Senin, 02 Juli 2018

Perahu 2

Setelah sekian lama kami di rumah berdua, rumah kembali menjadi ramai. Ayahku kembali dari rumah sakit. Tak boleh kerja berat dulu. Tak boleh minum kopi, minum alkohol dan tak boleh tidur larut malam serta harus istirahat. Tubuhnya sudah mulai berisi. Ibu sudah boleh menjual ikan kembali, bahkan ibu mulai mencari kerang, bila air surut. Kami senang. Justru adikku Suti yang sedikit gelisah. Aku tak memanggilnya Bu ne lagi. Kecuali kalau berkelakar. Wajahnya selalu cemberut.

Besok Suti harus sekolah. Dia sudah mempersiapkan baju, sepatu, tas, buku dan sebagainya yang semuanya serba baru. Ayah dan ibu sangat senang padaku sebagai kakak begitu menyayangi adikku Suti. Kemanjaan Suti, membuat ayah dan ibuku semakin menyenanginya. Mereka senang kalau kami selalu dekat, karena hanya kami beruda anak mereka. Ayah dan ibu kembali menempati tempatnya di kamar kecil dekat jendela depan. Kain lebar membatasi tempat kami. Aku dan Suti tidur di sebelahnya. Kami berdua tersenyum mendengar ayah mendengkur. Suti pun tak mau diam tangannya.  Dia mulai menggerayangi kontolku.

“Ayo, Mas, mereka sudah tidur,” bisiknya di telingaku.

“Kapan-kapan saja. Nanti ketahuan,” kataku. 

Dasar Suti kalau sudah ada maunya, susah untuk menolaknya. Dia terus mengelus-elus kontolku sampai kontolku tegang.

“Aku ambil karet dulu. Supaya kamu tidak bunting.” kataku. Kukoyak sebungkus kondom dan mendekatkannya padaku di bawah bantal. 

Suti membuka kancing bajunya dan mengeluarkan teteknya. “Ayo, Mas.” bisiknya merengek. 

Aku mendekatkan mulutku ke teteknya dan mulai menjilatinya. Saat itu ibu mendehem dari balik kain sebelah. Aku terus mengisapi tetek Suti. Bergantian kiri dan kanan. Setelah Suti puas, bibirnya mengecup bibirku. Kami berpagutan. Sampai akhirnya Suti meminta aku menaiki tubuhnya. Dia kangkangkan kedua kakinya dan memintaku menindihnya. Kubuka bungkos kondom dan memasangnya. Setelah siap, perlahan aku menaiki tubuhnya.

Suti segera menangkap kontolku dan mengarahkannya ke lubang memeknya. Aku mulai menggenjotnya. Kami berupaya agar kami tidak ribut, agar tak terdengar pada ayah dan ibu yang tidur di sebelah kami dipisahkan oleh kain lebar. Sampai akhirnya Suti membisikkanku agar aku mempercepat genjotanku. Aku mempercepat genjotanku. Saat itulah, betisku dicubit. Ketika kutoleh ke belakang, ternyata yang mencubit betisku adalah ibuku. Ibu menggelengkan kepalanya dengan tatapan melotot. Tapi puncakku sudah berada di ubun-ubun. Aku meneruskan genjotanku dan Suti menggoyang tubuhnya dan merangkulku dengan erat, sampai kami melepaskan nikmat kami bersama-sama.

Kontolku semakin mengecil dan terlepas dari memek Suti. Kami menutupi tubuh kami dan tertidur seperti biasa, layaknya tak terjadi apa-apa. Tapi aku sudah susah tertidur karena memikirkan apa yang dilakukan ibu barusan. Dia mencubitku. Kami telah tertangkap basah melakukan hubungan suami isteri, tapi dia tidak marah, malah menonton sampai kami selesai. Karena lelah, akhirnya aku tertidur juga. 

Ibu membangunkanku, saat subuh mulai tiba. Ibu sudah menyiapkan nasi dan lauknya ke dalam rantang plastik untuk kubawa ke tengah laut. Ibu membantuku menurunkan jaring ke dalam perahu. Aku hanya diam dan malu, karena ibu mengetahui apa yang kami lakukan tadi malam. Cepat-cepat aku meluncurkan perahu dari kolong rumah melalui alur air ke tengah laut. Segera kupasang layar dan aku menuju tengah laut. Pikiranku masih tetap juga tak tenang. 

Akhirnya kulemparkan jaring. Beberapa kali sampai matahari meninggi dan terang. Para nelayan lain sudah menuju daratan, sementara aku masih terus menebar jaring. Tangkapanku hari ini benar-benar gawat. Mungkin aku yang kurang konsentrasi, atau lagi sial. Akhirnya aku pulang hanya membawa sedikit ikan. Ibu sudah menungguku di tepi pantai. Kami menjualnya dan memberi dua kilo beras. Hanya itu yang bisa kami peroleh hari ini. Ketika aku mendayung perahu pulang, ibu mendekatiku. Dadaku berdebar.

“Apa yang kamu lakukan tadi malam sama adikmu?” tanya ibu datar. 

Aku diam. Ibu bertanya lagi dan aku hanya diam.

“Sudah berapa kali kamu lakukan?” tanya ibuku. 

Lagi-lagi aku diam. 

”Ibu tahu, kamu melakukannya dengan Suti sudah sering.” katanya. Dia melihat kami begitu menikmatinya dan Suti serta aku seperti suami isteri yang sudah terbiasa melakukannya. 

Kembali aku hanya diam saja.

Perahu sudah memasuki kolong rumah. Aku mengangkat jaringku untuk kuperbaiki. Ibu datang membantu setelah dia selesai masak nasi dan lauk serta membawakannya untukku. Aku makan, kini giliran ibu melihat jaring yang rusak. Ketika kami kembali melakukan perbaikan bersama, ibu menasehatiku, agar aku tak melakukannya lagi, karena akan menjadi aib kalau Suti sampai hamil. Ibu tidak tahu, kalau aku memakai kondom. Aku sudah menyembunyikian kondom dengan rapi di tempat yang tak mungkin ditemukan. Aku hanya tertunduk hingga perbaikan jaring selesai.

Ibu mengajakku untuk mencari kerang ke pulau kecil tak berapa jauh dari pantai dan mencari kepiting. Kepiting boleh dijual besok, karena mereka susah matinya. Aku menyetujuinya agar ibu tak marah lagi. Setelah meminta izin ayah, kami melaut, menuju sebuah pulau kecil yang sunyi. 

Ibuku turun dari perahu. Dia mulai meraba-raba lumpur untuk mendapatkan kerang. Lumayan juga hasilnya, ada dua ember besar. Kami pun mulai memasuki akar-akar bakau mencari kepiting. Perahu kami tambatkan di sebatang bakau. Ibuku yang berusia 37 tahun cekatan mencari kepiting. Kami mendapatkan beberapa ekor dan aku mengikatnya lalu memasukkannya ke dalam perahu.

Pulai itu sunyi. Sepi. Hanya terdengar suara desau angin, sesekali hempasan gelombang kecil dan cicit burung. Sesekali terdengar kepak sayang bangau yang hinggap di pucuk bakau mengintip ikan kecil. Melihat bangau mulai ramai di pohon bakau, aku mulai menebar jaring, pasti banyak ikannya. Kalau tidak, mana mungkin bangau mau datang mengintipnya. Benar saja, tebaran pertama, aku mendapat tiga ekor ikan ukuran sedang. Beberapa kali aku menebar jala dan mendapatkan sembilan ekor ikan. Cukup untuk lauk kami sekeluarga.

“Kita ke pancuran, Bu. Kita mandi dan mencuci tubuh kita yang bau lumpur,” kataku. 

Ibuku setuju. kami naik perahu menuju pancuran dan mengambil air dalam jerigen. Aku mandi tanpa membuka celanaku. Membersihkan tubuhku. Ibuku juga mandi dan mengibas-ngibaskan celana pendeknya yang terkena lumpur. Aku melilhat bayangan tubuh ibu dari kainnya yang basah. Teteknya membayang dari kaos basah yang dipakainya. Zakarku membesar. Tapi dia ibuku. Ibuku. Tak mungkin…!

“Kamu lihat apa?” tanya ibuku. 

Aku tersipu malu dan menunduk. Lalu ibu meneruskan mandinya dan mengangkat baju kaosnya dan aku melihat jelas teteknya. Aku berdiri dan menatap laut. Aku tak melihat satu pun perahu. Benar-benar sepi.

“Bu,” sapaku. 

Ibu menoleh. Aku mendekatinya. Aku memeluknya dari belakang.

“Ada apa, tole?” tanyanya. 

Aku diam. Mulai meremas tetek ibuku dengan sebelah tangan dan sebelah lagi kumasukan melalui
 celananya yang berkaret. Kuelus jembut ibuku.

“Ihh, kamu ini bagaimana…” kata ibuku menepiskan tanganku. 

Cepat kupelorotkan celana ibu. Terus sampai mata kakinya, hingga ibu benar-benar tidak mengenakan apa-apa dari pusat ke bawah.

“He, kamu ini kenapa?” 

Aku diam dan hanya memeluknya.

“Kamu mau buat aku seperti Suti, ya?”

Cepat kusogok kontolku dari belakang. Ibu berbalik dan aku langsung memeluknya dan menyogokkan kontolku disela-sela memeknya.

“Kamu ini…” kata ibu marah dan menolak tubuhku. 

Tapi aku lebih kuat memeluknya dan kedua kakiku sudah berada di antara kedua kakinya. Kusandarkan tubuh ibu di batu besar dan landai. Langsung kusetubuhi.

“Kamu ini… ” kata ibu berteriak. 

Aku yakin, tak akan ada orang yang mendengarnya dalam sunyi ini. Terus kusetubuhi ibuku. Sampai aku merasakan memek ibu menjadi licin. Aku tahu, kalau selama dua bulan lebih di rumah sakit, ibu tak mungkin bersetubuh. Aku terus menyetubuhinya. sampai akhirnya, ibu tak lagi berteriak dan menolak tubuhku. Ibu mulai menggeliat dan mengelinjang saat teteknya aku emut dan aku hisap-hisap.

“Oh, kamu ini kurang ajar sekali, Tole.” katanya mendesah. 

Aku tak memperdulikannya. Kontolku terus maju-mundur dalam liang memeknya. Ibu pun memelukku dari bawah. kami saling berpelukan erat sekali dan melepaskan kenikmatan kami bersama pula. Kucabut kontolku. Ibu tertunduk lesu. Dia meneteskan airmatanya dan meleleh di pipinya. Aku membujuknya dan dia menepiskan tanganku. 

Kuajak dia naik ke perahu dan aku mulai melepaskan tali ikatan perahu. Aku sengaja membawanya berbelok-belok di sela-sela pohon bakau untuk mencari, siapa tahu ada kepiting lagi, sembari pulang. Kuminta ibu duduk di belakang dekat denganku agar perahu bisa melaju cepat. Ibu mundur dan mendekat ke arah diriku. Kupeluk ibu dari belakang dan membisikkan kepadanya agar dia memaafkan aku. Ibu diam saja. Kontolku merapat ke pinggangnya dan aku mengelus teteknya lagi. 

“Ah, jangan. Ini laut. Nanti hantu laut marah,” katanya. 

Aku diam saja dan terus memilin teteknya dan menciumi tengkuknya. Kontolku kembali berdiri. Segera kulepas celanaku ke bawah. Lalu kulepas pula celana ibuku hingga terlepas dari kedua kakinya. Ibuku sudah setengah telanjang. Kuangkat dia ke pangkuanku, membelakangi diriku. Kumasukkan kontolku dari belakang.

“Ah, kamu ini…” ibuku mendesah. 

Tapi aku terus menusuknya sampai jauh ke dalam. Perahu bergoyang-goyang dan aku menikmatinya. Ibu pun mulai menjepit kontolku dan menekan pantatnya agar kontolku masuk lebih ke dalam.

“Ahhh….” katanya saat mengocok kontolku hingga kontolku pun mengeluarkan sperma. Cepat kami memakai celana kami dan berkayuh pulang.

Dalam perjalanan, ibu bertanya dengan wajahnya menatap ke haluan nan jauh. “Kamu dan Suti melakukan ini juga di sana, kan?” tanya ibu. 

Aku diam. Ibu juga diam. Saat kami tiba di rumah, ayah katanya ada di warung minum teh manis panas.

Sejak saat itu, aku dan ibu suka melakukannya. Tidak di rumah, tapi di hutan bakau saat menangkap kepiting. Kodenya, ibu atau aku yang mengajak untuk menangkap kepiting. Jika menangkap kepiting, pasti kami melakukannya. Tak perduli walau kami hanya membawa dua ekor kepiting saja. Berkali-kali dan berkali-kali. Akhirnya ibuku hamil. Kami yakin, anak itu adalah anak kami.

Jika aku mengajak Suti menangkap kepiting, ibu hanya cemberut. Dia juga tahu, kalau aku dan Suti pasti melakukan persetubuhan. Rahasiaku dan Suti diketahui oleh ibu, tapi rahasiaku dan ibu tak seorang pun yang tahu.

***

Aku membuang jaring ke laut dan ibu ikut membantunya melepas jaring-jaring itu. Hari ini, memang rezeki kami sangat mujur. TIga kali kami membuang jaring, ikan-ikan demikian banyak kami tangkap. Rata-rata ukuran sedang. Saat nelayan lain sudah pada pulang, kami masih menarik jaring.

“Kita kemana?” tanya ibu saat perahu kubawa ke tepi pulau kecil.

“Mandi, Bu. Juga makan. Kita makan di sini sana, lebih teduh dan enak,” kataku. 

Perahu merapat ke pantai dan aku langsung menuju pancuran. Aku membuka seluruh pakaianku bertelanjang aku menadah air pancur yang sejuk di kepalaku. Aku tahu ibu datang dari belakang, tapi aku pura-pura tidak melihatnya. Ibu menunggu aku selesai mandi. Gantian kami mandi di pancuran itu. Ibu pun mandi telanjang juga setelah di memintaku untuk berjaga-jaga. Aku mengintipnya. Tubuh ibuku, membuat aku nafsu sekali.

Selesai ibu mandi, kami makan bersama di tepi pancuran itu, sembari melihat perahu kami yang tertambat. Kontolku masih saja menegang dan aku secepatnya makan. Ibu juga mengikutinya, karena hari sudah pukul 07.00. Kami harus sampai pukul 08.00 di pantai agar pembeli ikan tidak keburu pulang.

Saat ibu mengangkat kakinya, dari celana pendek yang dipakai dan longgar, aku mengetahui ibu tidak memakai celana dalam. Aku melihatnya tadi waktu dia memakai celana. Kurangkul ibu dari belakang.

“Ada apa, Tole?” tanya ibu perlahan. 

Aku diam saja. Ibu bertanya kembali, karena pelukanku belum lepas. Perlahan kutarik ibu ke sebuah batu besar yang agar ceper. Langsung kupeluk tubuhnya. Ibu meronta dan melawan. Dia sangat berang dan marah. Aku sudah tak perduli. Kutarik celananya sampai lepas dan aku juga dengan cepat melepas celanaku. Kupeluk ibuku dan kuciumi lehernya. Ibu tetap meronta dan menolakku. Tapi aku sudah berada di antara kedua kakinya dan kumasukkan kontolku ke memek ibu. 

Perlahan kudorong. Saat kuraba, memek ibu sudah basah dengan air kental. Cepat aku sadar, kalau ibu sudah nafsu juga. Kusorong pelan-pelan kontolku ke lubang memeknya dan secepat itu, kontolku lenyap di dalam memeknya. Aku mulai memompanya walau ibu terus menerus meronta bahkan menarik rambutku dengan kuat. Aku semakin tak perduli. Terus memeluknya, menciumi lehernya dan memompa tubuhnya dengan lebih cepat. 

Aku merasa jambakan tangan ibu di rambutku sudah melemah. Aku terus memompanya dan menciumi lehernya. Sampai akhirnya aku memeluknya kuat dan menekan sekuat-kuatnya kontolku ke dalam dan melepaskan beberapa kali spermaku disana. Saat itu, aku merasakan ibuku balas memelukku, walau malu-malu. Saat aku mau mencabut kontolku, saat itulah ibu memelukku dan menahan pantatku. Aku urung menarik kontolku. Yang kudengar mulut ibu mendesis-desis dan akhirnya dia melepas pelukannya.

“Kamu memang anak kurang ajar. Biadab sekali kamu,” bentak ibu padaku sembari menangis.

“Sudah, bu, Maafkan aku,” kataku sembari memeluknya. 

Ibu meronta. “Jangan!” bentaknya. 

Aku terus membujuknya, sampai akhirnya ibu diam dan aku membimbingnya naik ke atas perahu.

“Jangan sampai terulang lagi!” bentak ibu. 

Aku diam. Kupasang tali layar dan perlahan aku mengayuhnya. Kuminta ibu duduk dekat denganku dibelakang, agar haluan perahu terangkat sedikit dan perahu kami bisa berjalan dengan cepat. Ibu mendekat. Akhirnya tubuh ibu kukepit dengan kedua kakiku. Kontolku walau dari balik celana, tertempel ke punggungnya. Kedua tangan ibu sengaja kubimbing berada di paha kiri dan kananku. Saat perahu perlahan berlayar dan laut sepi, karena semua nelayan sudah berada di tepian pantai, aku tak mampu menahan kontolku yang sudah tegang dan keras. Dengan sebelah memegang kemudi, sebelah lagi tanganku kumasukkan ke kaos ibu dari atas dan aku meremas tetek ibu yang besar dengan lembut.

“Ah, jangan lagi.” kata Ibu meronta, sampai perahu oleng.

“Ibu diam. Kita akan terbalik nanti,” kataku.

“Kamu ini bagaimana? Apa kamu tidak mengerti, jangan diulangi lagi!!” bentaknya. 

Tapi aku terus meremas-remas tetek ibu. Bergantian. Aku sengaja membawa perahu melalui sela-sela pohon bakau agar teduh dan sepi. Cepat kulorotkan celanaku dan melorotkan celana ibu juga.

“Aduh gusti, kamu ini…!” rintihnya.

Tapi aku tak perduli. Kuangkat tubuh montok ibu ke atas pangkuanku, walau dia membelakangi tubuhku dan kami sama-sama menghadap ke depan. Aku tahu, ibu sudah berbulan-bulan tidak bersetubuh. Cepat kucelupkan kontolku ke lubang memeknya.

“Ahhhh… ” dia menjerit. Tapi kontolku sudah berada di dalam. Perahu terus berjalan dengan santai dalam tiupan angin yang sepoi.

“Aduh, bagaimana ini, Tole?” tanya ibu padaku.

“Ibu diam saja. Kita akan cari waktu yang baik, kita ke pulau dan kita akan memuaskan diri kita dengan tenang,” kataku merayu.

“Biadab kamu!” bentaknya. 

Suara desau angin dan ombak-ombak kecil membuat perahu bergoyang-goyang. Aku memeluk ibu dari belakang dengan sebelah tangan dan terus menggoyang.

“Ibu,  aku mau sampai. Sebentar lagi, aku akan mencabutnya. Tenanglah.” kataku.

“Diam, kamu biadab. Jangan dicabut. Tunggu dulu,” bentak ibu. 

Aku diam dan memeluk erat tubuh ibu saat melepaskan spermaku. “Sudah, Bu. Aku sudah sampai,” kataku lirih.

“Tunggu. Jangan kamu cabut dulu. Kurang ajar kamu,” bentak ibu lagi.

Aku diam saja. Sampai akhirnya ibu mendesah dan dia mencabut sendiri kontolku yang sudah melemas. Ibu memakai kembali celananya. Aku juga. Kami terus menuju pantai. Pembeli masih ada yang menunggu kami. Ikan kami jual dan kami kembali ke rumah.Aku segera mengangkat jaring ke bawah pohon kelapa 50 meter dari rumah dan memperbaikinya, ibu mempersiapkan makan siang untuk kami sekeluarga.

Ibu membawakan segelas kopi panas padaku dan dua buah pisang goreng dan meletakkannya dekatku. Ibu ikut membenahi jaring agar besok kami pakai lagi. Dia duduk di dekatku.

“Awas ya, kalau kamu bercerita kepada siapa saja. Kubunuh kamu.” ancam ibu. 

Aku tersenyum.

“Bukannya menjawab, malah tersenyum,” kata ibu membentak dengan suara tertahan, takut di dengar orang lain.

“Iya, pasti aku tidak bercerita apa-apa,” kataku tenang. 

Ibu pun tersenyum. “Ayo cepat dibenahi, biar kita bisa cepat cari kerang dan kepiting,” katanya. “Aku buatkan teh manis dulu dalam botol. Cepat masukkan jaring ke dalam perahu,” tambahnya.

Aku mengikutinya. Jaring kusimpan ke dalam perahu dan memasukkan jala serta memasukkan alat-alat penangkap kepiting juga. Saat aku melepaskan perahu dari tambatannya di bawah kolong rumah kami dan meyorongnya ke aliran air yang agak dalam, Ibu berjalan sampai ke pantai. Aku tahu dia akan menaiki perahu di sana, karena aliran sungai kecil, masih dangkal. Aku menjalankan perahu dengan menolak galah ke dasar lumpur. Bukan mengayuhnya.

Begitu aku tiba di tepian laut, ibu tersenyum menyambutku. Dia cepat naik ke perahu dan ikut mengayuh. Orang-orang maklum. Mereka tahu, kalau kami butuh banyak uang untuk menyekolahkan adikku Suti dan mengobati ayahku. Kami harus bekerja keras. Orang-orang kampung pun kagum melihat kerja keras kami berdua. Satu jam lebih kami mengayuh sambil bercerita. Ibu banyak bertanya tentang Suti dan menasehatiku, agar jangan sampai hamil. Kami akan mendapat malu sekampung, katanya. Aku setuju. Tapi aku minta ibu harus rela juga, kalau sekali seminggu aku membawa Suti ke pulau bakau untuk menangkap kepiting. Alasanku menangkap kepiting, tapi ibu sudah mengerti maksudku, agar Suti juga mendapat giliran. Ibu diam tak membantah.

Sampai di tempat, kami menjatuhkan sepuluh buah alat penangkap kepiting ke laut dengan umpan usus ayam, entah darimana ibu mendapatkannya. Aku memasang juga sepuluh buah pancing dengan umpannya dan menancapkannya ke beberapa tempat, untuk memancing ikan sembilang. Kini ibu yang turun ke lumpur untuk meraba lumpur mendapatkan kerang. Orang-orang berseliweran. Melihat kami sudah berada di tempat memasang jerat kepiting dan mengembangkan jaring, perahu-perahu itu pun berlalu. 

Sesekali terdengar teriakan. ”Udah dapat banyak belum?”

Aku menjawabnya dengan sambil lalu, ”Baru turun, paaaakkk.” 

Mereka pun berlalu, bahkan banyak yang pulang, karena kosong tak dapat apa-apa. Ibu mengantarkan beberapa keranjang kecil kerang ke atas perahu. Di akar bakau, ibu mengelus kontolku. Tangannya dia masukkan dari atas karet celanaku.

“Bu, hati-hati, nanti aku jatuh, ” kataku. 

Ibu tersenyum. Kontolku cepat mengeras. Ibu menurunkan celanaku sampai ke mata kaki. Aku berpegangan ke pohon bakau dan menunggingkan dirinya.

“Ayo cepat, ibu sudah tak tahan. Cepat!” katanya. 

Aku segera menyodokkan kontolku perlahan ke lubang memeknya.

“Ayo, yang dalam… dalam lagi,” katanya. 

Aku memeluk tubuh ibu dan mengocok kontolku dalam memeknya. Tiba-tiba terdengar suara desir air. Pasti perahu yang datang. Aku mencabut kontolku dengan cepat. Menaikkan celanaku dan ibuku juga menaikkan celananya dengan cepat. Dia melangkah ke atas perahu dan mengambil sebotol teh manis dan membawanya ke akar-akar pohon bakau. Saat teh tertuang ke dalam gelas, perahu kecil itu melintas. 

“Suti…” panggil ibu. 

Ternyata yang datang ke tempat kami adalah Suti menaiki perahu tetangga tanpa cadik. Suti tersenyum dan menepi. Dia naik ke akar bakau dan membawa beberapa potong goreng sukun. Kami memakannya dengan riang. Ibu menatapku dengan tajam. Dia bertanya-tanya, kenapa Suti harus menyusul. Apakah Suti sudah curiga?

Setelah meneguk beberapa tetes teh manis, ibu kembali meraba lumpur, berpura-pura mencari kerang dan meninggalkan kami. Aku menyibukkan diri mendekati beberapa pancing yang kupasang. Ada dua pancing yang bergoyang-goyang. Aku menariknya dengan cepat. Ya, dua ekor ikan sembilang terangkat dan kulepas dari pancing serta memasukkannya ke dalam perahu.

“Kapan kita berdua ke tempat ini?” tanya Suti.

“Kita buat jadwal setiap minggu pagi dan mingu sore. Saat kamu tidak sekolah dan latihan pramuka,” kataku.

“Benar ya, Mas?” pinta Suti setengah berbisik.

“Benar. Aku janji,” kataku.

“Kalau begitu Suti pulang ya,” 

Suti pun pulang meninggalkan tempat itu. Saat itu ibu datang setelah mencuci tubuhnya yang berlumpur dengan air laut yang bening. Dia mendatangiku ke akar bakau.

“Suti bilang apa?”

“Dia minta jatah. Kapan aku bersamanya?” kataku berterus terang. Aku menceritakan pada ibu, setiap minggu pagi dan minggu sore atau kalau Suti tidak latihan pramuka dan kalau ibu berhalangan.

“Kamu tidak bercerita apa-apa tentang kita kan?” tanya ibu. Menurutku inilah kesempatanku.

“Tidak, bu. Tapi nampaknya Suti curiga. Untuk itu, dia harus dapat kesempatan. Kalau tidak dia akan membuntuti kita terus,” kataku berpura-pura. 

Ibu menjawabku dengan memberiku ciuman di pipiku. “Kamu anak pintar, tole.” katanya sambil meremas kontolku lagi. 

Suara-suara burung bercicit-cicit di atas dahan-dahan bakau dan sesekali mereka berkejaran. Ibu melepaskan celananya dan kini dari pusat sampai ke bawah, telah telanjang. Tubuhnya masih padat dan bulu kemaluannya sangat tipis membuat belahan memeknya jelas terlihat. Aku bersandar ke pohon bakau. Ibu langsung menaiki tubuhku. Aku berada di antara kedua kakinya. Ibu memasukkan kontolku ke lubang memeknya sampai masuk semuanya. Aku memeluknya dan menaikkan baju kaosnya, sampai kedua teteknya tergantung. Mulutku menghisap-hisapnya. Ibu terus memutar-mutar tubuhnya, hingga terasa kontolku menyentuh-nyentuh lubang terdalam dari memeknya. Dan ibu histeris dengan lenguhannya yang kuat dan memelukku erat sekali.

“Ibu sudah sampai?” tanyaku. 

Ibu diam saja dan terus memelukku. Kni giliranku menggenjot-genjotnya dari bawah. Sampai aku melepaskan semua spermaku. Kami berpelukan dan melepaskan nikmat kami. Akhirnya, kontolku lepas dari lubang memek ibu. Ibu tersenyum. Dia menaikkan celananya dan aku juga. Kami mengangkati jerat-jerat kepiting. Ada beberapa yang dapat dan ada yang masih kosong. Kami menjatuhkannya kembali. Jaring yang kutebar perlahan kutarik dan ada beberapa ekor ikan kecil yang kudapat. Cukup untuk lauk makan kami malam ini dan untuk bekal besok subuh.

“Bagaimana? Apa kamu dapat menikmatinya?” kata ibu. 

Aku diam saja.

“Ya, pasti Suti lebih nikmat, kan?” katanya ketus dan cemburu. 

Aku diam juga.

“Kalau kamu merasa sudah longgar, ibu akan berikan yang lebih sempit dan lebih enak,” kata ibu.

“Bagaimana bisa sempit?” kataku.

“Apa kamu mau?” tanya ibu. 

Aku mengangguk. Ibu dengan cepat menurunkan celanaku dan memasukkan kontolku ke mulutnya. Kontolku dijilatinya. Wah, aku belum pernah merasakan nikmatnya dikulum seperti ini. Setelah kontolku keras, ibu melepas celananya dan dia menunggingkan tubuhnya sambil berpegangan ke pohon bakau.

“Ayo, masukkan itumu ke lubang belakang ibu,” katanya. 

Aku seperti tak percaya. Dia menyuruhku melakukan anal!

“Ayo cepat. Nanti orang datang,” katanya. 

Aku segera menusukkan kontolku ke mulut lubang belakangnya. Kutusuk lubang belakang itu dengan kuat. Kepala kontolku sudah menembusnya.

“Perlahan saja. Berhenti sebentar,” kata ibu. 

Lalu aku menusuknya kembali, setelah setengah kontolku masuk ke lubang belakangnya, aku merasa kontolku dipijat-pijat. Aku merasa nikmat.

“Ayo ditusuk terus,” kata ibu. 

Aku menusuknya.dan mencabutnya. Bagaikan aku menusuk dan mencabut di lubang memeknya.

“Kalau mau keluar, keluarkan di lubang memek ibu,” pintanya. 

Aku memeluknya dari belakang sembari terus mencucuk cabut kontolku di lubang yang nikmat itu. Sebelah tangan Ibu meraba-raba memeknya.

“Bu, aku mau keluar.”

“Cepat cabut dan masukkan ke lubang memek ibu,” katanya. 

Aku mencabutnya dan dengan cepat aku mencucuknya ke lubang memek ibu. Aku memeluknya dan melepaskan spermaku di dalam lubang memek yang basah itu. Ibu pun kembali histeris dengan nikmatnya.

“Bagaimana, enak kan?” tanya ibu. 

Aku hanya tersenyum. Kami menarik semua jerat kepiting. Ada yang kena ada yang kosong. Kami harus pulang, sebelum matahari terbenam. Ibu naik ke perahu dan kami sama menaikkan layar, karena angin masih dari laut ke darat. Kami berlayar dengan perasaan kami masing-masing.

“Kapan-kapan, aku boleh melihatmu bersama Suti?” tanya ibuku.

“Bagaimana caranya, Bu?”

“Kita bertiga ke bakau ini dan aku berpura-pura mencari kerang di seberang sembari melihat orang. Kalau aku bernyanyi-nyanyi, itu pertanda ada orang. Kalau tidak kamu boleh teruskan dan ibu akan mengintip,” kata ibu.

 Gila pikirku. Aku diam memikirkannya, mulai sedikit tertarik.

“Tapi kalau Suti mengintip kita, boleh nggak?” tanyaku.

“Suti tak boleh tahu. Bisa bahaya,” kata ibu. 

Aku berpikir. Ya, Suti tak boleh tau.

“Bagaimana?” tanya ibu mendesak. Sebuah desakan yang susah kujawab. Diam-diam, aku mencintai Suti adikku sendiri. Aku menyayanginya. 

Akhirnya aku pun setuju, kalau ibu boleh melihat aku dengan Suti, supaya satu saat nanti ibu muak dan dia tak mau lagi bersetubuh denganku. Aku setuju. Ibu pun tersenyum. Kami sampai di rumah dan membawa hasil kami untuk dimasak untuk makan malam. Suti ikut membantu membersihkan ikan sembilang dan kepiting disimpan untuk besok pagi di jual. Cukup untuk membeli dua kilo beras

***

Ibu sangat puas mengintip aku dan Suti berciuman mesra dan saling membelai. Saling mengulurkan lidah. Aku menjilati teteknya dan mengelusnya. Suti berada di pangkuanku dan kami berpelukan dengan mesra dan saling mengusap. Aku tahu ibu mengintipku dari belakang. Aku tahu ibu birahi mengintip kami. Aku tahu ibu meraba memeknya. Ibu juga tahu, kalau aku sangat menikmati persetubuhanku dengan Suti dan sampai

akhirnya aku membuang kondom ke laut. Aku yang menjaga diri dengan Suti, kalau tidak nampaknya Suti mau nempel terus dan bermanja terus. Aku harus menjaga mata orang-orang kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar