang bisa berubah dari lembut menjadi ganas saat membunuh orang dengan sekali tebas, berubah menjadi Harry yang tanpa belas kasih. Ia kini lebih sadis dan kejam dalam menyiksa orang yang telah jahat padanya dan Tiffany.

***

2 bulan kemudian…

Akhirnya setelah hari panjang lainnya, Harry bisa pulang ke rumahnya yang tenang dan damai. Dia sudah tidak sabar untuk bertemu Tiffany, wanita yang sangat dicintainya. Harry ingin menceritakan pada Tiffany siapa saja yang sudah dia siksa hari ini, dan berbagai cerita lain yang pasti Tiffany suka mendengarnya.
“Honey.” Harry memanggil. Tidak ada jawaban. Kemana bidadarinya itu? “Tiffany sayang,” dia memanggil lagi.
“Ya.” terdengar sahutan dari dalam.
“Honey, kamu dimana? Aku pulang.” Harry membuka pintu dan melangkah masuk.
“Aku di kamar, sayang.” kata Tiffany.
Segera saja Harry masuk ke kamarnya dan ya, disitulah Tiffany, bidadarinya berada. Dia terlihat sangat cantik dengan gaun putih pemberian Harry dan rambutnya yang lurus diurai ke bawah.
“Honey.” Harry berlari ke arahnya, memeluknya. Dia rindu sekali dengannya. “Sayang, kau tahu? Hari ini aku sudah menyiksa 3 orang sekaligus. Hebat bukan?” kata Harry sambil terus memeluk tubuh sang istri. Dapat ia rasakan Tiffany tersenyum dan mengangguk. Memang benar, Tiffany pasti senang dengan ceritanya.
“Aku tadi bertemu dengan Brad, laki-laki yang dulu pernah mencampakkan dan mempermalukanmu saat kita masih kuliah. Aku tahu kau pasti masih dendam dengannya. Honey, ternyata dia masih bersama si slut itu, Kristy. Terkadang aku bingung kenapa dua orang jahanam itu masih bisa bersama. Tapi tenang saja, sayang, aku sudah menyiksa mereka berdua. Hahaha.” Harry pun mulai menceritakan semuanya pada Tiffany sambil masih memeluk tubuh perempuan itu. Dia senang memeluk Tiffany sambil menceritakan kejadian-kejadian menyenangkan saat menyiksa Brad, Kristy, dan seorang wanita jalang tadi di club.
”Suara dentuman musik di club terdengar sangat keras. Aku memasuki ruangan penuh narkoba, alkohol dan para wanita jalang yang mencari pria pria hidung belang yang mau membayar mereka dengan imbalan seks. Dan disanalah aku melihat mereka berdua, Brad dan Kristy. Berada di atas sofa diskotik sambil berciuman, dengan posisi badan Brad menindih Kristy. Hah! Erotic couple. Mereka memang cocok, sama-sama brengsek.
”Aku sebenarnya ingin cepat-cepat membunuh mereka, namun naluriku berkata, biarlah mereka menyelesaikan permainan mereka dulu.
“Brad semakin ganas menciumi bibir mungil Kristy. Tangan laki-laki itu mulai memasuki dress pendek berwarna merah maroon yang Kristy kenakan. Kristy mendesah saat bibir Brad mulai memainkan leher jenjangnya. Aku mendekat, duduk di samping mereka. Dan bodohnya, dua orang yang sudah terbakar hawa nafsu itu tidak menyadari kehadiranku. Dasar tolol!
“Tampaknya Brad mulai tak sabaran. Ia segera membuka celananya dan mengeluarkan benda miliknya yang panjang dan besar. Lalu mengarahkannya ke depan mulut Kristy untuk dikulum. Dan, adegan sex live pun dimulai.
“Batang milik Brad yang besar itu mulai dimasukkan Kristy ke dalam mulutnya. Lalu Kristy memaju mundurkan kepalanya dengan tempo lambat, lalu berubah menjadi semakin cepat, dan berhenti saat desahan Brad mulai terdengar keras. Tak ingin keluar cepat-cepat, Brad segera turun ke bawah. Sekarang Kristy yang duduk di atas meja. Brad menyingkap rok yang dikenakan perempuan itu, menurunkan celana dalam Kristy dengan giginya, dan mulai menjilati vagina merah milik gadis itu. Sekarang ganti Kristy yang menjerit dan mendesah-desah, membuat Brad makin bersemangat menusuk- nusukkan lidahnya. Tubuh molek Kristy menggeliat kesana kemari, ia melenguh dan merintih saat Brad menjilati klitorisnya.
”Berpindah posisi, sekarang badan Kristy menindih tubuh Brad. Aku menyaksikan mereka berdua sambil memainkan pisau lipatku yang kecil namun tajam, dengan ukiran namamu disana. Sementara di atas meja, kulihat Kristy sedang berusaha memasukkan penis panjang Brad ke dalam vaginanya yang sudah merekah lebar. Saat benda itu masuk sempurna, mereka berdua melenguh panjang berbarengan. Ya, nikmatilah surga dunia sebelum kalian berdua pergi ke neraka.
”Kristy mulai menggerakkan badannya naik turun, ke atas dan ke bawah, dan sesekali berputar-putar, membuat payudaranya yang kini sudah tidak berbeha bergoyang-goyang indah kesana kemari. Brad segera menangkap dan menaruhnya dalam genggaman agar benda itu diam. Brad juga menggerakkan badannya, tapi berlawanan arah. Tubuh mereka berdua sudah penuh oleh peluh. Baguslah. Sebentar lagi badan mereka akan penuh dengan darah. Namun permainan mereka berdua lumayan hot juga. Terbukti barangku di bawah ini ikut mengeras. Shit!
“Hai, tampan, mau bermain? Ngghhh...” tiba-tiba terdengar suara desahan lain di telingaku. Ada seorang wanita jalang yang hanya memakai baju transparan yang membuat putingnya tercetak jelas. Celana G-String yang dipakainya membuatku bernafsu. Bulu-bulu halus dan sesuatu yang sepertinya menyenangkan untuk dicoba tertampang jelas disana. Aku jadi teringat first nightku bersamamu dulu. Haha... bedanya, kamu telanjang topless, tanpa menggunakan G-String. Oh ya, kamu juga lebih seksi 100x lipat darinya.
“Bagaimana, tampan? Aku siap kapan saja. Aku yakin penismu di bawah sana sudah siap untuk bermain. Sini, pegang ini. Punyaku sudah basah. Spesial untukmu.” katanya sambil menarik tanganku untuk memegang kemaluannya. Dia juga menggigit bibir bawahnya serta menunjukkan wajah dan kerlingan nakal padaku. Aku segera membuka g-stringnya dan memegang vagina perempuan itu. Meremasnya, lalu memasukkan satu jariku ke dalamnya. Dia mendesah, seksi.
”Dia berusaha menarik perhatianku rupanya. Hah! Baiklah, lumayan buat selingan untuk penisku yang mulai mengeras di bawah sana karena melihat permainan Brad dan Kristy. Maafkan aku, Tiffany. Buatku, tubuhmu tetap yang paling menggiurkan.
”Aku mulai membuka celana panjangku. Perempuan itu mulai terlihat senang. Dia segera membuka semua bajunya hingga ia telanjang total, dasar tidak tahu malu! Tapi memang, di sekelilingku, semua orang juga sudah telanjang, kecuali aku. Ini kan naked Club!
”Aku pun ikut membuka baju dan melemparkannya ke bawah, kubiarkan teronggok di atas tasku bersama dengan celana panjang dan boxer yang tadi kupakai. Perempuan nakal di depanku menggigit bibir bawahnya begitu melihat tubuh dan penisku yang indah, aku yakin itu. Aku mulai menjilati kedua payudaranya yang besar, terlalu besar untuk ukuran tubuhnya yang ramping.
“Ini asli?” tanyaku usil.
“Operasi,” dia menjawab. ”Tapi sungguh memuaskan. Benar kan, sayang?” Ia mengerling nakal. Tangannya turun menuju penisku yang sudah mengeras dan siap tempur. Dia mulai menggenggam dengan tangannya, lalu mengocoknya.
“Ngghhh… enak...” aku mendesah penuh kenikmatan. Kubayangkan wajah cantikmu dan malam pertama kita dulu, sayang.
”Perempuan itu memasukkan penisku ke dalam mulutnya, lalu mulai menaik turunkan kepalanya. Dia mengulumnya! Desahanku menjadi semakin keras. Begitu pula dengan orang-orang yang berada disini. Tempat ini berubah menjadi party sex yang membuat orang orang lupa diri dalam sekejab!
“Eumhhh... ahhh... ahhh... oh yeah... teruss... ngghhhh…” desahku keenakan. “Tiffany, ahhh… eunghhh...” tanpa sadar aku menyebut namamu, sayang.
”Tapi perempuan itu tidak tampak terganggu. Dia malah semakin cepat memainkan batangku. Mulutnya yang tipis menghisap, menjilat dan menggigitinya seolah itu adalah es krim batangan yang sangat enak. Dan aku tidak bisa berbohong, ini memang sungguh nikmat.
”Perempuan itu meraih tanganku, mencoba memasukan salah satu jariku ke dalam lubang surganya. Berhasil. Kurasakan sudah sangat becek dan lengket disana. Aku memaju mundurkan jariku dengan tempo cepat, memasukan jari lain, dan lainnya lagi, hingga total 3 jariku bersarang disana. Wanita itu mendesah hebat mendapat kenikmatan yang tidak terkira dariku.
“Akhirnya kami pun tak tahan. Perempuan itu menghentikan hisapannya. Dia lalu menungging dan memberikan pantatnya kepadaku. Aku mengerti. Aku menampar-nampar bokongnya yang bulat dan besar itu sebentar sebelum menggesek-gesekkan ujung penisku di depan lubang lubang kewanitaannya yang mengintip malu-malu di sela-sela paha mulusnya.
“AWHHH!” dia menjerit, tapi tidak menolak. Bahkan dia tersenyum melihat kelakuanku. Setelah meremas dadanya dengan kasar, barulah kumasukkan penisku ke dalam lubangnya vaginanya. Dia tidak menjerit atau pun menangis, miliknya sangat mudah untuk dimasuki. Barangkali aku adalah orang keseribu kalinya yang menusuk benda itu. Sama sekali tidak ada rasa seret atau pun ketat seperti yang biasa kutemui kalau aku main denganmu, sayang. Vagina perempuan itu sudah sangat-sangat longgar. Hanya kebasahan dan kehangatannya lah yang membuatku bertahan. Lumayan daripada tidak ada sama sekali.
“Eunghhh... eunghh... Ini sangat nikmat sekali, ouhhh... ahh.. ahh... ouhhh...” dia meracau tidak jelas.
”Haha, kenikmatan huh? Tiba-tiba ide terlintas di kepalaku. Kugenjot tubuhnya dengan keras dan kasar. Ia semakin meracau tak jelas. Begitu pula aku. Kugerakkan penisku di dalam lubang vaginanya sambil meremas-remas kedua payudara miliknya tak kalah kasar. Kadang-kadang kugigit leher dan telinganya hingga menjerit kesakitan.
”Cairan bening menyembur dari lubang vaginanya saat dia orgasme. Sambil merintih keenakan, perempuan itu ambruk ke lantai. Hah, dasar pelacur! Padahal aku masih belum apa-apa. Aku menoleh pada Brad dan Kristy, mereka masih bermain dengan kuatnya, belum ada yang terlihat lelah. Efek obat perangsang serta minuman keras, pasti.
”Aku mengambil pisau kita, sayang. Kubuat torehan kecil di paha perempuan  yang tadi bermain denganku hingga berdarah. Saatnya untuk menyiksa.
“Aaahhh…” perempuan itu menjerit. Tapi bukan karena kenikmatan, namun karena sakit. Aku lebih suka mendengar dia mendesah karena sakit daripada karena seks.
“Nona cantik, siapa namamu?” tanyaku enteng, sambil membelaikan mata pisau di payudaranya. Dia tampak ketakutan. Yeah, paras wajah yang paling kusuka. Wajah penuh ketakutan.
“Emh, V-victoria.” jawabnya terbata-bata. Hum, begitu? Aku langsung menusuk pipinya yang mulus dengan pisauku. Dia menjerit melihat pipinya mengeluarkan darah. Sesaat kemudian, dia tidak bisa lagi berbicara. Rahangnya hancur. Haha… sudah, ini sudah terlalu lama. Langsung kutebas pergelangan tangannya yang tadi sudah berani memegang penisku. Urat nadinya putus, terlihat darah berceceran dimana-mana. Dia langsung mati! Ah, cepatnya. Tapi tak apa. Saatnya membunuh Brad dan Kristy.
“Brad yang sedang asyik menindih tubuh mulus Kristy, tanpa basa-basi langsung kutusuk punggungnya berkali-kali. Kuukir namamu disana, sayang.  Dia menjerit. Kristy membuka mata, kaget melihatku yang telanjang dan memegang pisau. Dan dia lebih kaget lagi saat melihat pacarnya sudah terbaring mati di lantai. Langsung saja kusabet mulut perempuan itu sebelum menjerit lagi. Kuikat tangan dan kakinya dengan tali yang sudah kusiapkan agar dia tidak bisa melarikan diri. Lampu ruangan yang remang-remang, ditambah suara musik yang berdentam kencang, menyamarkan semua perbuatanku. Tidak ada yang menolong mereka, karena aku kan sudah bilang, seks membuat orang lupa diri.
”Aku menoleh ke arah Kristy, menunjukkan senyum setanku. Dia ketakutan sambil memegangi bibirnya yang robek parah. Lagi lagi wajah itu. Aku akan menyiksanya lebih lama sekarang, mulai dari payudaranya yang masih terpampang jelas dan penuh dengan bercak merah. Kutorehkan pisauku tepat di atas payudaranya. Darah mulai keluar lagi. Aku lakukan hal yang sama pada payudara yang satunya. Dia terlihat tersiksa. Hahaha... Rasakan pembalasanku, kau yang membuat bidadariku malu dulu.
”Lalu aku mulai menuju wajahnya yang bisa dibilang... cantik. Hah, kamu pernah bilang, sayang, kalau Kristy adalah gadis yang cantik. Tapi sekarang tidak lagi. Akan kulukis mukanya dengan pisau kita agar dia terlihat makin cantik. Kutorehkan pisauku sedikit demi sedikit. Menguliti setiap inci dari kulit wajahnya. Dia makin teriksa. Darah muncrat di badanku, bahkan mengenai penisku yang masih menegang. Entahlah, berbuat keji seperti ini malah membuatku terangsang.
”Ah, baiklah. Sebelum wanita ini mati, ada baiknya aku bermain sedikit dengannya. Kumasukkan penisku ke dalam vagina Kristy dan mendesah sendiri. Shit! ternyata dia sudah tewas. Sama sekali tidak merespon gerakanku. Tapi tak apa, mumpung tubuhnya masih hangat, aku harus cepat. Tak lama aku pun orgasme. Kutumpahkan spermaku ke dalam vaginanya. Cairan maniku bercampur dengan cairan Brad yang sudah lebih dulu berada disana.
”Menyeringai puas, kupakai kembali semua bajuku. Semua orang masih larut dalam hasrat dan gairah masing-masing. Tidak ada yang menyadari perbuatanku. Tiga mayat tak berguna yang membusuk di pojok ruangan sama sekali tidak mereka hiraukan.
”Waktunya pulang sekarang. Ah, aku harus lebih sering ke sex party untuk mendapatkan kepuasan dobel seperti ini.
“Jadi begitulah, sayang. Aku sudah membuat mereka tersiksa. Bagaimana, apa kau senang?” tanya Harry pada Tiffany. Wanita itu mengangguk senang.
“Tapi, Harry. Sebaiknya kau mencari gadis yang lain.”
Harry tersentak mendengar perkataan Tiffany. Gadis yang lain? Apa maksudnya?
“Aku sudah meninggal, Harry. Biarkan aku mati dengan tenang.” Tiffany terdengar sendu.
Apa ini maksudnya, Tiffany? Apa kau tidak mencintaiku? Bagaimana bisa kau bilang kau sudah meninggal? Kau masih bersamaku setiap hari!
“Tapi kau masih berada disini, bersamaku, sayang. Bagaimana bisa kau bilang kau sudah meninggal?” protes Harry.
“Apa kau tidak ingat? Aku membunuh diriku sendiri dua bulan lalu, Harry. Itu semua karena aku tidak menyadari bahwa aku mempunyai suami yang menyayangiku. Aku bodoh sekali. Maaf aku sudah menjerumuskanmu ke dunia kelam ini, Harry. Maafkan aku, karena penyakit HIV itu aku tidak bisa menemanimu lagi. Aku akan selalu mengingat malam pertama dan terakhir kita, Harry. Kau adalah pria paling seksi yang pernah aku ajak bercinta selama hidupku.” jelas Tiffany, lalu dia diam.
Harry tahu, Tiffany memang sudah tak ada. Dia baru menyadari, selama ini, dia berbicara dengan mayat yang sudah membengkak dan berbau busuk. Wajah cantik Tiffany saja sudah tidak berbentuk. Jadi selama ini dia hanya imajinasi Harry saja?
”Hah! Baiklah, aku akan menyusulmu, Tiffany. Tapi sebaiknya sebelum aku mati, aku akan membuat laki-laki yang telah membuatmu terkena penyakit menjijikkan itu, tersiksa dengan perbuatannya sendiri.” Harry berteriak penuh dendam.

***

Dia sudah sampai di rumah pria itu. Pria yang sudah membuat dirinya dan Tiffany menjadi seorang pembunuh sadis. Namanya Zarius Zack. Haha... Ia sangat mencintai pembunuhan. Sama seperti Harry dan Tiffany. Kali ini, Harry yang akan membunuhnya. Sebuah pistol telah siap di dalam kantong hoddienya.
“Ting-Tong.” Harry menekan bel pintu.
“Ah.” ujar Zarius saat sudah membuka pintu. “Harry!!”
“Selamat tinggal, Zack!” Harry tersenyum setan dan langsung menembakkan pistolnya.
DUAAR!
Laki-laki itu langsung ambruk. Kepalanya hancur, tidak pantas lagi untuk dilihat. Berkali-kali Harry menembaki seluruh tubuh Zarius Zack. Saat itulah, tiba-tiba seorang wanita keluar dengan pakaian yang lumayan menggoda.  Hanya kemeja kebesaran yang bertengger di tubuhnya yang montok dan sintal.
“ZAACKK!!!” dia berteriak histeris. Ketakutan. Ah, another sad face.
“Hai cantik, kamu siapa?” tanya Harry, berusaha menggodanya.
“S-siapa kau?! Apa yang kau lakukan pada suamiku? Bahkan aku belum sempat ‘melakukan’ itu dengannya!” wanita itu menjerit.
“Lebih baik kau melakukannya denganku.” kata Harry sambil mendorong tubuh mulus wanita itu ke sofa. Yeah, adik kecilnya akan terpuaskan lagi sekarang.
“TIDAK! HENTIKAN!! AHHHH…!” dia mulai mendesah saat Harry meremas bulatan payudaranya yang ranum dan kenyal. Ck-ck-ck, kelemahan wanita.
“Aku akan memuaskanmu lebih daripada dia.” kata Harry sambil menunjuk tubuh hancur Zack.
“Ahh... Tapi aku mau... ahhh... s-suamiku!” ah, wanita ini berisik sekali.
Langsung saja Harry menyingkap kemejanya yang kebesaran. Aha! Bingo! Dia tidak memakai bra ataupun celana dalam lagi disana. “Uhh... tubuhmu sangat menggoda.” bisik Harry sambil membenamkan wajahnya di antara kedua payudara bulat wanita cantik itu. “Bagaimana kau bisa tidak memakai apa-apa di balik bajumu yang kebesaran itu? Ck-ck...” Harry berdecak penuh kepuasan. Lidah dan mulutnya dengan rakus menjelajahi puting mungil si perempuan yang mulai terasa mengeras tajam.
Wanita itu menggeliat kesana kemari. “A-aku kan sudah bilang... aku ingin melakukannya dengan suamiku… ahhh... hentikan… ah!” ucapannya terputus seiring dengan 3 jari Harry yang memasuki lubang vaginanya. Terasa sangat sempit dan seret disana.
Hmm, bagus, masih pure. Biasanya yang seperti ini akan sangat nikmat. “Sudahlah, kau diam saja!” ujar Harry. Terkadang dia bingung, di saat-saat seperti ini, dia masih bisa memikirkan bagaimana cara membunuh wanita ini nanti.
“Karena aku tidak suka sesuatu yang terlalu lama, jadi kita langsung saja.” Harry mulai berusaha menghubungkan tubuhnya dengan tubuh si wanita. Pelan, ia menusukkan penisnya.
Wanita itu menangis, tapi Harry tetap meneruskan perbuatannya, tidak terlihat terganggu sama sekali. “Eeungghh…” mereka mendesah panjang setelah penis harry berhasil masuk sepenuhnya. Vagina wanita itu terasa begitu sempit dan kesat, sangat nikmat sekali.
Harry segera menggerakkan tubuhnya dengan kasar dan cepat, tidak peduli dengan rintihan dan jeritan si wanita yang semakin pilu dan menyayat hati. Sambil meremas dan menjilati payudara perempuan itu, Harry menggenjot pinggulnya, membenamkan penisnya dalam-dalam lalu menariknya lagi tapi tidak sampai lepas. Begitu terus hingga ia memuntahkan spermanya yang panas dan kental.
Si wanita menangis sesenggukan saat menerimanya. Tapi dia langsung terdiam begitu melihat Harry tersenyum sambil meraih pisaunya. ”Tidak! Jangan!” wanita itu memohon, tapi percuma.
Meski sudah memberi kepuasan, Harry tidak peduli sama sekali. Dengan kejam ia menggoreskan baja tajam yang sudah memakan banyak korban di tangannya itu ke tubuh si wanita cantik, mulai dari dada hingga vaginanya. Wanita itu pun berteriak memilukan. ”Aarrgghhhh... tidak!”
“Selamat tinggal, sekarang kau bisa bersetubuh dengan Zack di neraka, hahaha!” Harry menusuk-nusuk lagi, kepala, lengan, tubuh seksi, vagina, serta kaki si wanira. Untuk kakinya, tidak tanggung tanggung, langsung saja Harry menebas mulai dari paha sampai bawah.
Wanita itu tidak bergerak lagi.
Baiklah. Satu orang terakhir. Jerry…

***

“Aku mencari Jerry?” tanya Harry pada salah satu pegawai di club milik laki-laki brengsek itu.
“Di situ, di dalam ruangannya.” perempuan berdada besar itu menunjuk sebuah pintu.
Harry mengangguk dan segera melangkah kesana. Untuk laki-laki ini, spesial untuknya, Harry akan menyiksanya hingga kehabisan darah. Dia masuk ke dalam ruangan itu. Tidak terkunci. Di dalam, dilihatnya Jerry dia sedang bermain cinta dengan seorang wanita jalang.
“Ohhh... kau Harry? Ahh... t-tunggu sebentar. Ouhhh... faster, my baby!” seru Jerry dengan nafas berat dan muka merah padam pada wanita cantik di atas tubuhnya.
Ah, lagi-lagi liveshow. Bosan. Harry segera memalingkan mukanya, memandang ke luar jendela, ke arah jalanan. Setelah beberapa menit, akhirnya dua orang itu selesai juga. Jerry mengucurkan spermanya di mulut si wanita yang langsung ditelan oleh pasangannya dengan rakus.
”Cepatlah keluar kau, wanita jalang! Atau akan kubunuh juga kau dengan si brengsek ini.” batin Harry dalam hati.
“Selamat tinggal, sayang.” kata wanita itu setelah diberi beberapa lembar dollar oleh Jerry. Hah! Lalu dia mengedipkan sebelah matanya kepada Harry.
”Terima kasih, tapi aku sudah bermain 3 kali hari ini.” Dan sekarang yang kumau adalah membunuh Jerry, tambah Harry dalam hati.
Begitu wanita itu menghilang, Jerry bangkit dan memeluknya. ”Harry sahabatku, bagaimana kabarmu?” kata Jerry sambil tertawa.
Harry tahu apa maksud laki-laki itu. Sebagai pembunuh bayaran terlatih seperti dirinya, tentu saja dia tidak bodoh. Harry sudah siap dengan pisaunya. Tanpa berucap apa-apa lagi, dia mencabutnya dan menusukkannya ke punggung Jerry yang telanjang.
Laki-laki gendut itu langsung ambruk. ”Hahaha, lemah sekali kau pengecut!” ejek Harry tanpa ampun.
“A-apa yang... arghhhh…!” Jerry menggeram kesakitan.
Bagus, menjeritlah kau brengsek. Harry tahu ruangan ini kedap suara, tidak akan ada yang bisa mendengar suara pria itu. “Aku akan menyiksamu seperti kau sudah menyiksa Tiffany-ku.” kata Harry jahat.
“Sekarang, dengarkan baik baik. Sampai saat ini, jangan kau pernah mengira aku pernah memaafkanmu setelah kau meninggalkan Tiffany-ku begitu saja. Kau tahu, setelah kau memutuskan hubungan dengannya, dia jadi suka pergi ke sexxparty dan dia menjadi positif HIV? Haha... Dia pernah bilang padaku bahwa semua orang yang telah jahat pada kita harus disiksa sampai dia tidak punya semangat hidup lagi. Aku rasa dia benar!” Harry mengucapkan itu semua sambil menusukkan pisaunya dalam-dalam ke seluruh bagian tubuh Jerry.
Ingin rasanya ia mencongkel mata itu, mata yang telah melihat seluruh inci tubuh istrinya. Tapi ia urungkan. Harry akhirnya hanya memotong pergelangan tangan Harry karena telah berani menjamah tubuh mulus Tiffany. Lalu dia menusuk bagian atas kepala laki-laki itu karena telah berpikiran kotor tentang istrinya. Terakhir, Harry memotong benda milik Jerry yang paling berharga. Penisnya. Karena telah berani-beraninya memasuki liang surgawi milik Tiffany.
Jerry sudah tidak bergerak lagi. Darah mengalir di mana-mana. Harry segera pergi meninggalkan tempat itu. 6 pembunuhan dalam 1 hari, polisi pasti akan mengejarnya. Tapi dia tidak peduli. Sebentar lagi dia akan menyusul Tiffany ke surga.

***

Harry sudah sampai di depan tebing dimana dia bertemu Tiffany untuk pertama kali. Dilemparkannya tubuh Tiffany yang telah lama membusuk kesana. ”Sebentar lagi kita akan bertemu, Tiffany... Selamat tinggal dunia yang penuh dosa!”
Sebelum menjatuhkan diri, Harry menembak kepalanya sendiri. Rasanya sungguh nyaman dan damai. Tidak ada rasa sakit sedikit pun. Perlahan-lahan tubuhnya yang sudah lemas dengan kepala pecah berantakan meluncur jatuh, jatuh ke dalam jurang itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar