Minggu, 22 April 2018

Kecubung Wulung 6

Plencing dan Tobil berhasil menjumpai Yu Jumprit. Plencing dan Tobil tahu kalau jam-jam pagi seperti ini Pak Pedut, Kliwon dan Menik berada di sawah. Yu Jumprit tinggal sendirian di rumah. Kesempatan inilah yang oleh Tobil dan Plencing dimanfaatkan.
"Tumben kamu berdua menemui aku. Ada apa? Duduk di dapur saja ya, biar aku bisa nyambi ngliwet sama buat sayur.” Yu Jumprit menanggapi Tobil dan Plencing yang duduk di amben dapur.
”Ndak masalah, yu, kalau di dapur kan malah dekat sama teh dan pacitan ta, yu.” Plencing mencoba mengajak yu Jumprit bercanda.
”Ya nanti tak buatkan wedang jae saja, kebetulan ini ada sukun goreng, sebentar nanti dinikmati.” Yu Jumprit menanggapi candanya Plencing.

”Wah itu kesukaanku, yu. Sukunnya ndak usah digoreng, tapi didang saja trus ditaburi kelapa parut.” Tobil menimpali.
”Ya memang tak buat seperti itu, Bil, sukunnya. Kang Pedut juga suka kalau sukunnya didang sama dikrawu parutan kelapa.” Yu Jumprit mengiyakan pernyataan Tobil.
”Cepet, yu, sukunnya. Wah, aku jadi ngiler.” Plencing menambah candanya.
”Ya... ini dah mateng. Kelapa parutnya juga sudah aku siapkan.” Yu Jumprit menanggapi candanya Plencing. ”Dah ngomong saja keperluan kalian apa, tak dengarkan sambil bekerja. Kalau aku duduk nanti apinya mati.” Sambil tetap di dekat tungku api, yu Jumprit minta Tobil dan Plencing ngomongkan keperluan mereka menemui dirinya.
Dengan hati-hati dan dengan rangkaian kalimat yang berputar-putar serta berkali-kali mengucapakan kalimat permintaan maaf, Tobil dan Plencing mengutarakan maksudnya menjumpai yu Jumprit. Sempat pula Tobil dan Plencing menyampaikan iming-iming berupa uang, perhiasan, bahkan hewan ternak seperti sapi, asal yu Jumprit mau memenuhi permintaan juragannya. Plencing dan Tobil percaya yu Jumprit akan tergiur oleh iming-iming yang akan diberikan juragannya.
”Yu Jumprit tinggal bilang, minta berapa. Sepuluh ekor sapi dewasa? Atau uang tunai, atau emas, yu. Juragan Gogor bahkan bilang setengah kilogram emas pun tidak keberatan, yu.”
Karena sudah sangat banyak kalimat yang disampaikan Tobil dan Plencing kepada yu Jumprit, mereka berdua lalu diam. Menunggu reaksi dan jawaban yu Jumprit.
Yu Jumprit sejak sejak kedatangan Tobil dan Plencing sibuk dengan pekarjaan, tetap menyibukan diri dengan pekerjaannya. Kembali pikirannya dikacaukan keberadaan jimat. Kali ini lebih edan. Juragan Gogor mau menukar jimat itu dengan setengah kilogram emas. Pikiran yu jumprit menjadi sungguh kacau.
”Nih wedang jahenya panas. Nih sukunnya panas juga. Dah diminum dan dimakan. Dihabiskan saja tuh masih ada banyak.” Yu Jumprit menyajikan wedang jahe dan sukun kepada Tobil dan Plencing.
Tanpa menunggu untuk ditawarkan kedua kalinya, Tobil dan Plencing langsung menyerutup wedang jahe dan menikmati sukun yang dikerawu parutan kepala muda. Setelah beberapa saat sehabis menikmati wedang jahe dan sukun, Tobil dan Plencing yang menunggu reaksi jawaban yu Jumprit tidak segera memperoleh yang diharapkan.
”Gimana, yu? Ini kesempatan baik untuk yu Jumprit bisa jadi kaya. Relakan saja jimat itu untuk dimiliki juragan Gogor. Toh yu Jumprit dapat ganti setengah kilogram emas.” Tobil mengulangi iming-imingnya.
”Lha iya ta, yu. Malah nanti kalau yu Jumprit setuju, aku mintakan tambahan ke juragan Gogor. Setengah kilogram emas aku janji, yu, yu jumprit bisa ditambahi tiga ekor sapi. Gimana, yu?” Plencing menimpali iming-iming yang diutarakan Tobil.
Yu Jumprit yang pikirannya menjadi tambah kacau mendengar iming-iming itu tetap diam. Dan tetap sibuk di depan tungku api. Mengapa dirinya tiba-tiba ditimpa masalah seperti ini? Yu Jumprit yang hanya orang biasa dan tidak pernah memiliki sesuatu yang berlebih, orang yang lugu, tidak pernah mempunyai keinginan-keinganan yang aneh, dan selalu hidup dengan kesederhanaannya sama sekali tidak tertarik oleh iming-iming yang ditawarkan juragan Gogor lewat mulut Tobil dan Plencing.
Bagi dirinya untuk apa setengah kilogram emas. Bisa hidup membantu keluarga pak Pedut saja sudah bahagia. Kenapa harus aneh-aneh. Apalagi dirinya akan lebih baik tingkat hidupnya nanti kalau sudah benar-benar menjadi isteri pak Pedut. Iming-iming yang diucapkan Tobil dan Plencing hanya masuk ke telingan kanan dan segera keluar lewat telinga kiri, tidak sempat mampir di alam pikirnya.
Justru yang membuat pikirannya menjadi kacau adalah jimat peninggalan Nyi Ramang. Akankah jimat yang sangat bertuah di tangan Nyi Ramang ketika masih hidup itu akan menjadi rebutan orang? Mengapa pula Juragan Gogor begitu ingin memiliki jimat itu? Telinganya bahkan mendengar selentingan juga kalau ada juragan dari luar desa yang juga ingin memiliki jimat itu.
“Gimana, yu, dari tadi kok diam saja. Jawab, yu. Juragan Gogor menunggu jawaban yu Jumprit. Emasnya sudah disiapkan lho, yu. Kalau yu Jumprit bilang ya, besok aku bisa mengantarkan emas itu, yu.” Tobil mengharap yu Jumprit mau segera menjawab.
”Ndak usah panjang-panjang memikir, yu. Jawab saja ya, yu Jumprit segera jadi kaya. Dan bisa segera hidup enak.” Plencing menyemangati yu Jumprit.
Yu Jumprit yang sudah mulai capai mendengar omongan Tobil dan Plencing, segera duduk di amben. Ditatapnya berganti-ganti mata Tobil dan Plencing dengan sorot mata marah.
”Katakan sama juraganmu, kalau Jumprit ini tidak ingin kekayaan. Tidak ingin emas. Tidak ingin jadi orang kaya. Jumprit ini ingin jadi orang biasa tetapi hidupnya tenang, damai dan tenteram tidak banyak masalah! Dah itu jawabanku! Sampaikan ke juraganmu!” Dengan nada marah yu Jumprit menyampaikan kalimat ini.
Tobil dan Plencing sangat kaget mendengar jawaban yu Jumprit, apalagi diucapkan dengan nada marah. Semula Tobil dan Plencing sangat percaya diri kalau yu Jumprit akan tergiur oleh iming-iming itu. Dan segera memberikan jawaban setuju. Ternyata yang keluar dari mulut yu Jumprit sangat bertolak belakang dengan apa yang diangan-angankan. Hati Tobil dan Plencing menjadi ciut melihat yu Jumprit marah.
Tetapi dasar Plencing yang memang suka ngeyel, sampai disitu ia belum puas. ”Yu.... kesempatan seperti ini tidak datang dua kali, yu. Kenapa yu Jumprit menyia-nyiakannya?” Plencing dengan takut-takut menyempaikan kalimat ini. Harapannya kalimat itu akan menjadi bahan pemikiran ulang bagi yu Jumprit.
”Dengar ya Tobil dan Plencing! Kesempatan seperti ini seratus kali datang pun tidak akan aku ambil. Sudah itu jawabanku. Dan kalian boleh pergi. Dan jangan datang lagi menemui Jumprit ini untuk urusan yang sama!” Sambil mengucapkan kalimat ini, yu Jumprit berdiri dan tangannya menunjuk ke arah pintu dapur yang memberi isyarat agar Tobil dan Plencing segera meninggalkannya lewat pintu itu.
Tobil dan Plencing pun segera beranjak dari amben dan berdiri.
”Ya sudah, yu, maaf aku tak pulang dulu. Siapa tahu yu Jumprit besok berubah pikiran.” Plencing masih nekat ngomong.
”Ndak sekarang, ndak besok, ndak lusa. Jangan berharap!” Yu Jumprit setengah membentak dan segera memunggungi Tobil dan Plencing yang menuju pintu dapur untuk keluar dari dapur dan meninggalkannya.
Dalam hati yu Jumprit tertawa terbahak. Ternyata dirinya yang hanya pembantu rumah tangga bisa juga membuat ciut hati orang. Dan berani dengan keras menampik keinginan seorang juragan yang amat kaya dan amat berpengaruh. Jika bukan karena keberadaan jimat itu pasti dirinya tidak akan bisa berbuat seperti itu.
Menik datang dari sawah. ”Minum, yu! Mana sukunnya?”
Menik menuju sumur untuk membersihkan kaki. Ditariknya kain yang menutupi bagian bawahnya tinggi-tinggi agar tidak kena guyuran air. Jika di situ ada laki-laki pasti akan segera menelan ludah melihat paha Menik yang bersih panjang dan padat. Dan ketika Menik mengguyurkan air sambil membungkuk, pantatnya yang gempal dengan belahan yang tampak bersih terlihat juga di mata yu Jumprit.
Dan Yu Jumprit hanya bisa berguman lirih. ”Kecantikanmu sempurna, ndhuk, beruntung pria yang nanti memilikimu.” Yu Jumprit lalu segera tergopoh-gopoh mengambilkan minum dan menyediakan sukun untuk Menik.

***

Juragan Gogor sudah mengatur pertemuannya dengan Tumi. Semua telah dipersiapkan. Strategi yang diatur bersama Plencing dan Tobil telah membuat Tumi sangat memercayai. Malam segera akan tiba. Juragan Gogor sudah sangat siap untuk memperdaya Tumi.
Angin yang bertiup kencang membuat daun dan ranting pepohonan saling bergesekan menimbul suara gemerisik. Malam akan terjadi hujan. Gerimis mulai turun. Awan pekat yang menggelayut di langit menyebabkan gelap jalanan menjadi pekat.
Di bawah payung untuk menahan gerimis, diterangi sentolop yang dibawanya, Tumi bergegas menuju rumah juragan Gogor. Tumi ingin segera sampai di rumah mewah juragan Gogor. Tumi ingin segera dipuji-puji oleh juragan Gogor yang telah memercayai dan menganggapnya sebagai orang yang pinter memilih perhiasan. Tumi sangat bangga dipercayai oleh orang yang sangat kaya dan sangat berpengaruh. Tumi merasa memperoleh kehormatan dengan adanya undangan dari juragan Gogor. Tidak setiap orang bisa gampang menemui juragan Gogor untuk berbincang. Kali ini justru dirinya yang diminta oleh juragan Gogor untuk datang.
Tumi sangat berbangga hati. Sempat pula di benak Tumi curiga, mengapa dirinya diundang juragan Gogor malam-malam. Mengapa tidak siang hari. Kalau hanya akan diminta pendapatnya tentang perhiasan mengapa harus malam-malam. Tumi juga sudah banyak mendengar tentang juragan Gogor yang suka wanita. Juragan Gogor sangat keranjingan dengan wanita muda. Tumi juga sudah mendengar kalau juragan Gogor suka membeli perawan. Siapa perawan yang bersedia digauli juragan Gogor akan banyak duit. Dibelikan sawah. Bahkan dibuatkan rumah.
Kecurigaannya terhadap juragan Gogor ditepisnya sendiri. Mungkin Juragan Gogor saat siang sangat sibuk, jadi mengundang dirinya malam hari. Masak iya dirinya disukai juragan Gogor. Tumi pernah juga mendengar perawan yang digauli juragan Gogor adalah perawan-perawan yang berasal dari tetangga desa yang jauh. Masak iya juragan Gogor tega akan memperdaya dirinya yang hanya tetangga rumah.
Plencing dan Tobil yang baru saja kena dampratan juragan Gogor lantaran tidak berhasil mempengaruhi yu Jumprit agar mau menukar jimat dengan emas setengah kilogram, menyambut kedatangan Tumi dengan suka cita. Juragannya pasti tidak akan marah-marah lagi, karena walupun Plencing dan Tobil gagal dengan yu Jumprit tetapi berhasil menghadirkan Tumi yang sangat dirindukan juragannya. Bahkan Plencing dan Tobil akan mendapat hadiah kalau nanti juragannya memperoleh kepuasan.
Plencing dan Tobil tergopoh-gopoh membukakan pintu gerbang halaman rumah. Plencing segera mengantarkan Tumi memasuki rumah. ”Aku sampai disini saja. Kamu lewat tangga ini, juragan menunggumu di lantai dua.” Plencing menunjuk tangga yang menghubungkan lantai bawah dengan lantai di atasnya.
Tumi yang baru sekali ini memasuki rumah juragan Gogor terkagum-kagum. Rumah besar yang mewah untuk ukuran Tumi. Di ujung tangga, Tumi disambut sapaan juragan Gogor.
”Sini, Tum! Sudah sejak tadi aku menunggumu.”
Tumi melihat sekeliling ruangan. Ada lemari besar, ada tempat tidur besar dan berkasur tebal, ada meja besar di atasnya tertata botol-botol minuman dan gelas-gelas bagus, tetapi tidak ada kursi. Hanya ada satu sofa besar yang diduduki juragan Gogor. Tumi berdiri termangu.
”Ayo duduk, Tum.” Juragan Gogor minta Tumi duduk.
Duduk dimana? pikir Tumi. Cuma ada satu tempat duduk yang sedang diduduki juragan Gogor.
Juragan Gogor berdiri dan menarik tangan Tumi. ”Duduk disini.”
Tumi kikuk duduk bersanding dengan juragan Gogor.
”Santai saja, Tum.” Juragan Gogor merapatkan tubuhnya ke tubuh Tumi. Tumi mencium bau minyak wangi yang sangat sedap yang berasal dari baju juragan Gogor. ”Ini lho Tum yang aku mau mintakan pendapatmu. Kamu kan pinter milih-milih perhiasan. Liontin ini menurutmu bagus ndak? Kamu tahu kan, Tum, isteri keduaku itu selalu rewel. Kini minta dibelikan liontin tapi tidak mau diajak ke kota untuk milih. Sudah dua kali aku beli selalu tidak cocok.” Juragan Gogor berbohong.
Sambil memegang tangan Tumi, juragan Gogor memindahkan liontin ke tangan Tumi. Juragan Gogor merasakan hangat dan halus lumernya tangan Tumi. Juragan Gogor menelan ludah. Birahi mulai merambati benaknya. Tumi memegangi liontin berbentuk mahkota bunga yang sedang mekar dan di tengah ada mata berlian yang berkerlip tertimpa cahaya lampu ruangan.
”Gimana, Tum... bagus?” Juragan Gogor semakin merapatkan duduknya ke tubuh Tumi. Sampai-sampai Tumi bisa merasakan dengus napasnya juragan Gogor.
Tumi yang terus terkagum-kagum dengan liontin yang sedang dipegangnya, tidak sadar duduknya juragan Gogor sudah menempel rapat dengan duduknya. ”Saya belum pernah melihat liontin yang seperti ini juragan. Tetapi liontin ini sangat indah. Jika ada wanita tidak menyukai liontin ini berarti dia wanita yang bodoh, juragan.” Tumi menjawab sambil menoleh ke juragan Gogor.
Ternyata wajah juragan Gogor sudah sangat dekat dengan wajahnya. Tumi yang sedari tadi hanya menunduk dan memperhatikan liontin, ketika menoleh, maksudnya mau menampakkan reaksinya kalau dirinya sangat mengagumi liontin ini, karena sudah sangat dekatnya dengan wajah juragan Gogor, maka hidung Tumi menyentuh pipi juragan Gogor.
”Aduh... maaf, juragan.” Tumi tersipu.
”Ndak apa-apa, Tum, aku malah senang kok. Bersinggungan dengan hidung perawan cantik ternyata enak, Tum.” Juragan Gogor semakin berani mengungkap maksudnya.
Juragan Gogor mengambil kalung dari tangan Tumi. Dan dengan cekatan memasangkan kalung berliontin di leher Tumi. Tumi kaget, dan tak sempat menolak. Saat melingkarkan kalung di leher Tumi ini, juragan Gogor menyentuhkan hidungnya di pipi Tumi. Sekali lagi Tumi kaget, tetapi tidak sempat menghindar. Belum sempat hilang dari kagetnya, juragan Gogor menarik tangannya dan membimbing Tumi berdiri di depan kaca lemari yang besar. Juragan Gogor berdiri rapat di belakang Tumi sambil memegangi pundak gadis itu.
”Gimana, Tum.... betul liontin ini indah ?” Juragan Gogor tiba-tiba memeluk tubuh Tumi dari belakang.
Tumi kaget lagi. Kekagetannya semakin membuatnya sadar kalau juragan Gogor pasti punya maksud akan memperdaya dirinya. Belum sempat Tumi menjawab pertanyaan juragan Gogor, laki-laki itu malah mempererat pelukannya.
”Kalung dan liontin ini buat kamu saja, Tum. Kelihatannya kamu sangat cocok dengan kalung ini. Kamu jadi tambah cantik saja.” Juragan Gogor tidak melepas pelukannya.
Tumi melihat dirinya di kaca sedang dipeluk juragan Gogor dari belakang. Diam-diam Tumi mengagumi dirinya. Dengan liontin ini dirinya memang tambah cantik. Untuk ketiga kalinya Tumi sangat kaget ketika tiba-tiba juragan Gogor menempelkan bibir di lehernya. Tumi menjadi sangat paham, kalau juragan Gogor tadi bersandiwara. Pasti yang sebenarnya adalah ingin memperdayanya.
Karena Tumi tidak bereaksi, menolak juragan Gogor semakin nekat. Tangannya dilingkarkan di dada Tumi, dan jari-jarinya berusaha mencoba membuka kancing kain di bagian dada Tumi.
Pikiran Tumi melayang teringat Gudel. Gudel yang dicintainya. Gudel lelaki pertama yang pernah meremas dadanya. Gudel yang sangat disayangnya. Gudel yang telah diberinya dengan ikhlas keperawanannya. Gudel bisa diharapkan segera menghamili dan dijeratnya agar menikahinya. Tumi teringat Gudel yang sedang bermasalah dengan uang.
Tiba-tiba muncul di benak Tumi kalau dirinya pasrah diperdaya juragan Gogor, dirinya pasti akan mendapatkan uang dari juragan Gogor dengan mudah. Dengan demikian dirinya akan lebih bisa membantu Gudel segera lepas dari permasalahan uang. Dan Gudel akan banyak berhutang budi pada dirinya. Cita-citanya dinikahi Gudel pasti segera akan terwujud.
“Jangan, juragan... jangan...!” Tumi berpura-pura menolak dan mencoba menepis-nepiskan tangan juragan Gogor yang membuka kancing baju di depan dadanya. Tumi berpura-pura meronta untuk lepas dari pelukan juragan Gogor.
”Juragan... jangan, juragan....!” Tumi mencoba terus meronta.
Juragan Gogor yang melihat rona merah wajah Tumi di kaca dan nampak Tumi semakin kelihatan cantik saja, menjadi semakin kesetanan. ”Tumi... minta apa kamu... aku akan berikan...” bisik Juragan Gogor di telinga Tumi sambil terus memeluk tubuh Tumi dari belakang.
Dengan tetap memeluk erat, Juragan Gogor membuka lemari dan tangannya meraih tumpukan uang kertas. ”Jika ini kurang, kamu bisa ambil sendiri, Tum. Nih, Tum, ambillah!”Juragan Gogor menjejal-jejalkan uang digenggamannya ke tangan Tumi.
Tumi sempat melirik uang di tangan juragan Gogor. “Banyak sekali,” pikirnya.
Hujan di luar rumah yang tadi hanya sempat jatuh gerimis telah tercurah menjadi hujan. Suara jatuhnya air di atas genting-genting rumah berbareng dengan suara gemerisiknya gesekan-gesekan dedauan yang diterpa angin menindih suara Tumi yang meminta juragan Gogor agar jangan melakukan yang diinginkan laki-laki itu.
Tubuh tinggi besar juragan Gogor dan tangan kuat juragan Gogor segera memeluk kuat dan mengangkat tubuh Tumi yang kecil bila dibandingkan dengan tubuhnya. Juragan Gogor membaringkan tubuh Tumi di ranjang sambil terus dipeluk dan tidak akan dilepaskan. Nafsu birahi juragan Gogor begitu meledak-ledak.
Di ranjang, Tumi terus berpura-pura meronta. Uang di genggaman juragan Gogor tersebar di atas ranjang. Tumi sempat melirik lagi uang yang terserak di ranjang. Banyak sekali, pikirnya.
Semakin Tumi meronta, juragan Gogor menjadi semakin kesetanan. Belum pernah juragan Gogor berhubungan dengan perawan yang meronta. Dengan perawan-perawan yang dibeli sebelumnya juragan Gogor selalu mendapatkan yang pasrah-pasrah saja. Dengan mudah dan tanpa perlawanan juragan Gogor melucuti kain yang dikenakan. Dan ketika juragan Gogor dengan nafsu birahinya memperdaya perawan-perawan sebelumnya, mereka hanya pasrah-pasrah saja. Karena memang tubuhnya sudah dibeli maka apa yang dibuat oleh yang membeli mereka manut-manut saja.
Berbeda dengan yang kali ini. Juragan Gogor seolah mendapat perlawanan. Dengan adanya perlawanan dari Tumi, Juragan Gogor justru sangat merasa senang. Menambah nafsu birahinya menjadi begitu meledak-ledak dan kesetanan. Dalam pikiran juragan Gogor, Tumi pasti bisa dikalahkan. Sebentar lagi pasti akan segera bisa dikuasai.
Dengan dua kakinya, tubuh Tumi dijepitnya. Tumi menjadi kesulitan meronta. Sementara itu tangan Juragan Gogor telah bisa membukan kain yang menutupi dada Tumi. Dada sudah terbuka tetapi payudara masih tertutup kutang. Karena merontanya Tumi semakin lemah lantaran kuatnya kedua kaki Juragan Gogor yang menjepit tubuhnya, maka dengan mudah pula juragan Gogor menyingkirkan kutang dari dada Tumi. Menyembullah dua gundukan daging putih dengan di puncaknya ada puting kecil berwarna merah jambu. Buah dada Tumi.
Sekilas juragan Gogor memandangi buah dada Tumi yang bersih, ada beberapa tahi lalat kecil berwarna merah menghiasinya. Baru beberapa detik juragan Gogor memandangi buah dada Tumi, ia sudah tidak tahan untuk segera menyerbunya. Serbuan juragan Gogor ke buah dada Tumi sangat menggila. Digigitnya puting susu Tumi, disedot-sedot, dicipok-cipok dan terus diciumi dengan membabi buta.
Tumi menjerit-njerit seperti tidak rela juragan Gogor memperlakukan buah dadanya seperti ini. Tetapi yang benar adalah Tumi sangat menikmati serbuan ke payudaranya. Kumis juragan Gogor yang tebal membuat payudara sangat geli. Belum lagi cara juragan Gogor menyedot-nyedot dan menggigit-gigit putingnya. Dengan telapak tangannya yang besar serta jari-jarinya yang panjang, berganti ganti juragan Gogor menekan buah dada Tumi dan meremasnya. Setiap kali remasan lembut hingga remasan gemas dan kasar, Tumi meronta dan menggeliat.
”Jangan, Juragan... jangan.... sudah... juragan...!” Tumi terus meronta walaupun rontaannya kian melemah. Apa yang keluar dari mulut Tumi sangat bertolak belakang dengan apa yang dikatakan hatinya. “Terus, juragan... terus... lumat dan remas, juragan... ah... sangat nikmat!”
Puas dengan payudara Tumi, juragan Gogor mengarahkan mulutnya ke bibir Tumi yang terus banyak meringis dan terbuka. Saat bibir membuka ini, juragan Gogor langsung menerkamnya dengan ciuman dahsyat. Tanpa ampun bibir Tumi dilumat sampai Tumi kesulitan bernapas. Dirasakan Tumi, bibir dan lidah juragan Gogor begitu hebat memperdayainya. Seluruh tubuh Tumi menjadi merinding nikmat.
Ciuman juragan Gogor yang menyerbu dahsyat mempengaruhi milik Tumi yang ada di selangkangan. Ciuman itu membuat miliknya yang ada di selangkangan membasah. Tumi orgasme. Tangan juragan Gogor yang ada di selangkangan Tumi sudah berhasil merobek dan melepas celana dalam. Dengan sigap juragan Gogor juga memelorotkan kain bawah Tumi. Tumi telanjang. Juragan Gogor melepaskan cengkeramannya di tubuh Tumi dan membiarkannya tubuh telanjang Tumi tergolek di ranjang. Dengan cepat dan sigap juragan Gogor melucuti pakaian yang dikenakannya. Juragan Gogor juga telanjang.
Tumi sempat melirik mentimun juragan Gogor yang besar besar panjang tegak mendongak. Tumi berpura-pura menangis. Satu tangannya berusaha menutupi buah dada dan tangan yang lain menutup miliknya. Napas juragan Gogor yang memburu ngos-ngosan terdengar sangat keras. Kembali juragan Gogor menerkam tubuh telanjang Tumi. Kali ini leher Tumi yang diserbu bibir juragan Gogor. Sementara tangan juragan Gogor berusaha mengangkangkan paha Tumi yang terus merapat.
”Jangan.... jangan... juragan... jangan.... jangan... lakukan...!” Tumi terus merapatkan pahanya yang terus dibuka-buka oleh tangan kuat juragan Gogor. ”jangan... jangan... jangan... juragan...!”
Sebaliknya apa yang ada di pikiran Tumi, “Cepat, juragan, kangkangkan pahaku. Cepat lakukan, juragan, aku sudah tidak tahan!”
Juragan Gogor sekilas teringat perawan-perawan yang telah dibeli sebelumnya. Mereka begitu pasrah. Ketika sudah telanjang, mereka telentang di ranjang dengan kaki mengangkang siap untuk disetubuhi. Tumi lain. Tumi meronta. Tumi membuat nafsu birahinya berlebih. Perawan-perawan sebelumnya ketika buah dadanya diciumi, dihisap-hisapnya, hanya mendesah pelan dan tidak banyak menggelinjang dan menjerit-njerit seperti Tumi.
Paha Tumi berhasil dikangkangkan oleh tangan juragan Gogor. Dan pada saat tangan juragan Gogor berusaha mengangkangkan paha Tumi, sempat pula tangan dan jari-jari mampir di milik Tumi yang sudah membasah. Paha Tumi yang terbuka  segera ditempati pinggul juragan Gogor. Dan mentimun juragan Gogor sudah tak sabar. Dengan sekali gerakan merendahkan pinggul dan memajukan pantat, mentimun juragan Gogor telah mendesak membuka bibir milik Tumi. Lalu menekan dan amblaslah miliknya di milik Tumi.
”Juragaaaaan....!” Tumi menjerit. Dia merasakan ada sesuatu yang besar, sangat kaku, hangat dan ujungnya menyodok-nyodok bagian yang paling dalam miliknya.
Sambil terus berganti-ganti menyerbu bibir, leher dan payudara Tumi, juragan Gogor semakin lama semakin memacu maju mundurnya mentimun. Hampir setiap lima menit, Tumi sampai ke puncak. Ketika setiap kali Tumi sampai ke puncak, ini membuat mentimun juragan Gogor seperti diremas-remas, disedot-sedot dan dipelintir-pelintir. Belum pernah juragan Gogor merasakan yang seperti ini. Puluhan wanita telah dicobanya, tidak ada yang enaknya seperti milik Tumi.
Juragan Gogor semakin menggila memacu mentimun. Tumi meronta-ronta. Kaki panjangnya kadang menendang-nendang, kadang melingkar di pinggul juragan Gogor dan pantatnya dinaik-naikkan. Mentimun juragan Gogor yang terus terasa disedot, diremas, dan dipelintir, kini siap meledak.
Dengan kuat juragan Gogor memeluk tubuh Tumi, mencipok buah dada Tumi dengan sedotan yang amat kuat, dan pantatnya menyodokkan kuat mentimunnya di kedalaman milik Tumi. Juragan Gogor menggeram dan mengejang.
“Tum... Tumi... Tuuuuuuuum...!”
Tumi merasakan ada air bah berupa cairan lava memenuhi kedalaman miliknya. Kehangatan dan keleler-keleler di dalam miliknya, membuat milik Tumi geli luar biasa dan akhirnya Tumi sampai ke puncak lagi untuk yang kesekian kalinya.
Tumipun menjerit sambil menjambak rambut juragan Gogor, “Juragaaaaann...!"

***

Semakin hari semakin tambah banyak orang yang datang minta tolong kepada yu Jumprit. Tidak kurang dari dua puluh orang setiap hari antri di rumah pak Pedut untuk minta pertolongan dari yu Jumprit. Ada yang datang karena sakit, ada yang datang karena sedang tertimpa kemalangan, ada pula yang datang karena belum mendapat keturunan, bahkan ada yang datang karena belum berjodoh, dan lain sebagainya. Yu Jumprit menjadi sangat sibuk.
Yu Jumprit yang semula di rumah pak Pedut hanya sebagai pembantu rumah tangga, kini berbalik menjadi tuan rumah. Yu Jumprit yang masih memiliki hubungan darah dengan mendiang isteri pak Pedut yang telah meninggal dunia, tinggal di rumah pak Pedut sejak Nyi Ramang sakit sampai dengan meninggalnya Nyi Ramang. Pekerjaan yu Jumprit hanya membantu urusan dapur. Dan pekerjaan-pekerjaan kasar yang lainnya.
Yu Jumprit yang namanya tidak banyak dkenal orang kini tiba-tiba mencuat menjulang menjadi sangat tenar. Yu Jumprit yang sakti. Yu Jumprit pengganti Nyi Ramang. Yu Jumprit berbalik sangat dihormati orang. Yu Jumprit banyak dibicarakan orang.
Warga terus bertanda tanya, mengapa justru yu Jumprit yang mendapat warisan jimat sakti itu? Mengapa tidak pak Pedut anaknya? Mengapa bukan Kliwon cucu pertamanya, atau mengapa tidak Menik?
Banyak orang mengatakan pak Pedut orangnya lemah. Mungkin Nyi Ramang menilai pak Pedut tidak bakalan kuat ketempatan jimat. Kliwon orangnya pendiam. Tidak bisa banyak bergaul dengan orang. Mungkin Kliwon dinilai oleh Nyi Ramang tidak pantas menerima warisan jimat itu. Sedangkan Menik masih terlalu belia, sehingga Nyi Ramang mungkin menilai Menik masih belum tepat membawa jimat. Akhirnya pilihan jatuh kepada yu Jumprit.
Orang hanya bisa menduga-duga. Orang hanya bisa berkata tanpa memperoleh bukti nyata. Satu-satunya bukti adalah yu Jumrpit mampu berbuat seperti Nyi Ramang. Menyembuhkan orang sakit, meringankan beban orang yang sedang tertimpa kemalangan, dan lain sebagainya.
Hari-hari siang, sore, malam, rumah pak Pedut ramai didatangi orang. Rumah pak Pedut kembali seperti ketika mendiang Nyi Ramang masih berpraktik menolong orang. Rumah pak Pedut tidak pernah sepi orang. Oleh-oleh dan barang bawaan orang menumpuk di dapur. Ada gula, ada teh, ada rokok, ada sayur mayur, ada kelapa, bahkan ada ayam, itik dan sebagainya.
Orang sangat tahu mendiang Nyi Ramang tidak pernah mau diberi uang. Orang mewujudkan ucapan terima kasihnya berupa barang. Kini orang-orang pun terhadap yu Jumprit tidak ada yang memberi uang. Ucapan terima kasihnya tetap diwujudkan dalam bentuk barang. Jika barang sudah menumpuk banyak, tetangga terdekatlah yang beruntung. Mereka mendapat luberan oleh-oleh dan barang bawaan orang yang kalau tidak segera dimanfaatkan akan rusak dimakan hari. Tidak jarang pula maka tetangga terdekatlah yang selalu banyak membantu kerepotan yu Jumprit.
Gudel pun lalu menjadi orang yang banyak membantu di keluarga pak Pedut. Selain Gudel ingin selalu dekat dengan Menik, Gudel adalah orang yang memang gampang membantu orang yang sedang repot. Air sumur yang keluar sangat sedikit dan kebutuhan air yang harus banyak, membuat jasa Gudel yang tidak segan mengusungkan air dengan bumbung bambu dari tebing menjadi sangat penting. Gudel ingin mendapat penilaian dari Menik. Gudel ingin cintanya yang selama ini terus dipendam mendapat balasan dari Menik.
Apa yang diperbuat Gudel sekarang persis ketika waktu itu Rase berbuat membantu mendiang Nyi Ramang. Rase yang sekarang sudah menjadi juragan sudah tidak mungkin lagi berbuat seperti dulu. Hanya saja waktu itu Rase tulus berbuat membantu Nyi Ramang tanpa embel-embel pengharapan. Sedangkan Gudel jasanya ingin dihargai oleh Menik yang dicintainya.
Hari belum terlalu sore. Udara begitu segar terasa di badan. Angin bertiup lembut. Pohon perindang tidak banyak bergerak karena lembutnya angin bertiup. Matahari yang miring terasa hangat di badan. Dengan mengenakan pakaian yang rapi dan mengoleskan wewangian di baju, Juragan Rase datang ke rumah pak Pedut bermaksud mengunjungi Menik. Beberapa orang yang ingin bertemu yu Jumprit masih duduk di teras menunggu pak Pedut mempersilahkan masuk untuk bertemu yu Jumprit di ruang tamu.
Gudel yang tanpa baju juga sedang duduk-duduk di teras istirahat sambil mengepulkan asap rokok. Gudel masih harus terus mengisi bak air di dapur dengan air yang diambilnya dari tebing. Hari-hari yang selalu banyak tamu sangat membutuhkan air untuk memasak.
Juragan rase dengan tanpa menyapa Gudel dan orang-orang yang sedang berada di teras langsung memasuki rumah melalui pintu dapur. Pikirannya yang ingin segera bertemu Menik membuatnya lupa menengok ke kiri dan ke kanan, sehingga orang yang sedang ada di teras pun tidak terlihat oleh matanya. Menik ada di dapur sedang membantu perempuan-perempuan tetangga dekat yang sengaja datang membantu kerepotan yu Jumprit.
”Duduk di rumah saja, kang. Di dapur kotor.” sapa Menik pada Juragan Rase yang langsung duduk di amben dapur.
”Ah, di sini saja enak. Sambil nemani kamu.” jawab juragan Rase.
”Iya, juragan, di dapur nanti kena asap jadi sangit.” timpal perempuan tetangga mengiyakan kalimat Menik.
”Sudahlah... biasa sangit ndak papa.” juragan Rase tertawa.
Menik membawa nampan yang di atasnya ada gelas teh dan sepiring wajik. ”Minum, kang, ini wajiknya manis banget. Buatan yu Jumprit.” Menik menemani Juragan Rase minum.
”Gono ndak pernah kirim kabar, Nik?” Juragan Rase mengingatkan Menik tentang Gono.
Juragan Rase sangat tahu kalau Gono selama ini tidak pernah kabar-kabar kepada Menik. Juragan rase tahu kalau Menik sedang bolong. Dulu Menik pacar Gono. Tetapi Gono yang sekarang tidak diketahui dimana rimbanya dan tidak pernah mengabari Menik, membuat Juragan Rase berani mencoba memasuki hati Menik.
”Sejak kepergiannya ke kota sampai hari ini kang Gono tidak kirim kabar, kang.” Menik mengansurkan piring wajik ke dekat duduk juragan Rase.
”Ya... ya, Nik... nanti aku ambil wajiknya, aku tak minum dulu.” Juragan Rase menyerutup teh.
”Mungkin kang Gono sudah kecantol perawan kota, kang.” Menik melanjutkan kalimatnya sambil tertawa.
Mendengar kalimat Menik yang walaupun diucapkan sambil tertawa ditangkap oleh Juragan Rase kalau kalimat Menik ini sudah mengandung keraguan akan kesetiaan Gono. Maka Juragan Rase segera mencoba mempengaruhi keraguan Menik agar semakin meragukan Gono.
”Iyo lho, Nik. Perawan kota kan pandai bersolek. Perjaka siapa yang tidak tergoda.” Juragan Rase tertawa lepas.
”Kalau kang Gono sudah kencantol perawan kota, ya aku ikhlas kok, kang. Toh di desa masih banyak perjaka.” berkata ini, Menik juga menyertakan tawa lepasnya.
Perempuan tetangga yang mendengarkan canda Menik dan Juragan Rase minimpali. ”Tuh, juragan Rase masih perjaka, ta? Kaya lagi!'' Perempuan tetangga ikut melepaskan tertawanya pula.
Kalimat perempuan tetanggga ini membuat juragan Rase tersipu malu, tetapi di dalam hatinya berbunga-bunga.
”Juragan Rase juga suka perawan kota, yu. Perawan kota yang wangi dan suka bersolek.” Menik menimpali kalimat perempuan tetanggga yang tetap sambil sibuk.
”Ndak... ndak... Nik. Aku tetap suka perawan desa yang lugu dan ayu seperti kamu, Nik!” Juragan Rase semakin melepaskan tawanya.
”Nah itu... ternyata juragan Rase suka perawan yang seperti kamu. Yang seperti kamu... ya kamu itu... Nik. Begitu kan, juragan?” Perempuan tetangga menggoda Menik. Mereka yang di dapur, semua tertawa lepas.
Gudel yang masih berada di teras di depan dapur mendengar percakapan ini. Tiba-tiba di dalam dadanya terasa ada sesuatu yang sesak mengganjal dan terasa panas. Gudel merasa khawatir jika guyonan itu kebablasan, bisa-bisa ia mendapatkan saingan yang tidak seimbang. Jika juragan Rase nantinya menyukai Menik berarti dirinya akan bersaing dengan juragan Rase. Akankah dirinya bisa menang bersaing dengan orang sekaya juragan Rase?
Juragan Rase akan bisa melakukan apa saja dengan uangnya. Dirinya hanya bisa menjual jasa, mengorbankan tenaga untuk membantu. Gudel menjadi gelisah, resah dan panas hati. Gudel tiba-tiba merasa kecil dan tidak berarti. Apa yang harus dilakukannya untuk memenangkan persaiangan ini?
Guyonan di dapur semakin rame saja. Juragan Rase semakin banyak tertawa. Di telinga Gudel, tawa juragan Rase bagai halilintar yang memekakkan telinga. Setiap kali didengarnya tawa Menik, hatinya bagai teriris. Dan tawa-tawa para perempuan tetangga bagai hinaan terhadap dirinya. Gudel bangkit dari duduk dan ngeloyor pergi membawa sakit hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar