Minggu, 15 April 2018

Iblis Dunia Persilatan 3

Hak cipta © Aone

BAB 3

"Emhhh...!" Seorang Pemuda tampan berbaju kelabu membuka matanya, sungguh kaget tak kepalang hatinya ketika ia menyaksikan seorang gadis mungil berusia lima belas tahunan sedang menari di tengah lapangan. 

Gadis itu memakai baju dari kulit kujang berbentuk terusan, sehingga ketika gadis itu mengangkat kakinya, paha yang putih mulus beserta isinya akan terpampang dengan jelas. Peluh sebesar jagung tampak menetes pelan dari dahinya, ke wajahnya, dan terus turun ke lehernya yang jenjang, lalu mengalir hingga menghilang di lekukan menonjol di bagian dada. Ketika gadis itu mengangkat tangannya, maka gundukan yang mengintip tampak menyembul indah di sela-sela baju kulit kujangnya. 

Terpesona bukan kepalang hati pemuda berbaju kelabu yang tak lain adalah Gardapati. Diperhatikannya tarian gadis itu, dan sungguh kagum Gardapati melihatnya. Sekilas saja ia dapat melihat tarian erotis itu bukan hanya tarian yang sangat indah dan merangsang gairah, namun berupa gerakan silat yang mematikan, sampai-sampai ia yang berada di dalam jarak tiga puluh tombak pun merasakan gelegak gairah yang menyesatkan aliran darahnya.

Seandainya Gardapati tidak mempelajari ilmu yang sealiran, barangkali ia akan gila diamuk birahinya sendiri. Untunglah Gardapati mampu membendung hasratnya yang menggebu itu dengan ilmu yang disebut dengan Birahi Daun Keladi, yakni suatu ilmu yang dapat menangkal ilmu sejenis tarian si gadis. Ilmu Birahi Daun Keladi tidak menentang jurus itu, melainkan malah membiarkannya ikut ke dalam dan membuatnya terombang-ambing. Namun seperti air yang menetes di daun keladi, maka birahi itu pun sama, hanya mampir dan lewat sebagaimana air itu sendiri.

Gadis itu yang tak lain adalah Astadewi tak sadar bahwa ada yang memperhatikan setiap gerakan tubuhnya, ia terus saja bergerak laksana air yang mengalir. Jurus-jurus dalam kitab kitab Asmara Teratai Putih terus saja ia praktekkan. Kadang pinggulnya bergoyang, tubuhnya meliuk ke kanan ke kiri, tangannya terus saja melakukan tarian-tarian, namun tarian itu terlihat begitu jalang, genit, dan liar. Tapi hebatnya wajah Astadewi tetaplah lugu dan polos seperti seorang anak kecil, seakan gerakannya itu adalah hanya tarian biasa.

Mengapa Astadewi berada di sana?

Setelah berpisah dengan Danenra dan Adi Praja, Astadewi merasakan kesepian yang dalam. Maka diputuskannya untuk berjalan-jalan, dan sampailah ia di lapangan rumput itu. Merasa terpesona, sekelebat ide muncul dalam benaknya. Tanpa melihat kondisi sekitar, Astadewi segera melatih jurus-jurus dalam kitab Asmara Teratai Putih yang dipelajarinya.

Dimulai dari Jurus pertama yakni Gadis Cantik Jatuh Cinta, dilanjutkan dengan jurus kedua Panah Asmara Memabukkan Raga dan seterusnya hingga dalam jurus kedua belas yakni Tarian Ranjang Bergoyang, Astadewi terpergok Gardapati tanpa ia sadari sebelumnya.

Perlu diketahui bahwa jurus Asmara Teratai Putih terdiri dari dua puluh lima jurus berikut cara melatih tenaga dalam yang dinamakan Tenaga Sakti Birahi Gadis liar. Pada saat mencapai jurus kedua puluh lima yakni Puncak Surga Dunia, terlihat Astadewi menggeliat liar seperti cacing kepanasan; tangannya bergerak tak beraturan seperti orang yang gila, mulutnya mendesis lirih, kakinya menendang dengan kecepatan kilat, saking cepatnya bahkan gerakan kakinya tak terlihat. 

Jika bukan Gardapati, mustahil orang akan mengetahui bahwa kaki itu menendang kemana-mana, rumput tersibak dan angin berseliweran. Tak lama kemudian semuanya kembali seperti semula. Gardapati diam mematung terpesona ketika melihat mata sayu gadis itu, wajahnya yang lugu tanpa salah begitu memikat hatinya.

Setelah agak sadar barulah Gardapati bertepuk tangan. "Plok... Plok... Plok...!"

Mendengar suara keplokan, meski ringan, wajah Astadewi segera berubah. Diliriknya sumber suara, wajahnya tiba-tiba pucat, lalu berubah kemerahan hingga akhirnya menunduk malu. Tapi itu tak berlangsung lama, didekatinya pemuda berbaju kelabu yang menurutnya sangat tampan itu, wajar saja karena selama ini ia hanya bergaul dengan Danenra dan Adi Praja yang jauh dari kata tampan.

"Siapa kau?! Mengapa kau mengintipku berlatih?!" bentaknya garang, namun wajah lugunya yang cantik tak bisa mendukung kata-kata garangnya itu. Bahkan di telinga Gardapati, suara itu bak burung nuri yang sedang berkicau, begitu memabukkan telinganya.

"Maafkan kekhilafanku, Nona, maafkan aku yang rendah ini. Bukan maksudku untuk mengintip silat nona yang begitu memabukkan jiwa dan raga, namun nonalah yang tak memperhatikan keberadaanku sebelumnya. Ketika aku datang dan tidur disini, di lapangan ini tak ada siapa-siapa. Dan ketika aku bangun dari lelapku itu, aku melihat seorang bidadari yang lugu menari dengan indahnya, sampai aku tak mampu untuk berdiri," goda Gardapati. Meski menggoda, namun ucapan itu diucapkan sewajar-wajarnya tanpa ada nada rayuan gombal, sehingga ucapan itu seperti diucapkan dengan tulus. 

Mendengar ucapan seperti itu, hati kesal Astadewi mendadak mencair seperti salju yang terkena hangatnya sinar mentari. "Kalau begitu mengapa kau tak segera bangun dan kita mengobrol secara baik-baik?" Astadewi berkata lebih lembut.

"Maafkan aku wahai bidadari berwujud perempuan, kau terlalu indah untukku, sampai aku tak bisa menopang berat tubuhku ini. Lututku goyah, hatiku berantakan... maafkan aku!" Gardapati berusaha menggombal. 

Dan namanya juga perempuan, perempuan manakah yang tak suka dipuji? Meski tahu dirinya dibohongi, Astadewi percaya juga. Wajahnya merah seperti kepiting rebus. 

Menyaksikan mangsanya terkena jerat, Gardapati segera berkata, "Oh, betapa merahnya wajahmu itu, tak sabar kuingin membelainya dalam angan. Lihatlah tingkahmu yang menggemaskan ini, ingin kumendekapnya dalam rindu. Duduklah wahai kasih, duduklah diantara belaian rumput yang lembut laksana sutera ini, itu pun jika kau berkenan. Aku takkan pernah memaksa orang seindah dirimu untuk mengikuti kehendakku, aku tahu aku hanyalah sebutir debu dalam hamparan kerikil," Suara itu menggetar-getar dan mendayu-dayu, tidak salah, ucapan itu memang dilembari dengan ilmu Sabda Dewa, jadi tidak salah bila perasaan Astadewi melayang-layang seperti terbang ke awan.

"Akh, kakang!" desis Astadewi lirih, matanya sayu. Tanpa malu ia duduk di hadapan Gardapati sehingga paha indahnya terpampang dengan jelas; saat berdiri saja baju kulit kujangnya itu berada lima jari di atas lutut, jadi bisa dibayangkan bila ia duduk bersila.

Mata Gardapati bersinar-sinar memancarkan gairah, tapi ia tak melakukan sesuatu. Dia memang merasakan suatu getaran dalam hatinya terhadap gadis satu ini, maka ia tak melakukan hal yang akan menyinggung perasaan si gadis. Dan bukan hanya Gardapati yang merasakan getaran aneh itu, Astadewi pun merasakan hal yang sama. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya, jangankan bersuara, menatap mata pemuda itu saja ia tak berani.

"Adik manis, siapakah gerangan namamu?" Gardapati memecah keheningan.

"Astadewi, dan kangmas?" tanyanya malu-malu.

Kangmas, sebuah sebutan sederhana namun begitu manis di telinga Gardapati. Meski ia sudah meniduri sembilan puluh sembilan perempuan, namun selama ini ia belum merasakan apa yang dinamakan dengan cinta. Dan anehnya ia merasakannya sekarang, dengan seorang gadis yang baru saja ia tahu namanya. Cinta memang aneh, tak perlu mengenal lama. Terkadang cinta pada pandangan pertama begitu indahnya, pikiran melayang angan pun melambung.

"Gardapati!" jawabnya lirih, tangan Gardapati bergerak dan memegang punggung telapak tangan Astadewi.

Keduanya bertatapan, Astadewi sama sekali tak memindahkan ataupun berontak, seperti kena sihir saja ia membiarkan tangannya dipegang dan diremas-remas. Mendapat angin, Gardapati segera menarik tangan itu sehingga tubuh Astadewi tertarik dan melekat di tubuhnya, ia peluk gadis itu dengan sejuta kasih dan sayang.

Astadewi tersenyum malu di samping leher Pemuda yang memeluknya, direbahkan tubuhnya dengan sejuta kehangatan, dilingkarkan tangan mungilnya di leher Gardapati. Sedangkan Gardapati melingkarkan tangannya di punggung gadis itu, keduanya saling diam merasakan semilir angin yang berhembus. Rumput bergoyang dengan indahnya seakan menjadi saksi bisu cinta kedua insan itu.

***

"Benarkah kakang menerimaku yang sudah ternoda ini?" tanya Astadewi ragu.

"Wahai Nimas Dewi, seperti yang kakang katakan, cinta itu bermacam-macam cara untuk menikmatinya. Kakang juga sudah tak perjaka, seperti yang sudah kakang tuturkan kepadamu tadi. Cinta kakang kepada Nimas Dewi tidak sama dengan cinta lainnya, cinta kakang murni dari hati. Kakang tidak akan pernah mempermasalahkan masa lalumu itu, bahkan sekarang pun kakang takkan melarang engkau bersetubuh dengan orang lain, siapapun itu orangnya... Kakang tahu, cinta Nimas Dewi hanya untuk kakang! Kakang bukanlah orang egois yang menuntut macam-macam, kakang hanya minta perasaan Nimas Dewi. Perasaanmu ini," Gardapati menunjuk dada Astadewi.

"Masa kakang rela aku digerayangi orang lain?" Astadewi bertanya heran.

"Tentu, tentu kakang tak rela. Apakah kamu pikir kakang tidak cemburu melihat kamu dikerjai orang lain? Tidak, Nimas Dewi, tidak. Tentu kakang cemburu, namun cemburu kakang tidak sama dengan orang lain. Bila orang lain melarang, maka kakang ingin lebih. Kakang ingin kamu lebih menikmatinya, kakang ingin melihat kepuasanmu, kakang ingin merasakan kebahagiaanmu.. ingatlah Nimas Dewi, setiap orang memiliki cara pemuasan yang berbeda. Kakang ingin kamu merasakan, merasakan kamu terpuaskan oleh orang lain. Kakang cinta Nimas Dewi seperti ini... Kakang tahu, ilmu yang Nimas Dewi pelajari menuntut hubungan badan, maka dari itu kakang beri kebebasan kepada dewi untuk mencari dan menikmati."

"Cup..." Gardapati mengecup pipi gadis itu, membuat pemiliknya merah merona.

"Terima kasih, kakang, kakang benar-benar lelaki yang jarang ada di dunia ini. Takkan ada lagi orang seperti kakang, Dewi juga mencintai kakang," Astadewi memeluk tubuh kekar Gardapati.

"Nimas Dewi, bagaimana... apakah Nimas Dewi bersedia menjadi perempuan yang kakang maksudkan?" Gardapati memelas.

"Tentu, kakang. Dewi bersedia melayani kakang. Dewi bersedia menjadi perempuan yang seperti kakang inginkan!" Astadewi memperkencang pelukannya.

"Mari Dewi, kita temui guru... kakang tak sabar melihat engkau menjerit penuh kepuasan, kakang sudah tak sabar melihat tubuh indahmu itu!"

Dan tanpa diperintahkan untuk yang keseratus kalinya, Gardapati memeluk tubuh Astadewi dan meloncat ke dalam jurang Mulut Dewa Neraka. Berkat ilmu peringan tubuh yang dinamai Ngambang angin, yang juga dipergunakan Iblis Bermata Hijau dulu ketika ia meloncat ke jurang itu, Gardapati dan Astadewi dapat turun dengan mulusnya dan berdiri di atas batu berlumut hijau di dasar jurang sana. 

Mata Astadewi celingukan melirik daerah sekitarnya. Sudah tahunan ia berada di atas hutan di mana jurang ini berada, tak pernah selintas pikiran pun di bawah jurang ini akan ada kehidupan lainnya. Gardapati menuntun tangan gadis itu untuk mengelilingi segenap tempat, pertama ia mengajak Astadewi ke ruang perpustakaan. Seperti biasa dengan menekan tombol rahasia, maka terbukalah sebuah ruangan lain, lalu mereka masuk ke dalamnya.

"Nimas Dewi, disinilah semua ilmu yang kakang pelajari. Milik kakang adalah milik Dewi juga, bila Dewi berkenan mempelajarinya!"

"Terimakasih, kakang!"

"Mari kita pergi ke tempat lain!" ajak Gardapati sambil memutar lukisan di dinding.

"Drettt... drett...!" Sebuah ruangan lain terbuka. Astadewi diam tak dapat bersuara, ia kaget ternyata di dalam jurang terdapat ruang rahasia seperti di bekas Perguruannya, Teratai Putih.

"Inilah Ruang Racun! Kau berminat mempelajarinya, Nimas Dewi?" tanya Gardapati sambil sesekali mencuri pandang ke arah dua bukit kembar Astadewi yang cukup kelihatan di balik baju kulit kijang yang ia pakai.

"Lain kali saja, kakang!" tolak Astadewi halus. Kelihatannya udara yang dingin membuatnya sedikit menggigil, Gardapati mencoba memegang tangan gadis itu dan Astadewi tidak menolak.

Lalu Gardapati menginjak pedal di sudut ruangan hingga membukalah sebuah ruangan lainnya. Inilah ruangan senjata, kata Gardapati, kini memberanikan diri untuk memeluk Astadewi, dan sekali lagi gadis itu tidak menolak bahkan semakin merapatkan badannya ke dada Gardapati.

Begitulah keduanya terus berputar-putar, menjelajahi setiap sudut ruangan yang ada di dalam goa. Ruangan harta, ruangan obat dan lain sebagainya telah mereka kunjungi. Tangan Gardapati gemetaran saat bersentuhan dengan buah dada Astadewi yang mulai membesar seiring usianya. Sampai akhirnya Gardapati mengajak Astadewi ke kamarnya. 

Keduanya bertatapan mesra, lalu saling mendekatkan wajah, hingga tanpa sadar mulai saling berciuman. Gardapati mengangkat dagu Astadewi dan melumat bibirnya mesra. Astadewi pasrah dan membalas ciuman itu. Cukup lama mereka saling memagut bibir dengan gairah nafsu yang sama-sama membara.

"Kakang, ohh..." Astadewi berkata disela-sela hisapan bibirnya.

"Iya, Nimas," Gardapati membalas. Kini tangannya telah bergerak ke arah payudara gadis itu dan mulai membelai halus sambil sesekali meremas-remasnya ringan.

"Ohh.. Kakang," Astadewi mendesah dengan nikmatnya.

Pelan-pelan Gardapati membuka baju yang dikenakan gadis itu. Ternyata di balik kain kulit kijangnya, Astadewi tidak memakai pakaian dalam sehingga tubuhnya yang mulus segera terpampang dengan jelas di hadapan Gardapati. Puting susunya yang kemerah-merahan terlihat bertengger dengan begitu indah di atas dua bukit kembar yang mulai membusung besar. 

Tanpa menunggu lama, Gardapati segera membopong tubuh telanjang itu ke atas ranjang. Kembali dilumatnya bibir Astadewi yang kecil memerah begitu mereka sudah berbaring bertindihan, sambil tangan Gardapati membelai lembut bukit kembar gadis itu. Astadewi yang tak mau ketinggalan, ikut membuka ikatan baju Gardapati dan menelanjangi laki-laki itu. Tangannya meluncur cepat untuk  meremas-remas batang kemaluan Gardapati yang terasa keras dan tegang, membuat mata Gardapati jadi merem-melek keenakan jadinya.

Kini leher jenjang Astadewi yang menjadi sasaran Gardapati berikutnya. Ia menciumi dan mejilati sepuasnya. Hampir saja ia gigit leher itu, kalau tidak diingatkan oleh Astadewi.

"Jangan, Kang.. nanti kelihatan orang," bisiknya.

Gardapati memandangi tubuh indah itu sesaat. Lidahnya tahu-tahu sudah memainkan puting payudara Astadewi yang berwarna coklat muda dan sudah mengeras tajam. Pelan-pelan Gardapati juga mengangkat kaki kanan Astadewi dan diletakkan di atas perutnya.

Dalam posisi telentang berdampingan, jari kiri Gardapati memainkan bulu-bulu halus di sekitar vagina gadis itu, kemudian merambat menggesek-gesek lipatan pahanya. Pinggang Astadewi terangkat dan bergerak-gerak tidak beraturan karena kegelian, terdengar dia melenguh-lenguh tanda terangsang.

"Ahh.. ouuhgh.. enaak, Kang.. sshh.. nikkmaatt.. terusskan.."

Gardapati menurunkan kaki Astadewi dan dengan penuh nafsu meneruskan serangan. Lidahnya kini sudah berada di lipatan paha gadis muda itu, menggantikan jarinya tadi. Pelan Gardapati mendekatkan hidungnya ke sela paha Astadewi, sekilas tercium bau segar yang khas.

Berikutnya, dengan penuh nafsu, Gardapati menyerang bibir vagina yang sudah mulai basah itu. Ia menjilat-jilat sambil sesekali menjepit bagian dalam bibir vagina Astadewi dengan giginya. Sentuhan ringan tangannya juga sesekali memainkan daging kecil sebesar biji kacang tanah yang ada di sana. 

Serangan itu membuahkan hasil. Astadewi bergetar keras dan mulai meracau tak karuan, "Hmm.. sshh.. ngghh.. akhh... berputar, Kang.. berputar! Aku juga mau memanjakan kakang!!"
Tangannya kemudian memegangi kepala Gardapati, lalu meraih pinggang dan menangkap kaki pemuda itu dan memutarnya ke arah muka. Gardapati mengikuti saja apa maunya.

Mereka kini berbaring berlawanan arah, dengan Gardapati tengkurap di atas tubuh mulus Astadewi. Penisnya berada di atas mulut gadis itu, dan begitu pula sebaliknya, sambil mereka terus melakukan stimulasi di sekitar paha. 

Hmmph, rakus Astadewi melahap penis Gardapati, lalu diemut dan ditelannya sampai habis. Dia mengisap-isapnya, sesekali dikocok-kocok dan dijilati sampai puas. Gantian kini Gardapati yang menggelinjang hebat.

"Mmhh.. pelan-pelan, nimas." bisiknya tak tahan. Tapi Astadewi terus menghisap-hisap dan menjilati penisnya sampai badan Gardapati merinding semua.

Lalu gadis itu memberi isyarat agar berubah posisi. Mereka berguling ke samping dengan posisi kepala Gardapati masih tetap di depan selangkangan Astadewi, begitu pula sebaliknya. Namun sekarang Gardapati yang berada di bawah.

Rupanya dengan posisi demikian, Astadewi jadi lebih mudah menikmati penisnya. Gardapati pun demikian, lebih leluasa untuk menjelajahi selangkangan gadis muda itu. Kembali mereka saling merintih dan melenguh memberikan respon terhadap rangsangan yang diterima. Astadewi menggelinjang penuh kenikmatan ketika kemaluannya dijilati, dan Gardapati pun ikut mengerang ketika Astadewi semakin gencar menyerang penisnya dengan tak kalah hebatnya.

Mereka tetap dalam posisi itu sampai beberapa menit.

Tiba-tiba Astadewi menghentikan kulumannya dan duduk di tepian ranjang. Ditariknya tangan Gardapati agar memeluknya dan dengan gencar mulai menciumi si pemuda. Suara dari ciuman mereka begitu merdu, meski sedikit membuat Gardapati kesulitan mengambil napas.

Sejenak kemudian Astadewi menghentikan gerakannya. Gardapati mencoba menunduk untuk mencium puting gadis itu, tapi Astadewi keburu menggigit daun telinganya dan berkata lirih, "Ayo, Kang.. kita lakukan sekarang!"

Gardapati tidak jadi menciumnya dan ganti merebahkan tubuh mulus Astadewi di atas ranjang. Ia tindih tubuh polos itu setelah terlebih dahulu mengangkangkan kedua kakinya lebar-lebar. Dicobanya untuk menerobos lubang gua Astadewi, namun meleset. Dicoba lagi dan meleset. Kepala penisnya sudah masuk dan menyentuh bibir vagina Astadewi, tapi selalu saja gagal.

Astadewi jadi merintih-rintih penasaran karenanya, "Masukkan, Kang! Masukkan sekarang!" Dengan tidak sabar, ia genggam batang penis Gardapati dan diarahkan ke lorong vaginanya yang sudah merekah. 

Merasa sudah pas, Gardapati mendorong. Kali ini berhasil. Dengan lancang batang penisnya yang besar menerobos masuk ke liang vagina Astadewi yang hangat dan basah. Gadis itu tersentak dan menekan pantat Gardapati dengan kedua tangannya.

"Dorong terus, Kang! Dorong yang kuat!" desahnya.

Gardapati kembali mengayun, kali ini dengan segenap tenaga hingga semua batang penisnya amblas di dalam liang gua Astadewi. Gadis itu berteriak agak kuat sambil menggoyangkan kepalanya ke kanan ke kiri dan melakukan gerakan-gerakan tak beraturan, kentara sekali kalau sedang kesakitan.

"Aku teruskan apa tidak?" Gardapati berkata.

"Tidak apa-apa. Naikkan sedikit lebih ke atas dan turunkan lagi," desis Astadewi.

Gardapati mengangkat pantatnya sedikit, sementara Astadewi memegangi pinggangnya untuk membantu melakukan gerakan memompa. Gesekan kulit penis Gardapati dengan dinding vagina gadis itu membuat keduanya mendesis nikmat. 

Gardapati mencium dada Astadewi dan menggigit putingnya sampai memerah agar gadis itu bisa menikmati, lalu ia mulai melakukan gerakan memompa dengan perlahan-lahan. Dikulumnya payudara Astadewi sampai setengahnya dan putingnya yang mungil ia gigit-gigit gemas. Astadewi tersentak dengan kepala menengadah ke atas sehingga lehernya yang jenjang terlihat semakin menggairahkan. Dia berusaha mengimbangi dengan menggerakkan pinggulnya memutar sehingga penis Gardapati terasa seperti tersedot oleh suatu pusaran arus yang sangat kuat.

Keduanya terus bergumul, namun bukan sembarangan bergumul, jika Astadewi menggunakan teknik melatih jurus Asmara Teratai Putih, maka Gardapati menggunakan teknik Iblis Panah Asmara. Entah mengapa kedua ilmu itu saling melengkapi, tak ada jurus yang tak ada pasangannya.

Gardapati menambah kecepatan tusukannya karena ia mulai merasa sudah mendekati saat-saat terakhir menggapai puncak. Dia merasakan darahnya mengalir deras ke suatu titik, yaitu ujung penisnya. Goyang, genjot dan goyang terus, itulah yang ia lakukan. Sementara Astadewi juga mempercepat putaran pinggulnya.

Tubuh kedua saling merapat, mendekap erat, sampai akhirnya Gardapati menyemburkan sperma ke dalam vagina Astadewi sambil menekan pantatnya kuat-kuat hingga menyentuh dinding rahim.

"Ouhh... nimas.. oouhh!!" Gardapati mengerang.

"Kakang.. tahan sebentar.." teriak Astadewi. Gardapati merasakan dinding rahim gadis itu berdenyut-denyut kuat, lalu... "Oughhh... aku juga, Kakang.. aku jugahh!!"

Mereka mencapai puncak kenikmatan hampir berbarengan, hanya selisih sepersekian detik. Astadewi masih berteriak-teriak hingga Gardapati terpaksa harus menyumbatnya dengan sebuah ciuman. Sementara di bawah, penisnya terus berdenyut-denyut menguras segala isinya, merasakan dinding-dinding vagina Astadewi yang juga melakukan hal yang sama. 

Hampir semenit mereka berpagut mesra, hingga akhirnya Astadewi mendorong tubuh Gardapati ke samping. "Kamu pintar sekali, Kakang," katanya sambil mencubit lengan pemuda itu.

Gardapati menatap wajah lugu gadis di sampingnya dan berkata, Ternyata ilmu yang kita pelajari serumpun, Nimas Dewi.

Astadewi tersenyum malu, wajahnya disusupkan di dada bidang Gardapati, kekasihnya itu. Namun tiba-tiba Gardapati bangun berdiri, tentu saja Astadewi jadi mengernyit tak mengerti.

"Ayo!" Gardapati menjulurkan tangannya pada gadis itu.

Meski tak mengerti, Astadewi menurut juga. Ia bangkit sambil bertanya keheranan, "Hendak kemanakah kita sekarang, kakang?"

"Kita akan menemui Eyang Guru!" Gardapati memberikan bocoran.

"Baiklah, kakang, Dewi hendak berpakaian dahulu."

"Tidak usah, kekasihku, kau cantik seperti ini!" Gardapati tiba-tiba mengangkat tubuh Astadewi dan memondongnya, dengan keadaan telanjang bulat keduanya berjalan menyusuri lorong di dasar jurang Mulut Dewa Neraka.

Gardapati mendorong salah satu pintu ruangan dan masuk, di dalamnya ternyata ada seorang kakek tua beruban dengan mata hijau menyala. Tak salah lagi, dia adalah Iblis Bermata Hijau adanya.

"Eyang Guru, murid menemui guru!" Gardapati menurunkan tubuh telanjang Astadewi dan berlutut, kemudian Astadewi mengikuti kekasihnya itu berlutut.

"Diakah yang terakhir muridku?" tanya Iblis Bermata Hijau.

"Benar, Eyang Guru,"

Iblis Bermata Hijau menatap tubuh Astadewi dan bergerak mendekati, lalu tanpa berkata apa-apa, ia merengkuh tubuh bugil itu dan menggumulinya. Astadewi nampak tidak keberatan, bahkan dia tersenyum gembira. Malah tangannya mulai bergerak melucuti pakaian sang kakek. Mulai dari baju, ikat pinggang dan akhirnya celana. Mereka pun berpelukan dengan tubuh telanjang.

Penuh nafsu Iblis Bermata Hijau menciumi Astadewi, mulai dari wajah hingga ke bahunya. Astadewi melenguh, nafasnya mulai memburu. Apalagi saat Iblis Bermata Hijau mulai meremas-remas bukit kembarnya yang meski berukuran sedang-sedang, tapi terlihat putih sekali. Putingnya yang mungil kecoklatan dipilin-pilin gemas, sambil Iblis Bermata Hijau menciumi seluruh permukaannya yang halus dan mulus.

"Hmmm," rintih Astadewi saat puting susunya dikulum mesra dan dipermainkan oleh Iblis Bermata Hijau. Entah berapa lama laki-laki itu menikmati kekenyalan buah dadanya, tapi yang jelas seluruh permukaan susu Astadewi jadi basah oleh keringat dan ludah kental laki-laki itu.

Tiba-tiba Iblis Bermata Hijau menarik tubuh Astadewi dan membaringkannya telentang, lalu dia merangkak di atasnya hingga penisnya berhadapan dengan kemaluan gadis itu.

"Siap, Nduk?" tanya Iblis Bermata Hijau.

"Lakukan, Eyang.. aku juga sudah tak tahan," jawab Astadewi dengan suara hampir tak terdengar.

Pelan Iblis Bermata Hijau membimbing kepala penisnya agar menempel di bibir kemaluan Astadewi. Kemudian dengan sekali hentakan, ia pun membenamkannya. Awalnya agak sulit, tapi beberapa saat kemudian semakin lancar. Bahkan Iblis Bermata Hijau bisa menaik-turunkan pantatnya hingga penisnya pun mulai bergerak keluar masuk di kewanitaan gadis itu.

Selama setengah jam dia mengocok penisnya di dalam lorong vagina Astadewi. Ciuman dibalas ciuman, rengkuhan dibalas rengkuhan. Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Seperti kesetanan keduanya bergumul menjadi satu dengan ditonton oleh Gardapati.

***

Sejak saat itulah Astadewi tinggal bersama Gardapati sebagai perantara antara Gurunya Iblis Bermata Hijau dan muridnya Gardapati. Astadewi tak menyesal menjadi kekasih Gardapati, disana ia selalu mendapatkan kepuasan batin maupun tubuh dari Guru barunya dan tentunya kekasihnya itu. Ilmu silat dan tenaga dalamnya meningkat pesat laksana busur panah yang dilepaskan untuk membidik.

Waktu bergulir laksana air mengalir, tak terasa satu tahun telah berlalu. Saat ini Gardapati berusia dua puluh tahunan sedangkan Astadewi enam belas tahun. Kini keduanya sedang berlatih tanding, tubuh gadis berbaju kulit kijang itu melayang-layang di udara menyerang lawannya, seorang pemuda berbaju kelabu.

"Hiat..!!"

"Blegaarrr!" Dentuman nyaring terdengar ketika kedua tangan mereka beradu.

Astadewi meloncat ke belakang dan mencabut sebuah pedang beronce merah, pedang itu berwarna putih kemerahan serasi dengan wajahnya yang selalu merah merona. Astadewi lintangkan pedangnya di depan muka, sementara tubuhnya melayang dengan kaki di atas dan kepala sedikit merunduk. Kaki kirinya disilang menekuk di kaki kanan, lalu menjejak dinding jurang. Perlu diketahui bahwa jurang Mulut Dewa berbentuk elips, jadi mereka bisa berloncatan dengan berlandaskan dinding jurang.

"Hiahhh... awas Pedang Dewa Neraka memenggal kepala!" teriak Astadewi sambil memutar pedangnya setengah lingkaran dan disabetkan kepada lawannya. Kecepatannya laksana kilat, sekali gebrak ia lancarkan sembilan belas tusukan, tujuh sabetan dan enam belas putaran.

Gardapati juga tidak kalah gesitnya; ketika Astadewi menyerbu, pedang juga ia cabut dari warangkanya. Bentuknya sama dengan milik Astadewi, hanya saja warna ronce pedang Gardapati itu berwarna kelabu. Meloncat dengan memutar tubuhnya laksana gasing, Gardapati papaki setiap serangan dari Astadewi sehingga terdengar dentingan nyaring.

"Trang...! Trang...! Trang...!"

"Kau hebat, kakang. Awas, kali ini aku akan menggunakan jurus Pedang Neraka Iblis," teriak Astadewi.

"Baik, Nimas Dewi, aku akan papaki dengan jurus Pedang Surga Dewa. Hati-hati!"

"Hiaaatttt...!" Keduanya berteriak mengguntur. Desingan nyaring suara benda tajam menggores udara terdengar menggiriskan seakan benda logam yang digoreskan pada kaca. Tampak pedang keduanya yang bersinar perak milik Gardapati dan orange kemerahan milik Astadewi hendak beradu di udara, namun sebelum kedua pedang itu bertemu, terdengar suara bentakan nyaring.

"Hentikaannnn!!!"

Keduanya terkejut. Gardapati segera kurangi tenaga dalamnya, begitu pula dengan Astadewi. Pedang yang telanjur disabetkan tidak bisa dihentikan, kaki sudah terlangkahkan, tangan terjembakan. Namun mereka sudah mencapai taraf dapat mengendalikan tenaga sekehendak hati; tak panas punggung saja mereka dapat melakukan bulat segiling, pecah setepik.

Pedang itu tidak beradu namun bergesekan. Gardapati sodorkan gagang pedang miliknya, begitu pula dengan Astadewi. Sleppp... Sleppp! Sungguh indah dipandang mata, lambat bila dikata, cepat dalam fakta.

"Apa kalian hendak meruntuhkan jurang ini?" bentak Iblis Bermata Hijau marah.

"Maaf, Eyang Guru, kami keasyikan." Astadewi mewakili.

"Haha... dasar murid-murid edan! Pergilah kalian lihat dunia, kacaukan... hancurkan! haha!"

"Maksud Eyang Guru?" Gardapati terkejut seakan mendapatkan firasat tertentu, ia ingat ucapan gurunya semalam yang menyuruh mereka untuk berkelana dalam dunia persilatan.

"Keputusanku sudah bulat. Aku sudah memegang erat, menggenggam teguh, aku sudah menuturkan apa yang menjadi keinginanku. Muridku, lakukan apa yang menjadi harapanku, maka aku akan bahagia!"

"Eyang!!" teriak Gardapati kaget ketika melihat tangan Iblis Bermata Hijau terangkat ke atas. Prakkkk...!! Belum sempat Gardapati menyelesaikan ucapannya, Iblis Bermata Hijau telah mengepruk kepalanya sendiri hingga ambrol. 

Gardapati dan Astadewi berpandangan, pedih benar hati mereka. Namun sepedih-pedihnya mata memandang, pedih juga kulit merasai. Maksudnya adalah, betapapun pedihnya orang yang melihat, lebih pedih lagi orang yang mengalami penderitaan tersebut. Gardapati tahu penderitaan gurunya, dari mulai sejak kecil hingga ia berusia dua puluh tahun itu.

Didekatinya mayat sang guru. Dia tak menangis, hanya tampak berkomat-kamit sebentar. Tanpa kata keduanya segera menguburkan mayat guru mereka. Meski baru satu tahun, Astadewi juga merasakan kehilangan, apalagi Gardapati yang sudah lama berkumpul.

Bau lembab dalam jurang berhembus lewat, Gardapati pandangi wajah lugu nan cantik milik Astadewi. Dipegangnya wajah Astadewi dengan kedua tangannya, perlahan wajahnya mendekat. Dan terjadilah sebuah pergulatan lidah yang tajam, keduanya enggan melepaskan kenangan indah itu. Tangan mereka bergerilya, satu-persatu pakaian mereka terlepas, hingga tak satu benang pun melekat. Di atas pusara Iblis Bermata Hijau, keduanya bergumul seru. 

Desahan nafas memburu berdentang seirama dengan bunyi lainnya. Mereka tak peduli pada burung-burung yang menyaksikan. Mereka tak pedulikan apapun. Yang mereka pedulikan hanyalah kenikmatan sesaat.

Gilakah mereka? Pasti orang lain yang melihat akan menganggap gila, namun itulah wasiat Iblis Bermata Hijau. Lalu siapakah yang gila? Apakah Iblis Bermata Hijau? Apakah mereka? Atau apakah zaman? Zaman gila? Entahlah... semua serba semu.

***

Di goa bawah dasar samudera.

Sagara Angkara berjalan-jalan di sudut gua dimana ia tinggal. Melihat air laut yang begitu jernih, ia berniat untuk bermain-main air. Maka segera ia turun. Gjeburr... air terasa begitu sejuk, membuat Sagara Angkara terlena. 

Yang begitu indah belum tentu itu tak berbahaya. Mendadak air berputar kencang membentuk lingkaran dimana Sagara Angkara bermain-main. Tentu saja itu membuat Sagara Angkara panik. Ia ingin berteriak tapi mulutnya terkunci, yanga mana tentu membuat Sagara Angkara ketakutan setengah mati.

Mendadak penglihatannya semakin semu, dunia berubah gelap dan gelap... Sagara Angkara segera tak sadarkan diri. Ombak masih menggulung lambat laun semakin tenang dan tenang.
Matikah Sagara Angkara?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar