Selasa, 24 April 2018

Iblis Dunia Persilatan 4



Hak cipta © Aone

“Kau sudah bangun, anakku?” sebuah suara berat penuh kasih sayang menegur di dekat telinganya.
Sagara Angkara terhenyak, ditatapnya langit-langit yang tampak batu karang bertonjolan. Pikirannya melayang, segera ia bangkit duduk dan menampar pipinya sendiri. “Plakkk!”
Kontan saja pemilik suara tadi yang tak lain dan tak bukan adalah Eyang Begawan Sutrasno terkejut. “Ada apa, Gara? Mengapa kau tampar pipimu sendiri?”
“Eyang, Gara serasa bermimpi. Mengapa Gara berada disini?”

“Kau terseret air laut disana dan pingsan, maka dari itu Eyang membawamu kemari. Mungkin kau pingsan selama empat hari. Eyang sempat khawatir akan keadaanmu itu?”
“Bwahahahaha...!” Sagara Angkara memegangi perutnya karena geli.
“Mengapa kau malah tertawa, hah?” bentak Eyang Begawan Sutrasno pura-pura marah.
“Maaf, Eyang,”
“Sudahlah, kau ini mengganggu saja. Istirahat sana, lihat matamu begitu merah. Esok hari kita akan meninggalkan tempat ini,”
“Apa? Hendak kemanakah kita, Eyang?” Sagara Angkara terperanjat.
“Kita akan berkelana; mengarungi lautan, mendaki gunung, menyeberangi sungai.”
“Hore, berarti kita akan melihat dunia luar, Eyang?!”
“Sudah. Tidur sana!” perintah Eyang Begawan Sutrasno lagi.

***

“Kakang Garda, apa kau sering bermain kemari? Lihatlah banyak sekali orang berkeliaran, wah yang itu mukanya kaya babi, yang itu... yang itu!” Astadewi tertawa sambil menunjuk orang yang berlalu lalang,
Wajahnya yang lugu dan kekanakan rupanya tidak terlalu menyinggung perasaan orang. Malah tingkahnya itu mendapat sambutan yang hangat dari sekeliling. Bajunya yang hanya terbuat dari kulit kijang sangat minim di tubuhnya, membuat orang betah memandang.
“Gadis itu kayanya baru keluar gunung!” ucap salah satu penduduk desa yang kebetulan melihatnya, kawannya menyetujui.
“Kakang, gadis itu laksana janda baru bangun tidur saja! Haha.”
“Kau benar, dimas, ingin sekali aku mendekapnya! Haha...!”
Berbagai ucapan keluar dari mulut orang, namun dengan wajah lugunya Astadewi melayani mereka dengan senyuman, kadang dirinya meloncat-loncat seperti anak kecil, merengek manja ataupun tindakan lainnya.
“Kakang, aku lapar!” Astadewi menggelayut manja.
“Kau ingin makan apa, Nimas Dewi?” tanya Gardapati lirih.
“Emh, Kijang bakar.” Astadewi menjawab.
“Mana ada, kamu pikir ini di hutan? Bagaimana kalau ayam bakar saja?”
“Terserah kakang saja.”
Gardapati segera mengamit lengan Astadewi dan berjalan menuju salah satu rumah makan yang cukup mewah. Namun ketika hendak masuk, pelayan rumah makan itu malah menghentikannya. Alis Gardapati menjungkit laksana golok lengkung.
“Mengapa kau mencegat kami, Pelayan edan?” Gardapati mendengus marah.
"Heu, mau apa kau datang kesini? Apakah kau tak tahu kalau tuan muda Adhigana sedang berkunjung?"
“Memang dia itu siapa sampai melarangku untuk masuk? Apakah dia sudah makan besi dan emas sehingga berani segitu jumawanya?” Gardapati membentak.
Sebelum pelayan itu menjawab, seorang lelaki gemuk berpakaian perlente warna perak menyela tak senang dengan ucapan Gardapati barusan. “Anak muda, siapakah kau? Tahukah kau bahwa segala penyakit itu berasal dari mulut?”
“Huh, untuk apa kau tahu siapakah aku? Tampangmu sama sekali tak cukup pantas untuk mengetahui siapakah namaku!” dengus Gardapati dingin.
"Kurang ajar, bocah ingusan tak punya mata." Kontan lelaki itu naik pitam, telapaknya menghajar tiang hingga berbekas sebuah telapak tangan sedalam tiga inchi. "Pentang mata ingusanmu itu, coba tengok siapakah aku! Ketahuilah bocah ingusan yang baru turun gunung, aku si Bangsawan Sepuluh Nyawa, pemimpin dari sepuluh desa di wilayah ini."
Menyaksikan keadaan itu, pelayan jadi kaget dan ketakuan. Sambil menahan badan yang gemetar keras ia mundur ke belakang, sadar bahwa dua orang itu bakal adu kepalan.
Gardapati mendengus dingin, ia membisiki Astadewi untuk mundur sejenak, dan dituruti dengan patuh. Tak ada kekhawatiran sedikit pun di matanya, ia tahu bahwa kekasihnya adalah seorang yang cukup mampu untuk menghadapi lawan.
“Baiklah, bila kau menjual maka aku akan membeli. Cabut senjatamu sebab aku hanya akan memberimu kesempatan sebanyak tiga kali. Selebihnya aku yang akan memimpin di desa ini mulai sekarang. Ayo, kita lihat kemampuanmu!” Gardapati berkata tak kalah jumawanya.
“Anak ingusan cari mati ya!” si Bangsawan Sepuluh Nyawa berkata gusar sambil mencabut pedang besarnya dan diputar-putar sehingga terdengar dengungan nyaring. “Jaga saja kepalamu!”
“Kretek...” Gardapati menyatukan kedua jarinya berusaha untuk pemanasan.
“Terimalah ini!” si Bangsawan Sepuluh Nyawa gusar dan membacokkan pedangnya. Terdengar bunyi mengerikan ketika pedang itu disabetkan. Jarak Gardapati dan Si Bangsawan Sepuluh Nyawa adalah sepuluh tombak, tanpa mendekati pun pedang itu mengeluarkan hawa kuning panas menerjang Gardapati.
“Wusss... Crakkk...!”
Gardapati mengelak ke kiri dan melihat tanah yang merekah akibat serangan itu. “Seranganmu lumayan juga!” gumam Gardapati, lalu ia mulai menyerang. Tak sekedipan mata saja tubuhnya sudah berada di depan si Bangsawan Sepuluh Nyawa. “Tapi, seranganmu terlalu biasa!”
“Duaaakkkk!” Kaki kanan Gardapati menghajar tubuh lawan dan ditahan dengan sikut. Belum hilang kagetnya, tiba-tiba Gardapati sudah ada di belakang dan menghantamkan kakinya ke sambungan lutut.
“Ekh, di belakang... ukghhh!!” si Bangsawan Sepuluh Nyawa kaget, tapi lututnya terlanjur dihajar lawan. tubuhnya tanpa ampun jatuh tersuruk. Gardapati tak lanjutkan serangan, ia kembali ke tempatnya tadi sebelum ia bertarung dengan kecepatan angin.
“Hebat.... anak itu hebat sekali!” terdengar gumaman para penduduk yang melihat pertarungan itu.
“Ukh, ketua terdesak. Ayo kita bantu!” seorang lelaki berkumis tipis berkata kepada kawannya, bajunya seperti pelajar pada jaman itu. Sepertinya ia sekomplotan dengan si Bangsawan Sepuluh Nyawa.
“Tunggu dulu. Ketua belum mulai, tunggu dan lihat saja!” seru kawannya yang memakai baju pelajar berwarna hijau tua.
“Anak ingusan, sudah selesai, kesabaranku telah habis... Sekarang giliranku!” bentak Si Bangsawan Sepuluh Nyawa. “Set... Srakkk” Si Bangsawan Sepuluh Nyawa tarik kaki kirinya ke belakang, tubuhnya merendah sedikit, tenaga dalamnya dilipat-gandakan. Luar biasa akibatnya, pasir dan debu beterbangan.
“Trakkkk.....!” Tiba-tiba batang pedang itu berubah menjadi tiga bagian, rupanya pedang itu telah dipasangi dengan pesawat rahasia. Dengan kekuatan tenaga dalamnya pedang itu diputar di kedua sisi badan.
“Jurus Badai Hawa... anak ingusan, terimalah ini.”
“Patttzz,” Sekelebatan hawa pedang bergulung-gulung menyerang Gardapati. Dengan kemampuan yang dimilikinya Gardapati berkelebatan menghindar.
“Gayamu saja selangit, kemampuanmu hanya kelas tiga! Terima ini, jurus kedua!” dengus Gardapati, kaki kanannya dikembangkan ke samping, “Dukkk..!” Dengan telak, tendangan itu mampir di leher si Bangsawan Sepuluh Nyawa. Tanpa ampun tubuhnya sempoyongan mengikuti arah tendangan keras itu.
“Pukulan terakhir...!” Gardapati merendah sehingga tangan kirinya sejajar dengan lutut, sementara tangan kanan yang diselipkan di pinggang dihantamkan ke muka. Di pertengahan jarak, telapaknya membuka.
“Duaaarrrr...!” Sekelebatan hawa kemerahan berbentuk telapak tangan menghantam tubuh si Bangsawan Sepuluh Nyawa. Bukan hanya itu, tubuh itu juga terseret hingga membentur dinding rumah makan yang melarang Gardapati masuk.
Seketika itu juga, rumah makan itu ambrol dengan dinding hancur berbentuk telapak tangan raksasa. Hancuran debu mengepul di udara, jeritan ketakutan terdengar dimana-mana. Namun mana mungkin Gardapati peduli dengan semua itu. Ia ajak Astadewi masuk ke rumah makan yang hancur berantakan itu, di bawah tatapan kagum, gusar dan macam-macam mengiringi langkah mereka.
Bagaimana dengan si Bangsawan Sepuluh Nyawa? Bila rumah makan saja hancur berantakan, apalagi tubuh manusia yang terkena langsung, yang hanya terbuat dari darah dan daging?
“Kakang, kau memang seperti lebah; mulut membawa madu, pantat membawa sengat, hihi.” Astadewi cekikikan.
Maksudnya adalah berwajah tampan namun bersikap atau berhati jahat, itu memang bisa dilihat dari wajah Gardapati yang tanpa emosi setelah membunuh. Sekilas saja orang sudah yakin bahwa Pemuda ini bukan pemuda baik-baik.
Gardapati hanya tersenyum menanggapi ucapan Astadewi. Ia keluarkan sekepal permata dari sakunya dan berkata, “Siapkan makanan yang terbaik untuk kami, dan belikan dua stel pakaian dalam untukku dan kekasihku ini, lengkap dengan dua stel jubah luar berwarna kelabu. Mengenai warna jubah kekasihku ini silahkan kau tanyakan sendiri."
Pelayan yang tadi melarangnya untuk masuk berdiri menjublak, matanya mendelong seperti orang tidak percaya, ia tak berani melarang lagi. Jika pemimpin desa itu saja dapat dibunuh, apalagi dirinya? Seraya menelan air liur, dengan terputus-putus ia berkata, "Baik.... baik....... tuan, nona... hamba akan menyiapkan."
Tanpa ditanya, Astadewi berkata, “Aku minta yang serba Nila saja.”
“Segini cukup? Sekalian ganti rugi atas rumah makanmu yang hancur!” ucap Gardapati.
"Cukup ... cukup... bahkan masih ada sisanya." Meski tidak cukup, apalah daya pelayan itu? Tak cukup pun ia akan berkata cukup, sebab ia masih sayang akan nyawanya. Masih untung bila orang yang menghancurkan rumahnya itu mengganti rugi, jika tidak?
"Bagus, segera lakukan perintahku dan sisanya boleh kau terima sebagai persenan. Ayo cepat pergi, tak usah berterima kasih lagi."
Betapa bingungnya hati si pelayan, dengan wajah berseri dan ketakutan ia ambil permata indah itu tadi dan segera ia menyuruh yang lain untuk persiapkan makanan serta barang keperluan dari Pemuda edan itu. Meski rumah makan hancur, namun bagian dapur tidaklah kenapa-napa, bahkan lantai dua masih bisa dikatakan utuh sebab telapak raksasa itu hanya menjebol dan membentuk telapak tangan di bagian lantai dasar saja.
Dan kebetulan di bagian bawah tidak ada seorang pun. Hanya di lantai dua saja terdapat tiga orang manusia, mungkin mereka adalah kawan dari tuan muda Adhigana seperti yang dikatakan pelayan tadi di muka. Orang yang tadi berkata hendak membantu kini diam mematung, ia tak berani berulah, ia sadar kemampuan diri tidak mencukupi, untuk apa menyorongkan daging di mulut singa?
Sebentar saja, kabar pertarungan itu menyebar kemana-mana, orang persilatan yang penasaran berbondong-bondong mendatangi, bagaimanapun kabar angin selalu dilebih-lebihkan. Yang tadi sebesar kepalan kini sebesar bola, yang sebesar bola menjadi sebesar roda, dan begitu seterusnya.
Langit cerah, semilir angin mengibarkan rambut dua orang pemuda-pemudi yang bagaikan dewa dewi sedang bersantap. Di luar, orang melongok mengintip, tak ada yang berani mengganggu. Mengapa? Entahlah... mungkin takut, atau bisa juga segan. Kepada siapa mereka segan? Kepada Tuan Adhigana yang menjublek di pojok ruangan atau kepada Gardapati dan Astadewi? Tak ada yang tahu....
“Nimas Dewi, bagaimana, enak?” tanya Gardapati.
“Enak, kakang.... emhh, Kakang, rasa-rasanya bakal ada kejadian menarik.” Astadewi berkata sambil menyuapkan daging ayam ke mulut manisnya.
“Musuh jangan dicari-cari, bersua jangan dielakkan, adikku!” Gardapati acuh. Jelas sekali maksudnya adalah; jangan mencari permusuhan, tetapi jika permusuhan itu datang, jangan pula berasa takut.
“Tuan, nyonya, ini pakaian kalian!” tiba-tiba pelayan datang memberikan seperangkat pakaian kepada Gardapati.
“Silahkan undurkan diri.”
“Baik, tuan,”
Namun tiba-tiba Gardapati ingat waktu sudah senja, tak ada salahnya bila mereka menginap di desa itu, segera saja ia mencegah kepergian si pelayan. “Tunggu, tolong siapkan ruang ganti untuk kami dan sekalian carikan penginapan yang nyaman.”
“B-baik, satu kamar atau dua?”
“Satu saja.”
Tanpa berpaling lagi, pelayan itu undurkan diri dari tempatnya. Gardapati dan Astadewi tak hiraukan keadaan, keduanya tetap makan dengan santainya.
“Kau hebat, sobat, sungguh aku merasa kagum padamu!” sebuah suara lelaki terdengar menegur mereka.
Astadewi berpaling dan tersenyum kekanak-kanakan. Sedangkan Gardapati hanya mengangkat bahunya saja lalu kembali makan, tingkahnya yang tak memandang sebelah matapun tentu saja membuat Tuan Muda Adhigana merasa tersinggung. Tapi ia sembunyikan kedongkolannya itu dalam senyuman kecut.
“Boleh aku ikut bergabung dengan kalian?” sapanya lagi.
“Boleh, asal kau bersujud dan memanggilku tuan tiga kali.” Gardapati bergumam lirih, namun suaranya cukup terdengar di telinga Tuan Muda Adhigana. Seketika wajahnya memerah. Jika selama ini dia yang harus disembah, masa sekarang dia harus yang menyembah?
Dua kakek yang bersama Tuan Muda Adhigana gusar bukan kepalang melihat tuannya dipermalukan, mereka maju dan berdiri di hadapan meja Gardapati. “Anak muda, apakah engkau tidak pernah diajari sopan santun oleh gurumu?!” sapa seorang kakek berambut panjang. Rambutnya sudah memutih keperak-perakan, bajunya ungu muda serasi dengan kulitnya yang hitam. Sepasang trisula tampak menggantung di pinggangnya.
Sementara satunya lagi seorang kakek dengan baju hijau pupus yang kedodoran, rambut kakek yang satu ini hanya sebagian saja yang memutih, sementara yang lainnya masih hitam. Jenggotnya sedagu menggantung kasar.  Sebilah golok panjang terselip di pinggangnya dibungkus kain hijau daun.
Dalam dunia persilatan, mereka biasa dipanggil dengan Sepasang Tetua dari Gunung Sapto Argo. Dinamakan dari gunung Sapto Argo dikarenakan mereka tinggal disana, entah mengapa kali ini mereka datang ke desa itu. Desa yang dikenal dengan Desa Cadas Ngelir, desa terdekat pada Jurang Mulut Dewa Neraka.
Dan di luar dugaan, mereka yang dihormati di dunia persilatan dengan kebijaksanaan akan mendapat sebuah jawaban yang tak pernah mereka dengar sebelumnya, mimpi pun mereka tak menyangka akan mendapat jawaban itu dari Gardapati.
“Sopan santun hanya membuat suasana menjadi kaku. Adat istiadat hanya sebuah alat untuk mengekang saja, aku sama sekali tak pernah mengerti dan tak pernah mau mengerti apa yang kau maksudkan itu.” jawab Gardapati kalem.
“Akh, kakang Garda, menurutku sopan santun hanya sebuah teori saja. Buktinya banyak sekali orang yang mengabaikannya, contohnya kakang!” sela Astadewi.
“Haha.... ya, kau benar sekali adikku yang manis!”
“Brakk....!” Sebuah meja hancur terkena sebuah hajaran. Kakek berbaju pupus marah, wajahnya merah membara, ingin sekali ia menghajar pemuda itu.
“Jangan marah-marah lantas menghancurkan peranti orang lain. Jika tersinggung, minumlah ini dan tenangkan diri, anggap saja ini permintaan maafku!” Gardapati mengangkat gelas berisi tuak dan dijentikkan dengan ibu jarinya.
“Wirrr,” Gelas itu memutar dan segera menuju ke arah Kakek berbaju hijau pupus. Benar-benar pameran tenaga dalam tingkat tinggi, apalagi Gardapati sama sekali tak memandang kakek itu.
Kakek berbaju hijau pupus tahu maksud lawan, ia kerahkan tenaga dalamnya pada telapak tangan dan menangkap gelas itu. “Sial, mengapa meski tergenggam gelas ini tak berhenti jua?” batinnya menggerutu.
Betapa terkejutnya hati Kakek berbaju ungu muda melihat gelas itu tak berhenti meski ditangkap adiknya, malahan gelas itu jatuh menghantam lantai. Padahal ia tahu sampai taraf mana kemampuan tenaga dalam adiknya itu, sungguh ia tak menyangka bahwa ia akan melihat adiknya dipecundangi orang, apalagi orang yang mempercundanginya adalah seorang bocah muda yang sama sekali tak terkenal namanya.
“Ck..ck..ck... Minuman untuk minta maaf pun tak diterima, menyebalkan. Apa ini yang dinamakan sopan santun?!” dengus Gardapati dingin.
“Brengsek, lancang sekali kau menghinaku, bocah.. cepat turun dari kursimu!” bentak kakek berbaju hijau pupus marah.
“Kau saja yang duduk di kursi, kakek.” Astadewi mewakili.
“Apa? Dua bocah brengsek, terima ini; Jurus golok Pembelah Bumi.”
“Syattt.... Blaarrrr... drak.. drakk!” Meja tempat Gardapati dan Astadewi hancur berantakan terkena sabetan, makanan berserakan kemana-mana.
Astadewi mendelong, wajah lugunya terlihat begitu sedih. Ia segera bergumam lirih, ”Mengapa kau menghancurkan makanan ini? Kan sayang untuk dibuang,”
Melihat itu, Tuan Muda Adhigana kaget sekaligus kagum. Jika gadis biasa barangkali akan mengkeret melihat tebasan itu, tapi gadis ini malah menyayangkan makanan, sungguh dua orang yang sangat aneh. Tuan Muda Adhigana mundur ke belakang, ia tahu pertarungan bakal terjadi.
Gardapati mendengus. “Untung aku sudah kenyang. Kau kurang ajar sekali orang tua, apa golokmu itu hanya kau ciptakan untuk menebas meja makan? Sungguh patut disayangkan, golok setajam itu pemakainya sama sekali tak becus menggunakannya. Benar-benar suatu perbuatan memegang ikan dan tangan itu menjadi amis.”
Merah sekali wajah si kakek. Sebenarnya maksudnya adalah untuk memperingati mereka, namun ia sama sekali tak menyangka jika peringatan itu dijadikan lawan untuk memojokkan dirinya. Dia tahu secara halus lawan telah mengatakan bahwa ia sudah mencemarkan dirinya sendiri. Saking marahnya ia menjadi kalap, dan tanpa peringatan apa-apa ia menyerang Gardapati. Dalam pikirannya ia berpendapat melawan perempuan hanyalah perbuatan orang hina saja, maka ia menyerang Gardapati.
“Benar-benar kakek gila-gila bahasa!” ucap Gardapti pedas sambil menghindar tebasan yang berupa hawa itu.
Huh.. tap! “Aku berada di kepala temanmu, apa yang kau tebas barusan hanyalah angin belaka. Sehebat-hebatnya sebuah jurus, bila tak kena apalah gunanya?”
“Kurang ajar!” Kakek berbaju ungu muda mencabut trisulanya dan menusukkan trisula itu ke atas kepala, tubuhnya melenting sejajar dengan lutut. “Apa?! Hilang!” batin kakek berbaju ungu, namun dia melihat adiknya sedang menatap ke atas langit-langit. Ternyata Gardapati sedang ongkang-ongkang kaki disana.
“Kukira kalian seorang kosen, tak kusangka hanya pandai memutar dan menyabet pedang belaka, orang kelas tiga juga dapat melakukan hal itu. Apa kalian dari golongan putih? Membokong orang apakah itu yang disebut terhormat? Apakah itu yang disebut aliran putih? Aku yang berada di dalam golongan hitam saja merasa malu untuk kalian, haha.”
Hup.... Teps... Tubuh Gardapati mendarat dengan ringan di lantai rumah makan, kebetulan ia turun di hadapan pelayan yang tadi ia suruh mencari penginapan untuknya.
“Nimas Dewi, mari kita pergi... kakang lelah, ingin tidur.”
“Baik, kakang.” Suara Astadewi bergema, tubuhnya sudah berada di hadapan Gardapati, lalu tanpa kata mereka pergi meninggalkan rumah makan itu.
“Kakang...!” Kakek berbaju hijau pupus berpaling kepada kakek berbaju ungu muda.
“Sudahlah adik, kita bukan tandingan mereka, menantang mereka sama saja dengan menghancurkan nama baik yang sudah kita pupuk. Sungguh disayangkan jika mereka berada di golongan hitam!” keluh kakek berbaju ungu muda sambil duduk melamun di kursi, wajahnya keruh seakan menderita sesuatu. Hari ini mereka benar-benar di pecundangi secara besar-besaran.

***

Keesokan harinya di desa dimana Astadewi dan Gardapati yang pertama kalinya berkelana... Angin gunung berseliweran lembut, cuaca begitu hangat, di jalanan desa tampak orang berlalu-lalang dengan ramai.
“Cklang... cklangg.. tep.. tep..” Suara orang berjalan terdengar sangat ringan di telinga. Meski di tempat itu berseliweran orang lalu lalang, namun terdapat lima orang yang paling mencolok diantara mereka. Dari dandanannya yang menggendol pedang bisa ditebak bahwa mereka adalah kaum persilatan.
Terdengar seorang perempuan berbicara, “Meski terpencil, desa ini bisa dikatakan cukup ramai juga. Penduduknya tampak begitu bergairah.”
“Hem... ini daerah perbatasan antara Jawa bagian barat dengan Jawa bagian tengah, jadi tidak salah bahwa banyak sekali orang berseliweran dimari.” seorang lainnya yang memakai pakaian biru bersulam kepala harimau dengan golok bersilang menjawab.
“Apa benar bahwa di desa ini telah muncul pendatang baru yang memiliki kemampuan hebat?” lelaki setengah baya berpakaian serba emas dengan gambar Rajawali berkata.
“Selinting kabar bahwa pendatang itu dapat menggunakan hawa Telapak Dewa, aku takut jika dia orang yang dikatakan oleh Iblis Bermata Hijau. Apalagi menurut kabar yang kudengar, pemuda itu juga telah mempecundangi sepasang Tetua dari gunung Sapto Argo.” kali ini yang berkata adalah pemuda berusia tiga puluh tahunan dengan baju bergambar sulaman pedang bersinar perak.
Mendengar itu, pemuda lainnya yang memakai pakaian putih bersulam bintang jatuh berkomentar. “Hoam.... aku takut jika kabar terlalu diberi garam dan merica, kekhawatiran saudara terlalu dibesar-besarkan! Hanya gara-gara ucapan Iblis Bermata Hijau, semua jagoan dunia persilatan dibuat resah.”
“Baik itu benar atau tidak, untuk keamanan dunia persilatan keberadaan kita disini cukup berarti, jangan sampai tuan-tuan merasa kecil hati.” perempuan berbaju putih bergambar teratai berwarna putih berkata.
“Benar, ada baiknya jika kita lima perguruan aliran putih bersatu. Meski orang yang dikatakan oleh Iblis Bermata Hijau itu sangat hebat, tapi dengan kekuatan gabungan kita masakah harus kalah telak?”
Semua terdiam mendengar ucapan lelaki berbaju keemasan bersulam rajawali. Dalam hati mereka berpikir, “Benar juga. Meski pendatang baru itu sangat hebat, tapi berlebihan jika semua jago dikumpulkan,”
Siapakah sebenarnya mereka?
Tak lain dan tak bukan mereka adalah wakil dari lima perguruan partai Aliran putih, adapun mereka adalah: Dihyanti, dari perguruan Teratai Putih, seorang yang ahli dalam senjata rahasia. Jiwatrisna dari partai Bintang Kemukus, seorang juru pikir dalam partainya. Rangga dari partai Golok Harimau yang ahli dalam senjata golok dan terkenal akan kecerdikannya. Ki Aswa dari perguruan Rajawali Emas yang terkenal akan kematangannya dalam berpikir, bahkan dia diberi julukan sebagai Rajawali Berotak Kancil. Dan yang terakhir adalah Graha Sewatama, meski masih muda namun dia adalah pewaris dari perguruan Pedang Bumi, jadi bisa dibayangkan kemampuannya dalam olah kanuragan.
Mereka berjalan dalam keramaian dan berdiri di hadapan sebuah rumah makan dimana telapak tangan yang terkenal itu berada.
“Akh... itu bukan Jurus yang ada dalam Kitab Dewa iblis dan Iblis Dewa. Itu jurus Telapak Merah Darah dari kitab Dewa Dunia Persilatan, bocah itu....” desis Ki Aswa.
“Ada apa, ki? Apa aki mengenal siapa pendatang baru itu?” tanya Graha Sewatama.
“Sebenarnya aku malu untuk mengatakannya. Jikalau tak salah, dia adalah murid murtad dari perguruan kami. Dia kabur membawa kitab Dewa Dunia Persilatan yang merupakan titipan dari Maharaja ketika seluruh jagoan dunia persilatan berkumpul di jurang Mulut Dewa Neraka.”
“Benar-benar jurus yang hebat, lihatlah... ini adalah potongan tulang manusia.” Jiwatrisna bergumam sambil mengendus sebuah tulang putih yang tertutup oleh batu hancuran dinding rumah makan.
“Sadis...!” Dihyanti bergumam.

***

Sementara Itu, di sebuah kamar di penginapan....
"Kakang," Astadewi memanggil sambil menggeser duduknya mendekati Gardapati.
Gardapati bisa menebak apa yang ada di pikiran gadis itu dan yang diinginkannya saat ini. "Apa, nimas Dewi?" jawabnya dengan agak serong menghadap sang pujaan hati.
Setelah tidak ada jarak lagi, Astadewi mulai membelai rambut panjang Gardapati dengan tangan kirinya sambil bertanya "Aku mau..."
Gardapati diam saja sambil tersenyum dan memandang mata Astadewi yang mulai sayu menahan sesuatu yang bergolak. Sedetik kemudian, tangan kiri Astadewi  telah melingkar di leher dan tangan kanannya membelai lembut pipi Gardapati. Wajahnya kian mendekat dengan diiringi desah napas yang harum, mendengus pelan dan tidak beraturan.
Tanpa pikir panjang lagi, tangan kanan Gardapati menarik kepala Astadewi dan mencium bibir merah mudanya yang mungil. Sementara tangan kirinya yang tadi diam saja mulai bergerak secara halus membelai-belai pinggang ramping si gadis muda.
"Mmhh.. mmhh.." napas Astadewi mulai memburu dan mendengus-dengus, mereka terus saling melumat bibir dan menghisap satu sama lain.
Pagutan itu berlangsung cukup lama sampai ciuman Gardapati meluncur ke dagu Astadewi, lalu ke pipinya, menjjilati telinganya sebentar, menuju ke belakang telinga, dan kemudian bibir Gardapati turun menuju leher. Ia lumat leher putih yang cukup jenjang itu.
"Hhnngg.. kakang! Ooohh... enngghh..." desah Astadewi sambil memejamkan mata. Kedua tangannya merengkuh kepala Gardapati, sementara kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan menikmati kecupan-kecupan Gardapati di batang lehernya.
Tangan kiri Gardapati yang awalnya hanya membelai pinggang, kini mulai menyelusup ke balik baju Astadewi yang agak longgar. Astadewi agak terkejut merasakan buah dadanya yang bulat dan masih kencang perlahan dibelai dan diremas-remas.
"Susumu masih kencang dan kenyal, nimas." bisik Gardapati sambil memandang wajah Astadewi yang manis dan agak bersemu merah.
"Kakang suka?" sahutnya tersenyum, dan Gardapati mengangguk. "Kalau begitu teruskan, kakang." pintanya manja sambil kembali mengajak Gardapati berciuman.
Dengan tangan kiri terus meremas, Gardapati juga mulai memuntir putingnya yang mengeras kenyal. Sementara tangan kanan Astadewi yang tadinya berada di kepala, kini sudah turun membelai tonjolan di selangkangan Gardapati yang masih terbungkus celana panjang. Astadewi menggosok-gosoknya secara berirama sehingga membuat Gardapati makin terangsang dan kejantanannya pun semakin mengeras.
Napas mereka berdua memburu dengan diselingi desahan-desahan kecil, terutama Astadewi karena kini tangan Gardapati menghentikan pekerjaan di buah dada dan ganti turun gunung menuju ke selangkangan. Astadewi segera menggeser kaki kanannya untuk meloloskan tangan nakal Gardapati menuju ke sasaran.
Pelan Gardapati mulai meraba-raba kain mungil yang menutupi kewanitaan Astadewi. Ia rasakan sudah lembab dan basah di sana. Gardapati menggesek-gesekkan jari jemarinya sementara Astadewi pasrah merintih-rintih dan mendesah-desah keenakan. Pinggulnya diangkat-angkat seperti memohon agar jemari Gardapati masuk ke dalam lorong kewanitaannya.
Tanpa menunggu, Gardapati lekas bergerak membuka ikatan baju Astadewi dan mulai membelai rambut kemaluannya yang lembut dan agak jarang. Jari tengahnya sengaja ia angkat dahulu untuk sedikit menunda sentuhan di rekahan sempit, sementara jari telunjuk dan jari manisnya yang bekerja menggesek-gesek dan agak sedikit menjepit pinggiran kelentit Astadewi dengan lembut dan penuh perasaan.
“Oughh... kakang! Terus... teruskan!” Astadewi memejamkan mata, dari bibir mungilnya keluar rintihan-rintihan dan juga desahan berkali-kali. Apalagi saat jari tengah Gardapati mulai turun membelah bibir kemaluannya yang sudah begitu basah.
Gardapati menggesek-geseknya, sesekali juga menusuk menggaruk-garuk agak dalam hingga merasakan bagian yang kenyal, lembut dan basah. Sementara Astadewi makin merintih-rintih dan mendesah-desah sambil menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan gerakan naik turun ke kiri dan ke kanan.
"Ouuhh.. hemmhh.. sshh.."
Setelah puas dengan posisi miring, kemudian Gardapati agak mendorong tubuh Astadewi agar duduk dengan posisi selonjor santai, sementara dia berdiri di lantai dengan bertopang pada lutut. Astadewi agak terdiam dengan napas memburu, tubuhnya sudah separuh telanjang. Terlihat kedua bukit kembarnya yang bulat dan membusung padat, sangat indah dengan puting merah muda dan sudah mengeras menahan nafsu birahi yang bergejolak.
Sambil tangan bertopang pada tepian tempat tidur, Gardapati mulai menciumi buah dada itu. Tangannya juga turut membelai, menekan, dan meremas-remas dengan lembut.
"Aahh.. hhnghh.. ebak, Kakang! Terruss.. aahh.." Astadewi bergumam tak karuan menikmatinya, kedua tangannya meraba dan menarik-narik rambut Gardapati yang panjang beriap-riap.
Gardapati terus menghisap dan agak menggigit-gigit kecil puting mungil itu, sambil tangan kanannya meremas buah dada yang satu lagi dan memelintir-pelintir putingnya
"Kakang.. lakukan sekarang! Aku sudah tak tahan.. oohh.." ujar Astadewi, tapi Gardapati masih ingin berlama-lama menikmati kemulusan dan kehalusan kulit tubuh gadis itu.
Setelah bermain di kedua buah dada, jilatan Gardapati perlahan turun ke bawah. Berawal dari jalur tengah buah dada, ia menuju ke perut Astadewi yang ramping. Digelitiknya pusar yang ada di sana dengan ujung lidah, ia jilati pinggangnya.
"Aduuh.. geli, kakang! Uuhh.." Astadewi merintih lirih, apalagi saat Gardapati menuju ke kedua pahanya yang putih mulus dan menjilat serta mencium sepuasnya di sana. "Aahh.. ayo, kakang! Jangan terus permainkan aku!”
Gardapati sama sekali tidak menjawab karena ia kini telah sampai di daerah selangkangan. Terlihat olehnya pemandangan surga dunia yang sangat indah. Bibir kewanitaan Astadewi sangat bersih dan berwarna agak merah muda, dengan belahan berwarna merah dan sangat bagus. Di atasnya dihiasi bulu-bulu halus dan rapi yang tidak begitu lebat.
"Oohh.. merah sekali punyamu, nimas." ujar Gardapati memuji,
"Kakang suka?" tanyanya.
Tanpa menjawab, lidah Gardapati langsung bermain-main di daerah berlendir itu. Ia jilati seluruh bibir kemaluan Astadewi berkali-kali, ke atas dan ke bawah, hingga tubuh Astadewi mengejang-ngejang. Gadis itu menggeliat, mendesah, dan melenguh-lenguh, apalagi Gardapati ternyata tidak cuma menjilat, kedua tangannya juga meremas-remas buah dada Astadewi yang menggantung indah.
“Hhnghh.. nngghh.. aahh.." Astadewi merintih, menikmati hisapan Gardapati yang mengarah ke seluruh sudut liang kewanitaannya. Lidah lelaki itu juga mendesak masuk berkali-kali, menerobos dan menjejak tanpa ampun. Apalagi kini ditambah jari tengah Gardapati yang turut bergabung, bergerak maju mundur di kedalaman kewanitaan Astadewi yang sudah becek, maka makin lengkaplah penderitaannya.
Astadewi meradang dan menggelinjang hebat. Ia berusaha mengimbangi dengan menggoyang-goyangkan pantatnya naik turun, ke kiri dan ke kanan, sementara bibirnya tidak berhenti merintih dan mendesah-desah. Sekitar dua puluh kocokan kemudian, liang kemaluan Astadewi mulai berkedut-kedut dan ia pun menjerit kuat.
"Oohhnghh.. Kakang!! Hengnghh.. aah.. aah.." Astadewi menyemburkan cairan kental dari dalam liang kemaluannya.
Gardapati segera mencabut jarinya dan langsung menghisap cairan itu sampai habis tak bersisa. Tubuh Astadewi masih mengejang dan menggelinjang hebat disertai rintihan penuh kepuasan, kedua kakinya dirapatkan menjepit kepala Gardapati.
Kemudian tubuh Astadewi mulai lemas setelah menikmati klimaksnya yang begitu dahsyat. "Aahh.. kakang.. eenghh.. huuhh.." Namun vaginanya masih terus menghisap-hisap, membelai bibir Gardapati yang masih menempel erat.
"Ohh.. gila! Enak sekali, Kakang.. lidah dan hisapanmu begitu nikmat." kata Astadewi sambil tersenyum puas. sekali melihat kearah wajahku yang masih berada
Gardapati beranjak duduk, mereka kembali berciuman. “Sekarang gantian aku ya?”
Tersenyum dan mengangguk, Astadewi langsung bekerja membuka celana Gardapati. Dia agak terbelalak dengan kemegahan daging panjang yang ada di sana meski sudah sering merasakannya. Lidahnya yang mungil memulai serangan dengan menjilati seluruh bagian penis itu, dari ujung sampai ke pangkal, bahkan juga kedua kantung biji Gardapati dihisap-hisapnya rakus.
"Sshh.. aahh.. nimas Dewi.. sshh.." Gardapati dibuatnya merem melek menikmati jilatan.
Kemudian Astadewi mulai membuka bibir mungilnya dan mencoba mengulum kejantanan itu. "Mmh.." gumamnya begitu penis Gardapati mulai masuk ke dalam mulut. Lidahnya turut beraksi dengan menggesek-gesek di bagian bawah. Nikmat sekali rasanya.
"Aahh.. sshh..." Gardapati semakin merintih, ia rasakan kehangatan rongga mulut Astadewi yang tidak ada taranya. Agak nyeri sedikit di ujung, tapi itu dikalahkan oleh nikmatnya kuluman bibir sang kekasih.
Astadewi mulai memaju-mundurkan kepala sambil terus mengulum. Lidahnya tidak berhenti pula bermain sehingga Gardapati merasakan kenikmatan dari ujung kaki sampai ke ubun-ubun. Ia ikuti irama gerakan maju mundur itu dengan menggerakkan pinggulnya, sementara kedua tangannya ia benamkan di dada Astadewi dan mulai meremas-remas kedua buah dadanya.
"Nimas Dewi.. mmhh.." rintih Gardapati.
Mendengar rintihan itu, Astadewi makin mempercepat tempo permainannya. Gerakan maju mundur dan jilatan-jilatan lidahnya yang basah makin menggila. Dipuntir-puntirnya kemaluan Gardapati di dalam mulut dengan gerakan kepala berputar-putar, membuat seluruh persendian tubuh Gardapati jadi berdesir-desir.
"Aahh.. nimas Dewi.. oohh.. mmnghh.. sudah! Aku tak tahan!” lekas Gardapati menghentikan kuluman dan hisapan itu, lalu ia bopong tubuh bugil Astadewi menuju tempat tidur.
Ia rebahkan gadis itu di kasur empuk sambil terus berpelukan. Napas mereka saling memburu, bersimbah keringat, berguling ke kanan dan ke kiri. Tangan kanan Gardapati kembali meluncur ke buah dada Astadewi, meremas dan memuntir-muntir putingnya. Astadewi memejamkan mata dan mengernyitkan dahi menikmati permainan ini sambil bibirnya mengulum deras. Keduanya saling berpagutan, menghisap lidah, dengan nafas semakin memburu. Kejantanan Gardapati yang terjepit di antara perut, terasa nikmat ketika Astadewi menggoyang-goyangkan pinggulnya.
"Aahh.. ahh.. cumbui aku, Kakang.. puaskan aku! Ehmm.." Astadewi mengerang dan menggelinjang, kewanitaannya terasa semakin basah dan lembab. Benda itu mulai mengempot-empot sebagai tanda meminta, sementara batang Gardapati juga sudah mengeras menunggu giliran untuk menyerang.
Astadewi mengigit bibir bawahnya ketika ujung kejantanan Gardapati mulai bermain-main di bibir kemaluannya. "Mmhh.. ayo, Kakang! Aku sudah tak tahan.. aahh.." bisiknya menahan birahi yang sudah memuncak.
“Baik, aku lakukan sekarang. bersiaplah!” Perlahan Gardapati menurunkan pinggul, dan menghunjam.
"Enghh.. aahh.. oohh.." desah Astadewi, kemaluannya yang sempit terasa agak kempot ketika ditusuk.
Gardapati menikmati hisapan itu dan terus menghunjam, hingga seluruh batangnya masuk ke dalam liang kewanitaan sang kekasih. Astadewi mendesah dan berteriak-teriak merasakan nikmatnya, apalagi saat Gardapati mulai menaik-turunkan pinggul menyetubuhinya.
Gesekan antara batang Gardapati dan dinding-dinding basah liang kemaluannya membuat Astadewi makin melenguh, mendesah dan merintih-rintih. Suaranya keras memenuhi seluruh sudut kamar, sementara deru napasnya terlihat semakin memburu, dan akhirnya...
"Aahh.. Kakang. .ahh-kuu.. sam-phai.. aahh.. aahh.. aahh.." jeritnya terputus-putus.
Astadewi mengeluarkan banyak cairan dari dalam liang kemaluannya. Gardapati merasakan hangatnya cairan tersebut di seluruh batang penisnya. Tubuh Astadewi mengigil disertai kewanitaannya berdenyut-denyut hebat dan kemudian gadis itu pun ambruk di pelukan Gardapati, kelelahan
Gardapati yang masih belum puas, menarik kedua tangan Astadewi dan dia menjatuhkan diri ke belakang sehingga posisi mereka sekarang adalah Astadewi yang berada di atas.
Setelah beradu pandang dan berciuman mesra sesaat, Astadewi mulai memaju-mundurkan dan memutar pinggulnya, memelintir batang Gardapati yang berada di dalam liang kemaluannya. Gerakan-gerakannya berirama dan semakin cepat diiringi suara rintihan dan desahan mereka berdua.
"Aahh.. nimas.. oohh.. enak sekali..aahh.." Gardapati menikmati gerakan itu dengan kedua tangan kembali meremas-remas buah dada Astadewi.
"Aahh.. hemhh.. oohh.. nghh.. " sementara teriakan Astadewi kembali menggema ke seluruh ruangan. Gerakan maju mundurnya jadi makin beringas.
Gardapati merasakan batangnya seperti disedot-sedot dan dipuntir-puntir di dalam liang keramat, hingga tak lama kemudian mengalirlah lava panas dari dalam tubuhnya melewati batang penis dan muncrat ke dalam kewanitaan Astadewi.
"Aahh..." Gardapati mendesah lega setelah sedari tadi berpacu.
Tubuh Astadewi mengigil menikmati sensasi yang baru saja ia lalui, untuk kemudian kembali mengendur meskipun liang kemaluannya terus mengempot dan menghisap-hisap. Gardapati diam, membiarkan Astadewi menikmati saat-saat terakhir itu.
“Ahh.. punyamu enak, nimas. Bisa ngempot-ngempot begini." ujar Gardapati memuji.
Astadewi tersenyum dan mencium mesra bibir Gardapati, lalu memisahkan tautan alat kelamin mereka. Nikmat yang mereka reguk sangatlah dahsyat dan sangat sulit dilukiskan dengan kata-kata. Secara perlahan tubuh keduanya  mengendur saling meregang, dan Astadewi pun jatuh tergulir di samping Gardapati.
Tak terasa sudah lebih dari 1 jam berlalu dan hari sudah menjelang siang. Bersama-sama mereka menuju kamar mandi untuk membasuh keringat yang membasahi tubuh. Keduanya saling membasuh dan tak lupa diselingi ciuman-ciuman kecil yang sangat mesra.
Setelah selesai, mereka berpakaian dan menuju lantai bawah ke ruang makan. Gardapati dan Astadewi tampak keluar dengan pakaian barunya. Wajah Astadewi yang lugu tampak indah dipadukan dengan baju berwarna nila, seakan menjadikan daya tarik tersendiri bagi yang memandang. Sedang Gardapati berwajah tampan dengan mata bersinar kehijau-hijauan, gayanya santai namun gagah, dan itu semua ditunjang dengan badan yang kekar dan kokoh, menjadikannya pemuda yang dapat mengikat lawan sejenisnya dengan mudah. Keduanya berjalan santai di koridor penginapan, terdengar mereka mengobrol ringan mengenai tujuan masing-masing.
“Nimas Dewi, benarkah kau hendak membalas dendam kepada kakak seperguruanmu, Dewani, sekalian kepada perguruan Teratai Putih atas segala perlakuan mereka?”
“Iya, kakang, rasanya sungguh penasaran bila tidak dibalaskan. Ketika aku berada disana, aku sama sekali tak diperlakukan dengan adil, oleh karenanyalah aku nekat mencuri kitab itu. Dan yang terpenting, aku hendak bertemu dengan mbakyuku. Apa kakang searah denganku?”
“Tentu, Nimas Dewi, aku searah denganmu. Aku juga hendak membalas dendam kepada perguruan Rajawali Emas, juga musuhku yang lain! Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Berat memang bila kita memusuhi suatu perguruan yang besar, namun bila tidak kita lakukan, kemanakah harga yang kita terapkan untuk kita sendiri?”
“Berarti keadaan kita sama, kakang...”
Gardapati tersenyum, lalu mengamit lengan Astadewi dan bergerak menuju ruang makan yang tak kalah mewahnya dengan yang kemarin. Begitu masuk, keduanya segera dihadapkan dengan sebuah situasi yang cukup rumit. Setiap mata memandang ke arah mereka, bahkan utusan Lima Perguruan juga berada dalam kedai itu.
“Itu dia, dia yang telah menggemparkan dunia persilatan.”
“Jika kita bisa mengalahkan dia, maka kita akan terkenal di seluruh dunia!”
“Jangan lewatkan kesempatan ini!”
Terdengar dengungan macam tawon pindah rumah di dalam kedai itu. Astadewi dan Gardapati tentu bukan orang bodoh, mereka tahu kini mereka telah menjadi sasaran lawan. Tenaga disiapkan, kewaspadaan ditingkatkan. Di balik kebahagiaan para pendekar itu, ternyata ada yang merasa dirugikan yaitu pemilik rumah makan. Ia tampak ketakutan bila rumah makan yang merupakan tempat usahanya akan hancur, wajahnya kusut masai. Tak ada yang bisa dilakukan, hanya memegang kepala sedikit meringankan beban.
“Hancurlah usahaku.” batinnya sedih.
“Tak kita sangka urusan bakal panjang seperti ini. Seperti anjing hutan yang lapar, dan kita menjadi mangsanya. Sepertinya bakal ada darah yang akan mengalir lagi, kakang!” Astadewi bergumam sambil menyelipkan tangannya ke balik baju, memegang pedang beronce. Dari roncenya yang kemerah-merahan jelas bahwa Astadewi siap bertarung.
“Nimas Dewi,”
“Ya, kakang...!’’ Astadewi tersenyum semangat.
“Hati-hati,”
“Ya, tentu saja, kakang.” jawabnya berseri-seri.
“Jangan sampai kau menjadi sandera,” ucap Gardapati sambil berguyon. Tangan kanannnya ditarik dipinggang, sementara tangan kirinya memegang serangka pedang.
“Jangan khawatir, Kakang, aku masih sanggup menjaga diri.... sekalian aku ingin menguji kemampuanku.”
Suasana mendadak hening. Setombak dari tubuh Gardapati, tercium hawa panas menyengat. Hawa pembunuhan menebal kemana-mana, semua orang bersiap dengan senjata masing-masing. Perlu diketahui bahwa kemunculan Gardapati telah menyebar kemana-mana, bila mereka dapat mengalahkannya, pasti itu dijadikan batu loncatan untuk terkenal, maka tak heran semua orang berduyun-duyun mengeroyoknya.
“Srat...Srat...” Terdengar desiran nyaring ketika orang-orang itu bergerak. Mata Gardapati mencorong tajam, ia biarkan lawan terdepan dekat dengannya, dan begitu dekat...
“Srattt... Arghhh.....! Serang..!”
Satu persatu nyawa berlayangan, mayat bertumpuk. Kecepatan Gardapati bagai lesus sebuah cahaya, sekali bergerak nyawa melayang, sehingga terdengar bunyi, “Srat, cress.. cress.. Urghh!”
Astadewi tak kalah garangnya. Meski wajahnya lugu dan kekanak-kanakan, namun serangannya bertolak belakang dengan wajahnya itu. Serangannya begitu ganas bagai iblis gentayangan, tak salah karena itu memang jurus-jurus pedang dalam kitab Iblis Dewa dan Dewa Iblis. Meski terdiri dari tiga jurus namun begitu mematikan dan mengerikan, sekali gerak maka darah selalu muncrat.
“Trangg...” terdengar benturan nyaring antara pedang Astadewi dengan lawan. Astadewi gusar lawan membokong dirinya dari belakang, ia sisipkan pedangnya di punggung, tubuhnya berputar sekaligus menebas.
“Crassshh...!” Tubuh lawannya terpotong dua.
Tak ada seorang pun yang dapat melihat teknik pedang keduanya, bertahan sekaligus menyerang, semuanya ke bagian vital, benar-benar jurus pedang yang maha dahsyat.
Menyaksikan itu, utusan Lima Perguruan terbenam dalam pikiran masing-masing. Meski dua ekor harimau, namun bila dikepung anjing hutan tak urung akan gugup juga. Namun itu semua tak berlaku bagi Gardapati dan Astadewi. Sungguh mencengangkan... ini bukan pertarungan lagi, namun Lebih tepatnya dikatakan PEMBANTAIAN.
Gardapati tersenyum dingin, wajahnya gelap akan pembunuhan, mayat bergelimpangan di sekitarnya. “Siapa lagi yang akan maju?!” ucapnya menggelegar.
Tantangan itu terdengar bagai halilintar di setiap telinga yang mendengarnya, buruan menantang pemburu... ini mungkin yang dinamakan lawan yang ingin ditantang. Siapakah yang takkan tercengang. Semua tak ada yang bergerak, diam di tempat bagai mesin yang dinyalakan seketika dengan ribuan daya yang menanggungnya. Sampai suatu ketika terdengar bentakan yang entah darimana datangnya.
“Jangan menyerah... nanti juga dia akan kehabisan nafas. Saat itu tiba, maka kita akan berbangga...!”
Seketika orang-orang yang seperti anjing hutan lapar itu maju ke muka dan... “Setth!” Ki Aswa lintangkan pedang menahan pergerakan orang-orang itu.
“Kalau tidak mau mati, lekas mundur. Siapapun yang membangkang, harap lawan kami dulu!” bentaknya garang.
Siapakah yang tak kenal lima orang itu? Siapa yang tak mengenal pamor lima perguruan golongan putih? Meski bersungut-sungut, semua mandah akan perintah lalu mundur.
“Gardapati, benarkah itu kau?!” Ki Aswa menegur Gardapati yang diam di tempat membentuk kuda-kuda.
“Hemmm...” Gardapati tersenyum lalu menjawab. “Kakang, sudah lama kita tak bersua. Sepertinya gaya yang mengatasnamakan perguruan dari dalam dirimu tak pernah surut juga!”
Ki Aswa merah padam mendengar sindiran halus itu. Belum ia menjawab, terdengar Astadewi juga berkomentar, “Berpura-pura sebagai utusan golongan tuhan dan melakukan tindakan sewenang-wenang tanpa memikirkan perasaan orang lain memang takkan pernah hilang dari benak mereka, kakang. Dengan mengatasnamakan Golongan Putih lantas membantai orang, tanpa tahu kesulitan orang. Benarkah gagak jahat karena hitam? Benarkah bangau suci karena putih? Benar-benar suatu hukum yang kejam.”
Merah wajah kelima orang itu, dalam dunia persilatan mungkin baru kali pertamanyalah mereka disindir setajam itu. “Kurang ajar!” Rangga dari partai Golok Harimau marah bukan kepalang, goloknya dicabut dan diputar dahsyat.
Whoss... whoss... whosss....! Suaranya benar-benar menggiriskan, hawa golok berseliweran laksana ular yang membelit-belit. “Rasakan jurus Harimau Menggeleng ini.” Tap....! Rangga jejakkan kaki sambil meloncat ke udara dalam keadaan golok masih diputar. “Heaaaa...!” Dengan kekuatan yang mahadahsyat golok itu dibacokkan kepada Astadewi.
Mencorong mata Gardapati melihat itu, laksana angin dia bergerak dan menangkis golok itu dengan pedangnya. “Trangg....!” Dua benda logam beradu di udara. Dua benda logam tajam itu bergesekan, keduanya tak ada yang mengalah, keduanya saling dorong mendorong untuk mencapai sebuah kemenangan.
“Apakah ini yang dinamakan dengan Golongan Putih? Mengapa hanya menyerang seorang gadis? Biarlah kuwakili rasa malu untukmu!” Gardapati berkata marah.
“Huh...!” Kepalang marah menjadi kalap... Rangga gesekkan kedua tangan yang memegang pedangnya hingga golok itu berputar dahsyat mengirimkan suatu hawa panas menyengat dan suara yang mendengung akibat gesekannya dengan udara.
“Ukh!” Gardapati terdorong mundur dua langkah, serangan lawan jauh di luar dugaannya. Bagaimanapun pengalaman Gardapati tidaklah memadai, sungguh jauh bila dibandingkan lawan yang sudah malang melintang bertahun-tahun.
“Lumayan juga dia bisa menangkisnya.” batin Rangga, sementara mulutnya berkata, “Coba tangkis seranganku kali ini!” Wirrr....”Jurus Belitan Ekor Harimau.” Pekik rangga mengguntur.
Wusss... dari goloknya keluar sinar kekuningan yang menggulung-gulung bagai ular yang berputar. Tak salah, itulah jurus Belitan Ekor harimau, sebuah jurus rahasia perguruan Golok harimau yang mengandalkan tenaga dalam di atas rata-rata.
Sinar itu menyabet ke arah lawan. Gardapati papaki dengan pedang melintang. Tranggg...! “Apa?! Kuat sekali...!” batin Gardapati terperanjat. Srakk...! kembali tubuh Gardapati terdorong mundur.
Rangga tak membiarkan Gardapati mendapatkan posisi menguntungkan, dengan goloknya yang besar ia terus cecar Gardapati hingga puluhan jurus. Namun Gardapati entah mengapa hanya keluarkan jurus-jurus itu saja, entah sebenarnya ia mempunya rencana apa. Tak ada yang tahu.
“Wusss....Trang...Trak...Srekkk!’’ dengan dahsyat Rangga adukan kekerasan dengan pedang Gardapati. Pedang dan golok itu sungguh luar biasa, akibat pertarungan keduanya rumah makan itu berguncang.
Suatu ketika keadaan Gardapati tampak terdesak hebat hingga ia mepet dengan dinding. Dengan cekatan ia meloncat ke atas dan membabatkan pedangnya ke punggung lawan.
“Trangg...”
“Serangan sia-sia!” dengus Rangga.
Gardapati diam saja, ia meloncat balik dengan memanfaatkan serangannya, namun Rangga sabetkan pedangnya hingga menembus dinding.
“Teppp...!” Gardapati berdiri gagah, pedangnya disarungkan ke warangkanya, sedangkan golok Rangga tertahan oleh sebuah dinding kayu yang cukup besar sehingga golok itu tak bisa digerakkan dan berada tepat di antara leher Gardapati.
“Apa dia bodoh? Mengapa ia malah menyarungkan pedangnya! Golok si Harimau Haus Darah sudah jelas tertahan di dinding kayu itu, mengapa ia tak menggunakan kesempatan itu untuk melukainya?” gumam Dahyanti heran. Ternyata gelar Rangga dari perguruan Golok Harimau adalah Harimau Haus Darah.
“Dia pintar, dengan itu saja sudah membuktikan bahwa pemuda itu dapat membunuh si Harimau Haus Darah jika ia ingin. Namun ia enggan melakukannya.” Jiwatrisna menjelaskan, membuat Dahyanti dan yang lain manggut-manggut paham.
Sebagai orang yang terkenal cerdik, Rangga tahu maksud lawan, gusarnya tak dapat ia tahan lagi, segera ia membentak, “Kurang ajar! Kau menghinaku!” Drakk... Drakk... Rangga tambahi tenaga dalamnya ke golok hingga goloknya menembusi tiang dan hendak memenggal kepala Gardapati.
Gardapati merunduk menghindari tebasan golok. Golok lewat di atas kepalanya, pedang ia cabut dan diletakkan di leher Rangga hingga meneteskan darah. “Settt....!” Rangga yang mengerahkan tenaga dalamnya, sama sekali tak menyangka akan kejadian itu. Tubuhnya yang terbawa gaya pedang membalik memunggungi lawan, keringat dingin mengucur deras dari tengkuknya.
“Salahmu sendiri. Ketahuilah meski aku tidak mengetahui pedas di lada, namun kesombonganmu itulah yang membuatmu kalah.” Gardapati berkata dingin.
“Sungguh beda. Meski terdapat banyak aliran ilmu silat di tanah Jawa, namun kali ini benar-benar beda. Pedang itu tak memiliki keistimewaan, sebaliknya pedang itu memang sesuai fungsinya untuk menebas. Aku Rangga, si Harimau Haus Darah, benar-benar dipecundangi besar-besaran!” batin Rangga dalam hati.
Mendadak terdengar bentakan keras, “Apa kau sudah melupakan kami?” Suara bentakan itu bersamaan datangnya dengan sekelebatan sinar berwarna perak menyambar wajah Gardapati, namun sekelebatan sinar lainnya memapaki.
“Trang....!”
Tampak keempat utusan lainnya juga mulai turun tangan, di tangan mereka terselip berbagai senjata yang bermacam-macam. Segera Gardapati meloncat mundur dan bersalto, lalu berdiri di samping Astadewi. Gardapati tersenyum dan berkata. “Terimakasih atas bantuannya, Nimas Dewi.”
“Sama-sama, kakang... tampaknya urusan sudah tak bisa didamaikan, bagaimana bila kita berpencar dahulu dan melakukan cita-cita masing-masing lalu bertemu di malam Suro empat purnama nanti. Bila kita bersama terlalu mencolok perhatian.” bisik Astadewi dengan mengerahkan ilmu penyampai suara.
“Begitupun baik!” jawab Gardapati sambil memandang kepada lawan.
Kedua belah pihak berpandangan, Dahyanti mengerutkan alis melihat pedang pandak yang ia lemparkan tergeletak di lantai begitu saja. Betapa terkejutnya ketika ia melihat di batang pedangnya tertancap sebuah sumpit dari bambu. Bila bukan seorang ahli manakah mampu melakukan itu?
“Luar biasa...!” desisnya lirih. Dia tak bisa berlama-lama pandangi pedang pandaknya sebab Astadewi dan Gardapati telah mulai menyerang.
Graha Sewatama gunakan pedangnya dengan jurus Tiga Bayangan Pedang Bumi. Srettt.....! Tiga hawa pedang menerjang keduanya. Gardapati mendengus dingin, ia sabetkan pedangnya pada hawa pedang itu.
Trang...!!
“Apa! Hawa pedangku terbelah dua!” gumam Graha Sewatama. Blarrr! Hawa pedang itu menghancurkan dinding rumah makan
Gardapati putar pedang dan sabetkan pedangnya sekaligus kepada Rangga, Ki Aswa, Graha Sewatama dan Jiwatrisna. “Wirr... Srattt...!”
“Tranggg.....!” Pedang itu tertahan oleh empat macam senjata berbeda.
Sedangkan Astadewi nyelonong masuk dan menusuk Dahyanti, jubahnya mekar dan pedangnya berkelebat. Srettt...! Trang...!! Wusss, tubuh Astadewi terlempar ke arah selatan. Sedangkan Gardapati yang melawan Empat orang sekaligus tampak kewalahan, ia bersalto di udara. Dengan memanfaatkan benturan pedang, mudah saja ia berjumpalitan dan mendarat dengan selamat.
Astadewi di selatan dan Gardapati di utara, keduanya berseberangan. “Sampai jumpa, Nimas Dewi.” Gardapati berkelebat di jendela dan menghilang.
“Sampai jump,a kakang Garda!” seperti halnya Gardapati, Astadewi juga berkelebat lenyap.
Gusar bukan kepalang keempat orang utusan perguruan golongan putih melihat buruannya kabur. Mereka hendak mengejar, namun Ki Aswa menghentikannya. “Jangan dikejar, lihatlah pakaian kalian...!”
Keempatnya tertegun dan menatap pakaian mereka. Keringat dingin mengucur,  mereka kini sadar mereka telah dipecundangi, beruntung lawan masih mengampuni.
Mengapa bisa begitu? Ternyata pakaian mereka terdapat sobekan-sobekan kecil bekas senjata tajam. Mereka sadar, jika lawan menginginkan darah, dengan mudah nyawa mereka melayang meninggalkan raga.
Namun, ADA YANG MENGATAKAN manusia boleh dibunuh asal jangan dihina. Wajah kelimanya merah padam dalam kemarahan.

2 komentar:

  1. Bagus nih ceritanya.. Yang ke tiganya blm ada suhu.. Udah ke 4 aja..

    BalasHapus
  2. Waww..penasaran dengam crita jilbb nya
    .buatin najwa dihsb dong om

    BalasHapus