Minggu, 08 April 2018

Balada Rif’ah 3

Tengah malam Rif’ah terbangun  ketika dia mendengar suara canda dan ketawa-ketawa dari kamar sebelahnya yang tak lain adalah kamar Ummu Nida dan suaminya. Rif’ah memahami sehingga dia pun kembali berusaha tertidur, namun ternyata suara-suara itu terus mengganggu sehingga membuatnya sulit tertidur, apalagi setelah terdengar suara-suara aneh dari kamar tersebut di sela-sela canda suami istri itu. Suara tersebut membuat Rif’ah gelisah dan benaknya tanpa sadar membayangkan apa yang tengah terjadi di kamar sebelah antara Ummu Nida dan suaminya. Bayangan tersebut terhenti ketika kemudian Rif’ah merasa ingin buang air kecil.

Dengan hati-hati dan pelan, Rif’ah keluar kamar menuju ke WC. Suasana ruangan di luar kamar remang-remang karena lampu di ruangan tersebut telah dimatikan dan Rif’ah tidak tahu tempat saklar lampu. Namun cahaya lampu dapur yang dibiarkan menyala membantu Rif’ah berhasil sampai ke WC.
Setelah menuntaskan hajatnya, Rif’ah segera kembali ke kamar. Ketika hendak membuka pintu kamar tempat dia tidur, terdengar kembali suara-suara dari kamar Ummu Nida. Suara ketawa, dengusan dan suara-suara aneh membuat Rif’ah berdebar-debar. Tanpa sadar benak Rif’ah teringat film porno yang ditontonnya di warnet beberapa waktu yang lalu. Dada akhwat ini berdegup kencang ketika kemudian matanya melihat seberkas sinar keluar dari lubang kunci pintu kamar Ummu Nida.
Rif’ah mengurungkan niatnya masuk ke kamar, akhwat ini justru menempelkan matanya ke lubang kunci tersebut dan sedetik kemudian bola mata Rif’ah membelalak lebar melihat pemandangan yang dilihatnya melalui lubang kunci. Tubuh gadis cantik ini gemetar hebat.
Melalui lubang kunci tersebut, suasana kamar Ummu Nida terlihat jelas, terutama ranjang tempat tidur Ummu Nida dan suaminya. Di ranjang tersebut, Rif’ah melihat Ummu Nida dan suaminya telanjang bulat tanpa selembar pakaian pun menutupi tubuh mereka berdua. Rif’ah sempat tertegun melihat Ummu Nida dalam keadaan telanjang bulat seperti itu. Tubuh ummahat berkulit kuning langsat yang telah beranak tiga tersebut ternyata masih kencang dan terlihat montok dengan sepasang buah dada besar yang menggelayut di dadanya.
Kemaluan Ummu Nida juga nampak bersih dari bulu-bulu kemaluan seperti kemaluan Rif’ah, hanya bedanya bibir kemaluan Ummu Nida telah menggelambir kehitam-hitaman sementara bibir kemaluan Rif’ah terlihat rapat dengan warna kemerah-merahan. Ummu Nida terlihat bernafsu menciumi sekujur tubuh suaminya hingga akhirnya terhenti di bagian kontol Abu Nida. Tubuh Rif’ah gemetar ketika matanya melihat kontol suami Ummu Nida yang tegak mengeras.
Kontol suami Ummu Nida itu besar dan panjang dengan otot-ototnya yang terlihat menonjol, dan terlihat sangat kontras dengan tubuh Abu Nida yang kerempeng. Ummu Nida terlihat sangat bernafsu menjilati dan menciumi kontol suaminya hingga beberapa lama, ummahat ini asyik dengan batang kontol tersebut. Rif’ah yang melihat keasyikan Ummu Nida hanya mampu terengah membayangkan dirinya juga ikut menjilati kontol suami Ummu Nida yang besar itu.
Abu Nida terlihat tersenyum-senyum dan terkadang melenguh keenakan menikmati perbuatan istrinya. Ketika Ummu Nida kemudian menggenggam kontol suaminya dan diarahkan ke liang kemaluannya, Abu Nida segera membalikkan tubuh montok Ummu Nida sehingga Abu Nida kini berposisi menindih istrinya. Ummu Nida terpekik manja namun beberapa saat kemudian ummahat ini mendesah ketika kontol besar suaminya mulai menembus liang kemaluannya dan beberapa saat kemudian perempuan yang telah beranak tiga ini merintih-rintih jalang ketika suaminya mulai menyetubuhinya.
Rif’ah yang melihat adegan tersebut melalui lubang kunci hanya terengah-engah dengan tubuh panas dingin ketika kontol besar Abu Nida menyodok kemaluan Ummu Nida berulangkali. Rif’ah melihat lubang kemaluan Ummu Nida yang tampak lebar karena telah mengeluarkan 3 anak itu seakan tidak muat dimasuki kontol suaminya. Tubuh montok Ummu Nida tampak terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya, sementara kedua payudara ummahat dengan puting susu yang tegak kecoklatan ini tampak dikunyah-kunyah oleh Abu Nida dengan penuh nafsu.
Adegan-adegan di ranjang Ummu Nida ini membuat Rif’ah terangsang, jauh lebih terangsang dibanding waktu melihat film porno di warnet sehingga akhwat cantik ini kemudian menggosok-gosok kemaluannya sendiri. Rif’ah membayangkan kontol Abu Nida yang besar itu juga menyodok kemaluannya, dan kemaluan akhwat ini sendiri telah basah kuyup.
Ummu Nida merintih-rintih kenikmatan dengan tubuh yang terguncang-guncang. “Ohh… ohhh… ssshh… terusss… enaaaaaak... ahhh...”
“Sst… jangan keras-keras, nanti kedengaran Rif’ah. Kasihan dia belum nikah.” bisik suaminya membuat Ummu Nida tertawa manja.
Wajah Rif’ah memerah mendengar obrolan diantara suara-suara persetubuhan suami istri ini yang membicarakan dirinya. Mendadak ada rasa bersalah yang menyergap Rif’ah yang tengah mengintip aktivitas suami istri ini sehingga membuat Rif’ah berniat kembali masuk ke kamar. Namun niat itu buyar ketika Rif’ah melihat tubuh Ummu Nida mengejang dan memeluk suaminya erta-erat. Gadis cantik ini melihat Ummu Nida rupanya telah sampai di puncak kenikmatannya.
“Ahhhhh... Abiii… Ummi keluarrrr... aaahhhhh... ssshhhh...” pekik Ummu Nida sambil memeluk erat suaminya dan melingkarkan kedua pahanya membelit tubuh suaminya dengan pantat yang terangkat tinggi. Rif’ah melihat ekspresi wajah Ummu Nida seperti merasakan kenikmatan yang luar biasa. Beberapa saat kemudian Rif’ah melihat tubuh ummahat ini lemas.
“Aku belum keluar, sayang!” desis Abu Nida yang disambut dengan senyuman lemah istrinya. Rif’ah melihat cukup jelas cairan kenikmatan Ummu Nida keluar dari liang kemaluan yang masih dimasuki kontol suaminya.
“Tuntasin aja, bi!” desis Ummu Nida kelelahan.
Tubuh lemas Ummu Nida kemudian kembali terguncang-guncang oleh gerakan kontol suaminya. Cukup lama tubuh montok ummu Nida terguncang-guncang sebelum akhirnya suami Ummu Nida menggeram lantas memeluk istrinya erat. Laki-laki bertubuh kurus namun berkontol besar itu membenamkan kontolnya dalam-dalam. Tubuh Ummu Nida tersentak ketika suaminya juga mengeluarkan mani dengan bergelombang di dasar kemaluannya. Ummhat ini pun balas memeluk suaminya dengan erat.
Kamar yang semula riuh oleh bunyi beradunya dua tubuh yang bersenggama mendadak sunyi. Hanya terdengar dengus nafas keduanya yang masih berpelukan dengan kontol Abu Nida masih tertanam di kemaluan istrinya. Mata Ummu Nida tampak terpejam dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Aku mau ke belakang dulu,” kata Abu Nida sambil mencabut kontolnya dari liang kemaluan istrinya. Ummu Nida mengangguk sambil memandang mesra suaminya.
Rif’ah yang masih mengintip melalui lubang kunci terkejut mendengar Abu Nida ingin ke WC. Dengan cepat akhwat ini masuk ke kamar tempat dia tidur tanpa menimbulkan suara. Abu Nida ternyata perlu waktu sebelum dia keluar kamar, mungkin dia memakai celana terlebih dulu. Rif’ah yang kini berbaring di pembaringan dalam kamar, mendengar Abu Nida masuk ke kamar mandi dan beberapa saat kemudian suami Ummu Nida ini kembali masuk ke kamarnya.
“Main lagi yuk, mi. Ummi belum capek kan?” terdengar suara Abu Nida mengajak istrinya yang membuat Rif’ah berdebar-debar mendengarnya.
“Ah... abi, besok lagi aja… ummi capek, tadi sore habis senam sih.” jawab Ummu Nida beberapa saat. ”Ummi khan nggak semuda dulu, bi.”
“Ah, ummi baru 36 tahun... masih muda.” sanggah Abu Nida.
“Capek, bi. Ummi janji, besok malem lagi yah?”
Abu Nida tidak menyanggah lagi. Terdengar beberapa suara sebelum kemudian suasana kamar suami istri ini akhirnya terdengar sepi, bahkan beberapa saat kemudian terdengar dengkur lirih Abu Nida. Rif’ah yang gelisah berbaring di kamar sebelah, tak berapa lama kemudian akhirnya ikut tertidur.

***

Pagi harinya.

Rif’ah terbangun ketika mendengar pintu kamar diketuk-ketuk cukup keras oleh seseorang.
“Dik Rif’ah, ayo bangun! Sudah siang!” ujar orang yang mengetuk-etuk pintu yang tak lain adalah Ummu Nida.
“Ya, ya, mbak,” jawab Rif’ah meloncat bangun lantas segera menyambar jilbabnya. Di rumah Ummu Nida, Rif’ah memang harus selalu berjilbab jika di luar kamar karena khawatir terlihat suami Ummu Nida. Baru setelah Abu Nida pergi ke kantor, Rif’ah bebas membuka jilbabnya.
“Kok sampai kesiangan, ayo cepat sana!” kata Ummu Nida melihat Rif’ah muncul dari kamar.
“Iya, mbak.” sahut Rif’ah sambil bergegas ke kamar mandi.
Begitu di dalam, Rif’ah segera mandi mengguyur tubuhnya karena semalam dia telah bermasturbasi.
Ummu Nida yang mendengar suara Rif’ah mandi hanya tersenyum penuh arti. “Kok mandi, dik, mimpi apa yah semalam? Kangen sama Faizah ya?” goda Ummu Nida begitu Rif’ah keluar dari kamar mandi.
“Ah... nggak, mbak. Jijik malah ngebayangin Faizah.” sergah Rif’ah.
“Makanya nikah… banyak ikhwan yang mau sama anti kok, atau mau mbak carikan?”
Rif’ah hanya tertawa dan segera masuk ke kamarnya kembali.
Tak berapa lama kemudian Rif’ah keluar kamar dengan jilbab lebar dan jubah panjangnya. Akhwat ini segera pergi ke dapur ketika didengarnya Ummu Nida sibuk di dapur.
Ummu Nida tersenyum melihat Rif’ah muncul di dapur. “Memang semalam mimpi apa kok sampai basah segala?” todong Ummu Nida membuat Rif’ah tergagap.
“Ah, mbak ini… mbak juga pagi-pagi dah mandi,” ujar Rif’ah balik menggoda melihat rambut panjang yang dimiliki Ummu Nida tampak basah.
Ummu Nida yang tengah menggoreng telur, tertawa mendengarnya. “Wajar dong, dik… namanya juga wanita bersuami, anti tahu apa masalah itu?”
Rif’ah memandang sekujur tubuh Ummu Nida yang berbalut daster warna hijau nampak kontras dengan kulitnya yang kuning langsat. Rif’ah teringat kembali tubuh bugil Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Tubuh ummahat separuh baya yang berkulit kuning langsat itu memang montok dan menggiurkan.
“Ngomomg-ngomong umur mbak berapa?”
Ummu Nida menoleh ke arah akhwat cantik ini. “Emang kenapa? Coba tebak.”
“Mbak masih keliatan muda, mungkin 33 tahun.”
Ummu Nida tersenyum mendengarnya. Umu Nida terlihat berpikir sesaat “Tau Intan Savitri, Izzatul Jannah... cerpenis itu?”
Rif’ah mengangguk. Akhwat mana yang tidak kenal dengan cerpenis kondang tersebut, apalagi Rif’ah satu kota dengannya dan dia memang mengenal cerpenis itu secara pribadi.
“Dia adik angkatan. Satu tingkat di kampus.”
“Oo… kalo gitu berarti mbak sekitar 36-37, soalnya setahuku mbak Ije udah 35 tahun?”
“Ya, sekitar itu…”
“Tapi tubuh mbak masih kencang, sintal… padahal anak pertama mbak Nida juga sudah 11 tahun, pantesan abinya betah. Lagian wajah mbak cantik,”
“O ya? Tapi dibandingkan dik Rif’ah masih kalah, ibaratnya mbak dapat nilai 6, dik Rif’ah 8.”
“Tapi payudara mbak gede.” sergah Rif’ah sambil memandang dada Ummu Nida yang membusung indah.
“Yah dulu waktu seumur dik Rif’ah, payudara mbak juga segede dik Rif’ah. Tapi setelah punya anak, jadi bengkak kayak gini. Ntar kalo dik Rif’ah punya anak, juga akan segede mbak.”
Rif’ah tertawa mendengarnya.
Ummu Nida menoleh ke arah Rif’ah. “Daripada nganggur, tolong dik Rif’ah... nasinya diletakkan di meja makan, abinya mau makan dulu, nanti baru kita. Dia lagi buru-buru.”
Rif’ah mengangguk sambil membawa magic jar berisi nasi hangat ke meja makan. Langkah Rif’ah sempat terhenti ketika dia melihat Abu Nida tampak bermain-main dengan Ayyash, anak mereka yang paling kecil dan baru berumur 2 tahun. Laki-laki ini duduk di kursi yang dekat meja makan sementara Ayyash tampak bermain-main di lantai.
Sedikit gugup, Rif’ah meletakkan magic jar di meja makan. Rif’ah sempat melirik ke arah Abu Nida, terutama di bagian selangkangan suami Ummu Nida. Terbayang kembali kontol suami Ummu Nida yang dilihatnya semalam. Namun ketika matanya kemudian memandang wajah pria berbadan kurus ini, Rif’ah kaget ketika ternyata suami Ummu Nida ini tengah memandanginya. Rif’ah menjadi gugup luar biasa dan dengan tergesa-gesa, magic jar itu diletakkan di meja makan dan segera kembali ke dapur.
“Kenapa, dik?” tanya Ummu Nida.
“Nggak papa, mbak. Ada tikus, bikin kaget.” jawab Rif’ah tergagap.
“Oo..” Ummu Nida tersenyum geli.
Rif’ah berusaha menenangkan diri dan meyakinkan diri kalau Abu Nida memandanginya bukan karena perbuatannya semalam. Terbayang kembali kejadian semalam dan dia yakin Abu Nida tidak memergokinya mengintip ke dalam kamar mereka berdua. Rif’ah meyakini bahwa pandangan Abu Nida tadi tak lebih sekedar kekaguman kepada kecantikan wajah yang dimilikinya. Selama ini banyak pria yang betah memandangnya lama-lama, bahkan di kalangan ikhwan sendiri dan Rif’ah menganggapnya wajar saja.
Setelah Abu Nida pergi ke kantor, barulah Rif’ah merasa bebas. Seharian di rumah Ummu Nida, Rif’ah hanya sekedar membantu Ummu Nida sebagai ibu rumah tangga. Memang berulangkali kali Faizah menelpon dan sms ke hpnya tapi atas saran Ummu Nida, semuanya tidak dilayani. Ummu Nida menyatakan akan membantu Rif’ah menghadapi Faizah dan Rif’ah yakin kalau Ummu Nida akan dapat mengatasi Faizah karena dari yang dipahaminya, kemampuan beladiri Ummu Nida lebih tinggi dari Faizah. Lebih dari itu, Ummu Nida berjanji untuk mengusir Faizah dari tempat kost dan memecatnya dari keanggotan Santika di DPD.

***

Malam harinya, walaupun sebelumnya seringkali diliputi rasa bersalah, Rif’ah tak mampu menahan diri untuk kembali mengintip aktivitas Ummu Nida dan suaminya di kamar. Bahkan kali ini persetubuhan sepasang suami istri ini lebih hebat dan lebih lama daripada malam kemarin sebagaimana yang dijanjikan Ummu Nida kepada suaminya. Rif’ah hanya mampu gemetaran di depan lubang kunci pintu kamar suami istri tersebut mengintip persetubuhan mereka berdua yang membuat gadis cantik aktivis ini akhirnya bermasturbasi seperti kemarin malam. Namun tidak seperti kemarin malam, kali ini Rif’ah segera mandi seusai masturbasi, baru kembali tidur.
“Dik Rif’ah suka mandi malam yah?” tanya Ummu Nida beberapa hari kemudian setelah Rif’ah sering mandi malam seusai masturbasi sambil ngintip ummahat ini bersetubuh dengan suaminya..
“Enggh… iya, mbak. Kebiasaan di kost, biar seger aja.” jawab Rif’ah sedikit grogi. Untuk menutupi kegugupannya, dia balik bertanya, “Mbak kok tiap pagi keramas?”
Ummu Nida terkejut mendengar pertanyaan Rif’ah yang tidak diduga. “Nggak tahu tuh abinya…” jawab Ummu Nida sambil tertawa lepas.
Tak terasa hampir seminggu Rif’ah di rumah Ummu Nida dan hampir tiap malam Rif’ah mengintip aktivitas malam Ummu Nida dan suaminya sehingga membuat akhwat ini sangat hafal betul lekak-lekuk tubuh suami istri itu. Rif’ah juga hafal betul bentuk dan ukuran kontol Abu Nida, bahkan gadis ini hafal kalau di pangkal kontol suami Ummu Nida terdapat 2 buah tahi lalat yang cukup besar.
Rif’ah merasa takjub ketika selama dia tidur di rumah Ummu Nida, tiap malam suami istri ini bersetubuh dan yang mendebarkan Rif’ah, gadis ini tahu suami Ummu Nida-lah yang selalu meminta bercumbu tiap malam. Aktivitas mengintip suami istri itu ternyata telah menjadi candu tersendiri bagi Rif’ah dan akhirnya membuatnya sering berkhayal disetubuhi Abu Nida karena diam-diam Rif’ah mengagumi keperkasaan Abu Nida menyetubuhi istrinya tiap malam.
Tepat enam hari Rif’ah berada di rumah Ummu Nida ketika pagi itu Rif’ah diajak bicara oleh Ummu Nida. “Dik Rif’ah, maaf mbak baru cerita sekarang. Kemarin sore Faizah datang ke kantor DPW cari dik Rif’ah.”
Rif’ah tegang mendengar pembukaan cerita Ummu Nida. Ditatapnya ummahat ini dalam-dalam. Ummu Nida mengibaskan sejenak rambutnya yang basah setelah keramas pagi tadi.
Rif’ah tahu betul kalau semalam Ummu Nida telah disetubuhi suaminya kemudian bekas cupang di leher yang terlihat memerah juga bekas gigitan suaminya. Bahkan di balik jubah panjang yang dipakainya pagi ini, Rif’ah tahu bahwa payudara, perut dan selangkangan Ummu Nida penuh dengan cupang bekas gigitan suaminya tadi malam.
“Terus, mbak…” desak Rif’ah sambil mengusir bayangan cupang di leher Ummu Nida yang membuatnya teringat persetubuhan suami istri yang dilihatnya semalam.
”Mbak ceritakan semuanya. Mbak cerita kalau mbak tahu aktivitas dia dan dik Rif’ah, mbak nasehati agar dia insyaf karena perbuatan itu adalah perbuatan yang tidak wajar.”
Rif’ah semakin tegang mendengarnya.
“Faizah marah, dan itu membuat mbak marah. Mbak katakan akan usir dia dan pecat dia dari Santika DPD dan mbak akan ingatkan kepada seluruh akhwat PKS agar berhati-hati dengan dia, akhwat lesbian. Dia ngajak berantem dan hampir mbak layani, untunglah dilerai akhwat-akhwat lainya.”
Rif’ah tertegun melihat wajah Ummu Nida yang tampak memerah, tangannya kini menimang-nimang HP Nokia miliknya.
“Kemudian dia keluar dari kantor DPW tanpa bicara apa-apa. Mbak diamkan dan mbak sms minta maaf kalau telah berbuat kasar kepadanya, dan mbak juga sms bilang belum ada yang tahu, jadi masih ada kesempatan memperbaiki diri. Eh, dasar kurang ajar anak ini, dia malah menantang.”
“Menantang bagaimana, mbak?”
“Anak ini sms kalau dia menantang mbak bertarung, jika kalah dia bersedia untuk dikeluarkan dari PKS secara tidak hormat dan dia berjanji untuk tidak mengganggu dik Rif’ah lagi.”
“Terus…”
“Kalau dia yang menang, dia minta jabatan komandan Santika di DPD dan ingin satu kost lagi dan satu kamar dengan dik Rif’ah…”
Rif’ah ternganga mendengarnya. Wajah cantiknya kontan pucat pasi mendengar ucapan Ummu Nida.
“Kalau misalnya dik Rif’ah tidak mau, dia minta wanita pengganti untuk memuaskan nafsunya yang menyimpang.”
Wajah Rif’ah sudah pucat pasi dan gadis cantik berjilbab ini hanya tertegun tak mampu berkata apapun.
Ummu Nida tersenyum. “Tapi tenang aja, dik… anak itu tidak mungkin menang.” tandas Ummu Nida, ”Dia khan baru sabuk hijau, masih dua tingkat di bawahku. Kalaupun naik, paling banter dia sabuk coklat.”
“Jadi mbak sudah mengiyakan tantangannya?”
Ummu Nida mengangguk. “Tempatnya nanti di Markas DPD Kota... Ummu Rosyid, komandan Santika DPD yang akan menjadi juri.”
Rif’ah mengenal Ummu Rosyid, seorang ummahat PKS mantan menwa saat dia masih kuliah dan suaminya adalah ketua DPD Kota.
“Apa hari ini di kantor DPD nggak banyak orang? Terus apa Ummu Rosyid tahu kesepakatan ini?”
“Tidak, dik Rif’ah tahu khan DPD sementara lagi reses, jadi para pengurusnya belum pada ngantor. Masalah kesepakatan, Ummu Rosyid hanya tahu kalau mbak kalah, dia akan menyerahkan komandan Santika DPD kepada Faizah”
Rif’ah bergetar. Akhwat berhati lembut ini tak mampu menahan air matanya. Tak disangka persoalannya menjadi rumit. Dipeluknya Ummu Nida dan dia menangis di pelukan ummahat ini. Rif’ah merasa bersalah telah merepotkan akhwat di PKS.
“Sudah, dik. Mbak juga tidak mau kalah… doakan mbak ya! Bentar, aku mau bicara dengan abinya anak-anak.” kata Ummu Nida ketika melihat suaminya telah muncul dengan mobil sewaan dan sopirnya. Hari ini mereka berdua berencana menjemput Nida dan Yasmin di rumah neneknya yang berjarak sekitar 60 km dari kota tersebut.
Rif’ah melihat Ummu Nida menghampiri suaminya yang berada di mobil sewaan bersama Ayyash. Cukup lama suami istri ini berbicara, namun Rif’ah tak terlalu memperhatikan karena pikirannya tegang teringat ucapan Ummu Nida. Suatu hal yang mengerikan kalau dia harus satu kamar dengan Faizah akan terulang lagi. Jika dia tidak bersedia melayani Faizah, apakah ada perempuan yang mau menggantikannya? Rif’ah menjadi gelisah, namun keyakinannya mantap kalau Ummu Nida akan mudah mengatasi Faizah.
“Pagi ini dik Rif’ah ada acara?” tanya Ummu Nida membuyarkan lamunan Rif’ah.
Rif’ah terkejut mendengarnya. “Eh... iya, mbak. Kebetulan ada jadwal ke kampus pagi ini sampai siang atau sore.” jawab Rif’ah. ”Mungkin kita bisa berangkat bareng, nanti mbak turun di DPD.”
“Jangan, sebaiknya kita berangkat sendiri-sendiri. Repot kalau dia melihat dik Rif’ah,” kata Ummu Nida.
“Saya doain, mbak… biar mbak menang.”
“Pasti itu, dik!” sahut Ummu Nida mantap sambil mengantar Rif’ah ke teras rumah. Mobil sewaan itu tidak ada lagi, jadi rupanya Ummu Nida minta ditinggal dan biar Abu Nida dan Ayyash yang menjemput.
“Mbak berangkat sekarang?”
“Ya, sama Ummu Rosyid.”
Selesai Ummu Nida bicara, tiba-tiba muncul seorang wanita berjilbab lebar bersepeda motor. Ummu Nida tersenyum melihatnya.
“Itu Ummu Rosyid sudah datang.” kata Ummu Nida bergegas masuk ke rumah mengambil segala hal yang diperlukan.
Rif’ah menyalami Ummu Rosyid, berpelukan dan saling menempelkan pipi. Akhwat ini sempat berbincang sejenak dengan Ummu Rosyid sampai Ummu Nida keluar dari rumahnya. Ummu Nida sempat berbincang dengan Ummu Rosyid sebentar sebelum dia naik ke boncengan motor.
“Hati-hati ya, mbak.” kata Rif’ah ketika akhirnya kedua ummahat itu meninggalkan rumah. Rif’ah pun segera menyalakan motornya dan kemudian meluncur ke jalan raya dengan arah yang berlawanan dengan arah yang ditempuh Ummu Rosyid dan Ummu Nida.

***

Sesampainya Ummu Nida dan Ummu Rosyid di kantor DPD, gedung itu terlihat lengang. Sama sekali tidak ada aktivitas perkantoran seperti hari-hari biasa. Ummu Rosyid membuka pintu utama dengan kunci yang dibawanya. Sebagai seorang kader senior, Ummu Rosyid memang diberi kepercayaan untuk memegang kunci kantor DPD. Kedua ummahat yang masih bertubuh sintal itu pun langsung menuju ke ruang serbaguna yang ada di bagian belakang gedung DPD untuk bersiap-siap.
Tak berapa lama, mereka mendengar suara motor yang tengah diparkir di halaman depan. Mereka pun langsung tahu siapa pemilik motor tersebut. Dengan ketukan sepatu kets yang berdecit, Faizah juga memasuki ruang serbaguna.
“Assalamualaikum Ummu Nida, Ummu Rosyid,” ujar akhwat berkulit gelap itu sambil tersenyum.
“Waalaikumsalam warahmatullah, Faizah,” jawab Ummu Nida yang kemudian diikuti juga oleh Ummu Rosyid.
Tanpa basa-basi, Faizah langsung menuju kamar mandi untuk berganti pakaian, sementara Ummu Nida sudah siap dengan pakaian bela dirinya.

***

Rif’ah begitu kesal, dosen yang harus ditemuinya di kampus hari ini berhalangan hadir. Ia pun kembali pulang ke rumah Ummu Nida. Untung Ummu Nida telah meminjamkan kunci serep kepadanya.
Sambil memainkan HP di dalam kamar, Rif’ah begitu penasaran dengan apa yang terjadi di kantor DPD. Sebenarnya ia begitu ingin menonton langsung duel antara Ummu Nida dan Faizah, karena hasil duel tersebut akan menentukan kelanjutan hidupnya. Namun ia juga membenarkan nasihat Ummu Nida, kalau kehadirannya di sana bisa membuat Faizah melakukan hal yang tidak-tidak.
“Tok, tok…” Tiba-tiba terdengar ketukan di pintu kamar Rif’ah. Dalam kondisi setengah terkaget, ia yang masih mengenakan jilbab panjangnya langsung melompat dan setengah berlari ke arah pintu.
Rif’ah hanya membuka pintu itu sedikit, dan ternyata sudah ada Abu Nida yang berdiri di sana. Ia masih mengenakan baju koko berwarna putih dan celana panjang berwarna hitam, pakaian yang sama dengan yang dikenakannya ketika berangkat tadi pagi.
“Ada apa, Abu? Tumben sudah pulang?”
“Iya, setelah mengantarkan Ayyash, Abu baru sadar kalau dompet Abu ketinggalan. Sekarang Abu cari tidak ketemu, bisa Rif’ah bantu Abu mencari?” ujar Abu Nida sambil tersenyum.
Di mata Rif’ah, senyum Abu Nida itu begitu jantan dan menenangkan. Tanpa kecurigaan sedikit pun, ia pun menuruti perintah Abu Nida. “Di mana terakhir Abu melihat dompet itu?”
“Di kamar Abu dan Ummi, Ukhti Rif’ah.”
Rif’ah pun langsung menuju kamar Abu Nida dan Ummu Nida, sementara Abu Nida mengikuti dari belakang. Walau masih tertutup jubah dan jilbab panjang, tubuh Rif’ah yang seksi masih bisa terlihat jelas, apalagi bokongnya yang begitu montok dan menonjol. Hal inilah yang sejak lama menghantui pikiran Abu Nida. Karena itu begitu Ummu Nida mengatakan kalau Rif’ah akan menginap, ia langsung mengiyakan. Namun, sebenarnya ia tidak sampai membayangkan akan berduaan saja dengan junior istrinya itu seperti sekarang ini.
Di dalam kamar, Rif’ah langsung mencari dompet Abu Nida di seantero ruangan. Ia bahkan sampai menungging untuk mencarinya di kolong tempat tidur. Ketika ia berdiri, tiba-tiba sepasang tangan telah merangkul tubuhnya dari belakang. Rupanya Abu Nida sudah berdiri di belakangnya dan memeluk tubuh akhwat cantik yang montok dan sintal itu. Mungkin karena tidak ada ruang gerak lagi, akhirnya Rif’ah pasrah dirinya dipeluk Abu Nida dari belakang. Selain itu Rif’ah sendiri sering berkhayal untuk berdua dengan Abu Nida.
Tercium bau wangi shampoo dari rambutnya. “Aduh dik Rif’ah, rambut kamu wangi ya?” ujar Abu Nida sambil meraih rambut Rif’ah dengan memasukkan tangannya ke dalam jilbab panjang yang dikenakan akhwat cantik itu.
”Abu Nida, jangan! Aku geli, Abu!”
“Emang dik Rif’ah nggak pernah dibuat kayak gini?”
”Nggak pernah, Abu, saya nggak pernah dipeluk…”
”Aah, masak? Alangkah bodohnya para ikhwan yang sering dekat denganmu,” ujar Abu Nida sambil kembali memeluk perut Rif’ah dari belakang. Tampak dari cermin wajah akhwat cantik itu terlihat terkejut dan memerah. Waktu Abu Nida menaikkan pelukan ke dada, tangan akhwat cantik itu langsung disilangkan ke depan.
”Abu Nida, apaan sih? Aku malu, Abu!” lirih Rif’ah sambil berputar ke arah depan Abu Nida.
Abu Nida melihat wajah Rif’ah yang bersemu kemerahan, dengan cepat ia mempererat pelukan hingga wajah mereka mendekat. Tidak lama bibir Rif'ah segera dilumat oleh Abu Nida.
Awalnya lidah Rif’ah begitu pasif, walau tangannya sudah memeluk badan Abu Nida. Abu Nida merasakan badan akhwat cantik itu gemetar menyambut ciuman darinya, detak jantung mereka seolah seirama. Saat bibir akhwat cantik itu terbuka, Abu Nida langsung memasukkan lidahnya. Ragu-ragu Rif’ah menyambut lidah Abu Nida. Libido Rif’ah terpacu dan gairah seksnya semakin meninggi.
Perlahan tangan Abu Nida menyusuri punggung dan menarik risluiting jubah akhwat cantik itu ke bawah sampai ke ujung pantat. Abu Nida meraba naik turun dari pantat menuju ke perut. Perlahan kaitan bra Rif’ah dibuka olehnya. Abu Nida merasa kalau semakin diraba, nafas akhwat cantik itu menjadi berat dan pendek-pendek.
“Abu, jangan! Abuu… ah!” rintihan yang keluar dari mulut Rif'ah ketika tangan Abu Nida mulai menjamah ujung celana dalam yang menggantung di pantatnya, lidahnya semakin liar seiring tangan Abu yang menuju gundukan pantatnya.
“Ah… uh… Abu Nidaaaa…”
Tangan Abu Nida meremas lembut gundukan pantat akhwat cantik itu hingga kaki Rif'ah berjinjit naik seiring tekanan dan remasan tangan Abu Nida. Kukunya mencengkeram erat punggung Abu Nida. Ciuman Abu Nida pun berpindah menyusuri leher jenjang Rif'ah yang telah banjir keringat dengan cara memasukkan kepala ke balik jilbab akhwat cantik dan sintal ini. Perlahan Abu Nida mengecup leher putih Rif’ah.
“Eerrrrhh… abuuu!” tubuh Rif'ah mengejan dan merapat ke tubuh Abu Nida.
Tangan Abu Nida kini menjelajah punggung dan pantat Rif'ah, lalu turun ke belahan paha. Dengan sedikit sentakan, kedua tangan Abu telah melorotkan celana dalam akhwat cantik ini. Tangan kanan Abu membelai lipatan pantat dan merasakan anus Rif’ah yang lunak.
“Uuh… abuuu, aku geli...” desah Rif'ah setiap kali Abu menyentuh anusnya.
Ciuman Abu Nida telah meninggalkan cupang merah di leher akhwat cantiik ini. Tangan Abu Nida pun meraih pundak Rif'ah dan berhasil menurunkan jubahnya ke samping hingga melorot ke dada Rif’ah yang montok dan masih begitu kencang. Jubah Rif'ah tertahan oleh lekuk payudaranya yang menonjol. Bibir Abu Nida langsung turun ke dada montok akhwat cantik ini, bra yang telah terlepas kian melonggar dan memberi kesempatan bagi Abu Nida untuk mengecup payudaranya. Sementara tangan Abu telah berpindah menyusuri ketiak.
Tampak puting kemerahan yang tidak pernah terjamah oleh laki-laki, tangan Abu Nida pun menyusuri kedua payudara. Kecupan Abu Nida menjelajah di antara ketiak dan daerah sekitar payudara, tubuh Rif’ah kian menggelinjang menahan kenikmatan.
”Abu, aku geli, abuuu!” Kedua tangannya merangkul dan menekan kepala Abu Nida ke payudara, nafasnya semakin memburu.
Abu Nida menempelkan telinga ke dada montok akhwat cantik ini, detak jantung Rif’ah terdengar semakin kencang. Tiba-tiba Abu membalikkan badan Rif’ah menghadap ke cermin, merah padam wajah gadis itu melihat tangan Abu Nida telah memegang payudaranya, kedua putingnya ditaruh di antara jari-jari Abu, kemudian secara cepat Abu Nida melucuti jubah yang masih separuh menutupi tubuh akhwat cantik ini berikut celana dalam dan bra.
Abu Nida cepat membuka baju dan celananya sendiri. Dia lalu mendudukkan Rf’ah ke pangkuannya, tangan kanan akhwat cantik ini diarahkan ke penisnya. Rif’ah terkejut dan berusaha menarik tangannya, tapi Abu Nida buru-buru merapatkan badan.
“Pegang saja, kumohon!”
Tubuh Rif'ah melemas waktu Abu Nida menarik puting dadanya dengan tangan kiri. “Och... Abuuu!” lirihnya.
Dengan jemarinya, Abu Nida memelintir puting yang masih kencang itu. Tubuh Rif’ah mengejan, punggungnya menempel ke dada Abu dan tangan kanannya meremas penis Abu dengan lembut.
”Enak, dik Rif’ah?”
“Aah… Abuuu!” Cuma itu yang bisa keluar dari mulut Rif'ah di antara puncak birahinya. Bibir Abu Nida tak henti-henti mengecup tengkuknya dan tangan Abu Nida begitu aktif menarik kedua puting hingga badan akhwat cantik ini bergemetaran.
Abu memangku Rif'ah di atas paha, dia membuka kedua paha akhwat cantik itu hingga menampakkan jajaran jembut yang menghiasi bukit kemaluan. Ketika kepala Rif'ah diarahkan ke belakang, Abu Nida langsung mencium bibirnya dengan saling membelitkan lidah, kemudian tangan Abu Nida turun membelai helaian jembut. Tangan kiri Abu Nida yang aktif memilin puting payudara dan yang kanan membelai jembut. Suatu pemandangan yang eksotis. Mengingat Rif’ah adalah seorang akhwat cantik alim, yang sehari-hari memakai jilbab panjang dan jubah. Hari ini semua lekuk-lekuk yang tertutup itu bisa dilihat dan dinikmati oleh Abu Nida.
Puting Rif’ah telah memerah karena ditarik dan dipilin Abu Nida, keringat deras mengalir di dada dan punggung akhwat cantik ini, tangannya tetap meremas-remas penis Abu Nida dengan lembut. Ketika tangan kanan Abu Nida mulai turun dan menyusuri bukit kemaluannya, tubuh Rif'ah menggeliat dan menggigil. Abu Nida mencari benda sebesar kacang di ujung bukitnya. Ketika Abu Nida mendapatkannya, ia langsung menekannya perlahan.
“Owwwuuuhhhhh… Abuu! Kau apakan tubuhku ini, Abuu?”
”Rileks, dik Rif’ah. Enak bukan?”
”Uuhhhhh... ssshh…” Rif’ah  meracau sambil meremas penis Abu Nida. Tangan Abu Nida kemudian mengusap ke klitoris akhwat cantik ini.
”Sssssssh... aaaah...” desah Rif'ah ketika tangan Abu Nida menyapu klitorisnya. Perlahan tangan kiri Abu turun menelusuri labia mayora. Abu Nida menarik salah satu labia mayora, digosok dengan jempol dan jari telunjuk.
”Abuu… geli…” teriak Rif’ah sambil kepalanya mendongak dan berusaha merapatkan kaki, tapi tertahan oleh kedua paha Abu Nida. Nafasnya semakin tersengal manakala tangan kanan Abu Nida dengan gerakan vertikal menggosok lubang kencing dan klitorisnya.
”Abuuu… pingin pipis!”
“Pipis aja, dek Rif’ah. Nggak usah ditahan!” Abu mempercepat putaran tangan pada klitoris gadis itu.
”Aah… ah… ahh… Abuuu, aku pipisssss!” Rif'ah mengangkat kedua pahanya dan dirapatkan di atas paha Abu Nida.
Abu Nida merasakan klitoris akhwat cantik ini berkedut-kedut dan cairan hangat meleleh dari sela pahanya yang turun dan membasahi paha Abu Nida. Abu Nida melihat dari cermin di mana dada Rif'ah tampak begitu membusung dan kepalanya mendongak ke atas disertai dengan hentakan badannya yang menggelinjang tidak karuan. Abu Nida merasa sedang menyaksikan pemandangan yang luar biasa.
Badan Rif'ah kemudian melemas, dan Abu Nida pun perlahan menurunkan tubuh Rif'ah dari pahanya dan menidurkan akhwat cantik yang montok dan sintal tersebut di atas dipan yang ada di kamar. Nafas Rif’ah masih memburu dan butiran keringat pun masih membasahi wajah dan tubuhnya. Abu Nida menurunkan ciumannya ke hidung Rif'ah, lalu kedua pipi, tak lupa ia juga mencium bibir, hingga lidah mereka kembali saling membelit. Ketika Abu Nida  mengangkat kepalanya, kepala akhwat cantik ini juga terangkat seolah tidak mau melepas bibir Abu Nida.
Abu Nida pun mengambil posisi di samping kanan Rif’ah, tangan kiri Abu Nida merangkul pundak akhwat cantik ini melewati leher dan mengelus payudara kiri. Perlahan bibir Abu Nida turun ke leher akhwat cantik ini dan tangan kanannya mengelus payudara dan puting. Lidah Abu Nida tampak ikut berputar di payudara sebelah kanan dan kiri bergantian sambil menyusuri wangi ketiak Rif’ah. Dada Rif’ah terangkat bergelinjang menahan geli ketika lidah Abu Nida menelusuri bagian bawah payudaranya. Tangan Rif'ah pun kembali menekan kepala Abu Nida.
“Dik Rif'ah, boleh aku mencium putingmu?”
Wajah akhwat cantik ini memerah seketika, kemudian matanya terpejam dan menganggukkan kepala. Abu Nida pun langsung menyergap puting sebelah kiri Rif'ah yang sudah menonjol merah, menghisap lembut dan menjilat dalam mulutnya melingkar-lingkar.
“Aaah... ssshhh…” Tangan kanan Rif'ah secara releks langsung mengelus punggung Abu Nida dan tangan kirinya menekan kepala laki-laki itu.
Abu Nida merasakan keringat asin dari puting akhwat cantik ini dan merasakan getaran tubuhnya yang menandakan kalau dia adalah lelaki pertama yang menyentuhnya. Tangan kiri Abu Nida tampak begitu aktif memilin puting yang lain, sedangkan tangan kanannya menarik punggung Rif'ah. Punggung tersebut telah dibasahi keringat, kelembutan punggungnya menandakan kalau Rif'ah sama sekali belum pernah dijamah laki-laki. Kemudian bibir Abu Nida pun beralih ke puting kanan Rif'ah, meninggalkan bekas gigitan di sekitar puting kirinya.
“Ahh… uuh…” suara desahan yang keluar dari bibir Rif’ah di saat putingnya tenggelam di bibir Abu Nida.
Abu Nida menggigit lembut, menariknya ke atas, hingga Rif’ah meremas-remas sprei sambil tangan kirinya menekan tengkuk Abu Nida. Sementara tangan kanan Abu menggapai klitorisnya. Masih meleleh lendir licin keluar dari memek akhwat cantik ini saat Abu Nida mengusap vagina dan menggunakan lendirnya untuk membasahi klitoris. Mata akhwat cantik ini kembali mendongak bergetar, hanya terlihat warna putih di kelopak matanya. Abu Nida menggigit puting kiri dengan cepat. Kedua tangan Abu melesat mengangkat pantat, terlihat warna pink di sekitar kemaluan Rif'ah hingga membangkitkan gairah Abu Nida.
”Abu Nida… jangan!!” jerit Rif’ah saat melihat kepala Abu berada di antara kedua pahanya, dengan lembut Abu menjilat klitorisnya.
”Aah… Abuu… jangan!” Tubuh Rif’ah mengejan melengkung, kedua tangannya mencengkram sprei dan kepalanya kembali terdongak.
Abu Nida mamasukkan ujung klitoris gadis itu ke bibirnya sampai semua masuk, lalu menggigit pelan-pelan.
“Aah… aah… aduh… Abuuu! Aku ngilu!” Kedua paha akhwat cantik ini menjepit erat kepala Abu Nida. ”Abuu… aku mau pipis lagi, Abuu!”
Kepala Abu tersangkut di paha Rif’ah saat air mani gadis itu mengalir dari lubang pipis mengenai lidahnya. Waktu dicecap rasanya seperti meminum bir pahit. Tampak lelehan lendir membasahi sprei di bawah pantat Rif”ah. Abu Nida mengamati wajah gadis itu yang sudah mencapai orgasme, benar-benar menggetarkan, lalu Abu Nida membuka paha akhwat cantik itu dan menindih tubuhnya.
Rifah membuka mata. “Abu Nida, jangan! Aku masih perawan! Kasihani aku, Abu!” Setitik air mata keluar dari ujung matanya.
Abu Nida pun kembali beringsut ke samping.
”Te-terima kasih, Abu. Aku dari semula memang mengagumimu, makanya aku rela engkau jamah.”
”Terima kasih, dik Rif’ah. Maafkan, aku khilaf!”
Rif’ah bangkit dan duduk di dipan, matanya melihat burung Abu Nida yang mengacung keras. ”Iih, Abu masih terangsang?”
“I-iya, dik Rif’ah, kan aku belom nyampe tadi.”
Tiba-tiba tangan Rif’ah meraih penis Abu. “Ini ya, Abu, yang namanya kontol? Ih, ngeri aku!”
“Ngeri kalau dilihat, kalau dirasain entar juga enak!”
“Aah, aku nggak mau, Abu. Aku khan masih perawan.”
”Eeh, siapa suruh masukin ke memek? Masukin ke lainnya juga boleh.”
Rayuan Abu Nida mulai mengena, Rif’ah mulai meremas-remas penisnya. ”Maksudnya, Abu?”
“Masukin mulut dong…”
“Nggak ah, jijik…”
”Bentar aja.”
Tapi Rif’ah tetap menggeleng.
“Ya udah kalau nggak mau, kamu cium bentar aja. Tadi aja aku udah jilatin memekmu.”
Dengan ragu Rif’ah mendekatkan penis Abu Nida ke bibirnya. Awalnya hanya satu kecupan, kemudian disusul dengan kecupan-kecupan yang lain. Kemudian perlahan penis Abu Nida dijilat-jilat, lalu Rif’ah membuka mulutnya dan memasukkan kepala penis itu ke dalam. Rasa ngilu langsung menyergap Abu.
”Aduh, dik Rif’ah, jangan pake gigi…”
Perlahan-lahan penis Abu ditelan bibir Rif’ah yang seksi, rasa hangat dan nikmat terasakan. Sekarang tampak pemandangan gadis berjilbab lagi menghisap kontol, Abu Nida semakin terangsang. Selama 20 menit Rif’ah memainkan kontol Abu di dalam mulutnya.
”Aduh, Abu… aku pegal!”
”Oke, mending kamu di sini, berbaring aja.”
Rif’ah beringsut mengambil posisi tidur di sebelah Abu Nida. Dia menggaruki selangkangnya.
”Kenapa, dik Rif’ah?”
”Gatal, Abu.”
“Ohhh… itu normal, tadi khan darahnya ngumpul di ujung.” Tangan Abu Nida membelai klitoris akhwat cantik ini yang ternyata masih memerah dan keras.
“Sssshhhh… Abuuu!” Rif’ah mendesis sambil merapikan jilbabnya. Jilbab yang dikenakan adalah semacam jilbab lebar yang dikaitkan dengan peniti, jadi ada belahan di tengah. Kembali tangan Abu menyusup ke dalam dan mengelus-elus payudara akhwat cantik ini. Mata Rif’ah kembali sayu karena tubuhnya kembali dikuasai rangsangan.
”Dik Rif’ah, anti percaya khan Abu nggak bakal bobol perawanmu?”
“Rif’ah percaya, Abu… Terus harus gimana?”
”Ana pingin ngegesekin kontol ana ke paha anti. Boleh kan?”
”Cuma paha?”
Abu Nida mengangguk.
“Boleh, Abu. Tapi janji ya, jangan dimasukin.”
Abu Nida segera menindih tubuh molek Rif’ah. ”Sekarang rapatkan pahamu!”
Rif’ah merapatkan pahanya.  
”Dik Rif’ah, buka dikit pahanya trus rapetin lagi, ya?”
Rif’ah mengangguk dan membuka pahanya. Abu Nida menempatkan kontolnya di antara paha akhwat cantik ini, kemudian dirapatkan lagi.
”Udah, dik Rif’ah? Nggak kena lubang kan?”
”Iya, Abu…”
Abu Nida menaruh tangannya di atas dada akhwat cantik yang masih tertutup jilbab ini.
”Eehhhhhh… Abu! Geli banget, udah hampir ke lubang!”
Abu Nida mengatur kedua tangannya di belakang punggung akhwat cantik ini. ”Segini?”
”Iya, Abu…”
Pelan-pelan Abu Nida mulai menaik-turunkan kontolnya, secara perlahan gerakan kontol Abu mendekati lubang memek Rif’ah. ”Enak, dik Rif’ah?”
Abu Nida menatap wajah akhwat cantik yang dibalut oleh jilbab itu, wajah Rif’ah bersemu merah, ia membuang muka. Abu Nida mencium bibirnya yang merah, menyedot bibir bawah dan menjilati bibir atas. Rif’ah menutup mata, seolah merasakan desakan birahi. Gerakan kontol Abu benar-benar sudah tepat di lobang memeknya, hal itu ditandai oleh bunyi kecipak.
”Abu?!”
”Hmmm...”
”Aku mencintaimu… aku mengagumimu!”
Semakin Abu Nida mempercepat gerakan, Rifa’h semakin mengelinjang, semakin tersingkap pula jilbab yang menutupi payudaranya. Abu menggigit pelan putingnya, perlahan paha Rif’ah melebar ke kiri ke kanan. Kontol Abu telah menggesek memek Rif’ah yang sangat basah.
Memandang Rif’ah yang sudah terserang birahi membuat dada Abu seolah meledak, Abu Nida menaruh tangan di atas payudara akhwat cantik ini sementara tangan satunya membantu kontolnya untuk menggosok vagina Rif’ah. Perlahan kontol Abu mendesak masuk ke dalam memek, perlahan namun pasti paha gadis itu semakin dilebarkan.
”Abuuu.... trus, Abuuu…” Antara nafsu dan janji, perlahan kata hati Abu Nida menguasai pikiran Rif’ah.
Abu Nida melambatkan gesekan, lalu mencabut ujung kontol dari memek Rif’ah. Abu Nida menghempaskan tubuh ke samping Rif’ah. Perlahan Rif’ah membuka mata.
”Kenapa, Abu? Aku sudah hampir nyampe? Nggak enak ya?”
“Tidak, maafkan aku. Aku hampir merenggut kesucianmu.”
”Hah? Kenapa berhenti, Abu?”
”Aku juga sering mengagumi, dik Rif’ah.”
Tiba-tiba Rif’ah memeluk Abu Nida, ”Kau sungguh laki-laki yang menepati janji. Ijinkan ana melayani antum, Abuu!” Dia menaiki tubuh Abu Nida. ”Aku juga akan menggesek pahaku, Abu.”
Perlahan tapi pasti kontol Abu Nida bergesekan dengan klitorisnya, kontol Abu Nida ditindih dengan rapat dalam posisi horisontal. Kontol Abu Nida perlahan menjadi basah oleh lendir kewanitaan akhwat cantik ini. Dengan menggunakan jari kanan, Abu Nida meraba klitoris Rif’ah yang menyebabkan lubang kenikmatannya mundur ke belakang sehingga tepat berada di atas kontolnya. Rangsangan jari Abu Nida membuat Rif’ah menggeleng-gelengkan kepala, tampak jilbab yang dikenakannya menjadi longgar sehingga membuat rambutnya menyembul.
Tangan Abu Nida meraih puting susu akhwat cantik ini yang tampaknya semakin terangsang. Rif’ah menempatkan payudaranya tepat di mulut Abu. Dengan sekali gerakan, Abu Nida meraih puting kiri, digigitnya pelan-pelan dan dikulum dengan buasnya. Perlahan tangan Abu berpindah menarik punggung Rif’ah agar dada akhwat cantik ini dirapatkan ke dadanya. Rasa hangat menerpa dada Abu, keringat mereka saling menyatu.
Abu Nida menempatkan kontol ke posisi vertikal. Rif’ah kemudian mengesek naik turun kontol Abu Nida yang sudah berada tepat di belahan memeknya. Bibir Abu Nida menggigit lembut pundak akhwat cantik ini dan tangannya mengelus pantat bulatnya, Abu Nida menarik keluar sebagian labia mayora hingga menggesek batang kontolnya.
Wajah horny Rif’ah sungguh luar biasa, jilbabnya sudah melorot ke leher, matanya membeliak tiap kali jari Abu menusuk-nusuk lubang memeknya, tubuhnya beringsut mundur sehingga kepala kontol Abu Nida masuk ke dalam vaginanya yang telah banjir oleh lendir cinta. Lidah mereka saling bertautan, nafas mereka semakin memburu. Kepala kontol Abu Nida tenggelam di gerbang vagina Rif’ah, tempo gesekan semakin cepat.
Saat separuh batang Abu Nida hampir masuk, ada suatu lapisan liat yang menghalangi, Abu Nida tau kalau itu adalah selaput dara. Abu Nida melihat Rif’ah tertunduk melihat kemaluannya dengan menggigit bibir. Abu Nida melihat seberkas keraguan, tapi di saat ujung topi baja kontolnya keluar dengan cepat, Rif’ah memasukkan kembali sebatas penghalang.
“Miliki ana, Abuu…”
Dengan menarik nafas panjang, Rif’ah menaikkan tangannya di atas dada Abu. Pinggulnya bergerak sedikit melengkung, berusaha memasukkan seluruh batang kontol Abu hingga ke dasar vaginanya.
Blesshh!!
“Ahhh… abuuu! A-aku…” Tubuh Rif’ah langsung roboh ke tubuh Abu.
Abu Nida mengangkat pantat agar kontolnya tidak lepas dari jepitan vagina. Mereka terdiam sesaat. Rif’ah mengangkat wajahnya yang dihiasi senyum walaupun ada air mata di sudut mata.
”Perih, Abu! Sakit!” rengeknya.
”Iya, dek, nanti coba digesek pelan-pelan.”
Perlahan Rif’ah mulai menaikkan pantatnya. ”Sssssshhhhhh… Abuu…” Tubuhnya diangkat ke atas dengan hanya bertumpu pada lutut.
”Coba jongkok, ukhti Rif’ah, biar Abu lihat!”
Rif’ah berjongkok dengan kontol Abu masih tersarung di memeknya. Abu melihat darah merah mengalir di sela-sela batang kontolnya.
”Sssshhhh... Abu, aku ngilu!” desis Rif’ah sambil mengangkat pantatnya.
Abu Nida menahan pinggul akhwat yang sintal itu agar kontolnya tidak lepas dari himpitan vagina. Lalu mulai memompa.
“Abu… ouch!” Rif’ah merintih. Kontol abu keluar masuk dengan lancar di lorong kemaluannya, tiap kali ditarik vaginanya seolah ikut tertarik.
Rasanya kontol Abu Nida dipilin-pilin oleh dinding memek, juga diurut lubang peret dari perawan Rif’ah. Lubang yang sempit itu lama kelamaan semakin menjepit kontol Abu Nida seiring dengan makin terangsangnya gadis itu. Lututnya kembali diturunkan, jembut mereka menyatu. Tangan Abu aktif meremas dan memilin puting akhwat cantik ini. Gesekan yang dirasakan kontol Abu Nida keluar masuk vagina Rif’ah semakin terasa, ditambah denyut-denyut di dalam memek tiap kali Rif’ah memasukkan kontol. Abu Nida mengangkat pantat dan pinggul agar penetrasinya semakin dalam.
”Abu, ana mau nyampe…”
“Iya, ukhti, kita sama-sama. Di dalam apa di luar?”
Rif’ah tidak menjawab, ia hanya menggeram nikmat.
Abu juga merasakan ujung kenikmatannya akan tercapai. “Ooch… ah… uh…” Nafasnya semakin pendek-pendek dan berat. ”Ukhty Rif’ah, Abu juga mau nyampe.” Digigitnya bibir seolah menahan kenikmatan. Akhirnya tidak lama lahar Abu sudah mendesak keluar. ”Ukhty… Abu nyampe… ahhhh…” Dengan kerasnya Abu Nida mengangkat pantat, laharnya menyembur memenuhi lorong memek Rif’ah.
Rif’ah sendiri masih bergoyang di atas kontol Abu. “Abuuu… aku juga…”
Tiga goyangan, Rif’ah mengejan di atas tubuh Abu. Abu merasakan tubuh akhwat cantik ini melengkung dan kepalanya mendongak, kemudian turun cepat ke dadanya. Tangan Rif’ah memeluk tubuh Abu dan kukunya menancap di punggung laki-laki itu, dada mereka saling menempel hingga Abu Nida merasakan detak jantungnya yang cepat. Kontol Abu Nida serasa diurut-urut oleh vagina akhwat cantik ini, tangan Abu memeluk tubuh Rif’ah erat.
Sepuluh detik gadis itu terdiam diiringi helaan nafas yang memburu menyembur di telinga abu. Setelah birahi melanda, keringat mereka saling melekat satu sama lain. Abu Nida membiarkan Rif’ah beristirahat di atas tubuhnya, tak lama kemudian kontol Abu Nida mengecil dan keluar dari jepitan vagina. Terasa lendir mereka meleleh turun mengalir di sela paha dan membasahi sprei.
Rif’ah menggeser tubuhnya di sebelah Abu Nida, dengan posisi miring dia memeluk. Tampak wajah cantik dan hidung yang mancung dipenuhi buliran keringat, Abu Nida mencium kening dan rambutnya.
“Maafkan ana, Ukhty Rif’ah.”
“Kita khilaf, Abu! Bagaimana kalau ana hamil?”
“Kamu jadwal mens-nya kapan?”
“Tiga hari yang lalu aku selesai mens, Abu.”
”Oh berarti nggak bakal hamil, karena anti belum subur.”
Rif’ah lega mendengar hal itu. Lima menit kemudian dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi, Abu Nida mengamati jalannya agak mengkangkang dengan sekali-kali tangannya mengusap selangkangan. Abu Nida kemudian melepas sprei yang bernoda darah dan bercampur dengan spermanya sendiri, agar Ummu Nida tidak mengetahui kejadian barusan.
Setelah 10 menit, Rif’ah kembali ke kamar dengan keadaan jilbab yang terpasang rapi, tapi tubuhnya masih telanjang. ”Abu, kok kayaknya di selangkangan ana masih ada yang nyangkut? Terus lubangku kok tambah lebar?” tanyanya lugu kepada Abu Nida.
“Itu biasa kalau pertama ML, masih peret berarti.” Jawab Abu Nida sambil tangannya mengusap klitoris Rif’ah.
“Abu, jangan! Aku geli. Khan udahan! Mana bra dan cd-ku, Abu?”
Mereka mencari bra dan celana dalam Rif’ah yang terselip di sprei yang dibereskan Abu Nida tadi. Cukup lama mereka mencarinya. Dengan tubuh bugil dan hanya mengenakan jilbab saja, Rif’ah berjongkok di atas kasur melihat barangkali dalamannya jatuh ke samping tempat tidur. Pantatnya menungging ke arah Abu, memperlihatkan belahan memeknya yang masih segar kemerahan. Tak terasa kontol Abu Nida mulai bangun lagi. Cepat dia mencengkram pantat yang padat itu, lalu menjilat memek merahnya.
“Abu ini apaan sih? Geli, Abu!” Rif’ah hanya menggoyangkan pantatnya. Di bawah sinar lampu, tampak memeknya yang mengkilap kemerahan karena ludah Abu.
Tubuh Abu Nida menyusup di antara tubuh akhwat cantik ini, Abu mengambil posisi 69. “Ayo, ukhty Rif’ah, kontolku jangan cuma dilihat!”
”Iya, Abu…” Bibirnya dengan cepat telah mengulum kontol Abu. Di bawah, lidah Abu mengaduk-aduk lorong vaginanya sambil sesekali mampir ke lubang anus.
Rif’ah kian menurunkan pantatnya ke wajah Abu, digoyangkannya naik turun. Klirorisnya digosok Abu Nida dan dipilin dengan jari sambil sesekali disedot dan digigit kecil. Tampak labia mayora yang semakin lebar ditarik kanan kiri, Rif’ah semakin mengelinjang. Semakin terangsang, semakin melengkung tubuhnya. Mulutnya tidak berhenti menyedot kontol Abu.
“Abu... ahh… Abuuu…” Lepas mulutnya dari kontol Abu Nida, dijilati pula kedua pelir Abu.
Tubuh Abu Nida beringsut mengambil posisi doggy style, Abu Nida menggosokkan kontolnya ke klitoris akhwat cantik ini.
“Aaaaaah… geli, Abu!”
”Enak, nggak?” Tangan Abu menggosok klitoris Rif’ah yang sudah basah sambil mengarahkan kontol ke lubang memeknya.
”Eeeemmmh… enak, Abu! Aku diapain sih?”
Abu Nida menjawab dengan memasukkan kontolnya ke dalam memek. Seperti pertama tadi, rasanya ada sesuatu yang menahan penetrasinya. Abu Nida menunduk menciumi punggung Rif’ah yang sudah berkeringat, rasa asin menerpa lidahnya saat menyusuri punggung putih itu hingga ke leher jenjang.
”Aaaau… Abu!” Rif’ah semakin beringsut mendorong pantatnya ke belakang saat tangan Abu aktif meremas-remas susunya.
Abu Nida menarik kontol dari vagina gadis itu. Setiap kali ujung kontolnya masuk, seolah udara dipompa keluar dari lubang memeknya.
”Aduh, Abu! Pelan dong… masih perih!” Tubuh Rif’ah gemetaran menahan antara sakit dan nikmat. Abu Nida membuka lebar pantatnya, semakin dalam kontol memasuki tubuh akhwat cantik ini. Akhirnya tubuhnya melengkung, menyebabkan pantatnya semakin menungging.
Dada Abu Nida penuh sesak dan bergemuruh antara merasakan kenikmatan di kontol dan melihat punggung Rif’ah yang berkeringat mengkilap diterpa cahaya, sungguh pemandangan yang eksostik. Abu Nida terus menambah kecepatan ayunan pantatnya, karena tadi sudah keluar maka kontolnya menjadi perkasa untuk ronde kali ini.
“Aaaaah… Abu! Ana mau dapet, Abu!”
Hujaman kontol Abu Nida semakin cepat. Pada hujaman kesepuluh, tubuh Rif’ah mengejan bergetar.
”Abuuu… ahh… aku dapet!”
Abu Nida menarik pinggul Rif’ah agar merapat ke kontolnya. Kedutan-kedutan vagina gadis itu menerpa permukaan topi baja miliknya. Kepala akhwat cantik ini rubuh ke kasur, tangan Abu menggosok klitorisnya. Kembali lelehan lendirnya membasahi jembut. Abu Nida membalikkan tubuh akhwat cantik yang putih bersih tanpa cacat ini, tubuh yang selalu tertutupi oleh jubah dan jilbab panjang itu kini terlentang pasrah di hadapannya.
Abu Nida membuka paha akhwat cantik ini, menggesekkan kontol ke anusnya. Rif’ah menggelinjang, kakinya diangkat ke atas. Abu menarik pinggul Rif’ah ke arah kontolnya, lubang yang telah basah itu seolah menarik penis untuk masuk ke dalam. Abu Nida mengangkat kaki akhwat cantik ini di atas pundak, menciumi dan menjilati betisnya. Payudara Rif’ah yang besar dan bulat kencang bergoyang berputar setiap kali Abu menghentakkan selangkangannya. Abu juga memilin-milin klitroris akhwat cantik ini. Kepala Rif’ah menggeleng-geleng, jilbab yang dikenakannya mulai terbuka lagi. Abu Nida menaruh kakinya, menindih kaki Rif’ah yang lain agar kontolnya tidak sampai terlepas. Penetrasi dari samping semakin menjadikan vagina Rif’ah terasa sempit.
”Aaaaahhhh, Abu! Sempit, Abu…”
Dari samping pula, Abu melihat payudara Rif’ah menjadi mengacung dan berayun-ayun. Dia menarik tangan gadis itu agar penetrasinya semakin dalam. Ketiak Rif’ah yang bersih tanpa bulu diciuminya, membuat Rif’ah semakin tenggelam dalam birahi.
“Abu, cium ana dong!” Bibir bawahnya memerah karena seringkali digigit tiap kali ujung kontol Abu mentok di rahimnya.
Abu pun membungkukkan badan dan meraih bibir Rif’ah, sementara tangan kanannya menaikkan tengkuk gadis itu. Abu Nida menekan paha untuk membuat penetrasinya semakin dalam.
”Aaaah, Abuuu… mentok, Abu!”
”Enak?”
“He-em!” gumam Rif’ah.
Setelah 15 menit dalam posisi yang sama, kedutan dalam vaginanya kembali muncul. Penis Abu Nida menjadi sangat tegang, dibayangi oleh wajah berjilbab dan susu yang bergoyang menjadikan Abu Nida tidak mampu lagi menahan ejakulasi.
”Ukhty Rif’ah, ane mau nyampe…”
”Iya, Abu. Ana bentar lagi.”
Abu Nida menggeram dan melepaskan tembakan ke dalam rahim akhwat cantik ini. ”Ooooh… dik Rif’ah, aku nyampe!” Abu Nida menghujamkan dalam-dalam kontolnya hingga mentok ke rahim akhwat cantik ini.
”Abu… aku nyampe!” Rif’ah menyusul tak lama kemudian. Tubuhnya beringsut, tangannya menegang hingga hampir terlepas dari cengkeraman Abu.
Ketika semprotan Abu Nida selesai, dia menindih tubuh Rif’ah. Keringat abu sekali lagi menyatu dalam keringat Rif’ah. Abu Nida mencium bibir akhwat cantik ini, hidungnya dan juga pipinya. Rif’ah tersenyum manis.
”Aaaah... Abu ini nakal, ana tadi khan udah mandi.”
“Ya sono mandi lagi.”
”Ah males, Abu. Rasanya lemas banget, ana mau tiduran di sini dulu.”
”Jangan, dik Rif’ah. Kalau ketahuan Ummu Nida bisa berabe.”
”Tapi lemas, Abu.”
Akhirnya dengan bantuan Abu Nida, Rif’ah dibimbing ke kamar mandi. Sebelum masuk, Abu Nida sempat memasukkan jarinya ke vagina akhwat cantik ini, tapi ditepis oleh Rif’ah.
Sesudah kejadian itu, mereka sering mengulangi kapan saja ada kesempatan. Rif’ah sendiri nampak tidak keberatan jadi istri kedua Abu Nida.

1 komentar:

  1. Wowwww...mntapp...
    Ada lagi itu kang yg kalo bisa dibuatin seru jilbabernya..duka tak bertepi

    BalasHapus