Senin, 16 April 2018

Perahu 1



Ayah sedang sakit. Ibu menjaganya di rumah. Tidak dibawa ke rumah sakit karena ketiadaan uang. Untuk sementara, aku yang menggantikan ayah melaut. Ayah terus menerus batuk dan mengeluarkan darah. TBC, kata orang-orang. Aku pun menembus kabut pagi ke tengah laut, sembari menebar jaring kecil sendirian dengan perahu milik ayah. Perahu kecil dengan cadik kecil di kedua sisinya. Aku pun berhenti sekolah.
Adikku Sutinah, mulai besok libur sekolah. Dia kelas 1 SMP, tak lagi naik ke kelas 2. Aku senang, begitu adikku Sutinah libur, berarti ada yang menolong ibu di rumah. Tapi malah adikku Sutinah ingin ikut denganku melaut. Akhirnya ibu mengizinkannya.

Matahari belum muncul. Angin masih berhembus ke laut. Kami cepat-cepat naik perahu dan mengayuh agak ke tengah. Lalu kami pasang layar kecil. Dan perahu pun melaju ke tengah laut. Aku tinggal menjaga kemudi agar perahu lurus jalannya. Sutinah duduk di depanku dan menghadap ke arahku. Sesekali dia mempermainkan air laut yang berdesir-desir. Dia berpegangan kuat ke dinding perahu dengan kedua tangannya.
Tiba-tiba ombak di depan mengeras. Perahu kami terangkat ke atas, kemudian terhempas ke bawah. Saat itu, rok Sutinah terangkat. Ahh… Sutinah, tidak memakai celana dalam. Mungkin lupa, atau mungkin celana dalamnya lagi basah. Maklum dia hanya memiliki dua buah celana dalam. Akhirnya kami sampai ke pulau kecil. Aku menebar jaring kecil berkeliling. Usai itu, ujung tali kami tambat ke buritan, dan kami sama-sama berkayuh ke tepi pantai pulau kecil itu.
Jangkar yang terbuat dari sepotong besi yang melengkung, kami jatuhkan agar perahu tak bergerak. Kami perlahan-lahan menarik ujung tali. Tangan kami merasakan ada getar-getar kecil jauh di ujung jaring. Aku yakin, ada ikan di dalamnya. Jaring semakin mendekat. Kami pun mengangkatnya. Benar, ada puluhan ikan ukuran kecil, sedang dan agak besar. Kami memasukkannya ke dalam perut perahu. Saat mengangkat yang terakhir, Sutinah terpeleset. Tercebur ke laut. Untung aku masih sempat mengangkat semua jaring itu ke dalam perahu. Aku melihat Sutinah bersusah payah berenang mendekati perahu. Aku mencebur ke laut dan menangkap adikku itu. Dia kugendong dan kuangkat ke dalam perahu. Saat kutolak pantatnya, terpegang olehku pantatnya yang tanpa celana dalam. Aku juga menyentuh buah dadanya yang mungil.
Sutinah hanya memakai baju kaos tipis dan tidak juga memakai beha. Selama ini dia hanya memakai singlet saja.. Akibat kuyup, teteknya membayang di bajunya, tanpa dia sadari. Aku terkesima dan langsung birahiku bangkit. Aku diam saja, agar tetek itu tetap membayang di bajunya yang basah.
“Maafkan aku, Mas,” katanya ketakutan. Dia takut aku marah, karena ketidak hati-hatiannya. Aku diam saja dan membenahi jaring untuk kubuang sekali lagi. Sutinah mendekatiku dan mendekapku, sembari kembali meminta maaf.
Aku kasihan padanya. Aku balas memeluknya. Kami berpelukan. Kemudian perlahan kembali mengayuh ke tengah dan menebar jaring yang kedua kalinya. Dua puluh menit kemudian, kami kembali menariknya dan mengangkat puluhan ekor ikan ukuran kecil dan menengah. Kami hitung bersama, ada 62 ekor ikan, berkisar 11 kilogram. Kami pun merapatkan perahu ke pulau kecil. Sutinah kuajak ke sebuah pancuran kecil yang mengalirkan air sejuk dari puncak bukit. Kupanggil Sutinah untuk mandi. Mulanya dia ragu. Kuseret tangannya. Lalu kubuka pakaiannya.
“Malu, Mas.” katanya.
“Kamu harus mandi, dik. Nanti kamu sakit, air laut lengket di tubuh,” kataku beralasan.
Akhirnya Sutinah mau membuka bajunya dan bertelanjang. Dia menutupi teteknya dengan sebelah tangannya dan sebelah lagi menutupi memeknya yang belum berbulu sama sekali. Aku juga membuka pakaianku dan bertelanjang lalu sama-sama mandi di pancuran kecil itu. Aku menyuruhnya cepat, takut kalau ada nelayan lain yang datang. Kemudian aku mencuci pakaiannya yang terkena air laut. Setelah memerasnya, memakaikannya kembali. Matahari mulai meninggi. Kami takut, ikan kami tak laku, jadi kami cepat balik ke tepian dan naik ke perahu.
Layar kecil, kembali kami pasang agar tak perlu mengayuh. Kuminta agar Sutinah dekat denganku. Saat perahu berjalan perlahan, kuminta agar Sutinah naik ke pangkuanku. Lagi-lagi Sutinah ragu. Setelah kupelototi, akhirnya dia naik ke pangkuanku. Punggungnya menyandar ke dadaku. Perlahan penisku naik. Perlahan celana yang hanya pakai karet tanpa celana dalam itu kupelorotkan ke bawah. Lalu kuangkat Sutinah dan kusingkap roknya. Jelas, penisku menempel di belahan pantatnya. Sebelah tanganku memegang kemudi dan sebelah lagi memeluknya. Kumasukkan tanganku ke balik baju kaosnya dan mengelus-elus buah dadanya.
“Mas, nanti…”
“Udah, diam saja,” aku setengah membentak. Perahu terus melaju menuju tepian. Menurut perkiraan, akan sampai berkisar satu jam lagi. Secepatnya jika angin kencang, 45 menit.
“Mas, geli…”
“Yah. Mas tahu, geli. Tapi enak kan? Jangan bohong,” kataku.
Sutinah diam. Akhirnya Sutinah menggeliat-geliat. Ujung penisku sudah berkali-kali menyentuh-nyentuh parit memeknya. Aku merasa nikmat sekali. Sutinah pun menunduk-nunduk, sepertinya dia mencari-cari agar ujung penisku mengenai klentitnya. Aku mendengar sesekali dia mendesah. Kuciumi lehernya seraya terus meraba pentil teteknya yang masih mungil. Sampai akhirnya aku melepaskan spermaku.
Kami sampai di darat. Ibu sudah menunggu di tepian. Pembeli ikan naik sepeda sudah menunggu juga. Akhirnya ikan kami jual. Rp. 83.000,- Ibu tersenyum.
“Rezeki kamu bagus, Rin,” kata ibu.
“Ini rezeki Sutinah, Bu,” kataku. Sutinah tersenyum.
“Baguslah. Kalau begitu Besok Sutinah ikut lagi, ya” kata ibu pada Sutinah.
Sutinah tersenyum dan mengangguk. Aku senang. “Sutinah harus ikut, bu. Biar aku ada teman dan Sutinah rezekinya bagus,” pujiku pula. Ibu tersenyum.
Di rumah, aku memperbaiki jaring yang koyak dan Sutinah datang. “Besok aku ikut lagi ya, Mas,” katanya seperti membujuk.
“Ya. Tapi seperti tadi ya. Jangan pakai celana dalam dan pakai baju kaos saja,” kataku. Sutinah mengangguk. Aman, pikirku.

***

Keesokan harinya.

Jaring kami tabur lagi dan tarik. Kami tabur lagi dan kami tarik pula sampai tiga kali. Kami mendapatkan ikan lebih banyak dari kemarin. Aku mengajak Sutinah mandi ke pancuran. Aku sudah membawa sabun mandi. Kami mandi berdua bertelanjang. Sutinah seperti mulai terbiasa dan tidak malu lagi. Dalam tubuh kami dilumuri sabun, kami berpelukan. Kucium Sutinah, kuemut teteknya sampai Sutinah menggelinjang. Setelah puas menciuminya, kami cepat memakai pakaian dan naik ke perahu. Perahu-perahu besar sudah lebih dahulu ke darat. Mereka ingin mendahului kami, agar ikan mereka lebih mahal. Aku justru senang, kami belakangan dari mereka. Perlahan aku memasang layar dan perahu melajur perlahan pula. Sutinah seperti tahu sendiri, dia mendatangiku dan naik ke pangkuanku. Aku justru memintanya agar dia menghadapku. Perlahan dia naik mengangkangi kedua kakiku. Aku sudah mengeluarkan penisku yang tegang.
“Pegang titit, Mas. Kenakan ke anu-mu,” perintahku.
Sutinah pun memegang penisku lalu ujungnya dia tempelkan ke lubang memeknya. Perahu terus melaju dan gelombang kecil mengayun-ayunkan kami. Gesekan demi gesekan kami rasakan, membuat kami kenikmatan. Sampai akhirnya kami berpelukan dan aku melepaskan sepermaku beberapa kali ke pintu lubang memek Sutinah.
Bibir pantai sudah jelas terlihat. Aku minta Sutinah agar duduk di tengah. Perlahan dia bangkit dan duduk di tengah berpegangan pada kedua sisi perahu.
Kami tiba di pantai. Ibu juga sudah menunggu. Pedagang ikan mulai berdatangan. Kebetulan harga ikan naik jadi kami menjual ikan seharga Rp.118.000,- Kembali ibu tersenyum dan memuji kami. Aku tetap memuji Sutinah. Sutinah pun tersenyum dan bangga. Kami pulang ke rumah setelah menambatkan perahu dan aku pun kembali memperbaiki jaring yang rusak serta membeli benang yang kurang.

***

Atas pertolongan penyuluh kesehatan yang memasuki desa-desa dan ABRI masuk Desa, akhirnya ayahku mendapat kesempatan untuk berobat gratis ke rumah sakit di kabupaten. Ayah dibawa naik ambulance militer dengan sirene meraung-raung. Sutinah menangis, ketika ayah dibawa naik ambulance itu. Dia memelukku. Ibu menemani ayah ke rumah sakit dengan membawa semua peralatan yang dibutuhkan. Kata mereka setidaknya ayah harus dipname selama 4 bulan, kemudian harus makan obat teratur dan diawasi. TBC, masih bisa disembuhkan, kata mereka. Kami pun agak lega juga.
Aku dan adikku Sutinah, menyusul ayah dengan naik sepeda. Siang kami tiba di rumah sakit. Ayah dirawat. Tangannya sebelah diinfus. Hidungnya, diberi pernafasan. Kata mereka namanya oksigen. Ayah mulai lega bernafas. Ibu pun dirawat juga dengan diinjeksi dan diberi obat. Kami hanya dua jam di rumah sakit. Setelah itu, kami pulang dan tak lupa membeli peralatan untuk menambal jaring. Kami sempat makan di warung tepi jalan dan makan dengan lahapnya. Pukul 17.00, kami baru tiba di rumah. Aku langsung tidur karena keletihan mengayuh sepeda.
Dalam aku tertidur, aku merasakan, kemaluanku seperti dielus-elus. Aku terbangun. Kulihat adikku Sutinah sedang mengelus-elus kontolku.
“Ada apa, Su?” tanyaku.
“Tadinya titit Mas kecil. Lama-lama jadi besar.” kata adikku. Aku tersenyum saja. “Aku laga-laga ke tempikku ya, Mas. Seperti di perahu itu?” kata adikku.
Aku diam saja dan kembali menutup mataku. Sutinah langsung menaiki tubuhku. Kedua kakinya mengangkangi tubuhku. Ditangkapnya kontolku dan dilaganya ke lubang memeknya. Kedua lututnya bertumpu pada lantai.
“Tekan yang kuat, Su. Titit Mas, dimasuki ke dalam lubang tempikmu,”  kataku.
Adikku melakukannya. “Ah, Mas. Sakit,” katanya.
“Perlahan-lahan. Nanti lama-lama gak sakit lagi,” kataku.
Dia melakukannya, tapi mengatakan tetap sakit. Ya sudah.
“Kamu buka bajumu. Kamu telanjang saja,” kataku.
“Nanti dilihat orang,” bisiknya.
“Tak ada yang melihat. Hanya kita beruda saja,” kataku.
Akhirnya Sutinah mau dan melepas pakaiannya sampai telanjang. Aku duduk dan memangkunya. Aku mempraktekkan bagaimana Lek Parto menjilati pentil tetek isterinya dan menjilati memek isterinya. Isteri Lek Parti menggeliat-geliat kenikmatan. Aku akan buat adikku nikmat, bisik hatiku. Aku juga melepas semua pakaianku. Aku mulai menjilati tetek Sutinah. Pentilnya yang kecil dan teteknya yang mungil. Benar. Sutinah merasa kegelian. Aku minta dia menikmatinya. Sutinah diam, mulai menikmatinya.
“Enak, kan?” bisikku.
“Heemmm…” jawab Sutinah.
“Kamu pergi ke belakang dulu. Basuh tempikmu pakai sabun sampai bersih,” kataku.
“Untuk apa, Mas?”
“Ikut saja apa aku bilang. Sana!”
Sutinah mengikuti saranku. Aku ingin mendengar desahnya, seperti desah isteri Lek Parto. Sekembali Sutinah, aku suruh dia telentang di lantai beralaskan tikar. Di rumah kami memang tidak ada kasur. Sutinah mengikuti. Aku mulai menjilati memeknya. Memek yang belum berbulu sama sekali. Memek yang masih ada satu garis dengan bibirnya yang sedikit membentuk.
“Ah…” Sutinah mulai mendesah saat lidahku mulai meliuk-liuk pada itilnya yang mungil. “Mas…”
“Udah diam saja. Enak kok,” kataku.
Sutinah diam dan kembali mendesah-desah. “Udah, Mas. Aku mau pipis, udah,” katanya.
Aku meneruskan. Tak mungkin Sutinah berani pipis di mulutku, pikirku. Aku terus menjilati memeknya. Sampai dia menjepit kepalaku dengan kedua kakinya.
“Mas, aku pipissss…” Desahnya.
Aku terus menjilatinya sampai akhirnya kedua kakinya melemas.
“Udah, mas. Kasihani Suti, Mas,” katanya.
Cairan kental meleleh di ujung lidahku. Aku segera memeluknya.
“Maaf, Mas. Aku tadi pipis di mulut Mas,” katanya.
Aku diam saja. Aku terus memeluknya dan menempelkan kontolku ke tempiknya. “Kamu masukin titit mas ke dalam mulutmu,” kataku.
Sutinah ragu.
“Ayo.” kataku.
Sutinah duduk di sisiku dan memegang kontolku. Perlaha dia masukkan kontolku ke mulutnya. Kuminta dia memainkan lidahnya pada kontolku dan giginya jangan sampai mengenai kontolku. Sutinah melakukannya. Aku mengulur tarik kontolku dalam mulutnya. Sampai maniku tumpah di dalam mulutnya beberapa kali.
“Mas,” katanya.
“Kalau kamu gak mau telan, ya dibuang saja,” kataku.
Suti pun meludahkan maniku dari mulutnya. Kuraih tubuhnya dan memeluknya sembari menciumi pipinya. Kami bepelukan lagi. Tak lama Suti mengatakan nasi sudah siap dari tadi dan kami harus makan. Suti menaruh nasi ke piringku dan ke piringnya bersama lauknya.
“Aku seperti ibu ya Mas. Dan Mas jadi bapak,” katanya.
“Ya. Kita main suami-isteri. Aku suaminya dan kamu isterinya.” kataku pula mengikuti ucapannya. Dia tersenyum.
Lalu Suti pun menirukan kelakukan ibu kepada ayah kami. Bagaimana ibu memperhatikan dan memperlakukan ayah, begitu pula Suti terhadapku. Ibu kami juga memangil Mas kepada ayah dan ayah memanggil bu ne kepada ibu kami. Ketika aku panggi namanya Suti, Suti memintaku agar aku memanggilnya Bu ne. Sembari tersenyum, aku mengikutinya.
“Tapi kalau tak ada yang mendengar ya?” kataku. Suti mengangguk. Aku pun meanggilnya Bu ne. Nampaknya dia senang. Ya sudah.
Malamnya kami tidur untuk besok subuh kami harus melaut. Kami bepelukan.
Subuh, Suti membangunkan aku. Orang-orang sudah berlalu lalang mau melaut. Kami bangun, mencuci muka dan membuka pintu. Kami turun dari rumah melalui tangga. Di bawah rumah kami melepas perahu setelah mengisinya dengan jaring. Perahu memang tertambat di bawah rumah kami yang airnya kurang lebih setinggi lutut. Hampir sepinggang. Kami naik ke atas perahu.
“Bu ne, kamu jangan terlalu jauh ke depan,” kataku.
Dengan senyum Suti mengikutiku dan berpindah mendekatiku ke belakang sembari mendayung. Kami mengikuti alur air menuju laut tengah. Dengan cekatan setelah berada 50 meter di laut, Suti menegakkan tiang layar dan mengikat layarnya. Dia sudah cekatan nampaknya. Tali layar.dia pegang kuat dan mengulurnya sedikit jika perahu oleng. Aku memegang kemudi.
“Bu ne bersandar ke dada Mas ya?” katanya manja. Dia sudah pula menyebut dirinya dengan kata Bu ne. Aku biarkan saja.
Hari masih gelap, perahu-perahu kecil berlayar plastik putih kelihatan sudah mulai banyak di tengah laut. Kami mengikutinya dengan menjaga jarak, agar mereka tidak melihat Suti bersandar padaku dengan manja.
“Kita ke tempat biasa ya, Mas?“ kata Suti.
Aku mengarahkan perahu ke sana. Tapi di sana sudah ada dua perahu lebih dulu. Akhirnya kami mengarahkan perahu ke rimbunnya pohon-pohon bakau seperti sebuah teluk kecil. Kami mulai melepas jaring. Kemudian menariknya perlahan. Aku merasakan ikan-ikan bergetar di dalam jaring.
“Hati-hati, nampaknya ikannya banyak,” kataku.
Benar saja, ikan menggelepar-gelepar di jaring. Setelah melepas ikan-ikan itu, kami menebar lagi di tempat yang sama. Kami tarik lagi. Tiga kali kami menebarnya, kemudian kami keluar dari teluk itu. Kami tersenyum. Tangkapan kami hari ini lumayan baik. Kutarik Suti mendekatiku dan kukecup bibirnya, seperti apa yang dilakukan Lek Parto pada isterinya.
“Kamu isap lidah Mas ya. Kita bergantian mengisap lidah,” kataku. Suti menatapku.
“Kamu mau ya, Bu ne?” kataku merayunya. Suti tersenyum setiap kali aku memanggilnya Bu ne. Kulurkan lidahku dan Suti mulai mengemutnya. Kami bergantian melakukannya.
“Ayo sudah. Kita harus cepat ke darat. Nanti pembeli ikan pada pulang,” kataku.
Kami memasang layar dan mengarahkannya pulang. Perahu melaju agak kencang karena angin yang bertiup mendorong kami ke darat.
Para pembeli ikan menyerbu kami dan kami menjualnya Seorang tentara yang ikut masuk desa mengawasi kami. Pembeli ikan tak berani macam-macam. Kami mendapat uang hampir dua ratus ribu rupiah.
Perahu kami kayuh ke kolong rumah dan kami naik ke atas. Aku minta Suti membeli mi goreng dua bungkus dan aku memasak nasi. Begitu nasi masak. Suti sudah pulang dari membeli Mi goreng. Kami makan nasi bercampur mi goreng. Kami makan dengan lahap.
“Kita tidur-tiduran lagi ya, Mas?” kata Suti.
“Sebentar, biar Mas betulin jaring dulu. Setelah siap kita boleh tidur. Kalau tidak, nanti kita keasyikan dan lupa memperbaiki jaring,” kataku.
Suti merajuk.
“Sabar dong, Bu ne.” kataku merayu.
Suti tersenyum dan memelukku. “Iya, mas. Bu ne ikut membantu ya?” katanya menyeret tanganku. Kami mengeluarkan jaring dari perahu dan menjemurnya, sembari memperbaikinya.

***

Ibu senang sekali ketika aku dan Suti membesuk ayah ke rumah sakit. Kami membawa tiga bungkus mie goreng. Mie goreng di ibukota Kabupaten ternyata jauh lebih enak dari di kampung kami. Satu untuk ayah, satu bungkus untuk ibu dan satu bungkus untuk kami bagi berdua. Selain itu, aku menyerahkan uang Rp. 200 ribu untuk ayah. Siapa tahu ada keperluan yang harus dibeli. Ayah dan ibu senang sekali.
”Kalau uang, tolong di simpan saja. Nanti kalau kami butuh, kami akan minta. Sebab kami di rumah sakit, semua obat ditanggung oleh pemerintah.” kata ibu. Menurutnya, uang Rp 200 ribu itu cukup untuk sepuluh hari. Ibu juga meminta kami agar jangan lupa makan, menjaga kesehatan dan ayah tak lama lagi akan dicabut oksigennya dari hidung. Infusnya juga akan dicabut. Ayah butuh istirahat tiga bulan lebih lagi, tambahnya.
Kami pun pulang ke kampung lagi. Kami beli beras secukupnya dan segala kebutuhan, seperti garam, bubik teh, gula dan sebagainya. Sutini senang sekali membelanjakan uang untuk kebutuhan kami satu minggu. Dia merasa benar-benar menjadi seorang ibu beneran. Sore setelah empat jam berkayu sepeda, kami tiba di rumah. Semua kebutuhan kami angkat ke rumah dan kami mulai masak bersama. Telur ayam, beras dan sebagainya kami angkat. Sementara Suti membenahi makan malam, aku membenahi jaring. Jaring aku perbesar dan perpanjang. Kami berharap, ikan akan lebih banyak dapat. Kalau selama ini jaring kami sepanjang 18 meter, kini jadi 32 meter. Perahu terasa penuh berisi jaring.
Seusai makan malam, kami tidur. Suti memakai kain sarung batik tanpa apa-apa lagi di dalamnya. Dia menirukan ibu kami. Aku hanya memakai sarung dan kaos singlet. Setelah menyiapkan serantang nasi dan lauk telur rebus dan kecap kecil untuk bekal kami besok pagi di laut, kami mematikan lampu dan masuk tidur. Aku melepas semua pakaianku dan meminta Suti juga melepas pakaiannya. Kami tidur bertelanjang. Aku tanya apakah Suti sudah cebok dan menyabuni tempiknya, Suti menjawab sudah. Kami tersenyum dalam gelap gulita. Hanya ada cahaya bintang memasuki rumah gubuk kami dari celah-celah dinding.
“Kamu pernah melihat ayah menindih ibu waktu malam?” tanyaku pada Suti.
Rumah kami tidak berkamar. Hanya dibatasi oleh kain saja, membedakan dimana ibu dan ayah kami tidur dan dimana aku dan Suti tidur. Suti menjawab pernah. Dua atau tiga kali kami pernah mengintip ayah dan ibu tidur tindih-tindihan di tengah malam, saat kami sudah tertidur lelap.
“Ya sudah. Kita juga seperti itu,” kataku.
“Tapi Mas kan berat?” katanya.
”Kalau ayah bisa menindih ibu, kenapa kamu tidak. Kita coba saja,” kataku.
Suti setuju. Kami berpelukan dulu seperti ayah dan ibu. Berciuman seperti Lek Parto dan isterinya. Mengisap tetek dan menjilati memek dan mengemut kemaluan bergantian. Semua yang pernah kami lihat, kami lakukan. Ternyata memang enak.
“Mas buka tempikmu ya. Mas masukkan titit Mas ke dalamnya ya?” kataku.
Suti setuju. Setelah mejilati memeknya, aku tujukan ujung kontolku ke lubang memeknya. Aku menekannya. Suti merintih. “Sakit, Mas…”
“Ya. Mulanya sakit, tapi nanti kalau sudah hilang sakitnya, jadi enak,” kataku.
“Memang Mas sudah pernah melakukannya?” tanya Suti.
Aku bercerita, teman-temanku sudah pernah melakukannya dan mengatakan begitu. Suti pun mau. Kutekan kontolku ke dalam lubang memeknya. Suti merintih.
“Bagaimana, masih tahan?” tanyaku membiarkan kontolku di lubang memeknya. Suti diam saja.
“Tapi betulkan, kalau sudah hilang sakitnya, pasti jadi enak kan?” tanyanya.
