Rabu, 18 April 2018

Merindu Kekasih



Disusul ke rumahnya, katanya Ceceu malah ke kos-kosan Dodo. Sisipan jalan. Sesuai informasi dari pembantunya yang item tapi lumayan itu, Dodo pun bergegas kembali ke kos-kosannya. Rasa kangen itu sudah gedabar-gedebur.
Begitu dia membuka pintu, wow! Sesosok indah kelihatan sedang berdiri menghadap pintu kamar tamu bersiap mau mengetuk. Buru-buru Dodo merengkuhnya dari belakang.
"Hai, sayangku... kamu ke sini..."
Plak! Pengeng muka Dodo untuk beberapa lama.
"Kamu jangan kurang ajar, ya!"

"Waduh! ternyata bukan Ceceu nih. Ma-ma-maaf, kirain pacar saya," kata Dodo gagap.
"Jangan main bekep aja lu. Saya Inggrid dari dinas sosial. Ini rumah Pak RW bukan?" tanyanya judes. Matanya melotot, nada suaranya tinggi. Dari belakang sih mirip Ceceu. Indah berlekuk, tapi pas dilihat dari depan, garang! Umurnya mungkin sudah kepala lima kali. Kulit wajahnya udah pada keriput. Estewe garang... asli.
"Ru-rumah Pak RW di blok A, Bu." kata Dodo.
Tanpa pamit perempuan itu pun ngibrit.
Dodo nyengir, masuk kamar sambil mengurut dada. Yaitu dadanya sendiri. Walah. Kalau yang diurut dadanya ibu kos, bisa kena bejek yang kedua kali dia.
"Mas, Mas, Mas! Kamu dimana!" Mak, belum lagi dia menutup kamar, panggilan mesra itu sudah terdengar. Langsung saja Dodo menghambur turun lagi, membuka pintu, dan merangkul makhluk beraroma semerbak itu.
"Sayang, kamu ke sini?" Dodo tergopoh menemui sang pacar.
Plak! Makin pengeng muka Dodo kena keplak kedua kali. Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh.. pada hitungan ke delapan, Dodo baru nyadar lagi sepenuhnya. Belum sampai KO!
"Kamu jangan kurang ajar, ya main peluk aja!" Kali ini ibu kos ternyata!
"Eh, Ibu. Kirain Ceceu. Waduh, abis Ibu cantik dan awet muda, sih. Maaf, ya, Bu."
"Ah, masak sih Ibu awet muda?" si ibu tidak jadi marah. Malah rada bangga begitu. Lubang hidungnya merekah. Padahal, tadi bakpaonya yang kiri dan kanan sudah sempat kepencet.
"I-iya, Bu. Cantik. Maaf ya, tadi nggak sengaja..."
"Ya udah. Lain kali jangan langsung peluk aja. Dilihat dulu orangnya!" kata si ibu.
"Iya, Bu," dan Dodo pun kembali nyengir, masuk kamar sambil mengurut dada. Yaitu dadanya ibu kos. Eh, dadanya sendiri. Deja vu. Tahu-tahu ada panggilan lagi.
"Mas, Mas, Mas! Kamu dimana!"
Dodo menarik nafas panjang. Walah. Kalo ketipu yang ketiga kalinya, serasa ini apes banget. Takut kena kampleng yang ketiga kalinya, kali ini Dodo berhati-hati. Dia pastikan dulu, akh! Tapi hasilnya dia kecewa. Salah orang lagi.
"Ini, Mas. Saya mau nawarin produk baru... bla, bla, bla..." SPG keliling rupanya. Mending kalo orangnya cantik. Menyes abis. Suara sih merdu. Tapi... yah, selain menyes, estewe, dan baunya bau keringet acem! Tidak menunggu lama, langsung Dodo suruh pergi.
"Gak usah masuk kamar lagi deh..." Dodo lama-lama jengkel juga bolak-balik, dan beneran. Hari itu rupanya harinya spg pada turun ke jalan kali ye.
"Ini, Mas. Saya mau nawarin produk baru... bra anti melintir! Bla,bla, bla..."
"Stop, stop, stop, Nek! Saya ini laki, Nek. Ngapain juga nenek nawarin bra ama saya?" Dodo mengusirnya. Gile bener. Indonesia penduduknya ada dua ratus juta, kok bisa-bisanya nenek-nenek begini terpilih sebagai SPG. Lincah bener tuh si nenek. Dodo geleng-geleng kepala.
Walaupun bukan Ceceu yang dirindu, kalo yang dateng spg bening, sebenernya lumayan juga, kan? Dodo mengkhayal. Dan ternyata pucuk dicinta ulam pun tiba.
"Ini, Mas. Saya mau nawarin produk baru..."
"Bukan bra anti melintir, kan?!" Dodo memastikan.
"Ya jelas bukan dong, sayang."
"Waduh, baru dateng udah bilang sayang, nih," Dodo pun clegak-cleguk. Bisa nih kayaknya. "Kalo kamunya cantik begini, neranginnya kayaknya mesti rada mojok ngumpet di sini, nih." Dodo pun lama-lama mancing-mancing, terpancing oleh rok mini si spg yang alakazam.
"Hihihi... ya jelas bisalah, Mas. Jangankan diajak mojok. Diajak ngamar juga eike siap. Hahaha..." Sambil berkata begitu, roknya dia singkapkan sampai ujung unyilnya nyaris menyembul.
"Waduh. Beneran, nih?" Dodo melotot. Seakan tak percaya.
"Beneran, Mas. Gak usah pake tarif deh. Pokoknya Mas beli aja produk saya dua biji, yang sisanya gratis. Asal aja Mas gak coba-coba masuk lewat pintu depan!" katanya.
"Hah? Waduh? Kenapa gak boleh masuk lewat pintu depan? Padahal itu yang enak..." Dodo ngiler. Tangannya mulai menjalar kemana-mana.
"Ya, pintu depannya gak ada, Mas. Saya ini kan aslinya laki juga kayak kamu!" katanya.
Gubrak! Cantik-cantik ternyata bences-ben-serep! Whhuekk... Dodo pun langsung saja mengusirnya sambil menahan mual. Buru-buru dia istighfar. Banyak dosa nih kayaknya. Jadi, ngarepin ketemu cewek cantik dari tadi salah-salah muluk. Dua yang pertama salah peluk ibu-ibu, kena kampleng. Yang berikutnya, sekalinya didatengin spg, estewe menyes. Setelah itu... malah nenek-nenek pulak yang dateng. Mending kalo dagangannya bener. Dia dagang bra anti melintir. Inovasi produk apaan pulak itu? Eh, sekalinya kedatangan yang bening, seksi dan gampang banget digandeng-gandeng... gak tahunya laki-laki yang menyaru jadi ayam bekisar!
Beneran, Dodo gak habis pikir. Penduduk Indonesia itu beneran dua ratus juta lebih apa enggak, sih? Dia bingung. Kenapa gak ada satu aja yang cantik yang datang kema... Ooo... wait aminute! Pikiran iseng Dodo terputus. Pasalnya, tiba-tiba ada spg muncul lagi. Rok mininya merah. Blusnya putih berenda-renda. Agak menerawang.
"Permisi, Mas. Boleh ganggu sebentar. Ini, Mas. Saya mau nawarin produk baru..."
Dodo melongo sejenak. "Kamu bintang sinetron nyaru jadi spg atau spg beneran?" katanya seperti setengah terhipnotis.
"Saya spg, Mas. Ya, kalo sehari-hari sih mahasiswi sih sebenernya."
"Mahasiswi? Kok cantik menor begini? Beneran mahasiswi atau mahasiswa brewok jangan-jangan aslinya kalo make-up-nya diilangin!"
"Idih. Saya beneran mahasiswi kok, Mas. Siang maupun malem, mahasiswi. Cewek tulen. Nama saya Ivy," katanya sambil mengulurkan tangan.
"Oh, Hai, Ivy. Saya Dodo. Sorry ya, abis tadi saya kedatengan bencong. Cantiknya beneran kayak cewek tulen." Dodo menyambut uluran tangannya sambil mengelus-elus dan lama tidak melepaskannya. "Kamu cantik-cantik kok mau aja sih jadi spg keliling?"
"Iya, Mas. Ivy lagi butuh duit. Beli dong produk Ivy," dia merayu.
"Apa aja coba produk kamu?"
"Ya macem-macem, Mas. Eh, boleh duduk di sini nggak?" dia minta duduk.
"Boleh, boleh! Tapi duduknya jangan terlalu rapet, ya."
"Idih. Ya rapet dong, Mas. Kalo nggak rapet entar kemasukan laler, atau Ivy masuk angin! Hihihi," dia malah cekikikan.
Dodo mendebat terus, "Eh, tapi.. kalo terlalu rapet, nggak ada ventilasi, itu juga nggak sehat, lho!" katanya terus merayu.
"Ih, Mas bisa aja," Ivy membalas kerlingannya.
Desir-desir gak jelas pun langsung saja menjalari sekujur tubuh Dodo. Mana kos-kosannya lagi sepi pulak. Ibu kos dan si pembantu, sepertinya masih ngubek di belakang, lagi sibuk ngurusin ikan. Nggak ada Ceceu, rasanya Ivy ini juga jadi, nih! Dodo pun semakin ngiler.
Spg cantik itu terus saja bermanis manja, tapi tiba-tiba rasa kuatir menjalari batin Dodo. Gimana enggak? Tadi kan pembantunya bilang, Ceceu sedang menuju ke sini. Bener nggak? Lha, kalo terus lagi colak-colek spg, Ceceu-nya muncul... rencana ke depan seumur hidup bisa berantakan, nih. Dodo pun kagok. Nggak cuma dikelepak nih urusannya.
"Eh, Mbak... maaf ya. Kamu tuh kan cantik sekali..."
"Oh, makasih."
"Eh, jangan makasih dulu. Maksud saya... kamu cantik sekali. Tapi, ini cewek saya mau ke sini. Jadi, nanti waduh... gawat. Dia bisa cemburu. Nah, jadi..."
"Wuuu!! Nggak usah alasan yang nggak ada deh, Mas. Tampang kayak kamu aja... paling kayak apa sih ceweknya?" Walah, spg itu malah ngeledek Dodo.
"Tapi..."
"Ssst. Ya udah, gini aja deh. Kalo Mas nggak mau beli, karena gak punya duit atau apa... mm... saya juga lagi jomblo loh. Diajak jadi cewek kamu juga mau kok. Hihihi..." Malah nawarin diri lagi tuh anak. Dodo makin mumet.
"Eh, Mas... ini resleting rok saya di belakang kayaknya kebuka nggak sih? Tolong benerin dong," Dia membelakang lalu resletingnya sengaja dibuka sampai gundukannya yang sepasang kelihatan, terbalut kain abu-abu muda yang tipis.
"Waduh. Malah makin transparan gini!" Dodo cepet-cepet membantu membetulkan resleting itu, sambil tersengal, terhipnotis oleh keindahannya.
"Mbak, Mbak, udah, Mbak. Sono deh pergi. Kamu jangan mentang-mentang cantik, dong," Dodo mengusirnya. Andai Ceceu bukan jadwalnya datang, tentu penerimaannya akan beda, tapi ini Ceceu-nya bisa dateng sewaktu-waktu nih. Gawat.
"Ya udahlah, Mas. Saya pergi. Saya beresin dulu ya, dagangan saya..." katanya.
"Idih, beresinnya kok sambil mekokok begitu... kelihatan apemnya tuh!" Dodo protes lagi.
Pas dia jauh, baru Dodo nyesel. Hmm... padahal tadi kalo dicolek-colek dulu barang sepuluh menit kayaknya bisa kali ye. Dasar.
"Hai, Mas, kok ngelamun siih!!" Tahu-tahu ada yang memanggil lagi.
Dodo terjingkat kaget luar biasa, tapi setelah tahu siapa yang datang. Cless... rasanya adem banget. Ternyata Ceceu beneran dateng. Senyumnya amat mengenyangkan, dan kehadirannya bener-bener bikin segala pengalamanan gak enak tadi plas... mendadak seperti hilang.
Cantiknya Ceceu memancar dari dalam. Dan dibanding kecantikannya yang merona, spg yang tadi putih mulus itu, serasa jadi seperti nenek-nenek keriput atau pembokat dekil saja. Di benak Dodo yang ada hanya Ceceu, dan Ceceu saja...
"Ooh, Ceceu... kamu tuh cantik banget."
"Oh, makasih, Mas," Ceceu bermanja.
Untung, untung. Untung Dodo gak ketahuan pas deket-deket spg. Kalo ketahuan, terus Ceceunya ngibrit. Nyesel seumur idup tuh anak...Kos-kosan sepi, semua aman terkendali. Udah ini apa nih?
"Sayang, kamu ke sini?" Dodo tergopoh menemui sang pacar.
"Iya, nih. Abis aku kangen ama kamu," Ceceu bermanja.
"Kamu cantik. Ooo.. asli cantik," Dodo memujinya. Sambil memuji, matanya menikmati tubuh indah berbalut rok terusan itu. Lalu merengkuhnya. Dikelepak, dikelepak deh, begitu dia membatin.
"Mas, aku sayang ama kamu.." Ternyata bukannya marah, Ceceu malah tersenyum senang. "Makasih, Mas," begitu katanya.
Baru Dodo ancang-ancang untuk melanjutkan romantismenya, kang somaid atang. "Somai, Gan!"
"Eh, enggak, Mas!" Gugup Dodo jaim-jaiman lagi.
Kang somai pergi, kembali sepi, dan rasa itu mendesak lagi, Dodo pun merengkuh Ceceu lagi. "Sayangku, aku juga ka..."
"Mas, Mas! Numpang tanya! Kalo rumah Pak RW dimana, ya?!" Kang ojek rupanya.
"Eh, itu... anu... di Blok A!" kata Dodo jaim. Habis kang ojek berlalu, Dodo garuk-garuk kepala. "Abis ini tukang apa lagi nih?" dia celingukan.
"Tenanglah, Mas. Dua udah lewat kok... santai aja," Ceceu mengerling.
Dodo merengkuh sambil terus menatap matanya. Dia dekatkan mata dengan mata, sampai jaraknya tinggal setiupan nafas. "Makin dideketin, kamu tuh makin cantik ya..."
"Aaah... kecantikanku ini buat kamu, Mas," Ceceu melebarkan senyumnya, dan mengangguk.
"Beneran?"
"Bener, Mas... di sini rumah Pak Uyek yang dagang suling bambu?!" tiba-tiba ada yang muncul lagi. Tamu tak dikenal. Walah.
"Bu-bu-bukan, Mas!" Dodo pun gelagepan.
"Kalo gitu di sini jualnya jual suling apa?"
"Di sini kos-kosan, Mas. Gak jualan suling."
"Tapi anak kos kan sukanya lagu dangdut ya. Lagu Suling Bambu, tahu dong..."
"Waduh, sembarangan. Kos-kosan di sini bukan aliran dangdut, Mas. Disini tuh kita mainnya gambang kromong, keroncong, sama seriosa!!"
"Waduh... kalo gitu Kang Uyek yang dagang suling bambu dimana, ya?"
"Meneketehe!" Dodo menukas.
"Kalo gak tahu Kang Uyek, Kang Dogem yang dagang ketipung kulit kambing juga boleh deh. Saya mau..." katanya.
"Waduh kelakuan ya kamu tuh. Kang Uyek saya gak tahu. Apalagi Kang Dogem. Yang saya tahu Kang somai sama Kang ojek. Tadi udah ujuk-ujuk kesini gangguin sebelum kamu! Udah deh sono, pergi!" Dodo pun mengusirnya dengan gemas.
Orang itu pun pergi sambil nyengir. Dodo gondok bukan kepalang. Tapi Ceceu pengertian.
"Ssst. Biar nggak keganggu.. ngobrolnya di kamar aja yuk, Mas," pinta Ceceu si amoy Jakarta yang cerdik itu. Sorot matanya kelihatan yakin dan pasrah.
"Waduh, siapa takut. Yuk ke kamar!" Untuk sejenak Dodo ragu, tapi sebagai lelaki normal, manalah bisa dia menolak ajakan yang seperti itu. Tentu saja begitu tiba di kamar, mereka tidak jadi ngobrol. Dodo nggak kuku.
Dengan hati bersorak, ia hampiri wajah ceceu yang manis. Gadis itu menatapnya sayu. Bibir mereka saling mendekat dan secara lembut Dodo mencium. Perlahan ia menghisap dengan penuh perasaan. Perlahan-lahan mata Ceceu terpejam dan dengan kaku dia mulai membalas hisapan bibir itu.
Gairah Dodo semakin terpompa dan nampaknya Ceceu pun menikmati ciuman ini, dia berdecak-decak menghisap, napasnya sudah memburu. Akhirnya Dodo memeluk erat tubuhnya dan Ceceu balas memeluk sambil melumat apa yang dapat ia capai, mulai dari bibir, hidung, pipi, telinga hingga leher Dodo secara bergantian.
“Ouh… enak... teruss...” erang Ceceu keenakan ketika bibir dan lidah Dodo balas mencium dan menjilat telinga dan seluruh permukaan lehernya yang halus. Kepalanya terdongak dan matanya mendelik, pelukannya pada tubuh Dodo semakin erat seolah tak mau lepas.
Badan Dodo mulai panas kegerahan, keringat pun sudah keluar dan napas mereka semakin memburu. Lalu dengan badan agak merenggang sedikit, Dodo mulai meremas-remas buah dada Ceceu yang mungil dari luar bajunya. Tubuh gadis itu terasa bergetar hebat.
“Auh…ahh... enak...” erang Ceceu keenakan
Penis Dodo semakin keras mendengarnya, nafsunya juga semakin menggebu, dan telapak tangannya semakin gencar meremas. Ceceu semakin menikmati apa yang ia lakukan, desahan nikmat keluar dari mulutnya, kepalanya terdongak dan matanya terpejam. Sambil terus menghisap bibir, Dodo mulai membuka bajunya.
"Jangan langsung dong, Mas," Ceceu yang tubuhnya sintal menggelinjang. Walau tidak melawan, dia terus mengulur waktu. Lalu cekikikan kegelian ketika dibaringkan di tempat tidur.
Satu demi satu, lapis pertahanannya dinonaktifkan oleh Dodo. Barikade disingkirkan, lalu water cannon disiagakan ke titik sasaran. Ceceu sempat jeri juga. Semula tidak menerima, tapi lama-lama... setelah dibuai-buai, Ceceu pun sepakat untuk mufakat, tanpa perlu voting.
"Ya udahlah, Mas. Terserah kamu..." katanya manja.
"Ssst. Saya sayang kamu, Ceceu. Jangan takut..." Dodo pun tersenyum tersengal, dan dengan penuh nafsu tangannya meremas buah dada dan memilin-milin puting susu Ceceu yang kecil namun menonjol keras.
Ceceu tidak bisa diam diperlakukan seperti itu, kepalanya terus terdongak sambil matanya terpejam dan mulutnya mengeluarkan desahan, “Auh… enak… terus, Mas… teruss...”
Dodo semakin bernafsu, mulutnya pun menjilat menyusuri dada dan akhirnya menghisap puting susu Ceceu. Badan gadis itu bergetar dan mengerang ketika lidah dan bibir Dodo tiba di puting susunya.
“Aaahhh..”
Dodo menghisap buah dada mungil Ceceu, dan hisapan itu kadang sedemikian kerasnya oleh karena rasa gemas dan nafsu yang semakin menggebu, hingga tanpa sadar menimbulkan banyak tanda merah di permukaan buah dada Ceceu. Namun nampaknya Ceceu semakin melayang nikmat dengan apa yang Dodo lakukan.
Ciuman bibir Dodo kini turun menjilati sekitar pusar, sementara kedua tangannya meremas dan memilin kedua buah dada dan puting susu Ceceu. Lalu mulutnya semakin turun dan menarik celana dalam Ceceu hingga kini dihadapannya tergolek tubuh telanjang gadis itu.
Mata Dodo nanar melihat tubuh telanjang kekasihnya, rambut di vagina Ceceu masih jarang hingga bibir vaginanya begitu jelas terlihat. Lidah Dodo langsung menjilat ke sana. Tubuh Ceceu bergetar keras, hingga kakinya kaku dan mengerang nikmat tanpa disadari.
“Aaaaahhh…“
Dodo melakukan jilatan dari bawah ke atas secara intensif, membuat pinggul Ceceu bergoyang-goyang tak bisa diam sambil terus mengerang nikmat. “Aaahhh…enak…auh…”
Dodo menjulurkan lidah untuk membuka bibir vaginanya, terlihat ada gurat kecil yang sangat rapat. Segera dikorek-koreknya dengan lidah, terasa asin, tapi juga nikmat. Gerakan pinggul Ceceu jadi semakin menggila, apalagi ketika lidah Dodo naik menyusuri lipatannya hingga menemukan tonjolan kecil sebesar kacang hijau yang cukup keras. Rakus Dodo menjilatinya, dan Ceceu mengerang seperti tercekik.
“Aakh…auh...aah…”
Cukup lama Dodo menjilati tonjolan kecil itu. Getaran dan erangan Ceceu semakin menggila, hingga akhirnya pantatnya naik menekan mulut dan kedua tangannya menjambak erat rambut Dodo sambil menekan kepala itu ke arah liang vaginanya. Ceceu menjerit cukup panjang untuk menahan nikmat orgasmenya.
“Aaaaaakkhhhh…” kemudian pantatnya berkedut-kedut cukup keras dan cepat. Dan beberapa saat kemudian Ceceu terlentang lemas dengan napas tersengal-sengal.
Dengan tenaga yang tersisa, dia berusaha menarik tubuh Dodo ke atas agar wajah mereka bisa saling berhadapan. Dodo menggeser tubuhnya, dihimpitnya tubuh telanjang Ceceu yang lemas kelelahan. Gadis itu memandangnya dengan tatapan puas dan berkata, “Aah... aku capek, Mas... tapi barusan enak banget.”
Dodo hanya tersenyum mendengarnya. Dibelai dan diciumnya bibir Ceceu dengan lembut. Ceceu membalas lemah kecupan itu. Dodo yang masih dalam keadaan terangsang, segera membuka celana panjang dan celana dalamnya sekaligus, sehingga begitu terlepas, tampaklah batang penisnya yang sudah keras dan tegang. Benda itu terangguk-angguk ketika ia kembali menghampiri Ceceu di tempat tidur.
Ceceu segera bangkit dari tidurnya, tangannya meraih penis Dodo dan mengocoknya. “Sekarang giliranku ya?” katanya sambil terus mengocok lembut penis itu.
“Ouh… i-iya, Sayang… enak... terus!” Dodo merem-melek.
Melihat Dodo keenakan, Ceceu jadi semakin bersemangat. Dia terus mengocok dan memijit lembut penis kekasihnya hingga membuat Dodo melayang. Dan tanpa menunggu lama, bibir manis Ceceu menghampiri penis itu dan lidahnya mulai menjilati ujungnya sambil tangannya tetap mengocok kuat.
“Ohhh…ouh… Enak, Sayang… enak…ouh…” erang Dodo.
Rupanya gairah Ceceu sudah bangkit lagi, dia sangat menikmati mengoral penis Dodo. Setelah cukup lama, baru dia berhenti dan berkata, “Mas, bagaimana kalau dimasukin sekarang?”
Dodo langsung menyetujui. Dibaringkannya tubuh telanjang Ceceu di atas ranjang dan segera ia posisikan penis berhadapan dengan liang vagina gadis itu. Terlihat masih rapat namun sangat basah. Dodo mendorong pantatnya, mentok. Menekan lagi, penisnya malah bengkok seperti mau patah. Dodo meringis kesakitan.
Beberapa kali dicoba selalu gagal, keringat Dodo semakin mengucur deras dan Ceceu nampaknya semakin terangsang. ”Ayo dong, Mas…jangan main-main aja.” pintanya sambil menggoyang-goyangkan pinggul.
Dodo semakin penasaran, dicoba lagi mengarahkan penis ke bibir vagina Ceceu. Didorongnya kembali, namun meleset ke atas hingga kepala dan batang penisnya menekan dan menggesek klitoris Ceceu. Dengan jengkel Dodo terus berusaha, dan Ceceu pun terisak tak sabar, namun pas kurang sesenti lagi tereksekusi, tiba-tiba pintu kamar menjeplak terbuka!
Jger...!!!
"Dodo! Kamu ini apa-apaan?! Dasar! Udah kos-kosan nunggak terus. Kelakuan ancur!" sembur ibu kos yang melabrak masuk. Tapi hanya kata-katanya saja yang garang, karena ternyata dia tersenyum dan kemudian menutup pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.
"Nah, sudah aman sekarang," bisiknya manja.
Dodo sangat kaget dan tidak tahu harus berbuat apa, tetapi karena sedang di puncak gairah, ia tetap diam saja terlentang di atas tubuh bugil Ceceu. Diliriknya ibu kos yang sekarang melangkah mendekat ke tempat tidur, matanya tertuju ke bagian tubuh Dodo dan Ceceu yang hampir bersatu.
"Hayo, ibu boleh ikutan gak?" katanya lagi, lebih manja.
“Ibu mau?” Pelan-pelan Dodo menggulingkan tubuhnya dan berbaring di samping Ceceu tanpa berusaha menutupi kebugilannya. Ceceu mengambil satu bantal untuk digunakan menutupi dada dan kemaluannya.
"Ma-maaf, Bu." kata Ceceu lemas.
"Eh, Nggak apa-apa. Biasa aja kali," sahut ibu kos tanpa melepaskan matanya dari arah kemaluan Dodo. Ceceu merasa sangat malu tetapi juga heran melihat Dodo tenang-tenang saja.
"Gimana, Sayang?” kata Dodo tiba-tiba, meminta persetujuan Ceceu.
Merasa tidak ada jalan lain, Ceceu pun mengangguk. "E-eh, terserah Mas aja..." katanya sambil berusaha duduk dan mulai mengenakan bajunya.
"Eh, kamu mau kemana? Disini aja," larang ibu kos.
Ceceu terdiam, sementara Dodo seakan tak percaya akan apa yang tengah terjadi. Jantungnya berdegup-degup seperti alu menumbuk lesung. Dia sudah sering melihat ibu kos bermain-main di kamar dengan suaminya, dan menurutnya perempuan itu masih sangat seksi dan menarik.
Sambil tersenyum senang, Ibu kos duduk di ranjang dan tangannya mulai mengelus-ngelus batang penis Dodo yang masih basah dan masih berdiri tegak. "Hmm, gedenya... pantes pacar kamu suka," Dia mengupas kulit kulup Dodo untuk melihat kepala penisnya.
Yang tidak disangka Dodo adalah, Ceceu ikut mendekat dan tangannya ikut pula meremas-remas. Aduh mak, Dodo berteriak dalam hati. Bagaimana ini kejadiannya? Tetapi dia diam saja karena betul-betul bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.
“Nah, gitu dong,” ibu kos senang dengan penerimaan Ceceu, sementara Ceceu hanya tersenyum misterius kepada Dodo.
Tempat tidur cukup besar dan ibu kos segera membuka baju dasternya dan telentang di atas ranjang, di dekat Dodo. Tak berkedip Dodo melihat tubuh ibu kos yang masih seperti remaja meski usianya sudah tidak muda lagi. Tonjolan payudaranya tetap terbentuk sempurna, begitu besar dan menonjol ke depan meski sudah agak turun. Putingnya tampak kaku kehitaman, kontras dengan bibir kemaluannya yang sangat mulus kemerahan. Bibir luarnya sudah berlipat, tapi tetap terlihat indah. Ada garis lurus samar yang membelahnya, dan diantara garis lurus itu Dodo melihat biji klitoris yang seperti mengintip dari sela-sela garis kemaluannya.
Ibu kos merapatkan pahanya dan matanya menatap ke arah Dodo seperti menunggu apa yang akan dilakukan pemuda itu selanjutnya.
Dodo mengelus-elus bukit venus ibu kos yang agak menggembung lalu coba ia merenggangkan pahanya. Dengan senang hati, ibu kos menurut, dan Dodo segera berlutut di antara kedua pahanya. Ia membungkuk untuk mencium selangkangan perempuan setengah baya itu.
"Nak Dodo, ibu malu ah..." kata ibu kos sambil berusaha menutupi kemaluannya dengan dua tangan.
"Ayolah, Bu, gak apa-apa," Dodo membujuk. Sementara di sebelahnya, Ceceu terus menonton dengan muka semakin bersemu merah.
Dodo mengendus kemaluan ibu kos dan baunya ternyata sangat tajam. "Uh, bau pesing. Ibu nggak cebok ya?" Dodo berkata dengan agak jijik. Dia juga melihat adanya keju keputih-putihan diantara celah-celah bibir kemaluan ibu kos.
"Hehe... tunggu sebentar," kata ibu kos sambil bangkit dan memakai pakaiannya kembali, lalu pergi keluar
Dodo lekas berpaling kepada Ceceu. “Ini gimana, bener kamu gak apa-apa?”
Sebagai jawaban, Ceceu tersenyum dan menarik tangan Dodo. Sambil menunggu ibu kos kembali, ia meminta Dodo untuk mempermainkan kembali bibir kemaluannya. Dengan jari-jari nakal, Dodo membuka paha Ceceu lebih lebar. Lalu mulai menggosok-gosok kemaluan itu hingga jadi makin memerah.
Ceceu menggeliat-geliat sambil mengerang, "Mas, aduuh... geli... tapi enak..."
Dodo membungkuk untuk mencium kemaluan Ceceu. Baunya tidak setajam milik ibu kos, malah sangat harum. Hanya berbau amis sedikit saja. Dodo menyukainya. Ia mulai membuka celah-celah kemaluan itu dengan menggunakan lidah dan Ceceu ikut membantu dengan merenggangkan pahanya semakin lebar.
Dodo sekarang bisa melihat bagian dalam kemaluan Ceceu dengan sangat jelas. Bagian sampingnya terasa sangat lembut ketika Dodo membuka belahan bibirnya, juga kelihatan bagian dalamnya yang sangat memerah. Terasa agak asin saat dijilat, begitu juga ketika Dodo mempermainkan biji kelentit Ceceu dengan ujung lidahnya.
“Sudah ya?” Dodo kemudian bangkit setelah merasa cukup basah, dan mengarahkan kepala penisnya ke arah belahan bibir kemaluan Ceceu. Tanpa melihat kemana masuknya, mulai ia dorong pelan-pelan.
"Aduh, sakit..." Ceceu hampir menjerit.
"Iya, aku pelan-pelan masuknya." kata Dodo sambil mengelus-elus bukit kemaluan Ceceu. Dicobanya lagi mendorong, dan kali ini tidak gampang meleset.
Ceceu menggigit bibirnya tanda kesakitan. "A-aduh,"
Namun Dodo terus mendorong. Kepala penisnya sudah mulai masuk tetapi rasanya sangat sempit. Begitu ketat.
Tiba-tiba Ceceu mendorong tubuh Dodo mundur sambil berteriak, "Aduuh..!" Rupanya tanpa Dodo sadari, dia sudah mendorong lebih dalam lagi dan Ceceu masih tetap kesakitan.
Dodo tidak hilang akal, dia olesi kepala penisnya dengan ludah dan kemudian menuntunnya pelan-pelan memasuki liang vagina Ceceu kembali. Terasa lebih licin dan bisa masuk sedikit demi sedikit. Ceceu meremas tangannya sambil menggigit bibir, apakah karena menahan sakit atau merasakan enak, Dodo tidak tahu pasti. Dia melihat Ceceu menitikkan air mata, tetapi Dodo meneruskan memasukkan batang penisnya pelan-pelan.
"Cabut dulu," kata Ceceu tiba-tiba.
Dodo menarik penisnya keluar. Ia bisa melihat lobang Ceceu yang kecil dan merah seperti menganga. Ceceu menata napasnya, lalu menuntun penis Dodo lagi untuk memasuki lubangnya. Dodo mendorong lagi dengan hati-hati, sampai semuanya terbenam di dalam.
Aduh nikmatnya, karena lobang Ceceu betul-betul sangat hangat dan ketat, dan Dodo tidak bisa menahannya. Hanya dengan sekali tekan, airmaninya pun tumpah di dalam liang kemaluan Ceceu.
“Lho!” Ceceu tentu saja terkejut. Nampak kesal, kaget, dan tak percaya. namun selanjutnya tersenyum menyadari keadaan Dodo yang sudah benar-benar tak tahan. Dia diam saja menerima tumpahan air mani kekasihnya.
Dodo merebahkan tubuh kurusnya di atas tubuh Ceceu yang montok dan putih mulus. Mereka sama-sama terdiam, sampai ibu kos tiba-tiba masuk mengagetkan.
“Lho, dah bubaran ya?” serunya kecewa melihat air mani Dodo yang berceceran di liang senggama Ceceu.
Dodo berguling ke samping dan tersenyum. “Masih ada ronde kedua kok, itu pun kalau ibu sabar menunggu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar