Sabtu, 28 April 2018

Duka Tak Bertepi 11



Begitu sampai di rumah, Gatot tak menunggu lebih lama. Aisyah juga membantu suaminya mengosongkan kamar yang akan digali. Sesekali Galang dan Gilang mengganggu. Gatot mulai mengayunkan cangkul. Semakin lama semakin dalam namun belum ada apa pun yang terlihat. Gatot berhenti sejenak dan memberi kesempatan kepada Aisyah untuk menyeka keringatnya. Siang mulai beranjak menuju sore. Setelah menggali sedalam kira-kira lima meter, barulah Gatot merasakan cangkulnya membentur sesuatu.
“Kamu dengar itu, Aisyah?”
“Iya, Mas. Sepertinya besi beradu. Dentingannya keras sekali.
“Lihat, Aisyah. Bantu aku membersihkan tanah-tanah ini.
“Iya, Mas.

Aisyah mau tak mau ikut belepotan tanah. Akhirnya nyata apa yang mereka temukan. Sebuah peti besi berukuran sedang. Gatot dan Aisyah bahu-membahu mengangkat peti yang lumayan berat itu. Berhasil. Semakin jelas bentuk dan rupa peti itu. Berkarat di beberapa bagian. Ada gembok yang juga berkarat. Gatot mengambil gergaji dan memotong gembok itu.
“Kira-kira apa isinya, Aisyah?”
“Mana aku tahu, Mas. Makanya dibuka saja.
Gatot agak ragu. Tapi rasa ingin tahu membuatnya segera membuka peti itu. Begitu peti terbuka dan terlihat apa isi yang tersimpan di dalamnya Gatot dan Aisyah saling pandang. Sesaat tidak ada yang mampu mereka katakan. Mereka juga belum berani menyentuh apalagi mengambil satu pun barang di dalam peti.
“Harta karun siapa ini, Mas?”
“Ada-ada saja kamu. Ini bukan harta karun.
“Lalu harta apa, Mas? Mas Gatot lihat sendiri perhiasan-perhiasan emas dan perak itu.
“Mustahil keluargaku punya harta sebanyak ini, Aisyah.
“Kuambil tas kulit ini saja ya, Mas?”
“Ambillah. Sepertinya ada surat-surat yang tersimpan di dalam tas itu.
Aisyah mengambil sebuah tas kulit yang agak lapuk. Cukup sulit membuka tas karena resletingnya macet. Setelah mencoba dengan hati-hati akhirnya tas kulit berhasil dibuka. Aisyah mengeluarkan semua isi dari dalam tas. Berupa dokumen-dokumen yang sebagian besar tulisannya tak bisa lagi dibaca. Buram.
“Mas, sepertinya ini sebuah album foto.
“Kamu benar, Aisyah. Coba kita lihat foto-fotonya.
Ada sepuluh foto yang tedapat di album itu. Tapi tak ada satu pun yang berkaitan dengan dirinya. Gatot semakin diliputi tanda tanya. Ada foto sepasang suami istri. Ada foto dua bayi. Dan sisanya foto-foto keadaan kompleks di masa lalu.
“Foto siapa ini ya, Mas?”
“Entahlah, Aisyah. Yang pasti bukan ayah ibuku. Bukan juga diriku.
“Bayi-bayi di foto ini kembar, Mas.
“Sayang sekali gambarnya rusak ya, Aisyah. Kita tidak bisa jelas melihat.
“Iya, Mas. Nah, ini seperti fotokopi KTP.
“Hmm…” Gatot menggumam. “Siapa Marina? Siapa Waluyo?”
“Mungkin sanak saudaramu, Mas.
“Tidak, Aisyah. Sejak dilahirkan sampai setua ini kami tidak punya sanak saudara.
“Kita telusuri sepulang liburan saja, Mas. Sekarang kita pikirkan harta karun itu.
“Kita harus minta pendapat Bapak. Aisyah, sebaiknya kita simpan saja semuanya. Ayo bantu aku menggotong peti ini ke gudang.
“Aku takut masuk gudang, Mas.
“Kenapa, Aisyah? Apa karena gudang itu bekas kamar Pak Camat bunuh diri?”
Aisyah mengangguk. Tapi akhirnya mau juga membantu Gatot mengangkat penemuan mereka ke gudang. Selama tiga tahun menempati rumah ini Aisyah tidak pernah sekalipun berani memasuki gudang. Tempat itu adalah lokasi Pak Camat bunuh diri. Tempat itu adalah lokasi Murti mengalami siksaan lahir batin. Bahkan di gudang masih tersimpan tali yang di gunakan Pak Camat gantung diri. Makanya mereka tidak mau berlama-lama di dalam gudang.
Setelah meletakkan peti, mereka langsung keluar dan menutup kembali pintu gudang rapat-rapat. Gatot masih penasaran dengan semua penemuannya. Tapi karena ada hal lebih penting untuk dipikirkan maka dirinya mengesampingkan dulu rasa penasaran itu. Yang harus diutamakan sekarang adalah Aisyah dan kedua balitanya.

***

Miranda mengawali rutinitas di profesi barunya sebagai sutradara dengan membuat sebuah film pendek. Pemainnya ia pilih sendiri. Ceritanya juga ia tulis sendiri. Sementara peralatan pendukung dan tenaga tenaga ahli dibantu oleh rumah produksi milik Safira dan suaminya. Kemarin seharian penuh ia membuka audisi mencari bibit-bibit muda yang punya potensi menjadi selebriti. Ia rela mengucurkan dana pribadi. Karena ini baru awal dirinya merasa wajar jika belum ada pihak-pihak yang berani menjadi sponsor. Proyek ini benar-benar murni miliknya pribadi.
“Kamu yakin dengan anak-anak muda itu, Miranda?”
“Aku yakin mereka bisa, Mbak. Bukankah untuk memulai sesuatu kita harus berani mengambil risiko?”
“Kamu benar, Miranda. Termasuk dalam kehidupan nyata kita juga harus berani mengambil risiko.
“Mbak Fira punya masalah pribadi? Mungkin kita bisa saling berbagi, Mbak.
“Sejak kemarin sore sampai detik ini Angga tidak pulang ke rumah. Suamiku mulai berubah, Nda.
“Mas Angga orang sibuk, Mbak. Bisa jadi dia pergi ke luar kota dan lupa memberitahu Mbak Fira.
“Lima tahun kami berumah tangga, Nda. Tapi belum pernah Angga bertingkah seaneh ini.
“Mbak Fira mencurigai Mas Angga?”
“Kira-kira begitu. Kamu belum pernah berumah tangga, Miranda. Jadi kamu belum tahu seperti apa rasanya menjadi istri. Wanita bersuami selalu dibayangi ketakutan. Wanita berumah tangga senantiasa dihantui kekhawatiran.
“Mbak Fira yakin dan percaya saja Mas Angga adalah suami yang baik,
“Angga memang suami yang baik, tapi aku mulai meragukan kesetiaannya.
Miranda terdiam. Keluhan Safira mengingatkannya pada jaman lalu. Salah jika Safira menyangka dirinya belum pernah berumah tangga. Keliru bila Safira bilang dirinya belum tahu seperti apa rasanya menjadi seorang istri. Itulah yang tidak diketahui orang tentang dirinya. Betapa ia telah mengalami semua itu. Jatuh bangun dalam mempertahankan rumah tangga. Hitam putih mewarnai kehidupan berkeluarga. Bukan hanya sekedar ketakutan dan kekhawatiran yang pernah dialaminya. Tetapi kenyataan tragis sudah pula ia jalani.
Jika Safira mulai khawatir suaminya selingkuh, ia sudah merasakan sakitnya hati seorang istri yang suaminya selingkuh. Jika Safira mulai meragukan kesetiaan suaminya, ia sudah membuktikan hidup bersama suami yang tak setia. Safira tidak tahu. Mayoritas penggemarnya juga tidak tahu. Teringat hal itu ia kembali diingatkan pada sesuatu.
“Mbak Fira, kurasa cukup untuk syuting siang ini. Kita lanjutkan nanti malam.
“Baiklah, Miranda. Aku akan menyuruh mereka istirahat.
“Aku harus pergi, Mbak.
“Pergilah. Tapi kembali ke sini sore ya,
Miranda segera pergi menuju parkiran di mana Bimo setia menunggu. Intensitas kebersamaan yang semakin meningkat seiring kualitas perasaan yang makin melekat. Miranda menyadari Bimo bukan lagi sebatas sopir baginya. Lebih dari itu Bimo adalah mimpi. Berdua dengan Bimo adalah saat-saat yang menggelorakan naluri. Tapi belum ada niat menuruti kata hati. Miranda masih menguji sejauh mana kebenaran perasaannya sendiri.
“Miranda, wanita itu menelepon aku lagi. Dia menurunkan tawarannya jadi seratus juta.
“Jangan dituruti, Mas. Seratus juta bukan jumlah yang sedikit.
“Tapi aku sangat ingin tahu apa yang dia tahu. Dia tahu keberadaan lelaki yang besar kemungkinan adalah kembaranku.
“Pernahkah Mas Bimo memikirkan tentang kita?”
“Tentang kita? Apa maksudmu?”
“Kita bukan balita, Mas. Apa maksudku Mas Bimo pasti tahu.
“Miranda, jangan libatkan perasaan apapun dalam kebersamaan kita ya. Aku hanya sopirmu. Ingat itu, Miranda.
“Awalnya Mas Bimo memang sopirku. Tapi belakangan ini Mas Bimo juga mengendalikan suasana hatiku.
“Jangan terbawa sinetron-sinetron yang kamu bintangi, Miranda.
“Ini bukan sinetron, Mas. Ini nyata dan bisa dipertanggungjawabkan dengan fakta.
“Ada-ada saja kamu. Bagiku lebih baik kita seperti ini. Ke mana tujuanmu, Miranda?”
“Ke hatimu, Mas. Itulah tujuanku.
“Serius, Miranda. Hatiku bukan tempat yang baik untuk disinggahi.
“Hmm, Mas Bimo kan yang ketularan lebay ala sinetron?”
Tawa dua manusia yang baru saja bertukar kata berbagi canda. Miranda berusaha mengarahkan agar pembicaraan serius tapi Bimo membuat obrolan terkesan gombal. Basa basi belaka.
“Kira-kira di mana Minah sembunyi ya, Mas?”
“Kita bukan intel. Tapi aku yakin dia ada di sekitar kita. Dia mengamati gerak-gerik kita.
“Aku takut dia benar-benar membongkar rahasia terbesarku, Mas.
“Memangnya apa rahasiamu?”
“Mas Bimo benar-benar ingin tahu rahasiaku?”
“Jika kamu tidak keberatan.
“Mas Bimo mau bersumpah tidak akan membocorkan rahasia ini pada siapapun?”
“Aku bersumpah, Miranda. Ceritakan saja,
Bimo bisa dipercaya. Itu diyakini oleh Miranda. Perjalanan berakhir di salah satu restoran bintang lima yang menjadi langganan para pesohor ibukota. Restoran yang menyediakan fasilitas ruang VIP. Ruangan yang sangat terjaga tingkat privasinya. Di ruangan itulah Miranda membuat pengakuan di hadapan Bimo. Hanya ada mereka berdua ditemani alunan lagu nostalgia lama yang mempermudah Miranda menceritakan segala masa lalunya.
“Mas Bimo siap mendengarkan?”
“Aku selalu siap untukmu, Miranda.
Miranda menarik napas dan wajah murung sekilas melintas. Dipandanginya mata Bimo yang juga sedang memandang dirinya. Mata yang menyiratkan kejujuran. Mata yang bisa dipercaya mampu menyimpan rahasia. Mata kelam setajam elang yang mulai ia suka.
“Jangan alihkan pandangan Mas Bimo dariku.
Mungkin Bimo tidak pernah menyangka. Mungkin Bimo menganggap artis jelita dihadapannya sudah gila. Tapi Miranda benar-benar melakukannya disertai setetes demi setetes air mata. Miranda membuka jati diri, jasmani dan rohani, lahir dan batin, tanpa satu pun yang tersembunyi. Di bawah bayang-bayang masa lalu Miranda memerankan dirinya sebagai Murti.
“Miranda,
“Lupakan Miranda. Yang ada dihadapan Mas Bimo saat ini adalah Murti.
“Inikah rahasiamu? Siapa sebenarnya dirimu?”
“Aku wanita paling kotor, Mas. Aku wanita paling jalang di dunia ini,” terbata-bata suara Miranda bercampur gejolak emosi yang meredupkan hari. “Miranda hanya topeng, Mas.
“Berapa umurmu, Miranda?”
“Sama denganmu, Mas. Inilah diriku yang sesungguhnya. Janda yang tak punya harga.
Miranda membuka satu persatu pakaian yang menutupi tubuhnya. Ia telanjang sebagaimana penderitaan menelanjanginya di masa lalu. Ia ingin Bimo melihat bekas-bekas penderitaan dan kesengsaraan yang dialaminya dahulu.
Masih dengan kesedihan yang mendalam ia buka kembali halaman demi halaman kehidupan hitam. Tidak ada halaman yang dilewati. Ia ceritakan pada Bimo bahwa dirinya bernama asli Murti, bekas istri seorang camat, bekas guru madrasah, bekas pembunuh yang tega menyebabkan suami gantung diri. Ia kisahkan setiap detik waktu yang dijalani di kompleks. Sampai lebih dua jam cerita itu mengalir tiada putus.
“Itulah rahasiaku, Mas.
“Tak kusangka perjalanan hidupmu lebih dari yang diduga banyak orang. Pengalaman hidupmu lebih lengkap dari pengalaman siapapun, Miranda.
“Dari situ aku mengambil pelajaran, Mas. Dari masa lalu itu aku berjuang bangkit menyongsong hari demi hari.
“Dan kamu berhasil bangkit. Ketangguhanmu sudah teruji, Miranda.
“Keadaan yang memaksaku untuk menjadi tangguh, Mas.
“Miranda,
Tidak ada lagi rahasia antara Miranda dan Bimo. Dua manusia yang secara sadar meleburkan diri dalam pelukan. Bimo ingin mengelak namun naluri terlanjur bergolak. Masih belum sadar dengan keadaan, dia hanya bisa tertegun dan gugup melihat tubuh Miranda yang polos karena kainnya sudah terlepas.
Akan halnya Miranda, sekali lagi tak mampu mengalahkan tangguhnya nafsu seorang pria. Muram berubah menjadi hitam. Sesaat mereka hanya saling menatap. Bimo terlihat menikmati pemandangan indah di depannya. Tubuh Miranda yang semampai terpampang jelas di hadapan mata.
“Miranda, ijinkan aku untuk...” Bimo menggigil, tak kuasa menatap aura tubuh Miranda yang menguapkan hawa hangat di sekitar tubuh mulusnya.
"Lakukan, Mas, kalau kamu memang ingin,"
Miranda memeluk. Badannya yang hangat menjalari tubuh dan menggoyahkan iman Bimo. Pipinya yang tirus bersandar di dada bidang laki-laki itu sambil dengan perlahan mengecup puting Bimo yang terbuka sebagian.
Sungguh lihai ia merayu, tubuh Bimo jadi bergetar. Dia tak mampu untuk menolak. Mereka segera larut dalam suasana, meskipun Bimo masih mencoba sedikit menahan diri. Mereka hanya bercumbu dan saling menghangatkan satu sama lain. Sesekali payudara Miranda bergesekan dengan batang penis Bimo karena Miranda  menyandarkan tubuhnya erat-erat.
“Bolehkah kita seperti ini, Miranda?”
“Tentu saja. Siapa yang bisa melarang?”
Dengan halus Miranda menarik kepala Bimo ke arah dua bukit kenyalnya yang mendongak menantang. Bagaikan bayi yang mendapat mainan baru, Bimo pun larut mengulum kedua bukit mengkal itu tanpa bertanya-tanya lagi. Putingnya yang berwarna merah jambu ia hisap kuat-kuat hingga semakin memerah dam mengeras, pertanda birahi Miranda sudah kian memuncak.
Dengan gerakan mengalir, tangan Bimo meraba kulit mulus Miranda dari atas bahu hingga ke labia mayoranya yang terasa hangat. Dia menusuknya, merasakan kehangatannya, hingga jemarinya jadi belepotan terkena percikan air birahi yang tersembur dari selangkangan Miranda.
“Ahh... Mas!”
Miranda merintih, dia mendongak menatap. Matanya terlihat teduh dan penuh pengharapan. Rambut Miranda yang lurus halus terurai membawa aroma tubuhnya ke depan hidung Bimo. Dengan lembut Bimo menyibakkannya sambil menghalau tetesan keringat yang mulai muncul di pipi Miranda.
"Aku mulai kedinginan, Mas. Cepat hangatkan tubuhku!!"
“Iya, pasti,"
Bimo menarik Miranda ke pelukannya yang hangat. Mereka berangkulan dan bergulingan di lantai rumah makan yang berlapis karpet lembut.
"Lepas, Mas. Kamu tak perlu baju ini. Aku ingin memelukmu dengan tubuh sama-sama telanjang.” Miranda berkata manja.
Perlahan Bimo melepas baju dan celananya hingga jadi sama-sama bugil. Selanjutnya ia langsung menyumbat mulut Miranda dengan ciuman-ciuman panas sambil membelai halus puting di dadanya yang sintal. Miranda yang sudah sejak tadi bergairah balas memeluk pinggang Bimo dengan kakinya. Mereka berangkulan semakin erat dengan tangan Bimo terus bergerilya di sekujur tubuh Miranda.
"Nda, biarlah aku yang mencumbumu. Kamu diam saja, ya."
Tanpa menunggu jawaban, Bimo lalu menindih dan mengangkangi celah kewanitaan Miranda. Ia gesek-gesekkan tongkatnya yang masih setengah mengeras ke celah sempit itu. Miranda menggenggamnya dan meremasnya halus.
"Belum tegang saja sudah harus dengan dua tangan. Kalau dimasukkan ke punyaku, apa bisa muat ya?"
"Tenang saja, punya kamu kan elastis. Yang penting kita pemanasan dulu,"
Miranda tersenyum dan kembali menggosok-gosokkan penis Bimo ke labia mayoranya, tampak ia sangat menikmati aktivitasnya itu. Bimo pun tak tinggal diam, ia meraba dada Miranda yang bulat membusung sambil sesekali menjilati putingnya, kiri dan kanan. Tubuh Miranda juga tak luput ia cumbu. Mulai dari atas hingga ke bawah, tak satu pun bagian kulit Miranda yang tak terjamah oleh lidah kesat Bimo.
“Sudah, mas. Cepat lakukan!” desah Miranda tak tahan.
Namun bukannya menuruti, Bimo malah mencumbu kewanitaa Miranda. Rakus dia mencucup dan menjilatinya hingga Miranda melepas orgasmenya tak lama kemudian. Perempuan itu menggigil memohon agar cumbuan Bimo dituntaskan pada permainan cinta yang sesungguhnya.
"Please, Mas. Masukkan! Aku sudah tak tahan,"
Miranda menarik batang perkasa Bimo dengan penuh nafsu. Dia juga mengangkat pantatnya lembut, siap menyambut tusukan batang kekar itu. Bimo menggesekkannya terlebih dahulu, baru kemudian menusuk. Namun masih terasa sulit karena saking sempitnya lubang kelamin Miranda.
“Buka lebih lebar, Nda.”
Miranda menuruti, ia mengangkangkan kaki dan bahkan mengangkat kaki kirinya ke bahu Bimo. Dengan posisi tusuk silang, Bimo akhirnya berhasil memasukkan si batang nakal. Miranda nampak meringis sedikit, kesakitan sekaligus juga keenakan.
“Kuteruskan apa tidak?” Bimo menahan sebentar gerakannya, tak sampai hati melihat perubahan wajah Miranda.
“Teruskan, Mas. Tidak apa-apa.”
Perlahan Bimo mulai menarik ulur batang kejantanannya, vagina Miranda terasa sempit sekali. Kesat sekaligus juga sangat menggigit. Kalau dirangkum dalam kata-kata, artinya nikmat sekali. Miranda memejamkan mata, sementara Bimo terus mengayun menuju puncak sambil tak henti-henti meraba-raba bulatan payudara Miranda yang terhentak-hentak lembut.
"Nanti keluarkan di dalam nggak apa-apa. Aku ingin merasakan terjangan dan denyutan si Bimo kecil. Please, jangan dilepas ya."
“Bagaimana jika kamu hamil?”
“Sekarang bukan masa suburku,”
Bimo mengambil napas dan memeluk erat. Goyangannya menjadi semakin cepat. Kaki Miranda melingkar di pinggang, mereka saling memacu dengan tangan Miranda menggelayut di leher Bimo. Bibir mereka bertemu dan kembali berciuman.
"Oohh.. Mas, aku sudah hampir.. ohh.."
“Kita keluar sama-sama, Nda.”
Setengah berdiri dengan lutut, Bimo menuntaskan goyangannya sambil terus meremas-remas payudara Miranda. Kembali ia rasakan hangatnya semburan orgasme dari liang kewanitaan perempuan cantik itu. Selangkangan Miranda jadi basah oleh curahan air birahi dari vaginanya yang harum, bagai mata air yang tak pernah kering, yang senantiasa semerbak mewangi.
"Oh, Mas! Ooh.. sshh.."
"Aahh.. aku juga hampir sampai, Nda."
Lima genjotan kemudian, benih Bimo yang sudah sejak dua jam yang lalu ditahan-tahan, akhirnya berhamburan di liang vagina Miranda. Dengan bertubi-tubi Bimo menyembur, menuntaskan segala hasratnya. Tersenyum penuh kepuasan, Miranda berusaha menikmati sisa-sisa denyutan itu, sampai akhirnya batang Bimo terdiam begitu isinya habis.
"Jangan dicabut dulu, Mas. Biar saja lepas sendiri."
Bimo mengangguk sambil melumat bibir Miranda yang telentang kelelahan. Mereka terus berpelukan sampai keringat keduanya mengering dan napas mereka kembali beraturan. Baru kemudian pulang.

6 komentar:

  1. Aisya ma bimo kayakx aseekk kang..aisyah kan nyari yg gede dibnding punya gatoot..
    Sekedar usul nih kang kalo bisa ceritanya diurutkan aja sampai finish misalx duka tak bertepi 1- end, ketika iblis menguasai 1-end.. dan sterusna
    Ditungggu lancroot kan

    BalasHapus
  2. Lanjuut suhuuu

    BalasHapus
  3. Belum rilis lanjutanya suhu

    BalasHapus
  4. Om..buatin session aisyah ma bimo pasti seru

    BalasHapus