“Ya, pasti,” kataku. Padahal itu hanya ucapan Lek Parto yang kutanyai dan bercerita tentang persetubuhan di bawah pohon kelapa sembari kami memperbaiki jaring. Kutekan lagi kontolku dengan lebih kuat hingga ujung kontolku terasa sakit.
“Aduh, Mas… Sakiiiiittttt...!!” rintihnya.
“Ya. Mas juga sakit. Bagaimana, Kita berhenti atau kita teruskan?” kataku. Suti diam tak menjawab sembari menggigit bibirnya. Ketika kucium pipinya, terasa olehku ada lelehan airmata di sana.
“Maaf, dik.” kataku.
“Bu ne merasa sakit, Mas.” katanya meringis.
“Maaf, Bu ne. Tapi sebentar lagi gak sakit lagi kok. Mas janji, Bu ne,” kataku.
Suti kembali senang dipanggil Bu ne. “Ya sudah, diteruskan aja, Mas. Tapi pelan-pelan ya?” katanya.
Aku menciumnya dan memeluknya, lalu menekan kuat-kuat kontolku. Sreeeggg… Sreeeggg... Kontolku sudah terbenam semuanya. Suti menjerit agak kuat. “Massss…” Aku langsung menjulurkan lidahku ke dalam mulutnya, agar suaranya tak keluar. Dia terus menangis. Aku membelai-belai rambutnya.
“Sakit ya, Bu ne?” rayuku.
Suti terus menengis. Aku mengatakan, kalau kontolku juga sangat sakit. Tapi aku percaya dua hari lagi, sakitnya pasti hilang. Hari ketiga kita sudah menikmatinya. Suti pun tak menangis lagi. Tapi sesekali suara sesenggukan masih terdengar juga.

***

Pagi itu, kami tidak ke laut karena kesiangan bangun. Ketika kami bangun, matahari sudah menyapu-nyapu wajah kami. Kami bangun dan aku menuntun Suti ke belakang untuk mandi. Aku takut juga, ketika Suti menangis saat melangkah. Katanya sangat sakit dan perih. Begitu juga saat dia pipis, katanya lubang pipisnya sangat sakit sekali. Aku jadi ketakutan dan sedih. Akhirnya setelah dia usai mandi, aku membopongnya. Aku memasak nasi. Ketika kami makan, tubuh Suti terasa hangat. Aku takut. Bu Mantri lewat dan aku memanggilnya. Bu Mantri memegang kening Suti. Suti disuntik dan diberikan obat.
”Besok sudah tenang dan sehat,” kata bu mantri.
Aku senang. Setelah kusuapi makan, aku memberikannya obat. “Biar cepat sembuh ya, Bu ne.” rayuku. Suti tersenyum. Akupun minta izin untuk memancing, agar kami nanti malam dan sore serta besok pagi kami punya lauk ke laut. Suti melepasku dengan senyumnya.
Begitu aku pulang membawa empat ekor ikan dan dua ekor kepiting serta 15 butir kerang, Suti melaporkan, kalau darah dari memeknya sudah berhenti. Kupegang keningnya sudah tak hangat lagi. Aku menyuapinya makan dan memberinya obat.
“Besok aku belum bisa melaut Mas. Aku takut dingin.” katanya memelas.
“Ya sudah, Bu ne, Mas saja besok yang melaut,” rayuku sembari mencium pipinya. Suti nampaknya senang sekali.
Kami pun tidur berpelukan dengan kegelapan malam. Ah, indah sekali rasanya tidur bertelanjang di bawah selimut sepotong kain batik. Suti sepertinya begitu erat memelukku. Dia kedinginan. Aku menebalkan selimut untuknya. Dia minta dikeloni terus agar hangat. Aku memeluknya.
Subuh pun menjelang. Aku terbangun dan membangunkan Suti. Cepat dia berpakaian dan menyiapkan bekalku. Aku berangkat ke laut dalam lambaiannya. Kubisikkan padanya, agar semua kejadian dia tak boleh diceritakan pada siapapun juga.
“Bu ne janji, Mas.” katanya setengah berbisik.
Aku menuruni tangga rumah memikul jaring menuju perahu. Aku mengayuh menuju tengah laut. Setelah menebar sekali jaring, aku pulang. Aku takut, Suti entah bagaimana. Aku menjual ikan dan langsung pulang.
“Kenapa cepat pulang, Mas?” tanya Suti.
Aku menjelaskan, ”Hanya sekali menebar jaring dapat ikan sedikit dan langsung pulang. Aku takut kalau Bu ne entah kenapa-kenapa,” kataku.
Suti tersenyum manja. Dia memelukku. Aku balas memeluknya. Nasi sudah siap, kami makan bersama, kemudian memberinya obat. Sudah empat hari, obat sudah habis dan Suti benar-benar sudah sehat. Langkahnya sudah pasti. Pipis sudah tak sakit lagi. Sudah biasa, katanya. Aku tersenyum.
“Jika kita lakukan lagi, pasti sudah enak, tak akan ada sakit lagi,” kataku memastikan.
“Bu ne mau, Mas.” katanya.
“Setelah memperbaiki jaring, nanti kita mancing ke hutan bakau,” kataku. Suti setuju. Maksudnya sebagai uji coba, apakah Suti sudah mampu mendayung dan siap memancing.
Setelah makan siang, aku masuk ke perahu dengan membawa pancing dan jala. Adikku Suti ikut. Perlahan kami mendayung ke laut. Orang-orang melihat kami dan kagum. Mereka tahu, kami kerja keras untuk kebutuhan sehari-hari dan untuk orang tua di rumah sakit. ABRI yang masuk Desa pun tidak memaksaku yang masih berusia 18 tahun untuk ikut bekerja membuat benteng kampung nelayan dan saluran air.
Angin menyeruak dari laut. Kami harus melawan angin untuk bisa sampai ke tengah laut. Bersama kami mendayung perahu. Udang dan sotong kecil sebagai umpan sudah kami bawa. Juga ada sedikit ubi goreng sebagai makanan selingan kami. Satu jam lamanya kami mendayung, akhirnya kami sampai juga pada sebuah palung. Kami mulai menetak pancing kami di rimbunnya pohon-pohon bakau.
Sesekali aku menebar jala. Aku kurang pintar mengembangkan jala. Aku berpikir, jika jala tidak kutebar, sudah pasti aku tidak dapat ikan. Setidak pandainya aku menebar, jala bila dia kutebar, mana tau nasib berkata lain, aku bisa dapat seekor-dua ekor ikan. Benar saja, tali jalaku bergetar. Aku menariknya lamat-lamat. Seekor ikan hampir sekilo beratnya tertangkap. Kakap merah yang nyasar ke palung. Aku dan Suti gembira sekali. Kami akan menggorengnya, dan akan kami bawa ke rumah sakit untuk ayah dan ibu. Tak lama, pancing Suti juga menangkap seekor ikan ukuran sedang. Kami senang sekali.
“Bu ne, kamu cantik sekali,” rayuku.
“Apa benar, Mas?”
“Ya, benar kamu cantik sekali,” kataku. Sebenarnya, kontolku sudah mengeras. Mataku awas ke sekeliling. “Maukah kamu mengisap tititku?” kataku memohon.
Suti tersenyum manis. Dia menganggukkan kepalanya. Dia mendekatiku. Aku mengeluarkan kontolku dari balik celanaku. Suti berjongkok di lantai perahu. Kontolku yang sudah mengeras dia jilat lalu dia kulum dan mempermainkan lidahnya pada bagian bawah kontolku.
“Aku senang, Mas.” katanya.
Aku tersenyum. Kuelus kepalanya, lalu kusapu-sapu teteknya dari bawah.
“Kalau dia keluar, boleh aku menelannya, Mas?” tanya Suti.
“Terserah saja.”
Kontolku kembali dimasukkannya ke dalam mulutnya. Aku melihat, Suti semakin dekat denganku. Perahu kami sesekali diterpa alun kecil, membuatnya bergoyang. Tapi ujungnya sudah kami tambatkan ke sebuah akar bakau. Aku semakin menikmatinya. Aku pun mengejang lalu aku menyemburkan maniku ke dalam mulutnya. Aku mendengar spermaku tertelan oleh Suti.
“Asin, Mas.”
“Karena belum terbiasa,” kataku. Aku pipis dari atas perahu dan mencuci kontolku dengan air laut. Aku tersenyum pada Suti. Dia membalas senyumku.
“Kamu mau?” tanyaku.
“Dijilat saja ya, Mas.” katanya tersenyum.
Aku mengangguk. Kuminta dia mencuci memeknya terlebih dahulu. Suti yang tak memakai celana dalam setiap kali kami melaut dan juga di rumah, menurutinya. Setelah bersih, kuminta dia rebahan di kepingan lantai papan perahu. Aku melihat sekeliling. Aku yakin kami aman. Tapi belum lagi aku memulainya, pancingku ditarik oleh ikan. Aku menariknya. Seekor ikan sembilang terangkat dan aku memasukkannya ke lantai dasar perahu yang berair, biar Kakap dan sembilangnya tidak mati.
Suti mengangkangkan kedua kakinya selebar mungkin. Betisnya berada di sisi perahu dan dia bersandar pada ujung perahu. Sesekali burung-burung kecil bersiul-siul di pucuk-pucuk pohon bakau. Aku memulai menjilati memeknya. Ujung lidahku bermain pada itilnya. Sesekali kusedot itil itu dan lidahku pun menari-nari pada sebiji kacang memeknya. Aku tahu Suti menggelinjang dan menikmatinya. Dia semakin mampu menikmati betapa enaknya dijilati. Sesekali dia mendesah. Desahnya cepat hilang ditelan angin laut. Kedua kakinya sudah berpindah. Kedua kakinya sudah berada di atas punggungku dan pahanya menjepit kepalaku.
“Akhhhh…” desahnya kuat lalu melemas.
Aku menghentikan jilatanku. Aku tahu Suti sudah sampai pada puncaknya. Dia tersenyum. Kami kembali menetak pancing kami, seperti tak terjadi apa-apa. Semenit kemudian, sebuah perahu melintas mau memasuki palung. Orang itu berhenti dan memutar haluannya karena melihat kami, dan palung sempit itu tak mungkin dilintasi dua perhu yang bercadik.
“Sudah dapat banyak?” orang itu menegur kami.
“Baru satu, Mang.” jawabku tenang. Kami meneruskan memancing. Suti tersenyum.
“Dia melihat kita tadi, Mas?” tanya Suti.
“Aku yakin tidak,” jawabku.
Aku kembali mengambil jala dan menebarnya. Sekali, dua kali, tiga kali dan kali yang ke empat, aku dapat dua ekor ikan ukuran sedang. Aku mengajak Suti pulang ke rumah sebelum angin berbalik arah. Suti setuju. Kami mengayuh perahu keluar dari palung. Suti menancapkan tiang layar dan menarik layarnya. Angin berhembus membawa perahu. Sore seperti itu, pasang naik dan angin mengencang dan kembali sedikit tenang setelah tengah malam. Kami terbawa angin dengan cepat ke tepian.
“Dapat, dik?” tanya pak tentara.
“Satu ekor, pak. Untuk kami masak dan kami bawa ke rumah sakit untuk ayah,” jawabku.
Tentara itu tersenyum. “Ya, hatimu bagus sekali, dik. Kamu sayang pada ayahmu. Begitulah seharusnya kepada orangtua,” katanya bangga.
Aku tersenyum. Kami meneruskan mengayuh perahu kami ke bawah kolong rumah dan menambatkannya. Delapan ekor ikan kami bawa naik. Tiba-tiba seorang ibu bidan mendatangi kami.
“Sebentar lagi, kami ke rumah sakit. Ada titipan,” kata bu Bidan yang ikut dengan tim ABRI masuk Desa.
“Ya, Bu. Kami boleh titip ikan untuk ibu dan ayah?” kataku.
“Boleh, setengah jam lagi aku ambil,” kata bu Bidan.
Kami cepat menguliti ikan-ikan itu. Kami goreng dan kami sambal. Ikan Kakap yang besar dan ikan Sembilang. Ikan dan sambalnya, kami bungkus pakai daun pisang dan kami ikat dengan baik. Bu Bidan datang dan kami memberikan oleh-oleh untuk ibu.
Setelah bu bidan pergi, Suti pergi mandi, lalu kususul, dan kami pun makan bersama-sama. Kami juga mempersiapkan makanan untuk besok subuh ke laut. Semuanya sudah beres.
“Kita tidur yuk, biar besok cepat bangun dan ke laut. Kamu ikut, Bu ne?” tanyaku.
“Ya mas. Aku ikut,” kata Suti.
Karena belum larut, kami mengecilkan lampu di ruang tengah saja dan kami berangkat tidur dikelilingi kain pembatas. Dalam gelap kami melepas pakaian kami dan mulai berpelukan.
“Kamu mau bukti, kalau sekarang sudah tidak sakit lagi, malah akan nikmat?” kataku mulai merayu Suti.
“Pasti gak sakit lagi kan, Mas?”
“Ya, pasti,” kataku sembari mencium bibirnya dan melumatnya. Lalu aku mengisap-isap teteknya dan sebelah tanganku mengelus-elus memeknya. Suti mendesah-desah. Aku merasakan memeknya sudah ada lendir.
“Mas masukin ya, Bu ne?” bisikku.
“Ya.” Suti menjawab lirih.
Aku mengarahkan kontolku ke lubang memeknya. Ujungnya sudah mulai menyentuh bagian luarnya. Perlahan aku menekannya. Perlahan dan perlahan. Masuk… Masuk… Dan masuk.
“Sakit?” tanyaku.
“Dikit.” jawabnya.
Perlahan kutarik kontolku dan perlahan pula aku mendorongnya. Begitu terus bergantian. Suti mendesah dan memelukku. “Dimasukin semua, Mas.” pintanya mendesah.
Aku menekan semakin dalam dan dalam.
“Yang cepat, Mas.” bisik Suti mendesah dan memelukku kuat.
Aku menggenjot tubuhnya semakin cepat dan cepat.
“Ayo, Mas. Lagi. Ayooo…” Suti mendesah lagi.
Aku menggenjotnya semakin cepat dan cepat dan cepat dan cepat dan cepat. Tubuhku dan tubuh Suti demikian rapatnya. Lengket. Kami sama-sama mengejang dan melepaskan kenikmatan masing-masing. Beberapa kali aku menyemprotkan mani ke dalam lubang Suti. Dia memelukku sekuat tenaga. Kami berpelukan dan kontolku yang melemas, lepas dari lubang Suti.
“Kamu cantik sekali, Suti.” biskku.
“Bukan Suti, Mas. Tapi Bu Ne.” bantahnya.
“Ya, kamu cantik sekali, Bu ne.” ulangku.
Suti memelukku dan mengecup pipiku. Kami tertidur nyenyak. Kami terbangun saat menjelang subuh. Kami menyiapkan jaring dan memasukkannya ke dalam perahu. Kami pun menuju ke tengah laut, untuk mencari ikan dan akan kami jual untuk kehidupan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar