Kamis, 26 April 2018

Gairah Ibu Guru



Aku sebenarnya lahir dari keluarga yang tak kekurangan. Meski kehidupan kami tidak berlebihan, tapi cukup dapat menjalani hari-hari dengan tentram. Ayahku seorang pegawai negeri, sedangkan ibuku membuka toko kelontong di depan rumah kami. Aku sendiri anak tertua dari 2 bersaudara, adikku perempuan masih kecil.  Masa SD-ku kujalani dengan baik, aku orangnya memang mudah bergaul. Walau keinginan tahuan akan hal baru sedikit besar, tapi kadang aku suka sedikit belagu dan sok tahu. Sosokku sendiri sebenarnya biasa saja, hanya badanku agak lebih besar dibanding teman-teman yang lain.

Keinginan tahuanku yang sedikit besar itulah yang menjadi awal berubahnya pemikiranku tentang hal-hal tabu. Hal itu berawal dari saat aku kelas 6 SD. Temanku membawa kartu yang berisi adegan mesum. Meski hanya 4 lembar kartu, tapi hal itu terus membayang di benakku. Sampai akhirnya, saat akhir kelas, aku sudah mengalami mimpi basah.
Awal masa SMP, tidak menjadi masalah bagiku. Aku dengan mudah dapat bergaul akrab hampir dengan semua teman baruku. Sampai kemudian, aku mengenal seorang guru, sebut saja bu Yanti, guru matematika sekaligus wakil kepala sekolah kami. Wanita yang masih di bawah 40 tahun itu mempunyai sifat yang sangat ramah serta akrab kepada semua murid. Selain itu, wajahnya yang lumayan cantik, dengan kulit yang putih bersih, menjadi nilai tambah baginya. Perawakannya yang singset dan payudaranya yang agak besar, kadang menjadi bahan bisik-bisik murid-murid di sekolah.
Keakrabanku dengannya berawal saat caturwulan pertama telah selesai. Siang itu, setelah keluar dari ujian terakhir, aku tak langsung pulang. Aku main basket dengan teman-temanku. Sampai akhirnya, ketika jam menunjukkan pukul satu siang, kami hendak pulang. Mereka menyuruhku mengembalikan bola basket ke kantor. Aku pun membawa bola itu. Saat masuk kantor, sebenarnya ada tiga orang guru yang masih belum pulang, termasuk bu Yanti.
Saat melihatku, bu Yanti tersenyum. “Kebetulan, kamu murid kelas satu kan, siapa namamu?” katanya.
“Iya, bu. Saya Tono.” jawabku.
“Sini, ibu mau minta tolong,” katanya.
Aku pun menghampirinya. ”Ada apa, bu?” tanyaku.
“Ibu mau minta tolong, periksain ulangan anak-anak. Bisa kan?” tanyanya.
“Wah, bu, takut gak bisa.” jawabku.
“Gak kok, gampang. Jawabannya sudah ada, kamu tinggal samain aja.” katanya.
Karena merasa segan, aku pun akhirnya mau setelah diberi sedikit petunjuk.
“Yuk, di ruang  ibu aja.” katanya, kemudian kami masuk ke ruangannya. Dia kemudian memberikan tumpukan kertas jawaban. ”Ini samain sama ini, yang pilihan abc-nya aja.” katanya.
Aku mengangguk.
Baru sekitar 15 menit, kudengar bu Yanti memanggil penjaga sekolah. “Kamu mau bakso atau mie ayam, belum makan kan?” katanya.
“Gak usah, bu. Tadi sudah makan.” jawabku.
”Ya sudah, minum aja ya?” katanya. Tanpa mendengar persetujuanku, dia sudah memesankan minuman kepada pak penjaga sekolah.
Kira-kira kurang satu jam, aku selesai mengerjakan tugasnya. “Mana lagi, bu?” tanyaku.
”Ada sih. Tapi udah siang, ntar orang tua kamu khawatir lagi.” katanya.
“Tenang aja, bu. Pulang maghrib juga gak papa, sudah biasa.” kataku.
Akhirnya aku mengambil tumpukan di mejanya kerjanya. Aku kembali ke meja di depannya, dan asyik mengerjakan tugas yang ia berikan. Tak terasa, aku menyelesaikan sampai lima kelas, saat jarum jam menunjukan angka 4.
“Cepat juga kamu ya, tapi sudahlah, cukup. Sudah terlalu sore.” katanya.
Walau aku bilang tak apa-apa, tapi kelihatannya dia tidak tega. Sebelum pulang, aku diberi uang 5 ribu untuk ongkos. Aku awalnya menolak, tapi dia memaksa. “Nanti kalo ibu minta tolong lagi, mau kan?” katanya.
Aku mengangguk.
Sejak itu, kami menjadi lebih dekat. Walau di depan teman-teman dia biasanya hanya tersenyum, tapi kalau saat aku membantu memeriksa ulangan harian kelas lain, dia selalu banyak bertanya, terutama mengenai kegiatanku sehari-hari. Aku sendiri tak merasa special, karena aku tahu, selain aku, banyak anak-anak lain yang kadang dia mintai bantuan. Sampai akhirnya suatu hari, dia kembali meminta aku membantunya untuk memeriksa ulangan harian murid-murid lain.
“No, nanti mau gak bantu ibu? Bawa buku-buku itu ke rumah, kamu lewat rumah ibu kan arahnya?” dia bertanya.
“Boleh, bu.” kataku.
“Ya sudah, nanti kita pulang bareng kalau sudah selesai, atau kita kerjakan di rumah ibu aja, gimana?” tawarnya. Karena sebagian masih tertinggal di rumah, akhirnya aku setuju. Kami pun pulang ke rumahnya menggunakan angkutan umum.
Sampai di rumah yang berukuran sedang, dengan hanya satu kamar tidur besar. ”Ibu disini ngontrak, kebetulan perumahan ini yang paling dekat sekolah.” katanya saat aku tanya ini rumah siapa.
”Lingkungannya sepi ya, bu, gak takut maling?” tanyaku.
”Kan di depan ada penjaga. Mereka pada kerja kali, jadi sepi gini.” jelasnya.
“Suami ibu di mana?” tanyaku.
”Mereka di Malang, sama anak ibu.” katanya.
“Oh, anak ibu kelas berapa?” tanyaku lagi.
”Dia sudah kuliah, baru masuk.”
”Masa sih, bu? Kirain anaknya masih kecil, kok ibu gak keliatan punya anak yang sudah gede.” kataku sedikit memujinya.
”Ih, kamu bisa aja.” katanya.
Ya, bu Yanti memang ditugaskan ke sekolahku, tapi resikonya, dia harus jauh dengan keluarganya. Sudah 3 tahun lebih, katanya dia jauh dari keluarga. Biasanya kalau ada libur yang agak panjang, beliau baru menemui keluarganya. Suaminya sendiri sebulan sekali rutin menjenguknya, kadang bersama anak dan mertuanya juga. Begitu bu Yanti memberitahuku.
“Ibu gak kesepian sendirian?” tanyaku.
“Kadang sih sepi. Tapi untung, ibu sibuk dengan kerjaan. Lagian kadangkan ada murid yang datang bantu, jadi gak gitu sepi.” jelasnya.
“Oh... oh ya, ibu kapan pun boleh kok minta tolong saya, asal jangan yang susah. Ya meriksa abc aja, bu.” kataku.
Dia tersenyum, dan mengucapkan terima kasih.
Sungguh, aku makin senang dapat membantunya. Sampai akhirnya, ujian kenaikan kelas telah selesai, aku kembali diminta membantunya. Siang itu, aku kembali datang ke rumahnya. Aku sudah tidak canggung lagi.
”Aduh, ketinggalan sebagian di sekolah.” katanya saat mengeluarkan isi kantong plastiknya.
“Aku ambilkan, bu. Biar aku kembali ke sekolah lagi.” kataku.
“Jangan ah, kasian kamu. Jalan ke depannya kan agak jauh. Besok aja kalau kamu gak keberatan, kesini lagi ya?” katanya. Aku setuju. Akhirnya aku mengerjakan tugasku, baru jam dua siang, semua sudah beres. Kulihat bu Yanti menyiapkan makan.
“Kamu makan dulu,” katanya. Aku pun kemudian makan.
“Kamu tuh berapa tahun umurnya? ” tanyanya.
”Tiga belas, bu.” jawabku.
“Wah, sudah gede dong. Pasti sudah akil baligh ya?” katanya.
Aku mengangguk malu.
“Udah mimpi dong?” tanyanya.
”Udah dong, bu.” jawabku sok dewasa. Bu Yanti tertawa, tapi tawanya kelihatan agak genit. Tapi entah, aku malah senang.
“Kapan pertama mimpi?” tanyanya lagi.
“Kelas enam SD, bu.” jawabku.
”Sudah punya pacar?”
”Belum, bu.”
Tak terasa obrolan pun mengalir, diiringi gelak tawa dan guyonan. Sesekali dia juga menanyakan hal tabu, dan aku jawab dengan senang hati.
Saat malam, aku terus berfikir mengenai hal yang terjadi sore tadi. Apalagi saat bu Yanti bertanya, ”Pernah masturbasi?” Dengan malu aku jawab, ”Pernah, sekali.” Dan dia berkata, ”Anak-anak sekarang terlalu cepat gede,”
Aku juga ingat untuk menjaga rahasia, agar jangan sampai obrolan kami, aku ceritakan ke anak lain, dan aku berjanji. Dan besoknya, walau sekolah sudah bebas, tapi aku tak sabar menanti untuk membantu bu Yanti.
Hari masih sekitar jam 10, tapi aku sudah bolak-balik di depan kantor. Sementara anak-anak lain yang hanya sebagian yang datang, sudah bergegas pulang. “Kamu tunggu di depan aja ya?” kata ibu Yanti saat dia melihatku.
kira-kira jam 11 lebih, beliau keluar dari kantor. Aku pun membantunya membawa bungkusan plastik saat naik angkutan. Dalam becak yang menuju ke rumahnya, bu Yanti sempat berkata: “Terima kasih ya, kasian kamu jadi capek dua kali.” katanya.
“Kan aku bilang gak papa, bu. Kapanpun siap, asal nilaiku jangan jelek aja, hehehe... bercanda, bu.” kataku saat kulihat delik mata bu Yanti.
Sampai di rumahnya, bu Yanti berganti pakaian daster dengan belahan yang sangat rendah, membuat jantungku berdebar tak karuan. Aku langsung mengerjakan tugasnya, yang ternyata hanya sedikit. Kurang dari jam 1 sudah selesai semua, membuatku sedikit kesal karena harus cepat pulang.
“Kok sedikit sih, bu, kelas lain mana?” kataku.
“Belum, nanti aja.” jawabnya.
”Kenapa gak sekalian aja, bu?” kataku.
”Nanti dikerjakan anak lainnya.” dia menjawab.
“Iya, bu.” kataku kecewa.
“Lho, kenapa emangnya?” tanyanya.
“Ya gak papa, bu.” kataku.
“Masih betah disini ya?” tanyanya.
Aku hanya senyum.
”Ya sudah, ngobrol dulu aja. Ibu juga sengaja bawanya dikit supaya bisa lama ngobrol sama kamu.” katanya.
Akhirnya kami pun ngobrol kesana kemari. Sampai akhirnya saat aku berdiri mau ambil air, bu Yanti bertanya: “Boleh tahu gak, anu kamu berapa senti ukurannya?” katanya.
“Apanya, bu?” jawabku, fikiranku tak menentu.
”Itu, burung kamu.” katanya.
“Ih, ibu, malu ah. Gak tahu, bu, gak pernah ngukur.” jawabku sambil kemudian berjalan menuju dapur sambil tersenyum. Tanpa kusangka, bu Yanti mengikutiku, dia kemudian duduk di dekat meja makan.
”Kok malu?” katanya.
”Emang kenapa ibu mau tahu?” tanyaku.
“Gak, badan kamu kan lebih gede dari yang lain. Apa itunya ikut gede juga?” katanya.
Aku hanya tersenyum. ”Gak tahu, bu. Belum ngukur.” jawabku.
”Ibu ukurin mau gak?” katanya.
Jantungku makin berdetak kencang, tapi setiap kali dia bertanya, aku malah semakin suka, entah kenapa. ”Malu dong, bu.” jawabku. Aku kemudian meneguk air mineral, padahal gelasnya sudah kosong.
”Kenapa malu, atau ibu liat aja ya?” katanya. Aku tak sempat bergerak karena tangannya tiba-tiba menyentuh pinggangku, dan menariknya agak mendekat. “Ibu penasaran aja, boleh ya?” katanya.
Aku hanya diam saat perlahan resleting celanaku mulai dia buka, dan kemudian melebarkan celanaku. Mukanya terus menatap kemaluanku, sementara tangannya mengelus celana dalamku yang sedikit mumbul. Aku sendiri hanya bisa melihat sambil terus meletakkan gelas di bibirku. Sesaat dia menurunkan celana dalamku hingga burungku perlahan keluar. Anehnya, burungku malah sepertinya bergerak dan membesar. Apalagi saat tangan bu Yanti mulai mengelusnya, kemudian mengusap-usap bulu-bulu halus yang mulai menghitam di pangkal kontolku. Perlahan wajahnya mendekat, aku tetap diam. Lalu dia mulai mengulumnya, membuat kontolku mulai mengeras pelan.
”Enak gak?” katanya. Aku mengangguk. “No, ibu boleh minta tolong gak?” tanyanya kemudian.
”Apa, bu?” kataku.
”Kamu takut ga?” katanya.
”Gak, bu, emang kenapa?” tanyaku.
“Kalau kamu berani, gauli ibu!” bisiknya. ”Pasti gak berani ya?” katanya menyindir.
Rasa belaguku muncul. “Berani aja, bu,tapi…”
Belum selesai aku menjawab, bu Yanti menarik tanganku kembali ke ruang tengah. Perlahan tapi pasti, dia membuka kancing bajuku, kemudian kaos dalamku. Celana seragamku yang sudah dia buka resletingnya, dia turunkan bersamaan dengan celana dalamku. Aku akhirnya berdiri terpaku di hadapannya dengan telanjang bulat. Sesaat kemudian, dia menarik dasternya ke atas.
Dadaku berguncang hebat, jantungku berdetak tak karuan saat kulihat dia hanya memakai celana dalam dan kutang warna hitam. Dan tak lama, celana dalamnya juga ia lepaskan. Kulihat payudaranya yang masih terbungkus beha seolah ingin meloncat keluar karena saking besarnya. Bu Yanti kemudian berbaring di karpet.
“Sini, kalau kamu berani!” katanya.
Perlahan aku menghampirinya. Kulihat dia membuka pahanya lebar-lebar. Jelas sekali belahan memeknya yang berwarna coklat kemerahan. Aku kemudian berjongkok di hadapannya.
“Tapi aku belum pernah, bu.” kataku.
“Gak papa. Sini, pelan-pelan. Gak sakit kok.” katanya dengan senyum menggoda.
Akhirnya aku membungkuk di hadapannya. Tanganku menahan tubuhku di sisi kiri dan kanan badannya. Kontolku yang dari tadi sudah menegang, digenggamnya erat, dan perlahan dia arahkan ke depan lubang memeknya. Dengan bantuannya, kontolku perlahan masuk menembus lubang kemaluannya. Rasa hangat dan nikmat langsung menjalar di seluruh tubuhku. Rasa itu makin melambung saat kontolku mulai masuk semakin dalam.
Perlahan, dengan bimbingan tangannya, aku mulai menggerakkan kontolku maju mudur, sampai akhirnya dia melepaskan tangannya dari pantatku dan memeluk punggungku. Aku makin merapat dan kurasakan dia pun ikut menggerakan pinggulnya naik turun, menyambut sodokanku. Rasa nikmat yang kurasakan membuatku merintih tak karuan, sampai akhirnya akupun mendekapnya erat.
“Bu, aku gak kuat lagi…!!! dan ahh...ahh… ahh... akhirnya spermaku kurasakan mengucur deras di dalam lubang kemaluannya.
Bu Yanti mengusap keningku dan tersenyum. “Gak papa, santai dulu aja.” katanya sambil mendekapku mesra.
Aku hendak mengambil celanaku saat dia berkata. “Mending kamu mandi dulu sana.” katanya sambil bangkit dan berjalan menuju kamarnya hanya dengan berbeha saja. Aku masih menutup kemaluanku dengan celana saat dia menyodorkan handuk bergambar bunga.
”Udah, bajunya ditinggal aja.” bu Yanti merebut celanaku. Kupandangi selangkangannya yang menghitam oleh bulu, ada sedikit lelehan spermaku di sana.
Sesuai perintahnya, aku pun masuk ke kamar mandi. Setelah selesai, kulihat bu Yanti menyediakan makan. Dia sudah memakai dasternya kembali. ”Kok masih malu?” katanya saat melihatku membalikkan badan saat memakai pakaian. Pikiranku masih tak karuan, tapi rasa dingin air es sedikit menenangkanku.
Sambil makan, kami pun ngobrol. “Maafin ibu ya?” katanya.
“Gak papa, bu.” jawabku.
“Kamu suka gak?” tanyanya. Aku tersenyum.
Setelah selesai, aku duduk di kursi,memandangi tempat kejadian tadi. “Pasti kalau kamu dimintai tolong lagi, gak mau?” tanyanya.
“Gak kok, bu. Masih tetep mau.” jawabku.
”Benar?” tanyanya.
Aku mengangguk pasti.
“Ya sudah, ibu mau minta tolong lagi.” katanya.
Aku mengangguk.
Tiba-tiba bu Yanti kembali membuka dasternya, kemudian kutangnya. Celana dalamnya, yang sekarang berganti dengan warna merah, tidak ikut ia lepas. Kemudian dia berbaring kembali di karpet beralaskan bantal di kepalanya.
“Sini,” katanya sambil menarik tanganku. “Hisapin puting ibu, ya?” katanya.
Kupandangi sejenak benda bulat sebesar kepala bayi itu. Kuperhatikan betapa besar dan padat bulatannya, juga warna kulitnya yang sangat putih dan mulus, dan putingnya... tampak sangat menggiurkan dengan ukurannya yang mungil dan warnanya yang merah kecoklatan. Tak lama, akupun mulai menyedot dan menghisap-hisapnya seperti bayi.
“Ibu masih pingin ya?” tanyaku disela-sela sedotanku.
“Iya,” katanya sambil perlahan kembali menggerayangi celanaku. Akhirnya aku merebah, kubaringkan diriku di sampingnya sambil mulutku terus mengenyot putingnya, bergantian kiri dan kanan. Sementara bu Yanti kembali membuka celanaku dan mengelus-elus batang kontolku yang sudah ngaceng berat.
Tanpa kuminta, dia kembali mengulumnya, menghisap dan menjilatnya penuh nafsu sambil menyuruhku melakukan hal yang sama pada lubang kemaluannya. Dalam posisi berbaring miring berhadapan, kami melakukannya.  Saat memeknya sudah menjadi sangat basah, bu Yanti tersenyum. Tak lama, saat kontolku sudah benar-benar keras, dia kembali naik ke atas tubuhku, dan perlahan kontolku ia jejalkan ke dalam lubang memeknya.
Lalu mulailah dia menggerakkan tubuhnya yang montok naik turun, menjepit dan mengurut batang kontolku dengan lubang memeknya yang sempit dan basah, hingga semakin lama goyangannya kurasa menjadi semakin cepat. Aku hanya pasrah menerimanya. Kupandangi wajah cantiknya yang mengerang-ngerang seperti orang kepedasan sambil kuremas-remas bulatan payudaranya yang terasa sangat empuk dan kenyal di genggaman jari-jariku.
Sampai akhirnya, lima belas menit kemudian, dia memelukku dan menyuruhku untuk berbalik. “Aduh, ibu sudah kewalahan. Sekarang kamu yang di atas.” katanya.
Kurasakan memeknya menjadi kian basah setelah dia menyemprotku sekitar tiga kali tadi. Rupanya dia sudah orgasme, sedangkan aku masih belum apa-apa. Aku pun berguling dan naik di atasnya tanpa melepas tautan alat kelamin kami. Sekarang aku yang menggenjotnya, menggerakkan pinggulku maju mundur hingga bisa menggesek dinding-dinding vaginanya dengan penisku yang masih terasa kaku dan keras.
Hingga kira-kira 10 menit kemudian, aku pun mulai tak tahan. Apalagi bu Yanti terus menyiram penisku dengan cairan cintanya yang menyembur deras bertubi-tubi. Sudah tidak bisa kuhitung lagi berapa kali dia mencapai puncak. Yang jelas, dia kelihatan sangat lelah dan puas sekali. Sampai akhirnya, aku menyusul tak lama kemudian. Spermaku meledak di dalam liang memeknya. Setelah kuperas hingga habis, aku pun terkulai lemas di atas gundukan payudaranya. Kusandarkan pipiku disana.
Sungguh, suatu pengalaman yang luar biasa dan tak terkira. Saat pulang, aku dibekalinya uang. Tapi pikiranku terus melayang tak karuan.
Sejak itu, kami makin dekat. Sesekali kami mereguk kenikmatan bersama. Meski tidak ada tugas memeriksa  yang dia berikan, tapi dia memberiku tugas lain, menuntaskan rasa dahaganya. Dan aku sangat menyukainya.
Sampai akhirnya, di pertengahan kelas dua, aku kembali disuruh datang. Saat itu, dari sekolah seperti biasa kami bersama. Sampai di rumahnya, bu Yanti bertanya. “Kamu nanti mau gak?” katanya.
“Mau, bu.” jawabku antusias.
Wah, tapi gimana ya, nanti ada anak kelas tiga datang juga.” katanya.
“Yah, gak bisa dong.” jawabku kecewa.
“Ya lihat nanti aja yah?” katanya.
“Jangan lama-lama, bu. Gak kuat, aku sudah pengen banget. Besok ya aku datang?” kataku.
Tiba-tiba terdengar suara motor. “Kayaknya itu dia.” kata bu Yanti. Aku kenal anak itu, anak yang termasuk populer di sekolah. Dia anggota tim basket, badannya bagus, wajahnya hitam manis. Perfect lah pokoknya. Dia sepertinya tidak kaget melihatku.
”Kak Wisnu ya?” tanyaku.
”Iya.” dia menjawab.
“Saya Tono, kak.” kataku.
Belum sempat kami basa-basi, bu Yanti sudah berkata: “Itu yang anak kelas satu buat kamu, No. Sisanya buat Wisnu.”
Kami langsung memeriksa, tanpa berkata apapun. Sesaat kemudian, bu Yanti datang sambil membawa makanan ringan dan meletakkannya di meja. “Kok gak sambil ngobrol, malah diam-diaman?” katanya. Kami hanya tersenyum menanggapinya. Aku dan Wisnu lebih sering menjawab pertanyaan bu Yanti daripada saling bertanya.
Akhirnya pekerjaan selesai, hari hampir jam lima sore. “Maaf ya, ibu janji sama kamu hari ini,” kata bu Yanti padaku saat kami asyik memakan cemilan. Aku sedikit tak mengerti.
Bu yanti kemudian duduk diantara kami berdua. “No, mau gak main bertiga sama Wisnu?” katanya.
“M-maksud ibu?” tanyaku.
“Daripada besok, mending sekarang aja. Wisnu juga pasti gak keberatan.” bu Yanti berkata sambil meraba kemaluan Wisnu. Aku sempat kaget, tapi saat kemudian tangannya ikut meraba kemaluanku, akupun maklum.
“Gak usah takut,” kata bu Yanti. Dia berkata sambil membuka kancing baju dasternya. ”Nu,kamu buka juga!” perintahnya pada Wisnu.
Wisnu tersenyum dan langsung membuka satu per satu pakaiannya. Aku masih bingung, tapi saat pakaianku dilucuti oleh bu Yanti, aku terdiam. Perlahan, bu Yanti menciumku, sementara Wisnu tanpa ragu langsung meremas dan menciumi payudara bu Yanti yang sudah tidak tertutup lagi. Sambil melumat daging kembar itu, Wisnu menyodorkan kontolnya ke mulut bu Yanti. Kemaluannya sungguh hitam dan besar, lebih panjang dibandingkan punyaku. Bu Yanti segera mengulumnya penuh nafsu. Dia hisap kontol itu sambil tangannya meremas-remas kemaluanku.
“Kamu kok diam aja, No?” katanya kepadaku. Aku akhirnya meremas dada bu  Yanti. Kupilin dan kupelintir-pelintir putingnya dengan ujung jariku.
Tak lama,bu Yanti ganti mengulum kontolku. Sementara Wisnu, berbaring telentang di karpet, mulai menjilati memek bu Yanti. Cukup lama kami berada dalam posisi seperti itu, hingga saat aku sudah hampir meledak, bu Yanti tiba-tiba berdiri dan nungging di pinggir sofa. Dari belakang, Wisnu langsung menusuk dan menghajar memeknya. Kuperhatikan persetubuhan mereka sambil tanganku meremas-remas tetek bu Yanti yang bergelantungan indah, sementara kontolku diemut dan dijilati olehnya.
Tak lama, Wisnu mengejang. Ia menggeram sambil memijit keras-keras payudara bu Yanti. Tubuhnya berkedut-kedut sejenak sebelum akhirnya terkulai lemas di sofa. Aku yang mendapat giliran selanjutnya, segera memposisikan tubuhku. Saat sudah akan memasukkan penisku, bu Yanti mencegah.
“Di kamar aja yuk?” ajaknya.
Dia kemudian menarik tanganku. Sesampainya di kamar, bu Yanti segera berbaring telentang di atas ranjang, menyuruhku untuk menggenjot tubuh sintalnya dari atas. Aku pun melakukannya. Kutusuk memeknya yang masih tampak basah oleh sperma Wisnu dan kugoyang dengan cepat.
Wisnu yang sudah cukup istirahat, menyusul kami ke dalam kamar. Dia duduk di sebelah bu Yanti dan mengulum payudara wanita cantik itu. Dengan bibir dan lidahnya, dia mencucup dan menggelitik puting bu Yanti yang sudah mengeras tajam. Sementara kontolnya yang masih mengkerut, ia berikan agar bu Yanti menghisap dan mengemutnya, biar benda itu jadi tegak dan bisa digunakan kembali. Benar-benar permainan bertiga yang sangat dahsyat.
Sesaat kemudian, aku mengejang. Padahal sudah berusaha aku tahan, tapi tetap tidak bisa. Setelah tetes terakhir keluar, aku pun terkulai lemas di bibir ranjang. Wisnu menggantikanku. Kontolku yang sudah kembali ngaceng segera ia tusukkan ke memek bu Yanti yang masih menganga lebar mencari pelampiasan. Sedangkan aku bergeser menggantikan pekerjaan Wisnu, menghisap dan meremas-remas payudara bu Yanti yang bulat dan membusung indah.
Adzan maghrib terdengar. Wisnu telah mengeluarkan cairan kenikmatannya untuk yang kedua kali. Begitu juga denganaku. Sedangkan bu Yanti, tak terhitung berapa kali ia memekik dan menjerit panjang saat menjemput nikmat orgasmenya. Sprei nampak basah dan lecek oleh cairan kami bertiga. Rasanya sungguh sangat melelahkan, tapi kami malah sepakat untuk mengulanginya lagi setelah beristirahat sejenak. Akhirnya, seperti dua kuda liar yang menemukan betina untuk digagahi, aku dan Wisnu bergantian menggenjot tubuh mulus bu  Yanti. Bahkan di akhir permainan, saat jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, bu Yanti menyuruh kami berdua memasukkan kontol secara bersamaan. Aku di memek, sementara Wisnu di lubang anus. Sungguh kenikmatan yang luar biasa.
Sejak itu, nafsu kami jadi makin tak terkendali. Sering kami mengulangnya. Tidak saja dengan Wisnu, tapi juga dengan anak-anak lain. Bahkan suatu kali, mantan kakak kelasku yang telah lulus pun datang, 3 orang. Berempat kami memuaskan bu  Yanti.
Di akhir kelas tiga, aku pun tahu bahwa bu  Yanti tidak akan kesepian walau jauh dari suaminya. Karena satu hari, aku diperkenalkan dengan murid kelas satu berbadan tinggi dan ganteng. Bersamanya, aku menggauli bu Yanti.
Akhirnya aku lulus. Saat SMA, pernah dua kali aku mengunjungi bu Yanti dan tentu saja menggaulinya. Tapi semenjak kelas dua SMA, aku tak pernah ke tempatnya lagi karena aku sudah menemukan wanita-wanita lain yang sebaya dan jauh lebih segar dari guruku, bu Yanti tercinta…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar