Jumat, 22 Juni 2018

Sofa Merah Percintaan

Seorang wanita muda berusaha mengumpulkan kembali tenaga dan moodnya setelah seharian berkutat dengan beberapa pekerjaan. Ia menyesap kopi dari mug kesayangannya. Lalu beranjak dari sofa di ruang kerjanya. Mariana berjalan menyusuri koridor antara ruang kerjanya menuju ke pantry. Ia merasa perlu menemui Beno, salah seorang office boy di kantor tempat Mariana bekerja sebagai Fashion Editor sebuah majalah yang mengangkat tema fotografi, fashion, dan lifestyle ter-update saat ini, dan sudah hampir dua tahun ia bergabung. 

Sebelum bekerja sebagai fashion editor, ia adalah seorang top model, bahkan termasuk top 10 model se-Asia Tenggara, maka kecantikannya tak perlu diragukan lagi, dengan wajah indo yang ia dapat dari ayahnya yang berasal dari Perancis, dan ibunya yang keturunan Jawa-Tionghoa. Kulitnya putih bersinar, dan posturnya sangat proporsional, tingginya 174 cm dengan berat yang ideal. Perfect body, biasa ia mendapat pujian itu. Saat memasuki usia 28 tahun, Mariana mengundurkan diri dari dunia modeling dan keartisannya, lalu bergabung ke redaksi majalah tempat ia bekerja sekarang.

Mariana telah semingguan ini berpikir matang-matang untuk menyampaikan sebuah berita yang entah berita baik atau buruk bagi Beno, tapi yang jelas, ini adalah hal yang sangat buruk dan mengacaukan Mariana. Biasanya, Mariana mengenakan pakaian yang feminim, seperti dress Larvin Scuba, atau dress kluaran Emillo Pucci yang selalu terkesan sempurna melekat di tubuhnya. Namun sejak seminggu yang lalu, Mariana hanya berpakaian santai, menggunakan kaos atau poloshirt dengan jeans belel atau short skirt yang makin menunjukkan kaki jenjangnya yang indah. Pantas saja semua mata di ruang redaksi menunjukkan pandangan heran hampir semingguan ini, melihat perubahan yang drastis pada penampilan atasan mereka.

"Si emak lagi badmood banget ya kayaknya beberapa hari ini," bisik seorang staf pria.

"Lagi stress banget mungkin," sahut seorang rekannya dengan tetap berbisik.

"Atau salah minum obat? Hihihi," timpal seorang staf perempuan di sana.

Nyaris semua staf Mariana di divisi fashion menebak-nebak apa yang terjadi pada Mariana, atasan mereka itu. Tak ketinggalan juga asisten pribadi Mariana yang kadang ikut nimbrung bergosip dengan sesama staf redaksional fashion.

'Beno, aku mau bicara sama kamu, empat mata. Kita ketemu di Kemang sepulang kerja. Nanti aku kabarin tempatnya.' Mariana mengirim SMS ke nomor ponsel Beno. Setelah tiba di pantry tadi, ternyata Beno yang ia cari, sedang shalat Ashar di mushola, begitu menurut perkataan Emil, teman seprofesi Beno.

Beno adalah seorang pemuda 24 tahun, hanya tamatan SMA, karena tidak ada biaya untuk melanjutkan kuliah. Sejak umur 2 tahun, Beno tinggal di sebuah panti asuhan di Bogor, sampai tamat SMA, lalu mengadu nasib di Jakarta, hingga akhirnya ia bergabung di sebuah agen pegawai outsourcing dan menempatkan dirinya sebagai office boy di majalah ini sejak lima bulan lalu.

Wajah Beno termasuk sangat tampan untuk profesinya. Tak heran jika beberapa staff perempuan di sana berubah jadi kecentilan, genit dan salah tingkah jika Beno datang melayani mereka. Wajahnya memang cukup memikat, auranya pun cerah, meskipun kulitnya tidak putih, namun juga tidak terlalu gelap. Dengan hidung yang mancung, tulang pipi yang tegas, sorot mata yang tajam dan memantulkan ketulusan dengan bola mata cokelatnya, beberapa wanita di sana dibuat iri karena bulu mata Beno yang cukup panjang. Tinggi dan bentuk badannya pun cukup memenuhi standar model pria. 

Sempat ada yang mengusulkan agar Beno bisa menjadi model pemotretan untuk majalah mereka sendiri, namun usulan itu langsung dimentahkan oleh Mariana, "Kita punya standar yang tinggi, prestasi dan track record yang jelas untuk jadi model yang dimuat di majalah kita, bukan sekedar tampang dan badan yang menjual, kita harus rubah paradigma tentang model dan artis yang hanya jual body mereka." begitulah alasan penolakan Mariana.

Mariana telah kembali ke ruangannya. Ia duduk di kursi kerjanya. Menatap Lady-sport-tort-with-shiny-gold keluaran Marc by Marc Jacob yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya sudah menunjukkan pukul lima kurang lima menit. Ia kembali menatap layar ponselnya, belum ada balasan pesan dari Beno. Kemudian memasukkan beberapa barang miliknya ke dalam Rochas foldover clutch warna biru miliknya, dan bangkit meninggalkan meja kerjanya. Ia berjalan keluar pintu, berhenti sesaat dan berpamitan pada asistennya.

Setelah keluar dari lift di basement, Ia berjalan menuju Range Rover hitam miliknya yang terparkir tak jauh dari pintu lift.

"Ibu Mariana!" terdengar langkah kaki yang berjalan agak cepat seiring suara yang memanggil namanya.

Mariana menoleh ke belakang, pandangannya mendapati Beno yang sedang berjalan ke arahnya.

"Maaf, bu. Baru saja saya akan membalas SMS dari ibu, dan ternyata malah bertemu ibu disini. Ada apa ya, bu?" Wajah Beno terlihat begitu cerah, aura wajahnya terlihat makin memikat setelah ia menunaikan shalat.

Mariana seperti terpesona melihat wajah Beno yang seperti ini. Ia pun tampak agak kaget bertemu Beno di sini, ia lupa bahwa mushola berada di basement. Lupa atau bahkan tidak tahu kalau letak mushola ada di basement kantornya, karena sejak mulai berada di puncak karier modelling dan selebritasnya, ia justru melupakan Tuhannya, melalaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.  

"Nanti juga kamu tahu, Ben. Aku jalan duluan, nanti aku kabari tempatnya, see ya." Mariana berlalu masuk ke mobilnya. Lalu mengarahkan mobilnya keluar dari basement.

Beno hanya menatap Mariana dan mobilnya yang mulai menjauh dari pandangannya. Ia terdiam. Ia masih bingung dan tidak bisa menebak apa yang akan dibicarakan Mariana hingga mengajaknya bertemu di sebuah tempat di Kemang. Yang ia tahu, seorang atasan memanggil bawahannya untuk bicara empat mata adalah soal pemecatan, atau kenaikan jabatan. Entahlah, Beno hanya merasakan ada sesuatu yang aneh. Terlebih lagi, Mariana, sejak hampir dua bulan yang lalu tak pernah lagi mau dilayani minuman dan makanannya oleh Beno, ia minta Emil atau Bambang yang melayaninya, tepat setelah kejadian malam itu. Malam dimana mereka berdua melakukan kebodohan...

Sementara itu, Mariana mengemudikan mobilnya dengan penuh kegalauan. Ia tidak siap dengan apapun reaksi Beno nanti. Masalah ini menjadi masalah terberat yang menimpanya. 'Ini cambukan Tuhan buatku' batinnya. 

Kemacetan jalan makin membuat Mariana merasa frustasi. Dipencetnya tombol play di kemudinya, lalu musikpun mulai mengalun dari perangkat audio di dashboard mobilnya. Sebuah komposisi syahdu petikan gitar klasik dan gesekan violin terdengar begitu sempurna. Harusnya itu mampu sedikit menenangkan berbagai kepenatan yang ada di kepala dan hati siapa saja yang mendengarnya. Namun tak berlaku bagi Mariana. Lantunan komposisi Marianacholie du Changement dari Antoine Dufour itu malah membuat Mariana menitikkan air mata. Lampu temaram jalanan mulai menghiasi keindahan jalanan ibukota. Makin membuat dada Mariana sesak. Laju mobilnya berhenti ketika traficlight menyala merah. Ia menundukkan kepalanya, air matanya menetes jatuh ke pangkuannya. Ia mengingat kejadian di malam itu, malam tolol itu. Ia merasakan sesak setiap membayangkan kebodohan yang ia lakukan sendiri. Kebodohan yang menggiringnya pada kerisauan hati dan pikirannya semingguan ini.

Pikiran Mariana hanyut pada kenangan malam itu. Saat itu ia baru saja selesai mengawasi langsung sesi pemotretan di studio foto kantornya yang berada satu lantai di atas ruang divisinya. Pemotretan berakhir jam sebelas malam. Malam itu Mariana bermaksud membuat espresso di pantry untuk mengganjal matanya karena masih ada beberapa artikel yang harus ia evaluasi, namun ia dikejutkan dengan sosok Beno yang masih ada di pantry yang duduk membaca buku, entah buku apa yang ia baca, namun terlihat cukup tebal.

"Loh, Ben, kamu belum balik?"

"Eh, ibu. Belum, bu. Tadi saya lihat ruangan ibu masih terang, jadi saya tunggu dulu, sambil baca-baca." Beno sedikit terkejut karena ia terlalu larut dalam buaian buku yang ia baca.

"Oh... kamu ga perlu nungguin siapapun disini. Kalo udah jamnya balik, ya balik aja." Rajin amat, batin Mariana.

"Mmm… tidak apa, bu, siapa tahu masih butuh untuk membuatkan minuman atau cemilan."

"Baiklah. Jadi mumpung kamu disini, tolong bikinin espresso ya, saya masih harus lembur. Setelah itu, kamu balik aja. Saya udah biasa sendiri di kantor."

Mariana kembali ke ruang kerjanya, sibuk membaca artikel yang harus sudah naik cetak dua hari lagi di Asus Transformersnya. Lalu Beno datang membawakan secangkir espreso ke ruangannya. Alunan petikan gitar Antoine Dufour musisi favoritnya, mengisi kesunyian malam itu di ruang kerjanya.

Namun yang terjadi setelahnya sungguh tidak pernah mereka berdua bayangkan sebelumnya.

"Ben, mmmmh... temenin saya disini dulu ya?" Mariana ingin rileks sebentar sebelum melanjutkan pekerjaanya. Ia ingin sekedar mengobrol dengan Beno. Ia sadar bahwa Beno adalah pria dengan wawasan dan pengetahuan yang cukup luas, maka ia tak ragu untuk sekedar mengajak Beno berbincang.

Mariana beranjak dari duduknya. Mempersilahkan Beno duduk di sofa yang sangat nyaman di ruangan itu. Mariana meraih dua gelas kristal yang cantik di mini bar pribadinya. Lalu membuka sebotol Gianni Gagliardo - Preve, Barolo Riserva 1980, dan langsung ia tuang ke gelas kristal tadi. Merekapun duduk bersebelahan di sofa merah yang tidak terlalu panjang, namun terasa cukup luas untuk mereka duduk berdua. Mariana meminta Beno untuk menikmati red-wine itu. Awalnya Beno menolak. Seumur hidup ia belum pernah meminum minuman beralkohol, haram baginya. Namun dengan sedikit rayuan Mariana, dan godaan rasa penasaran, akhirnya bisikan setanlah yang ia dengarkan juga.

Mereka hanyut dalam obrolan-obrolan yang ringan. Percakapan-percakapan yang pada awalnya hanya membicarakan seputar gosip-gosip di kantor, akhirnya sampai juga ke pembicaraan pribadi mereka masing-masing. Suasana semakin hangat dan lebih akrab. Terlebih lagi Beno yang awalnya merasa canggung dan penuh hormat dengan atasannya itu, akhirnya bisa merasa lebih nyaman dan perlahan rasa canggungnya memudar. Mariana pun demikian. Ia merasa dugaannya tepat, bahwa Beno adalah pria yang cerdas dan nyambung diajak bicara masalah apa aja. Ia yakin semua itu karena Beno rajin membaca dan karena beberapa staffnya sering mengajari Beno soal komputer, internet dan teknologi lainnya. Bahkan si Roby, fotografer di sini, sering mengajarinya memotret. 

Tak terasa mereka telah dua jam mengobrol, dan telah menghabiskan gelas wine yang entah keberapa, yang jelas sebotol penuh red-wine tadi habis tak tersisa, ditambah setengah botol berikutnya. Suasana yang tenang, iringan musik klasik yang terdengar di ruangan itu, kelap-kelip citylight ibukota yang terlihat indah dari balik jendela, serta temaram lampu ruangan kerja Mariana yang memberikan ambien kekuningan, makin menghanyutkan mereka berdua dalam romantisme yang tiba-tiba hadir menyeruak batin dan jiwa. Mereka berdua telah sepenuhnya berada di bawah pengaruh alkohol. Dan tanpa mereka sadari pula, jarak duduk mereka pun telah semakin merapat. 

Mariana mulai meraba paha Beno, lalu memutar tubuhnya menghadap ke arah laki-laki itu. Dengan punggung tangan kanannya, ia menyusuri cambang yang tumbuh pendek di wajah Beno. ”Ben?” suara lembut Mariana memanggil.

“Ya, Bu.” Beno menjawab, masih berusaha memberikan ekspresi datar.

”Saya mau minta bantuan kamu,” sedikit agak canggung, Mariana mengajukan permintaannya.

”Oh, memang apa yang bisa saya bantu, bu?” Beno pura-pura bertanya meski sudah bisa menerka keinginan sang atasan.

”Jangan bertanya, ikuti saja apa yang aku lakukan.” Mariana berkata manja, tubuhnya dibusungkan, seolah sengaja mendorong buah dadanya lebih maju hingga menempel ketat di baju kerja Beno. 

Disodori benda seindah itu, Beno terdiam. Mata hitamnya tak berkedip menatap belahan dada Mariana yang terlihat begitu indah dalam jarak yang sedekat ini. Spontan darah mudanya mendidih. “I-ibu…” dia berusaha untuk tidak menatap kesana, tapi tentu saja tidak bisa. Pesona Mariana mustahil untuk dielakkan.

Tahu kalau jeratannya berhasil, Mariana pun berdiri. ”Tidak banyak yang saya minta, Beno.” katanya sambil berdiri menantang, tatapannya menggoda. “Saya hanya ingin hangat tubuhmu malam ini!!” Mariana membuka jepit rambutnya, membiarkan rambut panjangnya terurai indah, menambah kesan sensual perempuan cantik ini.

Meski menyukai apa yang tersaji di depannya, tapi tak urung jantung Beno berdegup kencang juga, “Eh, a-apa maksud ibu?” tanyanya tergagap, hanya ingin memastikan. Beno bukan orang bodoh, ia tahu dengan pasti apa yang diinginkan oleh Mariana. 

”Saya cuma ingin dipuaskan, Beno. Olehmu. Saat ini.” Mariana menjawab santai, sedikit memutar tubuhnya untuk memamerkan lekuk pinggangnya yang sempurna. Melihatnya, Beno menelan ludah dalam deru jantung dan desir darah yang makin panas membara.

”Dan aku yakin, kamu tidak akan menolaknya.” manja Mariana sambil mulai melepas kancing bajunya satu per satu. Tak perlu waktu lama, tubuhnya yang indah sudah tidak tertutup Iagi. Berdiri menantang di hadapan Beno, dia memamerkan gundukan payudaranya yang bulat menggoda pada laki-laki muda itu. “Bagaimana, kamu suka?” tanya Mariana dengan tatapan manjanya yang khas.

Beno tidak sanggup untuk menjawab, mulutnya bagai terkunci oleh pemandangan indah yang tersaji di depannya. Bra yang dikenakan Mariana tampak begitu mungil, sangat tidak sepadan dengan ukuran payudaranya yang cukup besar. Benda itu bagai hanya menutupi bagian putingnya saja, sementara dagingnya yang bulat besar kelihatan terburai kemana-mana. Saat Mariana menunduk, payudara itu jadi kelihatan kian menantang, seperti mau jatuh saja, tapi nyatanya tetap menempel, membuat nafas Beno tercekat dan jantungnya hampir berhenti berdetak.

“B-bu…” gagap Beno dengan birahi mulai memuncak, terlebih saat Mariana makin memancingnya dengan menggerakkan jemari secara lentik ke perutnya yang ramping dan indah. Ia bagai seorang penari erotis yang sedang memberi pertunjukan gratis pada Beno. 

Tanpa sungkan Mariana memamerkan perut ratanya yang putih mulus, juga rambut panjangnya yang terurai indah, membuatnya jadi semakin terlihat menggoda. Rambut itu menutup sebagian wajah cantik Mariana, memberi kesan misterius yang begitu merangsang. Kini jemari lentik Mariana juga mulai menekan kancing celana jeans ketatnya, menarik keluar kancing celana itu dari tempatnya.

Belum lagi Beno menghela nafas, Mariana kembali membuat pemuda itu harus menahan nafas lebih lama. Tersenyum, Mariana menarik turun resletingnya. Mata Beno segera mengintip, mencoba mencari tahu indahnya sesuatu yang tersembunyi di baliknya. Celana dalam hitam-lah yang bisa ia lihat, Beno menarik nafas panjang saat melihatnya. Terus ia tatap daerah selangkangan itu, sementara Mariana hanya tersenyum-senyum saja, dengan tatapan mata yang sangat menggoda.

”Srettt,” tak perlu waktu lama, celana jeans Mariana meluncur turun, membuat Beno jadi tak lagi harus mencuri-curi pandang. Tampak celana dalam hitam model string yang dikenakan oleh Mariana, juga bulatan bokongnya yang padat berisi, ditambah sepasang paha yang putih mulus, serta lutut dan betis yang indah... Oh Tuhan, tubuh itu seolah menari indah sekali. 

Mariana menaruh kaus dan celana jeansnya di atas meja kerja, lalu berdiri menantang di hadapan Beno. Sinar rembulan yang menyelinap dari celah jendela membuat keindahan tubuh Mariana semakin terlihat mempesona. Beno melongo, sedangkan Mariana tetap tersenyum mesra. Lalu tangannya mulai berpindah ke belakang, menarik lepas kait branya. Sebelum dia meloloskannya lewat depan, Mariana menekan sebentar gundukan payudaranya, membuatnya jadi terlihat semakin menantang; sangat bulat dan cukup besar, tampak tidak turun sedikitpun. Sempurna adalah kata yang tepat untuk menggambarkannya. Putingnya yang tidak terlalu besar berwarna merah kecoklatan, mengacung tegak hingga makin menambah kesan sensualnya. Kini Mariana sudah berdiri nyaris bugil di hadapan Beno.

”Ehmm,” Beno menarik nafas panjang, jantungnya berdegup kencang saat perlahan Mariana mulai melangkah mendekatinya.

”Ben, kamu bisa bantu aku kan?” Mariana mendekat. ”Aku yakin kamu mampu!” rayunya.

Jantung Beno semakin berdegup kencang, apalagi saat Mariana dengan tanpa malu tiba-tiba duduk di pangkuannya. Bokongnya yang bulat tepat mendarat di paha kanan Beno, terasa begitu padat dan berisi sesuai dengan yang terlihat. Kedua tangan Mariana langsung memeluk Beno, mesra bergelayutan di leher pemuda itu. Payudaranya yang indah menempel di dada Beno, membuat Beno yakin kalau Mariana dapat merasakan degup jantungnya yang bertalu-talu. 

Mariana tersenyum, ”Kamu relaks aja, Ben, kita nikmati malam ini berdua.” bisiknya. Tangannya menempel di wajah Beno, mengelus pelan disana. Terasa begitu halus dan lembut, juga sangat hangat sekali.

”Uhh,” Beno mendesah saat sesaat kemudian tangan itu digantikan oleh bibir Mariana yang mungil tipis. Mariana mengendus pelan pipi Beno, menciumnya beberapa kali sebelum akhirnya menempel erat di bibir Beno yang berkarat. 

Sentuhan Mariana terasa hangat, apalagi saat lidahnya mulai berusaha menyelinap masuk ke dalam bibir Beno, membuat Beno jadi tak dapat lagi mengendalikan nafsunya. Ia biarkan lidah mudanya berpagutan dengan lidah manis milik Mariana, ia sudah tak merasa malu lagi. Birahi sudah mengalahkan akal sehatnya. Kalau memang Mariana menginginkan ini, kenapa ia harus menolak? begitu pikir Beno.

Maka jadilah, mereka berciuman lama sekali. Semakin mesra dan semakin panas. Hidung mereka sempat beberapa kali terantuk, namun tetap saja tautan bibir mereka tidak mau terlepas. Keduanya saling mengejar, sedotan dibalas sedotan, hisapan dengan hisapan, lidah saling melilit dan membelai satu sama lain. Ciuman mereka begitu dahsyat hingga menimbulkan suara aneh akibat  liur yang saling tertukar.

Di bawah, penis Beno mulai terasa sesak di balik celana. Itu karena Mariana yang kini menarik tangan Beno agar menggapai buah dadanya. Pelan Beno menyisir bulatan kencang itu, jemarinya terasa bergetar saat menyentuh kulit halus Mariana. Terasa sangat empuk dan kenyal sekali saat perlahan ia memijitnya. Penasaran, Beno segera mengganti jari-jari tangan itu dengan telapak tangannya. Ia sentuh permukaan payudara Mariana, sedikit memberanikan diri menggoyang dan meremas benda empuk itu.

”Ehm... ahh...” pemiliknya sedikit mendesah diantara ciuman mereka berdua.

Dengan keberanian yang semakin mengumpul, pelan Beno mulai memainkan payudara Mariana yang menggantung indah. Ia remas-remas bulatan kencang itu dengan kedua tangannya sambil sesekali menekan ataupun menarik-narik putingnya yang mungil menggiurkan dengan sedikit keras. akibatnya, Mariana jadi merintih dibuatnya.

”Ougghhh... Ben!” wanita itu mendesah nikmat, membuat Beno jadi semakin PD untuk mengerjainya. 

Ya, Beno semakin terbakar birahi, tak lagi mempedulikan status mereka sebagai atasan dan bawahan. Yang terpenting sekarang adalah, bagaimana ia memuaskan hasrat birahinya, juga birahi perempuan cantik itu. Cepat Beno memeluk tubuh indah Mariana, berusaha mendekatkan tubuhnya yang masih berbalut kemeja dengan tubuh telanjang Mariana. Memeluk mesra, sambil terus berciuman, Beno tak bosan-bosannya mempermainkan puting susu Mariana, membuat benda mungil kemerahan itu jadi semakin kaku dan menegang penuh. Bahkan kini tangan nakal Beno sudah berani bergerak lebih dalam lagi. Pelan namun pasti, jari-jarinya mulai menyelinap masuk diantara celah celana dalam Mariana untuk meremas bongkahan pantat perempuan cantik itu. Terasa hangat dan empuk sekali saat Beno melakukannya.

”Auw! Nakal ya kamu,” Mariana menghentikan ciumannya, tersenyum menatap Beno. Lalu bangkit untuk berdiri di hadapan pemuda itu. ”Turunin celana dalamku, Ben!” perintahnya manja.

Beno tersenyum menatap wajah cantik Mariana, tanpa ragu ia melakukan apa yang diperintahkan. Menjulurkan tangan, Beno menarik turun celana dalam Mariana. Sepelan mungkin ia melakukannya hingga gundukan bulu kemaluan Mariana mulai sedikit tampak. Semakin turun tampak semakin jelas; bulu-bulu itu tidak terlalu lebat namun tertata rapi, serasi dengan belahannya yang tipis dan mungil. Menatapnya menimbulkan sebuah kesan yang begitu mendalam bagi Beno. Ditambah aromanya yang khas, jadilah Beno semakin sulit untuk memalingkan muka.

”Kamu suka, Ben?” tanya Mariana sambil kembali melompat ke dalam pelukan Beno. Namun bukan memeluk miring seperti tadi, Mariana kini duduk mengangkang di pangkuan Beno. ”Sentuh tubuhku, Ben!” pintanya lirih.

Beno pun tak menolak, erat ia peluk tubuh montok Mariana. Ia julurkan bibirnya untuk mencium mulut perempuan cantik itu. Setelah saling melumat untuk sejenak, mulut Beno kemudian bergerak ke samping, ke arah pipi Aline. Dikecupnya beberapa kali sebelum merambat ke arah telinga. Pelan Beno mulai menghisap-hisap cuping telinga Mariana, menggelitiknya beberapa kali sambil sesekali lidahnya menyusup ke lubang kuping perempuan cantik itu hingga membuat Mariana merintih dan mendesah kegelian.

”Ahh... enak, Ben! Terus,” lenguhan manja meluncur dari mulut manis Mariana. Tangannya pun tak lagi diam, ia mulai membuka kancing baju Beno satu persatu hingga terlepas. Dengan tubuh bergerak-gerak manja, Mariana mengelus dada bidang Beno yang sudah terbuka. Jemari lentiknya bermain, mencoba merangsang Beno lebih dalam lagi.

”Sekarang yang ini, Ben!” pinta si cantik itu. Mariana kemudian turun dari pangkuan Beno dan menarik tangan pemuda itu. Beno melongo saat tangannya ditaruh di selangkangan Mariana, ia jadi sedikit ragu...

”Ayo, Ben. Aku pengen,” Mariana meminta.

Beno pun menggerakkan jempolnya, menempel di klitoris Mariana, sedang jemari telunjuknya ia gerakkan di depan bibir vagina perempuan cantik itu.

”Owhh... enak, Ben! Ahhh...” vagina Mariana sudah mulai berubah menjadi basah. Beno terus menggerakkan jemarinya, bahkan kini menjadi semakin cepat, naik turun berkali-kali di permukaan bibir vagina Mariana yang sudah memerah.

”Ahh...” gadis itu mendesis sembari tak henti menjilati puting payudara Beno. Tangan kirinya masih bergelayut memeluk pundak laki-laki itu, sementara tangan kanannya digunakan untuk merangsang permukaan dada.

Beno bisa merasakan permukaan vagina Mariana menjadi bertambah basah, tangannya pun mencuri kesempatan menjamahi payudara kencang gadis itu. Ya, semakin lama mereka semakin terpacu birahi, bergelimang dalam dosa kenikmatan. Entah berpura-pura atau tidak, tapi gerakan tubuh Mariana menggambarkan seolah gadis itu ikut menikmati semua ini. Semuanya!

”Ben, aku nggak tahan. Jangan di depan aja... ahh, masukin!” pinta Mariana.

Beno menuruti kemauan atasannya itu, telunjuknya kini ia gunakan untuk melakukan penetrasi dalam vagina Mariana. Terasa sangat sempit liang kemaluan itu, juga sedikit basah oleh cairan cintanya yang mulai berproduksi. Beno menggunakan jari telunjuknya untuk mendesak lebih dalam lagi, ia tatap wajah Mariana yang seperti mengernyit. Nampak kesakitan namun mulutnya berkata lain.

”Terus, Ben ! Auw… enak, Ben.” Mariana terus meracau, apalagi saat telunjuk Beno mentok di liang senggamanya. Sesaat Beno mendiamkan, membuat Mariana bisa menarik nafas panjang, sebelum akhirnya Beno menggerakkan telunjuk itu naik turun dalam lubang kemaluannya.

”Owwww... ahhh... Ben! Aaww...” Mariana langsung menceracau, berusaha memagut bibir Beno.

Beno menyodorkannya saja, memang itu juga yang ia harapkan. Mereka  berciuman mesra sementara jari Beno terus keluar masuk menjelajahi kemaluan Mariana yang kini semakin terasa basah. Mariana yang ingin membalas kenikmatan itu, segera meraih kancing celana Beno dan memelorotkannya. Lalu dengan cepat menggunakan jemari lentiknya, ia keluarkan penis Beno yang sudah menegang itu.

”Ih, keras juga ya punyamu.” Mariana berkata disela-sela desahannya.

Mendengar gadis secantik itu mendesah dalam pelukannya membuat Beno jadi semakin bergairah. Dengan liar ia pacu jemarinya keluar masuk dalam vagina Mariana, sementara Mariana membalas dengan membelai-belai kemaluan Beno. Membelai sambil mengocok dengan menggunakan jemari tangannya yang halus. Begitu nyaman rasa genggaman itu hingga desah nikmat mereka semakin sering terdengar diantara ciuman nikmat, menggema memenuhi seluruh ruangan kantor yang kosong.

Beberapa menit keduanya berpacu dalam keadaan seperti itu, hingga akhirnya tubuh Mariana menggelinjang hebat dengan disertai desahan dan tubuh mengejang kuat. Rupanya ia sudah terhantam gelombang orgasme yang sangat dahsyat, membuat Mariana jadi tak karuan mendesah. Beno merasakan vagina gadis itu seolah menarik jemarinya, menyedot-nyedot hebat sebelum cairan vaginanya merembes keluar.

”Awhhh... oughh...” Mariana memeluk Beno mesra saat kenikmatan itu tiba, nafasnya tersengal-sengal, sampai akhirnya merambat turun. Dipandanginya penis Beno yang masih tegar berdiri dalam genggaman tangannya. 

“K-kamu... hebat banget!” celetuk Mariana manja sambil mengambil air minum di meja, lalu meneguknya. Beno hanya tersenyum membalas. ”Sini Mariana bales,” Dia kembali mendekati Beno, berjongkok di hadapan laki-laki itu. Ia raih penis Beno dan ditaruh di telapak tangannya, lalu meremasnya mesra sebelum membuka bibir mungil miliknya. Dijilatinya benda panjang itu hingga membuat tubuh kurus Beno jadi berdesir nikmat, merasakan betapa basuhan hangat lidah Mariana yang menari-nari di penisnya terasa begitu nikmat.

”Owhh!” geli nikmat itu berlanjut ke buah pelir. Namun karena agak susah, Mariana segera menarik celana panjang Beno turun, melepasnya. Jadilah mereka berdua saling bertelanjang sekarang.

Tak berpikir lagi, Mariana menyantap buah zakar Beno seketika. Ia hisap dan jilat-jilat benda itu dengan begitu dahsyat. Digelitiknya buah zakar Beno hingga menjadi basah. Bijinya yang mungil ia tarik-tarik sampai memberikan kenikmatan. Mariana melakukan semuanya seolah tidak jijik dengan penis hitam itu, malah ia sudah memberikan kenikmatan yang dahsyat sekali. Sambil menghisap, tangan Mariana yang satu lagi terus mengocok batang penis itu.

”Ahhh… ahhh…” Beno terus mendesah penuh kenikmatan, apalagi saat penisnya sudah berada di dalam mulut Mariana yang hangat. Gadis itu membalur batang kemaluannya dengan air liur, membasahi sambil terus menghisapnya berkali-kali.

”Aghhh...” Beno hanya bisa mengelinjang saat menerimanya. Ia yang tak tahan lagi segera menarik lepas kepala atasannya itu. Ia cium bibir Mariana yang mungil sambil didorongnya tubuh wanita itu ke atas meja. Saat Mariana sudah telentang, kembali tangan Beno mencoba merangsang bibir vagina Mariana yang sudah sangat-sangat basah.

”Oughh, Ben!” Mariana mendesah.

Beno melepas ciumannya dan kini berpindah ke payudara gadis itu yang sangat menantang. Sambil mulai menciuminya, ia terus menggunakan tangannya untuk merangsang klitoris Mariana yang mungil. Pemiliknya hanya dapat melenguh seakan melampiskan kenikmatan atas rangsangan yang Beno berikan. Semakin lama jemari Beno menyusup semakin jauh, sambil terus ia ciumi payudara gadis itu. Beno mengunyah puting Mariana yang terasa kenyal pelan-pelan, juga ia jilati seluruh bagiannya yang putih indah menggoda itu.

”Ughh... Ben! Ahhh...” Pemiliknya terus melenguh menambah naik birahi Beno. Pinggul Mariana bergoyang erotis menikmati setiap rangsangan pemuda itu. Bahkan vagina Mariana juga kian basah oleh cairan cintanya, sampai Beno dapat merasakan kehangatan dan remasan otot-otot vagina Mariana yang bagai memijit-mijit lembut jemarinya.

Mariana yang ingin mereka sama-sama naik, mencoba ikut merangsang Beno. Tangannya dengan lembut membelai dada laki-laki itu, memberikan sentuhan pada puting susunya. Juga sesekali mencari telinga Beno untuk dihisap. Perlakuannya ini membuat Beno jadi berpikir, apakah Mariana sudah sering melakukan yang seperti ini dengan office boy lain? Karena sepertinya gadis itu sama sekali tidak merasa jijik bercinta dengan orang yang tidak sederajat.

Namun itu semua hanya pikiran sesaat, karena seiring rangsangan Mariana yang kian nyata, Beno dengan cepat melupakannya. Ia tak peduli lagi dengan itu semua, yang terpenting baginya sekarang adalah bagaimana dapat menikmati tubuh hangat Mariana dengan sepuas mungkin. Maka segera ia gesek-gesekkan penisnya yang sudah mengeras ke belahan vagina gadis itu.

”Oughh, Ben...enak!” Mariana melenguh dengan keringat sudah mulai membanjiri wajahnya yang cantik. Kini dengan jemarinya ia membimbing penis Beno agar terus bermain di mulut vaginanya. Bisa ia rasakan penis itu  berdenyut cepat tiap kali menyentuh bagian vaginanya. 

”Bu...” desis Beno merasakan Mariana yang terus menekan-nekan dengan sesekali mendorong perlahan. Kesat sekali terasa saat Beno mulai memasukinya. Mariana meraung-raung tiap centimeter penis Beno yang merangsek masuk memecah liang vaginanya.

”Awwwh... Ben!” gadis itu pun tak kuasa mendesah.

”Ahh... Bu Mariana,” pertama kalinya Beno menyebut nama atasannya itu dalam persetubuhan ini.

Betis Mariana terus mendorong pinggul Beno, ia kaitkan kedua kakinya kuat-kuat pada pinggul laki-laki itu demi untuk mendorong masuk lebih dalam lagi. Beno tak dapat mencegah karena ia sendiri juga keenakan menikmati remasan otot-otot vagina Mariana yang terasa begitu segar. Mariana sendiri hanya bisa merem melek, menikmati setiap bagian penis Beno yang masuk menusuk lebih dalam lagi. Memang sempat mentok beberapa kali, namun Beno segera menarik pinggulnya, berusaha mencari ruang agar dapat menekan dengan lebih kuat.

”Ahhh, Ben... dalem banget! Awwhhh...” rintih Mariana saat penis Beno akhirnya tertanam semua ke dalam vaginanya. Sempit sekali, kesat, dan vagina itu terus berdenyut-denyut seolah memijat penis Beno yang berada di dalamnya.

Beno tersenyum saja mendengar perkataan Mariana. Ini memang bukan persetubuhan pertamanya, Beno sudah sering melakukannya dengan wanita-wanita lain, terutama pacar-pacarnya yang sering bergonta-ganti. Tapi dari semuanya, Beno yakin inilah vagina ternikmat yang pernah ia rasakan dalam seumur hidupnya. Seluruh birahinya yang terpendam segera ia tumpahkan pada diri Mariana. Digenggamnya pinggang wanita itu sebagai tumpuan, dan mulai menggoyang penisnya keluar masuk dengan kecepatan yang terus meningkat.

Payudara Mariana yang bulat langsung terpental kesana kemari akibat gerakan itu. Rambutnya yang awut-awutan malah semakin menambah kecantikannya, seperti memiliki pesona sendiri di mata lelaki. Bunyi tabrakan bokongnya dengan selangkangan Beno menimbulkan bunyi yang cukup nyaring, tapi mereka tak peduli lagi. Keduanya hanya berciuman untuk mengurangi gaung suara desahan, lidah mereka berpagutan, sementara di bawah sana, vagina Mariana terus meremas-remas penis Beno dengan begitu kuatnya. Terasa nikmat sekali.

”Uhhh... owghhh... ahhhh...” Mariana terus mendesah, mulutnya seolah tak pernah berhenti merintih, merangsang nafsu Beno agar semakin terbakar.

Di setiap sodokannya, Beno merasakan sensasi yang begitu luar biasa dari vagina gadis itu. Selain lolongan panjang Mariana, juga seolah ada cairan yang ikut terdorong keluar dari dalam sana, bahkan sesekali meloncat hingga ke buah zakarnya. Mariana menggunakan jemari untuk membuka vaginanya, entah mengapa dia melakukan itu. Namun posenya itu malah membuatnya jadi lebih merangsang lagi. Segera Beno memeluk  tubuh indah gadis itu sambil meremas-remas payudara Mariana yang membuat pemiliknya kembali melenguh erotis. Lenguhan yang membuat Beno kian bernafsu untuk mengocok semakin liar.

”Awwhh, Ben... ahhh...” Mariana tiba-tiba mencakar pemuda itu, tubuhnya mengejang hebat, sementara vaginanya yang sudah basah, kini seolah melumat penis Beno dengan begitu kuat. Beno merasakan semburan hangat cairan vagina Mariana yang menyentuh kepala penisnya, terus membasahi batangnya hingga merembes keluar. Beberapa detik Mariana menutup mata dengan tubuh bergetar.

”Hahhh... ahhh... hahhh...” gadis itu mendesah dengan nafas memburu. ”Enak banget, Ben!” Mariana tersenyum genit, ”Lagi donk, hehehe...” pintanya sambil tertawa.

Sebenarnya tak perlu dikomando, Beno pasti akan meneruskan permainannya. Begitu punggung Mariana yang sempat terangkat saat orgasme tadi mulai turun ke bawah, langsung ia hantamkan kembali penisnya keluar masuk ke dalam vagina perempuan cantik itu. Desahan Mariana kembali membahana. Beno terus menggali sampai beberapa menit kemudian, tak secepat tadi memang, namun tetap sepenuh tenaga. Tak disangka, ternyata itu sudah cukup untuk membuat Mariana blingsatan.

”Ahh... ahh... kamu jahat, Ben! Lebih cepat donk...” rengeknya, namun Beno tak peduli. Agar bisa mendapatkan kepuasan maksimal dari Mariana yang cantik, Beno tidak mau buru-buru keluar, segini saja sudah cukup.

Segera ia ciumi lagi payudara Mariana yang besar, juga ia remas-remas dengan menggunakan kedua tangannya. Sesekali Beno menarik dan menghisap-hisap putingnya hingga jadi semakin mengeras. Bukan rahasia umum kalau sebenarnya wanita lebih menyukai payudara bagian bawahnya untuk dijilati. Beno tahu itu dari pacar-pacarnya yang sudah ia tiduri. Maka segera ia gerakkan lidahnya  kesana. Mariana langsung menggelinjang begitu Beno menjelajahi payudara bagian bawahnya. Laki-laki itu menciuminya sambil terus melakukan penetrasi di dalam liang vaginanya.

”Ughh, Ben... ahhh!” Mariana terus melenguh, wajahnya kian merangsang, apalagi saat melihat matanya yang merem melek itu. Sementara dari bibir mungilnya suara lolongan dan desahan nikmat terus saja terdengar.

Beno terus menyodokkan penisnya dalam-dalam, kali ini dengan segenap tenaga hingga membuat Mariana langsung melolong dahsyat. Vaginanya kembali mengejang, lelehan cairan cintanya kembali menerpa penis panjang Beno. Tubuh wanita itu bergetar, meski tak sehebat tadi, namun Beno tahu dengan pasti kalau atasannya yang cantik ini kembali mencapai puncak kenikmatannya.

Sayang beribu sayang, dua kali disemprot oleh Mariana membuat Beno jadi tak tahan. Sekuat apapun ia berusaha, Beno sudah tak sanggup untuk bertahan lebih lama lagi. Remasan vagina Mariana yang seolah memijat-mijat batang penisnya membuat laki-laki itu seketika meledak, melelehlah spermanya yang kental ke dalam vagina Mariana yang hangat. Banyak sekali.

”Ahh...” Mariana tampak kaget merasakan cairan sperma Beno yang meloncat hingga ke leher vaginanya. Ia tak pernah menduga, jadi sedikit tertegun. Mariana langsung terdiam, entah apa yang ada di dalam benaknya saat itu, perasan bersalah atau apalah...

Sementara Beno dengan nafas masih mendengus-dengus tetap mendiamkan penisnya di dalam vagina gadis itu, hingga kemudian mengecil dan keluar dengan sendirinya. Mariana menatapnya, namun tidak berkata apa-apa. Rambut panjangnya sudah tak karu-karuan, demikian juga dengan keadaan ruang kerjanya, berantakan sekali. 

Beno tertegun sejenak, kemudian beranjak untuk duduk di kursi. Tubuhnya yang telanjang ia tutupi dengan menggunakan tangan. Di luar, sebuah petir menyambar membelah heningnya malam. Mereka masih diam sampai beberapa menit kemudian, hingga Mariana terbangun dan memunguti dress Altuzarra Ellan Peplum hitamnya yang tercecer di lantai. 

Memang hanya satu kali itu, karena selanjutnya tidak ada lagi pertemuan diantara mereka. Bahkan Mariana berusaha untuk menghindari Beno. Namun dada Mariana selalu terasa berat setiap kali mengingat detil kejadian malam itu.

”Tiiin... tiiin...” terdengar klakson dibunyikan kencang. Mariana terkaget, dan ternyata traficlight telah berganti hijau. Cepat-cepat diinjaknya pedal gas mobil hitam itu.

***

Mariana telah sampai di Kemang yang hanya berjarak kurang kebih 5 Km dari gedung kantornya. Namun tetap saja, kepadatan jalanan ibukota di jam-jam pulang kantor, selalu mampu melahap waktu bagi siapa saja yang berada di tengah lalu lintasnya. Ia mengarahkan kemudi Range Rovernya ke dalam area parkir sebuah Wine & Beer House dan memarkirkan dengan rapi di antara dua sedan hitam yang telah lebih dulu terparkir di sana. Mariana meraih ponselnya, mengertikkan pesan yang berisi tempat di mana ia berada sekarang, lalu mengirimkan ke nomor ponsel Beno.

Mariana masuk dan langsung naik ke lantai dua dimana ia bisa memilih meja dan tempat duduk favoritnya sambil menikmati pemandangan jalanan Kemang. Mariana duduk di salah satu sudut yang berhimpitan dengan jendela. Ia menatap nanar jalanan di luar, lalu memalingkan pandangnya ke arah seorang waiters. Ia memesan segelas Paolo Scavino-Barolo. Lalu ia palingkan lagi pandanganya ke arah luar jendela di sampingnya.

Tak lama kemudian, seorang pria berbadan tinggi dan wajah tampannya datang menghampiri meja Mariana, dengan masih menggunakan seragam kebanggaanya. Ia merasa bangga bisa bekerja melayani orang-orang kreatif, ia berpikir, bila kopi yang ia buat, mampu melahirkan ide-ide baru untuk orang-orang yang dia layani. Bisa saja jika tanpa kehadirannya di redaksi majalah itu, maka para staff akan kehilangan ide-ide brilian mereka. Bukankah kebutuhan yang terpenuhi dan terlayani dengan baik akan semakin memperlacar kreativitas, menurutnya.

"Hai, Ben, duduk." Mariana mengarahkan pandang matanya ke arah tempat duduk di hadapannya. "Kamu mau minum apa?" Mariana memberi isyarat pada seorang waiters untuk menghampiri mejanya.

"Tidak usah, bu. Saya tidak biasa minum yang aneh-aneh." jawaban Beno sedikit membuat perasaan Mariana tak enak, teringat kalau karena minuman lah hingga masalah ini terjadi. Namun di lain sisi, ia merasa Beno adalah orang yang tepat.

"Oh, maaf Ben. Aku nggak tahu. Tapi coba kamu pesen apa gitu, gimana kalau teh manis aja?" 

Beno membalas dengan anggukan tanda setuju, lalu menundukkan kepalanya menatap lantai.

Lalu kepada sang waiter, Mariana memesankan Beno secangkir teh hangat yang dibalas dengan tatapan heran waiter tersebut namun tetap apa yang dipesan pelanggannya, kemudian berlalu.

"Mariana, panggil saja aku Mariana, nggak usah pake' ba’ bu' ba' bu'" protes Mariana pada Beno karena merasa risi dipanggil dengan sebutan bu'. Ia merasa seperti emak-emak yang sudah beranak tiga. Apalagi di luar kantor, Mariana tetap saja adalah wanita muda yang tetap cantik dan terlihat sangat muda di usianya yang beranjak menua.

Beno mengiyakan. "Baik bu'... eh, baik, Mariana." lalu kembali menundukkan kepalanya.

"Ben, tadinya aku ajak kamu ketemu disini, untuk bicara empat mata. Bukan bicara antara mata sama rambut kamu." Mariana merasa Beno tidak percaya diri berada di sini.

"Tatap mata aku..!" pinta Mariana.

"Emm... saya malu bu'... eh, Mariana." Beno merasa tidak pantas berada di situ. Terlebih, ia masih mengenakan berwarna biru dan biru muda, seragam office boy.

"Malu kenapa? malu duduk di hadapanku!? Kamu malu jalan sama aku!?" Mariana mulai jengkel.

"Bukan... bukan begitu. Saya malu, ada di tempat seperti ini dan masih memakai seragam." jelas Beno.

"Astaga... Beno. Selama kamu nggak nyuri hak orang lain, jangan pernah merasa malu ataupun minder. Lagian dulu kamu pernah bilang, kamu bangga pake seragam itu, kamu bangga jadi office boy. Bisa melayani orang-orang yang melahirkan kreativitas." Mariana mencoba memberi rasa percaya diri pada Beno.

Memang sedari tadi, sejak Mariana masuk ke dalam Wine house ini, ia merasa semua mata memandang ke arahnya. Terlebih, ketika Beno datang. Tak henti-hentinya orang-orang itu mencuri pandang ke arah mereka berdua. Sebenarnya itu hal yang sudah biasa bagi Mariana. Wajar bila banyak yang memandang kepadanya. Selain kecantikan dan perfect-body yang ia punya, profesi terdahulunya sebagai top-model dan bintang iklan membuatnya selalu menjadi perhatian mata di sekitarnya.

Maka tak heran jika saat ini, Mariana dan Beno seperti mendapat spotlight, menjadi pusat point-of-view di wine house itu. Seorang bidadari yang diidamkan banyak pria di luar sana, duduk berdua dengan seorang yang memakai seragam office boy di tempat seperti ini, tentu saja menjadi pemandangan yang akan sangat sulit ditemui dan sedikit aneh. 

Namun, yang terjadi berikutnya malah membuat semua yang ada di wine house itu lebih tercengang dan keheranan.

Mariana meminum sedikit wine di gelasnya, lalu memandang pria di hadapannya sesaat, "Beno, kamu ganteng. Lihat aku." pintanya. Kemudian ia bangkit dari tempat duduknya, meraih iphonenya, menaikkan satu persatu kakinya di atas tempat duduknya, lalu berdiri di atasnya.

Mariana mengetukkan iphone di tangan kanannya ke punggung gelas wine yang ia genggam tangkainya. Serupa mendentingkan lonceng tanda akan ada pengumuman yang akan ia berikan.

'Ting ting ting ting...'

"Perhatian, perhatian... atention please!!" setengah berteriak. Beberapa ekspatriat juga ada di sana.

"Saya, Mariana Renata, akan memberikan sebuah pengumuman sekaligus kabar untuk kalian semua. Di hadapan saya ini, pria tampan bernama Beno Setiadji." lanjutnya. 

Semua mata yang awalnya hanya mencuri pandang, serentak mengunci pandangannya ke arah Mariana dan Beno. 

Beno yang amat terkejut, spontan bangkit dari duduknya, Melangkahkan kakinya ke arah wanita cantik di hadapannya. Refleksnya timbul karena berpikir Mariana akan mempermalukan dirinya sendiri. Ia mengira bahwa Mariana berada di bawah pengaruh alkohol, padahal Mariana baru meminum beberapa tegukan, dan tidak cukup memabukkan baginya. Namun bagi Beno, wine membuatnya trauma. Ia takut bisa saja terjadi hal yang lebih buruk daripada kejadian di malam laknat hampir dua bulan lalu itu.

Langkah Beno terhenti, dadanya terguncang, keringat dinginnya tiba-tiba menyeruak keluar dari balik pori kulit coklatnya, badannya serasa beku, bibirnya terbuka, ia terkejut dan mengalami shock, tepat ketika Mariana memandang matanya dalam-dalam dan meletupkan kata-kata berikutnya. 

"Dan dia adalah ayah dari janin yang ada dalam rahimku."

3 komentar: