Minggu, 06 Mei 2018

Supter Cruentus Divum

Dengan bersujud dan dengan kepala tertunduk, air mataku mengalir perlahan mencoba menahan kepedihan yang muncul seiring terbenamnya mentari ke peraduan. Coba kuingat doa-doa suci yang dulu biasa kuucapkan kala hari menjelang malam. Doa-doa pembawa ketentraman jiwa dari ketakutan yang mengiringi datangnya malam. Karena malam begitu kejam dan penuh rahasia, doa mendatangkan damai dan mengundang para malaikat pelindung menampakan diri mereka di hadapanku. Menghibur diriku dengan kidung-kidung surgawi yang merdu bagai nyanyian bidadari, harum bagai aroma bunga mawar ketika merekah.

Akan tetapi airmata semakin deras mengalir membasahi pipiku. Getaran yang dahsyat kurasakan merangsang butir-butir keringat dingin keluar dari pori-pori kulitku. Begitu tergoncangnya jiwa ini dalam rasa takut yang amat besar hingga airmata dan keringatku berubah menjadi tetes-tetes darah yang kian lama kian mengental menggantikan aroma wangi mawar dengan bau amis kematian.

Seperti biasanya, aku kembali gagal mengingat doa-doa suci itu. Keremangan terlanjur membisikkan panggilan iblis dalam diriku. Bau amis darah segar terlanjur membiusku hingga nyanyian-nyanyian terkutuk itu terdengar bagaikan simfony merdu yang memabukkan dalam telingaku.

Wake up, wake up, it calls me.
Wake up and celebrate the passing of the light.

Semuanya menjadi gelap, dan semuanya mulai tampak berwarna merah. Ketika itu mulai terjadi, sebelum seluruh nuraniku ditelan oleh kejahatan, kuucapkan satu-satunya doa yang masih teringat. Lalu aku pun menyerahkan diri dengan pasrah ke dalam pelukan malam. Kemana pun aku akan dibawa, dan apapun yang berkuasa atas diriku, hasratku, rasa hausku.

Malam yang semakin larut rupanya tidak mengurangi hiruk-pikuk kota ini. Jalan-jalan tampak masih dipenuhi kendaraan yang lalu-lalang bagai binatang malam memancarkan sinar menyilaukan lewat lampu-lampu mereka. Sudah hampir tengah malam dan aku baru saja bergabung di tengah lalu lintas untuk kembali memuaskan rasa dahaga dan memenuhi panggilanku sebagai mahluk malam.

Sejenak kutatap wajahku lewat kaca spion, memastikan penampilan wajahku malam ini. Sepasang mata bulat dan tajam, tulang pipi yang tinggi serta bibir merahku terlihat begitu sempurna menghiasi wajah indo-persia milikku. Berbeda dengan anggapan banyak manusia fana pada umumnya, cermin dapat memantulkan bayangan mahluk sepertiku. Tersenyum kegelian mengingat anggapan bahwa vampir tidak terlihat lewat cermin sebab alangkah sulitnya buatku untuk bersolek apabila aku tidak dapat melihat bayanganku lewat cermin.

"Hm, mahluk penghisap darah sekalipun menghargai penampilan." begitu kalimat yang tercetus di benakku mengingat anggapan konyol itu.

Silaunya lampu mobil di belakangku mengingatkan bahwa traffic light telah berubah warna hijau yang berarti aku harus segera menjalankan mobilku ini. Kembali menyusuri jalan-jalan ibukota, aku bagaikan seekor serigala yang berjalan mencari domba-domba untuk dimangsa.

Sebenarnya akan lebih mudah buatku apabila aku melakukannya seperti lazimnya diperbuat kebanyakan kaumku. Melayang ringan di kegelapan malam melintasi cahaya rembulan untuk segera menerkam manusia lemah yang bernasib sial. Akan tetapi aku kurang suka cara itu, karena untuk itu aku harus merubah wujud sempurna ini menjadi mahluk malam bersayap yang mengerikan. Amat menyakitkan dan sama sekali tidak indah, pikirku.

Aku ingin selalu berada pada wujud manusiaku. Wujud Famitha yang dikaruniai tubuh semampai lengkap dengan segala lekuk kewanitaan yang banyak didambakan oleh para wanita-wanita fana, apalagi para lelaki mereka. Lucu juga melihat selera manusia yang gampang berubah.

Aku masih ingat bahwa beberapa ratus tahun yang lalu aku selalu merasa rendah diri karena ukuran tubuhku yang langsing dan tinggi justru tidak diminati para lelaki. Dulu simbol kecantikan wanita adalah tubuh yang berisi, pinggul yang lebar serta sifat serba halus yang cenderung lemah terhadap kaum pria. Kini Famitha adalah ratu! dan para lelaki selalu dengan mudah kutaklukkan.

Setidaknya aku tidak khawatir tubuh ini akan berubah karena jasad ini akan tetap dalam keabadian. Terlebih lagi aku tidak perlu repot-repot diet seperti para wanita fana karena lemak dan kolestrol tidak lagi menjadi masalah buatku. Darah segar adalah sumber kehidupan, darah adalah keabadianku!

Restoran fastfood Amerika yang buka 24 jam itu barada di lokasi yang amat strategis untuk menjaring pembeli. Berada satu gedung dengan sebuah kafe besar, sebuah diskotik dan sebuah bar terkenal di Jakarta membuat restoran itu mengkaji tempat rendezvous, makan dan juga ajang mencari pasangan dari insan-insan yang haus akan nafsu jasmani.

Waktu menjelang tengah malam seperti inilah saat yang tepat buatku untuk dengan mudah memilih lelaki yang akan 'menikmati' malam denganku. Entah mengapa rasa haus darah ini selalu muncul bersama hasrat kewanitaanku untuk menikmati kepuasan jasmani sesaat yang tidak pernah membosankan itu. Setidaknya itu merupakan salah satu sifat kemanusiaan yang belum hilang dalam diriku.

Lima menit kulalui ditemani segelas orange juice yang sama sekali tidak kusentuh sambil menebar jaring perangkap bagai seekor laba-laba menunggu lalat terperangkap di dalamnya. Tepat di meja yang berhadapan denganku, dua orang pria ekspatriat tampak bercanda mesra dengan dua orang wanita lokal berpakaian seronok dengan tawa serta kerlingan jalang mereka. Menjual diri demi setetes kenikmatan atau berharap sang ekspatriat jatuh cinta lalu mengawini mereka kemudian mengajak mereka pergi ke negaranya.

Ada juga seorang wanita berusia sekitar empat puluhan ditemani pria muda berbadan gempal yang sesekali melirik kepadaku dengan tatapan bak seorang playboy kelas kakap. Gigolo muda itu sama sekali tidak menarik buatku, lagipula aku tidak ingin mengganggu kesenangan seorang wanita mapan dengan usia mulai senja untuk menikmati apa yang masih tersisa dalam gairahnya sebelum ditelan monopause yang membosankan.

Berikutnya adalah beberapa orang remaja yang duduk tepat di belakangku yang sedang membicarakanku sambil berbisik. Rupanya mereka saling mendorong satu sama lainnya untuk lebih dulu mendekatiku. Kupalingkan wajahku ke arah mereka sambil mengerutkan alis hingga wajah mereka terlihat salah tingkah dan berusaha mengalihkan perhatian.

"Dasar anak kemarin sore." ujarku dalam hati.

Seharusnya mereka bersyukur aku sedang tidak berhasrat dengan 'para pemula', karena dengan demikian hidup mereka tidak berakhir secepat itu. Naluriku selalu tahu apabila ada manusia di sekitarku yang sedang membicarakan atau memperhatikan diriku hingga aku tiba-tiba merasa tidak nyaman karena hawa ruangan itu terasa berubah, dan seketika itu pula aku merasakan kehadiran individu yang berbeda dari kerumunan manusia di sekelilingku.

Kulayangkan pandangan menyapu ruangan restoran itu berusaha mencari individu tersebut, namun tidak kutemukan. Baru ketika kualihkan pandangan keluar jendela kaca yang megelilingi ruangan itu bagai aquarium ke arah luar, tiba-tiba pandanganku terhenti pada sesosok tubuh yang berdiri tegak dan diam bagaikan patung di antara deretan mobil yang parkir di situ.

Tubuh yang memiliki tinggi di atas rata-rata orang Melayu itu terbalut sweater lengan panjang berwarna hitam tepat memandang ke arah tempatku duduk. Senyum hangat itu terlihat kontras dengan tatapan dingin dan mati di wajahnya. Aku mengenal pria itu! Saking terkejutnya, tanganku bergerak refleks hendak melambaikan tangan namun menyenggol gelas di meja hingga orange juice dingin itu tumpah membasahi tanganku.

"Ups!" segera kukembalikan gelas plastik itu dalam posisi semula. Dan setelah membersihkan tangan dengan tissue, aku kembali memalingkan wajah ke arah luar, namun sosok serba hitam itu sudah tidak berada di sana.

"Ave mea solis," suara yang amat kukenal itu berbisik halus tepat di belakang telingaku.

Kupalingkan wajah dengan cepat dan kini sosok berbaju hitam itu sudah duduk di sampingku.

"Ruffus Valerius!"

Sepasang lengan yang kokoh merangkul tubuhku hingga tenggelam dalam dekapan akrabnya. Terasa hangat buat jiwaku sekalipun pada kenyataannya sedingin mayat.

"Famitha-ku yang manis," suaranya menembus ke relung jiwaku yang paling dalam mengisi kesepian yang menderaku selama ini.

Sudah cukup lama aku tidak bertemu dengan sesama mahluk malam hingga perasaan akrab serta-merta membuatku meneteskan air mata.

"Ya, aku juga merasakannya," ucapnya berbisik di telingaku. "Kau kesepian bagai sang rembulan sendiri di kotamu ini."

"Aku senang kau mengunjungiku kawan lama, menjadi vampir seorang diri dikelilingi jutaan manusia terkadang menakutkan. Aku merasa lebih takut pada mereka daripada sebaliknya," ucapku sambil menyeka airmata dingin di pipi yang pucat ini.

"Bukan vampir, manisku, sepertinya kamu justru terbiasa menggunakan istilah manusia itu. Bachae! kau-aku dan semua anak-anak Bachuss adalah Bachae. Jangan biarkan sebutan rendah itu melekat dalam benakmu."

"Hmm.. kau masih tetap seperti dulu, kau tetap Ruffus sang guru yang senantiasa memberikan pencerahan buat anak-anak kegelapan," kataku tersenyum.

Bachae adalah cara kami, kaum abadi-mahluk malam pemuja darah menyebut diri kami. Bachuss adalah bapa sekaligus ibunda yang melahirkan kami dalam keabadian. Vampir adalah sebutan manusia fana buat mahluk macam kami dan Ruffus tidak pernah suka dengan sebutan itu.

"Darah adalah kehidupan kita, adalah takdir dan bukan kekejian apabila kita terpaksa mencicipinya dari manusia. Bukankah takdir yang menentukan semuanya, seperti takdir pula yang membawa aku dan kamu ke dalam perjalanan panjang dalam kegelapan ini?" kata-kata Ruffus itu amat akrab bagiku karena itu merupakan bagian dari doa-doa kudus yang kuikrarkan setiap mentari tenggelam di ufuk barat.

Ruffus adalah seorang Nosferatian, vampir/Bachae pertapa yang merupakan anak-anak dari Nosferatu sang guru agung. Mereka hidup mirip biarawan atau pertapa yang sangat anti terhadap kebudayaan manusia. Mereka sama sekali tidak pernah makan dan minum kecuali darah. Itu pun hanya pada bulan purnama dan kebanyakan darah hewan yang mereka minum.

Nosferatian cuma meminum darah seorang manusia yang benar-benar terpilih buat dijadikan penerus mereka. Oleh karena disiplin ketat itu, kaum Nosferatian memiliki kemampuan supranatural yang melebihi kemampuan yang dimiliki seorang Lestatian sepertiku. Namun aku merasa lebih beruntung menjadi seorang Lestatian. 

Lestatian adalah vampir/Bachae haus darah yang memiliki lebih banyak hasrat manusiawi. Kami amat senang berhubungan dan hidup bersama manusia. Lebih dari itu kami masih menikmati kepuasan cinta dan seks sebagaimana manusia. Oleh karena bapa kami Lestat Ventrue, adalah sang pecinta sejati. Kemiripan kaum Lestatian dan Nosferatian adalah sama-sama penyendiri. Lebih suka hidup terpisah, baik sebagai bachae pertapa maupun bachae pemangsa.

"Ehm.. aku tahu yang kaupikirkan manisku, memang betul kami ibarat fosil yang mengarungi keabadian dalam kebosanan tanpa kenikmatan seperti kaum Lestatian sepertimu. Tapi setidaknya aku amat menyayangimu, sama seperti Nosferatu memberikan kasih abadinya pada Lestat Ventrue. Kasih seorang bapa pada anaknya yang dicintai dan bukan pada si pendurhaka Valkuss yang tega menghabisi ayahnya karena rayuan Drusila, ibunda para jalang," mimik wajah Ruffus berubah menjadi serius tatkala mengucapkan itu.

"Sudahlah Ruffus, kau tahu aku percaya padamu dan akan selalu menyayangimu. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu seperti itu. Aku cuma kagum akan keteguhanmu, kalian kaum Nosferatian bagitu mengabdi pada Bachuss dan itulah mengapa aku selalu merasa tentram bila kau ada di sampingku," ucapku dengan tulus.

"Sudah lebih dari seratus purnama sejak terakhir kali kita berjumpa, kau tentu mengerti bila aku penasaran ingin segera tahu maksud kehadiranmu di khatulistiwa ini," Pria Kaukasia berparas tenang itu kembali tersenyum sambil menggenggam erat tanganku lalu berkata dengan hati-hati,

"Mea Solis, maafkan apabila aku mungkin terdengar seperti terlalu campur tangan dalam perjalananmu menempuh waktu dan kegelapan, namun lupakah kau bahwa sudah hampir empat ratus tahun sejak kau menjadi seorang Bachae? tidakkah kau berhasrat menggunakan hak istimewa yang kau miliki untuk membagi keabadian dan meneruskan keturunan suci sang Lestat, keturunan suci para penuai anggur, penerus warisan sang Bachuss?"

Ucapan Ruffus itu membuatku terpojok dan serba salah. Aku tahu maksud ucapannya itu, dan hal itu jelas membuatku sukar mencari jawabannya. Sebagai seorang Bachae, aku seharusnya bisa dan memang sudah menjadi bagian dari naluriku untuk membagi kesunyian dan keabadian dengan seseorang manusia fana yang kucintai.

Dalam kurun waktu empat ratus tahun memang telah beberapa kali aku berniat melakukan tugas suci itu. Namun entah kenapa selalu saja ada suara dalam hatiku yang membuatku tidak tega melakukannya. Justru semakin aku mencintai seseorang, semakin sukar buatku untuk menularkan kutukan ini. Teringat Romeo, pria malang yang pernah amat kucintai yang dalam waktu singkat telah direnggut oleh kematian dariku. Kubiarkan dia memenuhi takdirnya sebagai manusia fana karena ketidak-mampuanku untuk menjadikannya sama dengan diriku.

Sebagai seorang Nosferatian yang sejak awal menjadi pembimbingku, Ruffus tentunya punya hak untuk mempertanyakan hal itu. Entah mengapa semua kenangan manis dan cinta yang pernah kualami selama beratus tahun mendadak kembali menyelimuti seluruh jiwa ini, membawa kesedihan dan membuat lidahku kelu terkunci oleh kebisuan karena aku tidak punya jawaban atas pertanyaan Ruffus. 

Ruffus jelas menangkap getaran dalam hatiku. Ganggaman tangannya mekin erat dan kharismanya membuatku kembali menatap matanya yang damai itu. "Devia mea solis," ucapnya perlahan. "Via aeternum et devia inretto," bisiknya lagi dengan getaran suara yang terasa membungkus jiwa dinginku ini dengan kehangatan.

'Kesepian' katanya tadi yang kemudian mengingatkanku bahwa 'jalan keabadian berarti terperangkap dalam kesepian dan keterasingan (via aeternum et devia inretto).

"Engkau pasti merasakannya dan itulah kodrat kita. Memberikannya pada orang yang kita cintai memang bukan jalan keluar dari semua itu, namun membuatmu merasa memiliki. Membuatmu merasa memiliki sesuatu yang berharga untuk menempuh perjalananmu dalam keabadian nan gelap ini. Manusia fana berjalan dalam via dolorosa dan kita kaum Bachae memiliki kehormatan menjalaninya selama-lamanya. Belahan jiwa abadi pasti membuatmu semakin dekat pada hakikat itu. Menjadi Bachae bukan suatu kesalahan, telebih dianggap dosa karena itulah jalan-mu, itulah jalanku. Berikanlah kehormatan itu pada manusia fana pilihanmu karena via dolorosa (jalan sengsara) sesungguhnya penuh kehormatan dan mulia. Dan itulah jalan kita anak-anak Bachuss - sang pokok anggur yang sejati."

Maka aku, Famitha sang pemburu, ratu malam yang penuh pesona tiba-tiba merasa kecil dan rapuh. Tiba-tiba aku merasa takut dikelilingi banyak manusia yang seharusnya menjadi buruanku. Memang betul, menjadi seorang predator di antara kerumunan mangsa amat menakutkan. Dan memang aku merasa bahwa rasa 'takut'-ku pada manusia sebenarnya lebih besar dari rasa takut mereka kepadaku. Kubiarkan diriku tenggelam dalam kesedihan karena tiba-tiba aku seperti kehilangan seleraku akan darah manusia malam itu.

Ruffus membiarkanku tenggelam dalam pelukannya seperti seekor anak domba terlelap dalam pelukan gembalanya. Yang jelas malam itu manusia berpesta karena pemangsa mereka sedang dalam kesedihan dan kehilangan dahaganya.

Sorrounded by so many, Yet still I am alone. Time has washed away my face, And all that's left is stone So far am I from heaven, A prisoner of my own coffin. Does anyone remember me? Does no one know my worth?

***

Dua purnama telah berlalu sejak kunjungan terakhir Ruffus Valerius, namun entah mengapa aku masih merasakan kehadirannya. Mungkin karena perasaan bersalah dalam diri ini yang membuat setiap ucapannya senantiasa terngiang di telingaku tiap kali malam menjelang dan perburuanku dimulai. Belum juga kutemukan jawaban atas pertanyaannya dan belum juga kumulai mencari jawaban itu.

Malam ini Famitha kembali melakukan perburuan. Darah segar adalah satu-satunya yang terpikir olehku ketika aku kembali berada di antara calon-calon mangsaku. Terasa bagai dejavu ketika aku duduk di kursi dan meja yang sama di tempat yang sama ketika dua purnama lalu bertemu dengan Ruffus. Bahkan aku baru sadar kalau dandananku malam ini tepat sama dengan yang kukenakan ketika Ruffus terakhir kali mengunjungiku. Tanpa sadar aku melemparkan pandanganku ke arah tempat parkir di mana Ruffus terlihat ketika itu. Kali ini tanganku menggenggam erat gelas juice di atas meja agar tidak tumpah seperti saat itu. Naluriku tidak menangkap kehadirannya walaupun hatiku merasakannya dekat sekali.

"Ah, aku mungkin terlalu berharap atau terlalu merasa bersalah."

Restoran fast food yang buka 24 jam ini memang tidak pernah sepi pengunjung. Mungkin telah puluhan kali aku berada di sini dan sepertinya tempat ini telah menjadi ajang perburuanku. Praktis dan menyenangkan buatku karena di sini aku dengan bebas memilih pria yang memenuhi keinginan hasratku.

Malam ini juga tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Para manusia pecandu nightlife lalu lalang dengan dandanan beraneka macam coba tampil semenarik mungkin. Beberapa di antaranya bahkan sudah aku hafal betul dan mungkin sebagian dari mereka juga sudah hafal denganku. Famitha yang cantik dan selalu mempesona. Belum satu pun pria yang cukup menggoda seleraku malam ini, malah sebaliknya perhatianku justru terpusat pada seorang gadis yang sejak setengah jam tadi tampak duduk dengan gelisah di salah satu pojok ruangan.

Dia sendirian dan cantik oleh paras polosnya yang dilapisi make-up. Jelas bukan kecantikannya yang membuatku tertarik akan tetapi sorot matanya. Sorot mata itu jelas menampakkan rasa takut, cemas dan gelisah. Sesekali dia melemparkan pandangannya ke sekeliling dengan penuh kecemasan. Dia seperti menantikan seseorang atau mungkin malah menghindari seseorang.

Makin lama kuperhatikan, aku merasa bahwa dia juga sesekali menatapku. Tiap kali pandangan kami bertemu, dia segera memalingkan wajahnya. Tiba-tiba aku merasa kenyamananku terusik. Dia juga sedang memperhatikanku! Kunyalakan sebatang rokok untuk mengusir perasaan risih dan coba terlihat se-manusiawi mungkin.

Lima menit kemudian gadis itu tiba-tiba berdiri dengan sikap amat gugup ketika tiga orang lelaki berbadan tegap memasuki restoran ini dengan langkah yang pongah. Mereka terlihat saling berbicara satu dengan lainnya tepat di depan pintu masuk. Naluriku terpancing, dapat kudengar degup jantung gadis itu berpacu cepat dari sini dan bersamaan dengan itu, indra ke-enamku sebagai seorang bachae, membuatku dapat mendengar apa yang dibicarakan tiga pria itu.

"Ron, kamu yakin perempuan pelacur itu ada di sini?"

"Iya aku yakin.. dia tidak punya pilihan lain karena memang dia tidak punya siapa-siapa di kota ini".

"Perempuan pecandu itu sudah bilang kalau dia akan kembali lagi, karena kalau tidak boss sudah mengancam akan mengadukannya sebagai pembunuh Dedy, pacarnya."

Seorang dari mereka terlihat menunjuk ke arah gadis itu. "Hey, itu dia! Biar aku seret sekarang juga!"

"Ssst.. tidak usah memakai jalan kekerasan. Dia tidak akan lari kemana-mana. Dia kesini memang untuk menyerahkan diri."

Saat itu terdengar bunyi ponsel dan pria yang dipanggil Ron itu menjawab telepon itu. Dengan jelas kudengar suara yang samar-samar muncul dari ponsel itu.

"Gimana, sudah ketemu?"

"Sudah boss, Dara memang ada di sini.. sebentar lagi kita akan bawa kesana."

"Ok, saya tunggu. Jangan lama-lama, paksa kalau perlu. Soalnya dia sudah di booking sama salah satu klien kita."

Ponsel ditutup namun bersamaan dengan itu gadis bernama Dara tadi bergegas masuk ke dalam toilet.

Sebelum menutup pintu toilet, gadis malang itu masih sempat menatapku. Tatapannya penuh ketakutan dan kegelisahan, tatapan khas dari mangsa yang sudah terkepung oleh para pemangsanya. Bukan aku pemangsanya kali ini melainkan ketiga pria tadi, dan gadis itu menatapku seperti ingin berkata, 'Tolong aku'.

Ketiga pria itu melangkah tergesa ke arah pintu toilet wanita di ujung ruangan memburu gadis malang itu.

"Tunggu sekitar lima menit saja, mungkin dia benar mau ke toilet. Lagipula tidak ada jalan keluar lain dari situ," ucap salah seorang pria itu.

Terjadi pergulatan dalam batin ini menyaksikan drama yang tengah berlangsung tepat di hadapanku.

Ternyata Famitha bukanlah satu-satunya pemburu malam ini dan ternyata ada seorang manusia fana yang justru memohon pertolonganku. Rasa haus darahku sejenak lenyap dan digantikan perasaan aneh yang asing buatku, rasa iba. Rasa kewanitaanku muncul ketika wajah dan tatapan putus asa gadis itu terlintas dia mataku. Batinku kembali bergolak dan kesadaranku berperang menentukan pilihan. Rupanya malam ini sang rembulan memberiku jalan yang lain. Rupanya malam ini sang pemangsa harus menjadi sang penolong.

Aku berdiri dan bergegas menuju ke toilet di mana gadis tadi berada. Dalam perjalanan, aku sempat bersenggolan dengan salah seorang dari ketiga pria itu. Sorot mata penuh amarah mereka mengikuti setiap ketukan hak sepatuku menuju toilet. Dalam toilet sesosok tubuh ramping terlihat berdiri kaku bagai mayat hidup. Gadis itu tampak linglung karena putus asa. Dia tersentak kaget ketika aku membuka pintu namun tatapannya berubah penuh harap melihat kehadiranku di situ. Dia seperti ingin berkata atau meminta tolong padaku namun sesuatu mengganjal lidahnya.

"Jangan takut, aku Famitha," itulah kalimat yang muncul dari mulutku dan seketika hangat darahnya seperti kembali mengalir ke sekujur tubuh pucatnya.

Dia hanya mengangguk tanpa dapat berucap. Dia hanya mengiyakan apa yang baru saja kukatakan tanpa bertanya. Dia percaya padaku dan menyerahkan nasibnya padaku, kepada Famitha sang pemangsa. Aku sendiri masih belum yakin dengan apa yang akan kulakukan, tapi naluriku bekerja lebih cepat dari logika.

Kuraih tangannya dan segera kutuntun keluar dari toilet itu. "Ikut aku, Dara."

Ketiga pria itu menatapku penuh kecurigaan ketika aku keluar dari toilet sambil menggandeng tangan gadis yang jadi buruan mereka. "Hey, Dara! Cepat ikut dengan kami, boss sudah menunggu kamu!" kata salah satunya.

"Siapa kalian! Ada urusan apa dengan Dara!" balasku menghardik.

Pria yang dipanggil 'Ron' tadi maju mendekat hingga wajahnya kurang dari sejengkal dari wajahku. Matanya liar menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Siapa kamu? Apa urusan kamu dengan dia?" ucapnya sinis.

"Dara sekarang bekerja dengan saya. Apabila kalian punya urusan dengan dia, harus lewat saya," suaraku meninggi menantang mereka. Kurasakan kemarahan dan ketidak sabaran pria itu memuncak.

"Aku tidak ada urusan sama kamu, jangan cari masalah!" ucapnya kasar coba merenggut tangan Dara dari genggamanku.

Aku bereaksi lebih cepat dari gerak lamban manusia fana manapun. "Eh, maaf Bung, siapapun kalian harus melewati aku dulu. Dara bekerja padaku dan kalian tidak bisa sembarangan." Telapak tanganku menahan gerak maju pria itu sekaligus menyebarkan rangsangan kewanitaan yang amat kuat di bagian dadanya.

Jantung pria itu seketika berdesir dan geraknya terhenti oleh sentuhan lembutku. Dia menatapku lagi. Kali ini dengan tatapan bingung dan penuh keinginan. Kedua rekannya hendak bergerak maju namun ditahannya. "Tunggu dulu, biar aku hubungi boss lagi."

Dia pun segera menghubungi pria yang dipanggil 'boss' itu lewat ponsel-nya. Apa yang kulakukan mungkin dipandang bodoh dan naif oleh sesamaku. Mencampuri urusan mahluk fana dan mengesampingkan panggilan dari rasa hausku.

Terbayang olehku yang akan dikatakan Ruffus tentang apa yang sedang kulakukan. Mungkin aku akan semakin mengecewakannya, bahkan mungkin Ruffus sendiri akan putus asa membimbingku. Menolong manusia oleh karena dorongan rasa iba adalah sesuatu yang sukar ditolerir. Akan tetapi aku merasa punya cukup alasan melakukannya. Aku yakin segala sesuatunya berjalan sesuai takdirku. Malam kadang bertindak penuh misteri membimbing anak-anaknya ke jalan yang penuh tanda tanya. Sama seperti perasaan hatiku ketika memasuki sebuah rumah megah untuk menemui seorang yang kuanggap jauh lebih berdosa dan lebih berbahaya dari penghisap darah seperti diriku.

Manusia yang akan kutemui adalah seorang yang dipanggil 'boss' oleh anak buahnya, seorang yang amat ditakuti oleh gadis malang bernama Dara, dan terlebih lagi adalah seorang yang dari suaranya saja kurasakan kejahatan dan ketamakan melebihi apa yang ada dalam diriku sendiri. Kejahatan apa yang dilakukannya hingga sesamanya begitu takut padanya?

***

Dara adalah gadis manis yang polos di balik dandanan dan make up tebal di wajahnya. Dia bertubuh langsing dan sangat menarik, ditambah usianya yang belum lagi dua puluh tahun. Malang sekali nasib gadis ini, pikirku. Dalam kemudaannya dia telah direnggut oleh kebiadaban dan mahkotanya telah dihargai begitu rendah di luar keinginannya. Dalam hati aku sebenarnya terkejut dapat berpikir seperti itu. Mungkin Ruffus benar, aku sebagai kaum Lestatian terbiasa hidup dalam dunia manusia fana. Saking terbiasanya aku mulai berpikir dan bertindak seperti mereka.

Aku dan Dara diperintahkan untuk menunggu di ruang utama rumah itu yang sangat mewah dengan perabotan antik berharga mahal. Sebuah lampu kristal besar menambah keangkuhan ruangan itu seperti menggambarkan karakter pemiliknya. Dingin dan kosong terasa dalam hati. Entah apa yang sedang dirasakan Dara saat itu, namun ekspresi wajahnya kembali tegang dan penuh ketakutan ketika terdengar langkah-langkah seorang pria menuruni tangga tepat di depan kami. Tangan lembut milik Dara menggenggam tanganku makin erat ketika tuan rumah, sang 'boss' muncul dari atas tangga. Darahku berdesir ketika pertama kali menatap wajahnya. Ingin segera kusudahi drama ini agar aku dapat terbebas dari kecongkakan yang memuakkan ini.

Pria itu berusia di awal tiga puluh dan berwajah cukup tampan. Tubuhnya yang tinggi dibalut kemeja sutra dan pada jari dan lehernya melingkar cincin dan kalung emas yang mencolok. Pria ini terlihat amat pesolek dengan wajah dingin dan sadis. Pria itu berhenti selangkah di depanku, pandangannya seolah menelanjangiku ditambah seringai culas di wajahnya. Dia kemudian berjalan mengelilingiku memuaskan matanya dengan menjelajahi seluruh tubuhku. Kurasakan sepasang taringku mulai tumbuh dalam mulut ini dirangsang oleh kemarahan, akan tetapi masih dapat kukendalikan hingga kembali normal.

Puas denganku, pria itu melemparkan pandangannya ke arah Dara yang berdiri merapat kepadaku seperti seorang gadis kecil yang minta perlindungan. Pria itu menatapnya penuh hina dengan senyum sinis yang menistakan.

"Hmm, jadi kau sudah punya majikan baru sekarang," suaranya dingin menghardik Dara. "Bisa kulihat bagaimana kau merasa dekat dengannya, bahkan bau kalian sama.. sama-sama bau pelacur!"

Mataku melotot ke arahnya penuh kegeraman, dia merasakan itu akan tetapi tidak dihiraukannya. Pria seperti dia terbiasa merasa memiliki semua wanita yang dikehendakinya.

"Hai, siapapun anda.. anda tidak punya hak apapun atas diri gadis ini. Dia sekarang bekerja untukku dan untuk itu segala sesuatu tentang dirinya adalah tanggung jawabku!" 

Suaraku rupanya memancing amarahnya. Segera dia menghampiriku dan menatapku penuh intimidasi sambil tangannya menyentuh daguku dengan kasar. "Perempuan, siapa kamu hingga merasa bisa seenaknya mengambil sesuatu yang menjadi milikku?"

Dia mangangkat daguku penuh pelecehan, namun Famitha sang pemangsa masih ingin memainkan drama ini. "Lepaskan tangan kotormu itu dari wajahku atau kau akan merasakan akibatnya!" 

Ucapanku ditanggapinya dengan senyum penuh ejekan. Tangannya dilepaskan dari daguku lalu barkata, "Aha, perempuan ini rupanya punya nyali juga. Jarang sekali perempuan berani menantangku seperti ini, sebutkan siapa namamu?"

"Namaku Famitha dan saya tidak peduli siapa anda, saya tidak bisa menerima perlakuan ini. Apabila anda menggunakan kekerasan, saya juga bisa melakukannya pada anda!"

Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalaku. Sebuah rencana yang menarik buatku untuk memainkan drama ini. Menarik sekali buat seorang pemangsa seperti diriku berada dalam konflik manusia-manusia fana yang sedang dipenuhi hawa nafsu.

"Wah! Perempuan jalang ini mengancamku. Aha, kalau begitu maafkan kelancanganku ini. Namaku Jimmy, orang mengenalku sebagai Papa Jim. Aku adalah pengusaha, dan gadis itu adalah salah satu asset perusahaanku. Ehm, sebelum diambil alih olehmu tentunya," nada suaranya berubah.

Sepertinya dia juga sudah mulai menikmati drama ini. Jelas sekali dia menyembunyikan minat sesungguhnya. Sesuatu yang sudah diantisipasi olehku.

"Sepertinya aku mengerti maksudmu. Aku tahu kalau kau juga seprofesi denganku, dan oleh karena itu anggap saja suatu kehormatan apabila aku punya sebuah penawaran padamu malam ini."

"Hmm.. aku lebih senang begitu. Aku juga seorang pengusaha dan karena itu aku selalu terbuka untuk segala macam penawaran," aku tersenyum menebar pesona dan keanggunanku di hadapannya.

Pria berjulukan Papa Jim itu membalas senyumanku lalu berkata lembut, "Bagus kalau begitu, sekarang mari ikut aku. Kita bicarakan itu di ruang kerjaku supaya lebih nyaman."

Aku melepaskan genggaman tangan Dara sambil berkata, "Kamu tunggu saja di sini dan jangan takut karena aku tidak akan jauh darimu."

Ucapanku itu rupanya tidak dapat menenangkannya, karena Dara terlihat masih ketakutan. Dia mendekatiku lalu berbisik dengan suara gemetar, "Ja-jangan percaya padanya, D-dia terlalu licik dan dia pasti punya rencana jahat padamu... juga aku..."

"Percayalah padaku," sahutku menyela.

Dara tidak sanggup meneruskan lagi ucapannya karena pesonaku menyelimuti pandangannya hingga dia menuruti keinginanku.

Kutinggalkan dia masih duduk di atas sofa kulit itu penuh kecemasan dikelilingi tiga orang anak buah Papa Jim. Dara khawatir sesuatu yang buruk terjadi padaku, namun sebenarnya apa yang dapat menyakitiku? Sebagai makhluk abadi, aku tidak memiliki pemangsa, sebaliknya aku merasa dapat menemukan semua kebutuhanku malam ini sekaligus.

Kebencianku pada pria-pria di sini semakin membangkitkan seleraku untuk segera menguras habis darah mereka. Akan tetapi sebelum itu aku memiliki rencana lain untuk memuaskan gairah seksualku yang bangkit seiring rasa dahagaku. Begitu aku selesai dengan mereka semua, maka Dara juga akan bebas dari ketakutan.

Menolong gadis malang itu adalah alasan utamaku ke sini. Aku pun mengikuti langkah pria gemuk itu menuju sebuah ruangan lain diikuti tatapan penuh hasrat dari tiga orang anak buahnya yang sudah terbius oleh pesona Famitha sang dewi malam. Aku mengikuti Jimmy memasuki ruang kerjanya yang cukup luas dengan interior klasik yang terkesan amat mewah.

Ruangan itu didominasi warna emas dengan furniture yang semuanya hand-made. Aku kemudian duduk berhadapan dengannya dipisahkan meja kerja yang besar berbentuk oval yang amat artistik. Sayang sekali pemandangan pria gendut di seberang meja itu jauh dari kesan artistik dan klasik dari meja itu. Jaket pendek berbahan sifon yang kukenakan sengaja kulepas di hadapannya sebelum aku duduk. Kini tubuhku lebih terbuka dengan halter neck warna ungu yang membalut tubuhku hingga siluet payudaraku tercetak indah di permukaannya.

Pria gembrot yang biasa dipanggil Papa Jim itu menatapku dengan dingin namun penuh hasrat. Dia kemudian menyalakan rokok yang kemudian dihisapnya melalui filter panjangnya. Tatap matanya kini tertuju pada bagian dadaku yang menyembul membentuk pemandangan yang cukup membuat jakunnya turun naik beberapa kali.

"Nah Jimmy, aku kemari bukan untuk kau jadikan tontonan kan? sudah saatnya kita bicarakan penawaranmu tadi," suaraku membuyarkan fantasy bejat yang sempat menggumpal di benaknya.

"Ehm, panggil aku Papa Jim," jawabnya menjengkelkan.

Aku berusaha tampil dengan feminitas manusia-ku walaupun rasa haus ini kian merongrong kerongkonganku yang makin terasa kering. "Baiklah Papa Jim, waktuku terbatas jadi segera kita bicarakan penawaranmu atau aku segera membawa Dara pergi dari sini," jawabku sedikit ketus.

Pria gendut di depanku tersenyum culas lalu berkata sambil menyembulkan asap rokoknya. "Aku heran, kenapa kamu tertarik mempekerjakan seorang pecandu seperti Dara?"

"Tentunya aku melihat potensi dalam dirinya yang bisa kukembangkan hingga mendatangkan keuntungan buatku."

"Ah, potensi! Itulah persamaan kita berdua. Hanya saja kau melihat potensi dalam dirinya sedangkan aku hanya melihat potensi pasar saja. Sifat feminim yang sensitif itu tidak akan membuatmu berhasil dalam bisnis ini, Famitha. Maafkan kelancanganku bila aku justru berpendapat bahwa wanita secantik kamu lebih bisa mendapat keuntungan apabila menjadi asset bisnis dibanding pemilik bisnis seperti ini."

Iblis dalam batinku meronta mendengar ucapan itu. Ingin rasanya aku menarik keluar lidahnya hingga putus, namun kupendam jati diriku sebenarnya dan membiarkan sisi feminim-ku yang bereaksi. Pipiku memerah sebagai respon dari rasa marahku padanya. Kubiarkan sentimen kewanitaanku jelas terbaca olehnya hingga dia merasa superior dan berkuasa atas diriku.

"Ah, Famitha, kau masih terlalu polos dalam bisnis ini. Sekali lagi maafkan kata-kataku tadi. Hmm.. sudahlah kini kita langsung ke pokok pembicaraan," Jimmy kembali menghisap rokoknya lalu dihembuskan ke arahku sambil melanjutkan, "Aku sebenarnya sudah tidak memerlukan gadis itu, tapi bagaimanapun dia adalah assetku, jadi kau tidak bisa mengambilnya begitu saja."

"Sebutkan harganya, berapapun aku sanggup bayar," jawabku.

Jimmy menggeleng sambil tersenyum mengejek, "Heh, aku tidak perlu uangmu. Bisnisku jauh lebih besar dari bisnis eceran macam kamu dan asset-assetku berjumlah banyak. Simpan saja uangmu untuk membiayai rehabilitasi barang inferior yang sudah aus itu."

Kini makin jelas karakter pria rakus di depanku itu. Arogan, licik, penuh hawa nafsu dan gemar mempermainkan perasaan. Suatu kombinasi yang menjijikkan sekaligus merangsang hasratku untuk memangsanya. Aku berusaha menahan diri. Aku masih ingin memainkan peran fana ini lebih lama lagi. Nasibnya jelas berada di tanganku dan akan lebih menyenangkan mempermainkannya lebih dahulu.

"Jangan terus mempermainkan aku, Papa Jim, Sebut saja keinginanmu dan akan kupenuhi asal Dara bisa keluar dari bisnis busukmu ini!"

"Heh.. kau memang tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi tawaranku apabila masih ingin membawanya."

"Cukup! Apa yang kau inginkan dariku?"

Jimmy sedikit memajukan posisi duduknya dan mendekatkan wajahnya ke arahku, kemudian berkata datar, "Tubuhmu."

Seketika hasratku berpesta karena permainanku mulai mencapai bagian yang menyenangkan. "Aku juga." jawabku dalam hati karena libidoku meningkat seiring rasa haus darahku.

Tapi aku sengaja berdiam diri dan memberi kesan terkejut. "Kau memang licik, Papa Jim, selain rakus kau juga gemar menaklukan setiap wanita yang kau inginkan."

"Hahaha, kau mulai mengerti kan hukum dari bisnis ini. Yang memiliki banyak, mendapatkan banyak. Yang menang mendapatkan semua, yang kalah mendapatkan nista," ucapnya penuh kemenangan. "Kalau kau pikir dengan membawa Dara dariku kau sudah menang, maka aku akan memberikan kemenangan itu padamu, setelah aku mengambil semuanya darimu, kau akan keluar dari sini dengannya sebagai dua orang pelacur yang sudah tidak terpakai lagi."

Ucapan itu begitu tajam dan menyakiti perasaanku sebagai seorang wanita. Kini baru aku paham dualisme yang kuhadapi sebagai seorang Lestatian. Berinteraksi dengan manusia berarti merasakan sisa-sisa sifat natural manusia yang berada dalam diriku. Sisi luarku merasa terhina dan amat dinista oleh ucapan itu sementara naluriku sebagai pemangsa justru ter-stimulasi dengan ucapannya itu.

"Bagaimana?" ucapnya sambil mengetukkan jarinya di atas meja.

Aku pun segera bangkit diikuti pandangan Jimmy yang penuh tanda tanya. Kelenjar-kelenjar hormon di tubuh mati ini bekerja secara abnormal membuat rangsangan sendiri bagi tubuhku hingga gelombang kenikmatan merayap di seluruh permukaan kulitku. Wajahku penuh ekspresi sensual hingga tatapan penuh selidik itu berubah menjadi pandangan penuh nafsu dan minat. Jimmy menatap seperti ingin menelanku bulat-bulat hingga desah napasnya mulai memburu ketika aku, Famitha sang pemangsa merentangkan sayap pesona dan seksualitas di hadapannya.

"Baiklah, Papa Jim, nikmati apa yang bisa kau nikmati dariku."

Senyuman culas itu kembali menghiasi wajah bulatnya yang menjengkelkan. Aku pun tersenyum karena bagiku itu adalah wajah orang mati. Tubuhku adalah khayalan semua lelaki dan napasku adalah hasrat dan nafsu para penyembah libido. Aku adalah ratu dan Jimmy adalah budakku.

Tubuh semampai ini, lekuk kewanitaan ini, kaki yang jenjang, jemari yang lentik, payudara yang indah serta senyum di wajah bidadari ini adalah rantai dan pasung yang membelenggunya. Libido yang disembah lelaki busuk ini sudah memerintahkannya untuk takluk padaku. Sedangkan liang kewanitaanku menyebar aroma yang membius dan memancarkan gairah yang didambakan olehnya.

Bagai seekor kucing liar aku menaiki meja oval di depanku. Sepasang hak sepatuku bagai cakar tajam mencengkeram kuat di atasnya. Aku berjongkok hingga celana panjang ketat yang kukenakan menampilkan cetakan daerah pubisku di bagian selangkangan. Papa Jim menganga bagai seekor primata dari balik kerangkeng hawa nafsunya sendiri. Kudorong tubuh gembrot itu hingga tersandar di kursinya. Masih sempat dia tersenyum bak raja iblis dari singgasana neraka.

Jemari lentikku menari dengan lincah melepaskan kancing bajunya satu demi satu. Sangat cepat namun halus tanpa merusak kemeja mahalnya. Masih dalam posisi berjongkok di atas meja, kuulurkan kedua tanganku ke depan hingga tubuhku bertumpu pada sandaran kursinya, singgasana raja iblis itu. Pembuluh nadi di lehernya tenggelam oleh lapisan lemak yang membuatnya seperti seekor orangutan gemuk. Kujilati lehernya hingga dia kegelian, kujilati ke bagian dada hingga aroma parfum mahalnya tenggelam oleh peluh kenikmatan yang mengucur kian deras.

"Haah, nikmatnya," dia berkata pada dirinya sendiri. Dia pasti puas dilayani oleh sang hawa birahi Famitha yang penuh pesona. 

Kukecup puting kasar yang ditumbuhi bulu-bulu dada itu. Pria berlemak ini dadanya lebih mirip payudara kendor daripada dada bidang yang maskulin. Kuhisap hingga dia merintih bagai seekor kambing yang sedang disembelih. Kering dan buruk! Aku kini dalam posisi merangkak mirip seekor rusa yang sedang minum di tepi sungai ketika kulepaskan ikat pinggangngya.

Tubuhku merangkak kian rendah ketika kubuka retsleting dan celana dalamnya. Kejantanan Papa Jim menyeruak dari balik celana dalam seolah tersenyum tepat di depan wajahku. Aroma laki-laki tercium kuat di hidungku dan liurku tidak tertahan memenuhi mulut mungil ini ketika penis yang tidak lebih besar dari sosis itu mencapai ereksi maksimalnya. Bibirku yang basah segera membungkusnya, mengulum dengan penuh selera hingga mulutku terasa penuh olehnya.

Aku merangkak di atas bagai seekor rusa, namun aku minum dari sungai hawa nafsu. Dapat kudengar suara deras alirannya ketika mulutku semakin kuat menghimpit dan menghisap kemaluan Papa Jim. Suara air yang deras itu berasal dari deru napas pria gendut yang terdengar seru bak kuda pacuan. Perut buncitnya memang cukup menghalangiku, namun tidak dapat menghalangi syahwat Papa Jim yang telah mencapai puncaknya. Rambutku dicengkeram kuat olehnya ketika lidahku berhasil membawanya ke surga.

"Ahh.. ahh..!" seru 'raja iblis' itu ketika lidah liar milikku berhasil membuatnya menjebol pintu surga.

Seketika mulutku dipenuhi cairan putih yang kental dari penis yang kini telah lunglai sehabis melakukan tugasnya. Aku pun kembali berjongkok seperti seekor burung nazar yang habis melahap bangkai. Kulepaskan senyuman dari bibir yang masih penuh lelehan sperma, kemudian menciumnya penuh hasrat. Lidah Papa Jim dengan rakus menjulur menjelajah ke dalam mulutku. Lidahku dikulumnya dengan rakus dan setelah puas dia mendorongku hingga terduduk di atas meja oval itu.

"Luar biasa heh, lumayan juga untuk seorang pelacur baru, hehehe.." dia tertawa seperti kambing, kering dan buruk. Mulutnya masih megap-megap karena napasnya masih memburu. Kini dia tersenyum penuh kemenangan.

Aku menyeringai dan menatapnya jijik karena di bibir dan kumisnya kini dipenuhi lelehan spermanya sendiri setelah menciumku. Papa Jim masih tersenyum menatapku sambil membersihkan sisa-sisa spermanya sendiri di sekitar mulutnya.

"Bagimana? Puas?" tanyaku padanya.

Sebenarnya aku sudah tahu apa jawabnya kerena pandangan mata itu masih penuh gairah dan hasrat. Organ tubuhnya memang sudah lebih dulu lemah, tapi nafsu besarnya belum surut. Papa Jim menggerakan jari telunjuknya menandakan bahwa dia belum selesai denganku.

"Hmm, tidak secepat itu pelacur, aku masih ingin menyaksikan tubuh indahmu ditunggangi seperti seekor kuda binal oleh salah satu anak buahku." Papa Jim mengaktifkan interkom yang terletak di mejanya lalu memberi instruksi singkat, "Ron, cepat masuk kemari!"

Sesaat kemudian pria yang dipanggil 'Ron' itu melangkah masuk dengan gagah. Wajahnya menatapku penuh selera seperti melihat hidangan malamnya yang tergolek di atas meja.

"Ayo, sekarang kau boleh makan dari meja majikanmu," 

Perintah Papa Jim segera ditanggapinya. Dalam waktu singkat tubuh tinggi kekar itu sudah menurunkan celananya hingga siluet penis yang cukup besar tercetak di atas permukaan celana dalamnya. Aku kembali dilanda ekstasi akan birahi ketika suara sungai hawa nafsu terdengar lagi menderu di telingaku. Gelombang dan arus derasnya juga terbias di wajah pria muda yang sebentar lagi bakal menikmati tubuhku. Aku memandangnya penuh hasrat sambil tersenyum karena aku kini sedang menatap satu lagi wajah orang mati.

Tubuhku ditariknya turun dari atas meja, kemudian dia memutar tubuhku membelakanginya. Sentuhan lidahnya tiba-tiba kurasakan menjilati tengkuk dan leherku hingga diriku kembali dibakar gairah. Aku tidak sempat menikmati perasaan geli di leherku cukup lama, karena mendadak tubuhku didorongnya hingga nyaris terhempas di atas permukaan meja. Kedua tanganku menopang tubuh yang sempat menempel di permukaan meja itu. Dengan gerakan yang cepat, pria di belakangku menurunkan celana dan G-string yang kukenakan hingga dinginnya AC dapat kurasakan di kulit bagian bawah pinggangku. Aku memejamkan mata menantikan kejantanan pria itu memasuki liang kenikmatanku yang mulai menebar aroma cinta dan nafsu.

"Perbuatlah sesukamu Ron, buat perempuan jalang ini menjerit!" kata Papa Jim dengan suaranya yang mulai serak sambil coba untuk membangkitkan kembali penisnya yang masih lemas.

Betul, perbuatlah sesukamu manusia malang, sebab akan ada saatnya bagianku melakukan itu padamu, demikian suara batinku dalam kehausan yang kian merongrong.

Sepuluh menit berikutnya, aku sudah berada di awang-awang, terhanyut dalam arus deras sungai hawa nafsu ketika kejantanan yang kokoh milik pria bernama Ron itu menembus bibir vaginaku hingga memenuhi dinding dalamnya. Sepuluh menit dalam perjalanan penuh liku dan gairah, berkelok-kelok mengikuti alur sungai yang senantiasa membuat tubuhku mengejang tiap kali dorongan lelaki itu menciptakan gelombang kenikmatan yang menghantam hingga kepalaku. Dia benar-benar menunggangiku, aku dan dia bagai sepasang anjing liar yang sedang kawin.

Di sampingku Papa Jim beberapa kali mengerang sendiri menikmati pertunjukan hawa nafsu sambil onani. Sepasang tanganku yang menahan tubuh di atas meja meninggalkan bekas cakaran di permukaan kayu mahalnya. Aku bagai kucing liar yang meraung-raung sambil tetap menyodorkan pusat kewanitaanku untuk berkali-kali diguncangkan oleh kekuatan maskulin yang dahsyat dari batang kejantanan kokoh yang bersarang di dalamnya. Permainan gairah yang penuh hasrat itu akhirnya berakhir ketika sungai hawa nafsu mencapai muaranya.

Saat itu dapat kurasakan seluruh kenikmatan dan kejahatan dalam ruangan itu seakan bersatu dan terkumpul di ujung penis yang sedang menghujam tubuhku dalam usahanya yang paling akhir. Dunia menjadi samar dan ribuan peri tempak bernyanyi mengelilingiku ketika cairan sperma lelaki yang jadi budak nafsukku menyembur bersatu dengan lelehan kenikmatan yang membanjiri liang vagina yang sudah berumur ratusan tahun milikku ini. Orgasme menyerbu dan menyelubungi setiap sel dari mahluk malam seperti diriku.

"Uuuhh..!" aku menjerit, entah melenguh atau bahkan melolong bak serigala lapar disahuti oleh erangan jantan seekor kuda pacu yang telah mencapai finish.

Dua orang pria dibius ejakulasi sementara seorang bachae tenggelam dalam orgasme di muara sungai yang bernama hawa nafsu. Kenikmatan itu begitu nikmat menjalar bagai sengatan listrik mulai dari kedalaman kemaluanku hingga keujung-ujung jari, bahkan menusuk ke dalam otakku.

Tubuhku rebah menelungkup di atas meja dan selama beberapa saat anak buah Papa Jim yang bernama Ron itu menindihku dari belakang, kelelahan setelah membanjiri vaginaku dengan spermanya. Kurasakan penisnya masih bercokol menyumbat kemaluanku hingga ukurannya kembali mengecil sebelum dicabutnya. Napasku masih memburu berpacu dengan desah napas dua orang lelaki yang baru saja mencapai puncak kenikmatan bersamaan denganku. Sempat kurasakan lidah pria itu menjilati butiran keringat di belakang leherku sebelum dia kembali menegakkan badannya dan menarik keluar pilar kejantanannya dari dalam liang senggamaku yang sudah basah hingga cairan spermanya terasa keluar mengalir hingga pahaku.

Kubalikkan tubuh ini, lalu sambil bersandar di meja kubersihkan sisa-sisa sperma itu dengan tissue, lalu mengenakan pakaianku lagi. Kali ini tatapanku beradu dengan sorot mata Papa Jim yang tampak memandangku hina dan congkak. Senyum culas tersungging dari mulutnya melihat wanita yang berhasil ditaklukkannya dengan cara nista.

"Nah pelacur, kini kau boleh pergi bersama barang dagangan barumu.. hehehe... itu pun kalau masih bisa dipakai mengingat anak buahku yang lain sudah menyuntikkan morfin dosis tinggi padanya ketika kamu tadi sedang dibuat menggelepar keenakan oleh si Ron!"

Tiba-tiba benakku dibayangi sesuatu yang menakutkan, Dara!

Ketika aku tadi memuaskan nafsu sex-ku dengan pria bernama Ron itu, rupanya Papa Jim licik dan melakukan sesuatu yang buruk pada gadis yang seharusnya kulindungi. Segera aku melangkah dengan tergesa meninggalkan Papa Jim yang membiarkanku keluar ruangan sambil memperdengarkan suara tawanya yang menjijikan itu. Serigala dalam batin ini kembali menggeliat. Alangkah terkejutnya aku ketika mendapati Dara terbujur lunglai di atas sofa dengan mulut mulai berbusa. Tubuhnya terlihat kejang-kejang dan wajah polosnya itu tampak pucat. Sebuah suntikan yang sudah kosong isinya terlihat berada dalam genggaman seorang anak buah Papa Jim yang berdiri di sampingnya.

"Dara..!" aku berseru sambil berlari menghampirinya. Entah kenapa ada suatu naluri dalam diriku yang merasa begitu bersalah karena meninggalkannya. Perasaan itu amat asing buatku dan membuatku terkejut sendiri akan 'kemanusiaan' yang sekejap melandaku. Kupeluk dan kuletakkan dia di atas pangkuanku sambil berusaha menyadarkannya.

"Dara, Dara..! Ja-jangan takut, aku ada di sini.. Dara, kau dengar aku khan, kamu harus dengar aku.. kita pergi dari sini!"

Kurasakan denyut nadinya melemah dan napasnya mulai tercekik. Aku bingung akan semuanya, aku heran akan drama yang tadinya kumainkan dengan penuh kesenangan berubah manjadi rasa cemas dan takut kehilangan. Rasa bersalah timbul karena aku begitu bernafsu menikmati segala kenikmatan yang bisa kudapatkan.

Kupejamkan mataku berusaha mengumpulkan kesadaranku karena sesaat aku menjadi gamang dan diriku seperti terpecah antara kemanusiaan dan keberadaanku sebagai seorang Bachae. Aku sudah biasa jatuh cinta pada manusia fana dan perasaan itu amat menyenangkan. Akan tetapi yang kurasakan sekarang adalah sesuatu yang sukar digambarkan. Sesuatu yang sepertinya mustahil ada dalam diri seorang Bachae, mahluk abadi seperti diriku, yaitu perasaan takut kehilangan dan perasaan bertanggung jawab atas nasib yang dialami gadis fana yang terbujur meregang nyawa di pangkuanku.

"Hahaha! Jangan kamu pikir semudah itu bisa mengambil apa yang menjadi hak milikku, aku Papa Jim tidak pernah kehilangan sesuatu apapun dan tidak akan pernah membiarakan siapapun melakukan itu. Tidak oleh seorang pelacur murah seperti kau!" suara Papa Jim mengagetkanku akan keberadaannya. Kini dia didampingi ketiga anak buahnya berdiri di depanku.

"Dara adalah seorang pelacur yang lumayan laku, sayangnya dia tidak tahu berterima kasih. Apalagi dia dipengaruhi oleh kekasihnya yang kini sudah menjadi bangkai," Pria congkak itu membetulkan celananya lalu melanjutkan, "Dara bagiku cuma barang yang bisa saja diganti dengan yang baru. Tapi kamu adalah perempuan bodoh yang sudah terlalu banyak tahu! Sayang sekali kamu harus bernasib sama karena aku tidak ingin semuanya terbongkar. Bersiaplah untuk jadi makanan cacing!" ujar Papa Jim sambil menggerakkan tangannya memberi kode pada ketiga anak buahnya.

Tiga orang pria berbadan gempal itu melangkah ke arahku, yang berjalan paling depan adalah pria bernama Ron yang baru saja menikmati tubuh indahku. Sebuah kawat berbentuk jerat berada di tangannya dan aku pun segera tahu apa yang akan mereka perbuat padaku. Manusia-manusia bodoh itu hendak membunuhku? Bagaimana mungkin mereka dapat membunuh seorang wanita yang sudah mati ratusan tahun yang lalu? Serta merta jantungku yang memang sudah tidak berdenyut itu membara seiring rasa nyeri di seluruh tubuhku ketika jaringan otot ini bermutasi ke fungsinya yang sebenarnya mengaktifkan kelenjar-kelenjar iblis yang membuat gusi mulutku mendorong taring-taring tajam ini kembali muncul menyeruak dari balik bibir indahku.

Aku pun tersenyum dingin membiarkan air liurku menetes deras karena rasa haus akan darah segar yang tiba-tiba kurasakan. Aku tersenyum memandang empat wajah orang mati di depanku! Aku adalah pengantin sang rembulan dengan maut di tanganku. Aku telah memberikan kenikmatan dan kini akan mengambil bagianku. Empat pasang mata terbelalak dalam kengerian ketika kecantikan wajahku dan kemolekan tubuhku tidak lagi menggoda mereka. Mereka pasti berharap tidak pernah bertemu denganku atau mungkin berdoa supaya yang mereka lihat hanya mimpi.

Pria bernama Ron itu menjerit bagai binatang sembelihan ketika darahnya menyembur bagai air mancur saat pembuluh lehernya tercabik cakar bengis dari jari-jari lentik ini. Dia pasti menyesal telah menyetubuhiku bagai binatang liar tadi karena aku baru saja merobek-robek lehernya bagai binatang liar. Tubuh kekarnya roboh bagai benang basah bermandikan darah, membuat tiga orang pria lainnya sadar akan nasib mereka.

Aku mendesis bagai ular menyemburkan liur bercampur darah ke wajah Papa Jim yang pucat pasi. Dia ingin lari namun lututnya terkunci pada engsel-engselnya. Kudekatkan taringku ke wajahnya hingga tercium bau pesing dari balik celananya. Pria pongah itu terkencing-kencing ketika nyawanya jadi mainanku. Kubiarkan dia hidup sedikit lebih lama dalam ketakutan dan kualihkan pandanganku pada dua orang anak buahnya yang lain. Dua orang pria bebadan kekar tampak berusaha lari ke arah belakang meninggalkan majikannya sendirian. Tubuh mereka tampak berat menyeret ketakukan hingga dengan mudah kumelayang ringan menyusul langkah mereka.

"Hissh.. hisshh..!" bagai ular betina kupamerkan taringku di depan mereka berdua.

Seorang rupanya kalap dan mengayunkan tinjunya padaku. "Setaan kauu..!" teriaknya sambil meninju sekuat tenaga.

Tanganku yang langsing bergerak cepat menangkap kepalan tangannya hingga tinjunya terhenti di udara. "Kraak!" terdengar gemertak tulang ketika kuremas kepalan besar lelaki itu hingga remuk.

"Betul manusia malang, aku memang setan dan kau adalah makanan cacing!"

Lelaki itu mengaduh kesakitan berusaha melepaskan tangannya.

"Itu belum seberapa sakit," jawabku serta merta mendaratkan gigitanku ke lehernya. Demikian kuatnya taringku tertancap di kulitnya lalu dengan sekali cabik kurasakan jakun pria itu sudah dalam mulutku.

"Arrgghh..!" darah menyembur menciprati wajah cantik milikku.

"Phuaah..!" kuludahi wajah pria itu dengan darah dan jakunnya sendiri. Satu lagi yang menemui ajalnya. Kutinggalkan tubuh pria itu berkelojotan ketika nyawanya putus dan kini kuarahkan langkahku ke pria yang satu lagi.

Pria itu yang memegang jarum suntik! Pria itu yang membuat Dara sekarat! Dia terpojok di sudut ruangan dan matanya membelalak ketakutan. "Ja-jangan bunuh sa-saya..!" dia meminta pengampunan sambil bersujud seperti menyembahku.

"A-aku cuma di..s-suruh! A-am.. ampuuni sa-saya!" pintanya.

Dia tidak dapat melakukan itu padaku, seharusnya dia melakukan itu pada malaikat pencabut nyawa yang terasa berdiri dekat dengannya. Aku melangkah maju sambil menggeram. Ketukan hak sepatuku menandakan detik-detik kematiannya dan dapat kulihat malaikat maut itu tersenyum padaku, manis sekali.

"Berhenti memohon padaku manusia bodoh! Aku bukan ingin membunuhmu, tapi aku cuma haus.. haus akan darahmu! Lebih baik kau mohon pada malaikat mautmu supaya apabila aku selesai meminum darahmu kamu masih hidup.. hihihi..!" tawaku terhenti sendiri ketika taring-taring ini menembus pembuluh nadi di lehernya.

Pria itu langsung kejang-kejang ketika darahnya kuhisap. Urat-uratnya tampak mengeras membiru di permukaan kulitnya ketika cairan merah nan kental itu membanjiri kerongkonganku. Alangkah nikmatnya bagiku setelah cukup lama menahan rasa dahaga ini. Ketika tetesan darahnya yang terakhir memenuhi mulutku segera kulepaskan pagutan mulut ini dari lehernya dan meninggalkan tubuh kaku yang pucat pasi itu masih berdiri tegak namun tidak bernyawa lagi!

Aku kemudian memalingkan wajahku mencari sasaran utamaku tadi. Pria angkuh berjiwa binatang yang sudah menghancurkan hidup Dara. Kini saatnya Papa Jim menyambut kematian pikirku. Kudekati tubuh gembrotnya yang terduduk kaku di depan sofa tempat Dara terkulai namun kudapati Papa Jim sudah kaku dengan wajah pucat dan mulut menganga. Rupanya dia mati ketakutan. Dibunuh oleh rasa takut dan kengerian yang amat sangat melihat 'tontonan' yang baru saja kuberikan padanya.

Sepertinya malaikat maut pun tidak sabar untuk mencabut nyawanya hingga mendahuluiku melakukan itu. Biarlah pikirku, lagipula darahnya pasti terlalu amis dam memuakkanku. Aku tidak ingin lambung ini dikotori darah najis manusia congkak itu. Deru napasku mulai teratur dan air liurku sudah berhenti menetes pertanda dahaga ini sudah terpuaskan. Perlahan kubiarkan metabolisme tubuhku kembali seperti semula hingga taring-taring ini kembali tertarik ke dalam gusiku.

Sesaat kemudian aku telah kembali ke wujud normalku, namun kembali rasa cemas menghantuiku melihat Dara yang masih tergolek tidak berdaya sambil terus mengeluarkan busa dari mulutnya. Aku curiga dia tidak hanya disuntik heroin melainkan zat beracun lain yang memang ditujukan untuk membunuhnya. Aku tidak dapat berbuat apa-apa selain meletakkan tubuh gadis malang itu di pangkuanku sambil mengusap-usap rambutnya.

"Maafkan aku, apabila aku tidak sanggup menyelamatkanmu." Tanpa terasa air mataku membasahi pipi ini. Aku kembali penuh penyesalan dan rasa bersalah.

Kematian pria-pria keparat itu tetap saja tidak mengembalikan hidup Dara yang sesaat lagi akan berakhir di pelukanku. Ternyata yang kulakukan sebenarnya tidak lebih dari pemuasan keinginanku saja. Aku tidak lebih dari seorang Bachae yang mencari kesenangan seksual dan kepuasan akan darah. Aku menyesali diri sendiri seakan tubuhku menipuku. Segala usaha yang kulakukan sia-sia. Malahan dapat saja Dara lebih baik apabila aku tidak campur tangan sejak awal.

Pikiranku kalut dan aku merasa tidak berarti. Ternyata keabadian tidak dapat mengganti satu nyawa dari gadis tidak berdaya ini. Tubuh Dara semakin dingin, nyaris sedingin angin malam yang bertiup lewat jendela-jendela rumah besar itu. Amat dingin walaupun ternyata tidak sedingin hatiku.

Tiba-tiba aku merasakan sesuatu dalam udara malam yang penuh misteri itu. Sesuatu yang bergerak bersama angin malam, sesuatu yang tidak terlihat bagai pekatnya malam. Sesuatu yang terselubung kegelapan malam namun bukanlah malam itu. Sesuatu yang kehadirannya begitu terasa hingga memenuhi relung hatiku yang hampa. Seketika angin kencang berdesir di seluruh ruangan ketika kurasakan kehadiran pribadi itu!

"Ruffus?" aku berkata gamang, entah memanggil atau bertanya karena segalanya kembali seperti dejavu.

"Ruffus Valerius!" aku tersentak karena baru aku sadar akan kehadirannya.

"Kau.. kau ada sejak tadi, bahkan mengikutiku sejak tadi!" aku berpaling mencari sosoknya namun tidak kutemukan.

"Betul, matahariku, aku ada di sini," suara itu membawa kehangatan buatku dan seperti biasa pria bertubuh jangkung bermata biru dengan rambut perak itu sudah berdiri di hadapanku.

Aku tidak dapat berbicara, lidahku kelu dan hanya dapat membiarkan tatapannya yang penuh kasih dan kehangatan itu seolah membelaiku tanpa sentuhan.

"Mea Solis, aku mengerti semuanya," dia meletakkan tangannya mengusap pundakku.

Dia tahu apa yang kurasakan! Pembimbing dan pelindungku sang Nosferatian itu menyaksikan semuanya sejak awal dan dia mengerti semuanya!

"Ruffus, kau kembali lagi," kata-kataku masih mengambang.

Sorot matanya terlihat amat bijak ketika dia menjawab perkataanku, "Famitha, aku memang belum pulang sejak terakhir kita bertemu."

Ucapannya itu menjawab pertanyaanku di hari-hari terakhir ini. Ruffus ternyata belum pulang sejak saat itu. Karenanya pantas aku tetap merasakan kehadirannya dan aku senantiasa merasa diamati. Hanya aku tidak dapat memastikan keadaannya hingga saat ini.

"Aku harap kamu tidak merasa terganggu dengan kehadiranku selama ini."

"Tidak.. tidak, aku sebenarnya merasakannya tapi.. bagaimana dengan gadis malang ini? Kau pasti akan menganggap aku gila karena mencampuri urusan kaum manusia, apalagi menolong gadis ini.. aku pikir.."

Ruffus menyela ucapanku dengan berkata lembut, "Jangan menyesal mea solis, kamu cuma melakukan apa yang sudah dilakukan semua Bachae sebelum kamu di sepanjang masa di seluruh dunia."

Ucapannya belum kumengerti. "Maksudmu..?"

Entah kenapa kehadiran Ruffus membuat kekhawatiranku tentang nasib Dara menghilang. Aku percaya betul pembimbingku ini dapat membantuku menyelamatkannya. Hanya cara yang dikemukakan olehnya sama sekali tidak terbayang olehku sebelumnya.

"Sudah waktunya, Famitha," ucapannya yang singkat itu mendadak menggetarkan seluruh panca indraku, bahkan buku romaku bardiri karena apa yang baru saja diucapkannya adalah sesuatu yang selama ini sulit kutemukan jawabnya.

"Maksud kamu.. hmm, bagaimana mungkin?" aku masih coba mengelak namun tatapan Ruffus bagai pedang bermata dua menembus ke relung hatiku yang paling dalam.

"Bachuss telah menyiapkan semuanya, anakku, dia memiliki mata yang menembus ke segala masa dan padamu telah disiapkannya malam ini. Inilah saatnya kamu melakukan kewajibanmu, tugasmu yang paling suci sebagai seorang Lestatian dan juga sebagai bagian dari anak-anak Bachuss di seluruh dunia dan di segala masa."

Selanjutnya Ruffus menatapku menantikan jawaban. Sebuah tirai gelap yang ratusan tahun menaungiku bagai terkuak oleh pernyataan itu. Rupanya inilah saatnya aku meneruskan pewaris kegelapan nan abadi pada manusia fana. Inilah saat yang dimaksud di kala segala sesuatunya disiapkan oleh Bachuss sendiri bagi anak-anaknya untuk melestarikan keturuanan mahluk abadi. Sebuah tugas suci yang hanya dapat dilakukan olehku di bawah pengawasan pembimbingku sang Nosferatian.

Keadaan telah menuntunku ke waktu dan tempat seperti ini. Drama yang kumainkan ternyata membawaku pada jawaban yang kucari selama berabad-abad. Kini nasib seorang gadis berada di tanganku. Tidak kuasa aku mengembalikannya kepada terangnya hari, sebab oleh karena diriku dan sifat kemanusiaan dalamku aku membuatnya seperti ini. Langsung maupun tidak langsung 

Dara telah dituntun oleh takdir untuk menemuiku, meminta perlindungan dariku. Bahkan sebenarnya saat inilah yang dinanti olehnya, satu dari sedikit manusia fana yang terpilih untuk menjalani keabadian. Terpilih untuk minum langsung dari cawan perjamuan yang abadi. Karena Bachuss adalah bapa dari para penuai anggur dan anggur yang ditawarkannya adalah keabadian. Kesucian dalam pengasingan dan dahaga yang kekal.

Aku bangkit sambil menggendong tubuh lunglai nan lemah mengikuti langkah panjang Ruffus menuju ke pintu keluar di mana sinar rembulan yang bersinar penuh menyambut dengan penuh kehangatan dan salam persaudaraan. Penghuni-penghuni malam yang abadi. Aku melayang bersama Ruffus hingga ke atap rumah mewah yang pemiliknya baru saja menemukan maut, lalu meletakkan tubuh sekarat milik Dara di atas bubungan rumah yang luas dan besar. Sejenak kubiarkan tubuh lemah itu dibalut dan dibelai sinar rembulan nan lembut.

"Segalanya telah disiapkan bagimu anakku, marilah kita mulai.. Cruor Sacramentum."

Aku pun segera menghirup udara malam sebanyak-banyaknya sekalian dengan segala kesunyian, kesepian, kerinduan dan kejahatan yang terkandung di dalamnya. Bulan bersinar penuh ketika sekali lagi taring-taring runcing ini menembus kulit lembut di bagian pembuluh nadi manusia fana yang tidak berdaya. Kali ini kulakukan dengan perasaan yang berbeda karena hangatnya kasih Bachuss memenuhi tiap relung keabadianku dan taringku melakukan tugas sucinya menghirup dara tidak berdosa dari anak manusia yang polos dan menyerahkan dirinya pada keabadian sebagai pemuja Bachuss.

Ruffus segera memulai sakramen suci kaum Bachae bersamaan dengan mengalirnya darah segar dari tubuh Dara menghangatkan dan mengisi diriku dengan kehidupan baru.

"Kini saatnya, anakku, untuk menerima perjanjian bersama Bachuss, bapa dari para penuai anggur yang setia di mana kamu akan menemukan kesegaran jiwa dalam keabadian tubuh dan penderitaan yang suci. Karena Bachuss adalah pokok anggur yang sejati, maka barang siapa diberikan kehormatan untuk minum dari pokok anggurnya, berarti minum dari Bachuss itu sendiri dan barang siapa minum darinya maka dia akan dahaga untuk selama-lamanya, kuat di dalam segala sesuatunya bersama rembulan yang memberikan kemudaan dan kekuatan kekal selamanya."

Sesaat kemudian kuberikan hadiah terbesar dan suci yang dapat kuberikan pada manusia fana. Sesuatu yang paling berharga yang dimiliki kaum Bachae (vampire). Itu adalah kelahiran kembali dalam keabadian tubuh dan kekekalan rasa dahaga akan pokok anggur abadi yang juga mengalir dalam darah setiap manusia fana. Air mataku mengalir penuh kebahagiaan dan sejuta kelegaan ketika Dara perlahan bangkit dari kematiannya dan pertama kali menghirup udara keabadian di bawah sinar rembulan.

Matanya terbuka dan menatapku penuh kasih. Bibirnya tersenyum dan mulutnya terbuka lalu berkata, "Aku haus."

Aku dan Ruffus saling menggenggam tangan erat sambil mendengungkan doa suci kaum Bachae.

"Occulta in nocte lassa lacrima veniet.. Spectans intactus sed mox intabescam dolore nocente.. Possem purgari perustus sensemque extrahere.. Ad me amoris umbra ambulat.."

Ruffus kemudian menyanyikannya sekali lagi dengan irama khas kaum Nosferatian ketika aku menggandeng Dara meluncur turun dari bubungan rumah itu. Doa itu seolah memberikan sayap-sayap baru bagi Dara. Menumbuhkan kekuatannya untuk mengarungi kehidupan abadi sebagai seorang Bacchae. Bagiku, doa itu pertanda babak baru hidupku sudah dimulai. Aku bukan lagi seorang Lestatian yang kesepian karena kini aku memiliki belahan hati yang abadi.

Sebentar lagi Dara harus segera pergi untuk mendapatkan bimbingan dari Ruffus. Oleh karena itu aku memutuskan untuk menikmati saat-saat bersamanya pertama kali dengan mengajarinya cara hidup yang utama dan paling mendasar bagi kaum Lestatian, yaitu memuaskan dahaga dan hasrat. Semuanya terjadi dalam suatu drama di malam panjang, suatu akhir dari pencarianku dan juga awal dari babak baru dalam hidupku. Semuanya terjadi di bawah langit yang haus darah.. Supter Cruentus Divum.


Author : Daitze Enthusiast 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar