Kamis, 28 Juni 2018

Kenangan Indah Masa Kuliah 1

Alwin Gumilar seorang mahasiswa berdarah campur keturunan yang tinggal di luar kota kembang, masih kuliah tingkat terakhir bagian akunting dan manajemen di salah satu perguruan tinggi terkenal. Kuliahnya sering tersendat karena membantu orang tuanya menjalankan usaha perdagangan bahan bangunan keluarga mereka. SKS-nya sering diambil sedikit-sedikit agar tidak kacau. Selain itu ibunya, yang juga berasal dari keluarga berada, memiliki beberapa hotel dan travel agency yang banyak mengurus perjalanan turis Indonesia keliling di pelbagai benua, terutama benua Eropa dan Amerika.

Dalam materi, Alwin sama sekali tidak ada masalah, begitupun halnya dalam pergaulan. Statusnya membuat orang-orang mudah dekat dengannya, terutama rekan wanita sekuliahan di perguruan tinggi. Sudah beberapa kali ia gonta-ganti pacar dan hampir semua pernah ML dengannya. Orang tua Alwin sudah mempercayakan perusahaan sepenuhnya kepadanya sehingga mereka bisa menikmati hari tua dengan santai dengan sering bepergian ke LN atau mengunjungi sanak saudara lain di Australia, Hongkong dan Malaysia. Alwin mempunyai seorang kakak wanita yang telah menikah dan ikut suaminya, sehingga sekarang Alwin sering tinggal sendiri di villa megah ini mengurus bisnis sekaligus kuliah.

Kejadian gila ini terjadi beberapa bulan lalu. Waktu itu Alwin baru putus dengan pacarnya, dalam kesepian itu kalau sudah tidak ada kerjaan ia menghibur dirinya dengan nonton bokep, clubbing (tapi tak sering karena besoknya harus bangun pagi, ia malu juga jika “boss muda” kesiangan), atau main internet berjam-jam. 

Suatu hari ia membaca cerita-cerita dari internet, di situ ia menemukan hiburan yang menggairahkan. Alwin amat terkesan dengan cerita serial Muslihat kakek Dewo dimana pelbagai wanita yang alim digarap dan akhirnya  terlibat dalam seks liar, ternyata wanita alim pun jika telah terbangun birahinya  walaupun mula-mula dipaksa, ternyata tidak kalah “berani” dari pria. Lalu Alwin sampai pada serial Ketika Iblis Menguasai yang memberinya inspirasi mengadakan acara ML group gila.

Terbayang-bayang dalam pikirannya : para cewek kelas tinggi, entah ningrat, atau darah campuran, putih cantik, sexy, dan imut dikerjai oleh pelbagai lelaki kasar, jauh lebih tua, hitam legam, wajah jelek, statusnya lebih rendah, namun semuanya pejantan yang haus birahi : sungguh suatu kontras yang menggairahkan.

Alwin kemudian mulai memikirkan rencana untuk mewujudkan fantasi liarnya itu, rencananya mencari cewek top dari kalangan teman kuliahnya untuk “diadu” dengan buruh bawahannya. Yang pertama harus dilakukan adalah mencari beberapa ceweknya dulu, karena cukup sulit dan perlu alasan serta rayuan gombal, kalau untuk prianya belakangan saja, kemungkinan menolaknya kecil, cuma satu banding sepuluh.

Keesokan harinya Alwin kuliah siang dan membicarakan hal ini dengan seorang teman wanita yang pernah ML dengannya, hasilnya nol, ditolak mentah-mentah. Alwin jadi malu dan hampir mengurungkan niat, tapi bintangnya mulai bersinar di hari berikutnya ketika ngedugem, dia bertemu dengan Ivana (22) dan Sandra (22) yang juga sefakultas dengannya, mereka cukup akrab dengan Alwin dan pernah pacaran serta ML, maka ia tanpa tendeng aling-aling mengutarakan maksudnya pada mereka. Mulanya mereka merasa risih dengan usul Alwin, tapi setelah lama dibujuk, akhirnya Sandra mulai bangkit gairahnya membayangkan hal itu, sedangkan Sandra masih ragu-ragu. 

Ahirnya keduanya setuju karena dijanjikan imbalan tour gratis keliling Eropa (apa artinya biaya segitu untuk Alwin dan hasil perusahaan keluarganya). Setelah puas ngedugem, Alwin mengantar Sandra pulang (Ivana naik mobil sendiri). Sambil menyetir mobil, Sandra sempat mengoral Alwin sampai orgasmus dan diminumnya pejuh Alwin sehingga tandas.

Berikutnya Alwin mencari seorang cewek lagi untuk lebih meriah, ia menelepon beberapa teman yang pernah kencan dengannya dan mereka-mereka yang “bispak” (bisa dipakai). Dari tiga orang yang dihubungi akhirnya yang setuju adalah Santi (23), mahasiswi Sastra Inggris yang juga pernah pacaran singkat dengannya, kebetulan sekali dia baru putus dengan pacarnya, sedang kesepian. Phew akhirnya jerih payah Alwin dengan menebalkan muka tidak sia-sia. 

Kini tinggal mencari cowoknya, Alwin keliling pabrik untuk mencari calon yang pas, lima orang saja rasanya cukup, kalau terlalu banyak mungkin berabe, bisa muncul gosip kurang enak. Sebentar saja Alwin telah mendapatkan lima kandidat itu, pilihannya jatuh pada : Mang Andang, seorang buruh tua berumur lima puluhan yang telah bekerja sejak usaha orangtuanya masih kecil-kecilan. Alwin merasa pantas dia menerima hadiah ini mengingat pengabdiannya, meskipun berusia senja dan sudah mulai beruban, tubuhnya masih fit karena biasa kerja keras ; Mang Usep yang botak, usianya sebaya dengan Mang Andang, sudah menduda, jadi Alwin pikir inilah saatnya sekali-sekali memberi upah biologis padanya; Mang Nurdin, berusia empat puluhan, badannya agak tambun berisi, terlihat bengis, inilah yang menjadi pertimbangan Alwin memilihnya. Lalu Mang Obar, tiga puluhan, tampangnya kasar bopéngan, dengan kumis tebal, berotot kekar, berkulit hitam legam, dan Mang Husen, paling muda dari kelimanya, tinggi kurus, usianya baru dua puluh tiga tahun, bertugas disini baru setahun lebih, tapi rajin dan kerjanya bagus, rasanya patut mendapat hadiah ini, untuk menambah semangat kerjanya, agaknya juga dia masih bujangan, lumayan untuk latihan.

Seusai jam kerja, Alwin memanggil mereka berlima sekaligus untuk bertemu secara pribadi di kantornya. Awalnya mereka bingung dipanggil mendadak seperti ada kesalahan saja. Namun setelah Alwin menjelaskan maksudnya selama beberapa menit, mereka tercengang, antara kaget dan senang, seperti tidak percaya apa yang baru ditawarkan, sehingga mereka beberapa kali mengulang pertanyaan mereka.

"Hah, serius nih, tuan?" mang Andang dan mang Obar bertanya hampir bersamaan.

"Iya, siapa yang main-main, pokoknya kalian tinggal datang dan nge-jos, lainnya saya yang atur, dan satu hal lagi, yaitu jangan sampai ada yang tahu hal ini selain kita, atau tidak usah sama sekali." jawab Alwin meyakinkan.

Seperti yang diduga, tak satu pun dari mereka ragu atau menolak, tidak sesulit mengajak para ceweknya. Ya, sifat dasar pria lah, pasti jarang yang mau melewatkan kesempatan seperti ini berlalu begitu saja, apalagi kalau soal perempuan.

Sebenarnya menurut rencana harusnya besok bisa mulai, tapi karena Santi kirim WhatsApp dan mengatakan bahwa ada tugas kuliahnya yang harus diselesaikan, terpaksa acara ditunda tiga hari. Alwin jadi agak blingsatan, tidak sabar menunggu hari lusa, satu jam terasa bagaikan setahun karena dia sudah tak tahan, membayangkan adegan pergelutan teman wanita dengan para bawahannya.  

Sisi positif dari tertundanya acara ini ialah Alwin bisa mempersiapkan segalanya lebih baik. Ketiga pembantu wanita di villa dibebastugaskan tiga hari, kebetulan sehari sebelum hari raya Nyepi masuk week-end. Alwin menyuruh mereka berkunjung ke sanak saudaranya atau kemana saja, disertai uang saku. Pokoknya asal mereka tidak mengganggu acara gilanya. 

Alwin menebarkan beberapa kasur udaranya yang sangat lunak dan diletakkannya di ruang tamu sebagai arena pertarungan nanti.

***

Akhirnya sampai juga hari-H itu, sekitar pukul dua siang semua sudah beres, segala dokumen yang harus ditangani telah dikerjakan Alwin. Sisanya, pelbagai urusan kecil lain diserahkan pada staff ayahnya. Saat itu sudah ada SMS masuk dari Ivana yang mengatakan bahwa dia sudah hampir datang dan sepuluh menit lagi akan tiba di depan gerbang pintu kediamannya.

Pagi-pagi amat dia datang, baru juga jam segini, pikir Alwin namun sangat gembira.

Alwin pun segera menuju ke rumahnya yang terletak agak di depan, sedangkan gudang dan pabriknya terletak di samping dan lebih ke belakang. Villanya itu dibatasi ke arah pabrik dan gudang dengan dua buah gerbang kayu yang tinggi. Alwin memasuki pekarangan rumahnya, di sana nampak Ivana dindepan pintu sedang jongkok mengelus-elus si Hustler, kelinci peliharaannya.

"Hoi, Na, cepat amat kesininya, kan gua bilang jam limaan, sesudah bubar kerja." sapa Alwin.

"Tanggung, kalo pulang, nanti harus bolak-balik, jauh lagi." jawab Ivana.

"Naik apa loe ke sini?"

"Tadi nebeng si Stephanie, kan dia di rumahnya dekat jalan besar Lingkar Selatan sana."

Hari itu Ivana terlihat cantik sekali, kaos ketatnya tanpa lengan dan celana panjang setinggi dengkulnya semua serba putih, rambutnya yang panjang diikat ekor kuda. Walaupun pernah putus dengan Alwin akibat ketidakcocokan sifat, namun mereka masih berteman baik, bahkan terkadang masih hubungan badan. Secara fisik, Ivana termasuk perfect, buah dadanya sedang saja seperti cewek Asia, tubuhnya langsing padat, karena sering dancing dan yoga.

Alwin mengajak Ivana masuk ke rumah, di sana mereka menonton DVD Shades of Grey sambil ngobrol dan makan snack menunggu waktu bubaran pabrik. Dinsaat film lagi seru-serunya, tiba-tiba hape berbunyi, ada urusan di pabrik yang meminta Alwin datang.

Gimana sih nih orang-orang, masih butuh gua juga! omel Alwin dalam hati. "Lu nonton sendiri dulu, gua ada perlu ke kantor dulu nih, sori yah." ujar Alwin kepada Ivana.

Huh, ternyata cuma ada dokumen yang lupa ditandatangani, cuma itu saja, itulah kenapa Alwin tidak mau acara terlalu pagi, sering gangguan seperti ini. Alwin memeriksa sejenak kegiatan di pabrik, setelah yakin tidak ada apa-apa lagi ia pun kembali ke villa. 

Waktu keluar dari pabrik, terlihat Peugeot 207 sport milik Sandra sudah berada di halaman pabrik. Alwin menengok arlojinya, hampir setengah lima, tanpa terasa, berarti sebentar lagi pesta gila ala Kaisar Caligula akan segera dimulai Alwin pun mulai kasmaran.

"Lho, si Sandra mana, tuh mobilnya udah ada di depan?" tanya Alwin pada Ivana karena tidak melihat Sandra di rumah.

“Dia lagi ke WC, masih lama ‘ga nih acaranya, Win, gua udah deg-degan nih?" sahut Ivana.

"Bentar lagi kok, jam lima kan mereka baru bubar kerja, rileks aja, Na, nggak usah tegang gitu, ntar juga pasti elo enjoy." kata Alwin.  “Hoi, nDra, darimana aja, loe sexy banget!" sapa Alwin melihat Sandra keluar kamar mandi..

Alwin terpana beberapa detik menatap tubuh mulus Sandra yang tinggi semampai (168 cm), Sandra memakai tank-top terbaru warna merah yang talinya diikat ke leher dan membiarkan setengah punggungnya terbuka. Bagian bawah tank-top itu berbentuk rok yang mini dari bahan halus putih transparan memamerkan kaki, betis, lutut dan kedua paha belalangnya yang halus putih dan mulus, pasti mengundang untuk diraba, dielus dan diciumi setiap lelaki. 

"Dari rumahlah, eh tinggal si Santi ya yang belum ada?" jawab Sandra mencari rekannya itu. 

"Iya, belum tahu tuh, nggak ada berita lagi, tadi gua telepon HP-nya nggak dinyalain. Loe pake baju ginian bikin gua jadi konak nih, nDra!" kata Alwin sambil memandangi Sandra, di balik celananya, si “Otong” tak sengaja juga mulai bangun. 

Tak dapat menahan diri, langsung Alwin memeluk tubuh Sandra, tangannya menggerayangi paha Sandra sambil menyingkap roknya, lalu telapak tangan Alwin bergerak ke belakang meremas pantatnya yang montok.

"Nngghh, buru-buru amat sih, ntar aja ah!" kata Sandra antara menolak dan menerima. 

"Sori, nDra dikit aja, lu bikin gua nafsu sih!" sahut Alwin seraya memagut leher. 

Rambut Sandra yang pendek model Hitori Minami memudahkan Alwin menjilati lehernya yang jenjang hingga ke tengkuk. Dari sana bibir Alwin menjelajah ke dagu, pipi, hingga merengkuh bibirnya yang tipis. Dengan kedua tangan meremas bongkah pantat, Alwin menciumi Sandra dengan panas, nafas mereka yang memburu terasa pada wajah masing-masing. 

Perhatian Ivana pada layar TV jadi teralih ke arah mantan pacarnya yang berciuman penuh gairah dengan temannya. Dia menatap mereka tanpa berkedip dan terlihat gelisah, tangannya secara sembunyi-sembunyi meremas payudaranya sendiri. Alwin yakin cinta Ivana padanya masih tersisa sedikit walaupun tinggal lima persen, dan hal itu tentu menimbulkan sensasi cemburu yang membuatnya horny. Sandra pun mulai merespon dengan meremas selangkangan Alwin yang sudah menonjol dan keras. 

Di saat asyik ber-french kiss, tiba-tiba bel pintu depan dering berbunyi, sehingga mereka terpaksa melepaskan diri. 

"Hhmm... siapa ya, Santi atau para bawahanku?" pikir Alwin.

Setelah pintu dibuka, ternyata para buruh pabrik, lima orang sekaligus dengan baju lusuh bekas kerja berbau keringat. Alwin memberitahu bahwa ceweknya sudah ada, tapi dari tiga orang, baru dua yang datang, sehingga mereka sementara harus “berbagi jatah” dengan adil. Sesuai permintaan Alwin, kelima pegawai itu tidak cukur kumis dan jenggot dagu mereka selama tiga hari, sehingga telah kasar bagaikan sapu ijuk, sehingga akan menambah rasa geli dan gatal di kulit wanita yang halus, pada saat mereka diciumi dan dicupangi.

"Ini beneran kan, tuan, kita enggak usah keluar uang kan?" mang Husen seakan masih tak percaya, Alwin sekali lagi mengangguk untuk meyakinkannya. 

"Udahlah ga usah banyak tanya, enjoy aja euy!" mang Usep menepuk punggung pemuda itu. 

Alwin membawa mereka ke ruang tengah untuk dipertemukan dengan kedua cewek yang telah hadir. Ivana terlihat gelisah, dia tetap duduk di sofa dan memberi senyum agak dipaksakan ketika diperkenalkan dengan buruh-buruh kasar Alwin itu satu per satu. Sedangkan Sandra, meskipun juga agak gugup, namun lebih luwes, dia berdiri menyambut kedatangan mereka, bahkan menyalami mereka waktu diperkenalkan. Ketika Mang Obar dengan iseng nakal menyentuh pahanya pun, ia membalasnya dengan senyum manis sangat menggoda hati lelaki.

Setelah saling kenal dan basa-basi sejenak, Alwin mempersilakan mereka “memilih” sesuai selera masing-masing, dengan ini pesta resmi dibuka. Mang Usep dan mang Husen agaknya lebih memilih Ivana, mereka pun menghampirinya dan duduk di sofa mengapit di kanan dan kiri. Sedangkan sisanya yang memilih Sandra mulai berdiri mengerubungi gadis itu. Alwin sendiri tetap duduk di sebuah sudut yang strategis untuk menyaksikan the “hottest live show” ini. 

Alwin mempertimbangkan bagaimana menguraikan adegan penjarahan dua céwék ini secara lengkap dan memuaskan, karena kurang mantab jika hanya menguraikannya sekedar-sekilas. Akhirnya setelah dipertimbangkan, Alwin putuskan menceritakan per adegan, ditambah dengan berdasarkan penuturan apa yang mereka alami setelah pesta berakhir, supaya lebih fokus dan pembaca pun turut menghayati kenikmatan yang dialami semua peserta waktu itu. Diharapkan uraian ini cukup memuaskan pembaca sekalian, dan akan dimulai dengan adegan Sandra serta tiga bawahan Alwin. Beberapa dialog diucapkan para buruh Alwin dalam bahasa Sunda, namun istilahnya umum mudah dimengerti pembaca meskipun bukan orang Sunda.

***

Dikerubungi ketiga orang itu Sandra nampak tegang, namun dia menutup-nutupi ketegangan itu dengan senyuman dan juga menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka, terkadang mereka mengajukan pertanyaan nakal membuat wajahnya memerah rona dan tersipu-sipu. Mang Andang mulai berani mengelusi punggung Sandra yang terbuka. 

"Eeemm... geli ah, pak!" desah Sandra dengan suaranya yang bernada agak menggoda. 

"Masa digituin aja geli sih, neng, gimana kalo diginiin?" mang Obar meremas payudaranya.

Tangan-tangan kasar itu mulai menggerayanginya. Mang Nurdin juga mulai merayapi lekuk tubuh Sandra sambil menyingkap rok mininya, paha mulus itu dia raba-raba, tangannya makin merayap ke atas hingga menyentuh selangkangan Sandra yang masih tertutup celana dalam berwarna biru langit.

"Bapak buka bajunya ya, neng?" ujar mang Andang. 

Tanpa menunggu jawaban Sandra, mang Andang membuka tali melingkari leher yang menyanggah pakaiannya. Sandra tidak memakai bra karena tank top itu mempunyai cup dada di dalamnya sehingga begitu melorot, payudara montok dengan puting kemerahan itu pun langsung terekspos. Mang Andang dan Mang Obar mencaplok masing-masing téték kiri dan kanan. 

Mang Nurdin kini berjongkok sedang mengagumi keindahan paha Sandra yang jenjang dan mulus, tangannya tak henti-hentinya mengelusi paha itu, sesekali juga diciuminya gemas. 

"Neng, pahanya mulus amat putih lagi!" puji mang Nurdin sambil menjilat. 

Yang tak kalah menarik tentu bagian pangkalnya dan kini tangan mang Nurdin telah sampai ke situ membelai tepi bibir kemaluan Sandra dari luar, jari-jarinya lalu menyusup lewat tepi celana dalamnya. Mang Obar mengenyot payudara kanan. Sandra menengadah dengan mata terpejam, mulutnya mengap-mengap mengeluarkan desahan. Dia mulai mabuk birahi, tubuhnya menggelinjang saat mang Nurdin menggosok vaginanya dengan jari sampai terlihat bercak cairan membasahi bagian tengah celana dalamnya.

“Mang Andang, koq disana aja, cape atuh maennya berdiri melulu?" kata Alwin menunjuk kasur pompa yang terletak tak jauh dari situ. 

Mereka pun menggiring dan merebahkan tubuh Sandra di kasur empuk itu, lalu pakaiannya dilucuti satu persatu hingga tak tersisa apapun lagi di tubuhnya. Tampaklah tubuh mulus Sandra yang berpayudara kencang, berperut rata, dan kemaluannya yang masih rapat ditumbuhi bulu-bulu yang tidak terlalu lebat namun tercukur rapi. Setelah menelanjangi, mereka juga membuka baju masing-masing. Tiga batang kemaluan mengarah padanya bak meriam yang siap menembak, mata Sandra sampai terpana menatap ketiga senjata yang akan segera membantainya itu. Ketiganya kembali mengerubungi Sandra yang terlihat nervous dengan menutupi kemaluan dan payudaranya menggunakan tangan, matanya terlihat agak cemas. 

"Hehehe, si neng malu-malu begini... bikin mamang tambah nafsu aja nih, hehe!" kata mang Nurdin mengangkat tangan kiri Sandra yang menutupi payudara. 

"Wah, ternyata bodynya amoy bagus banget ya, keteknya licin lagi!" kata mang Obar yang tangannya mulai menjelajahi tubuh mulus itu, bahkan menciumi ketiak Sandra yang mulus dicukur.

Mang Andang menciumi payudara kanan sambil tangannya meraba-raba kemaluan Sandra. Dijilatinya seluruh gunung itu sampai basah, lalu dengan ujung lidah dia main-mainkan putingnya yang mungil kemerahan. Jantung Alwin berdebar-debar dan matanya melotot menyaksikan adegan itu, ditambah lagi adegan di atas sofa di sampingnya, dimana tubuh telanjang Ivana sedang dijilati dan digerayangi dua kuli. 

Alwin membuka celana pendeknya dan mengeluarkan penisnya lewat pinggir celana dalam lalu mulai memijatnya, ini jauh lebih spektakuler dari film bokep dengan artis tercantik sekalipun. Nampak mang Nurdin mencium dan menjilati leher jenjang Sandra sambil mengusap-usap payudara satunya, lalu ciumannya bergerak ke atas menggelitik kuping, menyebabkan Sandra menggeliat dan mendesah penuh nikmat. Dari telinga, mulut Mang Nurdin memagut bibir Sandra, mulut lebar dengan bibir tebal itu seolah mau menelan bibir Sandra yang mungil dan tipis. 

Sekonyong-konyong terdengar kecipak ludah dari lidah mereka yang beradu. Sandra nampak sudah tidak merasa risih lagi, yang dirasakannya sekarang adalah birahi yang menggebu-gebu akan pengalaman barunya ini, terlihat dari matanya yang terpejam menghayati permainan ini. Sikapnya yang semula pasif mulai berubah aktif dengan meraih penis mang Nurdin dalam genggamannya. Mang Obar telah berlutut diantara kedua paha Sandra, tapi dia belum mulai mencoblosnya. Agaknya dia masih belum puas bermain-main dengan tubuh putih mulus itu. 

Sekarang Mang Obar mulai membelai-belai tubuh bagian bawah Sandra, terutama pantat dan kemaluannya. Dia mengangkat paha kiri itu, lalu menciumi mulai dekat pangkalnya, terus turun ke betis, pergelangan, dan akhirnya dia emut jari kaki yang lentik itu. 

Ketika enak-enak nonton live-show sambil ngocok, tiba-tiba ada SMS masuk di HP Alwin, ia meraih HP-nya, oh ternyata si Santi, hampir lupa Alwin dengan teman satunya, ini saking asyiknya menyaksikan pesta sex. Pesan Santi berbunyi demikian : 

Win, pestanya jd g? psti lg asyk y? sori nih telat, tadi diajak teman jln sih, kl stgh 7 gw ksana msh bsa ngga?

Brengsek, bikin orang nunggu aja, mana datangnya telat banget lagi, tapi aha… terbersit di benak Alwin cara untuk “menghukumnya”, Alwin nyeringai sambil menjawab SMS itu : 

Gile telat amt sih, y dah lu dtg aja, mngkin msh kburu, kl gak, kta skalian mkn mlm aja, ok?

Wow, kini Sandra sedang menjilati secara bergantian penis mang Andang dan mang Nurdin yang berlutut di sebelah kiri dan kanan kepalanya. Sementara itu mang Obar menjilat serta menjulur memasukkan lidahnya ke dalam vagina Sandra, rangsangan itu membuatnya sering mengapitkan kedua paha mulusnya ke kepala mang Obar. Kini Sandra membuka mulut dan mendekatkan kepalanya pada penis mang Andang, setelah masuk ke mulutnya, dia mulai mengulum rudal itu dengan asyiknya sambil tangan kanannya mengocok penis mang Nurdin. 

Tak lama kemudian mang Obar menghentikan jilatan dan merentangkan paha Sandra lebih lebar, kini dia bersiap memasukkan penisnya. Sandra juga menghentikan sejenak aktivitas oral seksnya, menatap penis yang mendekati vaginanya dengan mata yang nyata agak ngeri. 

"Pelan-pelan yah, mang, saya takut sakit, abis kontol mang gede kayak gitu!" ucap Sandra memperingatkan. 

"Tenang aja, neng, mamang ga bakal kasar koq!" hibur mang Obar sambil mengarahkan senjatanya ke liang senggama Sandra.

Nampaknya mang Obar kesulitan memasukkan penisnya ke dalam vagina Sandra karena ukurannya itu, maka dia mencoba masuk dengan melakukan gerakan tarik-dorong dan agak diputar ke kiri ke kanan, jarinya menguakkan bibir kemaluan mangsanya 

"Aakkhh, auuuuw, nggghhh... sakit, mang, udahan ah!" rintih Sandra menahan rasa nyeri, padahal penis itu belum masuk seluruhnya, tubuhnya menggeliat meronta namun direjang kiri kanan oleh mang Andang dan mang Nurdin.

"Masa dimasukin pelan-pelan gitu aja udah kesakitan sih, neng?" kata mang Andang sambil memegangi kedua pergelangan tangan Sandra di atas kepala sekaligus membelai dan memijiti payudara kanannya.

“Si neng aja yang memeknya kekecilan kali, 'ntar kita lebarin dikit mau ya, néng?!" sahut mang Nurdin cengengesan, juga tak mau kalah dengan mang Andang meremas dan mencubiti tetek yang kiri.

"Aaaahhh aaauuuw, aduuuh ngiluu, perih mang, sakiiiiit, aauuww!!!" jerit Sandra saat mang Obar menghentakkan pinggulnya ke depan hingga kepala penisnya kini terbenam diantara bibir kemaluan, kemudian mendesak paksa ke dalam liang surgawi itu. Sementara mang Andang semakin keras mencekal kedua tangan Sandra di atas kepala sehingga ia tak mampu berontak atau melawan lagi, hanya pinggulnya berusaha menggeser ke kiri ke kanan.

Selanjutnya, tanpa ampun mang Obar menggenjot dengan buas tanpa perduli perbandingan ukurannya dengan vagina Sandra. Sementara di kiri dan kanannya kedua pegawai bangunan itu tak pernah berhenti menggerayangi tubuhnya. Mang Nurdin dengan mulutnya yang lebar menelan seluruh susu kiri Sandra yang digigit, disedot dan dikulum dengan rakus. Mang Andang menelusuri tubuh mulus itu dengan lidahnya, bagian-bagian sensitif tubuh Sandra tidak luput dari jilatannya, kemudian ketiak kanan Sandra dijilati dicupanginya sehingga ia menggeliat.

Sandra mendesah-desah tak karuan sambil menggeleng-gelengkan kepala, tubuhnya menggelinjang hebat. Sebentar saja dia sudah mencapai klimaks, badannya menegang dan menekuk ke atas, desahannya makin hebat. Namun mang Obar masih belum keluar, dia menaikkan kedua betis Sandra ke bahunya dan memacu tubuhnya makin cepat sampai menimbulkan bunyi kecipak. Akhirnya mang Obar pun menggeram dan menyemprotkan spermanya di dalam vagina Sandra, cairan itu nampak menetes dari daerah itu bercampur dengan cairan kewanitaannya. 

Sandra hanya sempat beristirahat kurang dari lima menit sebelum giliran mang Andang ingin mencicipi vaginanya. Mula-mula dia meminta Sandra membasahi penisnya dulu, setelah dikulum sebentar, dia menindih Sandra sambil memasukkan penisnya, pinggulnya mulai bergerak naik-turun di atas tubuhnya. 

Sandra yang gairahnya mulai pulih juga ikut menyeimbangkan irama goyangannya. Mang Andang melumat bibir mungil Sandra yang mengap-mengap itu meredam desahannya. Waktu itu Alwin sendiri sudah keluar sekali akibat masturbasi, ia mengambil tissue mengelap tangannya yang basah. Mang Obar mengambil aqua di gelas plastik yang telah disiapkan dan meminumnya, dia duduk di sofa sebelah Alwin. 

"Gimana, Mang, sip ga?"

"Enak banget, boss, mamang nggak pernah mimpi bisa dapet kesempatan ini, sering-sering bikin pesta yang kaya gini ya!" komentarnya dengan antusias.   

"Tenang, mang, jangan boros tenaga dulu, ntar masih ada satu lagi loh!" nasehat Alwin, kemudian ia menjelaskan apa yang harus mereka lakukan pada Santi kalau dia datang nanti.

Mang Andang tiba-tiba menggulingkan tubuhnya sehingga Sandra kini berada di atas dalam posisi woman on top. Sandra lalu menegakkan badan sambil terus menaik-turunkan pinggulnya di atas penis yang mengacung bagai kayu pasak itu. Terkadang dia memutar-mutar pinggulnya sehingga penis itu terasa mengaduk-aduk vaginanya. Matanya merem-melek dan mulutnya mengeluarkan desahan nikmat.

Keringat telah membasahi tubuhnya, menempel di dadanya seperti embun, juga menetes-netes dari mukanya. Mang Nurdin berdiri di sebelahnya lalu mendekatkan penisnya yang masih keras ke mulutnya. Sandra mulai menjilatinya, dimulai dari kepalanya yang disunat hingga seluruh permukaan batang itu, buah zakarnya yang besar dia emut beberapa saat, dan itu menyebabkan mang Nurdin pun mendesah karena kegelian.  

"Uuuhh... ayo, neng, enak gitu... mmmh, teruuus, busyeet, asyiikk!!" desah mang Nurdin.  

Semakin hanyut dalam lautan birahi, Sandra tidak malu-malu lagi mengemut penis itu sambil mengocoknya dengan satu tangan. Payudaranya bergoyang-goyang naik-turun seirama gerak tubuhnya, dengan gemas mang Andang menjulurkan kedua tangannya mencaplok gunung kembar itu serta meremasnya, kemudian kepalanya agak naik untuk menyusu bagaikan bayi.

Saat itu mang Husen baru saja selesai dengan Ivana, setelah menyemprot perut Ivana dengan spermanya, dia minum dulu dan langsung menuju Sandra, tukar tempat dengan mang Obar yang ingin mencicipi Ivana. Mang Husen yang duduk di sebelah pasangan mang Andang dan Sandra meminta ijin mang Andang yang sedang menguasai kedua payudara Sandra untuk memberinya jatah cukup satu saja. Sepertinya dia kasmaran dan sangat gemas menggigit putingnya karena badan Sandra mengejang dan merintih di tengah aktivitasnya mengoral mang Nurdin. Mang Husen mengenyot dan kadang menarik puting itu dengan mulutnya. 

"Ooohh... isep, neng... iseepp!!" tiba-tiba mang Nurdin yang sedang di-oral itu mendesah panjang dan makin menekan kepala Sandra ke selangkangannya, sehingga ia tersedak-sedak.  Karena badannya berguncang-guncang atau hisapan Sandra tidak sempurna, cairan sperma itu meleleh sebagian di pinggir mulutnya. Sejenak kemudian mang Nurdin beranjak pergi meninggalkan Sandra setelah dicleaning service”, diambilnya segelas aqua dari meja untuk diminum.

Tiba-tiba goyangan Sandra makin gencar lalu berhenti dengan tubuh mengejang, kepalanya menengadah sambil mendesah panjang, kedua tangannya memegang erat lengan mang Andang. Dia telah mencapai klimaks, tapi mang Andang belum, dia terus menghentakkan pinggulnya ke atas menusuk Sandra. Tubuh Sandra melemas kembali dan ambruk ke depan menindih mang Andang, yang penuh semangat menyodok vagina Sandra dari bawah. 

Saat itu mang Husen sudah pindah ke belakang Sandra, dia meremas pantat yang sekal itu sambil mengusap-usap duburnya. Kemudian dia menindihnya dari belakang, tangannya menuntun penisnya yang telah diludahi memasuki liang kecil dengan otot lingkar berkerut-kerut itu. Lengkingan Sandra yang memilukan menandakan mulai berhasilnya mang Husen menjebol pantat Sandra, lalu dengan kasar mulai menyodominya tanpa rasa kasihan. 

Tubuh Sandra kini dihimpit kedua buruh itu bagaikan sandwich, dan tak lama kemudian terdengar jeritan melengking ketika kedua penis itu menghunjam-hunjam kedua lubangnya dengan ganas, mang Husen bahkan kini menciumi dan menggigiti belakang leher Sandra.  

"Ooohh oooh aakkhh, aaauuuuuwww... sakiiit, periiiih!" gairah Sandra yang mulai bangkit agaknya terganggu dengan rasa nyeri sakit, vaginanya berdenyut-denyut memijat penis mang Andang yang sudah di ambang klimaks, sementara tubuhnya menggelinjang ke kiri ke kanan seolah ingin menghindarkan tusukan penis mang Husen yang berusaha menghunjam sedalam-dalamnya di dalam lubang yang terkecil dan terpeka di badan semlohay itu.  

Mang Andang lalu melenguh panjang menyemburkan maninya di dalam vagina Sandra, akhirnya dia terbaring lemas di bawah tubuh Sandra dengan nafas terengah-engah, sebelum ia bergeser dan berdiri menyingkir. Setelah ditinggalkan mang Andang, Sandra hanya melayani mang Husen saja, namun pemuda ini lumayan brutal mengerjainya sehingga Sandra semakin menjerit-jerit. Duburnya disodok-sodok sementara payudaranya yang menggantung diremas dengan kasar. Hal ini berlangsung sekitar sepuluh menit lamanya sampai keduanya klimaks, sperma mang Husen tertumpah di pantatnya sebelum keduanya ambruk tumpang tindih. 

Keadaan Sandra sudah babak-belur, tubuhnya bersimbah peluh, bekas-bekas cupangan masih terlihat pada kulitnya yang mulus, sperma bercampur cairan kewanitaan meleleh dari selangkangannya. Alwin agak kasihan melihatnya, maka ia menghampiri Sandra sambil membawa air dan tissue. Alwin mengangkat tubuhnya dan disandarkan pada lengannya, dengan tissue Alwin menyeka keringat di dahinya, minuman yang diberikan langsung diteguk habis oleh Sandra. Terlihat nafasnya masih sangat terengah-engah dan agak gemetar. 

"Udah ya, nDra, kalau dah ga kuat jangan dipaksain lagi, ntar pingsan lu!" saran Alwin.  

Namun Sandra tersenyum sambil menggeleng, "Enggak apa-apa," katanya, "Aku cuma perlu istirahat sedikit, rasanya seperti diperkosa massal saja barusan itu."

Terlihat mang Usep menghampiri bermaksud menikmati Sandra, tapi Alwin menyuruhnya sabar karena kondisi Sandra belum pulih. Dengan sedikit menggerutu mang Usep akhirnya mencari korban lain.

Karena tubuh Sandra yang sudah lengket-lengket itu, Alwin menyuruhnya mandi agar lebih segar. Setelah agak pulih, Alwin membantunya berdiri dan memapahnya ke kamar mandi, Alwin nyalakan shower air hangat untuknya. Sebelum keluar mereka berpelukan, Alwin mencium Sandra sambil menyentuh vaginanya dengan tiga jari, ternyata cairan sperma masih meleléh keluar membasahi tangan Alwin, sehingga ia pun harus cuci tangan.  

“Loe mandi dulu yang bersih, nDra, supaya nanti siap action babak berikutnya!" ujar Alwin.   

Sandra cekikikan sambil menyeprotkan shower ke arah Alwin yang mengelak dan keluar sambil tertawa-tawa. 

Begitu Alwin keluar, wooww bukan main, Ivana mantan pacarnya itu sedang dikerubuti kelima bawahannya itu, dia sudah tidak di sofa lagi, melainkan sudah di lantai beralas karpet,  Adegan keroyokan Ivana lebih menarik, karena kalau Sandra memang lebih berani, maka Ivana lebih ragu dan cemas sehingga perlu dibujuk lama sebelum mau ikut.

Untuk lebih lengkapnya lebih baik kita ikuti kisah Ivana dari awal.

***

Mang Andang dan Mang Usep duduk mengapit Ivana masing-masing di kanan dan kirinya. Ivana terlihat tegang sekali, beberapa kali dia memanggil-manggil nama Alwin.  

"Kenapa, Na, koq sekarang tegang gitu? Tadi katanya mau ngebales pacar loe itu!" ujar Alwin.  

"Oh, jadi neng udah punya pacar yah?" kata mang Usep. 

"Nggak, baru putus kok." jawab Ivana malu-malu. 

"Putusnya kenapa, neng?" tanya mang Andang, sambil meniup liang telinga Ivana.  

Ivana cuma menunduk tanpa menjawab, sambil menggelengkan kepala karena kegelian.    

"Udah ah lu, kalau ga mau dijawab jangan maksa!" kata mang Usep pada rekannya  

"Eh, neng, sama pacar yang dulu pernah ngentot ga?" tanya mang Andang cengengesan. 

Rona merah jelas sekali pada wajah Ivana yang putih mulus, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban sambil tersenyum malu-malu.

“Kalo gitu pernah diginiin dong, neng, hehehe!" mang Usep tertawa-tawa meremas buah dada Ivana.  

"Diginiin juga pernah, ya néng?" mang Andang meraih selangkangannya dan meremasnya dari luar. Ivana menjerit kecil sambil tertawa geli karena kejahilan tangan mereka. 

Mang Usep makin gemas memijati payudaranya, mang Andang sengaja meniupkan udara ke kupingnya untuk memambangkitkan birahinya perlahan-lahan sambil tangannya membantu meremas. Mang Usep meremas payudara yang satunya. Ivana hanya diam menikmati dengan mata terpejam. Keduanya mulai menyingkap kaosnya, Ivana sepertinya menurut saja, dia mengangkat lengannya membiarkan kaos itu dilolosi. Dia tinggal memakai bra warna krem dan celana panjang selutut.  

"Ini dibuka aja ya, neng?" pinta mang Andang.   

Ivana mengangguk, maka mang Andang pun dengan cekatan membuka bra-nya sehingga terlihat buah dadanya. Mang Andang langsung melumat payudara yang kanan dengan rakus.  

"Pentilnya bagus ya, neng, kecil, merah lagi." komentar Mang Usep sambil memilin-milin puting itu.

Mang Usep menjulurkan lidahnya, lalu menyapukannya telak pada leher jenjang Ivana, membuatnya merinding dan mendesis. Dia meneruskan rangsangannya dengan mengecup leher, membuat tanda kemerahan di situ, rambut Ivana yang terikat ke belakang memudahkannya menyerang daerah itu. Tangannya pun tak tinggal diam, terus bergerilya di dada kiri dan pelosok tubuh lainnya. Mendadak mang Usep menghentikan kegiatannya dan memanggil mang Andang yang sedang asyik nyusu dengan mencolek kepalanya.  

"Eh, nDang, kita taruhan yuk, yang menang boleh ngentot si neng duluan!" tantangnya.  

"Taruhan apaan sih, saya mah ayuh aja!"

"Coba tebak, si neng ini jembutan ga?" tanya mang Usep dengan nyengir lebar .  

Muka Ivana jadi tambah memerah karena kenakalan mereka ini, Alwin juga jadi terangsang dibuatnya. Suatu sensasi tersendiri menonton mantan pacarnya ini dikerjai orang lain.  

"Hmm, ada jembutan ga, neng?" tanya mang Andang sambil menatap selangkangan Ivana.  

“Orang disuruh tebak, malah nanya. Mamang tebak si neng kelimis!" ujar mang Usep kepada rekannya. 

Ivana senyum mesem dan menjawab, “Nggak tahu, ah!" kepada mang Andang.

“Mamang tebak pake lah, si néng banyak jembutnya!" tebak mang Andang.  

"Yuk kita tes, bener ga?!" kata mang Usep dengan menyusupkan tangannya ke balik celana Ivana.  

"Eemmhhh..." desis Ivana saat merasakan tangan iseng mang Usep merabai kemaluannya.  

"Weléééeh... sialan, bener juga lu, nDang, nggak pernah dicukur ya, néng?" gerutunya karena ternyata kemaluan Ivana memang berbulu, bahkan cukup lebat. 

Mang Andang tersenyum penuh kemenangan karena dapat giliran pertama merasakan tubuh Ivana. Mereka pun kembali menggerayangi tubuh gadis itu. Tangan mang Usep tetap di dalam celana mengobok-obok kemaluannya sejak mengetes tadi. Mang Andang mulai membuka sabuk yang dikenakan Ivana dan menurunkan resletingnya, sebelumnya dia menyuruh mang Usep menyingkirkan tangannya dulu. Cairan vagina membasahi jari-jarinya begitu dia mengeluarkan tangannya dari sana.

Mang Andang turun dari sofa dan jongkok di lantai beralas permadani itu untuk menarik lepas celana Ivana. Tampak kemaluan Ivana dengan bulu-bulu yang tebal dari balik celana dalamnya yang semi transparan. Sesaat kemudian pakaian terakhir dari tubuhnya itu dilepaskannya pula. Sempurna sudah : Ivana telanjang bulat terduduk separuh berbaring di sofa, dikepung oleh dua kuli yang siap memperkosanya.

Keduanya tertegun melihat tubuh putih mulus dan terawat di hadapan mereka. Mang Andang masih berjongkok di antara kedua paha Ivana, sehingga dia bisa melihat jelas selangkangan berambut lebat yang tampak menggunung dalam posisi demikian.

"Duh, cantik banget sih neng ini, bikin saya ga tahan aja!" kata mang Usep sambil mendekap tubuhnya.

Bibirnya mencium pipi Ivana, lalu lidahnya keluar menjilati pipi dan hidungnya, menikmati betapa licin dan mulusnya wajah mantan pacar Alwin itu, belakangan bibirnya dilumat dengan ganas. Sementara kedua tangannya tidak tinggal diam, selalu berpindah-pindah mengelusi punggung atau meremas payudara. Wajah mang Andang makin mendekati vagina Ivana sambil kedua tangannya mengelusi paha mulus itu. 

Tubuh Ivana bergetar ketika jemari mang Andang mulai menyentuh bibir kemaluannya, pasti dia bisa merasakan nafas mang Andang menghembus bagian itu. Perlahan-lahan mang Andang membuka kedua bibir bawah itu dengan jarinya. Erangan tertahan terdengar dari mulut Ivana yang sedang dilumat mang Usep, keringatnya mulai bercucuran.  

"Wah asyik, saya baru pernah liat memeknya amoy, dalemnya merah muda, seger euy!" komentar mang Andang mengamati vagina itu.

“Eh, Sep, mau liat ga nih, bagus banget loh!" usul mang Andang padanya.  

"Hmmm... iya bagus ya, loe aja dulu nDang, gue mau netek dulu!" kata mang Usep sambil mencucukkan sejenak jari tengah dan telunjuk ke vagina Ivana, waktu dia keluarkan cairan lendirnya menempel di jari itu.  

Mang Usep mulai menjilati payudaranya mulai dari pangkal bawah, lalu naik menuju putingnya, dia jilat puting itu lalu dihisapnya kuat-kuat, sementara tangannya memilin-milin putingnya yang lain.  

"Hhhnngghh... mang, oohh!" Ivana mendesah menggigit bibir sambil memeluk erat kepala mang Usep. Ivana makin menggelinjang saat wajah mang Andang telah mendekati selangkangannya dan...

"Aaaahh!" desahnya lebih panjang, tubuhnya menggelinjang hebat, kedua pahanya mengapit kepala mang Andang.  

Kuli bangunan itu telah menyapu bibir vaginanya, lalu lidah itu terus menyeruak masuk menjilati segenap penjuru bagian dalam vaginanya, klitorisnya tak luput dari sentuhan lidah itu, sehingga tak heran kalau desahannya makin tak karuan saling bersahut-sahutan dengan desahan Sandra yang saat itu baru dironce mang Obar.

"Oi, kalian berdua koq belum buka baju sih, kasih liat dong kontolnya ke neng Ivana, pasti dah ga sabar dia!" kata Alwin pada mang Andang dan mang Usep.  

Mang Usep nyengir lalu dia membuka kaos berkerah dan celananya hingga bugil, dia menggenggam penisnya yang tebal dan hitam itu, memamerkannya pada Ivana.  

"Nih, neng, kontol mamang gede ya, sama pacar neng punya gede mana?" tanyanya sambil menaruh tangan Ivana pada benda itu.  

"Gedean... punya mamang, juga lebih keras!" jawab Ivana dengan tangannya sudah mulai mengocok.  

Ivana yang tadinya malu-malu, sedikit hilang rasa malunya saking terangsangnya, sepertinya dia mulai tidak peduli keadaan sekitar, yang dipikirkannya hanya menyelesaikan gairah yang semakin memanas di tubuhnya. Hampir sepuluh menit berlalu, tapi mang Andang masih seperti kelaparan, belum berhenti menjilati vaginanya, sementara tangan Ivana sudah menggapai meremas rambut mang Andang, sekaligus menggesek-gesekkan pahanya pada kepala mang Andang menahan birahinya yang meninggi.

"Cepetan dong, kan loe boleh nusuk duluan, kalo ngga mau gue aja yang mulain nih!" kata mang Usep yang tidak sabar ingin segera menyetubuhi Ivana.  

“Sabar atuh, ini udah mau nih!" kata mang Andang yang mulai menanggalkan pakaiannya. "Yuk, neng, basahin dulu nih isep! "dia sodorkan penisnya ke mulut Ivana sambil memegangi kuncirnya.  

Ivana agak ragu memasukkan penis mang Andang, mungkin agak jijik kali belum pernah merasakan yang hitam dan sebesar itu. Namun mang Andang terus mendesaknya, apalagi dengan kepala dipegangi seperti itu, akhirnya dengan terpaksa Ivana membuka mulutnya membiarkan penis itu masuk. Sebentar kemudian mang Andang mengeluarkan penisnya, diangkatnya kaki Ivana ke sofa sehingga dia kini terbaring di sofa dengan kepala bersandar pada perut tambun mang Usep. Endang memegang miliknya dan mengarahkannya ke vagina Ivana. Pelan-pelan mulai memasukinya, tubuh Ivana menekuk ke atas.

"Aaakkhh... pelaaan-pelaaan, mang... ngiluuu!" demikian jerit Ivana yang keluar dari mulutnya saat penis mang Andang menyeruak ke dalam vaginanya, membelahnya tanpa kasihan.  

Lalu mang Andang pun mulai menggoyangkan pinggulnya perlahan, kemudian makin lama makin cepat. Mang Andang melakukannya dalam posisi satu kaki naik sofa dan kaki lainnya berdiri menginjak lantai, kedua tangannya memegangi betis Ivana.  

"Ah-ah-ah... uuhh... ooooh, aaaiiih, ssshhhh, aaaah!!" desah Ivana dengan mata terpejam.  

"Enak ya, Neng?" tanya mang Usep dekat telinganya.  

Sejak mang Andang menggenjot Ivana, mang Usep terus saja menyangga tubuhnya sambil menghujani leher, telinga, dan payudaranya dengan ciuman dan jilatan. Kini dia sedang mengulum daun telinga Ivana dan tangannya meremas kedua payudaranya. Tentu puting Ivana sudah sangat keras karena dari tadi dimain-mainkan. Ivana sendiri tangannya menggenggam penis mang Usep, dia mengocok-ngocok penis itu karena horny. Kedua kakinya menjepit pinggang mang Andang, seolah minta disodok lebih dalam lagi.

Tanpa mencabut penisnya, mang Andang memiringkan tubuh Ivana sehingga posisinya berbaring menyamping, satu kakinya dinaikkan ke bahunya. Wow seru sekali melihat paha mang Andang bergesekan dengan paha mulus Ivana dan penisnya keluar masuk dari samping. 

Mang Usep menempelkan penisnya ke wajah dan bibir Ivana, memintanya melakukan oral seks. Ivana masih sangat risih memasukkan benda itu dalam mulutnya, hanya berani mengocoknya dengan tangan, sepertinya dia masih merasa tidak nyaman dengan penis Andang di mulutnya tadi, belakangan dia bilang ke Alwin bahwa dia memang tidak terbiasa dengan penis hitam dan berbau tidak enak seperti itu, dan dia juga tidak suka dengan cara mereka yang suka maksa tidak tau diri, makannya dia tidak pernah mau ngeseks dengan orang-orang kaya gitu, cukup kali ini saja, pertama dan terakhir, demikian tegasnya.  

"Jilatin dong, neng, jangan cuma main tangan aja!" pinta mang Usep tidak sabar merasakan mulutnya. 

"Nggak, mang, jijik... ga mau... ahh!" gelengnya dengan sedikit mendesah.  

"Lho, gimana sih si neng ini, tadi kan dia dikasih, masa saya nggak? Ayo dong, neng, sebentar aja koq!" mang Usep terus mendesak dengan menekan kepala Ivana dengan tangan kanannya ke penis yang dipegang dengan tangan kirinya. 

Penis itu pun akhirnya memasuki mulut Ivana, karena mulutnya mengap-mengap mendesah, kesempatan itulah yang dipakai mang Usep menjejalkan penisnya. Sesudah penisnya di mulut, mang Usep memaju-mundurkan kepalanya dengan menjambak kuncir Ivana.  

"Emmhh... eehmm... mang, saya... uurrgghh, uuweeeekgh!" Ivana berusaha protes tapi malah tersendat-sendat karena terus dijejali penis.  

"Mmmm... gitu dong, neng, baru namanya anak manis, udah lama mamang ga diginiin... uuh!"

Mang Usep melenguh dan merem-melek keenakan dioral Ivana. Kalau itu terjadi setengah tahun lalu, pasti bermasalah dengan Alwin dan para tukang pukulnya, tapi sekarang berbeda, Alwin malah terangsang melihat bekas pacarnya ini diperlakukan demikian sehingga ia makin cepat mengocok penisnya, apalagi waktu itu Ivana mulai main kuda-kudaan di atas penis mang Andang sambil mengoral penis mang Usep, menjilati batang dan biji pelirnya.

Akhirnya Ivana orgasme terlebih dahulu, badannya berkelejotan dan mulutnya terdengar erangan tertahan. Mang Usep rupanya cukup pengertian, dia melepaskan dulu penisnya dari mulut Ivana dan membiarkan Ivana menikmati orgasmenya secara utuh. Badan Ivana menegang beberapa saat lamanya, mang Usep menambah rangsangan dengan meremasi payudaranya. Mang Andang pun menyusul sekitar tiga menit kemudian, sodokannya makin dahsyat sampai akhirnya dia melepaskan penisnya dan menumpahkan cairan putih di perut yang rata itu. Sambil orgasme, Ivana memegang erat-erat lengan kokoh mang Usep yang mendekapnya hingga tubuhnya lemas dan terbaring dalam dekapan pria tambun itu. 

Mang Andang cuma duduk sebentar, minum dan menyeka keringat, lalu dia langsung beralih ke Sandra seperti yang telah diceritakan di atas, posisinya segera digantikan mang Obar yang baru pulih setelah istirahat. Mang Usep memberikan minum air aqua pada Ivana sekaligus mengambilkan tissue mengelap keringatnya. 

"Euleuh... si Andang gimana sih, buang peju sembarangan aja!" gerutu mang Obar yang baru mendekati mereka dan melihat ceceran sperma di perut Ivana.  

Mang Usep sambil tertawa meneteskan sedikit air dan mengelap ceceran sperma itu sampai bersih, Ivana juga ikut tertawa kecil.  

"Udah, gampang, mang, dibersihin aja kan beres!" hibur Alwin padanya

Mang Obar langsung mencumbui payudara Ivana yang masih didekap mang Usep, mulutnya berpindah-pindah antara payudara kiri dan kanan.  

"Ooohh oohhh!!" desah Ivana ketika merasakan putingnya digigit dan ditarik-tarik dengan gigi tonggos mang Obar.  

Tangan satu mang Obar yang di bawah sedang meremasi bongkah pantat Ivana yang kenyal, diremasnya berulang kali sekaligus mengelusi paha mulusnya. Dari pantat, tangannya merayap ke kemaluan, tubuh Ivana bergetar merasakan kenakalan jari mang Obar yang mengusap-usap klitoris dan bibir kemaluannya. Di belakangnya, mang Usep tetap getol mencupangi leher, tengkuk dan bahunya.  

"Hehehe liat nih, si neng udah basah kayak gini!" sahut mang Obar mengeluarkan jarinya dari vagina Ivana. "Emm, enak pisan madunya si neng!" dijilatinya cairan yang belepotan di jari itu.  

Kemudian mang Usep menarik pinggang Ivana, mendudukkannya di pangkuan dengan membelakanginya, satu tangannya meraih vagina dan membuka bibirnya

“Duduk, neng, masukin neng ampe nancep, pelan-pelan!" suruhnya.  

Ivana tanpa malu-malu memegang penis itu dan mengarahkan ke vaginanya, lalu dia menekan badannya ke bawah sehingga penis itu terjepit di tengah bibir vaginanya. Namun kerena besar, kepala penis itu baru masuk kepalanya saja, itupun sudah membuat Ivana merintih-rintih dan meringis menahan nyeri.  

"Duh susah, mang! Sakit nih, mang, udahan ya, engga jadi masukin!" rintihnya.  

"Wah, kagok dong neng kalo gini mah, ayo dong dikit-dikit pasti bisa kok!" kata mang Usep.  

"Nanti juga enak kok, neng, sakitnya bentar aja!" timpal mang Obar.  

Beberapa kali mang Usep menekan tubuh Ivana sambil menghentakkan pinggulnya, akhirnya masuk juga penis itu ke celah vaginanya, mata Ivana sampai berair menahan nyeri dan sakit. Mang Usep mulai menggoyangkan tubuhnya. 

"Arrgghh uuhhh... sempit amat, anget lagi,  duuuh anjriiit, enak! "gumam mang Usep di tengah kenikmatan penisnya dijepit otot vagina Ivana.  

Sementara itu mang Obar meraih kepala Ivana, wajahnya mendekat dan hup mulut mereka bertemu, lidahnya menerobos masuk mempermainkan lidah Ivana. Dia hanya pasrah saja menerimanya, dengan mata terpejam dia coba menikmatinya. Lidahnya, entah secara sadar atau tidak, turut beradu dengan lidah lawannya.  Lima belas menit lamanya batang mang Usep yang perkasa menembus vagina Ivana, runtuhlah pertahanan Ivana, sekali lagi badannya mengejang dan mengeluarkan cairan kewanitaan membasahi penis mang Usep dan sofa di bawahnya (untung sofanya bahan kulit jadi gampang dibersihkan). 

Ivana memeluk erat-erat kepala mang Obar yang sedang mengenyot kedua payudaranya. Sekonyong-konyong terlihat cairan putih meleleh dari selangkangan Ivana, rupanya mang Usep juga telah orgasme. Desahan mereka mulai reda, keduanya melemas kembali. Tampak oleh Alwin ketika mang Usep melepas penisnya, dari vagina Ivana menetes cairan sperma yang telah bercampur cairan cinta. 

Waktu beristirahat bagi Ivana cuma sebentar karena mang Obar langsung menyambar tubuhnya, menindihnya, dan mengarahkan senjatanya ke liang kenikmatan. Segera saja tubuhnya memacu naik-turun di atasnya. Ivana menggelinjang setiap kali dia menghentakkan tubuh. Saat itu mang Nurdin dan mang Andang mendekati keduanya untuk menonton lebih dekat adegan panas itu. Mereka menyoraki temannya yang sedang berpacu di atas tubuh mantan pacar Alwin itu seperti menonton pertandingan olahraga saja.

Setelah itu Alwin kehilangan sedikit adegan karena sedang mengantar Sandra ke kamar mandi, maka adegan yang hilang ini diceritakan berdasarkan penuturan mang Nurdin yang dianggap paling akurat. 

Dari sofa, mang Obar menurunkan Ivana ke karpet, dia berlutut di antara paha Ivana dan terus menyodoknya. Mang Nurdin membungkuk agar bisa mengemut payudara yang menggiurkan itu. Mang Andang berlutut di samping kepala Ivana dan menjejalkan penisnya ke mulut, sambil diemut dia memegangi payudara Ivana. Mang Andang dan mang Usep yang nganggur kembali mendatangi, mereka pun ikut bergabung mengerjai Ivana. Tangan-tangan hitam kasar menggerayangi tubuh mulus itu, ada yang mengelus paha, ada yang meremas payudara, ada yang memelintir puting, beberapa diantaranya sedang dikocok penisnya oleh Ivana. Ikat rambutnya sudah terbuka sehingga rambutnya tergerai sebahu lebih. Pemandangan itulah yang dilihat Alwin ketika keluar dari kamar mandi.

Lebih dari lima menit Ivana menjadi objek seks kelima buruh kasar. Mulanya Alwin sangat menikmati tontonan ini, terlebih ketika sperma mereka muncrat di tubuhnya, ada yang nyemprot di dada, perut, dan mukanya. Namun Alwin mulai merasa kasihan ketika mereka memaksanya membersihkan penis-penis mereka dengan mulutnya, beberapa bahkan menjejalkan paksa ke dalam mulut. Alwin terpaksa turun tangan menyudahinya ketika dia melihat air mata Ivana mulai menetes. Alwin tahu semasa pacaran dengannya dulu Ivana memang tidak terlalu suka oral seks, apalagi menelan sperma, jijik katanya, apalagi dengan yang besar hitam gitu, tentu saja Alwin tidak tega melihatnya dipaksa sampai menangis.  

"Udah,  mang, cukup, jangan diterusin, nangis nih dia!" kata Alwin membubarkan mereka  

Kemudian Alwin menyandarkan Ivana di kaki sofa dan memberinya minum, ia lap sperma yang membasahi mukanya. Ivana memeluk Alwin dan menangis sesenggukan, Alwin balas memeluknya dan menenangkannya, tidak peduli lagi dengan tubuhnya yang masih lengket-lengket.  

"Duh, maaf banget, neng, abis tadi kita kirain neng menikmati, ga taunya nangis beneran!" kata mang Obar.  

"Iya, kalo tau neng ga suka ngemut kontol, kita juga ga maksa, tadi neng reaksinya malu-malu sih, jadi kita juga tambah nafsu." tambah mang Usep.

"Sori, sori, Na, gua lupa bilang tadi, abis mandi lu pulang aja yah! "hibur Alwin mengelus-elus rambutnya.

"Nggak, ga papa kok, Win, gua enjoy, cuma tadi gua kaget aja dipaksa-paksa gitu, gua kan ga suka oral." jawab Ivana setelah lebih tenang sambil membersihkan air mata.  

Legalah mereka mendengar Ivana berkata begitu, mereka kira dia bakal trauma atau shock. Alwin lalu menyuruhnya mandi dan membantunya bangkit, dia pun berjalan sempoyongan ke kamar mandi. Alwin dan para buruhnya duduk-duduk di ruang tamu merenggangkan otot, Alwin persilakan mereka menyantap snack dan minuman sambil menunggu Santi. Alwin ngobrol-ngobrol tentang pendapat mereka sekalian memberi pengarahan apa yang harus dilakukan untuk menghukum Santi yang terlambat nanti. Santi memang bukan type yang malu-malu seperti Ivana, tapi Alwin tetap harus memperingatkan mereka agar tidak bertindak kelewatan, Alwin tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan gara-gara mewujudkan fantasi gilanya.  

"Win, Ivana diapain aja sampe nangis gitu?" terdengar suara Sandra bertanya dari belakang, dia berjalan ke arah Alwin dengan handuk kuning terlilit di tubuhnya, rambutnya masih agak basah.  

"Ga kok, cuma belum biasa dikeroyok aja, jadi sedikit... ya gitulah!" jawab Alwin sambil meraih pinggang Sandra, mengajak duduk di sebelahnya.

Mang Nurdin mengajak Sandra duduk di sebelahnya saja, tapi Sandra menolak. "Nggak ah, pak, mending simpen tenaga aja buat si Santi!"

Ketika mereka ngobrol-ngobrol, ada yang misscall ke HP-Alwin, si Santi, semenit kemudian disusul bunyi bel, "Nah, pasti ini dia," pikir Alwin.  

Alwin menyuruh buruh-buruhnya sembunyi di dapur dengan membawa pakaian masing-masing, Alwin berencana membuat surprise sekaligus hukuman bagi Santi.

1 komentar:

  1. Mantap kang..next cerita2 jilbab nta coba dibuat yg liar2 juga..
    Alur cerita yg ini oke..jempol buat dirimu suhu

    BalasHapus