Senin, 30 April 2018

Tak Terpisahkan

''Hore, LULUSSS...!''

''LULUSSS...!''

Seruan kelulusan anak-anak kelas tiga menggema di halaman utama sebuah SMA, tepatnya SMA 1 SukaSari. SMA yang sering disebut orang dengan SMA pinggiran karena letaknya di pinggiran kota dan dekat dengan pegunungan. SMA anak-anak sisa, tidak berkelas seperti SMA di kota-kota besar. Tahun ini menunjukkan sebuah prestasi yang sebelumnya tak pernah terendus oleh pemerintah. Sebuah prestasi yang membanggakan semua. Berhasil lulus 100% mengalahkan SMA unggulan.

Seruan kebahagian dan tangisan mewarnai hari ini, hari penentuan akan nasib mereka ke depan. Hari yang paling ditunggu oleh anak-anak kelas tiga SMA dimanapun berada karena hari ini hari yang paling membuat mereka panas dingin atas hasil akhir yang di dapat dari tiga tahun belajar di SMA.

Anak-anak IPA mendapatkan peringkat 4 besar, sedangkan anak-anak IPS masuk 2 besar. Sungguh prestasi yang membuat nama SMA 1 SukaSari menjadi lebih baik dari sekedar SMA pinggiran.

''Hei, atas keberhasilan kelas IPS3, gimana kalau kita jalan-jalan ke pantai?'' Seorang pemuda kurus menerobos lautan manusia, menghampiri sekelompok murid yang ia kenal baik.

''Oke, kita besok meluncur ke pantai!'' teriakan antusias digemakan oleh sebagian murid.

Pemuda kurus itu berjalan meninggalkan kerumunan, menghampiri dua sahabat baiknya yang sejak tadi hanya terdiam. ''Sob, kau besok ikut kan? Nggak ada kata nggak!'' pemuda kurus itu menyenggol bahu pemuda disampingnya dengan kepalan tangan.

Bukan menanggapi pernyataannya, pemuda yang dimaksud malah melirik gadis yang sejak tadi berada disampingnya.

''Ayolah, Cup! Nggak bakal asik kalau bintang kelas kita nggak ikut.''

Ucup tak menyahut, bola mata melirik Delima, cewek yang dipacarinya sejak masuk SMA. Merasa diperhatikan, gadis cantik itu menoleh, bukan roman cerah seperti biasa yang terlihat, melainkan kegelisahan.

''Ayolah, Del.'' pinta pemuda kurus memelas.

Delima menghela nafas berat, ''Baiklah. Kita akan ikut, Jang.''

Pemuda yang disebut Ujang memekik senang. ''Besok ngumpul ditempat biasa.'' serunya sebelum menghilang dalam kerumunan manusia.

Ucup menatap lekat sosok gadis disampingnya. Jujur, kekasih mana yang tak khawatir melihat kekasihnya bersikap tak seperti biasa.

''Del?!'' merasa namanya terucap sang gadis menoleh.

''Katakanlah.''

***

Hitam. Hanya warna itulah yang tertangkap indra pengelihatan Delima. Ia terus berjalan tanpa arah, berjalan mencari titik putih di depan sana.

''Ya Tuhan, aku berada dimana?'' Delima terus berjalan tanpa arah.

Ia seperti menelusuri lorong tanpa ujung.

''Delima!'' sebuah suara menggema di tengah kegelapan.

''Kemarilah, Del, aku menanti kedatanganmu.'' suara merdu itu menguasai gendang telinganya, seakan terus berputar dalam otaknya.

''Hentikan!'' pekik Delima. Suara wanita itu seperti ribuan jarum yang menghujam isi kepalanya.

''Kemarilah, Delima.'' suara wanita itu kembali terdengar.

Delima terduduk di tanah, kedua tangannya menutup erat kedua telingannya agar tak lagi mendengar suara menyakitkan itu lagi.

''Hahahaha...'' tawa wanita itu menggema dalam kegelapan.

''Hentikan! Kumohon... hentikan!'' tangis Delima. Gadis cantik itu terus bersimpuh dalam ketakutannya.  ''Tuhan, tolong aku.'' pekiknya dalam hati.

''Delima.'' Suara lain memanggil. Delima mendongak ke atas. Secepatnya ia bangkit dan menerjang dalam pelukan sosok di depannya.

''Hiks... Cup, aku takut.'' Gadis cantik itu mendekap erat kekasihnya.

''Tenanglah, Del, aku ada disini...'' Delima sedikit tenang mendengar penuturan kekasihnya. Tapi tubuhnya sontak kaget merasakan sebuah kecupan di lehernya, apalagi daging tak bertulang itu menelusuri lekuk lehernya.

''Cup!'' suara itu menggema dari kerongkongan Delima.

''Kau suka?'' sebuah bisikan membuat Delima mengangguk setuju.

Tapi tunggu, suara ini bukan suara kekasihnya.

Dengan sekuat tenaga, Delima mendorong sosok itu menjauh. ''Siapa kau?'' tudingnya ketakutan.

Sosok itu tertawa menakutkan, matanya mendelik bersamanya daging itu yang luber meninggalkan seonggok tulang manusia.

Tangan Delima meraba lehernya dengan gemetar. ''Aaaaa...!'' Delima memekik histeris mendapati tangannya yang penuh darah dan belatung. Teriakan ketakutan yang membuat sosok dalam kegelapan menyeringai penuh kemenangan.

***

Ucup mendekap erat tubuh sang kekasih yang sedikit bergetar. Dikecupnya lama puncak rambut sang gadis. Matanya terpejam merasakan aroma memabukkan dari gadisnya.

''Aku selalu bersamamu, Del. Itu hanya mimpi, bunga tidur.'' Pemuda itu kembali bersuara setelah sekian lama mendengar cerita sang gadis.

Delima mendongak, tatapannya langsung terkunci oleh mata hitam di depannya. Perlahan kepala itu mendekatinya, membawanya ke dalam sebuah ciuman hangat.

***

Sang mentari sudah menggantung tinggi di langit ketika sepasang mata itu membuka dengan terpaksa. Iris bening itu masih terlihat mengantuk. Sosok itu berlahan bangkit dari selimutnya. Berkali-kali kepalan tangannya digunakan untuk mengucek-ngucek matanya. Kepalanya menoleh ke arah kamar mandi, senyum mengembang di sudut bibirnya.

''Selamat pagi, Cup... hoamm!'' sang gadis menguap lebar membuat sosok Ucup terkikik pelan. "Jadi semalam kau menemaniku sampai menginap disini, Cup?" seringai Delima.

Pemuda yang dimaksud menggerutu sebal. "Hai, Del, jangan menatapku seperti itu." Ucup meraih kaosnya dan langsung mengenakannya. "Cepatlah mandi, hari ini bukannya kita janji mau pergi ke pantai."

"Iya-iya, bawel amat sih." Dengan terpaksa Delima beranjak ke kamar mandi. Gadis itu menoleh ke belakang dengan seringainya.

"Apa lagi, Del?"

"Cup, mandiin." rajuknya kemudian.

Semburat merah langsung menjelajahi wajah Ucup, secepatnya pemuda itu mengalihkan pandangannya. Huft, kekasihnya ini memang suka sekali menggoda, dan ujung-ujungnya ia selalu menahan nafsunya.

***

Sang mentari mulai terik saat kaki-kaki liar itu menginjak lembutnya pasir pantai. Gemuruh ombak seakan lantunan indah dari Sang pencipta.

"Ayo kita berenang!" seru Puspa berlari menerjang gulungan ombak yang tengah beriak. Tak lama kemudian pantai yang lumayan sepi itu riuh dengan teriakan-teriakan serta tawa kebahagiaan.

Disudut lain terlihat sosok dengan rambut panjang yang tengah berkibar diterpa angin laut. Senyumnya mengembang menatap teman-temannya yang tengah asik bersuka cita. Gadis itu mendongak dengan senyum lebih mengembang ketika mendapati sang kekasih mendekap tubuhnya dari belakang.

"Kenapa bengong disini, sayang?" bisik sang kekasih.

"Terus ngapain kau sendiri disini, Cup?" tanyanya balik.

"Hanya ingin menemanimu." bisik Ucup semakin mendekap tubuh sang kekasih.

Cinta tak perlu sebuah ungkapan, rayuan maupun omongan. Karena mereka tahu dalam diri mereka masing-masing menyimpan sebuah cinta yang tulus.

''Delima.''

''Hmmm...?'' Delima menengadah, kembali memandang wajah dingin sang kekasih.

Ucup bangkit dari duduknya, ''Mau pergi ke suatu tempat nggak?'' ajaknya kemudian.

Sang gadis tersenyum. ''Tentu.'' Delima merapikan roknya sebelum melangkah mengikuti kemana sang kekasih membawanya.

Ucup memarkirkan motor merahnya di halaman salah satu rumah penduduk. Setelah itu tangannya menggapai tangan Delima dan membawanya ke sebuah tempat.

***

Semilir angin pegunungan menerpa wajah sepasang kekasih ketika mereka tengah melewati sungai kecil yang airnya jernih. Pandangan mata bulat Delima melirik kesana-kemari mengisi memorinya dengan jepretan-jepretan yang tertangkap indra pengelihatannya. Tempat itu memang tak terlalu indah tapi mampu membuat sang gadis menarik bibirnya ke atas, sebuah senyum tanda ia menyukai tempat ini.

Delima mempercepat langkahnya melewati sungai jernih itu, matanya menatap kagum pandangan di depannya. Bebatuan kokoh itu menjulang tinggi ke atas, di tengah-tengah terdapat sebuah lorong sehingga batu besar itu terlihat seperti sebuah tubuh, dimana pinggang itu begitu ramping. Entah bagaimana caranya ke atas sana, mengingat Delima tidak menemukan tangga atau sebuah lorong apapun.

''Ayo!'' Ucup menarik tangan sang kekasih kembali mengikuti langkahnya.

Untuk kedua kali Delima menemukan sungai yang begitu jernih, bebatuan-bebatuan menghambat laju sang air. Dia menghembuskan nafas dalam-dalam, mengisi paru-parunya dengan udara pegunungan yang begitu sejuk dan segar.

''Maaf kalau tempatnya jelek, Del.'' bisik Ucup. Keduanya tengah duduk di sebuah batu besar di tengah-tengah aliran sungai.

''Tidak jelek kok. Sepi, cocok buat pacaran...hihihi...'' sahut Delima.

Ucup mendengus sebal. Kekasihnya ini memang paling hobi menjahilinya.

Sekilas tatapan pemuda itu melirik ke balik kaos oblong Delima. Menelan ludah susah payah ketika sepasang tangan yang sejak tadi melingkar di pinggang Delima bergerak semakin ke atas, ke atas, menelusuri setiap lekuk tubuh dalam pencariannya menjangkau lembah tujuannya.

''Eh...'' Delima sontak mendongak ke atas ketika dirasakan sepasang tangan meremas kedua buah dadanya.

Keduanya terdiam. Rona merah menguasai keduanya. Dengan segera Delima mengalihkan pandangannya, entah kenapa ia menjadi deg-degan bertatapan dengan mata sang kekasih.

Delima masih merasakan tangan kokoh kekasihnya menangkup kedua payudaranya yang membusung. Entahlah, tapi ia menyukainya. Perlahan tangan Delima terangkat menangkup tangan Ucup dari luar kaos oblongnya. Jemari-jemarinya menekan lebih agar tangan Ucup menyentuh miliknya lebih keras. Dia menyukai seperti ini, dimana tangan Ucup kini aktif membuai bagian sensitif tubuhnya.

Ucup menyeringai mendapati reaksi positif Delima. Setiap laki-laki pasti tak akan menyia-nyiakan kesempatan langka seperti ini. Bra itu kini telah tersingkirkan ke atas. Dengan sedikit kasar Ucup meremas kedua bukit kenyal itu. Inilah pengalaman pertamanya, meskipun ia telah lama menjadi kekasih Delima, ia tak pernah memanfaatkan Delima untuk memuaskan nafsunya. Ia mencintai Delima bukan atas nafsu tapi ia memang benar-benar mencintainya setulus hatinya. Tapi hari ini semua logikanya seakan lenyap, nafsu telah menguasai pikirannya.

Bibir mereka kembali berpagutan dengan liarnya, air liur berkali-kali menetes menandakan betapa sengit pertarungan lidah itu.

Delima melepas pagutannya dari bibir Ucup. Kepalanya pegal terus-terusan mendongak ke atas. Secepatnya ia menyingkirkan kedua tangan Ucup yang masih bertengger di kedua bukitnya, membuat pemuda itu mengernyit kesal.

Tanpa diduga Ucup, Delima berbalik badan menghadapnya. Sebelum duduk di pangkuan Ucup, Delima mengangkat kaosnya ke atas. Kedua payudaranya pun kelihatan menggantung indah di dadanya. Tangan Ucup terulur untuk menarik salah satu putingnya.

''Auw...sakit tau!'' sengit Delima memposisikan duduknya di pangkuan Ucup.

Pemuda itu hanya terkikik kecil melihat tingkah kekasihnya yang menurutnya lucu.

Delima menarik kaos oblongnya sampai lepas, sesak juga ketika kaos itu berkumpul di dadanya. Mata bulatnya melirik ke arah payudara yang menggantung di dadanya. Diremasnya kecil bukit indah itu. Ehmm... Rasanya tidak seperti ketika Ucup yang melakukannya. Bahkan ketika jemarinya menarik putingnya, rasanya biasa juga, tak ada sensasi-sensasi menggelikan seperti tadi.

''Biarkan aku yang melakukannya, Del.'' bisik Ucup.

Delima hanya terdiam ketika Ucup membungkukkan badannya, menangkap dengan bibirnya puting mungil di bukit kanannya. Ucup Menggelitik dengan lidahnya sebelum mengecap lebih keras, berharap sesuatu keluar dari dalamnya, membuat gadis cantik itu memekik kaget.

''Kyaa! Hentikan, Cup! Geli...!''

Tangan Ucup menangkup erat kedua bukit bulat di depannya, dia tak mengindahkan omelan-omelan Delima yang semakin keras manakala dia mulai meremas-remasnya lembut. Delima hanya bisa menggeliat nikmat di pangkuan kekasihnya menerima perlakuan laki-laki itu.

Ucup merasakan bagian selangkangannya terasa sesak. Dihentikan aksinya pada bukit kembar indah itu, sekedar mengecek apakah kemaluaannya memang sudah benar-benar tegak apa belum. Dia melepas resleting celananya, melorotkan celana dalamnya sedikit. Kemaluan itu langsung menyeruak keluar, menjulang tinggi bagaikan tonggak kayu besar.

Otot-otot mengukir di setiap inci permukaannya, menambah kesan jantan di mata Delima. Tak dipungkiri, ia grogi melihat kemaluan kekasihnya, padahal jujur, ia pernah nonton blue film. Tapi tetap saja yang asli lebih membuatnya serba grogi dari pada cuma menonton dari balik layar.

Lamunannya buyar seketika ia merasakan tubuhnya terangkat ke atas. Ucup  menggendongnya.

''Kita lakukan di gua itu, Del.''

Delima semakin grogi dan deg-degan ketika mereka memasuki sebuah lorong gelap. Mulut goa itu mengadap langsung ke arah jurang yang tak terlalu dalam. Pantas saja Delima tak menyadari keberadaan goa ini.

Dingin. Ketika kulit Delima bersentuhan dengan permukaan batu dimana Ucup membaringkan tubuhnya. Delima sadar akan apa yang tengah mereka lakukan, tapi logikanya seperti tertutup kabut hitam. Yang ada hanya bisikan-bisikan setan untuk menikmati hal yang belum pernah dia lakukan sebelumnya.

Kelopak bening Delima tak berkedip sedetik pun melihat sang kekasih tengah melucuti celananya. Tatapan Delima lurus ke arah selangkangan Ucup yang sudah berdiri menantang.

Delima bangkit dari tidurnya, sedikit merangkak mendekat ke arah Ucup. Digenggamnya kemaluan itu, reflek jari-jari mungilnya memberi pijatan-pijatan kecil. Delima merasakan betapa kokohnya kemaluan itu di tangannya. Matanya menyipit, perlahan tangannya terulur menangkap buah zakar milik sang kekasih.

Ucup memandang ke arah kekasihnya senang. Senang karena belaian tangan milik sang kekasih. Sesekali matanya terpejam menandakan ia sangat menikmati kegiataan ini.

Delima mendongak ke atas ketika sebuah jari mengangkat dagunya, membawa mereka pada sebuah ciuman intim.

''Nggg... Empphhh!'' Delima hanya bisa mendesah ketika Ucup kembali menguasai permainan mereka.

Gadis itu membiarkan celananya lolos meluncur ke bawah. Tak lama kemudian ia melirik ke arah Ucup yang tengah berbaring menggantikannya. Senyum tersungging di bibir Delima ketika ia melangkah menghampiri sang kekasih.

''Hmmm... Del!'' desah Ucup ketika tangan-tangan lentik Delima mempermainkan kemaluannya, sedikit mengocok dan mengusap-usap disana.

''Kenapa, Cup?''

''Kau...'' Ucup menangkap bibir tipis Delima dan melumatnya rakus sebagai pembalasan.

''U-Ucupp!'' Delima memekik. Ucup menyeringai senang melihat Delima yang tengah menggerutu sebal.

Tanpa menunggu lagi, Delima menggenggam kemaluan sang kekasih dan perlahan  duduk di atasnya. Gadis itu menyernyit perih ketika dirasakan kemaluan Ucup terdorong masuk menyakitkan. Delima semakin menekan pinggulnya, tak mau menunggu. Satu hentakan dari Ucup sukses membuat tubuh mereka bersatu. Tak terelakan jeritan Delima menggema di goa itu bersamaan dengan ambruknya tubuh Delima dalam pelukan Ucup.

Dinding kemaluan Delima terasa hangat dan berdenyut-denyut kencang, Ucup sampai tidak bisa merangkai kata untuk menjelaskan bagaimana nikmatnya ketika kemaluannya tenggelam dilorong sempit milik kekasihnya itu. Satu kesimpulan: nikmat!

Delima menitikkan air mata, ia menangis. Tak ada isakan diantara air mata itu, yang ada hanya kenikmatan ketika mendapatkan rangsangan di bawah sana. Ucup menggerakkan pinggulnya, membuat pinggul Delima naik turun di pangkuannya.

Delima bangkit dari posisinya. Sepasang ibu jari menghapus air mata yang tengah menetes dari mata emerald miliknya. Kekasihnya tengah tersenyum, senyum yang entah kenapa membuat Delima salah tingkat.

''Kau tak apa-apakan, Del?'' tanya Ucup khawatir.

''Hmm...'' Delima menarik tubuhnya ke atas, ia dapat melihat darah mengalir dari lubang kemaluannya. Tapi tanpa rasa menyesal, Delima menghujamkan tubuhnya kembali dan menggerakkannya naik turun.

''Ahhhhhhh... Aaahhhhhhh...'' dengan liarnya gadis cantik itu menggeliat di pangkuan kekasihnya.

Ucup mengimbanginya dengan terus mendorong penisnya ke dalam kemaluan Delima. Satu tarikan nafas, satu dorong mehujam kembali lorong basah sang kekasih.

Dunia seakan milik mereka berdua.

Delima membuka matanya.

Gelap.

Ada apa ini, kenapa disekitarnya begitu gelap. Padahal tadi tempat dimana mereka berada masih tersoroti sinar matahari. Tapi yang ada sekarang hanya kegelapan dan kehampaan. Ia menatap sang kekasih yang masih asyik menggenjot kemaluannya. Ucup kelihatan murung. Kenapa?

Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Delima menggapai tubuh Ucup yang menindihnya, tapi... kenapa ia tak bisa menyentuh tubuh itu. Seakan transparan. Tak terasa air mata mengalir deras dari sudut matanya.

''Ucup!'' teriak Delima ketika sosok kekasihnya seakan hilang di telan kegelapan. ''Cup, dimana kau? Kumohon, jangan tinggalkan aku sendirian.'' tangis Delima.

Tak ada balasan, yang ada hanya kegelapan yang membelenggunya.

Delima menyipitkan matanya ketika seberkas cahaya tertangkap indra penglihatannya.

''Delima,''

''...''

''Selamat datang di tempatku, Del.''

Dan semuanya kini gelap.

***

Headline di sebuah koran pagi.

Sepasang anak muda ditemukan meninggal dalam keadaan tubuh yang tak bisa dipisahkan. Sampai berita ini diturunkan pihak rumah sakit belum bisa menemukan cara untuk melepas kemaluan mereka yang tetap menyatu.


2 komentar:

  1. Sereeeemmm amaat ceritanya suhuu..
    Td udah nafsu langsung beku pas endingnya :( :( :( :(

    BalasHapus
  2. Oouuu shit meeen,, ending yg tragis tak terduga. Wow salut gua buat kk iisamu

    BalasHapus