Kamis, 12 April 2018

Pendekar Tanpa Tanding 19



Matahari sudah lama tenggelam. Sinar bulan malu-malu sembunyi di balik awan. Tampak rumah yang ditempati rombongan Lemah Tulis. Wisang Geni sejak sore semedi memulihkan tenaganya yang banyak terkuras beberapa hari belakangan. Prawesti bersila di depannya. Wajah gadis cantik ini kelihatan gundah, gelisah dan cemberut. Seharian ia cemburu mengetahui hubungan Geni dengan gadis India yang begitu akrab. Apalagi kecantikan Gayatri begitu menonjol. Kemudian tadi malam sampai keesokan sore Geni berduaan bersama Sekar.
"Pasti mereka bercinta," gumamnya. Dia bahkan cemburui Sekar yang dia tahu adalah isteri Wisang Geni.

Semua murid selesai santap malam. Mereka istirahat ngobrol di ruang tengah. Topik paling menarik tentulah pertarungan kemarin siang. Sepak terjang sang ketua yang luar biasa. Mereka takjub dan makin mengagumi Geni. Juga lega karena Lembu Agra dan Lembu Ampai sudah tewas. Dengan demikian dendam berdarah matinya Walang Wulan sudah lunas.
Mereka menebak-nebak ilmu silat yang dimainkan ketua waktu tarung lawan Lembu Ampai. Hebatnya ketua bisa mengelak dari serangan licik dua belas pisau terbang yang diolesi racun ganas. Dan siapa lagi si gadis India cantik yang menolong ketua. Tampaknya ketua punya hubungan intim dengan si gadis. Lalu muncul Sekar, isteri ketua yang sudah satu tahun menghilang.
Dyah Mekar tertawa geli. "Ada empat perempuan yang jadi isteri ketua: Sekar, Gayatri, Prawesti dan tiba-tiba saja Ekadasa muncul mengaku sudah bercinta dengan ketua. Ketua kita tak cuma hebat ilmu silatnya, juga punya jurus penakluk perempuan yang ampuh."
Mereka mengakui Gayatri muda dan sangat cantik. "Kupikir ia cantik tak ada bandingan," komentar Dyah Mekar.
"Menurutku, Sekar lebih cantik," kata Prastawana suami Dyah. Tetapi dalam hati mereka prihatin akan nasib Prawesti. Bukankah Prawesti cukup lama berkorban mencintai ketua. Bahkan keintiman ketua dengan Prawesti sudah seperti suami isteri. Bagaimana teganya sang ketua melupakan jasa baik Prawesti.
Prawesti sedang gundah. Sebagai wanita, perasaannya mengatakan ketuanya sudah jatuh cinta pada Gayatri. Tampaknya Gayatri juga mencintai ketua, bahkan terang-terangan memperlihatkan perhatian dan cintanya pada ketua. Prawesti dibakar cemburu. Ia memandang lelaki yang dicintainya itu.
"Tahukah dia aku sangat mencintainya? Kenapa dia lebih mencintai Gayatri? Apakah ia akan melupakan aku begitu saja? Apa yang harus kuperbuat? Aku bingung."
Selesai semedi, Wisang Geni berkata pada Prawesti. "Aku harus pergi menemui Gayatri." Ia melangkah ke jendela.
Prawesti berdiri, sambil berkata lirih dan agak sendu. "Ketua, aku mohon jangan tinggalkan aku, biarkan aku tetap melayanimu. Kau sudah berjanji padaku."
Laki-laki itu memandang Prawesti. Ia menghampiri, memeluknya lembut. "Tidak, aku tak akan meninggalkan kamu. Aku tak akan melupakan kamu,Westi."
Lelaki itu melompat lewat jendela dan menghilang di kegelapan malam. Prawesti menatap keluar jendela. Di luar gelap gulita, segelap hatinya yang gundah. Prawesti berbaring, mendadak ia bangkit, melompati jendela. Ia nekad membuntuti Geni.
"Aku akan ngintip dari jauh, aku tak percaya gadis India itu, mungkin dia memasang perangkap."
Begitu Geni menginjak kaki di beranda rumah, tiba-tiba serangan bor maut mengancamnya. "Tahan seranganmu, ini aku." Geni berteriak.
Urmila dan Shamita keluar dari ruangan dalam. "Oh maaf, kami hanya berjaga-jaga. Silahkan masuk, putri menunggumu di dalam."
Geni masuk. Ia melihat Gayatri duduk. Gadis itu tersenyum, ia senang melihat Geni. Di hadapannya sebuah meja dan sebuah kursi kosong. Di atas meja tersaji hidangan. "Kamu datang terlambat, tetapi tak apa, duduklah. Mari kita makan."
Keduanya duduk berhadapan. Malam itu Gayatri tampak cantik luar biasa. Penerangan obor damar yang remang-remang makin mempertegas kecantikannya. Ia mengenakan celana hitam dengan baju lengan pendek warna hitam, kontras dengan kulit tubuhnya yang putih. Rambutnya dikonde memperlihatkan lehernya yang jenjang dan putih bersih.
Geni tak sadar memuji. "Kamu cantik sekali."
Gayatri tersenyum. "Terimakasih atas pujianmu. Dan kamu laki-laki tampan paling licik dan paling kurang ajar yang pernah kutemui dalam hidupku. Bagaimana, kamu bercinta semalaman bersama Sekar, sudah puas?"
Wisang Geni tertawa, mengalihkan pembicaraan. "Gayatri, makanan ini baunya harum, tetapi tampak asing bagiku, makanan apa dan siapa yang masak?"
"Aku yang masak, itu resep India, rasanya enak, kamu pasti suka, cobalah. Makan yang kenyang supaya kalau kamu kalah tarung, kamu tidak punya alasan lapar atau belum makan."
"Memangnya aku mau diadu tarung lawan siapa?"
Gayatri tersenyum. "Kita tarung. Kamu berbuat banyak kesalahan padaku. Kau harus bertanggung jawab. Sekarang makanlah, tak usah khawatir, makanan itu tidak ada campuran racun."
Geni melahap ayam panggang yang dimasak dengan bumbu khas India. "Lezat, ternyata tidak cuma cantik, kamu juga pandai masak. Kamu belum mengatakan apa saja kesalahanku?"
Gadis itu menatap Geni. Matanya berkaca-kaca. "Aku sungguh mencintaimu. Aku sampai lupa daratan, memberikan tubuhku yang masih perawan dan yang belum pernah disentuh lelaki. Kamu tahu Geni, jika orangtuaku tahu aku sudah tidak perawan lagi, hukumannya mati." Airmata mengalir di pipinya. "Tetapi kamu mempermainkan aku!"
"Tidak, Gayatri. Aku tidak mempermainkan kamu, aku mencintaimu dengan sungguh-sungguh." Suara Geni meski lirih namun mengandung ketegasan.
Gadis itu menggeleng kepalanya. "Jelas kamu mempermainkan aku. Kamu sudah tahu aku sedang mencari Wisang Geni untuk tarung dan membalas dendam. Tetapi kamu memberi nama palsu, Ambara. Kamu meniduriku, kamu pura-pura mencintaiku. Jika saat itu kamu mengaku Wisang Geni, aku pasti tak sampai terjebak dan kehilangan perawan. Kamu tega berbuat seperti itu, mengapa kamu lakukan padaku, Geni? Sekarang ini apa yang harus aku lakukan?"
"Kamu tak perlu risau. Sekarang ini kamu sudah menjadi isteriku."
Gayatri menggerakkan kepala, membuat rambut yang di kondenya terlepas, terurai di bahu. Ia senyum dan bergaya, memperlihatkan semua pesona kecantikan yang dimilikinya. "Aku sudah menjadi isterimu? Tidak bisa begitu saja. Di Himalaya, untuk menjadi suami isteri harus lewat upacara perkawinan. Lagipula siapa pun lelaki yang menjadi suamiku, dia harus bisa mengalahkan aku dalam suatu tarung ilmu silat."
Wisang Geni menggenggam tangan si gadis. "Lupakan tarung itu, bicara tentang kawin. Kita kawin dengan upacara, apa sulitnya? Tetapi yang penting, kamu kan sudah menjadi isteriku. Dan aku tidak main-main, aku sungguh-sungguh mencintaimu."
"Aku isterirnu. Sekar juga isterimu. Geni, bagaimana aku dibanding Sekar, siapa lebih cantik, siapa lebih panas dalam bercinta, Sekar atau aku?"
Geni menggeleng, ia menatap Gayatri. "Sekar itu cantik Jawa, kamu juga tak kalah cantiknya, kamu cantik Himalaya. Dalam bercinta, dia lebih panas, tetapi kamu lebih lembut. Kalian berdua membuat aku tergila-gila."
"Kamu jujur, meskipun masih saja licik. Kamu pintar bicara, pintar merayu." Gayatri tersenyum. Ia tahu Sekar lebih cantik dan lebih molek tubuhnya namun ia puas bahwa Geni tetap terpikat akan kecantikannya. "Malam ini aku akan membuat dia tak bisa melupakan aku," katanya dalam hati.
Ia mengerahkan segenap pesona diri yang dimilikinya lewat mimik wajah dan gerak tubuh. Dan memang Geni terpesona memandang kecantikan di hadapannya. Kecantikan yang nyaris sempurna. Geni merasa getaran cinta dan kehangatan memancar dari sepasang mata coklat Gayatri yang indah. Semakin Gayatri mencintainya semakin ia kasmaran akan gadis itu.
Geni menghela nafas. Sejak pertemuan pertama, Geni tak pernah tidak memikirkan gadis ini. Dia bercinta dengan Ekadasa tetapi pikirannya mencari-cari wajah Gayatri. Bercinta dengan Gayatri, satu malam di desa Gondang dan satu malam dalam perjalanan, adalah petualangan sangat berkesan. Malam menjelang berangkat ke Argowayang, ia meniduri Prawesti lantaran rindu asmara kepada Gayatri.
Tetapi kemarin waktu bercinta dengan Sekar, pelepas rindu enam belas purnama, ia tahu bahwa Sekar lebih penting dari segala apa di muka bumi, juga lebih penting dari Gayatri. Namun ia tetap terangsang akan pesona Gayatri.
Geni menjawab jujur, "Gayatri, aku tergila-gila padamu. Sekarang ini aku tidak peduli, meskipun harus menyeberangi lautan api asal memperoleh cintamu, aku mau. Aku ingin memiliki kamu, ingin kamu selalu ada di sisiku. Aku mencintai kamu sejak pertama kali bertemu di hutan itu."
Sepasang mata Gayatri berbinar, memancarkan sinar kebahagiaan. "Kamu sudah meniduri aku, kamu tahu betapa aku mencintaimu, cinta sepenuh hati sehingga aku mau saja memberikan perawan dan kehormatanku. Saat itu aku tahu kamu lelaki bernama Ambara, jika saat itu aku tahu kamu adalah Wisang Geni, aku tetap akan memberimu cinta dan perawanku. Aku mencintai kamu karena dirimu, dan itu tak akan luntur dan berubah walau kamu bernama Wisang Geni, pendekar yang harus kuajak tarung."
Geni memegang tangan Gayatri, mengecup tangannya.
Gayatri tersenyum memperlihatkan gerak mulut yang indah, ia berpindah duduk di samping Geni. "Aku tahu kau dicintai banyak perempuan dan kamu mengobral cintamu kepada siapa saja perempuan yang membuat birahimu terangsang. Mungkin saja kamu hanya tergoda dan bernafsu meniduri aku dan pura-pura mencintai aku."
Ketika dia hendak memotong pembicaraan, jari tangan si gadis menutup mulurnya. "Aku belum selesai, kekasih. Kamu licik dan suka mempermainkan wanita. Waktu kamu menciumku di hutan, aku yakin kamu sedang pasang perangkap, setelah mendapatkan manis tubuhku, kau akan pergi."
Geni selesai makan. "Kamu benar, Gayatri, semua laki-laki normal akan bernafsu melihat kecantikanmu. Aku juga bernafsu. Jika cuma ingin tubuhmu waktu itu, aku bisa memerkosamu. Tetapi aku belum pernah dan tak akan pernah melakukan pemerkosaan. Ada sesuatu daya tarik dalam kecantikanmuyang membuat aku ingin mengenalmu dan memiliki kamu"
"Kamu dengar, Geni. Waktu itu ketika kau menciumku, tanganmu mengelus punggung dan meremas bokongku, aku marah, sangat marah. Tetapi aku tak berdaya, aku tak punya tenaga. Belakangan aku berpikir, bahwa bukan itu alasan aku tidak berontak, yang benar adalah aku tak mau berontak, dengan kata lain aku menyukai kenakalanmu. Sebenarnya saat itu kamu telah menaklukkan aku."
Mereka duduk bersanding. Geni melingkarkan tangan di punggung kekasihnya. Gayatri tersenyum. Ia sudah memutuskan akan tarung keras dan mengalahkan Geni. Membuat lelaki itu menjadi tawanan. Lalu ia akan memaksa Geni mengabulkan semua permintaannya. Ia membiarkan tangan Geni menggerayangi buah dadanya. Geli. Dia meneruskan kisahnya.
"Waktu di hutan itu setelah kamu pergi, aku menyesal mengapa tidak ikut denganmu. Aku berpikir mungkin aku sudah gila, tetapi nyatanya tidak. Aku sadar bahwa aku dilahirkan untuk kemenanganmu, dan bahwa kamu adalah pelindungku, kamu harus menjadi suamiku. Tetapi waktu itu kenapa kamu menciumku dan tanganmu begitu nakal?"
"Aku tak tahu, mendadak saja aku menyukaimu, aku merasa ingin memilikimu, sehingga timbul akal nakal itu, lalu aku lakukan begitu saja, tanpa berniat buruk. Aku memang terpesona melihat wajah dan buah dadamu. Pemandangan itu melekat terus, bahkan sampai malam aku meniduri Ekadasa, aku membayangkan dirimu."
"Kamu gila!"
"Ya gila, tergila-gila padamu!"
"Setelah kamu mendapat perawanku malam itu, apa pikirmu?"
"Aku makin kasmaran seperti ketagihan, aku tidak mau melepas kamu pergi, aku ingin kamu selamanya berada di sisiku."
"Waktu itu kau belum mengaku bahwa kamu adalah Wisang Geni, mengapa?"
"Aku khawatir menjadi masalah di antara kita. Tetapi aku tahu pada saatnya nanti aku tak bisa mengelak, hanya aku berharap kamu tidak akan berubah. Makanya aku senang kamu tidak berubah!"
"Kamu yakin aku jujur padamu? Kau yakin makanan yang kau telan tadi tak ada racunnya? Kau yakin aku tak membunuhmu atau berencana membalas dendam kakek Lahagawe?" Gayatri menatap lekat-lekat mata lelaki itu.
Geni menggeleng, "Aku yakin kamu mencintaiku. Aku tahu itu waktu bercinta denganmu. Kalau aku salah menilai dirimu, aku tidak menyesal mati di tanganmu.*'
Perempuan itu menghela napas. "Sekarang, kau yakin bahwa aku mencintaimu, amat mencintaimu?" Ia merapatkan tubuhnya ke tubuh Geni. Tangannya melingkar di leher Geni.
Keduanya berciuman. Lama dan panjang. Birahi kelaki-lakiannya bergelora. "Gayatri, aku terangsang."
"Hati-hati, permainan cinta ini bagian dari rencana dan siasat tarung, jika kamu terangsang, kamu bisa kalah."
"Aku tak peduli dengan tarung itu, aku pasti akan kalah."
"Kamu tidak boleh kalah, jika kalah kamu tak akan mendapatkan aku sebagai isteri, aku akan pulang dan mati di India. Tetapi kalau kamu menang, aku akan tetap mendampingimu sebagai isteri dan tiap hari memberimu nikmat kesenangan!"
"Kalau begitu aturan mainnya, aku pasti mengalahkan kamu! Tetapi katakan, mengapa ada aturan gila macam ini?"
"Urusanku dengan ayah, aku pernah bersumpah bahwa hanya lelaki yang mengalahkan ilmu silatku yang akan menjadi suamiku. Dan aku tak mau melanggar sumpah. Itu sebab, kamu harus menang. Kalau kamu kalah meskipun kamu sudah bercinta dan mengambil perawanku tetapi kamu tak boleh jadi suamiku, kita hanya sebagai kekasih saja."
Saat itu di kegelapan malam, di balik pepohonan seberang rumah, Prawesti mengintip dari jauh. Ia bisa memandang lewat jendela. Ia melihat Wisang Geni dan Gayatri bercakap-cakap, pelukan dan ciuman. Prawesti membuang nafas, gundah dibakar cemburu. Tiba-tiba terasa getar angin dan suara ranting patah, ia terkejut ketika seorang wanita muncul di dekatnya. Dia Ekadasa.
Pengawal keraton Tumapel ini memberi isyarat jari telunjuk di mulut. Prawesti mengerti. Kedua wanita ini tanpa sadar langsung berteman, merasa senasib. Sama-sama menyukai Wisang Geni, tetapi sekarang merasa ditinggalkan lelaki itu, keduanya gundah dan cemburu. Keduanya mengintai dari jauh, tak berani terlalu dekat karena tak mau ketahuan.
Di ruangan itu, Urmila dan Shamita sibuk mengerjakan sesuatu. Tampak seperti alat musik. Urmila membenahi gendang, Shamita mempersiapkan seruling. Dua gadis ini mengambil tempat duduk bersandar ke dinding rumah.
"Putri, kami sudah siap," kata Shamita sambil menarik napas. Tampak wajah dua gadis pembantu itu tegang dan serius.
Geni dan Gayatri masih berpelukan. Geni melumat mulut kekasihnya. Tangan Gayatri mengelus dada dengan sentuhan lembut. Geni merasa birahinya tak terbendung lagi. Ia sangat terangsang. Nafasnya terasa panas.
Gayatri tersenyum dalam hati. "Kamu akan kalah dan menjadi tawananku. Aku akan membawa kamu ke Himalaya. Pasti ayah akan senang. Wisang Geni, murid Suryajagad, menjadi tawanan dan suami Gayatri."
Ia melepaskan diri dari pelukan Geni. Ia memandang dengan penuh arti dan makna cinta. "Geni, kamu harus bisa mengalahkan aku untuk kebahagiaan kita berdua, dan aku akan menghadapimu dengan ilmu silat andalan perguruanku, jangan pandang enteng. Bersiaplah, pertarungan dimulai," sambil berkata Gayatri melangkah ke tengah ruangan. Berbarengan bunyi suling dan gendang mengumandang dalam irama yang asing bagi pendengaran Geni.
Lelaki ini heran, namun sebelum dia beranjak dari duduk, Gayatri telah menari mengikuti irama yang dimainkan dua pembantunya.
"Jurus ini namanya Dinak Din Naachu Mein Gae Dil Jumne Zamana, artinya aku menari, hati menyanyi dan dunia bergembira. Wisang Geni, kamu harus hati-hati, jurus ini hebat, coba nikmati irama dan tarianku ini."
Gayatri mengerahkan tenaga batin kemudian menari dengan gemulai. Namun di dalam kelemasan gerak ada selingan hentakan gerak pinggul, dada dan pundak. Dua kaki bergerak lincah, tangan dan kepala seperti ular yang bergerak kian kemari mengikuti gerak mangsa. Meski sempat terpesona, Geni cepat-cepat mengerahkan tenaga batin membentengi diri.
Pesona itu semakin merasuk pikiran Geni. Gadis itu sangat cantik, seperti dewi yang diceritakan dalam dongeng. Tak pernah terpikir adanya makhluk cantik secantik Gayatri. Tubuhnya indah molek. Membayang kembali kenikmatan malam itu ketika bercinta dengan perempuan cantik itu. Gerak tari makin lama makin memabukkan.
Waktu terus berjalan. Geni tenggelam dalam pesona kecantikan dan keindahan. Ia berusaha bertahan, memusatkan pikiran pada tenaga batin. Ia masih di kursi. Ia memejamkan mata, tak mau lagi menyaksikan goyang tubuh Gayatri. Tetapi musik terus menerobos pendengaran yang otomatis memantulkan visual tarian yang penuh pesona dalam benaknya. Ia mulai mabuk, pikiran kalut, rangsangan birahi mulai menguasai dirinya.
Tepuk gendang dan nada suling makin tinggi, mengikuti gerak tari Gayatri yang makin agresif. Tenaga batin tiga gadis ini makin diumbar begitu melihat Geni mulai gelisah. Sesaat lagi Geni akan roboh. Saat itu Geni merasa dorongan birahi untuk menghampiri, memeluk dan mencium si gadis. Antara sadar dan tidak, ia bangkit dari kursi. Saat melangkah, ia terhuyung dan roboh ke tanah. Saat itu, ketika kepala terantuk di tanah, pikirannya tergugah bahwa ada sesuatu yang tidak beres.
Ia belum pernah mendengar ada ilmu silat mirip sihir seperti yang diperagakan tiga gadis India. Musik dan tari itu dimainkan dengan tenaga dalam. Makin tinggi tenaga batin yang dikerahkan semakin hebat pengaruh terhadap lawan. Irama pun berganti-ganti, meriah dan penuh pesona, kelembutan cinta diseling ratapan hati merana atau kemarahan yang memuncak.
Irama musik dan goyang tari makin lama semakin mengaduk-aduk pikiran dan batin si musuh. Pada klimaksnya, musuh itu akan mengalami keguncangan jiwa Ia bisa menangis, tertawa, marah, bergantian sampai akhirnya ia tak bisa lagi membedakan apa-apa. Ia gila atau tewas. Tetapi jurus ini juga bisa berakibat fatal bagi diri sendiri, khususnya si penari.
Tadi waktu berembuk menggelar jurus ini, dua pembantunya menolak keras, mereka khawatir Gayatri terluka mengingat Wisang Geni memiliki tenaga batin mumpuni. Adu tenaga lewat jurus silat ini sangat berbahaya bagi si penari maupun orang yang diserang. Namun Gayatri tetap saja ngotot. Urmila dan Shamita tahu majikannya punya alasan yang tampaknya rahasia dan sangat pribadi. Merasa tak mungkin membantah, dua gadis ini bertekad membantu Gayatri dan mengerahkan segenap tenaga batin memainkan alat musiknya.
Keduanya tak tahu bahwa Gayatri menetapkan keputusan itu karena dalam keadaan bimbang. Ia bingung memilih antara cintanya pada Geni atau membalas dendam. Pada akhirnya ia tak peduli lagi apa pun yang bakal terjadi. Gayatri menari dengan penuh perasaan. Ia memang mencintai Geni dan perasaannya mengatakan Geni juga mencintainya. Tetapi ia tahu di antara cinta itu ada kemustahilan yang tak mungkin bisa ditembus.
Gayatri menangis dalam hati ketika Geni mengutarakan cinta. Namun ia sembunyikan perasaannya dari pandangan Geni. Perasaan inilah yang ia tumpahkan dalam tarian maut itu. Akibatnya fatal. Gayatri makin larut dibuai perasaan sendiri.
Pada sisi lain Urmila dan Shamita bingung. Tadi mereka sepakat Gayatri hanya memberi pelajaran dan mempermalukan Geni. Lantas tarian dan musik segera dihentikan jika Geni sudah roboh. Sebab jika dilanjutkan, Geni bisa gila atau tewas.
Untuk bisa menghentikan jurus, kendali ada pada Gayatri sebagai penari. Sementara Urmila dan Shamita hanya bertugas pengiring. Sesuai rencana, setelah Geni roboh di lantai, seharusnya Gayatri menurunkan tempo tahap demi tahap sampai akhirnya menghentikan tari. Tetapi kenyataannya justru sebaliknya, membuat Urmila dan Shamita bingung.
Wisang Geni sudah roboh tetapi Gayatri malah semakin meningkatkan tempo tarian, gadis itu seperti kesurupan. Celakanya lagi, Urmila dan Shamita tidak mungkin bisa menghentikan. Sebab begitu musik berhenti sementara Gayatri masih menari, akibatnya bisa membahayakan. Ketiganya terutama Gayatri akan luka parah, bisa-bisa tewas atau gila.
Memang ada yang tak pernah diketahui Gayatri bahkan si pencipta jurus silat ini pun tidak tahu. Bahwa jika si penari mencintai orang yang diserang, maka si penari akan dikuasai dan dimabuk perasaan sendiri. Makin besar tenaga dikerahkan makin dia terbuai rasa cinta, dan akibatnya bisa fatal. Sekali ia hanyut oleh perasaannya, tak ada lagi jalan berhenti. Bahkan seandainya orang yang diserang sudah mati pun, si penari tak pernah tahu dan tak bisa berhenti. Pada akhirnya si penari pun menjadi korban, gila atau mati.
Gayatri dalam bahaya. Geni dalam bahaya. Urmila dan Shamita tidak tahu apa yang terjadi, mereka tak bisa menghentikan musik. Mereka tahu jurus itu hanya bisa dihentikan oleh si penari. Namun jika pengiring musik menghentikan musik, akan terjadi bencana, ketiganya luka parah, tenaga membalik menghantam diri sendiri.
Geni di ambang maut. Waktu ia roboh, kepalanya terantuk lantai. Goncangan itu menjernihkan pikirannya. Ia melihat kilatan cahaya, dalam gelap. Di benaknya ia masih melihat Gayatri meliuk dengan hentakan pinggul dan goyangan dada yang mempesona. Geni berada di batas sadar dan tidak. Tapi kilatan cahaya itu seperti peringatan ada yang tidak beres.
Serta merta Geni menggoyang kepala, berulang dan keras. Seketika tenaga Wiwaba bangkit. Geni sadar. Berbareng saat kritis itu Ekadasa dan Prawesti menjerit.
Ekadasa berteriak, "Geni!"
Prawesti berseru, "Ketua!"
Sambil berteriak, kedua wanita ini melompat keluar dari persembunyian menyerbu masuk rumah lewat jendela. Dua wanita itu yang sedang dirasuk cemburu dan marah, punya alasan menyerang Gayatri. Keduanya menyerang dengan tamparan keras.
Jurus tari itu diciptakan untuk tarung langsung. Tiga gadis itu biasanya tarung sambil menari dan menyanyi. Seharusnya Gayatri sanggup mengelak dan memukul balik membuat penyerangnya luka parah. Tetapi saat itu ia dalam keadaan tidak sadar meski masih menari mengikuti irama musik.
Urmila dan Shamita terkejut mendengar teriakan dua pendekar wanita itu. Keduanya melihat Gayatri masih seperti orang mabuk. Mereka tetap tidak berani menghentikan musik, hanya mampu berseru memperingatkan, "Putri, awas!"
Wisang Geni mendengar teriakan Prawesti dan Ekadasa, juga peringatan Urmila. Ia melihat Gayatri seperti orang mabuk, mata tertutup, menarinya kacau. Pengaruh magis jurus masih melilit pikiran Geni, namun sudah banyak berkurang. Ia melihat Gayatri diserang Prawesti dan Ekadasa.
Tanpa sadar dia berseru, "Jangan serang dia!"
Geni melompat, ingin menolong Gayatri namun terlambat beberapa langkah. Serangan itu menerpa telak pundak dan dada Gayatri. Gayatri terlempar, saat mana Geni tiba di sisinya, menghalau serangan susulan. Ia meraih tubuh Gayatri sebelum menyentuh lantai.
Gayatri muntah darah. Ia pingsan. Geni memandang tak percaya apa yang sudah terjadi. Prawesti dan Ekadasa terkejut melihat mata Geni merah dan berair. "Kenapa kalian berlaku kejam terhadapnya, apakah dia pernah berbuat salah pada kalian?"
Kedua perempuan itu tak mampu menjawab. Tak mengira, hanya dengan sekali pukul Gayatri langsung kena dan roboh. Mengapa gadis itu tidak menangkis atau menghindar, bukankah ia memiliki ilmu silat tangguh. Keduanya tidak tahu saat itu Gayatri dalam keadaan tidak sadar. Hanya lantaran tubuhnya masih dibentengi tenaga batin yang tinggi maka Gayatri tidak sampai tewas. Namun tetap saja dia luka parah.
Urmila dan Shamita terkejut melihat majikannya kena pukul dan roboh muntah darah. Mereka luput dari bahaya terluka sebab tarian Gayatri berhenti seketika, dihentikan serangan Ekadasa dan Prawesti. Melihat majikannya terluka muntah darah, dua pembantu itu meradang menyerbu Ekadasa dan Prawesti. Urmila menyerang Prawesti, Shamita menggempur Ekadasa. Sekejap saja, dua gadis India itu unggul dan mendesak hebat lawannya.
Geni berteriak, "Urmila berhenti, lebih penting sekarang menolong Gayatri."
Siapa pun tak pernah tahu, Geni pun tak pernah tahu, bahwa dua pukulan itu telah menyelamatkan Gayatri dari ajal atau kegilaan. Hantaman itu tanpa sengaja telah membetot Gayatri keluar dari perangkap pengaruh tarian itu. Hantaman di pundak dan dada tak terlalu parah. Meski dalam keadaan tidak sadar, tetapi Gayatri masih menari dengan pengerahan tenaga batin tinggi. Itu sebab ia tidak sampai tewas meski tak terhindari luka parah.
Geni memeluk Gayatri dengan berbagai macam perasaan. Marah terhadap Prawesti dan Ekadasa. Ia takut Gayatri mengalami nasib sama dengan Walang Wulan. Ia memeriksa nadi gadis itu. Kacau, tak beraturan. Darah segar masih merembes dari ujung mulutnya, meski sudah tidak banyak lagi. Mata Gayatri meram.
Suara Geni panik, "Gayatri, bangun, jangan mati. Ayo bangun." Ia memeluk tubuh gadis itu, lebih erat, wajahnya sangat dekat dengan wajah cantik itu. Ia meneliti. Gayatri meram.
Geni makin panik, tangannya menempel punggung Gayatri lalu mengerahkan tenaga dalam. Tenaga dingin menerobos punggung dan merambah ke seluruh tubuh Gayatri. Saat itu Gayatri sudah sadar. Tapi dia masih meram, pura-pura pingsan. Ia ingin tahu reaksi Wisang Geni. Ia tahu Geni panik dan berusaha menolong dengan pengerahan tenaga dalam. Ia ingin tahu lebih banyak lagi.
Geni makin panik ketika bantuan tenaga dalamnya tidak mampu menyadarkan Gayatri. "Bangun, kamu harus bangun, Gayatri. Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku."
Wisang Geni berpikir cepat. Tak ada jalan lebih cepat dan tepat dalam upaya menyadarkan Gayatri melainkan dengan pernafasan lewat mulut. Tanpa rasa kikuk, Geni mencium mulut Gayatri. Mulut itu terkatup erat, perlahan-lahan terbuka. Ia kaget begitu hendak menyalurkan nafas dan tenaga batin lewat mulut, Gayatri membuka mata, mengedip. Ia bahkan bereaksi membalas ciuman.
Keduanya berciuman. Empat perempuan itu menyaksikan dengan aneka macam perasaan. Ekadasa kabur, ia marah dan cemburu. Prawesti kabur dengan tangisan. Urmila dan Shamita lega, mereka sempat melihat majikannya main mata.
"Tuan Putri, kamu pasti tidak apa-apa. Kita berdua keluar, menunggu di beranda saja," kata Shamita dalam bahasa India.
Setelah ciuman panjang itu. Geni masih memeluk erat tubuh Gayatri. "Aku mencintaimu, bagaimana lukamu?"
Gadis cantik itu menggeleng kepalanya. "Dadaku sakit, rasanya ngilu. Coba kau panggil Shamita."
Kedua pembantu itu muncul. Gayatri meminta Shamita merogoh pil dari dalam kantong yang disimpan di dadanya. Ia mengambil dua buah. Ia tertawa, lirih. "Ini pil buatan ayah, manjur untuk luka dalam. Jika dibantu dengan tenaga dalam, aku rasa akan cepat sembuh, mungkin sekitar tujuh hari."
Geni menyahut cepat, "Aku akan membantumu."
Gayatri tertawa menggoda. Ia masih lemah namun tetap ceria. "Apakah harus lewat pernafasan mulut lagi?"
Geni mengelus hidung bangir si gadis. "Ya, sulit, memang sulit, jadi harus lewat pernafasan mulut."
Keduanya tertawa. Tiba-tiba wajah Gayatri berubah serius. "Siapa dua perempuan itu, mengapa mereka mau membunuhku?" Ia memang tidak melihat dan tak tahu siapa yang memukulnya.
Geni menatap Gayatri, mencium dua mata coklatnya yang indah. "Mereka Prawesti dan Ekadasa. Mungkin mereka mengira kau akan mencelakakan aku."
Suaranya lirih, "Mengapa kau membela mereka?"
Geni bingung. "Aku tidak membela, malahan aku tadi marah! Itu sebab mereka kabur."
Gayatri merangkul leher Geni, mencium mulutnya. "Mereka kabur karena melihat kamu mencium aku dengan bernafsu." Ia tertawa geli. Dalam benaknya dia menertawakan dua perempuan saingannya itu.
"Gayatri, kamu perlu istirahat. Kubantu dengan tenaga dalam."
Gayatri mencium leher Geni. "Pengobatan bisa ditunda, aku sudah telan pil salju jadi aku tak akan mati. Geni, tadi kau panik, kau khawatir aku mati, iya?"
"Memang aku panik karena takut kehilangan kamu, sekarang ini kamu orang paling penting bagiku. Waktu menari tadi kulihat kau seperti kesurupan, kau bisa luka parah. Lain kali jangan mainkan jurus maut itu."
Gayatri tertawa cekikikan. "Kamu menang. Sesuai sumpahku, kamu pantas jadi suamiku."
"Sebenarnya aku tak perlu tahu siapa dirimu, karena cintaku tidak terpengaruh pada masa lalu atau siapa keluargamu. Aku mencintai kamu sebagaimana adanya dirimu. Tetapi Gayatri, aku ingin tahu lebih banyak tentang diri perempuan yang kucinta dan yang akan menjadi ibu dari anak-anakku."
"Usiaku dua puluh tahun, belum kawin, belum pernah disentuh lelaki, hanya kamu satu-satunya lelaki yang pernah menyentuh, mencium dan meniduriku, kamu memang licik," katanya lirih. Mendadak wajah gadis itu menjadi sendu dan muram. "Ceritanya panjang, aku sudah dijodohkan, tetapi aku tidak suka, itu sebab aku kabur ke negeri ini. Ibu merestui kepergianku, ayahku tidak tahu. Aku benci lelaki itu, aku sungguh tidak suka." Gayatri mendadak memegang dadanya. "Sakit sekali, Geni."
Geni terkejut, berteriak memanggil Urmila "Kalian berjaga-jaga, jangan biarkan orang lain masuk mengganggu. Aku akan menolong majikanmu dengan pengobatan tenaga dalam."
Urmila memandang majikannya yang mengangguk setuju. Geni menggendong Gayatri ke bilik dalam. Kamar itu sempit, hanya ada sebuah dipan kecil. Ia mendudukkan Gayatri, kemudian ia duduk di belakangnya. Dua tangannya menyusup di balik baju Gayatri mengurut punggungnya Samar ia melihat kulit punggung putih halus. Ia melirik bagian pinggul. Pinggul Gayatri padat, dihiasi bulu-bulu hitam yang halus.
Gayatri berbisik lirih, "Geni, jangan berpikiran macam-macam, sembuhkan aku dulu baru bercinta."
Geni menguasai birahinya. "Aku ikut perintahmu, tuan putri." Ia memusatkan pikiran. Saat berikut tenaga dingin bagai air bah merasuk ke tubuh Gayatri, bergerak teratur ke seluruh bagian tubuh. Gadis itu merasa sejuk, makin lama makin dingin sampai akhirnya ia menggigil.
Mendadak tenaga dingin itu lenyap berganti hangat, makin lama makin panas. Keringat mengalir di sekujur tubuh Gayatri. Bau harum tubuhnya merasuk penciuman Geni namun lelaki ini tetap memusatkan tenaganya. Pengerahan tenaga batin dingin dan panas bergantian merupakan obat mujarab. Gayatri kagum akan tenaga dalam sedahsyat itu, dingin dan panas bisa diubah sesuka hati. Sepanjang malam Geni mengobati Gayatri.
Saat menjelang pagi, Gayatri merasa banyak lebih baik. "Geni, cukup sekian dulu, aku sudah baikan, kamu perlu istirahat."
Geni melepas tangannya dari punggung Gayatri. Keduanya bersila. Geni mengatur kembali tenaga dalamnya. Gayatri memeriksa tenaganya. Ia gembira sudah bisa mengerahkan tenaga dalam meski belum pulih sepenuhnya. Gayatri membalik tubuh. Ia melihat Geni sedang bersila. Keringat membasahi wajah Geni dan seluruh tubuhnya, menebar aroma kelaki-lakian. Gayatri mencium bebauan asing, tetapi yang merangsang birahi.
Ia pernah mencium bau tubuh Geni sewaktu bercinta. Sekarang ia membaui lagi. Tanpa sadar ia menatap lelaki itu dengan penuh rasa cinta, ia mengeluh dalam hati. "Ooh betapa aku mencintai lelaki ini, tetapi sungguh suatu kemustahilan. Oh Dewa, tolong aku, beri aku petunjuk dan jalan keluar."
Ia melangkah turun dari dipan, bermaksud menuju beranda hendak memanggil dua pembantunya. Langkahnya terhenti, tubuhnya tertarik oleh tangan kuat Geni. Ia jatuh dalam pelukan kekasihnya. Geni merangkul dan membelai wajah kekasihnya.
"Gayatri, aku tak akan mempermainkan kamu, matilah aku jika aku punya maksud buruk itu. Aku sangat mencintaimu."
Dua pasang mata saling tatap. Mata Gayatri basah. "Wisang Geni, aku juga mencintaimu, tetapi semua ini mustahil, umurku hanya tinggal tiga purnama lagi. Aku disuratkan mati, tiga bulan lagi, tak ada yang bisa mencegah." Gayatri menatap mata Geni.
Lelaki ini terkejut tetapi hanya sesaat. "Aku tak peduli, aku mencintaimu, kamu juga mencintaiku, itu sudah cukup. Jika umurmu hanya tiga purnama lagi, biarlah tiga purnama ini menjadi bagian paling indah dalam hidup kita."
Gayatri mengangguk. Geni tak kuasa menahan diri, menciumi wajah dan mulut Gayatri. Keduanya berciuman lama, ciuman yang penuh arti cinta. Geni memeluk kekasihnya. Keduanya dirangsang birahi saling menginginkan. Terengah-engah Gayatri merangkul erat kekasihnya.
"Kekasihku, cintailah aku. Aku seorang yang haus akan cinta, beri aku kepuasan cinta, Geni."
Geni menciumi rambut kekasihnya. "Bagaimana dengan lukamu?"
"Aku tidak apa-apa, sebagian tenagaku sudah pulih." Ia memegang tangan Geni, menuntun ke perut. Geni mengelus-elus perut kekasihnya. Gayatri berbisik. "Aku tak ingin mati muda, aku ingin hidup lama, aku ingin perut ini berisi anakmu, aku ingin melahirkan anakmu. Geni, cintailah aku."
"Kamu tak akan mati, aku tak akan membiarkan kamu mati. Sebenarnya apa yang menjadi beban deritamu, apa penyakitmu atau mungkin ada musuh yang mengancam kamu?"
"Tidak. Aku sehat, tak punya penyakit, aku juga tak punya musuh yang mengancam jiwaku. Tetapi kematian memang hampir pasti akan menjemputku tiga bulan lagi, bahkan mungkin saja sebelum tiga purnama!"
"Apa sebenarnya yang terjadi? Ceritakan padaku, Gayatri! Mumpung masih punya waktu tiga bulan, aku akan cari jalan menyelamatkan isteri yang kucinta."
Gayatri berbisik, "Geni, urusan itu ditunda dulu. Aku mau kamu membahagiakan aku, aku mau kaucintai sekarang ini, aku tak mau yang lain."
Ia merangkulkan kakinya ke tubuh Geni, mencium mulut kekasihnya. Geni mengibas, angin dingin meniup lampu damar. Kamar gelap gulita. Hanya terdengar nafas dua insan yang kasmaran dan dilanda birahi.
Gayatri memiliki rambut lurus panjang. Bibir Geni masih menggelamuti bibirnya. Dihisap bibir bawah, dan Gayatri balas menjilat bibir atas. Lidah mereka bertemu dan saling menjilat satu sama lain.
"Ohh... Geni... hhhmmmhh..." rintihan Gayatri sudah dipacu oleh birahi.
Bajunya pun satu demi satu terlepas. Mereka tak berbusana dan tetap saling memagut. Geni dan Gayatri ambruk di ranjang. Geni menyelipkan tangan ke punggung Gayatri, tubuhnya menindih badan gadis itu. Saat bibir mereka terpisah, Geni menatap wajah cantik Gayatri. Gadis itu merangkulnya.
"Geni... entah kenapa, perasaanku sekarang sangat bahagia," kata Gayatri.
"Aku juga. Mari kita habiskan malam ini dengan mewujudkan cinta kita," balas Geni.
“Ohh... Geni!" Gayatri mendesah saat bibir Geni menyapu batang lehernya. Memagut di kulit yang mulus itu. Gayatri memberikan lehernya, pasrah menyerahkan seluruh kulit mulusnya untuk dijelajahi, dihisap, dijilat-jilat penuh rasa sayang.
“Gayatri, kulitmu manis sekali," bisik Geni suka.
"Nikmatilah aku sepuasnya, Geni. Jangan lupakan juga buah dadaku!" pinta Gayatri manja.
Geni langsung membenamkan wajah di payudara gadis itu. Ia hisap puting Gayatri yang merah segar. Nikmat sekali. Inikah buah dada orang yang ia cintai. Dulu rasanya tidak seperti ini. Tapi kali ini sangat nikmat. Jauh lebih nikmat. Entah mengapa.
"Cintaku... ohh... kamu menyusu kepadaku seperti anak kecil," Gayatri melirik Geni yang sedang mempermainkan bongkahan buah dadanya. Payudara itu nampak kenyal, padat, dengan kulit lembut dan halus. Mulus sekali. Membikin enak saat dipegang dan dimainkan. Sungguh sangat menggairahkan. Geni tak pernah bosan untuk menghisap dan mencumbu kedua buah dada besar itu.
Lidahnya menjelajahi daerah puncak. Puting Gayatri nampak mengacung keras, pertanda sudah terangsang sekali. Rambut Geni ia acak-acak karena laki-laki itu menghisap pangkal payudaranya yang merupakan salah satu titik geli di tubuhnya. Gayatri menjerit, menggigit bibir bawahnya, merasakan setiap sentuhan bibir Geni membuat dia terkejang-kejang penuh kenikmatan.
"Geni... oohhhhhh!" Gayatri menggelinjang, erangannya terdengar keras di gubuk yang sempit itu. Keringatnya pun mulai keluar. Bibir Geni kali ini menjelajah ke bawah, ke perutnya yang mulus. Geni menciuminya, hingga sampai di daerah kemaluan.
"Gayatri... ohhmmh," tanpa bisa dicegah, mulut Geni sudah mengunyah belahan kemaluan itu.
Belahan yang berbau semerbak dan basah itu dilahapnya rakus. Lidah Geni tak henti-hentinya menjilat dan mencoloki liang senggama Gayatri. Paha Gayatri melebar dan mengapit kepalanya. Titik-titik sensitif di kemaluan itu disentuh Geni semuanya. Mengakibatkan Gayatri seperti melayang ke angkasa. Sesekali Geni menyenggol dan menyedot kelentit, membuat Gayatri merintih sambil mengangkat pantatnya tinggi-tinggi.
"Ohh... iya... cintaku... sayangku! Aku... aku... mau sampaii!" Gayatri merintih, pinggulnya bergerak tak beraturan. Kadang ke kiri, kadang ke kanan, bahkan juga maju dan mundur. Ketika akhirnya mencapai puncak kenikmatan, pinggangnya semakin cepat bergoyang menggesek-gesek mulut Geni. Pahanya kian erat menjepit kepala laki-laki itu.
Geni menghisap semua cairan yang keluar. Gurih ataupun asin dia tak peduli, hanya ia tahu bahwa rasanya manis. Seluruh yang ada pada tubuh Gayatri ini rasanya manis. Geni kemudian bangkit. Kejantanannya ia posisikan di depan kemaluan Gayatri.
"Aku masukkan, ya?" Geni bertanya.
Gayatri tak perlu diberitahu, ia sudah tahu kalau Geni pasti melakukan ini. Ujung kejantanannya sudah menggesek-gesek di kemaluan Gayatri yang becek. Cukup sedikit dorongan, tongkat panjang itu pun menyeruak membelah celah yang sempit.
“Ohh... nikmatnya!” Gayatri menggelinjang, tubuhnya sedikit terangkat. Ia sedikit kaget.
Geni mulai menggoyang sedikit pinggangnya. Ia tak ingin terlalu terburu-buru. Ditekuknya lutut Gayatri dan diangkat agak tinggi hingga kejantanannya dapat menggesek-gesek dengan lancar. Rasanya nikmat sekali. Lebih nikmat dari sebelum-sebelumnya. Sama seperti tadi, Geni belum pernah merasakan gesekan kemaluan yang sangat nikmat seperti ini. Rasanya setiap kali ia bercinta dengan Gayatri, rasa kenikmatan itu semakin bertambah.
Dengan cepat Gayatri bangkit. Ia memeluk lalu mendorong Geni agar berbaring. "Aku belum pernah bercinta senikmat ini, Geni," katanya.
"Aku juga, bagaimana bisa?" tanya Geni keheranan.
Gayatri menggeleng. Kini ia berada di atas, buah dadanya yang besar nampak bergelantungan indah. Pelan Gayatri memasukkan batang Geni ke dalam liang senggamanya. Mengocoknya maju mundur, memberikan kenikmatan yang tak bisa dilukiskan. Geni meremas-remas dada Gayatri yang sangat bersemangat dalam bercinta kali ini. Entah mengapa ia pun lama sekali keluarnya, padahal empot-empotan yang dilakukan Gayatri sanggup membuatnya ngilu.
Geni kemudian bangkit untuk memeluk perempuan itu. Mereka berpagutan lagi. Gayatri menaik-turunkan pantatnya karena kejantanan Geni semakin terasa sedap. Keras sekali. Gerakan Gayatri terlihat begitu menggairahkan. Tubuhnya yang sintal dan bahenol membuat Geni tak tahan untuk tidak meremas-remas bulatan pantatnya.
Gayatri kemudian berbalik. Ia menungging. Diserahkannya pantat sintal bahenolnya kepada Geni. Dengan gemas Geni menggigit-gigit kecil bongkahan pantat itu sambil meremas-remas. Juga tak lupa ia hisap, jilat, dan dikenyot-kenyot.
"Geni... ohh... pantatku enak kah?" tanya Gayatri kegelian.
"Iya, enak sekali. Aku suka!"
Sambil sedikit berjongkok, Geni segera memposisikan batang kejantanannya ke liang kemaluan Gayatri. Masuk lagi. Ohh... nikmat sekali. Geni menggoyang lagi pinggulnya. Ia usap-usap punggung Gayatri yang mulus. Nikmat sekali kejantanannya menggesek-gesek liang senggama Gayatri dari arah belakang. Semakin lama lubang senggama itu terasa semakin licin. Geni juga tak tahu kenapa lama sekali ia keluar padahal rasa nikmat terus ia rasakan sedari awal tadi.
"Ohh... Geni, kamu hebat sekali! Hhhmmhhh... aku sampai lagi!” jerit Gayatri.
Geni semakin cepat menusuk-nusukkan batang kejantanannya. Gayatri semakin menjadi-jadi jeritannya. Tangan Geni meremas-remas bongkahan pantat gadis itu, membuat sensasi tersendiri bagi Gayatri. Ia membenamkan wajahnya di bantal lalu mendorong pantatnya ke belakang dan mengejang. Kejantanan Geni sampai penuh masuk dan menyentuh rahimnya.
"Ahh... ahh... hhmm..." gumam Gayatri. Perlahan-lahan dia menarik pantatnya hingga kejantanan Geni terlepas. Batang itu nampak mengkilat berbalut cairan kewanitaan berwarna putih.
Gayatri berbalik. Dipegangnya batang kejantanan Geni. Ia kocok batang itu lembut. Nikmat sekali kocokannya. Kemudian ia posisikan di lubang kemaluannya. "Masukkan lagi, Geni," pintanya. "Keluarkan benih-benih cintamu lagi. Ayo!"
Geni bersemangat. Rasanya tenaganya tak ada habisnya untuk bercinta dengan perempuan molek ini. Ia tindih lagi Gayatri, kemudian dipompanya keluar masuk di kemaluan. Peluh mereka sudah berbaur. Geni bisa melihat titik-titik keringat di kening Gayatri. Mata gadis itu terpejam. Rasanya Geni tak ingin permainan ini selesai begitu saja tanpa klimaks yang dahsyat. Kebetulan kepala kejantanannya juga sudah gatal. Rasanya ingin meledak. Dan ledakan ini pasti amat dahsyat.
“Ohh... cintaku... hhmhh... kamu ingin keluar?" tanya Gayatri yang melihat Geni mendengus-dengus.
"I-iya... aku mau keluar... aaah!" Geni semakin mempercepat goyangan. Gayatri juga erat sekali dalam memeluk. Tubuh mereka berhimpitan keras, seakan-akan tak ingin terlepas. Dari batang kejantanan Geni mulai menyembur cairan kental, makin lama semakin keras dan banyak.
CROOTTT... CROOOTT... CROOOTT... CROOOTT...
Semprotan maninya menyiram rahim Gayatri. Mereka berciuman hangat, sebuah klimaks dahsyat yang pernah Geni alami. Inikah kekuatan cinta itu? Membuat persenggamaan keduanya menjadi begitu nikmat. Sangat luar biasa.
Setelah itu mereka benar-benar kelelahan. Kejantanan Geni rasanya ngilu sekali. Keringat membasahi tubuh. Puas bercinta, akhirnya mereka saling memeluk satu sama lain. Kehangatan ini tak akan pernah mereka lupakan untuk seumur hidup. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar